.
Secret Admirer
.
oOo
.
Seoksoo
.
oOo
.
Genderswitch
.
oOo
.
Happy Reading
Jisoo sudah bersiap dengan kopernya, pagi ini ia akan menemui ayah kandungnya sesuai informasi yang telah Seokmin dapat.
"Sudah semua yang mau dibawa?" Seokmin mengambil koper milik Jisoo.
"Hmm sudah, besok juga sudah pulang kan?" Ucap Jisoo riang tak lupa senyum manisnya.
"Oke, kita berangkat." Seokmin sangat bersemangat.
"Hati-hati ya kalian."
"Iya ma." Jisoo memeluk sang ibunda sebelum pergi. Seokmin menunduk hormat saat berpamitan.
Sang ibu menyunggingkan senyumnya melihat sang putri telah menemukan sesorang yang bisa membahagiakannya.
...
...
"Sudah dibawa?"
"Apanya?"
"Yang aku suruh. Hehehe..." Seokmin memperlihatkan deretan giginya.
"Ish dasar..." Jisoo mencubit dengan gemas, Seokmin hanya tertawa dan langsung meraih tangan Jisoo kemudian diciumnya dengan lembut.
Jisoo hanya menunduk malu, ia tahu Seokmin hanya bercanda. Namun ia masih sangat malu kalau harus menuruti keinginan Seokmin yang minta Jisoo memakai bikini karena mereka akan pergi ke daerah pantai.
"Apa kamu ingat wajah ayahmu?" Seokmin melirik sekilas saat sedang mengemudi menuju bandara.
"Aku tidak ingat, saat itu aku masih kecil. Sekitar umur 4 tahun? Aku tidak ingat, karena aku langsung pindah ke LA saat itu." Ucap Jisoo sendu.
"Apa kamu membencinya saat itu?"
"Hmm... tidak juga karena saat aku masuk sekolah, aku sudah punya papa baru. Memang aku merasa aneh karena marga yang aku pakai marga dari mama. Mama pernah marah saat aku bertanya tentang ayah kandungku, tapi aku tak menyangka sekarang aku diberi jalan untuk bertemu lagi."
Jisoo langsung memakai kacamata hitamnya, Seokmin melirik dan langsung mengusap lembut kepala Jisoo. Ia tahu, Jisoo saat ini ingin menangis namun ia tidak ingin memperlihatkan pada Seokmin.
"Aku tidak bisa tidur semalam. Aku hanya bingung kalimat apa yang harus aku ucap saat bertemu nanti."
"Tidak usah takut, ada aku."
"Hmm, terima kasih." Jisoo tersenyum mendengarnya, ia merasa sedikit tenang dengan keberadaan Seokmin di dekatnya.
...
...
"Tidurlah, istirahatkan pikiranmu. Lumayan ada waktu sejam."
"Hmm baiklah." Jisoo langsung mengambil posisi memeluk lengan Seokmin saat sudah berada di dalam pesawat. Ini adalah perjalanan pertama jarak jauh bagi keduanya.
Sesaat setelah lepas landas, Jisoo benar tertidur. Sesekali Seokmin meliriknya karena Jisoo masih terus memeluk lengannya.
Setelah satu jam lamanya, pesawat yang mereka tumpangi telah sampai di pulau Jeju. Pulau romantis banyak pasangan untuk berbulan madu atau tujuan utama para wisatawan baik domestik atau mancanegara.
"Rasanya seperti bulan madu ya." Seokmin terkekeh geli setelah mengambil koper miliknya dan milik Jisoo.
Jisoo hanya mencubit gemas dan memajukan bibirnya. Sebenarnya Jisoo sempat memikirkan apa ia akan berhubungan intim dengan Seokmin malam ini? Mengingat ia pergi berdua saja dan saat ini status Jisoo sebagai tunangan Seokmin.
"Ayo, sudah ditunggu di luar."
Ucapan Seokmin membuyarkan lamunan Jisoo, ia menurut mengikuti kemana Seokmin melangkah.
Jisoo hanya terdiam melihat Seokmin berbicara dengan seorang pria dan tak lama ia mendapatkan sesuatu dari pria tersebut.
"Lihat!"
Jisoo hanya tersenyum melihat benda yang di pamerkan Seokmin. Kunci mobil. Seokmin menyewa mobil untuk transportasi selama mereka di pulau Jeju.
"Sekarang kita setting alamat." Seokmin memasukkan alamat di GPS mobil yang ia sewa, Jisoo hanya terdiam melihatnya.
'Chup!' Jisoo tiba-tiba memajukan diri dan mengecup pipi Seokmin.
