.

Secret Admirer

.

oOo

.

Seoksoo

.

oOo

.

Genderswitch

.

oOo

.

Happy Reading

Akhir pekan, keluarga kecil Lee pergi berbelanja. Jisoo sibuk memilih barang dan Seokmin bertugas menggendong putrinya.

"Binnie suka yang mana?" Jisoo memperlihatkan motif seprei untuk putrinya. Binnie hanya terdiam dengan terus memandang gambar tokoh princess tersebut.

Seokmin mengulum senyum karena sudah tahu alasan Jisoo memancing sang anak untuk memilih.

"Mau yang mana? Yang ini Cinderella, yang ini Frozen. Pink atau biru?" Jisoo masih berusaha.

"Pink." Tunjuk Binnie, Jisoo tersenyum senang dan langsung menyuruh pegawai untuk membuatkan nota.

Seokmin mengajak berkeliling sambil menunggu Jisoo menyelesaikan pembayaran.

"Daddy, mau itu."

"Yang mana? Ini?" Seokmin mengambil boneka kucing yang ditunjuk oleh putrinya. Binnie langsung memeluknya.

"Binnie suka?"

"Suka..." jawabnya cepat dengan masih terus memeluk boneka pilihannya. Seokmin langsung mendekati Jisoo yang sedang mengantri.

"Sayang, tambah 1 lagi." Ucap Seokmin dengan memberi boneka yang sedang di pegang oleh putrinya, Jisoo langsung membayar belanjaan.

"Daddy, bonekanya..."

"Iya sabar, sedang dibayar ya..." Seokmin membujuk agar putrinya tidak rewel. Binnie hanya tertawa tidak jadi menangis dan tangan mungilnya memainkan ujung hidung bangir milik sang ayah.

"Ini bonekanya..." Jisoo memberikan boneka setelah membayar.

"Wah lihat, bonekanya sudah boleh dibawa pulang." Ucap Seokmin riang dan membuat Binnie semakin tertawa senang.

"Beli apa lagi?"

"Hmm sudah sepertinya, makan saja dulu. Sudah jamnya Binnie makan siang."

"Oke." Seokmin mengajak Jisoo keluar dari toko untuk mencari restoran. Jisoo langsung mengapit lengan suami agar tidak berpencar di tengah keramaian pengunjung lain.


oOo


Jisoo mengatur kamar putrinya, semua mainan termasuk boneka ia atur agar sang putri senang dengan kamarnya sendiri.

Hingga saat jam untuk Binnie tidur, Jisoo mengajak ke kamar anaknya.

"Tidur disini, lihat ini seprei yang kemarin Binnie pilih..."

Binnie hanya terdiam terus memandang seprei bergambar tokoh princess itu. Jisoo menurunkan sang putri dalam gendongan namun Binnie histeris ketakutan.

"No mommy... no..."

"Tidak apa..."

"No...!"

Binnie menolak turun seolah paham, ia menjadi ketakutan sendiri. Kedua tangan mungilnya terus memeluk leher sang ibu, menolak untuk turun.

"It's okay..." Jisoo mengusap punggung putrinya yang masih terus menangis.

"Daddy..." panggilnya dalam isak tangis, Jisoo membawa putrinya kembali ke kamarnya. Malam ini ia gagal membujuk.

"Kenapa?" Tanya Seokmin saat Jisoo baru masuk kamar mereka lagi.

"Daddy..." Binnie mengadu dengan sudah banjir air mata, Seokmin langsung paham ia mengambil alih menggendong putrinya dan langsung berhenti menangis.

Jisoo hanya merengut, Seokmin tersenyum dan mengusap lembut kepala Jisoo, tak lupa melayangkan kecupan singkatnya pada puncak kepala sang istri.

"Istirahatlah, biar aku tenangkan Binnie."

Jisoo menurut langsung menuju ranjangnya untuk bersiap tidur sementara Seokmin melantunkan lullaby kesayangan putrinya sebelum tidur.

Malam itu mereka masih tidur bertiga, Jisoo sendiri akan mencari tahu pada ibunya esok.


oOo


Jisoo menyempatkan pulang di siang hari untuk makan siang bersama ibunya. Wanita cantik itu segera keluar dari mobil menuju pintu rumah dan melihat putrinya menyambut dengan senang.

"Mommy..." teriak Binnie melihat ibunya pulang.

"Sedang apa?"

"Main..." ucapnya senang dan langsung kembali ke ruang tengah dimana semua mainannya berserakan.

"Sudah datang? Sayurnya pas sekali baru matang." Ucap sang ibu dari arah dapur.

"Binnie sudah makan?"

"Belum, baru mama mau suapi."

Jisoo langsung mengerti dan menyiapkan makanan untuk anaknya. Setelah menyuapi makan maka giliran Jisoo makan.

"Kamu merapihkan kamar Binnie?"

