.
Secret Admirer
.
oOo
.
Seoksoo
.
oOo
.
Genderswitch
.
oOo
.
Happy Reading
"Mama tidak ada rencana rujuk dengan ayah?"
"Aku tak menyangka kalau ayah seorang pria yang masih terlihat tampan dan gagah di usianya yang sekarang."
"Mama sudah tidak mencintai ayah? Kasihan ayah tidak ada yang mengurus."
Jisoo berceloteh saat sarapan, namun sang ibu tampak tidak peduli.
"Ayah kamu sudah terbiasa hidup mandiri." Sang ibu mulai menanggapi ocehan putrinya.
"Mama yakin? Aku tahu mama terpaksa menikah dengan papa karena disuruh kakek."
"Mama tidak mau gagal lagi Jisoo..."
"Ma, aku yakin dulu mama hanya ingin melindungi ayah agar tidak diganggu lagi oleh kakek. Mama masih mencintainya kan?"
"Ma, aku sudah menemukan kebahagiaan. Kenapa mama tidak? Kakek sudah lama tidak ikut campur lagi dengan urusan mama. Dan papa juga sudah lama bahagia dengan keluarga barunya."
"Habiskan sarapan kamu, nanti kamu terlambat."
"Mama tahu? Selama aku disana, aku lihat sendiri para ibu-ibu nelayan rajin mengunjungi ayah walah hanya sekedar berkunjung ke restoran. Guanlin juga cerita kalau ayah sering di jodoh-jodohkan dengan wanita dari desa lain."
"Ehem, berikan alamatnya."
"Mama mau kesana?"
"Mama mau lihat lokasi untuk pernikahan kalian. Mama tidak mau pernikahan kamu terlihat biasa saja."
"Oooh... hanya lihat lokasi."
"Mama tahu? Ayah masih menyimpan semua foto mama."
"Segera pesankan tiket untuk mama!" Sang ibunda langsung pergi mengurus pekerjaan rumah lainnya meninggalkan Jisoo yang masih sarapan.
"Baiklah." Jisoo tertawa geli, usaha memancing ibunya berhasil.
oOo
Ada penggalan dari Meanie Married Life chap 11 dan 12.
Jisoo berada di toilet sedang merapihkan riasan di wajahnya. Tak disangka Yuju berada disana juga. Jisoo sempat melirik pada gadis yang berdiri di sebelahnya.
Yuju sendiri sempat melirik Jisoo yang sedang memakai bedak. Pandangan Yuju berubah tajam melihat cincin yang melingkar dengan lucu dan menggemaskan bagi Jisoo namun terlihat menyakitkan bagi seseorang seperti Yuju yang mengharapkan sesuatu pada Seokmin.
Yuju hanya menunduk tak berani melirik lagi sementara Jisoo terlihat betah berlama-lama memperbaiki setiap inchi wajahnya. Tentunya ia lebih sering menggunakan tangannya bergerak-gerak agar si cincin emas putih bermata berlian itu terlihat berkilauan menyayat hati gadis di sebelahnya.
Yuju kalah set, ia langsung keluar dari toilet setelah temannya Yerin selesai urusan panggilan alamnya.
...
...
Seokmin sangat mengantuk, tengah malam ia baru sampai rumah setelah pulang dari Jeju dan mengantar Jisoo ke apartemennya. Ia hanya tiduran di mejanya, sedikit rileks karena Mingyu sedang ada rapat dengan tamu penting.
"Astaga!" Seokmin tersentak kaget dengan ringtone ponselnya sendiri.
Ringtone nyaring ditambah getaran dengan suara musik gitar listrik mengagetkan Seokmin dan beberapa karyawan lain yang berada di dekat Seokmin. (Intro Clap untuk ringtone)
Seokmin menatap tidak percaya dengan si penelepon, ia sempat mengucek matanya agar melihat dengan jelas sebelum menerimanya.
"HALO! MINGYU MANA! MANA MINGYU! INI ISTRINYA MAU MELAHIRKAN! BISA BERITAHU UNTUK MENGANGKAT TELEPONNYA!"
Seokmin hanya terdiam tiba-tiba diomeli seorang wanita dengan nama penelepon Wonwoo dilayar ponselnya.
Suara penelepon terdengar nyaring terasa seperti pakai speaker on pada ponselnya hingga ada yang melirik ke arah Seokmin. Seokmin masih bingung, ditambah suara tangisan yang menggema di seberang sana.
"HALO HALO TOLONG JAWAB! INI ISTRINYA MENANGIS TERUS KESAKITAN! KALIAN PARA PRIA TIDAK MERASAKAN SAKITNYA SEPERTI APA! KALAU ADA MAUNYA SAJA MINTA JATAH!"
"Yak! Bisa tidak kamu tidak curhat? Cepat tanyakan dimana Mingyu!"