"Eh? Yang sebelah sini juga boleh." Seokmin menyodorkan pipi sebelahnya yang belum dikecup. Jisoo sempat mencubit dengan gemas namun ia tetap menuruti keinginan Seokmin dengan mengecup pipinya lagi.
"Bagaimana perasaanmu?" Seokmin melirik Jisoo sekilas. Jisoo tampak sangat menikmati pemandangan pulau Jeju yang banyak batu di sana sini.
"Entahlah, aku tidak yakin." Jisoo hanya mengedikkan bahunya.
Keduanya terdiam.
Selang 30 menit mereka mencari alamat, yang kini tanpa mereka sadari telah sampai pada bangunan yang tampak seperti sebuah restoran kecil dekat pantai.
"Mignonne." Ucap Seokmin dan Jisoo bersama saat membaca papan nama restoran tersebut.
"Kenapa tertuju ke restoran? Apa GPSnya rusak?"
"Kukira karena kamu lapar? Jadi salah masukkan alamat." Ucap Jisoo meledek.
"Eih, sedikit sih karena tadi belum sempat sarapan. Bagaimana kalau kita turun saja? Sekalian makan?"
Ajakan Seokmin langsung dituruti Jisoo, karena ia juga mulai lapar mengingat hari semakin siang.
"Maaf kami belum buka." Ucap seorang gadis manis berpakaian seragam putih dengan rambutnya yang di ikat pony tail.
"Oh belum ya?" Ucap Seokmin kecewa dan melirik Jisoo yang terdiam.
"Sepertinya kalian bukan warga sini ya?"
"Oh iya kami baru datang dari Seoul." Ucap Seokmin.
"Bagaimana kalau kalian tunggu saja, mungkin Chef kami bisa membuatkan makanan untuk kalian berdua."
"Bagaimana? Kita istirahat dulu?"
"Oke." Jisoo menyetujuinya.
"Silahkan duduk dimana kalian mau." Ucap gadis itu dan langsung berlalu menuju arah dapur terbuka dimana ada seorang pria yang tampak seperti seorang Chef.
"Kamu yakin alamatnya benar? Orang itu tidak sedang mengerjai kita bukan?"
"Entahlah, tapi sepertinya memang ini alamatnya. Apa ayahmu ganti profesi?"
"Ayahku itu seorang guru dan mama bilang jabatan terakhirnya adalah kepala sekolah. Tapi..."
"Permisi, apa kalian ingin mencoba menu baru kami? Kebetulan hari ini kami punya abalone segar." Gadis pelayan memotong pembicaraan Seokmin dan Jisoo dengan datang membawa 2 gelas dan 1 teko air.
"Oh, sepertinya enak. Kamu mau?"
"Aku ikut saja." Jisoo hanya menurut apa yang dikatakan Seokmin.
"Oke, kami pesan. Boleh saya tanya alamat ini?" Seokmin menyodorkan ponselnya yang berisi pesan alamat tempat tinggal ayah Jisoo.
"Benar, ini memang alamat sini."
Jisoo dan Seokmin saling berpandangan.
"Lalu, apa kamu kenal dengan Jin Yihan?" Tanya Jisoo dengan rasa penasarannya.
"Beliau adalah chef disini. Kalian mencarinya?"
Jisoo langsung terdiam, wajahnya langsung berubah pucat. Seokmin tak menyangka kalau tebakannya benar.
"Apa kami bisa bertemu?" Seokmin meminta pada gadis pelayan itu.
"Hmm mau bertemu? Sebentar." Gadis itu berlalu menuju ke arah dapur dan berbicara dengan seseorang yang sebelumnya ia temui juga. Seokmin yang penasaran dengan ayahnya Jisoo tampak mengintip ke arah sisi dalam restoran lagi.
Jisoo hanya terdiam dan menunduk bingung harus apa, tubuhnya langsung lemas seketika.
Seorang pria bertubuh tinggi dan parasnya tampan menghampiri meja Seokmin dan Jisoo.
"Iya, selamat datang." Sapanya pada Seokmin, Seokmin hanya terdiam mendadak lidahnya kelu tidak bisa berkata apa-apa. Jisoo yang mendengar suara ayahnya semakin lemas rasanya tidak berani mengangkat kepalanya.
"Ini Chef kami. Apa beliau yang anda cari?"
Seokmin bingung sendiri, ia benar-benar tidak tahu harus apa. Yihan sang ayah kandung Jisoo memandang heran pada kedua orang di depannya.
"I...ini... ini... ddiaaa... Jisoo... putri anda..." Seokmin memperkenalkan dengan terbata-bata.
Kedua mata Yihan melebar mendengar penuturan Seokmin. Pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita yang sudah beranjak dewasa. Jisoo masih terdiam menunduk.
