.

Secret Admirer

.

oOo

.

Seoksoo

.

oOo

.

Genderswitch

.

oOo

.

Happy Reading

"Jisoo eonnie! Cepat kemari! Ruanganmu berantakan! Sepertinya ruangan kita habis kemalingan." Pekik Pinky melalui telepon di pagi hari.

"Apa?!" Jisoo yang tengah bersiap berangkat kerja hanya diam mematung.

"Kenapa bisa terjadi?! Bagaimana dengan ruangan lain? Divisi lain?"

"Aku tidak tahu, tapi keadaan sangat kacau saat ini. Ruangan kamu terlihat lebih berantakan."

"Aku segera ke sana!" Jisoo buru-buru bersiap.

"Ma, aku berangkat dulu ya!"

"Kenapa buru-buru? Makan dulu! Mama sudah masak sup rumput laut. Habiskan dulu!" Perintah sang ibu tidak bisa Jisoo menolaknya.

Sejak pagi-pagi sang ibunda sudah sibuk memasak sup rumput laut untuknya. Hari ini adalah hari kelahiran untuk Jisoo.

"Jangan lupa berdo'a."

Jisoo yang taat agama dan takut akan Tuhan. Ia memimpin do'a sebelum berangkat kerja. Walau sarapan dengan tergesa namun ia tidak ingin mengecewakan hati sang ibundanya.

"Hati-hati dan sekali lagi selamat ulang tahun putriku."

"Terima kasih mama." Jisoo memeluk sang ibu dengan erat sebelum keluar dari apartemennya.

Jisoo yang panik mencoba tenang, setiap hari ia memang memback up data namun rasa khawatir tetap ada karena di sana banyak barang milik Jisoo.

Jisoo berjalan tergesa dan langsung menuju ruangannya. Gelap dan sepi saat ia membuka pintu utama ruangan kerja ia bersama staffnya.

"SELAMAT ULANG TAHUN!"

Jisoo hanya terdiam, lampu ruangan tiba-tiba menyala dan semua staffnya sudah berkumpul meneriakkan ucapan.

"Happy Birthday to you..." nyanyian khas ulang tahun mengalun dari karyawan lain. Jisoo hanya melirik kesana kemari dengan mata bulatnya. Ia telah di kerjai, ia telah dibuat panik.

"Eonnie... saengil chukkae..." Pinky memperlihatkan deretan giginya yang rapi seolah tanpa rasa berdosa telah membohongi Jisoo agar segera pergi ke kantor.

"Make a wish..." Yebin menyodorkan cake coklat dengan beberapa lilin di atasnya.

Jisoo hanya menarik nafasnya, ia menahan diri walau ingin mengamuk rasanya. Tapi ia hanya bisa tertawa campur terharu dengan perhatian karyawannya.

Jisoo memejamkan mata, do'a yang sama ia panjatkan seperti tadi saat sebelum sarapan.

"Pertemukan dengan sang ayah yang telah lama berpisah."

Jisoo membuka matanya lagi dan bersiap meniup lilin.

"Fuuuuuuhhh..."

Lilin masih menyala

"Fuuuuuuhhh..."

Lilin masih tetap menyala

"Fuuuuuuhhh..."

Lilin masih terus menyala, kekehan terdengar dari barisan belakang. Jisoo sadar, ia masih dikerjai. Pinky dan Yebin pun terlihat menahan tawanya.

Jisoo hanya terdiam dengan lirikan yang mematikan memandang semua karyawannya.

"Eonnie, jangan marah..." Pinky mencoba menenangkan Jisoo yang mulai terlihat kesal.

Yebin buru-buru mengganti lilin dibantu yang lain. Jisoo mengulang meniup lilin, tepuk tangan bergemuruh dan ucapan selamat berdatangan dari semua karyawannya yang telah datang pagi-pagi demi merayakan pesta kecil ulang tahun Jisoo.

Semuanya kembali normal, kembali ke aktivitas masing-masing. Jisoo masuk ke ruangannya dan semua tampak baik-baik saja. Bagaimana bisa ada maling kalau sistem keamanan perusahaannya tergolong sangat ketat.

'Tring!' Notif ponsel Jisoo menandakan ada email masuk saat ia baru akan mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya.

Mata Jisoo membulat dan senyum manisnya tersungging di wajahnya yang ayu. Seokmin mengirimnya ucapan selamat yang ke dua kalinya setelah tengah malam menelepon.

Sebuah email misi dari Seokmin. Jisoo menggigit bibirnya, ulang tahunnya kali ini ia harus rela di kerjai dan kali ini ia harus memutar otak untuk memecahkan misi yang diberikan padanya.

