.

Secret Admirer

.

oOo

.

Seoksoo

.

oOo

.

Genderswitch

.

oOo

.

Happy Reading

Jisoo menatap sinis saat melihat Seokmin berjalan berdua dengan Yuju. Matanya terus mengekor melihat gerak-gerik Yuju yang sesekali tertawa karena Seokmin melontarkan candaan. Gadis itu terlihat senang terlihat dari raut wajahnya yang mudah Jisoo tebak dari kejauhan. Dan mereka menghilang setelah masuk ke ruangan. Jisoo langsung tidak mood, kembali ke ruangannya.

...

...

Jisoo terus memandang wajah sang pria yang terlihat lahap menyantap makanannya. Merasa diperhatikan, Seokmin memandang heran ke arah Jisoo karena sang calon istrinya terlihat sangat dingin.

"Kamu kenapa? Kenapa diam saja?"

"Tidak." Jisoo melanjutkan makan dengan perasaan tidak nafsu.

"Lihat mataku, kamu kenapa?" Seokmin menggenggam tangan Jisoo dan terus menatap wanitanya.

Jisoo hanya menarik nafas dan langsung membuang muka.

"Itu, kamu ada masalah. Kenapa?" Seokmin berpindah duduk ke sebelah Jisoo.

"Kenapa hmm?"

Jisoo masih terdiam, Seokmin mengusap kepala Jisoo namun Jisoo menepisnya. Jisoo merajuk, Seokmin semakin bingung. Ia tidak ahli menebak peyebab wanita yang marah karena apa. Yang ia tahu, Jisoo pernah seperti ini sebelumnya saat sedang merasa cemburu.

Seokmin seolah mengerti Jisoo-nya berubah dingin begini. "Ayo cerita, kenapa? Kamu marah lihat aku sama wanita lain? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita lain, hanya kamu seorang." Seokmin meminta maaf walau ia belum tahu alasan Jisoo marah.

"Habiskan makanannya, sebentar lagi jam istirahat berakhir." Jisoo melanjutkan makan tanpa menoleh ke arah Seokmin. Seokmin hanya terdiam entah harus membujuk Jisoo dengan apa lagi.

"Kamu benar marah?"

"Tidak!"

"Ayo cerita kenapa?"

"Aku bilang tidak!"

"Ya sudah cepat habiskan, aku juga harus kembali ke ruangan." Seokmin mengambil mangkuk nasinya lagi.

"Hah! Kembali saja sana! Disana sudah ada yang menunggu kan? Lebih muda dan lebih cantik!"

Seokmin hanya terdiam dengan terus menatap Jisoo yang meluapkan amarah sementara Jisoo menyuap nasi dengan kasar tanpa memedulikan Seokmin.

Tak lama ia menggaruk kepalanya melihat Jisoo yang badmood. Seokmin benar-benar bingung harus apa.

"Siapa sih? Yang lebih muda yang mana?" Gumam Seokmin masih dilanda kebingungan.


oOo


Esoknya Jisoo masih merajuk, moodnya benar-benar buruk setelah melihat Seokmin dengan Yuju. Setiap Seokmin mengirimnya chat hanya dibalas singkat.

"Seok, mana yang aku minta? Sudah selesai?"

"Sebentar lagi Gyu." Seokmin buru-buru beralih dari ponselnya untuk kembali ke pekerjaannya.

"Seok, jangan sampai salah hitung! Aku tidak mau kena komplain karena gagal struktur. Bisa-bisa lisensi kita dicabut kalau ada korban jiwa."

Seokmin tercekat kaget dengan ucapan pedas Mingyu. Pikirannya sedang stress karena Jisoo sedang marah ditambah Mingyu yang tidak biasanya tiba-tiba mengomel.

"Yak Gyu, sebisa mungkin aku kerjakan sesuai ilmu yang aku dapat. Selama ini kita belum dapat komplain kan? Paling hanya perbaikan kecil saja." Seokmin merasa tidak terima.

"Waktumu terbuang untuk mengadu Seok. Kita masih punya banyak kerjaan."

Seokmin menghela nafas dengan kasar masih merasa kesal. Mingyu memperlakukan dirinya seolah Seokmin tidak berguna. Ia memilih kembali menatap layar monitornya, beberapa karyawan lain hanya terdiam tidak banyak komentar. Di saat Mingyu dengan aura dingin seperti ini lebih baik diam saja dan menurut apa yang diperintahkan.

"Seok, hitungan kemarin ada revisi. Harga kita tidak masuk terlalu tinggi. Ditunggu segera."

Kepala Seokmin langsung mau pecah rasanya, pekerjaan 1 belum selesai namun sudah ditambah lagi. Tidak ada yang bisa menolong Seokmin.

"Seok, apa laporannya masih lama? Aku mau koreksi sekarang."

"Seok, kontrak yang kemarin ada revisi. Aku mau selesai hari ini juga dan segera antar ke ruangan Mr. Han."

"Seok, foto-foto progress apa sudah kamu susun? Jangan lupa di jilid seperti biasa."

"Seok..."

"Seok..."

Seokmin hanya mengepalkan tangannya, kepalanya sudah mendidih rasanya. Mingyu terus-terusan menyuruh ini-itu padanya.

...

...

Seokmin merasa lelah terutama pikirannya, makan pun ia tidak sempat karena pekerjaan yang menumpuk.

Ia menunduk sedih, di hari ulang tahunnya hanya ibunya yang ingat seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan Jisoo sang calon istri saja belum mengucapkan selamat dari semalam karena Jisoo masih merajuk.

