.

Secret Admirer

.

oOo

.

Seoksoo

.

oOo

.

Genderswitch

.

oOo

.

Happy Reading

Jisoo mondar-mandir berjalan kesana-kemari dengan ponsel di tangannya. Seokmin hanya terdiam melihat sang istri yang tidak bisa diam.

"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanyanya dengan terus menemani sang putri bermain, duduk di karpet ruang tv.

"Ada masalah dengan tempat yang kita sewa. Padahal aku sudah booking tapi tadi ada staff telepon aku mengabari kalau ada yang mau sewa juga di hari yang sama. Bagaimana aku tidak panik, undangan sudah tersebar."

Seokmin menaikkan alisnya, wajah Jisoo menandakan rasa cemas yang luar biasa.

"Dia mengatakan kalau orang tersebut bersedia membayar lebih asal dapat sewa. Kita tidak mungkin membatalkan acara." Jisoo mulai mengadu.

"Coba sini biar aku yang nego dengan orangnya."

Jisoo menurut langsung memberikan ponselnya pada sang suami, berharap Seokmin segera menyelesaikan masalah.

"Kamu sewa tempat yang dekat pertokoan di Gangman itu?" Tanya Seokmin setelah melihat nomor yang Jisoo simpan dan tertulis nama gedung dari ponsel Jisoo.

"Iya, karena disitu lokasinya strategis."

"Kenapa alasan staff itu? Mereka mau membandingkan dengan orang lain masalah harga sewa?"

"Iya, ada yang berani bayar lebih, sementara aku tidak bisa melebihi dari budget yang sudah aku siapkan."

Seokmin mengangguk paham dan langsung menelepon seseorang dengan ponselnya. Ia punya rencana lain.

"Selamat siang, Mr. Jung. Apa kabar?"

"Oh, Mr. Lee. Aku baik. Apa ada yang bisa aku bantu?"

"Ah, begini saya ada kendala. Gedung di jalan Hakdong masih 1 wilayah milikmu?"

"Iya tentu saja, ada apa?"

"Tidak, hanya saja kami berencana mau sewa disana untuk merayakan ulang tahun putriku yang ke-1. Tapi kami dapat kabar kalau booking kami terancam karena ada yang mau sewa juga dengan harga yang lebih tinggi."

"Oh! Tidak bisa begitu! Aku akan segera hubungi orangnya. Kamu tenang saja ya. Apa gedung yang sebelah salon itu yang kamu maksud?"

"Benar! Disana lokasi acara untuk putriku."

"Oke, kamu tenang saja. Aku akan bantu selesaikan."

"Baik, terima kasih sebelumnya."

Seokmin memutus sambungan telepon dan tersenyum pada Jisoo. "Kita tunggu saja."

Jisoo mulai tampak tenang dan tak lama ponselnya berdering ada panggilan masuk, raut wajah Jisoo berubah cerah karena ia memenangkan untuk sewa tempat.

"Terima kasih daddy." Jisoo mencium pipi Seokmin dan sang putri tertawa melihat ibunya.

"Semuanya berjalan lancar bukan? Kalau ada masalah jangan ditampung sendiri, masih ada aku." Ucap Seokmin dengan senyum tampannya.

"Iya, memang seharusnya hubungan suami istri seperti ini kan?" Jisoo bergelayut manja menempel pada sang suami.

"Benar." Seokmin mencium kening Jisoo.

"Omong-omong, tadi kamu telepon siapa?"

"Mr. Jung adalah seorang tuan tanah, dia konglomerat dan aku kenal baik dengannya."

"Wow, awesome!" Ucap Jisoo bangga.


oOo


Jisoo benar-benar sibuk mengatur untuk acara sang putri. Walau ia sudah memakai jasa EO tapi ia tetap turun tangan mengatur semuanya agar terlihat sempurna.

Seokmin dan Jisoo kompak memakai hanbok pasangan, begitu juga dengan Binnie yang memakai hanbok yang sama dengan yang dipakai Jisoo. Jisoo benar-benar menyiapkan semuanya. Ia ingin memberi kesan yang baik untuk ulang tahun pertama putrinya.

Guanlin sibuk mengabadikan momen, Jisoo sengaja tidak mengambil paket foto karena ada sang adik yang bisa diminta bantuan dan dananya bisa ia berikan sebagai uang jajan untuk sang adik.

