.
Secret Admirer
.
oOo
.
Seoksoo
.
oOo
.
Genderswitch
.
oOo
.
Warning : Untuk yang sedang ujian, bacanya nanti saja kalau sudah selesai ujian.
Happy Reading
Jisoo telah mulai mengambil cuti untuk persiapan pernikahan sementara Seokmin masih terlihat sibuk mengurus kepindahan ke kantor baru.
Seperti pagi ini Seokmin menyempatkan datang ke apartemen Jisoo sekedar menyapanya. Seokmin yang telah terbiasa keluar masuk apartemen sang calon istri langsung ke kamar Jisoo karena ia tidak menemukan seorang pun.
"Sayang, kamu di dalam?" Seokmin mengetuk pintu kamar karena ia tidak bisa masuk dengan kondisi pintu yang terkunci dari dalam, dan tak lama Jisoo membuka pintu.
"Hmm ada apa?"
"Baru selesai mandi?" Ucap Seokmin menebak karena Jisoo memakai bathrobe dan terlihat baru keramas dengan tetesan air dari rambutnya yang masih basah. Seokmin langsung menangkup wajah mungil Jisoo dan mengecup keningnya.
"Iya."
"Ini, ada yang harus kamu tanda tangani." Seokmin memberikan berkas pernikahan, rencananya pagi ini Seokmin akan mengurus semuanya untuk mendaftarkan pernikahan mereka.
"Oh, sebentar." Jisoo meletakkan sesuatu dan pergi mencari ballpoint. Seokmin mengambil benda tersebut dengan perasaan bingung.
"Kamu mau mencukur sesuatu?"
"Yak!" Jisoo segera merebut alat cukur berwarna pink tersebut dari tangan Seokmin. Pipi Jisoo langsung bersemu merah, Seokmin langsung mencubit gemas.
"Apa yang mau dicukur? Ketiak?" Seokmin masih terkekeh geli.
"Bukan apa-apa." Jawab Jisoo masih malu.
"Apa ya? Aneh seorang wanita menyimpan alat cukur."
"Sssttt jangan berisik." Jisoo segera menandatangani berkas.
"Mau aku bantu?"
Wajah Jisoo langsung bertambah merah, Seokmin semakin yakin ada sesuatu yang Jisoo sembunyikan dan ia sangat malu untuk mengungkapkan.
"Bukan apa-apa, ini sudah."
"Tapi, rambut yang disana masih terlihat rapi."
"Aaaaahhhh... Lee Seokmin!" Jisoo menutup wajahnya merasa sangat malu. Seokmin hanya tertawa dan langsung memeluk wanitanya.
"Kenapa harus malu? Aku sudah melihatnya. Bagian mana yang mau kamu rapihkan? Mau aku bantu?" Seokmin masih berusaha.
Jisoo mencubit dengan gemas. "Nanti kamu terlambat."
"Tidak, ini masih sangat pagi. Orang tua kamu dimana?"
"Mereka pergi jogging, mereka sekarang sibuk terus berdua."
"Oh... begitu. Jadi? Mau aku bantu?"
"Ini." Jisoo mengalah langsung memberikan alat cukur tersebut pada Seokmin. Seokmin tersenyum geli merasa menang bisa membujuk Jisoo.
"Kunci pintunya." Perintah Jisoo dan ia langsung ambil posisi bersandar pada ranjangnya. Seokmin menurut langsung mengunci kamar. Sangat privasi.
Seokmin telah naik ke atas ranjang dan duduk berhadapan dengan Jisoo. Jisoo memberikan sehelai tissu.
"Eih, bagaimana aku melihatnya." Ucap Seokmin dan Jisoo langsung menekuk kaki dan melebarkannya.
"Yang mana sayang?" Jari Seokmin membelai lembut vagina Jisoo.
"Ini yang disini agak mengganggu." Jisoo memberi petunjuk dan pipinya masih bersemu merah.
"Ooh..." jari Seokmin masih mengusap lembut dan memulai mencukur rambut halus di sekitar vagina sang calon istrinya. Jisoo merasa sangat nyaman karena Seokmin tidak pernah berbuat kasar. Malah terkadang Jisoo sering merindukan belaian lembut dari jemari Seokmin.