Seharian ia disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk ditambah omelan dari Mingyu. Seokmin menatap jam di mejanya, masih tersisa 5 jam lagi menuju ke angka 12 dan hari lahir Seokmin telah lewat.

Tubuhnya sangat pegal karena terlalu banyak duduk, ia menatap sekeliling masih banyak yang lembur. Mingyu tidak mengizinkan karyawannya pulang kecuali Kim Jung Ah karena memiliki anak kecil. Mingyu sendiri juga belum pulang padahal ia baru memiliki bayi.

"Seok, semua file harus langsung di save. Yang lain juga. Aku tidak mau ada data yang hilang."

Semuanya mengarah ke arah Seokmin, seharian ini Mingyu benar-benar dalam mood yang buruk. Seokmin hanya mengangguk mengiyakan dan karyawan lain menurut.

"Seok, jangan lupa besok siang. Jangan terlambat."

Seokmin hanya menarik nafas merasa sangat lelah.

Sesaat Mingyu berucap, lampu ruangan mendadak mati dan semuanya gelap.

"Mati listrik?" Bisik yang lain dan ada yang langsung menyalakan senter dari ponselnya.

Ada secercah cahaya dari pintu utama dan nyanyian selamat ulang tahun dilantunkan.

Seokmin hanya terdiam karena melihat Jisoo datang membawa kue ulang tahun dengan beberapa lilin diatasnya, ia berjalan ke arah meja Seokmin.

Seokmin hanya tertawa merasa senang bercampur haru. Ia langsung bangun dari duduknya saat Jisoo telah sampai di depannya.

"Make a wish." Ucap Jisoo sambil tersenyum, Seokmin menahan tangisnya merasa tersentuh.

"Fuuuhhh"

"Horeeee..." teriak dan tepuk tangan bergemuruh setelah Seokmin meniup lilin.

Jisoo memberikan kue pada Pinky yang ikut memeriahkan pesta kejutan untuk Seokmin. Jisoo memang sengaja mengajak karyawannya jadi ruangan itu terasa penuh.

Seokmin tak bisa membendung lagi rasa rindunya, ia langsung memeluk erat Jisoo sambil terus mengucap terima kasih.

Lampu ruangan kembali menyala dan adegan berpelukan masih tersaji dengan jelas. Seokmin melupakan ia sedang berada dimana, banyak yang meledek terutama Yebin dan Pinky.

Jisoo hanya tertawa, Seokmin melepas pelukan dan tertawa malu karena ia sempat menangis merasa senang.

"Kamu menangis?" Jisoo tak bisa menahan tawanya, jemarinya ia gerakkan untuk menghapus air mata di sudut mata Seokmin.

"Selamat Seok." Mingyu mengucap selamat dan memeluk sahabatnya.

"Terima kasih Gyu."

"Noona, sesuai perintahmu. Aku kerjai habis-habisan dia. Maaf ya Seok. Apa aktingku bagus?"

"Mwo?! Jadi?!" Seokmin tidak mampu berkata-kata lagi, ia menyadari Mingyu sengaja menyuruh dan memarahinya di depan yang lain. Ia terduduk masih merasa shock.

"Memangnya kamu apakan dia Gyu? Aku kan hanya suruh berikan ia pekerjaan agar jangan buru-buru pulang." Jisoo mengusap punggung Seokmin, Seokmin hanya menggeleng sambil tertawa.

"Hanya aku sentuh sedikit hatinya biar ia merasa kesal. Kalau datar-datar saja tidak berkesan." Mingyu terkekeh geli.

"Seok, sekali lagi selamat. Kalian silahkan berpesta, maaf noona aku tidak bisa ikut. Istriku sudah ribut sejak sore hehe..."

"Terima kasih Gyu." Jisoo mengangguk mengerti.

"Oke, semuanya. Malam ini kita makan bersama, karena Ibu Hong akan mentraktir kita makan." Ucap Yebin.

"Benar, kita sudah booking restoran. Malam ini kita makan sepuasnya." Pinky menambahkan dan semuanya menyambut gembira.

"Wah asyik makan-makan!" Chan merasa senang langsung membereskan mejanya dan bersiap ikut teman-temannya.

"Kamu ikut?" Bisik Yerin pada Yuju.

"Tidak, aku mau pulang saja."

"Eh, kenapa mau langsung pulang? Jangan pulang dulu." Ucap Chan dengan suara keras membuat Yuju tertunduk malu karena Jisoo dan Seokmin sempat menoleh.

"Hyung, Yuju noona tidak mau ikut katanya."

Yuju menggeram menahan marah, kalau saja tidak ada Jisoo, kalau saja ia bukan anak trainee. Ia ingin mengamuk rasanya. Apalagi melihat Jisoo terus menempel pada Seokmin.

"Kenapa? Ikut saja, kapan lagi kita bisa berkumpul?" Ucap Pinky, ia sengaja ingin memanasi. Yebin hanya tersenyum geli.

"Aku dengar mau ada penguman nantinya..." Pinky tertawa meledek dan Yebin ikut tertawa.

Jisoo hanya menggeleng melihat sikap kedua temannya.

Seokmin terus menggenggam tangan Jisoo, berjalan bersama dengan yang lain menuju restoran yang sudah di booking.

"Aduuuh calon pengantin, mesra sekali." Yebin terus meledek.

"Tanganku kosong." Ucap Chan memberi kode.

"Lalu?" Yebin menaikkan sebelah alisnya.

"Iya kosong, kalau kalian mau."

"Baguslah kosong, ini kamu yang bawa." Pinky memberikan kue yang belum di potong pada Chan.

"Kenapa jadi kue? Padahal aku mau berpegangan dengan salah satu dari kalian."

...

...

"Bersulang!"