Seorang gadis mungil tampak ragu memasuki aula tempat perayaan acara. Jisoo hanya terdiam melihat gadis itu.

"Kenapa sayang?" Tanya Seokmin dengan terus menggendong sang putri saat menyambut para tamu.

"Entahlah, dari tadi dia mondar-mandir dan aku tidak mengenalnya." Jawab Jisoo.

"Noona, permisi..." ucap Guanlin meminta jalan, Jisoo dan Seokmin hanya terdiam. Mereka melihat Guanlin mendekati gadis tersebut dan kembali berjalan mendekati Jisoo serta Seokmin.

"Noona, hyung, kenalkan namanya Park Jihoon." Guanlin mengenalkan gadis itu pada Jisoo dan Seokmin.

"Oh, iya salam kenal." Ucap Seokmin dan Jisoo serempak.

"Nama saya Park Jihoon, ini pasti Binnie. Cantik sekali." Sapa Jihoon pada Binnie.

"Noona, tidak apa kan kalau aku mengundangnya?" Guanlin menatap penuh harap pada kakaknya.

"Oooh, ini." Seokmin langsung menyadari siapa gadis di depannya. Jisoo melirik dan langsung paham.

"Oh hahaha tidak apa. Masuk saja." Jisoo memberi izin dan Guanlin serta Jihoon langsung masuk ke dalam.

"Jadi itu? Adik kamu?" Seokmin tertawa geli melihatnya. Jisoo hanya terdiam walau sangat penasaran.

"Hai Gyu!" Sapa Seokmin saat Mingyu baru datang bersama Eunwoo putrinya.

"Maaf, apa aku terlambat? Tadi anak-anak tidur jadi menunggu bangun."

"Tidak, acaranya baru akan mulai. Eunwoo masih mengantuk?" Tanya Seokmin pada putri Mingyu yang tampak nyaman pada gendongan sang ayah.

"Iya, masih agak lesu." Jawab Mingyu.

"Wonwoo mana?" Tanya Jisoo karena Mingyu terlihat berdua saja dengan Eunwoo putrinya.

"Ada, tadi mampir ke toilet dulu. Hyukie terlalu banyak minum susu."

Tak lama Wonwoo menyusul dengan putranya yang membawa sebuah kado.

"Ini untuk Binnie!" Teriak Hyukie dan membuat Binnie menoleh ke bawah dimana Minhyuk memperlihatkan bungkusan kado.

"Terima kasih Hyukie..." jawab Jisoo dengan menunduk dan menerima pemberian dari Minhyuk. Wonwoo hanya tersenyum melihatnya.

"Ayo masuk, acara akan dimulai." Ajak Seokmin dan semuanya segera masuk untuk memulai acara.

Sambutan diberikan oleh ayahnya Jisoo dengan mengucap syukur dan berdo'a agar sang cucu diberi kesehatan. Tak lupa foto bersama dan potong kue. Selama acara, Binnie selalu tampak tenang dan selalu tertawa, tidak rewel sedikitpun.

Pinky dan Yebin saling berebut untuk berfoto bersama Binnie. Jihoon sendiri tidak hanya datang dan menikmati acara, tapi ia ikut membantu Guanlin dalam mengabadikan momen.

Jisoo hanya mengawasi dari jauh apa yang dilakukan adiknya dan Jihoon temannya itu. Selesai acara, mereka berkumpul bersama untuk keluarga inti. Sang putri tertidur karena lelah di stroller yang diletakkan di sebelah Jisoo duduk.

"Lucu sekali, semua fotonya bagus." Jisoo memuji hasil foto dari kamera Jihoon.

"Bukan kameranya, tapi setiap ekspresi Binnie yang membuat hasil fotonya bagus." Balas pujian dari Jihoon. Jisoo merasa senang, ia memang mengakui kalau sang putri memang sangat cantik.

"Jadi, Jihoon teman sekolah Guanlin?" Tanya sang ayah yang penasaran.

"Hmm itu..." Jihoon bingung untuk menjawabnya.

"Iya ayah, kami satu sekolah... tapi... itu... dulu..." jawab Guanlin ragu. Semuanya terdiam menatap pasangan muda tersebut.

"Oh? Maksudnya Jihoon sudah pindah sekolah begitu?" Tanya sang ibu.