Sesekali Seokmin melirik Jisoo, Jisoo hanya membuang pandangan dengan wajahnya yang terus merona hebat.
"Yang ini dibiarkan saja kan? Jangan sampai habis." Seokmin mengusap lembut rambut yang masih tersisa.
"Iya, memang kenapa kalau aku habiskan?"
"Eih, kalau habis rasanya aku seperti bercinta dengan anak kecil."
Jisoo tertawa geli dan mencuri pandang ke arah Seokmin yang serius mencukur.
"Sudah."
"Ooh? Sudah?" Ada rasa tidak rela dari Jisoo, ia sangat menyukai saat jemari Seokmin membelai kewanitaannya.
"Iya, ini tidak perlu kan?"
"Hnggg iya tidak usah." Ucap Jisoo dan masih enggan menutup kedua kakinya.
"Kamu tidak tegang?"
"Jangan ditanya, sudah dari tadi."
Jisoo tertawa geli dan Seokmin langsung bangun dari ranjang karena merasa tidak nyaman saat kejantanannya terasa menyesak ingin dibebaskan.
"Mau aku cukur?" Jisoo tersenyum menggoda dengan tangannya memegang alat cukur.
"Maunya dimasukkan saja ke situ."
Jisoo menutup wajahnya merasa sangat panas dan masih tertawa.
"Quick sex?" Tawar Jisoo.
"Oke." Seokmin merasa senang karena Jisoo sangat mengerti dirinya. Walau akan dilakukan secara cepat, asal bisa mencelupkan miliknya ke dalam lubang hangat Jisoo, itu sudah mampu membuatnya sangat bahagia.
"Sini aku yang buka." Jisoo merasa gemas sendiri melihat sesuatu yang menonjol. Tangan mungilnya bergerak cepat membuka sabuk dan pengait serta resleting celana sang calon suami.
Jisoo hanya tersenyum geli melihat sang little Lee mengacung tegak ke arahnya. Jisoo mencoba untuk mengocoknya namun gerakan tangannya masih terlihat ragu.
"Begini sayang, seperti ini." Seokmin mengajarkan dan Jisoo langsung mempraktekannya.
"Aaaahh... hmmm iya begitu... hmmm... pelan-pelan saja. Aaahhhmmm... ssshhhh..."
Seokmin tentu sangat beruntung, sepagi ini ia bisa mendapatkan servis dari calon istrinya.
"Sayang... mau ini lagi..."
"Kenapa?"
"Ini kamu kesini." Jisoo melebarkan kedua kakinya, Seokmin langsung mengerti kalau sang wanita ingin dimanja.
"Lick..." pinta Jisoo manja.
Seokmin menurut langsung mendekatkan wajahnya, sedikit mengusap mencari titik sensitif dan mulai bermain lidah.
"Aaaaaaahhhhh..." Jisoo mengerang dan seketika kedua kakinya menegang saat menerima rangsangan.
"Aaaaahhhh... iyaaaa... hmmm..." Jisoo terbuai dengan kenikmatan, Seokmin mempersiapkan dengan memasukkan jarinya dan sedikit mengocok. Jisoo meremas kuat bantal dan menahan erangan.
Tak lama little Lee sudah tertanam memasuki daerah kekuasaannya. Maka permainan inti telah dimulai dengan tempo lambat dan setelah dirasa Jisoo menikmati, Seokmin menambah kecepatan.
Seokmin sangat berkonsentrasi untuk keduanya mendapat klimaks karena sesuai permintaan, ini harus dilakukan dengan cepat sebelum kedua orang tua Jisoo kembali dari acara jogging bersama.
Seokmin membekap mulut Jisoo agar tidak berisik dengan terus melumat terus bibir tipis milik Jisoo.
Jisoo mencengkeram erat kemeja yang masih dipakai oleh Seokmin. Ia memang hanya melepas celananya.
"Saaayaangg... mmm... aakkkhhh..."
"Sebentar lagi ya, tahan... kita bersama..."