"Iya, Binnie sudah cukup besar untuk tidur sendiri."

"Ada apa memangnya?" Tanya sang ibu dengan tersenyum.

"Tidak ada apa-apa ma, hanya agar ia mandiri saja." Jawab Jisoo namun pipinya bersemu merah.

"Oh, mama pikir karena Seokmin yang minta. Kalian mau punya anak lagi?"

"Mama...!" Jisoo merengut kesal namun pipinya terus bersemu merah.

"Tidak apa Jisoo, mama senang kalau kalian punya anak lagi. Jarak Binnie untuk punya adik juga cukup."

Jisoo terdiam dan menarik nafasnya.

"Semalam aku gagal membujuknya, ia malah menangis dan mencari ayahnya."

"Lalu? Apa Seokmin mencobanya?"

"Belum."

Sang ibu mengangguk mengerti apa yang membuat gelisah putrinya dan melirik cucunya yang masih sibuk bermain sendiri.

"Ajak ia tidur siang di kamarnya." Perintah sang ibu.

"Mungkin dia menolak karena belum terbiasa."

Jisoo menurut langsung menghampiri putrinya dan membujuk untuk tidur siang. Jisoo mengajak ke kamar anaknya namun tak lama ia kembali lagi dan masuk ke kamar utama.

"Bersabarlah... nanti mama coba bantu menyesuaikan agar ia betah di kamarnya." Ucap sang ibu menenangkan.

...

...

Mingyu berjalan dengan Chan setelah menghadiri rapat bersama klien. Langkah panjangnya memasuki ruang kerjanya dan ternyata Seokmin sudah menunggu disana.

"Sudah lama?" Mingyu melepas jasnya dan langsung menggantungnya dekat meja kerjanya.

"Tidak juga, baru 10 menit lalu." Ucap Seokmin beranjak dari sofa menuju meja kerja Mingyu dan menggeser salah satu kursi disana.

"Ini yang kamu minta." Seokmin memberikan file laporan dan Mingyu segera memeriksanya.

"Gyu, hmm..."

Mingyu melirik Seokmin disela membaca, Seokmin tampak ragu ingin bertanya.

"Kenapa? Katakan saja."

"Itu... hmm... aku mau tanya..."

"Yak! Apa kamu kesulitan buang air kecil? Kenapa ditahan begitu?"

"Yak, saluran kencingku masih lancar." Balas Seokmin cepat dan Mingyu terkekeh geli bisa memancing sahabatnya lancar bicara.

"Kenapa?"

"Aku mau tanya, saat anakmu lepas tidur sendiri di usia berapa?"

Mingyu terdiam dan mencoba mengingat. "Aku lupa, umur berapa ya? Kenapa? Kamu mau melepas anakmu juga saat ini?"

"Iya, Jisoo yang minta."

Mingyu menaikkan alisnya. "Jisoo noona yang minta? Bukan kamu?"

"Eih, aku serius. Aku malah belum berpikir akan melepas putriku untuk tidur sendiri."

"Binnie umur 2 tahun bukan? Seingat aku si kembar juga sudah tidur sendiri saat umur segitu."

"Oh? Benar jadi tidak masalah kalau tidur sendiri?"

"Aku rasa tidak, karena kedua anakku tubuhnya berkembang cepat dan tidur dalam 1 ranjang berempat itu cukup sulit. Haha..."

"Ah benar, tubuhmu besar pasti merasa sesak dan anakmu 2. Kalau Binnie putriku kan tidak."

Mingyu masih terkekeh geli melihat Seokmin yang galau.

"Jadi, kamu ingin melepasnya?"

"Iya, dan belum berhasil. Pada saat itu apa yang kamu lakukan hingga membuat anakmu mau tidur sendiri?"

"Hmm aku mendekor ulang kamar anak-anak, membeli ranjang sesuai keinginan mereka."

"Itu sudah aku lakukan, bahkan Jisoo membeli seprei pilihan Binnie sendiri."

"Temani ia saat mau tidur, bacakan dongeng." Mingyu memberi saran.

"Ahhhh begitu..."

"Tentunya harus kalian berdua, karena ia terbiasa tidur diantara kalian. Ia merekam dalam memorinya, selalu ada kalian saat ia tidur."

Seokmin mengangguk paham.

"Awalnya memang sulit, aku sempat merasakannya juga namun mereka akan terbiasa. Setelah itu tanpa aku temani, cukup Wonwoo maka kedua anakku tidur dengan cepat."

"Terima kasih Gyu."

"Setelah putrimu bisa tidur sendiri, kalian akan seperti pengantin baru." Mingyu terus meledek membuat Seokmin sibuk berfantasi membayangkan ucapan Mingyu.

"Oh iya, Mr. Kang mengundang kita ke launching waterboom. Kamu mau kesana? Lumayan rekreasi anak-anak, gratis pula." Ucap Seokmin senang.