"Hmm itu... bukan, tapi saya sudah lulus." Jawab Jihoon.

"..."

"Jihoon adalah kakak kelasku dan sekarang dia sudah kuliah semester pertama." Tambah Guanlin dan semuanya masih terdiam.

"Oh..." hanya sang ayah yang menanggapi, Seokmin hampir tertawa dibuatnya.

"Kalian selisih berapa tahun?" Tanya Jisoo masih penasaran.

"2 tahun..." jawab Guanlin dan Jihoon serempak. Seokmin tak bisa menahan tawanya, ia bersembunyi dibalik punggung sang istri yang duduk di sampingnya.

Jisoo hanya terdiam, bingung harus apa dan sang ayah beserta ibunya menahan senyum dengan menunduk.

"Aigoo... anak zaman sekarang ya." Ucap Ny. Lee sang ibunda Seokmin berkomentar karena sedari tadi dia hanya diam.

"Tidak apa-apa Jihoon, aku mengerti." Jisoo mengangguk dan terus menahan tawanya.

Jihoon hanya menunduk malu dengan pipinya yang bersemu merah. "Terima kasih eonnie."


oOo


Seokmin mengajak istri dan putrinya menengok rumah yang dijanjikan oleh Seokmin. Tahapan pembangunannya sudah hampir selesai. Rumahnya memang tidak terlalu besar namun memiliki halaman cukup luas dan Seokmin berencana membuat taman bermain untuk putrinya.

Jisoo tampak puas dengan rumah hadiah dari Seokmin. Rumah berdesain minimalis menjadi pilihan untuk keluarga Seokmin.

"Ini kamar Binnie." Seokmin memperlihatkan ruangan sebuah kamar yang sedang dipasang wallpaper bergambar tokoh princess.

Jisoo lanjut melihat ke kamar utama. "Bagaimana? Kamu suka?" Tanya Seokmin pada sang istri, Jisoo mengangguk. Seokmin membawa Jisoo ke sisi kamar mandi, sang putri tetap tenang dalam gendongan ayahnya.

"Wow!" Jisoo memandang takjub dengan pilihan desain yang dipilih Seokmin.

"Back to nature..." ucap Seokmin menjelaskan desainnya dimana banyak batu alam yang ditempel pada dinding memberi kesan alami dan sejuk.

"Terima kasih daddy..."

"Apapun aku lakukan untuk kamu dan Binnie."

Jisoo tersenyum senang, Seokmin merangkul sang istri dan mengajak berkeliling melihat ruangan lain. Puas berkeliling, mereka ke restoran sang ayah sekaligus menjenguk orang tua.

Sebuah pemandangan baru dimana Guanlin sang adik tampak bersemangat melayani pengunjung restoran bersama Jihoon.

"Mereka sendiri yang minta pekerjaan pada ayah, mereka punya rencana ingin membuka studio foto bersama dan butuh banyak uang untuk membeli perlengkapan." Sang ayah menjelaskan.

"Wah, aku tak menyangka mereka anak muda yang kreatif dan penuh semangat." Ucap Seokmin bangga.

"Aku sempat khawatir dengan gadis yang disukai oleh Guanlin, tapi sekarang aku tidak merasa khawatir lagi." Ucap Jisoo.

"Adik kamu dewasa dalam pemikiran, dia tidak sembarang memilih seseorang. Sama seperti aku..." bisik Seokmin dan Jisoo malu, langsung mencubit sang suami.


oOo


Pesta syukuran rumah baru diadakan oleh Seokmin, hanya untuk keluarga dan teman dekat saja yang diundang. Tentunya Mingyu datang, karena selama pembuatan rumah, Mingyu ikut membantu Seokmin dalam mewujudkan rumah impiannya.

Sang ayah bertugas menghandle untuk menu makanan dan sang ibu Ny. Hong dan Ny. Lee mengatur yang lain.

Pesta kebun tema acara syukuran rumah baru. Minhyuk putra Mingyu mengambil yogurt kemasan yang memang disediakan di meja prasmanan. Eunwoo sang adik sibuk main prosotan. Wonwoo hanya duduk dan terus mengawasi kedua anaknya.

"Itu apa?" Tanya Binnie yang mulai sedikit bisa berbicara. Ia mendekati Minhyuk yang sedang duduk tak jauh dari Wonwoo sang ibu.

"Yogut, Binnie mau?"