"IYA IYA. HALO DIMANA MINGYU!"
"Aku akan segera beritahu Mingyu, katakan bagaimana keadaan Wonwoo." Seokmin langsung tersadar, rasa kantuknya menghilang begitu saja.
"Iya Wonwoo sedang menuju RS cepat beritahu Mingyu agar segera menyusul!"
Telepon terputus, Seokmin langsung berlari keluar ruangan menuju ruang rapat untuk memberitahu Mingyu.
Seokmin mendekati ruang rapat dimana Mingyu berada bersama tamu. Mingyu memang ada rapat penting dengan tamu dari Taiwan. Seokmin sejenak ragu untuk mengganggu karena saat ini ada proyek besar namun mengingat ia tiba-tiba diomelin tanpa sebab ia menjadi yakin untuk memberitahu Mingyu mengenai Wonwoo.
"Kamu kenapa?"
"Ah sayang, bikin aku kaget." Seokmin kaget dengan kedatangan Jisoo.
"Aku mau beritahu Mingyu kalau Wonwoo mau melahirkan tapi tidak enak karena mereka masih rapat."
"Beritahu saja, ini sangat penting. Biar aku yang handle." Jisoo tanpa ragu masuk ke dalam ruang rapat dan membisikkan pada Mingyu dan minta izin untuk menggantikan Mingyu. Mingyu langsung panik keluar ruangan dan memeriksa ponselnya banyak panggilan tak terjawab semua dari Wonwoo. Mingyu menyesal karena ponselnya dalam keadaan silent. Raut wajah Mingyu sangat shock.
"Astaga Wonwoo!" Mingyu mencoba menelepon istrinya namun tidak diangkat.
"Gyu, tadi ada yang bilang kamu disuruh menyusul ke RS." Ucap Seokmin sambil menemani Mingyu berjalan keluar kantor menuju tempat parkir.
"Siapa?"
"Entahlah ada suara wanita yang mengomel sambil berteriak bilang kalau kamu menyusul saja ke RS. Aku yakin ia bicara begitu karena aku mendengar ada yang menangis kencang selama wanita itu menelepon, jadi terdengar sangat berisik."
"Bi! Wonwoo pergi sama siapa?" Mingyu menelepon seseorang, wajahnya terlihat sangat panik dan frustasi. Seokmin memberi ruang selama Mingyu menelepon mencari kabar istrinya.
...
...
"Aku pamit dulu tolong urus selama aku pergi."
"Oke, tenang saja Gyu. Hati-hati menyetir dan tetap fokus." Seokmin memberi saran dan Mingyu mulai meninggalkan area kantornya.
Seokmin mengusap wajahnya, ia ikut panik dan merasakan apa yang dirasakan Mingyu. Seokmin mengenal Wonwoo sejak Mingyu membawa Wonwoo ke kantor saat keduanya belum menikah. Seokmin sangat mengenal Mingyu yang sangat mencintai istrinya itu.
"Hyung, ada apa? Kenapa kamu sangat panik?" Chan penasaran bertanya setelah Seokmin kembali ke ruangan.
"Ooh, tidak apa. Wonwoo mau melahirkan dan Mingyu sedang menuju RS."
"Wonwoo noona? Semoga semua berjalan lancar."
Seokmin mengangguk mengamini do'a Chan untuk Mingyu dan Wonwoo.
"Ah! Aku lupa!" Seokmin teringat dengan Jisoo yang menggantikan Mingyu rapat. Ia bersiap akan keluar ruangan lagi namun langkahnya terhenti karena ada sesorang yang baru datang.
"Kamu mau kemana?"
"Eh, rapatnya sudah selesai? Bagaimana?"
Jisoo mengangguk sambil tersenyum pada Seokmin. "Dalam minggu ini mereka akan tanda tangan kontrak, kamu siapkan berkasnya."
"Yes! Kamu memang wanita pintar! Tidak salah aku memilihmu." Seokmin mencubit pipi Jisoo dengan gemas.
"Traktir aku makan, aku lapar."
"All for you honey, mau makan apa? Ada restoran cina baru bagaimana kalau kita kesana?" Seokmin merangkul Jisoo keluar ruangan dengan riang.
"Deal! Aku ingin makan mie lagi."
"Jangan, kemarin kamu baru makan mie. Makan yang lain saja."
"Tapi aku mau mie apalagi buatan Guanlin." Jisoo masih merengek manja.
"Ajak saja adik kamu tinggal disini."
Chan hanya terdiam menyaksikan semuanya, begitu juga dengan karyawan lain. Ia baru melihat Seokmin memanjakan seorang wanita, dan mulai paham situasinya dimana Jisoo sering terlihat mencari keberadaan Seokmin beberapa waktu lalu.