"Oh, boleh juga kedua anakku hobi berenang. Kamu mau kesana juga?"

"Hmm tentu saja, acaranya akhir pekan ini."

"Oh, boleh. Aku akan beritahu Wonwoo." Mingyu tertawa senang langsung meraih ponselnya untuk memberitahu pada Wonwoo.

Seokmin juga sibuk sendiri dengan terus menatap layar ponselnya, Mingyu melirik curiga karena Seokmin terus tersenyum.

"Ada apa?"

"Oh, tidak. Jisoo sedang bingung memilih baju renang untuk Binnie. Kalau punya anak perempuan, semuanya lucu-lucu." Seokmin memperlihatkan isi ponselnya pada Mingyu.

"Iya, salah satu yang membuat Wonwoo kalap belanja juga untuk Eunwoo." Ucap Mingyu menyetujui ucapan Seokmin.

"Hahahaha..." Seokmin tertawa geli. Mingyu hanya menggelengkan kepalanya, curahan hati seorang suami disela obrolan santai.

"Aku berani jamin, kamu pasti tidak bisa memarahi istrimu." Seokmin menebak dan Mingyu tidak menjawab hanya tersenyum saja, cukup membuat Seokmin mengetahui jawabannya.


oOo


Seokmin pulang ke rumah dan Jisoo yang sudah pulang lebih awal tampak menemani putri mereka sedang bermain berdua.

"Daddy..." sapa Binnie riang menyambut kedatangan ayahnya dan langsung memeluk.

"Belum tidur sayang?"

"Belum..."

"Tidak mau tidur kalau kamu belum pulang." Ucap Jisoo.

Seokmin mengangguk mengerti dan langsung pamit mandi. Setelah mandi, ia mencoba mengantar tidur Binnie di kamar sendiri.

Sesuai saran Mingyu, Seokmin sengaja membeli buku cerita saat ia dalam perjalanan pulang tadi.

Binnie tertawa senang saat sang ayah membacakan cerita. Jisoo melihatnya hanya tersenyum, Seokmin mau membantunya dalam mengurus anak.

Selama mendengarkan dongeng, Jisoo ikut rebahan di sebelah putrinya, dan hampir ikut terbius kalau Seokmin tidak mencolek ujung hidung mancung Jisoo agar tidak tidur.

Binnie sendiri mulai memejamkan mata dengan terus memeluk boneka kucingnya. Jisoo secara perlahan bangun dan menunggu putrinya benar-benar nyenyak baru ditinggal.

Tak lupa kecupan diberikan oleh mereka sebelum pergi meninggalkan putrinya yang sudah benar-benar tertidur.

"Sukses!" Ucap Jisoo senang.

"Kamu suka?"

Jisoo hanya mengulum senyum dan keduanya bersiap untuk tidur.

"Dia lebih menurut dengan kamu."

"Aku hanya mencoba apa yang disarankan oleh Mingyu."

"Aaaahh begitu, dia memang lebih berpengalaman."

Keduanya terdiam, dan masih terjaga walau tubuh mereka sudah merasakan lelah seharian bekerja.

"Aku merasa aneh..." ucap Jisoo.

"Aku juga..."

"Apa dia baik-baik saja?" Jisoo tidak tenang sendiri.

"Kita kan sudah pasang alarm, kalau terjadi sesuatu pasti akan bunyi." Balas Seokmin.

"Mungkin kita belum terbiasa..." Jisoo mencoba menenangkan diri.

"Tidurlah... lama juga aku tidak memelukmu seperti ini..." Seokmin menarik Jisoo dalam dekapannya.

Jisoo langsung menyambut dengan senang bisa kembali berpelukan saat tidur. Ia berusaha memejamkan mata dan akhirnya langsung terlelap.

Suara tangisan nyaring terdengar dari alarm yang diletakkan di meja nakas sebelah Jisoo. Jisoo langsung terbangun dan panik sementara Seokmin masih terlelap. Jisoo langsung menghambur keluar kamar menuju kamar anaknya dan mendapati Binnie menangis.

"Kenapa sayang?"

Binnie terus menangis dan mengamuk merasa kesal karena terbangun di tempat yang masih asing dan tidak ada kedua orang tuanya.

Jisoo langsung memeluk dan menggendongnya, namun Binnie terus menangis dan meronta masih merasa kesal. Jisoo pikir sudah berhasil mengajari Binnie tidur sendiri namun Binnie masih belum terima.

"Ada apa?" Seokmin datang membantu menenangkan, bergantian menggendong sang putri.

"Tidak tahu, mengamuk." Jisoo masih berusaha menenangkan. Seokmin mengambil alih menggendong putrinya yang masih mengamuk.

"Sudah tenang ya..." Seokmin terus mengusap punggung putrinya dan perlahan tangisan Binnie mereda. Jisoo sendiri ikut memeluk putrinya seolah meminta maaf agar Binnie tidak marah padanya.