"Hallo, aku adalah sebuah bola. Temukan aku! Ada hadiah tersembunyi menanti. Ssst jangan curang ya, karena aku bola istimewa layaknya fortune cake karena ada petunjuk di dalamnya. Semoga berhasil!"

Kepala Jisoo mendadak pening.

"Cobaan apa lagi ini..." ucap Jisoo beberapa saat, kemudian ia membaca kelanjutan isi email tersebut.

"Clue pertama : Aku berada di salah satu sahabatmu."

Jisoo langsung keluar ruangan dan menatap Pinky dan Yebin secara bergantian.

"Cepat berikan."

"Apanya?" Tanya Yebin.

"Bola."

"Bola? Bola apa?" Pinky ikut bertanya.

"Cepat berikan." Jisoo beralih meminta pada Pinky.

"Apa sih? Aku tidak mengerti." Ucap Pinky centil, Jisoo langsung menaruh curiga.

"Pinky-ya, aku ada kupon diskon departement store. Bisa untuk membeli make up yang kamu mau."

"Hahahaha... eonnie bisa saja." Pinky membuka laci mejanya dan memperlihatkan benda bulat berwarna perak.

"Ini yang kamu cari?"

"Cepat berikan." Jisoo menjadi girang karena misi pertama bisa ia lakukan dengan mudah.

"Kupon diskonnya dulu..." Pinky mengerucutkan bibirnya menagih janji pada Jisoo.

Jisoo kembali ke ruangannya dan langsung keluar lagi memberikan 2 lembar kupon pada Pinky untuk ditukar dengan bola yang ada di tangan Pinky.

Secepat kilat mereka bertukar barang, Jisoo bergegas kembali ke ruangannya untuk membaca clue selanjutnya. Bola perak di tangannya ternyata dibungkus kertas berwarna, bola plastik itu menyimpan secarik kertas di dalamnya.

"Benar seperti fortune cake."

Jisoo membuka bola plastik tersebut dengan gunting dan mengambil kertas itu.

"Selamat! Aku berhasil ditemukan! Temukan aku lagi di sebuah tempat yang selalu ramai, beraroma khas, katakan AKU SEDANG BERULANG TAHUN pada seseorang berseragam cokelat dan selalu memakai apron. Mudah bukan? Semoga berhasil."

"What? Apa ini? Tempat ramai? Beraroma khas?"

Jisoo mencoba menebak dan tak lama ia tersenyum, ia segera keluar ruangannya lagi menuju lantai dasar.

"Selamat datang, mau pesan apa?"

Jisoo menatap sekeliling, ramai dan ada aroma khas. Dan lebih tepatnya di depan ia berdiri seorang gadis berseragam coklat dengan memakai apron.

"Aku sedang berulang tahun." Ucap Jisoo dengan penuh percaya diri.

"Selamat ulang tahun, ini hadiah dari seseorang." Gadis itu memberikan bola lainnya yang dibalut kertas berwarna emas.

"Terima kasih." Ucap Jisoo riang menerima bola emas tersebut.

"Silahkan ditunggu pesanannya."

"Eh? Pesanan?"

"Iya, hot chocolate special untuk yang berulang tahun."

Jisoo tak menyangka misi yang diberikan Seokmin sangat menyenangkan hatinya. Ia menurut untuk menunggu pesanan, sebelumnya ia meminjam gunting untuk membuka bola lagi.

"Hot chocolate kesukaan kamu. Selamat menikmati. Tapi rasanya masih ada yang kurang, bagaimana bisa ada minuman tanpa camilan? Temukan aku lagi di dekat sini. Aku berbentuk bulat dengan pinggiran bergerigi, aku manis semanis yang berulang tahun hari ini. Katakan pada seseorang yang memakai seragam hijau muda 'AKU SANGAT BAHAGIA HARI INI.' Mudah bukan?"

Jisoo tersenyum geli, menutup lembaran clue yang ditulis tangan oleh Seokmin bersamaan dengan coklat panas di antarkan ke mejanya.

"Terima kasih." Jisoo tersenyum senang dan segera menuju lokasi yang menjadi petunjuk.

"Bentuk bulat, pinggiran bergerigi, rasanya manis, seragam hijau muda." Jisoo menghafalkan clue dan segera mencari tempat yang dimaksud. Hari masih pagi hingga ia masih bisa santai sebelum memulai pekerjaannya.

"Toko kue apa ya kira-kira?" Jisoo mulai berpikir, ia melirik ke arah deretan toko di sekitar gedung kantornya.