"Jisoo? Benar kamu Jisoo?"
Jisoo mengangkat kepalanya sedikit dan pandangannya sedikit kabur karena air mata yang mulai membasahi sepasang matanya.
"Astaga! Jisoo putri kecil ayah!" Sang ayah tidak bisa menahan haru bisa bertemu lagi dengan sang putri yang telah berpisah selama 24 tahun.
"Ini benar kamu? Jisoo?"
Jisoo mengangguk dengan menahan isak tangisnya namun ikatan ayah dan anak begitu kuat. Jisoo refleks memeluk sang ayah dan menangis bahagia bisa bertemu setelah sekian lama. Seokmin tersenyum usahanya mempertemukan ayah dan anak berbuah manis.
"Aku tak menyangka kalau Chef punya anak lagi." sang gadis pelayan melihat adegan melepas rindu antara ayah dan anak dengan perasaan haru.
"Maksudnya ada anaknya yang lain?" Seokmin penasaran.
"Hmm iya, laki-laki dan sangat tampan."
"Ooh..." Seokmin memikirkan bagaimana perasaan Jisoo kalau ia punya saudara yang lain. Namun saat ini di depannya, Jisoo sangat bahagia bisa bertemu dengan ayah kandungnya. Sang ayah pun selalu tersenyum dan pandangannya tak lepas dari putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa.
...
...
Jisoo menatap dengan takjub sang ayah dengan lihai mengolah masakan. Kemampuan memasaknya benar tidak diragukan lagi. Air liur hampir menetes saat aroma masakan tercium sangat menggugah selera.
"Kamu tidak alergi makanan laut kan?"
"Tidak." Ucap Jisoo riang, ia tidak sabar ingin mencicipi masakan sang ayah. Selama menunggu ia duduk di meja bar yang menyatu dengan dapur terbuka.
"Sudah siap." Sang ayah menyajikan menu spesial untuk sang putri tak ketinggalan Seokmin juga mencicipinya.
Sang ayah terus tersenyum melihat Jisoo yang meniup makanan secara perlahan dan mulai memasukkan ke dalam mulutnya.
"Hmmm enak!" Jisoo tersenyum senang memuji masakan sang ayah.
"Makanlah yang banyak, kamu mau makan apa akan ayah masakkan untukmu."
...
...
Jisoo hanya tersenyum malu, hatinya merasa sangat senang. Walau terpisah sangat lama namun sedikitpun sang ayah tidak melupakan dirinya. Nama restoran yang dipakai adalah panggilan saat ia masih kecil, namun sang ayah mengubahnya dalam bahasa perancis.
"Mata dan hidung kalian sama." Puji Seokmin.
Sang ayah hanya tertawa karena hidungnya dan hidung Jisoo sama-sama mancung.
"Kalian akan menginap kan?"
"Eh?" Seokmin menatap Jisoo, ia berencana akan tidur di hotel tapi kalau sang calon ayah mertua mengizinkan menginap sepertinya kabar baik.
"Menginap saja, nanti biar kalian berdua tidur di kamar Guanlin."
"Guanlin? Siapa?" Jisoo bertanya penuh selidik, Seokmin bisa menebak pasti ada hubungannya dengan anak dari sang calon ayah mertua.
"Dia adik kamu, ya anggap saja begitu. Sebentar lagi juga dia pulang."
"Oh... hmm ayah sudah menikah dan punya anak lagi?" Ucap Jisoo lesu.
"Tidak seperti itu." Sang ayah mengusap lembut kepala Jisoo.
"Anak ayah hanya kamu seorang, tapi Guanlin adalah anak teman ayah saat ayah tinggal di China. Dan teman ayah meninggal karena kecelakaan, jadi ayah yang merawatnya karena ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi."
"Oooh..." Jisoo bernafas lega, begitu juga dengan Seokmin.
"Jadi, maksud kedatangan kalian untuk mendapat restu?"
Seokmin berdehem, sementara Jisoo hanya menunduk malu.
"Ayah tidak mengira kalau ibu kamu masih mengingatnya. Ayah sengaja berkata seperti itu karena ayah ingin kejadian ayah dan ibu kamu di masa lalu tidak terulang lagi padamu."
"Kenapa?"
"Jisoo, apa ibumu belum cerita?"
Jisoo menggeleng masih belum mengerti, bahkan di umurnya yang sudah dewasa pun ia belum mengetahui alasan dibalik orang tuanya berpisah.
Sang ayah duduk di dekat Jisoo dan menatapnya dengan dalam.