Semuanya bersorak girang dengan mengacungkan tangan memegang gelas soju secara bersama. Suasana semakin ramai di tambah dengan hidangan daging sapi untuk barbeque. Semuanya sangat menikmati, bagaimana tidak senang karena Jisoo mentraktir dengan daging kualitas terbaik.

"Attention please..." ucap Yebin menghentikan kegiatan semuanya.

"Ada pengumuman penting dari pasangan calon pengantin. Silahkan..." Yebin melirik ke arah Jisoo dan Seokmin.

Seokmin menyenggol lengan Jisoo, Jisoo hanya tersipu malu menghindar tatapan dari yang lain. Seokmin memberanikan diri langsung berdiri.

"Hmm terima kasih sudah bersedia hadir dalam jamuan ini. Hmm... seperti yang kalian tahu."

"Tidak! Kita tidak tahu hyung! Bagaimana kita tahu." Potong Chan cepat.

"Iya maaf. Jadi, rencananya aku dan ibu manager yang cantik ini akan melangsungkan pernikahan. Kami berdua mohon do'a restu dari kalian semua dan..." Seokmin melirik ke arah Jisoo meminta bantuan.

Jisoo hanya tersenyum geli masih merasa malu dengan wajahnya yang bersemu merah. Seokmin menyolek Jisoo agar membantunya berbicara karena kemampuan pidato Jisoo lebih baik daripada dirinya.

"Hmm... kami berdua mengundang kalian semua ke pesta kami. Dan pestanya sendiri akan diadakan di pulau Jeju."

"Wowww... Jeju?" Semuanya terkejut sekaligus bingung dan saling berpandangan.

"Hmm kalian tidak usah khawatir untuk akomodasi dan penginapan, semua ditanggung oleh kami. Dan, kalian bisa mendaftar pada Pinky dan Yebin. Mereka akan membantu kalian untuk tiket pesawat dan kamar hotel."

"Wow... gratis?"

"Iya, gratis dan kalian boleh membawa pasangan kalian juga." Ucap Jisoo dengan senyumnya yang ramah.

"Wah asyik..." semuanya bersorak girang.

"Hyung! Aku mau!" Chan langsung bersemangat.

"Aku juga!" Ucap yang lain. Seokmin dan Jisoo mengangguk senang melihat antusias teman-temannya yang akan datang ke pesta pernikahannya.

Yuju hanya terdiam, Yerin hanya mengusap lembut punggung sang sahabat.

...

...

Seokmin tidak berhenti tersenyum mengingat kejutan dari Jisoo yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia sempat mengira kalau Jisoo tidak mengetahui ulang tahunnya.

Namun pikiran buruk telah menguap setelah Jisoo datang memberikan kejutan yang terindah untuknya.

"Kenapa kamu selalu tersenyum?" Jisoo melirik ke arah Seokmin saat di dalam mobil menuju apartemennya setelah pesta makan malam.

"Hmm... aku sedang memikirkan kado apa yang akan kamu berikan untukku."

"Aku lupa. Maaf."

"Heeh? Lupa?" Seokmin membulatkan matanya dan melirik ke arah Jisoo yang duduk di sampingnya.

"Iya, maaf. Aku tidak bisa seromantis dirimu, aku tidak pintar menyiapkan kejutan seperti yang kamu lakukan saat ulang tahunku."

"He.. kenapa sedih begitu? Aku sudah pernah mengatakan cukup kamu jadi pendampingku, ibu dari anak kita dan menyayangi ibuku seperti ibu kandungmu adalah kado terindah dalam hidupku." Seokmin meraih tangan Jisoo dan mengecupnya dengan lembut. Jisoo tersenyum malu selalu digombali oleh Seokmin.

"Ah aku ada sesuatu, tapi aku tidak tahu kamu akan suka atau tidak."

"Apa itu? Aku akan menyukainya asal itu dari kamu." Seokmin mengedip centil ke arah Jisoo.

"Tapi jangan tertawa, mungkin tidak seindah suara kamu."

"Kamu mau bernyanyi? Apa? Aku mau mendengarnya."

Jisoo menunduk malu dan masih tersenyum.

"Aku akan menyanyikan reff-nya."

Never wanna wake up from this night

Never wanna leave this moment

Waiting for you only, only you

Never gonna forget every single thing you do

When loving you is my finest hour

Leaving you, the hardest day of my life

Alejandro Sanz - The Hardest Day (feat. The Corrs)

"Wow! Suara kamu bagus juga. Tapi itu artinya apa?" Seokmin melirik dengan polos ke arah Jisoo.

Jisoo langsung menepis genggaman Seokmin karena merasa kesal. Ia sudah menahan malu menyanyikan lagu yang menurut ia romantis liriknya namun Seokmin dengan polos bertanya artinya apa.

"Hahaha... bercanda, jangan cemberut begitu."

Jisoo merasa gemas, ia pikir Seokmin akan merasa terharu seperti ia di saat Seokmin menyanyikan lagu untuknya. Namun kenyataannya Seokmin malah terkekeh geli.

"Tadi aku dengar hard-hard... hard itu keras kan?"

Jisoo menepuk dahinya sendiri, Seokmin masih menelaah lirik yang Jisoo lantunkan.

"Iya hard keras, seperti milikmu yang selalu tegang!" ucap Jisoo kesal.

"Ah! Aku juga berpikir seperti itu!"

Jisoo memutar bola matanya dengan malas dan menggelengkan kepalanya. Usahanya untuk membuat suasana romantis tapi mulai berubah erotis lagi.

"Jadi kamu mau sesuatu yang keras?"

Jisoo menarik nafasnya lagi, bingung harus apa lagi.

"Kamu kenapa?"

