Tittle : My Nerd Umbrella Girl

Author : Winter Soldier

Cast :

-Kim Jongin

-Do KyungSoo (GS)

Rate : Bisa T bisa M (Tapi pengennya sih rada M dikit)

Warning : Absurd, Aneh, Gaje, Bahasa Formal yang amburadul

Happy reading

Chapter 7

"Kupikir itu kau" bisik Kyungsoo lirih sembari menenggelamkan kepalanya didada sang pembalap.

"Kau... khawatir padaku?" Kyungsoo mengangguk kecil. Jongin tersenyum dan membalas pelukan Kyungsoo. Dia bahagia gadis nerd itu memikirkan dirinya. Bahkan Kyungsoo tadi menangis. Apa Jongin salah jika dia bahagia melihat Kyungsoo mengeluarkan air mata karna mengkhawatirkannya?

"Jangan lakukan hal bodoh Jongin" gumaman lirih kembali terdengar dari bibir Kyungsoo. Jongin terkekeh dan mengelus lembut surai hitam sang dokter. Sebuah seringai tercipta diwajah tampannya.

"Aku tak akan melakukannya asal kau menuruti permintaanku" Para kru yang melihat kejadian itu menghela nafas. Meski mereka tidak terlalu mengerti masalah apa yang terjadi pada keduanya, mereka tidak bodoh untuk mengetahui Jongin sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

"Iya... aku akan lakukan apa yang kau minta. Tapi berjanjilah jangan mencelakai dirimu lagi seperti tadi" seringai Jongin semakin melebar mendengar jawaban Kyungsoo.

'Ini Kyungsoo yang polos atau Jongin yang terlalu licik?' batin para kru sweatdrop. Dan sepertinya yang benar adalah teori kedua. Karna Jongin memang berfikir untuk memanfaatkan kesempatan ini agar bisa berbaikan dengan Kyungsoo.

"Jadi apa kita bisa baikan dan anggap kejadian tadi tidak pernah terjadi?" Kyungsoo sedikit menjauhkan tubuhnya dari Jongin tanpa melepaskan pelukan pemuda itu dipinggangnya.

"Iya lupakan saja" Kyungsoo mengangguk. Dia menghapus bekas air mata dipipinya. Entah dia sadar atau tidak saat mengatakan itu. Pikirannya yang kalut dan ketakutannya akan perbuatan nekat Jongin membuatnya mengiyakan begitu saja semua yang Jongin katakan.

'Ternyata Jongin yang pandai memanfaatkan keadaan' Para kru menghela nafas jengah. Tapi terserahlah. Toh mereka lega karna melihat -pasangan belum resmi- itu baikan. Sudah cukup mereka menghadapi keababilan Jongin selama seminggu semenjak keduanya bertengkar. Semua pandangan kembali terarah pada monitor, begitupun Jongin dan Kyungsoo.

"Lalu yang kecelakaan itu..."

"Alex Evans. Dia salah satu kandidat juara dunia kelas Moto2" sela Jongin melepas pelukannya dipinggang Kyungsoo dan beralih merangkul pundaknya.

'Astaga! Bodohnya aku. Panik tidak jelas padahal masih kualifikasi kelas Moto2' Kyungsoo meruntuki dirinya sendiri. Apa matanya sekarang semakin rabun sampai tidak melihat tulisan Moto2 dilayar monitor, dua motor balap yang masih di pit, bahkan Menma yang masih berdiri disamping Chanyeol yang menandakan kualifikasi kelas MotoGP belum dimulai? Tapi jangan salahkan Kyungsoo! Dia terlalu sibuk dengan segala hal buruk tentang Jongin yang tadi memenuhi kepalanya. Jongin benar-benar membuat pikirannya kacau.

"Apa mungkin karna aku terlalu memikirkan dan mengkhawatirkannya?"

"Kau mengatakan sesuatu?" Kyungsoo tersentak. Jantungnya berdetak keras. Ternyata tadi dia mengatakan apa yang dia pikirkan.

"Ti-tidak! A-aku tidak mengatakan apapun" Kyungsoo membuang pandangannya kesekeliling. Menghindari kontak mata dengan pemuda yang sedang merangkul pundaknya.

"Memikirkanku?"

Blush

Wajah Kyungsoo memerah dan jantungnya semakin berdetak tak karuan.

