Di sebuah rumah mewah, hiduplah seorang kakek tua dan putranya yang telah ditinggalkan istrinya karena meninggal dunia.
Kakek tua itu bernama Lee Hyukjae
"Ayah, apa Ayah sudah meminum obatnya?"
tanya menantu kakek Lee, Irene.
"Ayah akan meminumnya sekarang. " jawab kakek Lee seraya menyiapkan obatnya.
Irene menatap sang Ayah mertua dengan pandangan khawatir. Ia mendudukan dirinya di samping sang Ayah mertua yang sedang meminum obatnya. "Ayah, aku tahu ini mungkin terdengar aneh. Tapi... Sudah 3 bulan sejak Ibu meninggal... "
"Aku tahu. "
"Ayah sangat mengkhawatirkan jika terus bersedih seperti ini. " ujar Irene.
Kakek Lee hanya menganggukan kepalanya pelan sebagai respon atas perkataan menantunya itu.
"Ah iya Ayah, " tiba-tiba Irene teringat sesuatu, "Jika Ayah pergi keluar hari ini tolong jangan terlambat. Suho akan pulang hari ini, dan dia ingin makan malam bersama. "
"Baiklah. " jawab kakek Lee, "Aku akan pergi bermain catur sebentar dan akan kembali sebelum makan malam. "
Irene menganggukan kepalanya kemudian menyunggingkan senyum. "Iya Ayah. "
Kakek Lee pun berjalan menuju kamarnya untuk bersiap pergi. Ia tersenyum saat memandang foto mendiang istrinya yang berada di meja nakas.
Setelah mengambil dompet dan ponselnya, Kakek Lee pun pergi keluar meninggalkan rumah.
'Yeobo, kenapa kau pergi lebih dahulu meninggalkanku? Aku bahkan belum siap untuk ini. Setelah kau pergi, segala hasratku untuk hidup telah hilang bagaikan tertiup angin. ' keluh kakek Lee di dalam hati.
Kakek Lee sampai di sebuah taman, ia pun duduk untuk bermain catur dengan temannya.
Saat sedang bermain catur kakek Lee teringat istrinya, 'Yeobo, aku ingin jujur padamu. Saat aku membersihkan barang-barangmu, aku menemukan benda yang kurang menyenangkan hatiku. Aku menemukan sepucuk surat cinta dari seorang pria yang tidak kukenal. Mungkinkah, kau membagi hatimu dengannya? Mungkinkah, kau mengandung anak dari pria ini? ' pikirnya.
Ketika malam tiba, Kakek Lee dan putranya duduk bersama untuk makan malam.
Kakek Lee terus memperhatikan sang anak tanpa berkedip, membuat sang anak menjadi merasa sedikit risih.
"Ayah, ada apa?" Tanya Suho kepada Ayahnya.
"Hah?" Kakek Lee tersadar dari lamunannya dan memasang raut wajah kebingungan.
"Ayah tidak apa-apa?" Tanya Suho lagi.
Kakek Lee menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak apa-apa. " jawabnya.
'Aku jadi tidak bisa tidur saat aku memikirkan tentang semua ini.' Lirih Kakek Lee di dalam hati, ia tidak bisa berhenti berpikiran jika mendiang istrinya itu berselingkuh darinya.
.
.
.
Donghyuck mulai membantu pekerjaan Mark, hari ini mereka sedang membahas sebuah surat di sebuah cafe.
Donghyuck membaca sebuah surat berwarna kuning cerah dan menutupi wajahnya dengan kertas surat itu.
"Hei, kau yang di sana" tegur Mark seraya melambai-lambaikan tangannya.
Donghyuck menurunkan sedikit kertas surat yang menutupi wajah sendunya, ia menahan tangis karna membaca surat itu.
"Surat ini berasal dari seorang perempuan. Setiap kali hujan, dia selalu khawatir adiknya kesepian di surga. " ucap Donghyuck yang terbawa perasaan saat membaca surat itu. Donghyuck menatap langit melalui jendala cafe dengan pandangan sedih.