Semuanya hanya terdiam dan membuka mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
oOo
"Hmm ini enak juga." Jisoo sangat menikmati minuman Thai Tea yang baru dibelinya.
Kedua temannya hanya menatap heran ke arah Jisoo. Jisoo yang baru kembali setelah makan siang membawakan beberapa minuman yang telah ia beli untuk teman-temannya.
Yebin dan Pinky bukan tertarik pada minuman yang Jisoo bawa melainkan benda mungil yang melingkar di salah satu jari manis Jisoo.
"Eonnie, ini cincin baru? Aku baru melihatnya." Tanya Yebin.
"Iya."
"Berlian asli?" Pinky tak kalah penasaran.
"Kamu meragukan apa yang aku pakai?"
"Hehe benar juga, kalau palsu pasti jarimu sudah iritasi." Pinky buru-buru meralat ucapannya.
"Ooh... hadiah ulang tahun." Ucap Yebin meyakinkan Pinky, Jisoo hanya tersenyum.
"Kalau hanya kado ulang tahun kenapa di pakainya disitu?" Pinky masih penasaran.
"Iya juga, sebenarnya aku juga ragu..." Yebin tak melanjutkan kalimatnya, ia menatap Pinky dan mereka beralih menatap Jisoo yang masih asyik menghabiskan minumannya.
Yebin dan Pinky tertawa bersama seolah paham dengan arti cincin yang Jisoo pakai. Jisoo ikut tertawa senang bersama kedua temannya.
Kedua temannya langsung ikut menyesap minuman yang telah dibeli oleh Jisoo.
"Kalian tidak mengucapkan selamat?"
"Eonnie, kenapa hanya mentraktir kita minuman begini?"
"Benar, ada berita bahagia seharusnya traktir kita makan steak."
"Steak tidak bagus, nanti kalian jadi gendut karena kalian masih single." Jisoo meledek kedua temannya dengan senang.
"Yak! Awas saja saat bridal shower kita kerjai habis-habisan." Ancam Yebin, Pinky hanya tertawa geli hampir tersedak.
"Tenang saja, nanti aku traktir kalian semua termasuk karyawan ruang sebelah."
"Wah asyik!" Yebin dan Pinky bersorak girang.
"Selamat ya Jisoo eonnie, semoga kalian bahagia sampai kakek nenek." Yebin langsung memeluk Jisoo.
"Eonnie, selamat. Aku siap membantu untuk pesta kamu nanti." Pinky ikut memeluk Jisoo.
"Benarkah? Terima kasih."
"Eh ada gosip, aku dengar istrinya Mingyu melahirkan. Itu benar?" Yebin memulai sesi gosip di ruangan Jisoo.
"Hmm iya, tapi belum ada kabar lagi." Jisoo mengiyakan.
"Aku jadi membayangkan kalau Jisoo eonnie punya anak dengan Seokmin. Seperti apa bayinya..." Yebin terkekeh geli seakan meledek Jisoo.
"Pasti bayinya sangat lucu."
"Aish aish pikiran kalian terlalu jauh." Jisoo langsung protes, kedua temannya hanya tertawa geli.
Jisoo merasa geli sendiri mengingat Seokmin akhir-akhir ini sangat agresif. Mempunyai bayi? Tentunya Jisoo merasa senang tapi yang harus ia pikirkan adalah mengadakan pesta pernikahannya dulu.
oOo
Jisoo pulang bersama Seokmin, mereka mampir ke supermarket. Rencananya malam ini Jisoo ingin memasak sendiri makan malam untuknya dan Seokmin karena ibunya sudah berangkat ke Jeju setelah di panas-panasi oleh Jisoo.
"Beli apa lagi?" Seokmin mendorong troli sementara Jisoo terus menempel mengapit lengan Seokmin.
"Sepertinya sudah cukup."
"Oke." Seokmin dan Jisoo langsung berjalan menuju kasir dan bergegas menuju apartemen Jisoo.
Sesampai di apartemen, Jisoo gerak cepat langsung menyiapkan makan malam. Ia memang jarang memasak namun ia ingin memperlihatkan kemampuan ia sebagai calon istri yang baik.
"Aku bantu."
"Tidak usah, kamu menonton tv saja. Hanya masak bulgogi, sebentar juga matang."
"Benar?"
"Iya, serahkan semua padaku." Jisoo hanya melirik dengan tangannya sibuk menyiapkan berbagai bahan yang baru dibelinya.
"Oke, aku tunggu ya. Pasti enak." Seokmin mencuri kecupan dari pipi Jisoo sebelum pergi meninggalkan Jisoo di dapur. Jisoo hanya tersenyum dengan pipinya yang merona.
Seokmin menunggu Jisoo menyelesaikan masakannya, ia menelepon Mingyu untuk memberikan informasi mengenai hasil rapat.
"Mingyu, mian mengganggu. Bagaimana bayimu? Apa sudah lahir?"
