.
Secret Admirer
.
oOo
.
Seoksoo
.
oOo
.
Genderswitch
.
oOo
.
Happy Reading
'Bip bip bip bip bip bip' suara alarm berbunyi terus mengusik tidur kedua insan yang masih terlelap.
"Hnng... matikan... berisik..." Jisoo merengek, sedikit mengguncang tubuh Seokmin agar mematikan alarm yang terus berbunyi. Jisoo kembali merapatkan selimutnya, Seokmin merasa terganggu dan mencari sumber suara dengan mata yang masih tertutup.
'Bip bip bip bip bip bip bip'
"Daddy... hngg... berisik..." Jisoo mulai kesal, namun ia lebih memilih merapatkan selimutnya lagi sementara Seokmin mulai mengecek ponselnya.
"Oh astaga... itu alarm kamu sendiri sayang..." Seokmin kembali meletakkan ponselnya dan beralih ke meja nakas sebelah Jisoo tidur dan mematikan alarm.
Seokmin hanya terdiam menatap Jisoo yang kembali tertidur sementara ia mulai terbangun dan sudah sadar walau reminder dalam dirinya meminta ia untuk kembali tidur.
Ini weekend, dimana ia libur berkerja. Ia baru pulang larut malam setelah dinas dari luar kota dan pagi ini ia terpaksa bangun hanya karena rengekan sang istri yang meminta ia mematikan alarm.
Seokmin kembali rebahan dan terus menatap wajah tenang sang istri dan terus mengusap kepalanya. Akhir-akhir ini Jisoo sangat manja, Jisoo selalu mencari keberadaan Seokmin. Seokmin menggeser kepala Jisoo agar mendekat ke arah dadanya, dan berlanjut dengan memeluknya serta tangannya yang terus mengusap punggung sang istri hingga ia kembali tertidur.
...
...
"Daddy..."
Seokmin kembali terusik, dengan mata yang masih berat ia tetap memaksa untuk membukanya dan menatap sang istri yang sudah bangun dan duduk menatapnya.
"Ada apa?" Seokmin mencoba sadar dengan mengucek matanya agar penglihatannya semakin jelas.
"Aku lapar..." Jisoo mengusap perutnya yang semakin besar. Iya, bulan ini usia kandungannya menginjak bulan ke-7. Seokmin langsung tersadar mendengar ucapan dari bibir sang istri yang membuat ia harus melakukan sesuatu.
"Mau makan apa?"
"Telur goreng, jangan pakai minyak biasa, pakai minyak zaitun."
"Iya." Seokmin mengangguk paham.
"Jangan terlalu asin."
"Iya."
"Sayuran direbus, brokoli dan wortel."
"Iya."
"Ah jagung manis juga."
"Oke."
"Sudah."
"Sudah? Cukup? Ada lagi?"
"Tidak, aku mau mandi."
Seokmin langsung turun dari ranjang dan membantu Jisoo untuk ke kamar mandi. Setelah mengantar dan memastikan Jisoo baik-baik saja, ia segera ke dapur untuk mempersiapkan sarapan sesuai permintaan sang istri.
...
...
"Daddy..."
"Iya..." Seokmin meninggalkan sebentar pekerjaannya di dapur dan mendekati Jisoo yang memanggil dari kamar.
"Kenapa mommy?"
"Aku kesulitan memakainya..." ucap Jisoo dengan puppy eyes yang minta perhatian dari sang suami. Seokmin hanya menarik nafas dan menuruti sang istri yang minta dipakaikan celana dalam.
Perut Jisoo memang besar namun tubuhnya tetap terjaga tidak terlalu gemuk, tapi ia sering merengek kesulitan untuk menunduk. Seokmin hanya terdiam menuruti permintaan sang istri.
"Apa sudah matang?"
"Sebentar lagi, wortel dan jagung baru aku rebus."
"Ooh..." ucap Jisoo dan ia langsung duduk di meja riasnya. Seokmin seolah mengerti, langsung menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambut Jisoo yang basah setelah keramas.
"Daddy, kamu lebih suka warna yang mana?" Jisoo meminta pendapat dengan koleksi lipstiknya.
"Kamu mau pakai? Sebentar lagi mau sarapan. Tidak usah pakai." Jawab Seokmin di sela mengeringkan rambut Jisoo.
"Ohh... kalau pakai blush on boleh kan?"
Seokmin menarik nafas dan akhirnya mengangguk untuk menyetujuinya. Jisoo langsung merasa senang, tangannya lincah mengambil kuas besar dan sedikit memoleskan pewarna pipi ke kulit wajahnya.