"Ah!" Jisoo tertawa senang saat indera penglihatannya menangkap papan sebuah toko kue dengan gambar kue sesuai ciri yang disebutkan. Jisoo segera menuju toko kue tersebut.

Jisoo mengamati dengan perlahan seragam pegawai toko kue tersebut.

"Hijau muda. Ah!" Jisoo langsung melangkah yakin masuk ke dalam toko.

"Selamat datang!" Sapa serang pegawai.

"Aku sangat bahagia hari ini." Ucap Jisoo penuh percaya diri.

"Saya harap anda akan bahagia terus selamanya. Ini hadiah dari seseorang." Seorang pegawai memberikan sebuah bola berwarna biru metalik dan sekotak kue yang sudah di siapkan.

Jisoo menerimanya dengan suka cita, ia langsung duduk di salah satu bangku untuk membaca petunjuk selanjutnya.

"Pagi ini menyenangkan bukan? Segelas coklat panas ditambah beberapa kue pie yang rasanya manis dan gurih, semoga hari-harimu selalu manis seperti di hari yang bahagia ini. Sepertinya masih ada yang kurang, temukan aku lagi! Apakah ini bola terakhir? Aku berada di seseorang yang kamu hormati selain ibumu. Aku yang (mungkin) sering merepotkan harimu hehehe..."

Jisoo terdiam setelah membacanya. "Orang yang sering merepotkan? Siapa ya?"

Jisoo menggaruk kepalanya mencoba menebak siapa yang di maksud.

"Dihormati? Merepotkan? Astaga! Tidak mungkin!"

Jisoo menyadari sesuatu, ia membaca lagi dengan perlahan kalimat petunjuk dari Seokmin.

"Tidak mungkin..." Jisoo masih belum percaya namun tubuhnya berkata lain dan ia sangat penasaran apakah tebakannya kali ini benar atau meleset?

Jisoo kembali ke dalam gedung dengan segelas coklat dan sekotak kue di tangannya. Jisoo masih ragu dengan menatap tombol lift di depannya. Ia berdo'a dalam hati semoga tebakannya benar dan memantapkan hati menekan tombol angka lift tersebut yang membawanya ke sebuah ruangan yang sering ia datangi.

...

...

"Pagi pak..."

"Oh, Jisoo! Masuk!"

Jisoo tersenyum saat masuk ke dalam ruangan atasannya. Pria bertubuh tambun itu terlihat baru saja sampai kantor karena baru meletakkan tas kerjanya.

Jisoo menatap sekeliling ruangan atasannya, tampak biasa saja.

"Oh apa itu untuk saya?" Mr. Han sang atasan menunjuk makanan dan minuman yang dibawa Jisoo.

"Oh? Ini?"

"Bercanda, itu pasti sarapan kamu. Ada apa Jisoo? Apa ada urusan mendadak hingga kamu langsung datang? Bagaimana dengan urusan Mr. Kang? Apa sudah nego harga?"

"Hngg itu, sudah saya telepon hanya saja menurut sekretarisnya Mr. Kang belum ada jadwal untuk bertemu dengan kita." Ucap Jisoo, ia menyesal datang ke ruangan atasannya. Niat hati ingin bertanya tentang bola kejutan dari Seokmin tapi berujung dengan pertanyaan seputar pekerjaan.

"Lalu? Sepertinya ada yang kamu sembunyikan."

"Oh? Oh tidak. Tidak ada pak. Saya tidak apa-apa."

"Apa kamu mencari sesuatu sampai datang kesini?"

"Hngg itu..." Jisoo memutar bola matanya, ia menjadi sangat grogi.

Mr. Han menuju meja kerjanya, Jisoo berubah semangat dengan matanya mengekor melihat gerak gerik atasannya.

"Jisoo, saya tidak tahu ini apa. Hanya saja, saya menemukan ini kemarin. Apa ini yang kamu cari?"

Mata Jisoo berbinar cerah melihat bola dengan ukuran yang sama seperti sebelumnya, dan bola itu dibalut dengan kertas berwarna merah metalik.

"Iya pak, itu punya saya."

"Bagaimana bisa, wanita dewasa sepertimu masih bermain bola?" Mr. Han memberikan bola pada Jisoo dan Jisoo langsung meraih dengan tersenyum senang.

"Buka di sini saja, saya jadi penasaran ada hal penting apa di bola itu?"

"Eh? Disini? Sekarang?" Jisoo berpikir namun sang atasan mengangguk sambil menatap Jisoo.

Jisoo membuka kertas pembungkus bola dan membuka dengan ragu belahan bola yang sudah tergores sedikit. Ia mengeluarkan kertas di dalamnya.