"Mommy..." panggilan Binnie dengan masih terisak.

"Iya sayang..."

Binnie masih terisak dan akhirnya diputuskan mereka kembali tidur bertiga. Baru sekitar 4 jam yang lalu mereka merasakan tidur tanpa anak, kini mereka kembali tidur bersama.


oOo


Seokmin mengetuk jari tangannya yang panjang di meja kerjanya. Kejadian semalam masih ia pikirkan, jarang-jarang Binnie mengamuk seperti semalam. Selama ini putrinya selalu tenang, walau menangis pun masih dalam batas wajar namun semalam Binnie terlihat sangat kesal pada kedua orang tuanya.

Mingyu yang sedang berjalan melihat ke dalam ruang kerja Seokmin yang hanya di lapisi kaca jadi melihat dengan jelas apa yang terlihat di dalam ruangan.

"Hei, melamun?"

Seokmin sedikit terkejut dengan kedatangan Mingyu, sahabatnya langsung duduk pada kursi di depan meja kerja Seokmin.

"Aku gagal..."

"Gagal? Maksudmu gagal dimana? Proyek kita dengan Mr. Gong? Kamu gagal meyakinkan beliau? Yak! Apa yang harus aku laporkan pada Big Boss kalau begini?"

"Eish eish Gyu, kalau itu sudah oke. Kamu tenang saja..."

"Lalu?"

"Semalam putriku mengamuk saat sadar ia tidur sendiri."

Mingyu tertawa geli dan paham apa yang sedang membuat sahabatnya galau.

"Aku sudah melakukan apa yang kamu sarankan, baca cerita sebelum tidur dan awalnya berhasil namun tengah malam ia terbangun dan mengamuk."

"Oke, aku paham. Sepertinya kamu melupakan poin penting."

"Hmm? Poin penting? Apa?"

"Apa kamu ada pembicaraan dengan Binnie sebelumnya? Sekedar basa-basi meyakinkan dia untuk mulai tidur sendiri. Walau ia masih kecil namun ia mulai paham dengan keadaan sekitar."

"Tidak, aku hanya langsung membawanya ke kamar karena Jisoo mengatakan kalau Binnie tidak mau tidur sebelum aku pulang."

Mingyu kembali tertawa dan mengangguk mengerti.

"Sebaiknya kamu bicara dulu dengannya seperti, Binnie malam ini belajar tidur sendiri ya, karena Binnie sudah besar."

Seokmin terdiam dengan terus menatap Mingyu.

"Atau terserah kamu mau mengatakan apa, yang jelas terus meyakinkan dia agar berani. Dan jangan lupa ajari dia berdo'a sebelum tidur maka itu akan menjadikan kebiasaan pada anak-anak."

Seokmin mengangguk mengerti. "Iya aku melupakannya semalam karena aku sudah sangat lelah ingin langsung istirahat.


oOo


Jisoo sibuk mengurus Binnie sejak pagi, sementara Seokmin menyiapkan keperluan lain dengan membuat camilan untuk di waterboom nanti.

"Mommy, Binnie mau swim..."

"Iya..." Jisoo terus tersenyum selama memakaikan pakaian pada putrinya.

"Swim... swimming... swim... swimming..." Binnie terus mengoceh mempelajari kosa kata baru yang selalu Jisoo ajarkan. Jisoo terus tersenyum mendengarnya.

"Beach..."

"Bukan sayang, tapi swimming pool."

"Swimming fool..." Binnie mencoba meniru ucapan ibunya.

"Bukan fool tapi pool. Kalau swimming fool itu judul lagu." Jisoo terus mengoreksi apa yang diucapkan putrinya.

Binnie tertawa dan Jisoo ikut tertawa, dia merasa lucu karena di umur Binnie yang baru 2 tahun namun sangat cerewet efek Seokmin suka mengajaknya bercerita.

"Seru sekali, lagi cerita apa? Daddy ikut dong..."

Binnie terus tertawa senang.

"Mingyu ikut juga?"

"Iya tentu dia ikut, dan si kembar juga ikut. Binnie punya teman nanti." Seokmin menangkup gemas pipi putrinya yang berkulit putih mulus.

"Hmm oke." Jisoo mengangguk mengerti dan Binnie sudah siap pergi berenang setelah semuanya rapi.


oOo


Keluarga kecil Mingyu sudah datang dan kedua anaknya yang tidak bisa diam selalu bermain. Wonwoo sendiri hanya duduk menunggu namun terus mengawasi kedua anaknya yang sedang berebut boneka milik Eunwoo. Minhyuk memang kadang suka mengganggu mainan adiknya namun Eunwoo tidak pernah marah malah keduanya selalu tertawa.

"Hai Won." Sapa Jisoo dengan memegang tangan putrinya.