"Mau kemana sih memangnya?" Seokmin mencuri kecupan di pipi Jisoo.
"Eih! Kamu belum mandi!" Jisoo menyodorkan kuasnya ke arah hidung Seokmin dan membuat sang suami bersin seketika karena kuas blush on. Jisoo hanya tertawa, membuat Seokmin merasa gemas. Ia kembali menyisir rambut sang istri setelah selesai mengeringkan.
"Oh, aku lupa brokolinya. Sebentar lagi sarapan siap." Seokmin bergegas keluar kamar dan menyelesaikan pekerjaannya, menyiapkan sarapan untuk sang istri dan sang bayi.
Jisoo sudah selesai berdandan, langsung menuju meja makan. Seokmin telah selesai menyiapkan menu sarapan permintaan sang istri. Tak lupa susu hamil yang sudah dibuatkan oleh Seokmin.
"Kamu mandi, aku tunggu."
"Oke, tunggu ya."
Jisoo tersenyum dan mengangguk, Seokmin langsung mandi cepat agar bisa sarapan bersama. Ia tidak mau Jisoo dan bayi mereka menunggu terlalu lama. Keduanya sarapan bersama dengan tenang.
"Daddy..."
"Iya..."
"Suapi..."
Seokmin mengalah kesekian kalinya, menuruti permintaan sang istri. Demi bayi mereka, dahulu Jisoo tidak minta macam-macam saat hamil muda. Namun saat ini, Jisoo mulai berubah menjadi manja.
Bawaan bayi. Selalu kalimat itu yang terus Seokmin ingat, mungkin nantinya sang putri tercinta memang sangat manja pada sang ayah. Seokmin menjalani semuanya dengan santai, ia tidak menjadikan semuanya menjadi beban. Selama Jisoo memintanya dalam taraf yang wajar maka Seokmin dengan senang hati akan menuruti semuanya.
oOo
"Mau jalan-jalan ke taman?" Ajak Seokmin, karena mereka tidak melakukan apa-apa dimana Jisoo hanya terus menempel memeluknya saat membaca buku. Sementara Seokmin merasa bosan dengan terus mengganti channel tv. Tidak ada yang menarik.
"Ayo, aku ke toilet dulu." Jisoo bangun dari duduknya.
"Hati-hati, jalannya pelan saja." Seokmin selalu menjaga setiap gerakan Jisoo. Suami siaga. Jisoo melangkah pelan masuk ke kamar mandi.
"Daddy...!"
"Iya sayang..." Seokmin mendekati sumber suara dimana sang istri berteriak dari dalam kamar mandi. Seokmin sedikit panik takut terjadi sesuatu.
"Kenapa?" Seokmin sedikit melongok ke dalam karena pintu kamar mandi yang terbuka. Seokmin takut Jisoo terjatuh dan akhirnya ia menemukan Jisoo dalam kondisi baik-baik saja dan sedang duduk di kloset.
"Tissu... tissunya habis..." rengeknya dengan tetap masih duduk.
Seokmin hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia berjalan mendekati lemari kabinet gantung untuk mengambil persediaan tissu. Lemari tersebut masih di dalam kamar mandi dan jaraknya dekat dengan Jisoo.
"Ini, mau aku bantu usap?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Jisoo mengambil beberapa lembar tissu dan melanjutkan membersihkan daerah kewanitaannya. Seokmin hanya terdiam melihat semua gerak gerik sang istri.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Aku hanya menunggu, takut kamu memanggil untuk memakaikan celana dalam kamu lagi."
"Iihh... daddy..." Jisoo langsung protes sementara Seokmin tertawa geli. Tangannya tetap membantu menaikkan celana.
"Sudah? Bisa langsung ke taman? Tidak perlu ganti baju kan?"
"Tunggu, aku belum pakai bra." Jisoo mendekati wastafel dan langsung mencuci tangan.
"Oke, aku bantu pakaikan lagi."
oOo
"Daddy, aku mau itu..." Jisoo menunjuk ke pedagang yang sedang sibuk melayani pembeli.
"Apa itu? Hmm permen kapas ya?"
"Iya." Jisoo mengangguk cepat dengan puppy eyes andalan dan tangannya terus memeluk lengan sang suami saat berjalan-jalan di taman.
Seokmin berjalan mendekati si penjual dan membelikan Jisoo permen kapas yang berwarna merah muda tersebut.
"Ini." Seokmin memberikan permen kapas tersebut setelah membayarnya.
"Suapi..."