"Aaaakkkhh..." keduanya telah mencapai klimaks. Seokmin berakhir menyemburkan benihnya di dalam. Jisoo melepas cengkeraman, nafasnya mulai berangsur normal.
Seokmin membersihkan sisa cairan yang menempel pada kewanitaan Jisoo dan menutup kaki Jisoo agar tidak menggoda, agar tidak ada ronde berikutnya karena ia juga harus segera pergi mengurus berkas.
"Terima kasih sayang." Seokmin mencium pipi Jisoo dengan lembut dan langsung memakai celananya kembali.
"Hari ini mau kemana?"
"Entahlah, tapi mama mengajak aku ke salon."
"Baiklah, hati-hati ya. Kabari kalau ada apa-apa."
Jisoo mengangguk mengerti, tubuhnya masih terasa lemas. Perlahan ia bangun dan mulai berdiri, mengantar Seokmin sampai pintu apartemennya.
Pelukan hangat Seokmin berikan sebelum ia pergi. Jisoo kembali ke kamar untuk membereskan kekacauan di pagi hari.
oOo
D-DAY!
Jisoo telah siap dengan gaun pengantin yang melekat pada tubuhnya. Pinky dan Yebin terus menemani Jisoo, mereka bertugas sebagai pengiring sang pengantin wanita.
"Noona!"
Cekrek!
Guanlin tertawa puas saat membidik kamera ke arah Jisoo. "Yak! Aku belum siap."
"Tapi ekspresi seperti ini sangat bagus. Candid. Noona sudah sangat cantik, tidak perlu khawatir."
Guanlin terus membidik kameranya ke arah Jisoo dengan terus tersenyum.
"Eonnie, itu siapa?" Bisik Pinky.
"Adikku. Linlin-ah, foto mereka juga."
Yebin dan Pinky langsung ber-oh ria dan paham karena Jisoo pernah bercerita latar belakang sang adik.
"Boleh, aku ingin kalian seperti sedang bercerita lalu tertawa."
Yebin dan Pinky langsung bersemangat mengikuti arahan dari Guanlin.
"Tadi aku sudah foto hyung juga."
"Mana lihat!" Pinta Jisoo semangat.
"Eits tidak boleh, nanti juga kalian kan bertemu." Guanlin menyembunyikan kameranya, Jisoo cemberut.
"Kalau aku boleh kan? Aku dengar kita satu kampung halaman. Jadi kamu harus baik terhadapku." Ucap Pinky.
"Benarkah? Noona dari China juga? Hmmmm..." Guanlin menatap ragu namun ia agak takut dengan tatapan tajam Jisoo.
"Jangan noona, sebentar lagi kan Seokmin hyung akan menikah jadi tolong jangan menyukai suami orang."
"Eonnie, adik kamu menyebalkan juga ya." Ucap Pinky dan Yebin tertawa geli.
"Iya benar apa yang diucapkan, kenapa kamu penasaran dengan suami aku?"
Pinky hanya menggeram gemas, niat hati hanya ingin melihat bukan menyukai apalagi sampai jatuh hati bisa dibilang makan teman nantinya atau pelakor? Tidak-tidak, Pinky sangat menyayangi Jisoo yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya.
"Jisoo, sudah siap?" Sang ayah tersenyum dan mengulurkan tangannya. Jisoo tersenyum dan menerima uluran tangan sang ayah, walau ia sangat grogi namun ia berusaha menepisnya.
"Aku akan merekam dari sini." Guanlin sudah siap dengan handycam-nya. Jisoo sangat senang karena sang adik selalu mengabadikan setiap momen.
Jisoo berjalan perlahan bersama sang ayah dan diiringi oleh kedua sahabatnya. Sang adik pun sibuk berjalan kesana kemari demi mendapat gambar sang kakak.
Acara yang di gelar secara outdoor dengan nuansa putih dan merah muda. Semua tamu dari teman kantor dan pimpinan telah hadir, begitu juga saudara dari kedua mempelai.