"Hmm iya sudah."
"Chukkae, akhirnya kamu jadi seorang ayah. Ini berita bagus! Anakmu lahir bersamaan dengan proyek kita! Jisoo noona mengatakan kalau proyek kita goal!"
"Hmm sampaikan rasa terima kasihku pada Jisoo noona."
"Kamu kenapa Gyu? Semuanya baik-baik saja kan?"
"Bayiku selamat, tapi Wonwoo… pingsan. Belum sadarkan diri."
"Oh, maaf Gyu. Aku doakan semoga Wonwoo cepat sadar dan kembali berkumpul bersamamu dan anak-anak kalian."
"Hmm… terima kasih Seokmin."
Seokmin hanya terdiam dan pandangannya kosong setelah telepon dengan Mingyu terputus. Seokmin ikut merasakan kesedihan yang Mingyu alami saat ini, ia melihat Jisoo yang masih sibuk seorang diri.
'Grep...'
"Ya Tuhan!" Jisoo terlonjak kaget karena Seokmin tiba-tiba memeluk dari belakang.
"Kamu mengagetkanku." Jisoo ingin mengomel namun Seokmin semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu kenapa?" Jisoo hanya mengusap tangan Seokmin yang melingkar sempurna di perutnya.
Jisoo melepas tangan Seokmin dan berbalik, Seokmin hanya menunduk lesu semakin membuat Jisoo merasa heran.
"Kenapa?"
Seokmin menangkup wajah Jisoo dan mencium keningnya, lalu memeluknya dengan sangat erat seolah tidak ingin berpisah.
Jisoo hanya terdiam dan tangannya terus mengusap lembut punggung sang pria. Seokmin melepas pelukannya dan tersenyum. "Aku bantu, ya."
Jisoo masih merasa bingung dengan sikap Seokmin, tapi ia menunggu Seokmin menceritakan semua dengan sendirinya. Seokmin ikut menyiapkan bahan, Jisoo mengambil daging yang sudah dibumbui dari lemari pendingin sebelum memasak.
"Aku barusan telepon Mingyu."
"Lalu?"
"Wonwoo masih pingsan setelah melahirkan." Ucap Seokmin lirih dan melirik Jisoo yang langsung terdiam.
"Kita do'akan saja yang terbaik, semoga Wonwoo cepat sadar dan mereka semua bisa berkumpul." Jisoo tersenyum untuk menenangkan, ia mengerti Seokmin sesaat merasa galau takut akan kehilangan orang yang dicintainya.
"Hmm iya." Seokmin mulai tersenyum. Mereka memasak makan malam bersama dan langsung menyantapnya.
...
...
"Apa sudah ada kabar lagi dari Mingyu?" Jisoo sudah berbaring di samping Seokmin. Malam ini Seokmin menginap karena Jisoo yang minta ditemani, dimana sang ibu sedang ke pulau Jeju.
"Masih belum sadarkan diri, tapi sudah dibawa ke kamar."
"Oh, kasihan Mingyu."
"Apa kamu takut?" Seokmin melirik ke arah Jisoo yang terlihat agak cemas namun Jisoo tetap berusaha tenang.
"Hmm entahlah, tapi kalau sudah jalannya harus begitu, perjuangan wanita yang melahirkan..."
"Aku akan selalu mendampingi kamu..."
"Ish gombal..." Jisoo hanya terkekeh geli, sesaat mereka berbicara serius namun berubah menjadi bercanda lagi.
"Good night sweet heart..." kedua mata Seokmin sudah sangat berat, tangannya sudah memeluk Jisoo dalam tidurnya.
"Night..." Jisoo ikut terlelap dalam dekapan Seokmin. Tidak ada kegiatan lainnya karena keduanya sudah terlalu lelah dan bersiap untuk kerja esok harinya.
oOo
"Lihat, mereka lucu sekali." Seokmin tersenyum gemas melihat deretan box bayi saat melewati ruang bayi.
"Sayang, aku jadi tidak sabar rasanya." Seokmin mengusap perut Jisoo dengan gemas.
"Iya nanti kita juga punya." Jawab Jisoo sedikit malas karena Seokmin betah berlama-lama melihat bayi sementara ia takut jam besuk berakhir jadi harus segera bertemu Mingyu yang baru memiliki bayi.
"Aku jadi semakin tidak sabar, pasti sangat lucu. Aku mau anak perempuan jadi aku punya ratu dan tuan putri nantinya."
"Hehe... masih lama. Ayo cepat, ini sudah malam." Jisoo berjalan meninggalkan Seokmin.
"Iya iya, tapi mereka sangat lucu." Seokmin merengkuh pundak Jisoo berjalan menyusuri lorong rumah sakit mencari kamar dimana Wonwoo di rawat setelah melahirkan. Mingyu memang sudah mengabari kalau Wonwoo sudah siuman jadi Seokmin dan Jisoo menjenguknya setelah pulang kerja.