Seokmin hanya menarik nafasnya. "Bagaimana menyuapi ini? Langsung dijilat saja."
"Tidak mau! Suapi daddy..."
"Iya iya sayang..." Seokmin mengalah lagi, kalau bukan karena Jisoo, kalau bukan karena Binnie (panggilan sang bayi) tentunya Seokmin tidak mau melakukannya.
Sementara Jisoo? Terus tersenyum merasa senang, ia terus memeluk lengan dan menyenderkan kepalanya dengan nyaman pada pundak Seokmin di saat duduk berdua di taman, dengan pemandangan orang-orang yang sibuk sendiri berjalan kesana-kemari atau anak kecil berlari-lari saat bermain.
Seokmin tersenyum melihat ekspresi Jisoo yang terlihat senang. Walau ia terkadang sedikit kesal dengan permintaan aneh sang istri, namun melihat istrinya terus tersenyum seolah mengobati kekesalan Seokmin.
oOo
2 bulan kemudian
"Hnggggggg... sshhh... sshhhh..." Jisoo menahan sakit yang luar biasa, air matanya terus mengalir. Pandangannya menatap langit-langit warna putih dalam ruangan inap sebuah rumah sakit.
Saat ini ia ditemani sang ibu dalam persiapan untuk melahirkan. Sang ibu terus mengusap perut besar putrinya untuk menenangkan sementara Jisoo lebih memilih menghabiskan lembaran tissu yang ia pergunakan untuk menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir.
"Bagaimana?" Sang ibu langsung berdiri dan menatap menantu tampannya saat memasuki kamar.
"Sudah beres semua, dokter sudah menjadwalkan untuk operasi nanti. " ucap Seokmin dengan nada gamblang lalu beralih tertuju pada sang istri.
"Tenang ya sayang, semua akan berjalan lancar." Seokmin terus menatap dengan intens seolah memberi semangat dan ikut membantu mengusap air mata yang terus merembes. Jisoo harus melakukan operasi caesar karena kondisi ia tidak memungkinkan melahirkan secara normal. Panggul Jisoo sempit sehingga sulit untuk jalan sang bayi keluar dari rahimnya.
"Kamu ikut kan?"
"Iya, nanti aku temani. Aku sudah izin dengan dokter."
Jisoo mengangguk dan tersenyum, ia selalu berusaha tenang untuk menghadapi persalinan ini. Sesuai janji, Seokmin menemani Jisoo di ruang bedah. Beberapa dokter dan para perawat sibuk mengerjakan tugas mereka.
"Kamu tahu, jenis alat musik yang tidak lekang oleh waktu?" Seokmin mengajak Jisoo mengobrol agar tidak bosan.
"Memangnya ada?"
"Iya ada."
"Hmmm... aku tidak tahu."
"Violin in love with you..." ucap Seokmin dengan terkekeh geli, Jisoo ikut tertawa geli.
"Eih, apa ini? Kenapa ada semut disini?" Seokmin menunjuk ke arah bibir Jisoo.
"Mana?" Jisoo menyentuh sudut bibirnya.
"Ini disini."
'Chup' Seokmin mencium bibir Jisoo. "Pantas saja, rasanya manis."
Lagi-lagi keduanya tertawa geli, Jisoo tidak merasakan takut sedikitpun. Tim dokter dan perawat hanya mengulum senyum dibalik masker yang menutup mulutnya. Jarang-jarang ada pasien yang terlihat tenang selama di ruang operasi.
"Apa sakit?"
"Tidak, mungkin nanti pasca operasi."
Seokmin terus menatap sang istri dan mengusap keningnya memberi kekuatan. Seokmin terus mengajaknya berbicara, menyemangatinya hingga terdengar tangisan bayi mengalun dalam ruang operasi langsung mengalihkan perhatian keduanya.
"Bayinya sudah lahir..." seorang perawat memberikan bayi dalam gendongannya ke Jisoo yang masih berbaring.
Rasa haru dan tangis bahagia terjadi begitu saja saat keduanya melihat sosok kecil yang telah lama mereka nantikan kehadirannya di dunia.
"Welcome to the new world my Binnie." Ucap Jisoo di sela air mata bahagianya dengan memeluk sang bayi dan menciumnya. Seokmin langsung membidik kameranya dan mengirimkan pada ibu kandung dan mertuanya, mengabarkan kalau Jisoo sudah berhasil melahirkan.
Seokmin terus tersenyum menatap sang bayi, yang tampak tenang dalam dekapan Jisoo sang ibu.
"Terima kasih Tuhan..." ucap Seokmin dengan menahan air mata bahagianya.