Seokmin tersenyum dengan sangat tampan, menunggu kedatangan Jisoo. Jisoo tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, dimana ia akan menikah dengan seorang pria yang sudah ia beri kepercayaan penuh untuk membimbingnya, teman sehidup sematinya.
Sang ayah tersenyum dan mengangguk saat menyerahkan Jisoo pada Seokmin. Jisoo telah berpindah dari sang ayah lalu menempel pada pria yang akan menjadi suaminya di hadapan para saksi tamu undangan.
Ucapan janji suci telah mereka ikrarkan dan dilanjut dengan saling memakai cincin. Kecupan di kening sebagai penanda mereka telah resmi menjadi suami istri.
Tepuk tangan bergemuruh dari para tamu undangan. Sang ibunda dari Jisoo menangis bahagia melihat putrinya telah menikah.
"Jisoo, eomma titipkan Seokmin padamu ya. Eomma percaya kamu akan selalu setia mendampingi putra eomma satu-satunya." Ibunda dari Seokmin yang kini telah menjadi ibu mertua Jisoo memeluk erat sang menantunya.
"Iya eomma, aku akan menjaga amanah eomma. Tegur aku kalau aku melakukan kesalahan. Karena aku adalah putri emmoa."
"Astaga, manis sekali. Eomma sangat bahagia Seokmin punya istri secantik dan murah hati seperti kamu. Terima kasih ya."
Ucapan selamat terus berdatangan dari tamu undangan.
"Seok, ingat jangan pernah buat Jisoo menangis. Kecuali tangisan bahagia."
"Iya ayah, aku janji. Terima kasih untuk semuanya."
"Aku yang seharusnya mengucap terima kasih. Berkat kamu, aku bisa bertemu dengan putriku. Ingat, jangan kasar-kasar. Mainkan dengan lembut. Oke."
Seokmin terdiam mencoba memahami maksud omongan sang ayah mertua dan akhirnya ia langsung tertawa mengerti.
"Aaaahh ayah bisa saja, tenang saja ayah."
Kedua lelaki beda generasi itu tertawa senang.
"Hyung, aku boleh tahu?" Chan berbisik pada Seokmin.
"Kenapa?"
"Apa rahasiamu bisa mendapatkan Jisoo noona?"
"Memang kenapa?"
"Ya, siapa tahu Yebin atau Pinky bisa aku dekati. Anak PR cantik-cantik."
"Sepertinya kamu harus mengurungkan niat, lihat disana gadis yang kamu incar lebih tertarik pada adik iparku." Seokmin menunjuk ke arah Yebin dan Pinky yang terlihat sibuk berebut ingin foto bersama Guanlin.
Chan menatap kecewa, ia belum memulai tapi sepertinya ia harus segera mengakhirinya. Pesta pernikahan tanpa musik dirasa hambar. Seokmin menyumbang suara emasnya membawakan sebuah lagu untuk sang istri tercinta.
"This song for you, my lovely wife." Ucap Seokmin disertai kedipan nakalnya ke arah Jisoo. Semuanya bersorak melihat kemesraan sang pengantin.
Pipi Jisoo merona hebat menunggu kejutan dari sang suami, ia duduk diantara kedua ibunya. Ibu kandung dan ibu mertua. Seokmin sudah siap menyanyikan lagu romantis yang telah ia pilih, diiringi musik live band lokal setempat.
Valentine. Lagu legenda dari Martina McBride yang Seokmin bawakan. Bukan karena pernikahan mereka saat hari valentine namun lirik romantis yang sangat menyentuh jadi pilihan Seokmin yang ditujukan khusus untuk Jisoo.
Jisoo selalu saja merasa terharu setiap mendengar bait demi bait lirik lagu yang dibawakan oleh Seokmin. Semua tamu undangan merasa tersentuh dengan lagu tersebut ditambah Seokmin sangat menghayati dalam pembawaannya.
"Oh astaga, eonnie kau sangat beruntung mendapatkan Seokmin." Ucap Yebin merasa kagum, ia berbisik dari belakang Jisoo duduk. Jisoo hanya tertawa merasa sangat bahagia.
oOo
Acara telah usai, semua tamu undangan ada yang berjalan-jalan di sekitaran pantai. Namun untuk kedua pengantin masih harus menemani para saudara sekedar mengobrol dan menyantap makanan.