"Mau."

Minhyuk membuka kemasan yogurt dibantu oleh sang ibu, Wonwoo. Setelah kemasan terbuka, Minhyuk menyuapi Binnie.

Ekspresi Binnie terlihat lucu karena rasa yang masam dari yogurt yang ia coba.

Minhyuk ikut mencobanya dan terlihat biasa saja karena ia sudah terbiasa mengecap berbagai rasa.

Binnie hanya terdiam dan terus menatap Minhyuk yang asyik makan yogurt.

"Mau lagi?"

"Lagi..." jawab Binnie polos dan Minhyuk menyuapi lagi. Saat Binnie merasa masam, Minhyuk langsung tertawa. Wonwoo yang terus mengawasi hanya terdiam melihat anaknya menyuapi Binnie.

"Kenapa?" Mingyu merasa bingung karena istrinya hanya terdiam.

"Mereka..."

Mingyu ikut melihat apa yang terjadi dan tertawa geli. "Mereka masih anak-anak."

"1 sendok? Dari mulut ke mulut..." Wonwoo menggelengkan kepalanya.

"Eunwoo mau..." sang adik datang mengganggu sang kakak yang sedang asyik berdua dengan Binnie. Binnie yang tak sabar mengambil alih yogurt yang sempat dipegang oleh Minhyuk dan mulai makan sendiri.

Minhyuk hanya terdiam karena yogurt telah berpindah tangan.

"Mau angguh?" Tawarnya pada sang adik.

Eunwoo mengangguk dan Minhyuk segera mengambil beberapa buah anggur dan langsung menyuapi sang adik.

"Itu apa?" Binnie kembali bertanya.

"Angguh, mau?" Tawar Minhyuk dan langsung memberikan buah tersebut pada Binnie.

"Anak-anak sedang apa?" Tanya Seokmin dengan berjongkok menyamakan tingginya dengan Minhyuk.

"Angguh, uncle." Minhyuk menyuapi buah anggur ke mulut Seokmin.

"Hmm enak ya, manis." Ucap Seokmin senang, Minhyuk hanya tertawa dan terus memberikan buah kepada Eunwoo dan Binnie. Ia telaten menyuapi kedua gadis cilik.

Seokmin mengusap lembut kepala Minhyuk dan kembali berkumpul bersama tamu yang lain.

"Nie, mau ini." Binnie meminta perhatian pada Minhyuk untuk diambilkan yogurt lagi. Minhyuk yang memiliki tubuh paling tinggi langsung menurut mengambil dan berlari mendekati sang ibu meminta dibuka.

Binnie menunggu dan Minhyuk kembali mendekat lalu menyuapi lagi. Eunwoo tak mau kalah langsung ikut mengambil yogurt dan memberikan pada sang kakak.

"Minta buka sama mama." Ucap Minhyuk, sang adik menurut langsung mendekati sang ibu sesuai perintah dari kakak kembarannya.

Jisoo mendekati para tamu setelah mengatur untuk menu makan siang. Ia hanya terdiam melihat putrinya disuapi oleh anaknya Mingyu.

"Linlin mana? Jihoon... Jihoon...!" Jisoo mencari sang adik.

"Iya, kenapa eonnie..." Jihoon datang tergesa setelah mendengar namanya dipanggil.

"Sini, cepat! Ambil foto mereka!"

"Oohh.." Jihoon hampir tertawa melihat kebersamaan Minhyuk dan Binnie diantara keramaian para tamu.

Jisoo tak bisa menahan tawanya, bahkan Jihoon harus ekstra konsentrasi saat mengambil gambar agar terlihat bagus.

Wonwoo yang melihat hanya tersenyum maklum sambil menyuapi putrinya makan yogurt.

"Maaf ya eonnie..."

"Tidak apa Wonwoo-ya, mereka sangat lucu."

"Kenapa aku jadi iri melihatnya? Aku belum pernah disuapi olehmu." Ucap Jihoon pada Guanlin, tangannya sibuk menekan tombol pada kameranya melihat hasil foto yang telah ia ambil.