Jisoo hanya terkekeh geli tanpa menjawab.

"Kamu serius mau sesuatu yang keras?" Seokmin masih penasaran.

"Ah benar, aku mau yang keras. Mungkin aku akan turuti permintaan yang kamu ajukan. Menjadi ibu dari anakmu." Jisoo menutup bibirnya kelepasan bicara.

Seokmin langsung menepikan mobilnya dengan cepat setelah mendengar ucapan dari bibir Jisoo sendiri.

"Kamu yakin?"

Jisoo hanya menunduk dan terdiam.

"Tentu saja, bukankah itu kewajibanku?" Jawab Jisoo ragu hanya melirik sekilas ke arah Seokmin. Jisoo hanya menunduk merasa salah ucap.

Seokmin hanya terdiam menatap lurus ke arah jalanan yang sepi dan gelap karena hari telah larut malam. Tak lama ia tancap gas lagi, Jisoo masih menunduk. Keduanya saling diam.

...

...

"Sudah sampai." Seokmin melepas seatbeltnya.

"Eh? Ini?" Jisoo bingung menatap sekeliling karena Seokmin tidak mengantarnya ke apartemen melainkan ke rumah Seokmin.

Seokmin hanya tersenyum tipis dan langsung keluar dari mobil. Jisoo langsung ikut keluar.

Seokmin langsung menarik tangan Jisoo untuk masuk ke dalam rumahnya, Jisoo berubah sedikit tegang.

"Ibu kamu mana?"

"Tidak ada, eomma sedang pulang kampung karena mengundang saudara untuk ke pesta kita."

Jisoo merasa was-was karena keadaan rumah sepi hanya mereka berdua. Tapi ia berusaha tenang, kalaupun terjadi sesuatu sepertinya sudah pasrah saja.

Seokmin membawa Jisoo ke kamarnya, Jisoo menatap sekeliling, sudah cukup lama terakhir ia datang saat baru pertama kali ke rumah calon suaminya itu. Seokmin sibuk mencari sesuatu di meja belajarnya.

"Ah! Ketemu!"

Jisoo hanya menatapnya dengan diam melihat Seokmin membuka album cd dan mulai menyetel musik. Tak lama Jisoo tersenyum malu setelah mendengar musik yang mengalun.

"Lagu ini bukan yang kamu nyanyikan tadi?" Seokmin merengkuh pinggang ramping Jisoo.

"Jadi kamu hanya berpura-pura tidak tahu?" Jisoo mengalungkan tangannya ke arah sang pria. Mereka mulai berdansa mengikuti alunan musik pop ballad tersebut.

"Ini adalah salah satu lagu favoritku. When loving you is my finest hour. Leaving you, the hardest day of my life."

"Ketika mencintaimu adalah waktu terbaikku, meninggalkanmu adalah hari yang tersulit dalam hidupku. Itu artinya kan?"

Jisoo tersenyum lebar setelah mendengarnya, Seokmin memajukan wajahnya dan mulai menyapa bibir mungil Jisoo.

"I'm yours this night." Ucap Jisoo setelah mereka melepas ciuman. Seokmin tersenyum dan melanjutkan ciumannya lagi.

Selagi bibir mereka bersatu, tangan Seokmin bergerak membuka kancing kemeja Jisoo dan meraba dengan lembut setiap lekuk tubuh Jisoo.

Tangan Jisoo juga tak kalah aktif ikut membuka kancing jas dan kemeja Seokmin. Kemeja milik Jisoo sudah terlepas menyisakan bra dan rok yang tersisa.

Seokmin langsung membawa tubuh Jisoo ke ranjangnya. Mereka masih saling menautkan bibirnya. Seokmin bergerak menyusuri tubuh wanitanya memberikan kecupan bertubi-tubi.

Lenguhan rendah terdengar dari mulut Jisoo yang mulai merasa terangsang saat daerah sensitifnya disentuh. Seokmin merasa gemas langsung membuka pengait bra milik Jisoo.

Jisoo hanya bisa meremas rambut sang pria yang sudah memberikannya awal dari kenikmatan dunia. Jisoo sudah terbuai oleh permainan dari Seokmin. Jisoo pasrah akan sikap Seokmin yang mendominasi dirinya.

Merasa tugas belum selesai, Jisoo langsung bangun dan membantu sang pria melepas celananya. Jisoo hanya menutup mata dan tersenyum geli karena ada sesuatu yang sudah mengeras dan mengacung tegak.

"Hard..." ledek Jisoo.

"Seperti yang kamu minta." Seokmin membalas membuka rok yang masih dikenakan Jisoo hingga sang wanita tidak memakai sehelai benangpun di depan matanya.

"Ohhhh... hnggg..." Jisoo bergeliat karena titik sensitifnya terus di sentuh. Jari panjang milik Seokmin terus memberikan pemanasan sebelum melakukan permainan inti keduanya. Kedua kaki Jisoo menempel pada pundak Seokmin, Seokmin yang tidak tahan terus memberikan kecupan di wajah Jisoo.

"Kamu siap sayang?"

Jisoo hanya mengangguk, walau dalam dirinya ia agak takut dan ragu.

"Sebut namaku saat kamu merasa takut." Bisik Seokmin karena melihat wajah Jisoo yang tegang.

"Oh god..." Jisoo tertawa, Seokmin mencium pipi Jisoo dan mulai perlahan memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina milik Jisoo.

Lenguhan panjang terlepas begitu saja saat Jisoo merasakan untuk pertama kalinya. Seokmin langsung buru-buru mengeluarkannya lagi.

"Are you okay?"