"Katakan YA untuk setiap pertanyaan, ada hadiah selanjutnya menanti. Semoga berhasil!"

Jisoo tertawa setelah membacanya.

"Apa kamu senang Jisoo?"

"Ya." Jisoo menjawab cepat. Sepertinya mudah pikir Jisoo dalam hati.

"Apa kamu sedang berulang tahun?"

"Ya."

"Selamat Jisoo."

"Terima kasih pak."

"Apa itu dari kekasihmu?"

"Ya."

"Apa kamu sangat mencintainya?"

"Ya. Eh?" Sesaat Jisoo terdiam kemudian ia tertawa, mulai sadar akan pertanyaan jebakan.

"Jisoo, akhirnya kamu menemukan seseorang yang menarik perhatianmu. Saya turut senang, selamat ya."

"Terima kasih pak."

"Apa kamu akan segera menikah?"

"Hmm... ya."

"Dengan pria yang memberikan kejutan untukmu?"

Jisoo merasa terharu dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh atasannya.

"Iya!" Jawab Jisoo mantap, tak ada alasan baginya meragukan kesungguhan hati seorang Seokmin yang sudah susah payah memberikan kejutan di hari ulang tahunnya. Karena saat ini ia berhadapan dengan atasannya, Jisoo yakin kalau Seokmin pasti sudah menemuinya.

"Selamat Jisoo. Saya sangat bahagia."

"Terima kasih." Jisoo menahan air matanya agar tidak jatuh, mendapat dukungan dari atasan membuat ia sangat terharu.

"Yewon-ah, tolong ke ruangan saya." Mr. Han memanggil sekretarisnya.

"Permisi pak." Sang sekretaris tersebut datang dengan buket bunga di tangannya.

"Oh iya, terima kasih."

Jisoo menatap bingung dengan buket bunga mawar di depannya.

"Jisoo, ini dari pria yang menitipkan bola pada saya. Dia bilang kalau saya harus memberikan langsung padamu. Selamat ulang tahun Jisoo."

Kali ini Jisoo tidak bisa menahan tangisnya, sejak awal ia tidak percaya kalau Seokmin menunjuk Mr. Han sang atasan yang harus Jisoo temui.

"Terima kasih." Jisoo menahan isak tangisnya walau beberapa bulir air mata sudah jatuh dengan sendirinya.

"Selamat ulang tahun Jisoo eonnie."

"Terima kasih Yewon." Jisoo menerima ucapan dan pelukan dari Choi Yewon sang sekretaris Mr. Han.

"Saya permisi." Yewon bergegas keluar ruangan meninggalkan Mr. Han dan Jisoo.

Jisoo terlihat sangat senang dengan berbagai kejutan yang diberikan oleh Seokmin. Ia menatap rangakain bunga mawar segar yang kini ada di tangannya.

"Jisoo..."

"Ya..."

"Beberapa hari yang lalu Seokmin ada berkonsultasi dengan saya."

Jisoo mendadak berubah sangat serius untuk mendengar lebih lanjut ucapan dari sang atasan.

"Dia bertanya, apa ada larangan untuk menikah dengan sesama karyawan?"

Jisoo terdiam, Seokmin sangat serius pada dirinya. Jisoo teringat dengan rumor kalau Seokmin ingin mengundurkan diri.

"Dia sampai berpikir akan resign, namun hal itu ditentang oleh Mingyu. Baginya, Seokmin telah banyak membantu selama ini dan ia orang yang sangat rajin."

"Lalu?"

"Kalau ia tetap bertahan, ia juga tidak mau asal menyuruh kekasihnya mengundurkan diri. Ia tidak mau egois."

Jisoo menunduk dan tangannya meremas kertas pembungkus buket bunga. Seokmin sangat memikirkan Jisoo, ia tidak mau sembarangan menyuruh Jisoo melepas jabatannya.

"Lalu solusinya?"

"Saya yakin kamu juga pasti memikirkan hal ini. Kalian berdua sangat diandalkan dalam perusahaan. Kamu dengan kemampuan komunikasi yang sangat baik dan Seokmin dengan prestasi kerjanya yang terbilang sangat memuaskan. Bahkan Mingyu saja tidak rela kalau Seokmin sampai resign."

Jisoo tersenyum mendengar pujian yang diberikan.

"Lalu, apa solusinya?" Jisoo semakin tidak sabar.

Mr. Han tersenyum melihat Jisoo yang tampak gusar. "Kalian bisa menikah tanpa harus resign."

"Benarkah?"