"Dulu, ayah menikah dengan ibumu tanpa restu dari kakek kamu. Sekuat apapun ibu kamu membela ayah saat itu, kakek kamu tidak akan setuju. Kakek kamu orang yang sangat keras, hingga ibu kamu sampai kabur dari rumah."
"Lalu kalian menikah diam-diam?" Jisoo meledek ayahnya sendiri.
"Benar, padahal saat itu ayah masih berjuang untuk menjadi seorang PNS. Saat itu ayah hanya guru honorer yang gajinya kurang untuk mencukupi kebutuhan kamu dan ibu kamu. Tapi setiap hari ayah bekerja keras agar kamu tidak kelaparan, dan tetap bisa memakai pakaian yang bagus. Sampai akhirnya saat ayah diterima jadi PNS. Ayah dipaksa untuk berpisah dan kalian pindah ke luar negeri."
Sang ayah menarik nafas dengan dalam mengingat kejadian yang sangat menyiksa dirinya.
"Hidup ayah sempat hancur karena harus berpisah dengan kalian. Sampai akhirnya ayah bisa bangkit lagi dan menyusul mencari kamu."
"Ayah datang? Kapan?"
"Iya, saat kamu lulus SD saat itu. Kamu telah tumbuh menjadi gadis cantik. Sangat cantik. Tapi ayah bisa apa? Ayah ingin berfoto dengan kamu saat itu, tapi kamu selalu bersama ayah tiri kamu. Ayah cukup senang melihat kamu bahagia."
Jisoo menunduk kembali.
"Lalu, paman pulang lagi?"
"Iya karena tidak bisa tinggal lama, maka setelah melihat Jisoo langsung pulang."
"Aw... it's so sad..." Jisoo menghapus air matanya sendiri tidak tega setelah mendengar cerita sedih dari sang ayah.
"Jangan menangis lagi Jisoo, eh bukankah kalian akan menikah? Ini berita yang membahagiakan!"
Jisoo tertawa setelah dihibur oleh ayahnya, Seokmin mengusap punggung calon istrinya dengan lembut.
"Jadi, Seokmin bekerja di bidang apa?"
"Hmm saya..."
"Dia sarjana teknik sipil di tempatku bekerja, orangnya sangat rajin." Ucap Jisoo cepat memperkenalkan calonnya pada sang ayah.
"Benarkah? Ia seorang insinyur? Dan kalian partner kerja?"
"Tidak, paman. Dia masih atasan saya, hehehe..."
"Oh? Hahaha..." sang ayah tertawa senang mendengarnya, Seokmin hanya tersipu malu.
Jisoo dimanjakan dengan foto album masa kecilnya yang tersimpan dengan baik oleh sang ayah.
...
...
"Noona, kamarnya sudah dibersihkan." Guanlin sang adik angkat Jisoo menunjukkan kamarnya yang akan ditempati oleh Jisoo.
Jisoo melihat sekeliling, ukuran kamar yang tidak bisa dibilang besar karena letaknya di loteng.
"Kamu tidur dimana?" Seokmin bertanya pada adik angkat Jisoo.
"Aku di kamar ayah." Ucap Guanlin dan langsung pamit menuju lantai dasar.
"Aku ke hotel saja ya, besok aku jemput." Bisik Seokmin.
"Aku ikut!"
"Jangan, kamu disini saja. Ini kan rumah ayah kamu."
"Hngg, aku juga mau tidur di hotel. Kalau aku disini maka aku perempuan sendiri. Kamu tega kalau aku kenapa-kenapa?"
Seokmin tertawa geli. "Sayang, kalaupun aku tetap menginap disini bersamamu, kamu tetap perempuan sendiri. Lagipula, disini ada ayah kandungmu yang menjaga."
"Tapi setidaknya ada kamu yang bertanggung jawab."
"Jadi kamu bersedia kalau aku hamili dulu?"
"Ish, maksudku bukan begitu Lee!" Jisoo mencubit Seokmin dengan gemas namun yang diberi serangan hanya tertawa geli.
"Bagaimana? Kamarnya kecil ya?" Sang ayah tiba-tiba datang melerai perdebatan antara Seokmin dan Jisoo dengan membawa kasur tambahan.
"Oh tidak, ini cukup paman." Ucap Seokmin dan langsung menerima kasur dari sang calon ayah mertua.
"Kamar mandinya di bawah ya, ayah tinggal dulu."
"Iya." Jisoo mengangguk paham dan sang ayah pergi meninggalkan putrinya.
"Ya sudah aku mengalah, kamu tidur di atas."
Jisoo mengerucutkan bibirnya, langsung masuk ke dalam kamar dan bersiap akan mandi. Seokmin menggeser meja agar nantinya bisa di gelar kasur.
...
...