"Hai Seok!" Sapa Mingyu riang tidak ada raut wajah yang khawatir lagi setelah melewati masa yang menegangkan.
"Selamat ya!"
Jisoo mendekati Wonwoo yang masih berbaring. "Selamat ya Wonwoo." Ucap Jisoo disertai senyuman.
"Terima kasih eonnie, mau lihat?" Wonwoo menunjuk box bayi yang dekat ranjangnya. Jisoo langsung berjalan mendekati bayi Mingyu dan Wonwoo.
"Whoa lucu sekali mereka, calon arsitek sudah lahir." Ucap Jisoo yang merasa gemas dan sedikit heboh.
Seokmin langsung menoleh saat Jisoo berteriak heboh. Beberapa saat yang lalu Jisoo terlihat biasa saja namun ekspresinya berubah saat melihat bayi milik Mingyu dan Wonwoo.
"Eonnie, cepatlah menikah dan punya anak agar sikembar ada teman." Ucap Wonwoo malah membuat Seokmin tersenyum malu karena ia belum lama menjalin hubungan dengan Jisoo.
"Begitu ya?" Ucap Jisoo sambil melirik Seokmin.
"Seokmin, jangan biarkan Jisoo eonnie menunggu terlalu lama."
"Hmm, lihat ini Gyu dan Wonwoo." Seokmin meraih tangan kiri Jisoo dan memamerkan cincin yang melingkar di jari manis Jisoo.
"Apaan sih." Tepis Jisoo malu-malu, wajahnya menunduk karena sudah bersemu merah.
"Whoah!" pekik Mingyu dan Wonwoo serempak kaget dengan yang dilihatnya. Wonwoo bahkan sampai bertepuk tangan merasa senang. Seokmin hanya cengar-cengir sambil menyolek Jisoo.
"Jadi kapan?" Mingyu melirik ke arah Seokmin dan Jisoo yang masih terlihat malu.
"Sedang dipersiapkan lokasinya, pokoknya surprise!" Seokmin menyombongkan diri.
"Whoah kira-kira dimana lokasinya? Apa kalian akan ke Long Angeles?" Wonwoo semakin penasaran.
"Tidak Wonwoo, terlalu jauh. Aku ingin acara yang sederhana saja namun tetap sakral dan berkesan. Rencana mau di pulau Jeju saja, aku ingin di outdoor dan itu di pinggir pantai."
"Benarkah? Romantis sekali, eonnie kalau aku tidak bisa hadir mohon maaf ya. Aku ucapkan selamat dari sekarang." Wonwoo terus menggenggam erat tangan Jisoo.
"Tidak apa Wonwoo-ya, yang terpenting adalah do'a." Jisoo mengangguk dan tersenyum.
...
...
"Kamu bagaimana sih? Kenapa tidak kompak? Aku kan bilang surprise tapi kamu malah membocorkan pada mereka."
"Ah aku sudah terlanjur senang, lagipula Mingyu bukan tipe yang suka bergosip. Aku akan telepon mama untuk bertanya lebih lanjut." Jisoo mengeluarkan ponselnya.
"Tunggu! Kita juga belum menentukan tanggalnya."
"Ah... aku lupa! Kenapa aku bisa sebodoh ini?"
"Haha, tapi aku cinta." Seokmin tertawa geli menatap Jisoo.
"Ish berisik!"
Seokmin hanya tertawa dan merangkul Jisoo dengan erat setelah selesai menjenguk bayi Mingyu dan Wonwoo.
"Ajak mama dan ayahmu, aku akan atur tempat untuk membahasnya dengan ibuku juga. Bagaimana?"
"Hmm baiklah, aku akan suruh mama agar kembali ke Seoul secepatnya. Kenapa ia tidak ada kabar sejak di Jeju?"
"Apa mereka akan rujuk?"
"Entahlah, mama terlihat kesal saat aku bilang kalau ayah banyak fans disana."
"Hahaha, kenapa kamu iseng sekali." Seokmin hanya tertawa geli, Jisoo ikut tertawa juga. Sikapnya mungkin sedikit kelewatan dimana memanas-manasi ibunya, yang ternyata ibunya masih ada rasa dengan mantan suaminya.
Seokmin menginap lagi, sang ibu memaklumi kalau anaknya tidak pulang lagi. Jisoo mulai terbiasa tidur seranjang dengan Seokmin.
"Lihat mata ini, hidungnya yang mancung, bibir yang cantik. Semuanya milik siapa?" Seokmin meledek Jisoo yang sudah memejamkan matanya.
"Aaahhh, aku mengantuk."