"Iya, saya sudah mendiskusikan dengan beberapa direksi lain. Menikah adalah hak asasi manusia."

Jisoo tersenyum senang mendengarnya, baginya ini adalah kado terindah lainnya yang ia dapatkan di hari ulang tahunnya.

"Tapi..."

"Eh? Kenapa?"

"Kalian tidak bisa bekerja dalam satu gedung."

"Apa?" Senyuman Jisoo langsung memudar.

"Jangan sedih begitu, Jisoo. Kalian memang tidak di perkenankan berada dalam ruang lingkup kerja yang sama walau kalian beda divisi. Perusahaan akan memberi kebijakan lain."

"Oh?"

"Dalam waktu dekat, kita akan membuka cabang dan tim inti Mingyu akan pindah, tentunya Seokmin akan pindah kesana dan jabatan mereka akan naik juga. Bagaimana? Kamu senang?"

"Oh astaga, saya tidak tahu harus berkata apa lagi."

"Jisoo, dia pria yang tepat untukmu."

Jisoo hanya bisa mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata lagi.

"Kamu bisa kembali bekerja dengan tenang, dan kamu tetap orang kepercayaan saya."

"Terima kasih banyak pak. Saya permisi." Jisoo segera keluar ruangan. Ia sangat bahagia dengan kado-kado yang ia terima.

Dengan tangan yang penuh, membawa buket bunga mawar dan ada makanan beserta minuman, Jisoo tidak langsung ke ruangannya. Ia berjalan ke divisi desain dimana Seokmin berada.

"Pagi bu..." sapa karyawan lain yang melihat Jisoo datang, Jisoo hanya membalas dengan tersenyum.

Jisoo melirik mencari sosok yang telah memberinya kejutan. Namun tidak ada, hanya beberapa tatapan yang memandang Jisoo dengan tersenyum, bukan karena ada Jisoo disana melainkan dengan apa yang dibawa Jisoo saat itu.

"Mingyu."

"Oh hai noona. Pagi." Mingyu tersentak kaget saat melihat Jisoo sudah berada di depan mejanya.

"Seokmin mana?"

"Oh? Seokmin? Ia sudah berangkat, pagi ini ada meeting dengan klien."

Jisoo langsung terdiam, sedikit merasa kecewa.

"Ada hal penting?"

"Eh? Hmm... tidak. Nanti saja."

"Oke." Jisoo berjalan mundur kembali menuju pintu utama.

"Noona."

"Hmm?" Jisoo menoleh lagi.

"Saengil chukkae, Seokmin pria yang sangat romantis." Mingyu menunjuk bawaan Jisoo yang terasa penuh di tangan.

"Oh?" Jisoo tertawa senang, ia semakin menggenggam erat barang yang ia bawa.

"Terima kasih Gyu." Jisoo segera keluar dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya yang semakin bersinar.

...

...

"Eonnie... apa itu?"

"Kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali? Kenapa beli minuman hanya 1? Ini kue apa?"

Jisoo menepis tangan Yebin yang pensaran membuka kotak kue. Pinky dan Yebin ribut bertanya namun Jisoo hanya diam sambil bersenandung kecil. Ia mengambil vas bunga yang tersimpan dan mempercantiknya dengan bunga mawar yang ia bawa.

"Dia kenapa?"

"Mana aku tahu, apa dia membeli itu semua?"

"Ah! Pasti dari sang pengagum rahasia."

"Ciyeeeeh eonnie, sungguh beruntung sekali dirimu." Pinky dan Yebin kompak menjahili Jisoo. Jisoo hanya tertawa senang tanpa menjawab.

"Sudah. Kembali bekerja kalian!"

"Siap bos!"


oOo


Jisoo keluar ruangannya saat jam kerjanya berakhir. Senyuman Jisoo terus mengembang karena Seokmin mengajaknya makan malam berdua.

Jisoo bergabung dengan karyawan lain saat di lift. Jisoo merasa semua mata memandang ke arahnya. Sampai pintu lift terbuka saat sampai di lobby, Jisoo merasa ada yang aneh dengan semuanya.

"Jadi benar dia pacaran dengan Seokmin? Omo!"

"Sstt... jangan keras-keras!"

"Apa dia menggoda Seokmin lebih dulu? Bukankah dia lebih tua?"

Jisoo refleks menoleh ke arah orang yang berani bergosip tentang dirinya.

"Ada masalah?!" Ucap Jisoo sinis dan langsung pergi keluar gedung menuju tempat parkir. Karyawan yang bergosip hanya terdiam langsung disindir Jisoo.