"Lihat, cantik sekali." Seokmin tak berhenti memuji bayinya, Jisoo terus tersenyum merasa sangat lega. Walau setelah operasi ia harus merasakan sakit tapi ia puas setelah sang bayi lahir ke dunia mewarnai hari-harinya.
Lee Yoo Bin. Nama yang diberikan Seokmin untuk putri kecilnya. Cucu yang lahir dalam keluarga Lee dan Hong membawa kebahagiaan untuk semuanya. Wajahnya yang lucu dan menggemaskan, selalu tertawa saat di sapa oleh sang ayah. Yoo Bin atau lebih akrab dengan panggilan Binnie jarang menangis, kalau sudah dipeluk oleh Jisoo maka sang bayi akan sangat tenang.
Berbagai karangan bunga dikirim dari perusahaan mereka bekerja, tak ketinggalan atasan dan beberapa rekan kerja dari Seokmin dan Jisoo datang berkunjung.
oOo
Mingyu tak ketinggalan datang berkunjung bersama Wonwoo dan kedua anaknya. Mereka langsung mendatangi apartemen Jisoo karena sulit membawa anak kecil ke rumah sakit untuk menjenguk.
Minhyuk sang putra Mingyu dan Wonwoo hanya terdiam menatap bayi perempuan di depannya.
"Hyukie kenapa?" Tanya Wonwoo karena sang putra terus menatap Binnie yang sedang berbaring. Minhyuk langsung tersadar kemudian tersenyum dan menghampiri Mingyu sang ayah dan memeluknya.
"Kenapa?" Bisik Mingyu dan sang putra hanya tersenyum malu. Minhyuk hanya menggeleng dan masih terus tersenyum, Mingyu menyuruh sang anak berbisik dan tangan mungil Minhyuk terus menempel pada sisi daun telinga Mingyu.
"Hah? Kenapa? Kurang jelas." Mingyu penasaran karena putranya belum terlalu jelas untuk berbicara. Wonwoo hanya terdiam melihat tingkah putranya.
"Eish genit..." ucap Mingyu dengan tertawa dan mengelitiki sang putra yang masih terlihat malu.
"Kenapa?" Wonwoo semakin penasaran.
"Dia bilang adik bayi cantik." Ucap Mingyu sambil terkekeh geli dan sang putra semakin malu langsung memeluk sang ayah yang terus tertawa.
Wonwoo hanya mengulum senyumnya, dalam hati ia berkata 'mirip siapa?'. Seokmin dan Jisoo hanya menahan geli.
oOo
Tangisan bayi di tengah malam tak dapat dihindari, hingga membuat jam tidur malam Jisoo dan Seokmin menjadi terganggu.
"Sayang, Binnie menangis."
"Coba kamu lihat..." Jisoo yang masih mengantuk tetap melanjutkan tidurnya. Seokmin yang lelah setelah seharian bekerja juga sangat mengantuk. Binnie, sang bayi terus menangis meminta perhatian kedua orang tuanya. Tangisan semakin kencang seolah menjadi alarm membuat Jisoo dan Seokmin langsung membuka mata dan melihat bayi mereka.
"Hallo, putri daddy... kenapa? Lapar ya?" Seokmin mencoba menggendong bayinya untuk menenangkan. Binnie, sang bayi masih terus menangis merasa kesal karena orang tuanya tidak cepat tanggap.
"Sayang, mungkin dia haus."
"Bawa kemari."
"ASI kamu sudah keluar?"
"Hari ini aku sudah mencobanya, dan sudah keluar."
Seokmin menggendong perlahan bayinya untuk diserahkan pada Jisoo. Jisoo berusaha menyusui namun sang bayi terus menangis.
"Kenapa? Dia masih menangis." Seokmin bingung sendiri karena dia masih belajar menjadi orang tua baru.
"Entahlah, apa karena tidak keluar?" Jisoo masih berusaha menjejali bayinya dengan puting susunya.
"Apa aku buatkan susu seperti biasa?"
"Jangan dulu, anakku bukan anak pabrik. Bisa bantu aku?"
"Anak pabrik?" Seokmin tertawa sepertinya Jisoo sudah tertular lawakan darinya. Jisoo hanya tersenyum saat Seokmin tertawa.
"Bantu apa?"
"Bantu pijat, agar air susunya keluar. Tadi sore mama mengatakan kalau tidak keluar harus dipijat."
"Mmmaksudnya aku pijat-pijat?"
"Iya, please... kamu tega Binnie menangis semalaman?"