"Mau? Aku ambil yogurt juga, tunggu ya." Guanlin mendekati meja prasmanan dimana banyak makanan ringan disediakan. Jihoon hanya tersenyum geli, padahal ia hanya meledek saja tapi Guanlin ternyata serius mengikuti apa yang dilakukan Minhyuk pada Binnie.


oOo


Jisoo menghampiri Seokmin yang sedang sibuk membaca berita online dari tablet gadgetnya. Sang putri sudah terlelap setelah di nina-bobokan, seharian ia lelah bermain sehingga saat disuruh tidur dengan cepat langsung terlelap.

Jisoo langsung duduk di dekat Seokmin yang sedang menyender pada sandaran kepala ranjang mereka.

"Kenapa?" Seokmin mengalihkan perhatiannya dari tablet dan menatap sang istri yang seolah meminta perhatian.

"Punggung aku pegal..." pinta Jisoo manja.

Seokmin tampak berpikir dan menengok sang putri yang sudah berbaring di sampingnya.

"Di luar saja..." ajak Seokmin dan Jisoo menurut langsung keluar kamar menuju ruang tengah rumah mereka.

Jisoo merasa nyaman dengan pijatan dari sang suami yang selalu dapat diandalkan saat ia membutuhkan bantuan. Seokmin hanya tersenyum melihat Jisoo yang sangat menikmati pijatannya.

"Bagaimana? Enak?" Seokmin berbisik dan tangannya berubah memeluk sang istri.

"Hmm tentu saja enak..." Jisoo semakin menyandarkan dirinya dengan nyaman. Seokmin mencium pelipis sang istri dengan sayang dan semakin erat memeluknya.

"Bagaimana di kantor hari ini?" Seokmin memulai obrolan setelah seharian bekerja.

"Hmm masih sama seperti kemarin, besok aku mau ajak Binnie saja ke kantor."

"Apa tidak mengganggu kamu?"

"Aku rasa tidak, dia anak yang penurut. Di kantor juga belum terlalu sibuk. Bagaimana? Boleh?"

Seokmin tersenyum. "Kalau begitu, besok pagi aku antar kalian berdua dan sorenya aku jemput lagi lalu kita makan malam bertiga."

"Good idea!" Pekik Jisoo senang.

"Atau nanti aku yang ke kantor kamu, bagaimana?"

"Jangan, kamu pasti repot karena bawa banyak barang. Biar aku yang jemput, kalian tunggu saja."

"Baiklah..."

"Mom..." terdengar teriakan lalu suara tangisan dari dalam kamar membuat Jisoo langsung terbangun melepas pelukan sang suami dan bergegas ke kamar.

Seokmin hanya tersenyum melihat sang istri yang cekatan, tak lama Jisoo keluar kamar dengan menggendong putrinya.

"Kenapa?"

"Sepertinya haus..." jawab Jisoo dan segera berjalan menuju dapur. Jisoo memang sudah tidak menyusui lagi karena sang putri sudah semakin besar meski belum genap 2 tahun.

"Biar aku yang buatkan..." Seokmin langsung mengambil botol susu yang sudah dicuci.

"Thank you daddy..." bisik Jisoo pelan dengan masih terus mengusap punggung sang putri. Jisoo membawa putrinya ke ruang keluarga dan Seokmin menghampiri setelah selesai membuatkan susu.

Jisoo dan Seokmin terus tersenyum menatap buah hatinya yang tampak asyik menghabiskan susu. Binnie sendiri sesekali tertawa di saat memegang botolnya sendiri.

"Setelah ini sikat gigi lagi ya..." ucap Seokmin pada sang putri.

"Oke..." Seokmin masih mengajaknya berbicara dan sang putri masih asyik menyedot susu.

"Iya daddy..." jawab Jisoo menirukan suara anak kecil. Tak butuh waktu yang lama karena susu telah habis.

"Sudah malam, ayo tidur lagi. Sikat giginya dulu." Perintah Seokmin pada putrinya, Jisoo menurut langsung menggendong dan membawa putrinya ke kamar mandi.

Binnie melangkah pelan saat masuk ke dalam ruang tidur, Seokmin menyambutnya namun ia bergerak mundur agar langkah sang putri semakin terlatih.

"Dad... kuda... kuda..."

"Haaa kuda? Naik kuda?"

Jisoo hanya tertawa dan langsung menggendong putrinya agar naik ke punggung Seokmin. Seokmin mau tak mau mengikuti permintaan sang putri.

Binnie tertawa senang, tangan mungilnya mencengkeram erat piyama sang ayah dan Jisoo menjaga agar sang putri tidak terjatuh.