Jisoo mulai terlihat lelah, ia telah berganti dengan gaun yang lebih ringan. Jisoo terus menempel pada Seokmin.
"Mau ke hotel dulu? Nanti aku menyusul."
Jisoo hanya menggeleng dan masih terus menyender pada Seokmin bahkan ia tanpa rasa canggung memeluk sang suami dari samping. Seokmin merengkuh dengan erat bahu sempit sang istri dan sesekali mencium keningnya.
Seokmin segera pamit karena tidak tega melihat wajah Jisoo yang lelah. Semua saudara memaklumi kalau pasangan pengantin baru itu ingin berdua saja.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar hotel yang telah mereka booking selama berada di pulau Jeju. Hotel yang berbeda dari hotel untuk teman-teman kantornya maupun untuk para saudara. Karena mereka hanya ingin berdua. Privasi.
Jisoo langsung merebahkan diri ke kasur berukuran King yang sangat empuk. Seokmin mengukungnya dan memberikan ciuman lembut. Seharian ini ia menahan tidak mencium bibir sang istri.
"Kamu mau mandi dulu? Atau mau tidur dulu?"
"Hngg... mandi berdua?" Usul Jisoo.
Seokmin mencubit hidung sang istri dengan gemas. "Ayo." Keduanya langsung bangun dan melepas pakaian.
Kedua bibir mereka saling bertautan, Jisoo mengalungkan kedua tangannya. Guyuran air dari shower terus mengalir membasahi tubuh keduanya.
Well, Seokmin merasa harus menyalurkan hasrat seksnya. Jisoo tidak menolaknya, karena ia sudah wajib memberikan pelayanan untuk sang suami.
"Kakiku lemas..." Jisoo merengek setelah keduanya selesai mandi bersama dan sudah memakai bathrobe.
"Gendong?" Tawar Seokmin dan Jisoo langsung mengangguk.
"Bukan begini. Balik badan."
Seokmin menurut dan Jisoo langsung naik ke kloset dan berakhir memeluk leher Seokmin dari belakang.
"Ayo." Ucap Jisoo riang, Seokmin hanya pasrah demi menyenangkan hati sang istri.
"Yihaaaaa..." teriak Jisoo senang.
"Kenapa seperti naik kuda?"
"Tapi ini enak."
Seokmin melangkah pelan keluar dari kamar mandi dengan membawa tubuh Jisoo dalam gendongannya.
"Kenapa pelan sekali? Seperti tidak semangat." Ucap Jisoo kecewa.
"Kamu tahu? Kalau kuda berlari kencang harus diapakan?"
"Dipecut?" Jawab Jisoo asal.
"Iya, seperti ini." Seokmin meraba bokong Jisoo dengan tangan kanannya.
"Yak!" Pekik Jisoo kesal karena Seokmin menepuk bokongnya. Seokmin tertawa senang langsung sedikit melompat dan tubuh Jisoo ikut bergoyang juga. Jisoo merasa pegal, ia mencubit pipi Seokmin agar berhenti. Seokmin berjalan cepat dan menjatuhkan tubuh Jisoo ke ranjang.
"Yak!" Jisoo masih menghajarnya dengan pukulan bantal dan terus tertawa, keduanya larut dalam candaan dan berakhir saat Seokmin membekap mulut Jisoo dengan serangan ciuman. Dan tak lama keduanya tertidur karena kelelahan.
oOo
Seokmin dan Jisoo berkeliling pulau keesokannya. Menikmati pemandangan pulau Jeju yang sayang untuk dilewatkan.
"Bungee jumping?" Seokmin menaikkan alisnya saat mendengar usulan dari Jisoo.
"Iya, aku mau coba."
"Tidak, jangan. Itu bahaya." Larang Seokmin.
"Iya aku tidak mau sendiri tapi sama kamu berdua."
"Hiks... tapi..."
"Ayolah... sekali saja. Please..." Jisoo terus memohon dan akhirnya Seokmin menuruti permintaan sang istri.