"Mati kau! Besok siap-siap terima SP!" Ucap temannya dan langsung pergi meninggalkan temannya yang masih diam mematung.

...

...

Jisoo telah sampai di sebuah restoran yang telah di booking Seokmin. Ia masih menunggu karena Seokmin mengatakan datang agak terlambat. Restoran bergaya minimalis yang tidak terlalu besar namun ada panggung untuk live music.

Jisoo menunggu dengan cemas karena Seokmin belum mengabarinya lagi.

Suara denting piano mengalun lembut beserta suara biola menandakan adanya suguhan musik dari sang pemilik restoran.

Whenever I see your face, the world disappears

Suara penyanyi seorang pria mengalun lembut menemani para tamu restoran termasuk Jisoo.

"Suaranya bagus sekali." Ucap tamu yang duduk di meja sebelah Jisoo. Jisoo akui suara sang penyanyi memang terdengar indah, ia mencari ke sisi panggung kecil untuk melihat sang penyanyi.

All in a single glance so revealing

You smile and I feel as though I've known you for years

Jisoo membuka lebar mulutnya seolah tidak percaya karena yang ia lihat adalah Seokmin saat ini berdiri di panggung sedang menyanyi!

How do I know to trust what I'm feeling'

Seokmin menyanyi dengan sepenuh hati dan tatapannya tertuju pada Jisoo seorang.

Seokmin berjalan mendekat ke arah tempat Jisoo duduk. Jisoo menahan haru dengan kejutan yang masih berlanjut. Lagu ballad romantis yang sangat Jisoo paham akan artinya. Semua mata mengarah pada pasangan Seokmin dan Jisoo.

I believe my heart

What else can I do

When every part of every thought

Leads me straight to you

I believe my heart

There's no other choice

For now and whenever my heart speaks

I can only hear your voice

Seokmin tersenyum menatap Jisoo.

"Happy Birthday Honey." Seokmin mencium tangan Jisoo di hadapan semua pengunjung restoran.

Suara tepuk tangan memeriahkan kejutan dari Seokmin. Jisoo kembali menangis bahagia dengan semua yang Seokmin berikan. Ia juga baru mengetahui kalau Seokmin mempunyai suara yang merdu.

Jisoo tidak bisa mengatakan apa-apa, air mata sudah membanjiri wajahnya. Seokmin hanya tersenyum melihat ekspresi dari Jisoo. Ia cukup puas karena sukses memberikan kejutan romantis.

Seokmin memberi jeda sampai emosi Jisoo kembali normal, cukup banyak Jisoo menghabiskan tissu. Aksi mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lain.

"Sayang, tenang..."

Jisoo hanya menggeleng tanpa bicara, wajahnya sudah sangat merah. Ia tak menyangka akan menangis di depan umum.

"Tenang ya... ini belum selesai."

"Masih ada lagi?"

"Iya, masih ada."

Jisoo mengangguk menyetujui Seokmin untuk melanjutkan kejutan lainnya.

"Maaf ya..." Seokmin meminta maaf pada tamu lain.

"Tidak apa, silahkan dilanjut..."

Seokmin memberi tanda untuk memulai musik kembali. Tangannya terus menggenggam tangan Jisoo.

The lifetime before we met

Has faded away

How did I live a moment

Without you

You don't have to speak at all

I know what you'd say

And I know every secret

About you

(I Believe My Heart - Duncan James feat Keedie)

Tepuk tangan bergemuruh setelah Seokmin menyelesaikan liriknya. Jisoo masih tersenyum bahagia, kehadiran Seokmin sungguh mewarnai hari-harinya.

Seokmin terlihat sangat tampan dengan model sisiran rambut menyamping dan memperlihatkan keningnya. Sangat keren.

"Satu lagi." Seokmin memberi kode.

"Lagi?" Jisoo tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.

Now and forever

Terdengar suara acapella dari arah panggung.

Until the time is through

Jisoo sangat menikmati suara penyanyi yang berjumlah 2 orang dan Seokmin masih berdiri di dekatnya.

I can't believe it

I don't know where to start, no baby

So many questions

Deep inside my heart

Give me a moment before you go

There's something you ought to know

Seokmin melirik Jisoo dan tersenyum lalu mulai menyanyi bagiannya.

Baby now and forever

Until the time is through

I'll be standing here

Waiting and never give up my faith in you

Trying to make it clear

Without your love I'd be half a man

Maybe one day you'll understand

Now and forever

Until the time is through

I'll be waiting...

(Five - Until the time is through)

Musik berhenti

Seokmin mematikan mic dan meletakkannya. Jisoo menatapnya bingung, Seokmin mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya.