Jisoo telah selesai mandi, saat kembali ke kamar Seokmin tidak ada. Ponsel Seokmin yang sedang di charge menandakan ada panggilan masuk. Jisoo melihatnya, hanya nomor tidak ada nama maka ia langsung menerima panggilan tanpa pikir panjang.
"Oh.. hallo Seokmin-ssi..." sapa seorang gadis di seberang.
"Iya, ini siapa?"
"Eh..."
"Sayang." Seokmin tiba-tiba masuk ke dalam kamar mengagetkan Jisoo yang sedang menerima panggilan.
"Hmm... kenapa?"
"Aku diajak ayahmu ke rumah kepala desa, kamu mau ikut?"
"Tidak, aku disini saja."
"Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Kalau mengantuk, tidur saja duluan."
"Oke, eh sayang!"
"Kenapa?"
"Ini ada telepon masuk tapi tidak tahu siapa."
"Mana?"
"Hanya nomor, tidak ada dalam kontak kamu."
Seokmin mengecek ponselnya yang masih menyala.
"Hallo."
(Telepon terputus)
"Sudah mati. Biarkan saja, aku pergi dulu ya." Seokmin pamit tak lupa mencium pipi Jisoo, yang dicium pipinya langsung tersenyum malu.
Sementara keadaan berbanding balik dimana seseorang menunduk lemas dengan ponsel di tangannya. Sesaat ponselnya masih menyala kemudian redup sendiri dengan nama Lee Seokmin sebagai panggilan akhir di layarnya.
"Sayang? Hanya nomor? Dia tidak menyimpan nomorku? Jadi benar rumor itu? Itu pasti suara Hong Jisoo."
Flashback on
3 bulan lalu...
"Selamat datang, perkenalkan nama saya Lee Chan selaku pembimbing kalian selama trainee di sini."
"Nama saya Yuju."
"Nama saya Yerin."
"Pembimbing apa kamu? Baru diterima jadi karyawan tetap sudah mengaku sebagai pembimbing." Mingyu datang bersama Seokmin ke dalam ruangan yang menjadi tempat kerjanya bersama karyawan lain.
"Hehehe, namanya juga usaha."
Yuju dan Yerin terkekeh geli, pandangan Yuju langsung menatap sosok di depannya yang mempunyai wajah tampan dengan hidung yang sangat mancung.
"Hyung, ini anak trainee bagaimana?" Chan minta pendapat pada Mingyu.
"Tanya Seokmin saja, aku ada urusan." Mingyu segera keluar ruangan lagi, ia memang terlihat sangat sibuk mengingat ia yang bertanggung jawab dalam timnya. Sementara Seokmin langsung terfokus dengan pekerjaannya.
"Hyung, ini anak trainee mau diberi tugas apa?"
"Bukankah kamu pembimbing? Kenapa tanya aku?"
"Eih jangan marah begitu, aku serahkan mereka padamu ya." Chan buru-buru kembali ke mejanya, Seokmin sedikit kesal karena ia juga sangat sibuk dan tugasnya bertambah karena muncul anak trainee.
"Ini kalian input daftar harga terbaru dan ini ada buku panduannya." Seokmin memberikan setumpuk berkas dan buku daftar harga bahan mengingat mereka bekerja dalam bidang konstruksi.
"Kabari kalau sudah selesai karena aku harus menghitung semuanya." Seokmin bersiap setelah Mingyu mengirimnya pesan untuk pergi keluar.
"Kabarinya lewat apa?"
"Oh, ini nomorku." Seokmin memberikan kartu namanya pada Yuju dan ia terburu-buru langsung keluar ruangan.
Yuju tersenyum setelah mendapat kartu nama dan Yerin yang mengerti menyenggol lengan sahabatnya yang sedang tersipu malu. Setelah perkenalan singkat itu Yuju dan Yerin mulai membaur dengan yang lain termasuk Seokmin.
Terkadang Yuju mengirimkan pesan pada Seokmin dan Seokmin membalasnya, hanya pesan berisi tentang pekerjaan tidak lebih.
Flashback off
Kini Yuju kecewa mengetahui kalau Seokmin tidak menyimpan nomornya. Tanpa Yuju ketahui, Seokmin sempat menyimpan nomor Yuju sebelumnya dan tanpa Yuju ketahui pula ponsel Seokmin sempat rusak dan nomornya tidak terback-up.
Seokmin sendiri tidak menyadari ada nomor yang hilang dalam daftar kontaknya, baginya yang paling penting adalah kontak Jisoo setelah ibunya dan beberapa relasi partner kerja termasuk Mingyu sahabatnya.
...
...
"Sedang apa?"