Seokmin sudah pucat melihat ketinggian dari atas namun kalau ia mundur? Ia tidak mau membuat Jisoo kecewa.
"Pelukan saja." Saran dari salah satu staff. Seokmin menelan ludahnya langsung menyetujui. Demi Jisoo. Hanya Jisoo seorang.
Jisoo sendiri tak kalah pucat, selama ia dibantu pasang alat pengaman, ia hanya terdiam. Seokmin tidak bisa apa-apa, padahal Jisoo yang awalnya bersemangat.
"Kamu takut? Kalau takut kita bisa mundur saja."
"Tidak, kita sudah sampai disini." Jisoo pantang memyerah. Seokmin hanya pasrah dan bersikap layaknya pria sejati, ia tidak mau terlihat ketakutan di depan sang istri. Sesuai petunjuk, Jisoo memeluk erat tubuh sang suami. Seokmin banyak berdoa dan terus memeluk erat tubuh sang istri.
"Siap ya satu... dua... tiga..." saat hitungan ketiga mereka terjun bebas dengan cepat. Jantung keduanya bergerak cepat dan saat merasa melayang, Jisoo mendongakkan kepalanya melihat keadaan dan tertawa senang. Seokmin bernafas lega karena mereka baik-baik saja hingga selesai.
Jisoo terus tertawa senang karena keinginannya sudah terlaksana. Seokmin sendiri masih merasa gemetar namun ia tidak menunjukkannya. Kalau bukan karena Jisoo, ia malas melakukan. Tapi ada hal positif, ia jadi merasakan olahraga yang memacu adrenalinnya.
oOo
Setelah menikah, mereka tinggal di apartemen Jisoo. Kedua orang tua Jisoo sudah tinggal pisah dari Jisoo, sang ayah membuka restoran di Seoul dan tentunya sang ibu membantu usaha suaminya. Sementara sang adik, Guanlin masih ikut bersama sang ayah angkat yang sudah diakui seperti ayah kandung dan ibunda Jisoo juga menerima Guanlin.
Memasuki bulan ke 4 pernikahan, Jisoo mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilannya. Mereka memang tidak menunda untuk memiliki bayi. Seokmin tentunya sangat senang karena usahanya selama ini berhasil.
"Hyung." Bisik Guanlin pada Seokmin saat Seokmin datang ke restoran ayahnya Jisoo untuk menuruti permintaan Jisoo yang sangat ingin makan sup iga.
"Kenapa?"
Guanlin mendekati Seokmin dengan perlahan. Jisoo hanya menatap bingung namun melanjutkan makan lagi.
"Bisa keluar sebentar?" Guanlin mengajak Seokmin segera keluar restoran.
"Ada apa?" Seokmin merasa bingung namun tetap mengikuti sang adik.
Seokmin terdiam menunggu sang adik ipar membuka suaranya. "Anu.. hmm itu..."
"Kenapa?"
"Hyung, lebih muda kan usianya dengan noona?"
"Iya, lalu kenapa?"
"Hmm... apa rahasianya? Bagaimana noona bisa luluh denganmu?"
Seokmin mengedipkan matanya karena terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang. Guanlin si pemuda tampan di depannya seperti sedang jatuh cinta.
"Gadis mana yang kamu suka? Apa ia kakak kelas kamu di sekolah? Atau seorang mahasiswi?"
"Ah hyung!" Guanlin memukul Seokmin dan seketika wajahnya merona membuat Seokmin tertawa terbahak-bahak merasa puas dengan tebakannya.
"Hei bro! Aku harus tahu, tipe seperti apa gadis incaranmu, nanti aku beritahu tipsnya." Seokmin merangkul sang adik.
"Tapi benar berhasil tidak?"
"Asalkan kamu yakin."
"Ooh 100% yakin!" Jawab Guanlin penuh percaya diri.
"Oke nanti kita bahas lagi, aku harus masuk. Sepertinya Jisoo sudah selesai makan."
"Benar ya! Nanti beri aku tipsnya." Guanlin memperlihatkan ponselnya.