"Surat ini dari seorang kakak perempuan untuk adiknya. Adik laki-laki yang berusia 10 tahun. Lihat, bahkan di dalamnya dimasukkan kartu permainan ini. " Donghyuck menunjukan segepok kartun permainan yang berada di dalam amplop surat itu.
"Saat masih hidup, adiknya sangat menginginkan kartu-kartu ini. " lanjut Donghyuck sambil sedikit terisak.
Mark merebut surat yang ada ditangan Donghyuck, "Jangan menangis, kau tidak boleh menangis dan terbawa perasaan seperti itu. Bagaimana jika ada surat yang tidak pantas, apakah kau akan tetap mengirimnya?" Cerocos Mark.
Donghyuck mendesah kesal, "Ngomong-ngomong apakah kita ini bisa disebut "malaikat"? Kau pernah bilang kalau ini adalah pekerjaan suci. Lalu kenapa kita minum di cafe seperti ini?" Singut Donghyuck tidak habis pikir.
"Itu karena…..kau tahu kan. Terkadang, aku ingin keluar dari kota ini. " jawab Mark tidak jelas.
"Terserah saja. " balas Donghyuck dengan nada ketus.
"Baiklah. Lain kali, aku akan mengajakmu ke cafe yang lebih bonafit. " seru Mark, ia pun tertawa kecil saat menyadari kata-katanya.
"Tapi jangan menganggap ini sebagai kencan ya. " tambah Mark.
Donghyuck yang mendengar perkataan Mark pun sontak tertawa sinis, "Kau jangan sampai suka padaku ya. Soalnya kau ini bukan manusia, tapi hantu." balas Donghyuck.
Mata Mark berkedut kesal saat mendengar perkataan Donghyuck, "Aku kan sudah bilang, aku ini bukan hantu." hardik Mark kesal.
"Ngomong-ngomong, ini adalah tugas pertamamu. "
Mark mengulurkan sebuah surat kepada Donghyuck.
"Jika kau ingin mendapat gaji, maka kau harus bekerja dengan benar. "
Donghyuck mengambil surat yang di ulurkan oleh Mark lalu membukanya.
"Tenang saja! Aku akan berkerja dengan sangat baik. " ucap Donghyuck menggebu-gebu.
Mark tersenyum senang, "Good. " ucapnya sambil menyandarkan dirinya ke kursi "Kita lihat saja bagaimana caramu menjalankan tugas pertamamu ini. "
.
.
.
Irene sedang berjalan menuju ke minimarket saat tiba-tiba Donghyuck datang dan menahan tangannya.
"Permisi. " sapa Donghyuck.
"Astaga!" Pekik Irene terkejut.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Irene tampak kebingungan dan menunjuk dirinya sendiri. "Bicara denganku?"
Donghyuck menganggukan kepalanya, "Iya."
Donghyuck dan Irene duduk di kursi panjang sebuah taman bermain.
"Jadi ini tentang Ayah mertuaku ya?"
"Iya, ini tentang Ayah mertuamu. Ayah mertuamu itu sedang menderita. " ucap Donghyuck dengan raut wajah mendramatisir.
Irene mengerutkan dahinya, "Hah? Apa maksudmu?" Tanya Irene tidak mengerti.
"Ibu mertuamu…Beliau…" jawab Donghyuck, namun terhenti karna ia bingung mau memulai darimana.
Donghyuck tampak berpikir sebentar.
"Kelihatannya beliau memiliki pria idaman lain" lanjut Donghyuck.
"Apa?" Pekik Irene kaget.
"Ada beberapa surat cinta dibarang peninggalannya" jelas Donghyuck.
"Benarkah?" Gumam Irene tidak percaya.
"Karena saat ini hanya ada kita berdua maka aku akan mengatakannya….anak dari ayah mertuamu adalah suamimu bukan? Tapi ayah mertuamu ragu apakah dia adalah anak kandungnya. " jelas Donghyuck dengan raut wajah serius.
"Ya Tuhan…." Ucap Irene sambil mencengkram tangan Donghyuck,
"Aku juga meragukan hal itu" bisik Irene kepada Donghyuck.
"Kenapa begitu?" Tanya Donghyuck.
Irene pun segera mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto suaminya kepada Donghyuck.
"Lihat, ini suamiku. Tampan bukan. " ucap Irene sambil terkikik.