"Hai, eonnie. Hallo Binnie!" Sapa Wonwoo dan Jisoo langsung ikut duduk dekat Wonwoo. Binnie hanya terdiam dengan terus fokus ke arah Minhyuk dan Eunwoo.

"Hyukie, Eunwoo sudah berhenti. Beri salam pada aunty Jisoo." Wonwoo memerintah dan kedua anaknya langsung berhenti dan menoleh ke arah Jisoo dan Binnie.

Minhyuk dan Eunwoo berdiri dan langsung membungkuk memberi salam namun tak lama keduanya asyik sendiri dengan melanjutkan bercanda.

"Maaf ya..." ucap Wonwoo.

"Tidak apa Won."

Binnie langsung menoleh ke arah sang ibu dan hanya tersenyum. Ia hanya diam dengan sesekali tertawa kecil melihat Minhyuk dan Eunwoo asyik dengan dunianya sendiri.

"Won, tidak turun?" Tanya Jisoo karena Wonwoo hanya duduk berteduh menghindari sinar matahari.

"Tidak. Aku mengawasi dari sini saja."

"Oh... begitu..." Jisoo mengangguk dan langsung menuju kolam untuk mengajari putrinya berenang.

Minhyuk dan Eunwoo asyik berenang tanpa bantuan pelampung. Jisoo hanya memandang takjub karena kedua anak Mingyu sangat pintar berenang untuk anak seusianya.

"Ayo masuk pelan-pelan..." Jisoo mengajari putrinya masuk ke dalam kolam. Secara perlahan Binnie menurut.

Pandangan gadis kecil itu mengarah pada Minhyuk dan Eunwoo yang selalu bersama.

Eunwoo memeluk leher kakaknya dan Minhyuk membawanya berenang di kolam yang sama dengan Jisoo dan Binnie.

Binnie terus melihat dan refleks tertawa hanya melihat keakraban kakak-adik tersebut.

Jisoo sendiri selalu menemani Binnie selama di kolam. Hingga Minhyuk berenang mendekati Jisoo, ia berhenti.

"Nie mau gendong..." ucap Binnie polos saat Minhyuk di dekatnya.

"Jangan, nanti jatuh..." ucap Jisoo.

Binnie langsung menangis sedih karena dilarang oleh ibunya. Sebenarnya ia merasa iri ingin diajak bermain juga.

Minhyuk dan Eunwoo hanya saling tatap dan merasa kasihan.

"Binnie mau gendong juga?" Minhyuk menawari karena merasa kasihan.

"Iya..."

"Tidak usah." Jisoo menolak dengan halus karena merasa tidak enak pada Minhyuk.

"Sini gendong sama Hyukie oppa..." Eunwoo ikut menawari dan Minhyuk langsung memberikan punggungnya. Binnie langsung menyambut ingin menempel pada punggung bocah tampan itu.

Eunwoo membantu dan menjaganya.

"Hati-hati..." ucap Jisoo cemas.

Minhyuk secara perlahan membawa tubuh Binnie di punggungnya dan Eunwoo sendiri menjaga dari belakang. Binnie tertawa senang bisa diajak bermain.

...

...

"Hyukie, Eunwoo... ayo makan." Wonwoo mengajak kedua anaknya makan siang dan kedua anaknya menurut karena mereka juga sudah sangat lapar setelah bermain air.

Wonwoo sibuk mengurus kedua anaknya dan sementara Jisoo baru selesai menyuapi Binnie.

"Wonwoo-ya, apa sulit mengurus mereka?"

"Tidak juga karena sudah terbiasa. Tapi kalau semuanya sedang aktif ya lumayan repot." Ucap Wonwoo dengan tersenyum dan tangannya cekatan menyiapkan makanan untuk kedua anaknya.

Binnie mendekati kakak-adik itu yang sedang makan bekal. Eunwoo hanya memandang Binnie dengan mulutnya terus mengunyah makanan dan Minhyuk sang kakak juga hanya terdiam.

"Hehehe..." Binnie hanya memperlihatkan gigi susunya pada Minhyuk yang masih bingung dengan kedatangan Binnie.

"Mau?" Minhyuk menyuapi irisan telur dadar pada Binnie. Gadis itu hanya terdiam menatap irisan telur yang dicapit Minhyuk dengan sumpit plastik miliknya.

Secara perlahan Binnie membuka mulutnya dan menerima suapan dari Minhyuk. Binnie tersenyum senang saat mengunyah dan Minhyuk refleks ikut tersenyum. Eunwoo masih terus diam melihat kakak kembarannya dan Binnie.

Wonwoo sendiri hanya tersenyum melihatnya. Ia paham kalau Binnie sengaja mendekati karena ia tidak ada teman main.

"Sayang, kita kesana bagaimana?" Seokmin datang sudah basah setelah berenang.

"Nanti Binnie dengan siapa?"

"Binnie mana?"