"Will you marry me..."

Jisoo terkejut kesekian kalinya, ia tak menyangka Seokmin akan melamarnya saat itu juga, tepat di hari ulang tahunnya. Mata Jisoo mulai berair lagi, semua pengunjung restoran berdiri untuk melihat adegan melamar yang berawal dari lagu romantis yang dibawakan langsung oleh sang pria. Berakhir dengan ucapan maut 'Will you marry me...'

Ada pula yang merekam suasana romantis mereka. Seokmin terus menatap Jisoo dengan penuh harap, dengan posisi masih bersimpuh di depan Jisoo.

Jisoo masih terus menangis, teringat dengan lirik terakhir yang Seokmin lantunkan.

I'll be waiting...

Seokmin masih setia menunggu jawaban dari Jisoo.

"I will..." ucap Jisoo dengan menahan isak tangis bahagianya. Seokmin tersenyum dan langsung memakaikan sebuah cincin di jari manis Jisoo dan mencium lembut tangan sang calon istri.

Semuanya bertepuk tangan menjadi saksi acara lamaran yang tidak pernah Jisoo bayangkan sebelumnya.

Seorang pelayan membawa buket bunga dan memberikan pada Seokmin. Jisoo masih tidak dapat mengucap apa-apa, ia berdiri dan memeluk calon suaminya.

"Terima kasih..." Jisoo menangis bahagia dalam pelukan Seokmin.

"I love you..."

"I love you too..." balas Jisoo. Seokmin menatap Jisoo dan membantu menghapus jejak air mata. Tak ketinggalan kecupan ia berikan di kening Jisoo.

"Sekarang kita makan, sudah lapar bukan?" Seokmin berubah ceria lagi, padahal beberapa saat yang lalu ia terlihat sangat manly dan keren. Jisoo hanya tertawa.

Lagu romantis lainnya mengalun indah yang telah disusun oleh Seokmin untuk menemani makan malam romantisnya bersama Jisoo.

Jisoo masih merasa seperti mimpi, namun cincin yang melingkar dan sangat pas di jarinya terlihat nyata bukan mimpi.

Seokmin, pria tampan dengan penuh kejutan. Tidak ada yang kurang pada diri Seokmin, Jisoo pastinya sangat beruntung.

"Aku sudah siapkan menu spesial malam ini." Ucap Seokmin riang.

Jisoo hanya tersenyum dengan terus menatap sang calon suami tanpa bosan.

Suasana restoran kembali normal, keduanya sangat bahagia. Beberapa pengunjung restoran menyempatkan diri mengucapkan selamat.

"Bagaimana bisa?"

"Bisa saja, asal ada niat." Seokmin terkekeh geli.

"Ah, iya satu hal lagi. Dan ini sangat penting."

"Ada lagi? Berapa banyak kejutan yang kamu siapkan?"

Seokmin tertawa geli lalu berubah serius. Jisoo langsung terdiam.

"Aku berhasil menemukan ayahmu."

Bibir Jisoo bergetar, ia terus menatap Seokmin. Seokmin juga menatap lurus pada Jisoo.

"Bbenarkah? Kkamu?"

"Iya, aku mendapat info dari orang yang pernah aku temui sebelumnya."

Jisoo menarik nafasnya dengan dalam.

"Kita kesana secepatnya." Ajak Seokmin tanpa ragu, Jisoo tersenyum dan mengangguk yakin akan usulan dari Seokmin.

"Terima kasih, aku tidak tahu harus apa lagi." Jisoo mulai menangis lagi.

"Cukup menjadi pendamping hidupku saja, sayangi ibuku seperti ibu kandungmu, membuka lembaran baru bersama, menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak kita kelak, itu sudah cukup bagiku. Aku tidak mengharap imbalan lainnya."

Jisoo mengangguk mantap menerima semua permintaan Seokmin.

...

...

"Terima kasih untuk semuanya hari ini." Jisoo mengapit lengan Seokmin setelah keluar dari restoran.

"Kamu suka?"

"Aku selalu menyukai pemberian darimu."

"Aku senang mendengarnya. Hati-hati awas kepala." Seokmin melindungi kepala Jisoo saat akan masuk ke dalam mobil. Jisoo tersenyum senang menatap buket bunga yang ia pegang dan cincin barunya. Ia ingin segera bercerita pada sang ibu.

"Ayo, kita pulang. Kamu pasti sangat lelah." Seokmin sudah dibelakang kemudi mobil Jisoo, ia siap mengantar Jisoo pulang.

"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa menyanyi."