Apa Jongin tau Kyungsoo sedang memikirkannya? Gadis itu berbalik melihat Jongin yang kini menaikturunkan alisnya berniat menggoda. Dan sialnya, entah kenapa Jongin malah terlihat semakin tampan dimatanya yang otomatis membuat wajahnya semakin merah melebihi warna jersey Manchester United. Mungkin rabunnya memang semakin parah. Bagaimana bisa seringai menyebalkan itu terlihat mempesona?

'aku harus segera ganti kacamata' batin Kyungsoo ngaco tanpa melepaskan pandangan dari wajah Jongin dan meruntuki pikirannya yang agak konslet (menurutnya sendiri). Lain halnya dengan Jongin, pembalap muda itu justu tengah memuji sang gadis yang terlihat semakin manis saat bushing seperti ini.

'Kita lihat apa wajahnya bisa lebih merah dari itu' pikir Jongin merencanakan hal mulia(?) untuk menggoda Kyungsoo. Keduanya terlihat asyik dengan dunia mereka sendiri. Tidak sadar jika kegaduhan mulai terdengar didalam pit.

Baru saja Jongin ingin mengeluarkan kalimat gombalan dari mulutnya, kegaduhan malah semakin memenuhi pit. Jongin segera menjauhkan dirinya dari Kyungsoo. Niatnya menghilang seketika digantikan perasaan yang tidak enak. Dia kembali melihat monitor. Matanya membulat lebar membaca tulisan berbahasa inggris yang bergerak dibagian bawah layar.

"Calon juara dunia kelas Moto2. Dia meninggal"

Saat itu juga Jongin bersumpah tidak akan melakukan hal bodoh dengan mencelakai dirinya sendiri lagi.

GREP

Jongin merasa sepasang lengan kurus Kyungsoo memeluk pinggangnya. Dan entah kenapa tubuh mungil gadis itu nampak bergetar ketakutan. Secara naluriah Jongin langsung membalas pelukan gadis itu dan mengelus punggungnnya.

.

.

.

Duka menyelimuti dunia balap kala itu karna salah satu pembalap calon juara dunia kelas Moto2 meninggal setelah mengalami kecelakaan hebat saat menjalani sesi kualifikasi. Bahkan kualifikasi kelas MotoGP yang harusnya diadakan setelahnya sampai ditunda menjadi esok hari.

"Dia salah satu fans-ku. Kau tau?" suara Jongin memecah keheningan didalam kamar hotel yang berisi dua manusia berbeda gender itu. Posisi mereka berbaring saling berhadapan diatas ranjang berukuran king size. Jangan bertanya bagaimana mereka bisa berada disini. Jongin sendiri bingung karna sejak pemberitahuan meninggalnya Alex Evans hingga pengumuman ditundanya kualifikasi tadi siang, Kyungsoo seperti tidak ingin lepas darinya. Bukannya dia tidak senang Kyungsoo terus berada didekatnya. Jongin sangat bahagia malah. Tapi tetap saja dia merasa ada yang aneh dengan gadis itu.

"Begitukah?" hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Kyungsoo.

"Ya begitulah. Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Dia tampak begitu excited" Tak ada balasan yang terdengar. Kyungsoo hanya memandangnya seolah menunggu lanjutan kalimatnya.

"Dia pembalap yang berbakat. Tak kusangka hal buruk ini menimpanya. Tapi mau bagaimana lagi. Beginilah resiko menjadi se..."

"Jongin"

"Hm.. kenapa?"

"Kau benar-benar janji tidak akan melakukan hal bodoh lagi kan?" pemuda bermarga Kim itu terhenyak melihat kilat khawatir di mata bulat itu.

"Maksudku.. kau benar-benar akan menepati janjimu kan?" Jongin tersenyum lembut. Dia meraih kedua tangan Kyungsoo dan menciumnya selama beberapa saat. Rona merah kembali menghiasi pipi Kyungsoo merasakan sensasi hangat menjalari tubuhnya.

"Kau takut aku mengalami hal yang sama?" gadis itu mengangguk ragu. Jongin yang melihat keraguan Kyungsoo langsung sadar jika sang dokter tidak yakin dengan perasaannya.

"Apa yang kau rasakan?"

"Maksudmu?"

"Setelah kejadian di pit tadi apa yang kau rasakan? Dan bukannya aku terlalu percaya diri. Tapi sepertinya setelah itu kau tidak mau jauh dariku" Kyungsoo sedikit mengangkat kepalanya dan balas menatap Jongin. Tatapannya seolah bertanya 'benarkah aku terlihat begitu?'. Helaan nafas terdengar sebelum Kyungsoo akhirnya menjawab

"Aku.. aku sendiri tidak tau. Takut, khawatir, cemas mungkin. Aku belum pernah merasa begini sebelumnya" Jongin tertawa kecil yang memancing keryitan didahi Kyungsoo.

"Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu?" tanyanya kesal dengan bibir yang dicemberutkan(?). Mata Kyungsoo memicing tajam kearah Jongin yang kini justru tertawa semakin keras.

"Tidak! Tidak ada. Hanya saja apa kau tau alasan kenapa kau merasakan itu?" Jongin menghentikan tawanya, beralih menatap Kyungsoo dengan penuh harap.

"Alasan?" bola mata Kyungsoo bergerak ke berbagai arah tanda dia sedang berpikir.

"Apa mungkin..." Jongin mengeratkan genggamannya pada tangan Kyungsoo dan tersenyum senang. Mengambil kesimpulan gadis itu sudah sadar jika dia men...

"mungkin karna aku doktermu?"

Doeng

'Dia seorang dokter. Sudah pasti dia pintar. Tapi kenapa dia bodoh masalah perasaan ya?' Jongin tersenyum kecut. Pikirannya salah. Ternyata Kyungsoo belum sadar tentang perasaannya.

"Iya.. pasti karna itu. Kalau kau terluka kan aku yang akan repot, makanya aku takut dan khawatir" susah payah Jongin mencoba memasang senyum ikhlas. Susah ya jatuh cinta dengan gadis yang nggak peka.

"Ya mungkin begitu" gumam Jongin malas. Lebih memilih mendekat pada Kyungsoo dan membawa tubuh mungil itu dalam dekapannya.

"Dengar ini Dokter Nerd. Kalau jawabanku ini bisa membuatmu tenang, aku akan penuhi janjiku. Tak akan kulakukan hal bodoh seperti tadi" Jongin menaruh(?) kepala Kyungsoo dicelah lehernya setelah sebelumnya mengambil kacamata Kyungsoo dan menaruhnya di meja samping ranjang. Kyungsoo bergerak sedikit, menyamankan posisinya dalam dekapan Jongin yang begitu hangat dan menenangkan. Segala keresahan dan takut yang dia rasakan seolah menguap begitu saja.

"Tidurlah Dokter Nerd. Untuk malam ini, aku ingin kau berada disampingku" bisik Jongin ditelinga Kyungsoo yang ternyata sudah menutup matanya. Pemuda berkulit tan itu tak kaget, dia tau Kyungsoo sudah mengantuk sejak tadi. Hanya saja rasa takutnya membuat gadis itu tak bisa tidur. Mengingat itu membuat senyum Jongin kembali mengembang.

"Aku senang kau takut kehilanganku meski kau sendiri tidak menyadarinya. Itu cukup menjadi bukti kalau kau mencintaiku, walau sekali lagi kau tidak menyadarinya" Jemarinya kini menyusuri setiap inci wajah cantik itu. Memuja pahatan paling sempurna yang pernah dia lihat dan mengelus surai hitam yang terasa lembut ditangannya.

"Kau itu sempurna. Tidak begitu menarik diluar, tapi sangat indah didalam. Begitu sopan saat menjadi dokter, tapi sangat menggoda saat menjadi umbrella girl. Sayang kau agak bodoh tentang cinta" Dikecupnya sekilas kening Kyungsoo yang sedikit tertutup helaian rambutnya.

"Aku tau aku pengecut hanya berani mengatakan kekagumanku saat kau tidak bisa mendengarku. Tapi aku janji suatu saat aku akan mengatakannya langsung" Kali ini dia mengecup kedua pipi Kyungsoo yang sering dia buat memerah.

"Tunggulah sebentar lagi hingga waktunya tepat" setelah itu ciumannya mendarat di hidung mancung Kyungsoo.

"Kau gadis yang istimewa -Kyung-" Dan yang terakhir Jongin mencium bibir sang dokter. Bedanya ciuman itu lebih lama dari sebelumnya yang hanya kecupan ringan.

"G'nite my umbrella girl" Jongin mengeratkan pelukannya dan segera menyusul Kyungsoo ke alam mimpi.

.

.

.

.