"Itu... di... lho... sejak kapan dia kesana?" Jisoo memandang heran karena putrinya sudah terlihat akrab dengan Minhyuk di meja payung yang ditempati keluarga Mingyu.

Seokmin hanya terdiam melihat putrinya yang tampak tenang ikut makan bekal.

"Kamu belum suapi Binnie?"

"Sudah, baru selesai makan. Kenapa jadi makan lagi?" Jisoo buru-buru mendekati putrinya dan Seokmin ikut menyusul.

"Binnie, kamu masih lapar?"

Binnie hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap Minhyuk yang masih menghabiskan bekal nasi gulung buatan ibunya.

"Mau ini?" Minhyuk menyuapi tomat cherry pada Binnie dan Binnie dengan polos langsung menerima suapan lagi.

Wonwoo dan Mingyu hanya tertawa geli melihatnya.

"Seok, kalau mau main pergi saja. Biar anakmu disini." Ucap Mingyu.

"Ah, tapi aku merasa tidak enak."

"Tak apa, biar aku yang menjaganya. Binnie juga tidak rewel." Wonwoo ikut membantu.

Seokmin menatap Jisoo dan melihat putrinya yang sesekali tertawa bersama Minhyuk.

"Ya sudah, aku titip ya. Hanya sebentar saja. Aku mau coba perosotan disana." Ucap Seokmin akhirnya dan Jisoo masih agak berat namun ia juga ingin mencoba bermain sebentar.

Jisoo mendekati meja payungnya dan mengambil tas yang berisi camilan.

"Maaf ya Won, ini ambil saja untuk anak-anak."

"Tenang saja eonnie, serahkan padaku. Aku disini terus."

Seokmin dan Jisoo segera pergi diam-diam saat putri mereka masih asyik bercanda. Seokmin mengajak Jisoo bermain sejenak sementara Binnie masih belum menyadari kalau ibunya tidak berada di dekatnya.

"Eh? Mommy mana?" Binnie celingukan mencari ibunya.

"Mommy sedang di toilet. Binnie tunggu sebentar ya disini." Ucap Wonwoo.

"Nie ikut..." Binnie mulai terisak.

"Sebentar juga kembali, main dengan Hyukie oppa saja ya. Oh iya, Binnie mau camilan apa?" Wonwoo mengalihkan perhatian dengan membuka tas yang berisi camilan milik Binnie.

"Nie mau mommy..." Binnie mulai menangis.

"Iya, mommy pergi sebentar. Binnie suka yang ini?" Wonwoo sibuk memilih camilan sementara Binnie mulai banjir air mata.

"Sudah jangan menangis..." Minhyuk ikut turun tangan membantu ibunya menenangkan Binnie. Tangan mungil Minhyuk menghapus air mata Binnie dan ajaib gadis mungil itu langsung berhenti menangis.

"Binnie, mau main boneka?" Eunwoo ikut membujuk dengan bonekanya.

"Iya mau."

Eunwoo langsung menarik tangan Binnie untuk kembali duduk dan mengajaknya bermain.

"Ma, mau permen jelly." Minhyuk meminta camilan, Wonwoo segera mencari di tas dan memberikannya.

Setelah mendapat yang ia ingin segera mendekati adiknya dan Binnie.

"Oppa mau!" Eunwoo sedikit berteriak dan Minhyuk langsung menyuapi. Binnie hanya terdiam melihatnya.

"Binnie mau?" Minhyuk menawari dan langsung menyuapi. Binnie tertawa senang bisa cepat akrab dengan Minhyuk dan Eunwoo.

Seokmin dan Jisoo telah selesai bermain dan keduanya langsung menghampiri putrinya.

"Apa dia rewel?"

"Rewel sebentar sempat mencarimu tapi sudah lupa. Apa sudah selesai bermainnya?"

"Sudah Won, tidak enak kalau terlalu lama. Mingyu mana?"

"Mingyu bilang mau ke kolam ombak."

"Ooh... ya sudah, aku mau bilas dulu ya Won. Terima kasih sudah menjaganya."

"Iya."

Jisoo segera mengajak putrinya untuk bilas.

Hari beranjak sore dan kedua keluarga kecil itu segera meninggalkan kolam renang. Binnie hanya terdiam dan sedikit merengut karena ia berpisah dengan teman barunya. Ada rasa tidak rela kalau ia berpisah.


oOo


Malamnya Jisoo mencoba lagi, Binnie yang lelah seharian berenang cepat terlelap namun saat menjelang subuh Binnie menangis dan membuat Jisoo serta Seokmin langsung terbangun.

Jisoo yang masih mengantuk terus menggendong karena putrinya tidak mau lepas. Seokmin yang ikut terbangun langsung membantu menyiapkan sarapan.

"Sayang, eomma di rumah?" Jisoo panik setelah bersiap akan berangkat kerja.

"Kenapa?"