Donghyuck menganggukan kepalanya, "Iya tampan. "
"Tapi ayah mertuaku tidak seperti itu" gumam Irene.
"Ahhh, kalau begitu ibu mertuamu pasti cantik. "
"Tidak juga. Beliau biasa saja." Balas Irene.
"Ah, kalau begitu pasti pria idaman lain ibu mertuamu orangnya sangat tampan dan suamimu mengikuti wajahnya." pikir Donghyuck.
"Baguslah. Ibu metuaku memang hebat." ujar Irene sambil tersenyum bangga.
"Tapi apakah menurutmu, suamimu menyadarinya?" tanya Donghyuck
"Tidak mungkin! Baginya, ibunya adalah seorang malaikat. Kalau aku mengatakan ibunya telah mempermainkan ayahnya. Dan bilang kalau ayahnya bukan ayah kandungnya. Dia pasti akan-"
"Benar. Benar sekali mengatakannya sekarang juga percuma saja
dan tidak akan ada yang bahagia. Benarkan?" potong Donghyuck cepat.
Irene menganggukan kepalanya, "Benar. "
"Jadi, aku telah memikirkannya. Bagaimana kalau kalian melakukan tes DNA antara suamimu dan ayahnya?" Usul Donghyuck.
"Lalu bagaimana kalau hasilnya memang suamiku itu bukan anak kandungnya?" tanya Irene.
"Kalau itu, tidak usah khawatir. " jawab Donghyuck mantap, lalu ia tertawa.
.
.
.
Donghyuck mendatangi orang yang bisa memalsukan surat hasil DNA dan memintanya untuk memalsukan hasil DNA antara kakek Lee dan anaknya.
Setelah itu ia dan Mark membahas masalah mengenai hasil DNA palsu kakek Lee dan anaknya disebuah kedai.
"Lalu setelah ini bagaimana?" tanya Donghyuck.
"Tentu saja kita harus memastikan si Ayah membacanya." jawab Mark.
"Bagaimana caranya?"
"Itu adalah tugas ku. Kau lihat saja nanti. " ucap Mark sambil menyunggingkan senyum."
.
.
.
Pagi hari, seperti biasa kakek Lee akan berjalan-jalan disekitar rumahnya. Dan saat Kakek Lee ingin masuk kembali ke dalam rumah, ia didatangi oleh Mark yang menyamar sebagai tukang pos.
"Permisi, apakah rumah ini milik anda?" Tanya Mark.
Kakek Lee menganggukan kepalanya, "Iya, benar. "
"Ada kirimin untuk anda yang beratas namakan Lee Suho. Apakah itu nama anda?"
Kakek Lee menggeleng, "Bukan, itu nama anak saya. "
"Oh, kalau begitu anda bisa menerimanya."
Mark menyodorkan surat DNA itu kepada Kakek Lee kemudian memintanya untuk tanda tangan.
Setelah kepergian Mark, kakek Lee bergegas masuk ke dalam rumah.
Kakek Lee menerawang isi dari amplop itu. Karna penasaran, kakek Lee memutuskan untuk membukanya.
Setelah membaca isi dari amplop yang berisi surat hasil DNA itu, kakek Lee langsung menyunggingkan senyum bahagia.
Ia benar-benar merasa bahagia karna Suho ternyata memang anaknya.
Kakek Lee hanya tidak tahu kebenarannya saja. Tapi biarkan, biarkan kakek Lee bahagia.
Donghyuck dan Irene yang ternyata mengintip melalui jendela yang berada di samping rumahpun menghembuskan nafas lega.
"Akhirnya tugasku selesai. " gumam Donghyuck.
.
.
.
Mark sedang duduk bersama seorang pria tua sambil mengobrol tidak jelas.
"Belum?" Gumam Mark.
"Belum, belum." balas pria tua itu.
"Belum, belum?" tanya Mark.
"Belum, belum, belum." jawab pria tua itu.
"Belum, belum…belum." guman Mark lalu ia berpikir sebentar seperti mengingat sesuatu.
"Belum?" pikir Mark, lalu pria tua itu pun menoleh ke arah Mark.
.
.
.
.
TBC