Jisoo hanya tertawa dan tak lama ia mengangguk. "First, it's hurt but i'm ok." Ucap Jisoo meyakinkan.

Percobaan pertama sangat menyakitkan untuk Jisoo, namun ia tidak mau membuat sang pria merasa kecewa. Seokmin memulainya lagi dengan perlahan.

Lenguhan mulai terdengar lagi dari keduanya. Keringat membasahi tubuh polos keduanya, tubuh Jisoo pun tak luput dari tanda kepemilikan dari Seokmin.

Walau merasakan sakit namun Jisoo merasakan nikmat yang luar biasa. Seokmin pun merasa bahagia, nafsu seksnya bisa tersalurkan.

"Sayang... ngghhhh... aahh... ahh... hmmm iyaa... hmmm..."

Seokmin terus memacu, mempercepat temponya, memuaskan sang wanita yang sangat menikmati setiap permainannya. Seokmin tidak peduli saat ini keadaan ranjangnya berantakan.

Di hadapannya Jisoo terlihat sangat seksi dan menggoda yang dapat meningkatkan libido dari seorang Seokmin.

"Aaarrrgghhh..." Seokmin mencapai klimaks dengan menyemburkan cairannya di dalam rahim Jisoo. Benih yang mulai ia tanam, berharap bisa berkembang cepat menjadi janin nantinya.

"Oh..." Jisoo sibuk mengatur nafas, rasanya seperti habis jogging puluhan kilometer. Ia merasa sangat lelah. Jisoo merasa Seokmin kuat dalam urusan seks.

Seokmin terus mengecup wajah Jisoo setelah permainan selesai. Seokmin tahu kalau Jisoo merasakan nyeri untuk pertama kalinya maka ia sudahi melepas keperawanan seorang Hong Jisoo. "Istirahatlah..." Seokmin menutup tubuh polos Jisoo dengan selimut dan membawanya dalam pelukan.

"Oh dear, i think i can't walking."

Seokmin hanya tertawa dan mencium puncak kepala Jisoo.

"Kenapa ia membuatku bahagia? Apa kamu tahu?" Jisoo menatap Seokmin meminta jawaban.

"Siapa?"

"This one." Ucap Jisoo sambil tersenyum geli, Seokmin tertawa senang karena Jisoo menyentuh penisnya dan mengusapnya dengan lembut.

"Kalau kamu pegang, nanti ia bangun lagi."

"Oh, tapi aku sudah sangat lelah." Jisoo mengeratkan pelukan dan mulai memejamkan mata.

"Tidurlah, besok aku antar pulang." Seokmin pun ikut lelah, ia tak mengira akan melakukan seks pertama kalinya. Dan Jisoo sangat membuatnya bergairah malam ini.


oOo


Sinar mentari pagi mengusik tidur Jisoo, ia menggeliat dan mulai secara perlahan membuka matanya. Jisoo mencoba mengenali sekitar, ia bangun dalam keadaan tidak berpakaian, ada tangan yang melingkar pada tubuhnya dan merasakan nyeri di bagian kewanitaannya.

"Oh wow, berantakan sekali." Jisoo berusaha bangun, ia mencari sesuatu untuk menutup tubuh polosnya. Hanya kemeja milik Seokmin yang terdekat, ia langsung memakainya dan bergerak secara perlahan.

"Oh shit!" Jisoo panik melihat darah kering membekas di seprei milik Seokmin.

"Well, aku sudah tidak virgin lagi. Dan ini karena dia." Jisoo memukul Seokmin dengan gemas.

"Hhh...!" Seokmin tersentak kaget langsung membuka mata. Jisoo hanya tertawa geli melihatnya.

"Kenapa?"

"Ini, kamu harus lihat." Jisoo menunjuk noda darah dekat pahanya. Seokmin langsung bangun dan melihat, sebenarnya ia masih sangat mengantuk.

"Ini? Kamu mens? Tembus?" Seokmin menatap polos pada Jisoo.

"Yak! Paboo paboo! Ini bagaimana? Kalau ibu kamu tahu bagaimana?" Jisoo meremas rambut Seokmin dengan gemas.

"Sayang, sakit... sudaaahh..." Seokmin cemberut namun tetap mengecup bibir Jisoo.

"Mana aku lihat lagi." Seokmin kembali melihat noda darah namun ia malah salah fokus ke arah selangkangan Jisoo.

"Yang ini masih sakit?" Seokmin menyibak sedikit kemeja yang Jisoo pakai.

"Yak! Lee Seokmin!"

Keduanya tertawa geli.

"Nanti aku yang urus, sekarang kita mandi saja. Mau aku gendong?"

Jisoo masih tersenyum dan langsung mengulurkan tangannya, Seokmin langsung mengangkat tubuh Jisoo berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.

Hanya mandi bersama keduanya, walau Seokmin masih ingin tapi ia tahan karena ia tahu kalau Jisoo masih merasakan sakit.

...

...

"Apa yang harus aku pakai? Tidak mungkin aku pakai pakaian dalam yang kemarin." Jisoo memungut pakaiannya secara perlahan setelah selesai mandi.

"Ini, kamu bisa pakai. Semoga kamu suka." Seokmin menyodorkan pakaian dalam 1 set dengan warna yang sama dan dress berlengan pendek, bercorak bunga.

"Ini punya siapa?"

"Punya kamu, aku sengaja menyuruh eomma untuk membelinya sebagai persiapan kalau kamu menginap disini. Tenang saja, sudah dicuci dan di setrika oleh eomma."

Jisoo tersenyum senang dan mengintip isi lemari Seokmin ada beberapa pakaian wanita.

"Pilih yang kamu suka untuk dipakai. Semuanya milik kamu."