"Tenang saja! Nanti aku kirim caranya." Seokmin masih merangkul sang adik dan kembali masuk ke dalam. Benar saja, mangkuk Jisoo sudah bersih setelah Seokmin kembali.
"Aigoo, sudah selesai mommy? Mau makan apa lagi hmm?"
"Kamu darimana?" Jisoo bertanya penuh selidik karena sikap Guanlin dan Seokmin mencurigakan.
"Oh, itu Guanlin hanya menunjukkan ada kedai baru buka di ujung jalan sini."
"Oh..." Jisoo mengangguk dan langsung percaya, tidak bertanya macam-macam lagi karena sudah sibuk menghabiskan minumannya.
Selama Jisoo hamil tidak banyak kesulitan untuk Seokmin. Saat ingin sesuatu, Seokmin akan menurutinya dengan cepat. Jisoo juga selalu pulang kerja tepat waktu karena sang atasan sudah tidak memberikan pekerjaan diluar jam kerja lagi semenjak Jisoo menikah.
oOo
Jisoo hanya rebahan di sofanya, ia menunggu Seokmin selesai mencuci piring setelah makan malam.
"Ada yang kamu butuhkan lagi?"
"Tidak, aku sudah kenyang." Ucap Jisoo dengan tangannya mengusap perutnya yang mulai terlihat membesar. Bulan ini usia kandungannya sudah berjalan 5 bulan.
'Cup' Seokmin mencium lembut perut buncit Jisoo.
"Ia tidak nakal di dalam sana kan?"
"Hmm selama ini, aku baik-baik saja sepertinya ia anak yang penurut."
"Mirip denganmu yang berperilaku tenang." Puji Seokmin, Jisoo hanya tertawa pelan. Menikmati masa kehamilannya sangat menyenangkan baginya. Sang bayi yang ia kandung memang tidak merepotkan, selama ia bekerja di kantor tidak mengganggu aktivitasnya.
"Kalau kamu terus tersenyum, semakin cantik."
Lagi-lagi Jisoo selalu merasa malu setiap dipuji oleh sang suami. Banyak yang menilai juga kalau Jisoo semakin cantik saat hamil. Ibu kandung dan ibu mertuanya langsung menebak kalau Jisoo sedang mengandung anak perempuan.
Selama Jisoo sehat beserta bayinya itu sudah cukup baginya, dan kalau benar bayinya adalah perempuan maka keinginan Seokmin benar terwujud.
"Aku ingin anak perempuan jadi aku punya ratu dan tuan putri." Kalimat itu terus terngiang-ngiang dalam benak Jisoo, kalimat yang pernah Seokmin ucapkan setelah mengajaknya menikah.
"Sayang, aku punya sesuatu." Seokmin menyalakan laptopnya. Ucapan Seokmin menyadarkan Jisoo dari lamunan.
Seokmin duduk di bawah beralaskan karpet, Jisoo ikut duduk di sebelah dan menunggu sesuatu yang akan Seokmin tunjukkan.
Jisoo hanya terdiam melihat tampilan video dari laptop Seokmin. "Bagaimana? Kamu suka tidak?"
Jisoo tersenyum dan mengangguk. Matanya terus memandang video desain rumah keluarga yang Seokmin rancang.
"Kamu mau pindah?"
"Hmm, bagaimana ya? Ini impian aku bisa punya rumah dengan hasil kerjaku untuk keluarga kecilku. Memang tidak besar tapi aku rasa cukup untuk kita."
"Lalu?" Jisoo menatap sekeliling apartemennya, apartemen yang sudah lama ia tempati.
"Hmm ini baru rencana, karena aku juga ingin memberimu hadiah. Aku saat ini sebagai kepala rumah tangga."
"Kamu merasa ada beban tinggal disini? Karena ini milikku?"
"Tidak sayang, bukan begitu. Namun untuk kedepannya, aku menginginkan kalau kita ada interaksi dengan tetangga, anak kita kenal dengan lingkungan sekitar. Begitu."
"Oh..."
"Kamu tidak suka ya? Sudah jangan dipikirkan, fokus ke kandungan kamu yang lebih penting." Seokmin langsung menutup program komputernya.