Seokmin hanya tertawa, sebelah tangannya sudah menjadi bantal kepala Jisoo, sebelah tangannya lagi ia pergunakan untuk mendekatkan wajah Jisoo dan ia mencium pipinya dengan gemas. Jisoo terkekeh merasa geli.
"Mommy, daddy mau main sebentar."
"Hngg aku mengantuk..."
"Ya..." Seokmin kecewa.
Seokmin melonggarkan pelukannya, Jisoo merasa sedikit aneh. Ia menoleh ke samping dan menatap Seokmin sedang menatap langit-langit kamarnya.
"Kenapa?" Jisoo takut Seokmin marah karena ia menolak permintaan Seokmin.
Seokmin menoleh dan tersenyum. "Aku sedang berpikir, kalau kita punya anak nanti, kita suruh panggil apa ya untuk kita? Apa aku pantas dipanggil daddy?"
"Haaaa?" Jisoo hanya melongo tak lama Seokmin tertawa geli melihat ekspresi Jisoo.
"Sudah tidur saja, ini sudah malam." Seokmin mengeratkan pelukan dan kepala mereka saling berhadapan.
...
...
"Sayang, baju aku mana?" Seokmin yang habis mandi mencari baju kerjanya.
"Ini disini." Teriak Jisoo dari luar kamar, Seokmin langsung menghampiri dengan masih bertelanjang dada dan hanya memakai handuk saja.
Jisoo yang hanya memakai bathrobe sedang menyetrika baju Seokmin, sebenarnya bajunya Seokmin tidak terlalu kusut hanya saja Jisoo sangat teliti, melihat lipatan baju karena tertumpuk terlalu lama membuat ia risih. Semuanya harus rapi dalam kamus seorang Jisoo.
Seokmin menatap Jisoo dengan tersenyum, ia merasa senang sangat diperhatikan oleh sang calon istrinya. Seokmin melingkarkan tangannya selagi Jisoo menyetrika.
"Kalian sedang apa?"
Seokmin dan Jisoo kompak menoleh dan kaget melihat ibunda Jisoo sudah berdiri menatap putri dan calon menantunya.
"Ma.. mama... kenapa tidak bilang mau pulang?" Jisoo tampak canggung dan segera menutup dada telanjang Seokmin dengan kemeja yang baru di setrikanya.
Seokmin sendiri tak kalah malu kepergok menginap ditambah ia juga belum berpakaian.
"Oh, ada ayah juga. Kalian datang bersama?" Jisoo gantian meledek sang ibu. Semula wajah ibunya terlihat serius menjadi tersipu malu.
"Ya sudah kalian istirahat saja, ayah anggap saja rumah sendiri ya." Jisoo buru-buru mengajak Seokmin kembali ke kamar untuk berpakaian meninggalkan ibunya yang tidak jadi mengomel dan sang ayah tampak biasa saja dan langsung melihat isi apartemen putrinya.
"Sepertinya mereka ada sesuatu."
"Biarkan saja, cepat kamu pakai baju." Jisoo membuka lemarinya dan berpikir memakai baju apa untuk kerja.
"Aku suka kemeja yang itu." Seokmin mengambil salah satu pakaian milik Jisoo, kemeja bergaris berwarna biru tua dengan lengan 7/8.
"Dan pakai rok warna biru juga."
Jisoo hanya terdiam karena Seokmin memilihkan pakaiannya, ia hanya tersenyum dan menuruti dengan pilihan Seokmin.
Keduanya langsung terdiam dan suasana berubah canggung.
"Kamu ganti di dalam saja, biar aku disini." Seokmin menyuruh Jisoo memakai pakaian di dalam kamar mandi.
"Bagaimana kalau aku pakai disini saja?" Jisoo mulai menggoda.
Seokmim menelan ludahnya kasar, ia takut tidak bisa menahan diri. Ia tahu dengan pasti kalau Jisoo juga belum memakai pakaian dalam.
Seokmin terkekeh geli dengan tantangan Jisoo. "Hmm, kalau kamu mau. Aku tidak masalah. Bagaimana?" Seokmin balas menantang Jisoo.
"Oke." Jisoo menyetujui, Seokmin membulatkan matanya. Ia tak mengira Jisoo dengan mudah menyetujui usulan konyol Seokmin.
Matanya mengekor gerak-gerik Jisoo yang sedang membuka laci tempat ia menyimpan pakaian dalamnya.
"Mana yang harus aku pakai? Warna biru atau hitam saja?" Jisoo meminta pendapat bra mana yang ia akan kenakan.
Seokmin hanya tertawa geli terus digoda oleh Jisoo. Ia mendekati Jisoo dan meraih bra koleksi Jisoo.
"Hmm aku suka hitam, terlihat seksi. Mau aku pakaikan?"
"Haha aku bisa pakai sendiri." Jisoo meletakkan bra satunya lagi dan segera masuk ke kamar mandi meninggalkan Seokmin yang merasa diberi harapan palsu. Seokmin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang calon istri.