"Sudah ya..." pinta Seokmin setelah cukup pegal berkeliling kamar.

"Lagi..."

"Besok lagi ya, sekarang sudah malam." Ucap Jisoo menenangkan dan Binnie menurut. Beruntunglah Seokmin memiliki putri yang penurut.

"Nite mommy, nite daddy..." Binnie mencium satu-persatu kedua orang tuanya. Tak lama sang putri terlelap setelah merasa nyaman punggungnya terus diusap-usap oleh sang ibu. Seokmin sendiri langsung ikut terlelap meninggalkan Jisoo yang masih terjaga. Jisoo ikut memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh agar ia kembali segar untuk aktivitas esok.


oOo


Binnie sudah cantik dan siap ikut Jisoo ke kantor, begitu juga dengan Seokmin. Sebelumnya Jisoo pernah membawa anaknya ke kantor namun hanya sebentar lalu ia menitipkan pada sang ibu. Kali ini ia mencoba membawa anaknya lebih lama dan berharap sang putri merasa betah.

Karena Jisoo ingin selalu merasa dekat dengan sang putri, tapi ia tidak ingin melepas pekerjaannya saat ini. Dengan penghasilannya ia bisa membuat tabungan pendidikan untuk sang putri walau Seokmin lebih bertanggung jawab penuh untuk keluarga kecilnya. Setidaknya Jisoo bisa membelikan pakaian yang bagus untuk sang putri tanpa meminta dari suaminya.

"Sudah dibawa semua? Tidak ada yang tertinggal?" Seokmin mengecek lagi segala persiapan yang akan dibawa.

"Sudah, popok, susu, baju ganti, mainan, bedak, camilan."

"Oke." Seokmin membawa tas yang berisi perlengkapan putrinya dan bersama keluar dari rumah.

Binnie sendiri tampak senang saat berada di dalam mobil, banyak pemandangan yang ia lihat dan Jisoo langsung mengenalkan berbagai hal pada sang putri.

"Kalau ada apa-apa segera kabari." Ucap Seokmin setelah mengantarkan Jisoo dan Binnie ke ruang kerja Jisoo.

"Oke."

"Jangan nakal ya, daddy kerja dulu." Seokmin mencium pipi sang putri saat pamitan.

"Bye daddy..." ucapnya riang dengan memeluk boneka teddy bear kesayangannya.

"Aku pergi dulu..." ucap Seokmin disertai kecupan singkat pada bibir Jisoo.

"Hati-hati..." balas Jisoo.

Setelah Seokmin keluar ruangan, Yebin dan Pinky langsung berebut masuk untuk bertemu Binnie.

"Hallo Binnie..." sapa Pinky gemas dengan mencubit pipi bocah di depannya.

"Onti Ky, onti Bin..." sapa Binnie belum lancar berbicara karena kata yang baru lancar diucapkan oleh Binnie baru mommy dan daddy.

"Eonnie, dia lucu sekali. Mirip sekali denganmu!" Puji Yebin dengan gemas.

"Siapa dulu ibunya." Ucap Jisoo bangga.

"Tapi tanpa kerja keras Seokmin tidak mungkin terjadi ya." Ledek Pinky dan membuat Yebin tertawa geli.

"Aish kalian..." wajah Jisoo langsung bersemu merah.

"Tapi memang bibit dari kalian berdua juga bagus. Jadi ingat Mingyu, kedua anaknya juga lucu-lucu." Puji Yebin.

"Istrinya saja cantik, tapi aku juga cantik." Pinky mengibaskan rambut panjangnya dan mengedip nakal pada Yebin.

"Iya cantik percaya..." ucap Yebin merasa kesal dengan tingkah centil Pinky. Binnie yang melihat hanya terdiam karena tidak mengerti, dan berakhir dengan tertawa geli karena melihat mimik wajah Yebin yang kesal.

...

...

Sesuai janji pada sore harinya Seokmin menjemput istri dan putrinya. Sang putri berteriak heboh saat ayahnya datang dan langsung minta gendong.

"Binnie sudah kamu suapi?"

"Sudah."

"Apa dia rewel seharian?"

"Tidak juga, hanya saat mengantuk saja dia agak rewel." Ucap Jisoo setelah beberes tas milik putrinya. Seokmin terbiasa bertanya keseharian sang putri, Jisoo merasa senang karena Seokmin sangat perhatian walau terkesan lebih cerewet dibanding dirinya.