"Aku ikut."
"Eh?" Seokmin menoleh dan melihat Jisoo tersenyum sangat manis.
"Aku ikut suamiku. Kemanapun suamiku tinggal, tentu ia sudah memikirkan masak-masak hal yang terbaik untuk keluarganya kan?"
Seokmim tersenyum lebar dan menangkup wajah mungil Jisoo dan mencium bibirnya dengan lembut.
"Tentu saja."
"Aku mau lihat lagi, apa kamu sudah menentukan lokasinya?"
"Tentu saja, aku mendapat lokasi yang bagus setelah survey dan aku juga sudah membuat semua anggaran biayanya."
"Eih, aku percaya dengan estimator yang satu ini. Sudah sangat ahli." Jisoo menyenggol lengan Seokmin.
Seokmin hanya tertawa malu karena dipuji oleh istri sendiri. Jisoo mempelajari apa yang telah Seokmin buat. Keduanya saling tukar pikiran, merencanakan masa depan berdua.
"Oh! Aku tahu daerah ini!" Ucap Jisoo senang saat Seokmin memberitahu lokasi rencana rumah mereka.
"Hehe bagus kan? Ke arah sini menuju restoran ayah kamu dan ke arah sini menuju rumah ibuku. Jadi kita berada di tengah mereka dan tidak sulit untuk berkunjung sewaktu-waktu."
"Aku mau interiornya begini."
"Bisa diatur, nanti aku gambar ulang kamu mau seperti apa."
Keduanya tampak bersemangat kembali larut dalam obrolan, hingga Jisoo tertidur di meja dan Seokmin menggendongnya menuju kamar.
.
.
.
TBC / END
Annyeong,
Ada yang kangen? *ngga ada*
Oke makasih hehehe...
Baru sempet mood untuk lanjut lagi, seperti biasa pikiran lagi bercabang-cabang hehe... Chap kemarin pasti pada kaget ya karena Seokmin aku buat 'nackal'. Yes! Aku memang suka yang 'nackal' hehe walau memang tidak ahli untuk bagian 'hot-hot-hot' (kaya lagu grup sebelah hee...).
Asli awalnya aku buat ff ini karena ada tantangan saja tapi malah bisa lanjut sampai chap 10 ini. Sempat kehilangan arah saat di pertengahan, mau dibuat seperti apa karena saat itu belum terlalu ngefans dengan SeokSoo tapi semua berubah, sekarang aku suka banget dengan Seokmin. Lihat dia ketawa aja jadi ikutan ketawa padahal ga ngerti dia sebelumnya lagi ngomong apaan. Hahaha...
Jadi aku bener ga tau bakal terus lanjut atau chap selanjutnya langsung ending. Ckckck ga bisa ambil keputusan sendiri saya hehehe... karena awalnya ini hanya untuk selingan saja. Dan sekarang lagi nungguin itu unit trio BooSeokSoo, okeh makin bercabang lagi ini hehehe..
Untuk usulan nama SeokSoo kalau Lee Minji lucu juga, tapi kalau Lee Minsoo tiba-tiba keingatan dengan nama brand toko yang biasa aku datangi hehe... lalu ada lagi Lee Seokjin dan Lee Minkyung, mianhae kalau untuk anak kembar baru aku buat di Meanie saja. Lee Minkyung juga lucu, apalagi wajahnya Minkyung Pristin mirip-mirip Jisoo. Lalu aku ada kepikiran juga 1 nama idol yang wajahnya juga mirip dengan Jisoo. Pasti udah pada tahu hehe... dan chap sebelumnya aku pernah pakai member lainnya dari grup tersebut. Bingung kan jadinya? Judulnya ngegalau lagi 😂😂😂.
Yoosshh ditunggu ya repiu kalian semua kiss kiss ah...
Special thank's untuk chap kemarin :
Mockaa17 / mes26 / diwuls / jeonram / shfly9 - Kim / wortelnyasebong / rizka0419 / thania . thania / christachrista / Guixiancho3424 / novi07citra / Dardara
20 Maret 2018