"Iya-iya, jadi ini..." Seokmin membantu membuka piyama Jisoo.
"Eish... ambilkan handuk rendam dengan air hangat dulu untuk mengompres." Jisoo menepis tangan suaminya yang ingin membuka kancing piyamanya.
"Oh..." Seokmin menurut, langsung keluar kamar mencari yang diperintahkan Jisoo.
Tak lama Seokmin membawa handuk kecil hangat dan mengerjakan sesuai instruksi Jisoo.
"Sayang, kalau begini aku juga ingin ikut menyusu." Ucap Seokmin di sela memijat sementara Jisoo terus menggendong bayinya yang mulai tenang, kalau Binnie dibaringkan maka ia akan menangis lagi jadi Seokmin harus membantu memijat.
"Oh! Sepertinya keluar!" Ucap Seokmin girang karena telah berhasil. Binnie langsung menyedot dengan semangat dengan mulut mungilnya yang bergerak cepat.
Jisoo meringis merasakan nyeri dengan meremas paha Seokmin. Ia menahan sakit karena belum terbiasa menyusui.
Seokmin duduk di sebelah sang istri dan merengkuhnya dengan mengecup pelipis Jisoo seolah memberikan kekuatan. Tak lama Binnie tertidur setelah perutnya terasa kenyang, Jisoo langsung memeluknya dan menepuk dengan lembut agar sang bayi bersendawa.
Seokmin terus mencuri kecupan dari pipi gembil bayinya. Jisoo membaringkan bayinya lagi dalam boks bayi dan melanjutkan tidur lagi. Seokmin selalu siap ikut terjaga saat mengurus bayinya berdua.
Seokmin langsung merentangkan kedua tangannya dan Jisoo segera jatuh dalam pelukan hangat sang suami, tak lama mereka kembali tertidur.
oOo
Hari telah berganti minggu, dilanjut berganti bulan. Seokmin dan Jisoo sudah semakin terbiasa mengurus buah hatinya walau masih sering bertanya pada orang tuanya.
"Sayang, sarapannya sudah siap." Seokmin menghampiri Jisoo yang masih di kamar. Jisoo masih mengurus buah hatinya, Binnie yang ikutan bangun di pagi hari sudah rapi dan wangi. Sang bayi seolah mengerti selalu ikut bangun saat kedua orang tuanya sudah bangun.
"Iya." Jisoo menggendong bayinya yang kini sudah berusia 6 bulan. Rutinitas di pagi hari dimana Seokmin mengurus sarapan dan Jisoo mengurus Binnie. Jisoo sudah mulai bekerja setelah cuti melahirkannya selesai, dan itu sudah berlangsung sejak 4 bulan lalu.
Seokmin mengizinkan Jisoo tetap bekerja sesuai kesepakatan mereka sebelum menikah. Walau sebenarnya Seokmin menginginkan Jisoo fokus ke buah hatinya saja, namun Jisoo tidak bisa kalau hanya diam di rumah saja.
Seokmin menghidangankan nasi beserta sup dan lauk lain yang sudah ia masak. Jisoo masih terus memangku anaknya yang sudah bisa duduk.
"Da da da da..."
"Apa sayang? Mau mam juga?" Ledek Seokmin dan membuat sang anak tertawa geli. Jisoo tersenyum dengan tangannya sibuk menghaluskan biskuit yang sudah dicampur susu untuk makan anaknya.
Jisoo menyuapi Binnie makan, dan Seokmin akan menyuapi Jisoo makan. Kegiatan yang sudah Seokmin jalani saat Jisoo hamil besar hingga saat ini. Ia tidak mempermasalahkan karena ia sangat menyanyangi Jisoo.
Hingga ibunda Jisoo datang di pagi hari untuk menggantikan menjaga Binnie selama Jisoo dan Seokmin bekerja.
oOo
Seokmin melangkah lemas menuju unit apartemen setelah seharian ia pergi bekerja. Memasuki ruangan keadaan sepi, ia langsung menuju kamar utama dimana Jisoo sang istri sedang menyusui anaknya.
"Lihat, daddy sudah pulang." Ucap Jisoo memberitahu sang putri. Seokmin tersenyum senang melihatnya, ia langsung menghampiri sang istri dan sedikit memberikan ciuman lembut pada wanita tercintanya.
"Hallo, cantiknya daddy."
Binnie sang bayi sempat terdiam dan menatap sang ayah lalu tertawa, tangannya bergerak meminta perhatian lebih, ingin digendong.