"Ayo pulang." Ajak Seokmin, dan Jisoo langsung merubah mimik mukanya.

"Makan dulu pastinya, tenang saja... aku tidak lupa sayang..."

Jisoo langsung tersenyum malu, baginya bisa pulang kerja bersama jarang mereka lakukan karena kesibukan keduanya.

"Binnie ikut mommy kerja?"

"Iya..."

"Disana ada siapa?"

"Ada onti Ky, onti Bin..."

"Binnie lelah tidak?"

"Lelah... eh tidak..." sang putri tertawa walau belum terlalu paham.

Seokmin terus mengajaknya berbicara sebagai latihan untuk bisa mengobrol, Jisoo ikut tersenyum.

Seokmin mengajak makan malam Jisoo di sebuah restoran keluarga. Suasana lumayan ramai, sang putri tampak tenang duduk sendiri di kursi makan bayi.

Jisoo memesan camilan berupa roti panggang untuk putrinya agar sang putri tidak merasa bosan di saat menunggu kedua orang tuanya makan.

"Sayang, coba cicipi. Ini enak." Seokmin menyuapi Jisoo potongan ayam panggang miliknya. Jisoo mengangguk menyetujui.

"Daddy aaaa..." balas Jisoo menyuapi sang suami dengan makanan miliknya. Seokmin langsung melahap makanan yang disodorkan istrinya dan tersenyum senang.

Sang putri sendiri terlihat asyik mengunyah roti panggangnya. Jisoo terus mengawasi selama ia makan.

"Kita pesan puding juga ya, untuk Binnie..." saran Seokmin.

"Sebentar, jangan terlalu kenyang kasihan perutnya."

"Binnie-ya, mau puding?" Tanya Jisoo, ia sengaja bertanya apa sang putri masih ingin makan atau sudah merasa cukup.

"Mau." Jawabnya cepat.

Seokmin tertawa mendengarnya, ia yakin kalau sang putri belum terlalu paham jadi langsung menyetujui.

"Ya sudah pesan saja. Kalau tidak habis, kamu yang habiskan ya." Ucap Jisoo, Seokmin langsung tertawa mendengarnya.

"Baiklah..."

Dan benar adanya sang putri tampak sudah kenyang, walau roti belum habis ditambah dengan puding yang hanya di makan sebagian saja. Sisa makanan, Seokmin yang menghabiskan semuanya daripada terbuang.

"Ayo pulang..." ajak Jisoo setelah selesai makan malam bersama. Seokmin menggendong sang putri dan Jisoo berjalan ke kasir untuk membayar.

"Dia pasti sangat lelah seharian ini." Seokmin melirik pada putrinya yang terlelap selama perjalanan pulang. Binnie tampak nyaman dalam dekapan sang ibu.

"Benar, seharian ini ia sibuk belajar menghafal alfabet dan warna."

"Anak pintar. Oh iya, tadi eomma telepon dan besok dia mau ke rumah, dia kangen sama Binnie."

"Eomma mau datang? Kalau begitu aku telepon mama juga agar eomma ada teman besok."

"Boleh, Binnie pasti senang kedua neneknya datang."

Jisoo langsung mencari ponselnya namun ia kesulitan karena sedang memangku anaknya yang tidur.

"Ini, pakai ponselku." Seokmin memberikan ponselnya pada Jisoo dan ia segera menelepon ibunya.

...

...

"Oh iya, saat akan membayar tadi aku menerima pesan dari Bank." Ucap Jisoo setelah menelepon ibunya.

"Oh? Ada apa? Kamu tidak telat membayar cicilan rumah kan?" Seokmin berubah panik karena semenjak menikah semua gajinya diatur oleh Jisoo.

Jisoo tertawa geli melihat ekspresi sang suami. "Tentu saja tidak, itu kan sudah dibuat otomatis untuk pendebetan. Tadi pemberitahuan ada dana masuk. Uang darimana?"

"Oh... itu pasti pembayaran dari teman kuliahku. Dia sempat minta tolong padaku karena akan membuka usaha jadi aku membantunya menghitung anggaran dan dia memberi fee padaku." Seokmin melirik dan tersenyum setelah menjelaskan, Jisoo terdiam.

"Kenapa?"