Seokmin hanya tersenyum sambil melirik Jisoo. "Sejak masih sekolah dulu aku sudah kerja part time, termasuk menyanyi di kafe dan pemilik restoran itu salah satu temanku."

"Oooh... pantas saja kamu terlihat akrab bersama mereka."

...

...

"Mau mampir?" Jisoo masih bergelayut manja saat Seokmin mengantar sampai ke unit apartemennya.

"Mau, tapi ada mama. Aku malu..."

"Issh sama mama saja malu. Tadi di depan orang banyak tidak malu."

"Hehe, iya aku mampir." Seokmin menurut untuk masuk ke dalam apartemen untuk sekedar bertegur sapa pada sang calon ibu mertua.

"Ma..." Jisoo mencari sang ibu.

"Kemana mama?"

"Sudah tidur..." ucap Jisoo setelah mengecek ke kamar sang ibu.

"Ooh jadi bagaimana?"

"Hmmm..." Jisoo memajukan bibirnya dan tampak berpikir, ia masih ingin berlama-lama dengan Seokmin.

"Ayo sini!" Seokmin menarik tangan Jisoo, berdua masuk ke kamar dan langsung menguncinya.

"Eh..." Jisoo bingung melihat Seokmin mengunci pintu.

Tanpa aba-aba, Seokmin langsung menyerang Jisoo dengan ciuman. Berawal dengan lumatannya yang lembut namun semakin lama terkesan semakin menuntut.

Kedua tangan Jisoo sudah bergelayut pada tengkuk Seokmin. Lumatan-lumatan kecil membasahi setiap sudut bibir keduanya. Kedua tangan Seokmin memeluk erat pinggang ramping Jisoo.

Tangan kanan Seokmin mengusap lembut rambut Jisoo, bergerak perlahan menyusuri bagian tubuh lainnya. Sedikit meremas salah satu payudara Jisoo memberikan sensasi tersendiri di samping ciuman panas mereka.

"Mmmm..." Seokmin melepas ciumannya, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan urusannya.

Jisoo hanya tertawa geli, ia paham apa yang dilakukan oleh Seokmin di dalam sana. Seokmin memang belum meminta untuk melakukan seks dengan dirinya. Seokmin selama ini selalu menjaga kehormatan Jisoo.

Seokmin bernafas lega setelah keluar dari toilet. Wajahnya terlihat lebih bersinar, Jisoo semakin terkekeh geli melihatnya.

"Jangan tertawa."

"Kenapa? Sakit ya harus menahan?"

"Mau minum sesuatu?" Jisoo membuka pintu kamarnya lagi.

Seokmin menarik tangan Jisoo dan mencium keningnya dengan lembut. "Tidak usah, ini sudah larut malam. Kamu harus istirahat. Aku pulang dulu."

"Oh... iya, hati-hati. Naik apa? Bawa saja mobilku. Besok pagi kamu jemput kesini."

"Hmm oke, besok pagi aku jemput. Aku juga belum bertemu mama."

"Oke."

Jisoo mengantarkan Seokmin sampai pintu, pelukan hangat yang Seokmin berikan sebelum ia keluar dari unit apartemen Jisoo sang calon istrinya.

.

.

.

TBC

Annyenong,

Finally bisa update (hehehe) masih berasa ulang tahun Jisoo kan? Hehehe... Mohon maaf sekali lagi kalau lama updatenya, terkadang saat ada ide tapi pekerjaan tidak bisa ditunda dan saat tidak ada pekerjaan namun tidak ada ide (syusyah kan hehehe). I loph yu readernim yang selalu meninggalkan jejaknya di sini, hubungan SeokSoo mulai go public (Yeeaaayyy). Perlahan tapi pasti ya shaaayyy.

Untuk lagu-lagunya sendiri berawal dari dengar di radio, lalu saat proses pembuatan bolak-balik dengerin lagu ballad ditambah cari info lagu-lagu untuk melamar gitu. Berawal mau pakai lagu ballad yang pernah dinyanyikan oleh Seokmin tapi pilihanku jatuh ke lagu barat jadul dan liriknya emang romantis menurut aku. Hehehe... bagi yang penasaran kalau belum pernah dengar, sudah aku beri keterangan judul lagu dan penyanyinya.

Yosssh ditunggu selalu repiunya ya *kiss kiss

Special Thank's :

Uri SeokSoo / Cha KristaFer / cho min hae / Mockaa1617 / aseuka / Kim Joungwook / rizka0419 / Kim Dyora / Dardara / dokiyomi / novi07citra / Lelakimkaaaaaa / LostInBoys

#PrinceJoshuaDay

30 Desember 2017