"Terima kasih." Ucap Jisoo senang dan tangannya sibuk melihat pakaian yang lain. Seokmin langsung berpakaian dan merapihkan ranjangnya. Seprei yang ada noda buru-buru ia cuci sampai bersih. Kalau ketahuan ibunya bisa habis Seokmin diledek oleh sang ibu.

Jisoo membantu menyiapkan sarapan, walau ia masih merasakan sakit namun ia berusaha untuk bergerak kesana kemari.

"Jam berapa kamu bertemu klien?"

"Nanti siangan, kamu mau ikut?"

"Aku mau istirahat, aku belum terbiasa." Ucap Jisoo sambil tertawa, Seokmin ikut tertawa memaklumi.

"Ya, istirahat saja. Sebenarnya aku juga malas, karena ini hari libur tapi aku harus tetap bekerja."

"Semangat! Oh iya, sore nanti aku mau fitting. Kamu sudah selesai kan nanti?"

"Aku akan menyusul, kita bertemu disana."

"Oke." Jisoo menghabiskan roti panggangnya.

Sesuai janji, Seokmin mengantar Jisoo pulang ke apartemennya. Jisoo hanya tersenyum malu pada orang tuanya dan langsung buru-buru masuk ke kamar. Ia langsung merebahkan diri.

"Oh astaga, kenapa masih sakit sekali rasanya." Jisoo mengusap miss V-nya terus untuk meredakan rasa sakit.

"Jisoo..." sang ibunda mengetuk dan membuka pintu kamar.

"Kenapa ma?" Jisoo buru-buru bersikap biasa.

"Bisa keluar sebentar? Ada yang mau disampaikan oleh ayah."

"Oh, iya." Jisoo bangun secara perlahan dan berjalan normal seperti biasa.

Ayah dan ibunya duduk bersama dan Jisoo duduk di depannya.

"Jisoo, ayah dan mama memutuskan untuk..."

"Untuk..." Jisoo menunggu kalimat lanjutan dari sang ayah.

"Untuk kembali bersama."

"Benarkah? Aaahhh selamaaat..." Jisoo memekik senang ingin menghambur memeluk kedua orang tuanya namun ia urungkan karena ia menahan rasa sakit.

"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Sang ayah menatap curiga pada Jisoo.

"Ah, tidak semalam setelah pesta aku agak sedikit terkilir kakinya karena terlalu lama pakai high heels."

"Mana yang sakit? Sini ayah pijat."

"Aaah tidak apa-apa, semalam sudah dipijat nanti juga sembuh." Jisoo terpaksa berbohong, tidak mungkin ia cerita habis melakukan seks dengan calon suaminya.

"Jadi? Kapan pernikahan kalian?" Ucap Jisoo antusias.

"Sayang, kami hanya mengubah di catatan sipil saja. Kalau untuk pesta, itu hanya untuk kamu saja. Kami sudah tua, nanti kita makan malam bersama saja dengan suami kamu." Ucap sang ibunda.

"Eh? Suami?"

"Iya, Seokmin itu suami kamu bukan calon lagi walau belum resmi. Apalagi kalian sepertinya sudah sering bersama kalau malam hari saat mama tidak ada."

"Hahaha mama!" Jisoo langsung malu, wajanya langsung bersemu merah. Sang ayah pun ikut tertawa.


oOo


"Seokmin-sshi..."

"Eoh? Kamu masuk kerja?" Seokmin menatap bingung karena Yuju ke kantor di hari libur.

"Iya hanya bosan di rumah. Sudah selesai rapatnya?"

"Sudah, ini baru selesai." Seokmin merapihkan berkasnya dan bersiap keluar karena ia ada janji dengan Jisoo di butik untuk fitting.

"Kamu serius?"

"Kenapa? Kamu berbicara denganku?"

"Ya tentu saja! Siapa lagi kalau bukan kamu yang ada disini!" Yuju berubah marah.

Seokmin cukup kaget dengan sikap Yuju yang tidak biasa.

"Kamu kenapa?"

"Kenapa masih tanya aku kenapa? Aku... aku menyukai kamu... aku sakit saat tahu kamu akan menikah!" Yuju menangis histeris, Seokmin bingung dibuatnya.

"Bukankah kita seumuran? Kenapa kamu lebih memilih dia yang lebih tua? Apa kamu tahu? Banyak yang bergosip, menyayangkan kalau kamu dengan dia."

"Aku lebih pantas dengan kamu bukan wanita itu!" Yuju berubah semakin histeris meluapkan kekesalannya.

"Maksud kamu apa? Tidak ada yang berhak mengatur aku harus dengan siapa. Aku memang belum lama menjalin hubungan dengannya tapi aku sudah mengaguminya sejak lama. Aku menyukainya, aku mencintainya, aku mau menikah dengannya. Itu urusanku. Tidak ada yang berhak melarangku. Termasuk kamu."

Yuju melebarkan matanya, ia sangat terkejut. Seokmin berubah sangat serius tidak seperti biasanya.

"Dengar, aku hanya menganggap kamu sebagai teman tidak lebih. Terima kasih sudah mengungkapkan kalau kamu menyukaiku tapi mohon maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sudah menentukan dengan siapa akan berumah tangga, aku sudah memilih seseorang yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Orang tua kami sudah saling mengenal dan mendukung penuh. Maaf Yuju, kamu pasti bisa mendapat pria yang lebih baik daripada aku. Aku harus pergi, aku tidak mau istriku menunggu lama kehadiran aku."

Seokmin langsung keluar ruangan meninggalkan Yuju seorang diri.

"Lee Seokmin!" Yuju melempar lem stick ukuran jumbo ke arah Seokmin. Seokmin masih cukup bersabar karena Yuju memperlihatkan sikapnya yang kasar.

"Dengar, jaga sikap kamu. Ruangan ini banyak cctv, jangan mempermalukan diri kamu sendiri. Ingat, paman kamu salah satu direksi di perusahaan ini." Seokmin menahan amarah langsung kembali berjalan menuju pintu meninggalkan Yuju yang menangis sendirian.


oOo


"Cantiknyaaaaaa." Seokmin tak berhenti memuji saat melihat Jisoo mencoba gaun pengantin. Rasa kesal saat di kantor tadi telah hilang setelah bertemu Jisoo.

"Bagus gaunnya, coba latihan berjalan Jisoo. Kalau tidak nyaman mungkin ganti model lain."

"Sini." Seokmin menyodorkan sikunya dan Jisoo meraihnya sambil tersenyum. Menuruti permintaan sang ibunda mencoba berjalan walau dengan rasa nyeri yang masih dirasakannya.

"Sudah cukup." Ucap Seokmin karena ia melihat raut wajah Jisoo yang tegang. Jisoo hanya tertawa, begitu juga dengan Seokmin.

"Kenapa cuma sebentar? Kalian berjalan bolak-balik. Kan latihan." Ucap sang ayah.

Jisoo hanya menarik nafas mencoba bersabar, Seokmin merasa tidak tega. "Maaf." Bisik Seokmin pada Jisoo dan Jisoo hanya membalas dengan anggukan. Jisoo dan Seokmin menurut permintaan sang ayah.

"Iya begitu jalannya, hati-hati jangan menginjak gaunnya." Sang ayah terus berkomentar.

Setelah Jisoo mencoba gaun, bergantian dengan Seokmin mencoba tuxedonya.

"Mirip ayah saat muda dulu." Ucap sang ibunda pada suaminya. Jisoo dan Seokmin hanya menatap dan tersenyum malu melihat adegan lovey dovey orang tua Jisoo.

Acara fitting, ditutup dengan makan malam bersama. Semuanya nampak bahagia.


oOo


Persiapan pernikahan mendekati 100%, lokasi, catering, undangan sudah diatur semua oleh ayahnya Jisoo. Penginapan dan tiket pesawat untuk semua tamu undangan juga sudah selesai berkat kerja sama tim Yebin dan Pinky.

"Let's go the party!" Pinky meliukan tubuh langsingnya saat bersiap setelah jam kerjanya selesai. Malam ini akan ada pesta melepas masa lajang Jisoo sebelum menikah.

Ia sudah membooking 1 ruangan karaoke beserta makanan dan minuman.

"Sudah siap?" Ucap Jisoo.

"Sudah! Let's go girl!" Teriak Yebin semangat. Jisoo hanya menggelengkan kepala melihat teman-temannya sangat bersemangat.

Pesta kecil dihadiri beberapa karyawan wanita semua, sekedar mengakrabkan diri termasuk ada Yerin. Yuju telah lama tidak masuk kerja lagi setelah penolakan dari Seokmin.

Semuanya bersorak riang menghabiskan malam, melepas penat setelah seharian bekerja. Yebin sengaja memesan minuman beralkohol untuk Jisoo. Ia memang sengaja ingin mengerjai Jisoo.

Jisoo hanya minum sedikit karena ia tidak mau pulang dalam keadaan mabuk. Semuanya sibuk menari, bernyanyi sesuka hati.

Yerin berjalan keluar ruangan menuju toilet, dan tak lama kembali ke ruangan. Jisoo yang merasa haus langsung meminum minumannya.

Kepala Jisoo mulai berputar dan sangat pusing.

"Aaaahhh..." Jisoo terduduk lemas berusaha untuk tenang.

"Eonnie, kamu kenapa?" Tanya Pinky merasa aneh dengan sikap Jisoo.

"Panas... panas..." Jisoo meracau tidak jelas dan mulai mengipas dirinya sendiri.

"Eonnie, eonnie, kenapa?! Yebin-ah!"

"Eonnie, kenapa?!" Semuanya berubah panik melihat keadaan Jisoo.

"Panas... nggghhh..."

Yebin mencium gelas bekas Jisoo, ia sempat melihat Jisoo minum sebelum berubah aneh.

"Bau apa ini? Kenapa baunya begini? Eonnie! Pinky-ya, cepat telepon Seokmin."

"Baiklah." Pinky langsung mendial nomor Seokmin agar segera datang.

Sementara Jisoo berubah semakin aneh, tubuhnya seperti terbakar dan mulai merah. Seseorang memanggil staff karaoke untuk meminta pertolongan.

Sang manajer bergegas datang dan langsung mengisolasi ruangan. Semua minuman juga di amankan, Jisoo seperti keracunan.

"Astaga, apa yang terjadi?" Manajer yang seorang wanita melihat tubuh Jisoo yang terus dipegang oleh Yebin agar tidak berontak. Ia menyelidiki minuman yang di sajikan untuk tamunya.

Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sejak tadi terdiam. Sang manajer menyuruh pegawainya dengan berbisik tak lama pegawai itu datang membawa tempat sampah.

Dalam tempat sampah ditemukan bekas bungkusan sebuah obat.

"Segera panggil detektif kemari, jangan sampai mencolok tamu lain. Disini ada percobaan pembunuhan."

Semua yang ada di ruangan langsung kaget, termasuk seseorang yang terus ditatap sang manajer.

Seokmin datang dengan panik dan mendapati Jisoo yang terus meronta.

"Ada apa? Kenapa dia?"

Yebin dan Pinky kompak menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa, ini hanya obat perangsang. Seseorang dengan sengaja mencampur dengan minumannya. Tak lama lagi detektif akan datang dan memeriksa semuanya."

Semuanya menatap bingung dengan yang telah terjadi. Seokmin merasa sedih hanya memeluk Jisoo agar tenang. Jisoo masih terus meracau bahkan ia selalu ingin melepas pakaiannya sendiri.

Detektif telah datang, dan langsung diketahui pelakunya yang tak lain adalah Yerin. Ia dengan sengaja mencampur obat dalam minuman Jisoo saat semuanya sibuk bernyanyi dan ia membuang barang bukti di toilet namun naas sang manajer melihatnya saat berada di toilet juga.

"Kenapa kamu melakukannya? Apa salah dia padamu?" Seokmin tak percaya teman seruangannya melakukan kejahatan.

"Aku.. aku minta maaf. Aku hanya merasa kasihan saat Yuju tak berhenti menangis karena di tolak." Ucap Yerin sambil menangis dengan terisak.

"Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan membawa kasus ini pada HRD. Kamu telah salah berurusan dengan Jisoo eonnie. Kami memang tidak bisa memecat kamu secara langsung tapi kami bisa memblack list kamu." Ancam Yebin dengan suara bergetar. Pinky bahkan ikut menangis melihat Jisoo yang terus dipeluk oleh Seokmin.

Yerin hanya menangis sedih menyesali perbuatannya, ia sementara waktu ditahan sampai ada yang menjamin untuk membebaskannya.

Seokmin menatap sedih pada wajah Jisoo. Ia merasa bersalah tidak dapat melindungi wanitanya. Jisoo harus menanggung dari orang yang tidak menyukai hubungannya dengan Seokmin.

Seokmin membawa Jisoo ke rumahnya, tidak mungkin ia mengantarkan pulang ke apartemen karena kondisi Jisoo seperti sekarang. Bisa habis Seokmin di cecar pertanyaan oleh sang ayah.

Jisoo terus meronta merasakan panas dan mulai membuka pakaiannya sendiri seperti kerasukan. Seokmin menatapnya dengan sedih. Ia terus memeluk Jisoo agar berhenti dan berharap Jisoo segera sadar.


oOo


"Pagi..." Seokmin menyapa Jisoo di pagi hari. Jisoo menatap bingung karena ia berada di kamar Seokmin.

"Kenapa aku disini?" Jisoo langsung terbangun, Seokmin tersenyum lembut padanya.

"Syukurlah, kamu sehat." Seokmin memeluk Jisoo dengan sayang. Jisoo pagi ini bangun dalam keadaan normal setelah semalaman terus meronta. Seokmin semalaman memeluk Jisoo, ia sampai tidak tidur. Jisoo semalam berubah sangat menggairahkan namun Seokmin tidak ada niat melakukan seks dimana Jisoo masih terpengaruh obat.

"Eoh? Apa semalam aku mabuk? Hmm kamu datang menjemput?"

Seokmin hanya tersenyum tidak tega menceritakan apa yang telah terjadi. "Minumlah, habiskan." Seokmin memberikan segelas susu agar menetralisir obat yang sempat masuk dalam tubuh Jisoo.

Jisoo menurut walau masih dalam keadaan bingung.

"Hari ini apa kamu mau ikut?"

"Kemana?"

"Aku mau merapihkan kantor baru. Kamu belum melihatnya kan? Aku punya ruangan sendiri nanti. Meja kerjaku juga lebih besar."

"Benarkah? Aku mau ikut! Siapa saja yang akan pindah? Bos bilang tim inti, jadi menurut hitungan aku hanya 4? Mingyu, kamu, Chan dan Jung Ah eonnie?"

Seokmin tertawa dan mengangguk. "Iya betul, dan ada tim dari divisi lain yang ikut pindah juga."

"Hmm begitu, selamat ya sayang. Aku bangga padamu." Jisoo memeluk Seokmin dengan sayang, Seokmin bernafas lega karena Jisoo benar kembali normal.

"Terima kasih Tuhan..." Seokmin bergumam mengucap syukur.

.

.

.

TBC

Annyeong,

Happy B'Day Lee Seokmin... Saengil Chukkae...

Sesuai janji, update saat Seokmin ultah. Mengikuti permintaan reader yang sepertinya tidak sabar untuk malam pertama Seoksoo hehehe... Maapkeun disini Seokminnnya nakal-nakal begitu tapi dia nakalnya cuma sama Jisoo kok.

Makasih banget untuk respon chap lalu, bahkan sampai ada yang review lebih dari sekali. Rasanya ingin traktir K*ng Mango hehehe... Sempet stress juga karena ffn sempat eror ga bisa baca review namun saat kembali normal, seneng banget. Loph You Readernim *kiss kiss

Chap lalu ada yang usul panggilan untuk Seoksoo kalau punya anak : Ayah + Bunda, Mommy + Daddy dan Mami + Papi. Mungkin bisa di voting lagi? Hehehe...

Lalu ada juga yang usul nama untuk anaknya Seoksoo : Lee Seoji dan Lee Min Jae, huaaa gomawooo ^^ bisa untuk pertimbangan juga.

Yosh.. ditunggu selalu reppiu kalian *kiss kiss

Special Thank's

Kim Dyora / mes26 / wpvflk / shfly9 - Kim / rizka0419 / diwuls / jeonram / Shierashie94 / Uri SeokSoo / Guest / Kim Joungwook / novi07citra / wortelnyasebong / Mockaa17 / wonwoo7teen / thania thania / ys-dreamers2484 / Cha KristaFer / hyenieepie / Guixiancho3424 / Ocha-kacha

18 Feb 2018

HBD Lee Seokmin dan Chwe Vernon