"Tidak, kamu bekerja sangat keras untuk aku dan Binnie." Ucap Jisoo pelan merasa terharu karena bukan sekali Seokmin mencari dana tambahan di luar gajinya.

"Kenapa bicara begitu? Karena aku kepala keluarga, Mingyu sendiri juga terkadang mengambil job lagi. Tujuannya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya."

"Keluarga." Ucap Jisoo lirih dan ia tersenyum dengan terus menatap pemandangan malam hari. Ia melirik ke arah Seokmin yang sedang mengemudi dan mengusap lembut wajah putrinya. Jisoo bersyukur dengan kehadiran Seokmin dan Binnie dalam kehidupannya.

Seokmin yang dapat ia andalkan saat ia butuh saran, Seokmin yang selalu melindunginya. Seokmin yang sangat perhatian pada kebutuhan sang anak, dan Seokmin yang masih sering memberinya kejutan manis seperti yang dilakukan saat sebelum mereka menikah.

...

...

Jisoo sudah mengganti pakaian tidur untuk Binnie dan sedikit memaksa sang anak untuk menyikat gigi setelah sampai di rumah. Jisoo sudah menerapkan disiplin pada anaknya sejak dini.

Kini ia bersantai di ranjang dan Binnie sudah terlelap kembali di sebelah Jisoo. Jisoo terus menatap sang putri, berpikir untuk melepas sang anak agar bisa belajar tidur sendiri.

"Hei, kenapa melamun?" Seokmin yang baru selesai mandi langsung duduk di sebelah Jisoo berbaring.

"Tidak, aku hanya berpikir kalau Binnie belajar tidur sendiri di kamarnya bagaimana? Apa terlalu cepat?"

Seokmin tersenyum menatap Jisoo. "Kenapa? Apa kamu merindukan saat kita tidur berdua?"

"Ish... apa sih?"

"Kalau kamu merindukannya, bagaimana kalau malam ini?" Bisik Seokmin terkesan nakal.

"Ish..." Jisoo mencubit gemas dan Seokmin menyuruhnya agar tetap tenang dan terus melirik ke arah sang putri. Jisoo paham akan situasinya, Seokmin langsung menggendong tubuh sang istri untuk keluar dari kamar mereka dan menutup pintu dengan rapat.

Ruang keluarga menjadi tempat mereka untuk menyalurkan hasrat keduanya. Karena tidak mungkin bagi mereka melakukan di kamar, walau sang putri tidur dengan nyenyak namun mereka takut kalau sang anak tiba-tiba terbangun dan melihat aktivitas kedua orang tuanya.

Tak butuh pemanasan yang lama karena Seokmin sendiri sudah menahannya dan mencari momen yang tepat dimana Jisoo dalam kondisi yang fit untuk bersama melakukan olahrga malam. Jisoo sendiri menahan suara agar tidak berisik saat Seokmin dengan nafsu memburu mencium setiap inchi lehernya.

"Besok aku coba bujuk ia tidur sendiri." Ucap Jisoo dengan tangannya yang sudah bergelayut manja melingkar di leher sang suami.

"Jangan terlalu dipaksa." Ucap Seokmin, Jisoo hanya merengut menggemaskan.

"Tapi aku serahkan padamu, kalau berhasil... aku bisa konsentrasi membuat adik untuk Binnie." Ucap Seokmin dengan kekehannya.

"Apa?! Adik?" Jisoo memukul dada Seokmin dan menutup wajahnya karena malu.

"Oke! Itu nanti kita program lagi." Tutup Seokmin dan langsung membungkam Jisoo dengan ciumannya.

.

.

.

TBC

Annyeong,

Maafkan kalau ini di update sangat lama karena genre family seperti ini sangat sulit TT, dan maafkan kalau tidak sesuai harapan. Chap ini terjawab siapa yeoja-chingu Guanlin ya... dan dari repiu kemarin christachrista menjawab dengan benar. Hehehe...

Yang kangen si kembar aku coba selipkan di chap ini ya...

Thank's to :

Moon Vibes / wpvlfk / rizka0419 / Tyna89Meanie / Mockaa17 / marinierlianasafitri / wortelnyasebong / shfly9 - Kim / Cha KristaFer / novi07citra / Guest / thania . thania / christachrista / jeon milikku / Kacha

10 Juni 2018

#happyJUNday