"Ya ampun!" Seokmin terlonjak kaget saat sedang asyik membaca berita di ponselnya. Jisoo hanya tertawa geli dari ranjang dan Seokmin menghampiri karena merasa gemas. Seokmin memang menggelar kasurnya di bawah ranjang. Jisoo secara tiba-tiba mengintip dari atas ranjang dengan rambutnya yang panjang menjuntai ke bawah.
"Aku pikir ada sadako."
"Yak! Kamu menyamakan aku dengan hantu jepang itu?" Jisoo protes.
"Iya maaf, aku kaget." Seokmin mengelitik Jisoo dan Jisoo tertawa geli. Jisoo memang sengaja minta perhatian karena sedari tadi Seokmin sibuk dengan ponselnya padahal mereka sedang berlibur.
"Kamu belum tidur? Kenapa?"
"Aku tidak bisa tidur."
"Sini." Seokmin menawarkan pelukan dan Jisoo langsung tiduran memeluk sang pria.
"Kita belum keliling pantai di sini."
"Besok saja, sekarang kita istirahat." Seokmin mengusap lembut punggung Jisoo selama memeluknya.
"Ah... aku tidak bisa rasanya." Seokmin melepas pelukannya.
"Kenapa?" Jisoo mendongakkan kepalanya.
"Aku tidak tahan kalau berdekatan dengan kamu seperti ini." Seokmin langsung menyerang Jisoo dengan memberikan ciuman.
Secara lembut kedua bibir mereka bertemu dan saling melumat. Jisoo sudah telentang dengan Seokmin berada di atasnya.
"Sayang, mau susu..." bisik Seokmin. Jisoo hanya tersenyum geli mendengar permintaan sang calon suaminya. Ia menuruti dengan membuka 2 buah kancing piyamanya, saat itu Jisoo memakai piyama model terusan. Seokmin memang berubah menjadi lebih agresif setelah melamarnya. Jisoo pun tidak keberatan karena calon suaminya yang meminta.
Seokmin merasa senang karena diberi akses, ia terus mengecup dengan perlahan dari leher menuju bagian dada. Jisoo melihat reaksi Seokmin yang pertama kalinya melihat bagian tubuhnya yang lain.
Seokmin menyentuh dengan perlahan dan mengusapnya lalu sedikit memainkan puting payudara milik Jisoo. Pipi Jisoo sudah merona hebat merasa malu. Tak lama Seokmin menjilatnya dengan lembut sebelum menghisapnya. Layaknya seorang bayi yang haus diberi ASI oleh ibunya.
"Sssshhhh ngggg..." Jisoo menahan geli saat merasa ada gesekan dari putingnya dengan gigi Seokmin. Ia terus mengusap kepala Seokmin selama sang pria 'menyusu'.
Seokmin tersenyum dan mengulanginya lagi dengan 'menyusu' pada payudara yang lain milik Jisoo. Gerakan bibir Seokmin memang sangat lembut karena ia tidak mau menyakiti sang wanitanya. Jisoo menggigit bibirnya merasa terangsang dan tangannya terus mengusap kepala sang pria.
'Tok tok tok tok'
Suara ketukan pintu menginterupsi mereka untuk berhenti. Seokmin melepas dan menyisakan air liur yang membasahi salah satu payudara Jisoo. Mereka saling berpandangan, Jisoo langsung merapihkan bajunya kembali.
"Biar aku buka." Seokmin langsung bangun menuju pintu.
"Seokmin, kamu belum tidur kan? Bagaimana kalau kita main catur dulu?"
Mata Seokmin melebar karena sang calon ayah mertua mengetuk pintu tengah malam hanya untuk mengajaknya main catur.
"Hngg... iya paman."
"Oke, ditunggu di bawah."
Seokmin menepuk dahinya sendiri, kegiatannya ingin bermesraan dengan Jisoo terganggu. Namun ia tidak bisa menolak keinginan sang calon ayah mertua.
"Sayang, aku tinggal dulu ya. Ayah kamu mengajak main catur." Seokmin terdiam sejenak dengan mengusap celananya.
"Kamu kenapa?"
"Iya, ini tadi sempat bangun. Hehe..." Seokmin langsung keluar kamar setelah merasa aman. Jisoo hanya tertawa geli melihatnya. Mereka mungkin lupa sedang berada dimana, andai malam ini mereka menginap di hotel pasti keadaan sudah semakin panas tanpa ada yang mengganggu.
Jisoo merasa bosan ditinggal sendirian di kamar, ia langsung mengambil cardigannya dan berjalan keluar kamar untuk ke bawah. Ia melihat kedua pria sedang serius bermain catur.
"Kamu belum tidur?" Tanya sang ayah melihat putrinya datang dan bergabung langsung duduk di sebelah calon suaminya.