"Nanti ya sayang, daddy mandi dulu." Seokmin memberikan flying kiss pada bayinya, ia juga ingin segera memeluk dan menciumnya meluapkan rasa rindu tapi ia harus menjaga kebersihan tubuhnya agar sang bayi tidak terkena kuman. Kira-kira begitu pikiran Seokmin, apalagi ia sempat pergi ke proyek dimana banyak debu menempel.
"Hikss hikss aaaaaaa... aaaaaaa..." Binnie menangis sedih merasa diabaikan oleh sang ayah.
"Sebentar sayang, daddy mandi dulu..." Jisoo mulai mengalihkan perhatian lagi pada sang putri agar berhenti menangis.
Setelah Seokmin selesai mandi, giliran ia melepas rindu dengan buah hati. Seokmin menggendong dengan mengajaknya bercerita, Binnie terus menatap sang ayah dan seolah mengerti apa yang diucapkan akan tersenyum dan tertawa memperlihatkan gusinya.
Seokmin melirik dimana Jisoo sudah terlelap tak lama selesai menyusui. Seokmin mendekat dan memberikan kecupan selamat tidur serta merapatkan selimut untuk Jisoo.
"Good night mommy..."
Seokmin masih harus terjaga karena Binnie belum mengantuk, ia membawa sang bayi keluar kamar.
"Sudah malam, Binnie harus tidur. Oke." Ucap Seokmin malah membuat bayinya tertawa dengan terus menatap sang ayah. Seokmin terus menimang bayinya dan melantunkan lagu-lagu agar bayinya segera tidur.
Tak lama Binnie segera tidur karena sangat mengantuk dengan perutnya yang sudah kenyang. Seokmin bernafas lega, kini ia bisa beristirahat dengan nyaman.
oOo
"Good morning daddy!"
Seokmin membuka kedua matanya secara perlahan dan samar-samar melihat istri cantiknya bersama sang putri berada di sampingnya.
"Good morning, sweetheart." Senyuman terukir dalam paras tampan Seokmin yang sangat senang karena 2 orang tercintanya menyapa di pagi hari. Seokmin langsung bangun dan memberikan morning kiss untuk sang istri dan tak lupa mengecup pipi pada putri kecilnya.
"Tolong jaga Binnie ya."
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau buat bekal, kita pergi piknik. Kamu tidak ada pekerjaan kan?"
"Tidak, ya sudah Binnie dengan daddy ya." Seokmin langsung mengambil alih menjaga putrinya dimana Jisoo ingin membuat bekal.
Bosan di kamar, Seokmin mengajak Binnie keluar dengan menggendongnya. Jisoo masih sibuk menyiapkan kimbab dan camilan lainnya.
"Sayang, sarapan untuk Binnie sudah?"
"Oh, ini. Buburnya baru matang."
Seokmin langsung menaruh bayinya dalam kursi makan bayi, tak lupa memberikan mainan agar tidak rewel. Seokmin bergegas menyendok bubur dalam mangkuk kecil dan mulai menyuapi putrinya.
"Apa dia sulit makan?" Jisoo mendekati dan melihat hasil kerja suaminya yang menyuapi putrinya.
"Hehe... berantakan..." Seokmin meringis.
"Ah.. kamu, ambilkan tissu basah." Jisoo tertawa geli karena pipi putrinya belepotan bubur. Seokmin memang belum terbiasa menyuapi putrinya. Dimana ia lebih pintar menyuapi Jisoo dibanding harus menyuapi putrinya yang kepalanya tidak bisa diam selalu bergerak dan terkadang sulit membuka mulutnya karena ternyata masih mengunyah makanan.
Seokmin merapihkan peralatan yang telah dipakai Jisoo dalam membuat bekal. Hari ini Jisoo mengajak piknik ke taman untuk melihat bunga sakura yang sedang mekar.
"Sayang, tolong jaga dulu ya. Aku mau mandi." Jisoo memberikan putrinya agar dijaga Seokmin, setelah Seokmin selesai membereskan dapur.
"Ok." Seokmin langsung mengambil alih dan menggendong putrinya dengan posisi tegak.
"Hmm... kamu poop ya cantik?" Seokmin mengendus ada bau tidak enak, ia langsung mengintip isi popok putrinya dan aroma tak sedap langsung menguar.
"Aduh, dia poop." Seokmin kebingungan karena ia tidak biasa mengganti popok putrinya, Binnie hanya tertawa dengan menatap wajah sang ayah yang kebingungan.
Seokmin segera mengganti popok, ia hanya menggaruk kepalanya setelah membaringkan putrinya di ranjang. Ini memang bukan pertama kali ia melihat putrinya tanpa celana, sebelumnya ia pernah melihat dalam versi dewasa milik Jisoo.
"Hehe... aku bukan pedofil. Ah astaga apa yang aku pikirkan, dia adalah darah dagingku sendiri. Tunggu ya sayang." Seokmin segera mengambil popok baru serta tissu basah untuk membersihkan. Dengan perlahan ia membersihkan sisa kotoran yang menempel.
"Kenapa?"
Seokmin tersentak kaget karena tiba-tiba Jisoo sudah di belakangnya, ia sampai tidak mendengar suara pintu kamar mandi karena terlalu serius. Binnie hanya tertawa melihat kedua orang tuanya.
"Poop..." jawab Seokmin polos.
Jisoo mengulum senyum dan langsung mengambil alih. "Biarkan aku yang urus, kamu siap-siap saja."
Seokmin menurut langsung bersiap menuju kamar mandi namun ia masih sempat melirik.
"Maaf, aku belum ahli mengurusnya. Aku masih harus banyak belajar."
Jisoo menoleh ke belakang dan melihat Seokmin menunduk lemas seperti merasa bersalah. Jisoo terdiam, ia merasa ada salah kalimat yang membuat Seokmin merasa tidak berguna.
"Tak apa, aku juga masih terus belajar. Tidak ada yang perlu disesali."
"Tapi setidaknya aku ingin membantu tugas kamu juga." Seokmin mendekati Jisoo lagi dan putrinya.
"Kamu sudah banyak membantu, malah terkadang aku yang suka minta bantuan kan?"
Seokmin masih terdiam dengan rasa bersalah.
"Daddy, jangan sedih. Aku sayang daddy..." Jisoo merubah suaranya menjadi anak kecil serta menggerakkan kedua tangan sang putri agar terlihat bahwa sang putri yang berbicara.
"Hehe oke." Seokmin memeluk sang istri dan mencium pipinya. "Aku akan siap-siap, kita senang-senang hari ini."
oOo
Musim semi telah tiba, banyak warga keluar sekedar melihat bunga sakura yang sedang mekar. Jisoo mendorong kereta bayinya, sementara Seokmin membawa tas perlengkapan bayi dan camilan mereka.
"Sayang, itu seperti adik kamu."
Jisoo mengikuti arah pandang Seokmin dan melihat seorang pemuda yang sibuk membidik kameranya ke arah seorang gadis yang disuruh berbagai pose.
"Sedang apa dia? Apa dia kerja sambilan jadi fotografer?"
Seokmin mengedikkan bahunya, Jisoo kembali berjalan ingin menyapa sang adik.
"Linlin-ah..."
Merasa namanya disebut, Guanlin segera menoleh dan melihat kakaknya sudah di dekatnya.
"Jisoo noona, Seokmin hyung. Hai Binnie..." sapa Guanlin, ia sempat meminta izin pada gadis tersebut untuk menghampiri kakaknya.
"Kamu sedang apa?"
"Oh, aku membantu teman. Dia ingin ikut kontes dan butuh foto yang bagus. Binnie, mau uncle foto?"
"Selesaikan dulu pekerjaanmu." Saran Jisoo.
"Iya noona, nanti aku susul ya. Sebentar lagi selesai. Tinggal 1 tempat disana." Gunalin pamit dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Seokmin dan Jisoo langsung mencari tempat untuk bersantai sembari menunggu sang adik. Selang 30 menit, Guanlin sudah bergabung dan ikut makan camilan yang sudah dibuat oleh Jisoo.
"Aku pikir kamu bekerja sambilan."
"Memang." Ucap Guanlin tenang saat melahap potongan kimbap.
Jisoo dan Seokmin terdiam dan saling bertatap muka, Guanlin hanya tertawa merasa diperhatikan.
"Aku butuh uang. Aku membuka jasa foto."
"Ayah tidak memberimu uang?" Jisoo semakin penasaran.
"Noona tenang saja, ayah sangat perhatian padaku."
"Lalu, kamu butuh untuk apa?"
"Hmm itu..." Guanlin melirik kesana kemari menghindari pandangan Jisoo dan Seokmin.
"Aku.. aku butuh untuk membeli sesuatu."
"Sesuatu?"
Semburat merah di pipi Guanlin terlihat jelas, ia hanya menunduk untuk menyembunyikan.
"Aaaahh aku tahu..." ucap Seokmin lalu tertawa.
"Sssstttt..." Guanlin langsung menegakkan tubuhnya dan memberi kode dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Kalian kenapa? Ada yang disembunyikan ya?" Jisoo semakin penasaran.