'Sreeek'
Jisoo menggser pintu kamar mandinya lagi karena ada yang tertinggal.
"AAAAAAAKKKKKKKKKKK!"
"Jisoo! Kamu kenapa?!" Sang ibu berteriak setelah mendengar jeritan dari dalam kamar putrinya.
Seokmin membekap mulut Jisoo, sementara Jisoo masih merasa geli dan berusaha melepas tangan Seokmin.
"Tidak apa-apa ma." Ucap Jisoo masih terkekeh geli.
"Benar tidak apa-apa?"
"Iya tadi karena ada gaebul, eh cacing di kamar mandi." Jisoo buru-buru meralat ucapannya.
(Gaebul = ikan penis)
"Ooh cacing, mungkin keluar dari saluran airnya. Ya sudah, mama mau keluar dulu dengan ayah ya."
"Iya..."
Jisoo dan Seokmin langsung terdiam dan mendengar suara pintu.
"Mereka sudah pergi." Bisik Seokmin.
"Hmm, sepertinya sudah." Jisoo masih saja terkekeh geli. Ia sempat terkejut saat membuka pintu melihat Seokmin yang naked dan matanya pagi ini sudah ternoda dengan melihat sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya.
"Apa kamu bilang cacing?"
"Maaf-maaf, tidak mungkin kan aku bilang melihat penis kamu." Jisoo masih tidak bisa menahan tawanya.
"Dengar, cacing ini bisa memutar di dalam dan membuat kamu ketagihan nantinya."
"Oh, benarkah?" Wajah Jisoo tersipu malu, ia mau menunduk namun tidak jadi karena saat ini Seokmin masih belum memakai sehelai benang di tubuhnya.
"Mau coba?" Seokmin langsung membawa tubuh ringan Jisoo ke ranjang.
"Ya ya ya! Nanti kita terlambat!" Jisoo protes dengan memukul punggung Seokmin. Jisoo sudah duduk di ranjang dan masih memalingkan wajahnya karena masih merasa aneh dengan pandangan di depannya.
Seokmin berjongkok dan memaksa Jisoo melebarkan kedua kakinya.
"Kamu mau apa!"
Seokmin tak peduli Jisoo melontarkan protesnya, ia ikut tertawa melihat sesuatu yang baru ia lihat pertama kalinya juga secara nyata bukan dari video.
"Kita impas!"
"Apa sih!" Jisoo merasa malu.
"Aaaahhhh... hmmmm..." Jisoo menahan geli saat kewanitaannya diusap dengan lembut oleh Seokmin. Jisoo melihat Seokmin serius membelai bibir vaginanya. Gerakan jemari Seokmin sangat lembut sampai membuat Jisoo meremas seprei karena mulai merasa terangsang.
"Ssssshhh aaaahhh... my godness!" Jisoo mengerang merasakan kenikmatan yang baru di rasanya saat lidah Seokmin bermain menyapa vaginanya. Rasanya sangat menggelitik membuat Jisoo menggeram menahan suaranya dengan menggigit-gigit bibirnya.
"Hmmm mmmmm..." Jisoo serasa menuntut lebih namun Seokmin selesai bermain setelah ia merasa puas. Seokmin segera berpakaian yang sempat tertunda karena Jisoo sempat menjerit saat melihat dirinya dalam keadaan telanjang.
"Sebaiknya kamu lekas berpakaian juga. Nanti kita terlambat, kita mampir ke coffee shop saja untuk beli sarapan." Seokmin mengucap dan sedikit menunduk memberikan kecupan di bibir Jisoo saat ia akan mengambil celananya yang ada di belakang Jisoo duduk.
Jisoo masih terdiam dengan posisi yang sama saat Seokmin bermain dengan dirinya beberapa saat yang lalu.
Jisoo menutup kakinya dan segera berdiri menatap lurus pada calon suaminya. Sorotan mata Jisoo seolah meminta perhatian lebih dengan sikap Seokmin tadi.
Seokmin merengkuh tubuh kurus di depannya dan kedua bibir mereka kembali bertemu. Ciuman yang biasa mereka lakukan dengan lembut namun kali ini mereka melakukan dengan nafsu yang tidak bisa di bendung lagi.
Seokmin mengeratkan pelukan dan tangannya mengusap bathrobe yang masih dikenakan Jisoo, tangannya bergerak bebas menyentuh bokong Jisoo.
"Sudah siang sayang." Seokmin melepas ciumannya dan melihat Jisoo yang tersipu malu.
"Bantu aku berpakaian." Jisoo berubah manja.
"Oke." Seokmin tersenyum senang kalau sang calon istri mau manja dengannya. Tidak ada lagi yang disembunyikan keduanya, mereka sudah saling melihat tubuh pasangannya.