"Aku terbangun dan Seokmin tidak ada." Jisoo berbohong. Seokmin hampir tertawa dibuatnya, Jisoo mencubit agar Seokmin menjaga sikapnya.
"Oh..." sang ayah mengangguk mengerti dan melanjutkan permainan.
"Jadi, kalian sudah merencanakan apa saja untuk pernikahan kalian?"
Jisoo dan Seokmin saling berpandangan. "Belum..." ucapnya serempak sambil terkekeh geli.
"Bagaimana kalau pestanya diadakan disini?" Sang ayah memberi saran.
"Eh?" Jisoo dan Seokmin kembali berpandangan.
"Iya biar ayah yang urus semuanya dari lokasi, makanan. Anggap saja kalau ayah sedang memberi uang jajan kamu yang selama ini tidak kamu dapatkan dari ayah."
"Apa tidak merepotkan paman?"
"Tentu saja tidak, Jisoo adalah putriku satu-satunya. Mungkin bukan pesta yang mewah tapi disini ada lokasi yang bagus untuk pernikahan. Besok ayah tunjukkan lokasinya."
Jisoo tersenyum senang namun terkesan malu-malu. Seokmin pun ikut senang seolah sang calon ayah mertua memperlancar urusannya.
"Tenang saja, ayah punya teman yang biasa mengurus pesta di hotel-hotel sini. Jadi pasti bagus!"
"Terima kasih." Ucap Jisoo.
"Ya sudah, kalian istirahatlah. Besok jam 7 pagi kita sarapan."
"Iya." Ucap Seokmin semangat, dia memang menantikan untuk bisa berduaan dengan Jisoo.
Sang ayah kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Seokmin dan Jisoo. Jisoo langsung ambil posisi tidur di ranjang dan Seokmin ikut rebahan dalam ranjang yang sempit untuk 2 orang. Sementara kasur yang sudah di gelar tidak dipergunakan oleh Seokmin.
...
...
Jisoo terbangun setelah alarmnya berbunyi, dengan masih mengantuk ia mengusap pipi Seokmin yang masih terlelap.
"Bangun..." bisiknya lembut di telinga sang calon suaminya. Kalimat dari Jisoo membuat Seokmin terbangun dengan membuka matanya perlahan. Seokmin memang banyak berubah sejak semakin dekat dengan Jisoo, awalnya ia sulit di bangunkan namun secara perlahan Seokmin merubah sikapnya.
Seokmin hanya menggeliat masih merasa mengantuk. Senyuman terukir di parasnya yang tampan saat melihat calon istrinya tersenyum lembut di pagi hari.
"Pagi..." sapanya pada Jisoo sang calon istrinya. Jisoo tersenyum menggoda dengan rambutnya yang agak berantakan dan kancing piyamanya yang terbuka. Iya, semalaman Seokmin masih melanjutkan bermain sesuatu yang lembut dan kenyal dan membuat ia ketagihan.
Seokmin bangun dan menyandarkan tubuhnya agar nyawanya terkumpul semua. Jisoo ikut bangun dan menyender pada dada Seokmin sambil bermain ponselnya. Waktu baru menunjukkan pukul 6, masih ada waktu bagi mereka untuk bersiap sarapan di pukul 7.
Seokmin terus mencium belakang kepala Jisoo sambil memeluknya dari belakang selagi Jisoo bermain ponsel.
"Kamu mau mandi dulu?"
"Sebentar lagi." Jisoo masih asyik bermain ponselnya sementara Seokmin iseng menyisir rambut panjang Jisoo.
...
...
"Aku mandi dulu." Jisoo bangun dan bersiap mandi dengan mengambil handuknya.
"Eih mau kemana?"
"Mandi."
"Itu bajunya dikancing dulu, nanti adik kamu melihat."
"Kancingkan, kan semalam kamu yang buka." Pinta Jisoo manja, Seokmin mendekat dengan tersenyum dan tangannya langsung bergerak mengancingkan piyama Jisoo.
"Tunggu." Seokmin mengambil handuk Jisoo dan melingkarkan di tengkuknya untuk menutup dada Jisoo dengan handuk. Setelah aman, Jisoo baru keluar kamar.
...
...
"Ayah kemana?" Tanya Jisoo saat menunggu sarapan pada Guanlin. Sang adik terlihat sibuk sendiri di dapur.
"Kalau pagi hari, ayah bertemu nelayan, noona mau makan sekarang?"
"Eh? Maksudnya kita sarapan tanpa ayah?"
"Ayah pasti lama, aku sudah buatkan mie untuk sarapan. Kita bisa sarapan duluan." Guanlin menghidangkan semangkuk mie buatannya. Jisoo hanya terdiam menatap semangkuk mie yang masih panas dan terlihat menggugah selera.
