Seperti biasa, Mark kini tengah berada di padang rumput yang ditengah-tengahnya terdapat sebuah kotak surat untuk melakukan tugasnya. Mark membuka kotak surat itu lalu mengeluarkan semua surat yang ada di dalamnya.

"Sudah kuduga kau berada disini tuan hantu!."

Mark menolehkan kepalanya ke belakang lalu mendengus keras setelah melihat Donghyuck berjalan menghampirinya sambil menuntun sepedanya.

"Mau apa kau kesini? Mau mengirim surat iblis itu lagi?." Tanya Mark sambil memicingkan matanya curiga.

Donghyuck menggelengkan kepalanya kuat, "Tidak. Lagipula percuma saja, kau akan langsung membuangnya ke tempat sampah. " Ucap Donghyuck sambil mengerucutkan bibirnya.

"Lalu kau mau apa kesini?." Tanya Mark yang masih sibuk dengan pekerjaanya.

Donghyuck mengabaikan pertanyaan Mark. Ia malah mengambil sebuah boneka badut merah dari dalam kotak surat lalu mendekapnya dengan erat.

"Oh! Kau sudah memutuskan ingin berkerja denganku ya?." Selidik Mark.

Donghyuck mengibaskan tangannya pelan, "Hahaha tentu saja tidak." Ucap Donghyuck sambil tertawa sumbang. "Aku ingin mengajukan penawaran denganmu, bagaimana kalau 5,000$ per jam?."

Mark mendecih mendengar perkataan Donghyuck.

"Aku tidak bisa memaafkanmu…. Aku benar-benar tidak bisa memaafkanmu. Kau bilang kau suka padaku. Apa itu bohong? Saat aku mendekati wajahmu, kau bilang padaku, kau sangat menyukaiku. Kau bilang kau rela jika dilempar ke lubang hitam." Ucap Mark dengan nada sedih dan marah yang terdengar sangat dibuat-buat.

Donghyuck yang sedang memainkan boneka badut merahnya menoleh sinis ke arah Mark. "Kau sedang membaca puisi, atau membuat lirik lagu sih? Terdengar sangat mengerikan di telingaku. " Cibir Donghyuck.

Mark tertawa dengan mata yang memicing tajam mendengar perkataan Donghyuck. "Kau sudah lupa apa yang kau tulis sendiri di dalam surat iblis-mu itu?." Mark balik bertanya.

Donghyuck mendelik murka dan menatap Mark dengan nyalang, "Oh dasar! Tidak lucu tahu!." Bentak Donghyuck jengkel.

"Kau baru saja membentakku?!." Mark menatap Donghyuck dengan pandangan tidak percaya. "Karna kau membentakku, maka aku akan menuntutmu lewat internet!."

Donghyuck mendengus dengan keras, "Dasar hantu licik!." Gumam Donghyuck kesal.

Donghyuck mendudukan dirinya di bawah kotak surat itu sambil terus mendekap boneka badut yang ia ambil dari dalam kotak surat.

Mark ikut mendudukan dirinya disamping Donghyuck, ia mengambil sebuah kotak bekal makan siang dengan sepucuk surat terselip diatasnya dari dalam kotak surat dan menaruhnya di hadapannya.

"Apa itu?." Tanya Domghyuck dengan dahi berkerut.

"Kau tidak lihat? Ini kotak bekal makan siang." Balas Mark ketus.

Donghyuck memukul Mark dengan boneka badut yang dibawanya, "Maksudku isinya?!."

"Isinya beberapa potong sushi dan telur dadar gulung. " Ucap Mark setelah membuka kotak bekal itu lalu langsung menutupnya kembali.

Mark mengambil surat yang terselip diatas kotak bekal itu lalu membukanya, "Ini dari seorang ibu yang kehilangan putrinya yang bernama Dong-ju saat usianya masih ber-umur 5 tahun."

Donghyuck langsung medekatkan tubuhnya dengan Mark sambil berusaha mengintip isi surat yang sedang di pegang oleh Mark.

"Jangan dekat-dekat! Menjauh sana! Nanti aku bacakan!." Seru Mark kesal sambil mendorong-dorong tubuh Donghyuck agar menjauh dari tubuhnya.

"Ish! Dasar hantu pelit!." Donghyuck beringsut mundur sambil mencebikkan bibirnya jengkel.