...
...
Seokmin telah siap berangkat dengan pakaiannya yang sudah rapi hasil setrika ulang Jisoo dan Jisoo sendiri sudah berpakaian yang Seokmin pilihkan untuknya hari ini.
"Sepertinya mereka benar rujuk." Seokmin terkekeh geli setelah siap untuk berangkat kerja. Keadaan apartemen sepi hanya ada mereka berdua.
Jisoo mengulas senyumnya merasa senang kalau kedua orang tuanya bisa kembali bersama. Setidaknya sang ibu ada teman menemani hari tuanya setelah Jisoo menikah nanti.
...
...
Seokmin membeli 2 gelas kopi di kafe dan bakpau sebagai teman minum kopi, sementara Jisoo menunggu di dalam mobil.
"Lihat bentuknya bulat, kenyal dan rasanya lembut." Seokmin meledek Jisoo dengan gayanya makan bakpau isi daging yang baru dibelinya untuk sarapan. Ia menepuk bakpau yang empuk itu dengan jarinya. Jisoo hanya tersenyum mengerti apa yang dilakukan oleh Seokmin.
"Ah ya ampun, coklatnya lumer." Jisoo tak kalah menggoda dengan menjilat jarinya yang terkena lelehan coklat dari bakpaunya. Gerakannya sedikit erotis di depan Seokmin dengan memainkan lidah dan tatapan mata yang menggoda.
"Aaahh aaah ya ampun..." Seokmin hanya bisa menganga membayangkan kalau penisnya dijilat oleh Jisoo seperti itu.
"Oke! Kamu menang." Seokmin buru-buru menginterupsi agar Jisoo berhenti menggodanya. Jisoo hanya tertawa dan langsung mencari tissu untuk membersihkan jarinya.
Pagi yang erotis, mereka tutup dengan sarapan bersama beli bakpau dan segelas kopi panas yang mengawali hari keduanya.
...
...
"Pagi..." sapa Seokmin riang masuk ke ruang kerjanya dengan membawa segelas kopi di tangannya.
"Pagi hyung... kau kelihatan beda hari ini." Ledek Chan setelah Seokmin duduk di mejanya dan meletakkan tas kerja beserta gelas kopinya.
"Seokmin-ssi, rambutnya bagus." Yuju tersenyum memuji model rambut Seokmin.
"Iya, terlihat rapi dan keren." Chan ikut memuji.
"Ya tentu saja pasti beda kalau sudah ada yang mengurus." Ucap Kim Jung Ah kepala administrasi di sela tugas paginya merapihkan catatan.
"Maksudnya mengurus? Ooh ibunya Seokmin hyung ya. Haha hyung kau kan sudah dewasa."
"Chan-ah aku bisa menebak dari penampilannya Seokmin karena seseorang yang mengurusnya dengan baik dan sesuai style wanita itu. Bukan begitu Seokmin-ah?" Wanita senior teman satu ruangan itu mencoba menjelaskan dan Seokmin tersenyum malu.
"Wanita? Oooh..." akhirnya Chan paham tanpa Seokmin menjelaskan.
Yuju hanya tersenyum miris merasa menyesal sempat memuji Seokmin. Ia jadi memikirkan kalau pagi ini Seokmin pasti berangkat dengan Jisoo dan pastinya Seokmin bersama dengan Jisoo semalaman.
Seokmin sendiri terlihat sedikit centil dengan bercermin melihat tatanan rambutnya.
Pagi ini Jisoo memang mengurus segala keperluannya. Pakaiannya yang di setrika rapi dan wangi serta rambutnya yang disisir memperlihatkan keningnya tak lupa semprotan spray agar rambut Seokmin tidak mudah rusak.
Karena Jisoo sendiri sangat menyukai penampilan Seokmim saat acara lamaran beberapa hari yang lalu.
.
.
.
TBC
Annyeong,
Ada yang mau sumbang panggilan kalau Seoksoo punya anak nantinya?
I'm back... buat reader lama pasti paham dari plot ff sebelumnya. Yups edisi dibuang sayang jadi aku masukkan lagi untuk chap ini, flashback sedikit karena memang masih ada benang merah dengan ff sebelumnya.
Seoksoo belum merit ya... tapi sudah mendekati hehehe... semoga bisa up lagi saat Seokmin ultah yaaa... sedang dikebut disela aktivitas. Buat yang nanya ff Meanie, huhu masih stuck idenya... tapi tetep kok mau lanjut ff Meanienya yang lama tidak di update.
Yosshhh.. ditunggu reviewnya ya ^^
Special thank's :
jeonram / Mockaa17 / novi07citra / dokiyomi / rizka0419 / Kim Joungwook / mes26 / Uri SeokSoo / Cha KristaFer / hyenieepie / thania thania
8 Feb 2018