"Jadi? Kamu sudah..." Seokmin menaikkan alisnya dan terus terkekeh geli. Guanlin menunduk malu lagi.
"Iya, jadi sebentar lagi dia ulang tahun dan aku ingin memberikan dia hadiah. Beberapa minggu yang lalu aku melihat ada dress cantik di sebuah toko. Aku ingin membelikannya dan ingin melihat ia memakainya lalu aku foto. Begitu..." jelas Guanlin dengan masih malu-malu.
"Aaaaahh begitu..." Jisoo akhirnya paham dan melirik Seokmin yang terus tersenyum.
"Omong-omong, dia itu siapa? Teman sekolah kamu? Apa ayah sudah tahu?" Jisoo masih penasaran.
"Belum! Ayah belum tahu, aku takut ayah marah kalau tahu."
"Jadi kalian backstreet?" Ucap Seokmin yang ikut penasaran.
"Hmm untuk sementara iya, karena dia juga masih malu."
"Apa karena ia lebih tua?" Seokmin masih penasaran. Jisoo langsung melirik tajam membuat Seokmin salah tingkah karena salah ucap.
"Sayang, maksud aku bukan, maksudnya kita beda. Iya beda." Seokmin langsung gugup seketika.
"Jadi?" Jisoo menatap lurus ke arah Guanlin dan kini Guanlin merasa salah tingkah.
"Noona, hmm itu aduh..."
"Iya jadi, kalian sudah saling cerita tapi aku tidak tahu?"
Seokmin dan Guanlin hanya terdiam melihat Jisoo mengomel.
"Hiks hiks hiks... aaaaaaaahhhhhh..." Binnie langsung menangis seolah melerai perdebatan. Jisoo langsung menenangkan bayinya dengan raut wajah masih cemberut. Guanlin merasa tidak nyaman hanya menggaruk kepalanya mencoba mencari alasan agar ia segera pergi.
"Binnie jangan menangis, mau difoto sama uncle okay." Seokmin ikut menenangkan dengan mengusap punggung bayinya. Seketika Binnie berhenti menangis dan tertawa.
Seokmin bernafas lega, kini tinggal istrinya yang masih merajuk. "Sayang, tujuan kita kesini kan mau senang-senang."
"Noona jangan marah, aku sengaja hanya cerita dengan hyung karena sesama pria." Ucap Guanlin.
"Jadi, kekasih kamu itu lebih tua?"
"Ooh.. itu... hmm iya... makanya aku minta saran pada hyung." Guanlin menggaruk kepalanya, ia bingung harus apa.
"Dan berhasil?" Jisoo melirik ke arah suaminya yang nyengir lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Iya! Hyung hebat!" Guanlin bertepuk tangan dan Binnie tertawa melihat sang paman yang bersemangat.
"Kerja yang bagus suamiku, tapi cukup Guanlin saja yang kamu beri tips dan jangan kamu praktekkan lagi dengan wanita lain."
"Kenapa sayang?"
"Aku tidak mau dimadu." Ucap Jisoo dengan senyumnya yang terkesan menyindir.
"Tentu saja sayang, mana tega aku meninggalkan kamu." Seokmin bernafas lega dan berakhir mencuri kecupan di bibir mungil sang istri.
"Ya ya ya sosor terus..." Gunalin sedikit meledek ke arah sang kakak.
Jisoo langsung malu dengan pipinya yang merah. "Sorry..."
"Sebentar bertengkar, sebentar mesra." gumam Guanlin dengan lirih.
"Kamu kenapa?" tanya Jisoo pada adiknya.
"Tidak. Okay, sekarang sesi pemotretan untuk bayi sehat." Guanlin langsung membidik kameranya ke arah sang keponakan. Binnie tertawa senang dan langsung fokus ke arah kamera.
.
.
.
TBC
Annyeong,
Masih ada yang menunggukah kelanjutan ff ini? Mianhae, idenya sering macet hehe... Plotnya aku percepat karena ingin segera anak Seoksoo bertemu dengan anak Meanie nantinya.
Gomawo yang sudah review, like or follow chap sebelumnya... kalian moodbooster aku 😘😘😘
Selalu ditunggu review, kritik dan sarannya...
Special thank's to:
shfly9 - Kim / wpvflk / Mockaa17 / Hyukkiefee / kimjeon6969 / wortelnyasebong / Cha KristaFer / rizka0419 / Shierashie94 / thania. thania / christachrista / Moon Vibes / marinierlianasafitri
21 April 2018
Selamat Hari Kartini