"Mama tidak bisa datang, kemarin sore pergi ke Jeju menghadiri acara pernikahan tetangga disana."

"Sebentar aku telepon eomma." Seokmin langsung menelepon ibunya namun berujung kekecewaan karena ibunya sedang di luar kota juga.

"Aduh bagaimana ini? Aku mau ada tamu seharian ini." Jisoo panik sendiri dengan masih menggendong Binnie kesana-kemari.

"Ya sudah biar aku saja yang bawa dia ke kantor."

Jisoo terdiam merasa tidak enak kalau suaminya yang harus menjaga Binnie.

"Aku minta maaf..."

"Iya tidak apa, biar aku saja." Ucap Seokmin meyakinkan.

"Aku akan siapkan keperluannya." Jisoo langsung menyiapkan apa saja yang harus dibawa.

..

..

Seokmin hanya tersenyum malu pada karyawan lain karena ia ke kantor dengan membawa anak.

"Seok!" Mingyu terkejut melihat Seokmin dan Binnie.

"Gyu, maaf hari ini saja. Ibu dan mertuaku tidak bisa menjaganya, dia jarang rewel aku jamin."

Mingyu masih terdiam.

"Gyu, aku tidak tega kalau menitipkan di tempat penitipan." Seokmin meminta belas kasihan pada Mingyu sang sahabat sekaligus atasannya. Seokmin terus memeluk putrinya , seolah tidak ingin berpisah.

"Hmmm tapi... nanti siang kita harus bertemu klien dan tidak mungkin membawa anak kamu."

"Aku tidak ikut saja bagaimana?"

"Seok, ini penting. Aduh..." Mingyu menggaruk kepalanya.

Mingyu terdiam memikirkan solusinya. Ia tidak mau Seokmin hanya diam di kantor sementara ia harus menemui klien seorang diri.

"Kalau begitu titip saja di rumahku, nanti sore kamu jemput dia lagi."

"Eh? Maksudnya Wonwoo yang menjaganya?"

"Iya, aku akan telepon istriku dan kita berangkat bersama ke rumahku dulu."

"Oke..." ucap Seokmin sedih dengan masih menggendong putrinya yang masih tenang.

Mingyu dan Seokmin keluar kantor bersama dengan membawa Binnie. Seokmin tidak tega meninggalkan putrinya, Binnie sendiri merasa sedih saat akan dititipkan di tempat asing baginya.

"Baru pulang sayang?" Mingyu mengecup pipi Wonwoo saat istrinya membuka pintu.

"Iya baru saja anak-anak pulang sekolah."

"Hmm Won, maaf ya..."

"Tidak apa, kalau Binnie ikut orang tuanya kerja juga kasihan. Ayo, sama aunty?" Wonwoo ingin menggendong Binnie namun gadis kecil itu menolak dan lebih memilih memeluk leher ayahnya.

"Eunwoo ajak adiknya main." Wonwoo memanggil putrinya untuk mengalihkan perhatian.

Eunwoo berlari mendekat setelah dipanggil ibunya dan Binnie menoleh.

"Eh ada Binnie..."

Seokmin tersenyum senang putrinya mulai terbujuk namun dia masih terdiam tanpa reaksi.

"Oppa...!" Eunwoo berteriak nyaring dan sang kakak datang dengan pandangan bingung.

Binnie refleks tertawa saat melihat Minhyuk dan langsung minta turun. Mingyu dan Seokmin menatap heran, Wonwoo hanya tertawa melihatnya.

"Pasti Binnie masih ingat karena kemarin sempat bermain bersama." Ucap Wonwoo dan Seokmin merasa lega.

"Ya sudah, tolong jaga mereka ya." Mingyu berpamitan dan Seokmin juga pamit pada putrinya.

"Jangan nakal ya, daddy kerja dulu."

"Iya..."

Perhatian Binnie terpecah dengan mendekati Minhyuk dan meminta mainan yang sedang dipegang. Walau merasa berat namun Seokmin mencoba melepas putrinya dititip pada Wonwoo.

Ketiga bocah itu sibuk bermain di ruang keluarga, mainan berserakan tak jadi masalah bagi Wonwoo karena sudah terbiasa.

Wonwoo menyuapi Binnie makan siang, sementara kedua anaknya sudah bisa makan sendiri walau masih sangat berantakan.

Setelah makan siang tak lama si kembar segera masuk ke kamar untuk tidur siang. Wonwoo mengajak Binnie ke kamar anak-anak.

"Eunwoo, pindah dengan oppa."

"Binnie, tidur disini ya?" Wonwoo menyuruh Binnie tiduran di ranjang milik Eunwoo. Binnie yang masih bingung tetap terdiam dan menurut apa yang Wonwoo perintahkan.

"Eunwoo, Hyukie sudah jangan bercanda. Lekas tidur."

Binnie hanya melirik ke ranjang seberang dimana saudara kembar itu yang semula ribut menjadi diam. Wonwoo menyelimuti Binnie dan mengusap lembut kepala Binnie sebelum ia meninggalkan keluar kamar.

Udara sejuk dari pendingin ruangan membuat Eunwoo langsung terlelap, sementara Minhyuk masih terjaga dengan tangannya sibuk bermain rubik.

"Hiks... hngg..."

"Kamu kenapa?"

Binnie terkejut karena Minhyuk sudah berada di pinggiran ranjang.

"Nie mau mommy..."

"Mommy?"

"Iya mommy... hiks..."

"Jangan menangis, kata mama tidak boleh menangis. Sudah besar..." Minhyuk menghapus air mata di wajah mungil Binnie.

"Mommy..."

"Sekarang Binnie tidur saja... nanti saat bangun Mommy sudah datang..."

"Iya..." Binnie cepat menurut apa yang Minhyuk katakan. Ia langsung berhenti menangis dan terus memandang Minhyuk yang berjalan menuju ranjangnya, naik dengan sedikit memanjat dan langsung memejamkan mata.

Binnie tidak bisa langsung tidur, namun melihat teman sepermainannya sudah tidur maka ia langsung ikut tidur juga.

Jisoo pulang lebih cepat dan segera menuju rumah Mingyu untuk menjemput anaknya. Seharian ia tidak fokus bekerja karena memikirkan putrinya namun agak tenang saat Seokmin mengatakan kalau Binnie dititipkan pada Wonwoo.

"Iya cari siapa?"

Jisoo sempat bingung ia takut salah rumah karena 3 deret rumah bermarga Kim semua dan saat menekan bell yang membuka pintu bukan Wonwoo.

"Wonwoo ada?"

"Ooh, ada mari silahkan masuk." Wanita paruh baya asisten rumah keluarga Mingyu itu mempersilahkan Jisoo masuk. Jisoo langsung merasa yakin setelah melihat isi rumah ada foto keluarga Mingyu. Ia memang baru pertama kali datang, padahal dulu Wonwoo sempat mengundangnya untuk datang namun ia belum sempat.

"Mommy...!"

Jisoo langsung tersenyum senang melihat putrinya berlari dan langsung memeluknya.

"Wonwoo, terima kasih ya." Ucap Jisoo senang dengan terus memeluk putrinya yang sudah wangi aroma bedak bayi.

"Iya sama-sama."

"Bahkan kamu sampai memandikannya."

"Iya, sekalian dengan Eunwoo."

"Apa dia rewel?"

"Oh tidak, dia tidak menangis. Memang agak sulit saat aku suapi makan mungkin karena masih asing tapi dia tetap makan lalu tidur siang dengan anak-anak."

"Terima kasih Wonwoo."

Wonwoo terus tersenyum melihat Jisoo yang melepas rindu dengan Binnie. Tak lama ia pamit karena hari semakin sore.

Malam menjelang Jisoo masih menemani putrinya bermain sementara Seokmin belum pulang kerja.

"Mommy, Nie antuk... sleepy..."

Jisoo langsung membawa putrinya ke kamar utama. "No, mommy... disana..."

Jisoo terdiam saat putrinya menunjuk sebuah ruangan. Kamar Binnie. "Binnie mau tidur sendiri?"

"Iya..."

"Tidak takut?"

"Tidak, Nie sudah besar... tidak boleh menangis..."

"Siapa yang mengajari?"

"Oppa..."

"Oppa? Oppa siapa?"

"Oppa... mommy oppa..."

Jisoo tertawa melihat ekspresi lucu putrinya dan langsung menuruti masuk ke dalam kamar putrinya.

"Binnie tidak boleh menangis ya. Binnie harus berani tidur sendiri..."

"Iya..." ucapnya senang dan Jisoo menyelimuti putrinya agar merasa hangat. Jisoo langsung memutar musik pengantar tidur dan mengecilkan cahaya lampu. Jisoo terus menepuk pelan dan putrinya langsung memejamkan mata.

Seokmin tiba-tiba datang karena ia mencari istri dan anaknya tidak ada di ruang keluarga.

"Ia tidur sendiri lagi?"

"Ssstt... dia yang minta..."

"Oh..." Seokmin tersenyum melihat wajah putrinya yang sudah terlihat tenang. Malam itu Binnie benar tidur sendiri dan terbangun tidak menangis seperti biasanya.

.

.

.

TBC

Annyeong,

Ini draft sudah lama dan kendala untuk mengedit, semoga pada suka yang baca karena genre family ini cukup sulit hehehe jadi tidak bisa sering update.

Special Thank's to

Tyna89Meanie / marinierlianasafitri / Mockaa17 / rizka0419 / Moon Vibes / Vit / Cha ChrisMon / Today Seoksoo / thania . thania / wpvlfk

30 Agustus 2018