"Aku baru menggilingnya tadi pagi."
"Kamu bisa masak?" Jisoo menatap tidak percaya kalau mie buatan adiknya dibuat sendiri bukan mie instan yang dijual di pasaran.
"Bisa." Guanlin tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Jisoo mengangguk dan tersenyum walau dalam hatinya ia merasa sedikit iri karena ia sendiri tidak terlalu bisa memasak.
"Makan apa?" Seokmin telah selesai mandi dan langsung bergabung.
"Buat hyung sudah aku siapkan." Guanlin menghidangkan semangkuk mie lagi pada Seokmin.
"Enak." Jisoo dan Seokmin memuji masakan Guanlin, sang adik tersenyum bisa melayani kakak angkat dan calon kakak iparnya.
...
...
Setelah sarapan, Jisoo dan Seokmin mensurvey lokasi untuk pernikahan mereka. Jisoo terlihat sangat senang karena lokasinya benar bagus dengan pemandangan laut.
"Noona, mau aku antar ke tempat yang bagus lainnya? Sekalian untuk foto prewedding kalian." Guanlin sudah siap dengan kameranya.
"Adik kamu sangat baik."
Jisoo tersenyum malu dan langsung menyetujuinya.
"Tunggu! Aku belum pakai make up!" Jisoo panik karena acara untuk pemotretan tidak ada dalam agendanya hari ini.
"Kamu sudah cantik tanpa make up."
"Aku tidak percaya, Linlin-ah apa penampilanku berantakan? Kamu pasti jawab dengan jujur."
"Noona sudah cantik apa adanya."
"Benarkan? Kamu kira aku bohong?"
Jisoo menunduk malu, Seokmin langsung menarik tangan Jisoo yang masih terlihat malu-malu. Guanlin sang adik hanya tertawa melihatnya. Ia bisa memaklumi pada pasangan di depannya yang selalu melakukan adegan lovey dovey.
Guanlin layaknya fotografer profesional selalu mengarahkan kedua kakaknya agar berpose mesra. Selama seharian mereka menghabiskan waktu untuk berfoto sebelum keduanya kembali ke Seoul dan kembali ke rutinitas esok hari.
"Semua fotonya bagus, noona pilih saja yang mana mau dicetak. Semuanya sudah aku copy dalam CD ini."
"Sepertinya kamu serba bisa."
"Di sekolah aku ketua klub mading."
"Pantas saja." Jisoo mengusap rambut sang adik, ia sudah bisa akrab dengan adik angkatnya walau bukan saudara kandung tapi Jisoo sudah mulai menyanyangi adiknya.
Guanlin sendiri termasuk anak yang supel bisa langsung akrab dengan orang yang baru ditemuinya.
Jisoo memeluk erat sang ayah sebelum berpisah lagi. Ia harus segera kembali ke Seoul dengan penerbangan malam karena waktu terasa begitu cepat ia habiskan bersama ayah dan adik angkatnya.
"Kabari lagi untuk tanggalnya ya, ayah bersedia menyiapkan semuanya. Undang teman-teman kamu, nanti ayah bantu untuk cari penginapannya."
"Iya, aku paham. Terima kasih ayah."
"Tolong jaga Jisoo ya, saya percaya kamu lelaki yang baik dan bertanggung jawab."
"Percayakan padaku paman. Tenang saja." Ucap Seokmin percaya diri.
.
.
.
TBC
Annyeong,
* Jin Yihan siapa sih?
Dia itu salah satu aktor yang cukup menyita perhatianku dan punya hidung mancung seperti Jisoo walau wajahnya ya... ga mirip Jisoo sih hahaha... tipe-tipe Ahjussi pokoknya.
* Trus, kenapa ada Guanlin?
Ini iseng aja biar nyambung ceritanya karena ayahnya Jisoo ceritanya sempat di mutasi ke China dan jujur aku sempat tanya nama-nama orang China dan pilihanku jatuh ke Guanlin agar reader gampang berimajinasi saat membaca.
Yosh chap ini Jisoo sudah bertemu ayah kandungnya, kira-kira chap selanjutnya apa ya? Ditunggu saja pokoknya hehe...
Yang mau review boleeh... ^^
Special Thank's for :
Cha KristaFer / Uri SeokSoo / Mockaa17 / novi07citra / Ocha - kacha / wpvlfk / rizka0419 / magnificentlizzy / Lelakimkaaaaaa / wonwoo7teen / dokiyomi / hyenieepie / thania . thania / shfly9 - Kim / Dardara / Hana / guixiancho34