Waktu berjalan cepat, tanpa terasa hari minggu sudah tiba. Hari yang ditunggu penduduk Australia karna balapan di sirkuit Philip Island akan berlangsung hari ini. Bangku penonton sudah mulai dipenuhi manusia. Kebanyakan dari mereka memakai atribut dukungan(?) berwarna biru hijau milik sang juara dunia Kim Jongin yang hari ini akan mengawali start diposisi ke-4. Ya... siapa sangka Jongin yang tadinya tampil buruk di latihan bebas dan kualifikasi sesi pertama bisa mencetak(?) waktu cukup baik di kualifikasi sesi 2 hingga mencetak(?) waktu tercepat ke-4. Namun akan ada yang berbeda hari ini. Setiap kali race dimulai semua pembalap akan memutari sirkuit satu putaran sebagai tanda penghormatan untuk Alex Evans. Pembalap yang meninggal dua hari lalu.

"Hari yang cerah untuk balapan" race kelas Moto2 baru saja dimulai, tapi teriakan semangat Menma sudah terdengar didalam pit tim Movistar Yamaha.

"Kau berisik bocah" dan terdengar pula teriakan kesal dari rekan setimnya yang tidak lain pemeran utama kita Jongin. Para kru yang sudah terlalu biasa dengan pertengkaran absurd kedua pembalapnya bersikap acuh dan memilih melanjutkan pekerjaan mereka.

"Eh... kalian ternyata bisa bertengkar ya" namun kasus berbeda terjadi pada Kyungsoo yang baru pertama kali melihat Jongin dan Menma bertengkar.

"Kau seperti tidak pernah melihat orang bertengkar saja sih Dokter Nerd" ujar Jongin pada Kyungsoo yang duduk di sebelahnya sambil memegang ponsel.

"Iya.. memang salah ya jika kami bertengkar?" Kyungsoo berdecak kecil.

"Bukan begitu. Hanya saja kalian itu kan lebih sering terlihat akrab. Agak aneh melihat kalian saling berteriak"

"Masih mending aku dan Jongin-nii yang bertengkar dengan saling berteriak. Daripada salah satunya mogok bicara lalu yang lain mencelakai dirinya sendiri. Itu pertengkaran yang lebih aneh" balas Menma watados. Dan bisa ditebak setelah itu terdengar rintihan memilukan(?) dari si remaja raven karna jitakan sayang dan tarikan telinga dari sepasang manusia yang merasa tersindir atas ucapannya.

"Bocah tidak sopan"

"Jangan sok tau" teriak mereka bersamaan yang oleh Menma hanya dibalas kalimat

"Tapi aku benar kan?" sambil mengelus kepala dan kupingnya. Mencoba mengabaikan bocah jepang itu, Jongin dan Kyungsoo saling pandang.

"Jangan lupa, kau harus naik podium"

"What? Jadi perjanjian itu masih berlaku? Kupikir kita sudah baikan" astaga! Kyungsoo masih ingat perjanjian itu. Padahal dia pikir masalah mereka sudah selesai sejak mereka bangun dengan posisi saling berpelukan kemarin pagi.

"Tentu saja masih berlaku. Kita ka-"

"Kyungsoo" Merasa dipanggil, Kyungsoo segera menoleh ke sumber suara. Tampak Xiumin yang terlihat cantik dengan pakaian umbrella girl-nya. Kyungsoo membalas panggilan kakak kandung Jongin itu dengan senyuman. Entah itu senyum tulus atau tidak ikhlas, author juga bingung sendiri karna Kyungsoo lumayan pintar menyembunyikan perasaannya. Hal berbeda terlihat pada Jongin. Dia justru menatap penampilan kakaknya dengan pandangan sebal dan tersakiti(?).

"Loh.. jadi bukan Kyungsoo-nee ya yang akan jadi umbrella girl Jongin-nii?" Dan pertanyaan curut disampingnya memancing(?) aura Jongin menjadi semakin suram.

TBC

Hai gaes

entah kenapa setelah ngepost sebuah FF kemarin ane keinget ini FF yang udah ngangkrak 8 bulan

jadinya ane ngetik ini deh semaleman

emang hasilnya mengecewakan sih, pendek lagi

tapi inilah yang ane bisa

maaf ya lama banget, soalnya dulu ane fokus ujian, waktu lulus harus nyari kerja

hehehe, ane tau ane banyak alesan

Makasih buat yang masih mau baca ini FF

Winter Soldier