"Saat kau meninggal Ibu baru belajar memasak, kau meninggal telalu cepat, jadi kau belum bisa merasakan enaknya masakan Ibu, apakah telur gulung buatan Ibu lebih enak dari telur gulung yang dulu?.. "

Mark membacakan isi surat tersebut dengan penuh penghayatan, sedangkan Donghyuck yang berada disampingnya mendengarkan dengan hikmat sambil berusaha menahan tangisnya.

"Sekarang Ibu sudah bisa membuat kimbap tanpa gosong lagi" Lanjut Mark. Mark menoleh ke arah Donghyuck yang masih berusaha menahan air matanya,"Kau menangis ya?." Tanya Mark sambil terkekeh geli. Donghyuck tidak menjawabnya, ia memalingkan wajahnya kesamping agar Mark tidak bisa melihat wajahnya yang memerah karna menangis.

"Ternyata benar kau menangis. Tapi sayang, aku ini tukang pos surga, bukan tukang jasa penghantar surga." Ucap Mark sambil membuka kembali kotak bekal itu.

"Kau akan memakannya?." Tanya Donghyuck.

Mark menganggukan kepalanya, "Tentu saja, kalau disia-siakan sayang kan? Nanti busuk. Aku akan merasa bersalah. "

Donghyuck memperhatikan kotak bekal makan siang itu dengan penuh perasaan. "Kau mau coba?." Tawar Mark.

Donghyuck menganggukan kepalanya pelan, "Iya, aku mau coba."

Mark menyuapkan sepotong telur dada gulung kepada Donghyuck. Donghyuck memakan telur dadar gulung itu dengan perasaan haru, bahkan ia kembali meneteskan air mata.

"Enak tidak?." Tanya Mark.

Donghyuck menganggukan kepalanya.

"Tidak keasinan?."

"Tidak. " Jawab Donghyuck sambil menahan tangisnya.

"Benarkah?." Mark bangkit berdiri dan mendongakkan wajahnya kelangit. "Dongju-ah!!!." Teriak Mark tiba-tiba.

Donghyuck terlonjak kaget mendengar Mark yang berteriak tiba-tiba seperti itu. "Apa yang kau lakukan?!."

"Dongju-ah!!! Telur gulung buatan ibumu sangat enak!!" Teriak Mark lagi. Donghyuck yang melihat kelakuan Mark itu langsung menangis terisak-isak.

"Hiks.. Kenapa sedih sekali." Ucap Donghyuck sambil pelan.

Mark memetik setangkai bunga liar lalu menaruhnya di atas kotak bekal makan siang itu.

"Apa yang kau lakukan?. " Tanya Donghyuck.

"Ini balasan dari Dongju untuk memberitahu Ibunya kalau dia sudah makan masakan Ibunya. " Jawab Mark.

"Tapi ini namanya bohong..." Ucap Donghyuck pelan.

Mark tertawa kecil mendengar perkataan Donghyuck.

"Memang iya, tapi tidak sepenuhnya bohong . Jika dia masih hidup, dia juga pasti akan melakukan ini." Balas Mark diplomatis.

Donghyuck mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, lalu ia merapikan bunga yang Mark taruh di atas kotak bekal makanan Dongju.

"Jadi kau mau menerima perkerjaan ini?." Tanya Mark.

Donghyuck terdiam sesaat. Ia memasang wajah tampak berpikir lalu menolehkan wajahnya kembali menghadap Mark. "Boleh aku bertanya sesuatu?."

"Tanyakan saja." Balas Mark seraya menganggukan kepalanya.

"Apa gajinya benar 20$ per jam?." Tanya Donghyuck dengan nada polosnya.

Mark tampak berpikir sejenak lalu menganggukan kepalanya. "Iya."

"Apa aku boleh mengambil cuti jika sedang ada keperluan mendadak?." Tanya Donghyuck lagi.

Mark kembali menganggukan kepalanya, "Boleh saja. "

"Apakah aku akan mendapat bonus jika berkerja dengan baik?."

Mark mulai tampak kesal mendengar pertanyaan Donghyuck yang terdengar seperti permintaan itu, "Iya, kau akan dapat bonus dari ku jika kau berkerja dengan baik!."

"Benarkah?!. Kau tidak membohongiku kan?."

Mark kembali menganggukan kepalanya.

Melihat hal itu, Donghyuck tersenyum senang lalu ia bangkit berdiri dan memperkenalkan diri, "Perkenalkan! Namaku Lee Donghyuck. Mohon bimbingannya!."

Mark tertawa geli melihat kelakuan Donghyuck, "Namaku Mark! Ayo berkerja keras!." Balas Mark. Lalu kemudian mereka berdua tertawa.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc