BTS – Big Hit Entertainment

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita.

AU. Pak Guru Min Yoongi dan mahasiswa Park Jimin. Didukung sikap yang mencurigakan dan perilaku di luar kebiasaan, Jimin menduga jika seseorang tengah berselingkuh dengan Yoongi, pacarnya sekaligus guru musik di sekolah menengah yang malas bebersih rumah.

(REPOST)

.


.

.

"PACAR GELAP?!"

"Ssssshhh!" Jimin buru-buru membekap mulut Jungkook yang sepertinya langsung tersedak potongan pisang di kunyahan kedua. Diinjaknya salah satu kaki pemuda berambut hitam itu sembari memasang muka cemberut, "Belum terbukti! Cuma dugaan! Dugaan saja lho!"

"Tapi itu artinya kau menuduh kan, hyung?" Jungkook meneguk setengah isi botol minumnya lalu terbatuk sekilas, "Lagipula, apa ada alasan logis untuk mengambil kesimpulan seperti itu? Bukan aku bermasud membela Yoongi-hyung, tapi menilai tindak-tandukmu yang terlalu gegabah, ceroboh dan seenaknya, bisa saja asumsi itu ngawur maksimum. Tambahkan kebiasaanmu yang selalu ingin tahu dan suka ikut campur urusan orang lain."

"Aku tidak sejelek itu!"

"Aku tidak bilang kau jelek."

"Peh," Jimin membuang muka, tangan terlipat di depan dada, "Aku hanya curiga, akhir-akhir ini Yoongi-hyung selalu menjauhkan ponselnya setiap menerima pesan, kadang malah dibawa keluar apartemen jika ada telepon. Aneh kan? Biasanya dia santai saja membalas pesan di sebelahku atau berbicara tanpa menyuruhku menyingkir sebentar. Wajar kalau aku berpikir ada hal yang tidak beres. Benar kan? Aku benar kan?"

Jungkook mengunyah sisa pisangnya lalu membuang kulit buah tersebut ke kotak sampah dekat bangku tempat mereka duduk, menyeka mulutnya dengan pergelangan, lalu disusul gelengan kepala. Suaranya terlontar lantang, acuh pada kondisi taman depan kampus yang penuh mahasiswa berlalu-lalang, "Dengar ya, hyung! Jangan sembarangan menuduh yang bukan-bukan pada kekasih sendiri! Apalagi kalau kau sama sekali tak mempunyai bukti kuat untuk menguatkan pendapat. Siapa tahu dia sedang mengalami masalah pribadi yang tak bisa diceritakan pada orang lain. Hak memiliki rahasia itu kan harus dihormati dan dihargai, bukan malah diusut sembarangan."

"Jadi kau sekarang ada di pihak Yoongi-hyung?" Jimin makin merengut. Junior di sampingnya menggaruk pelipis sambil berdecak tak senang.

"Aku hanya tidak mau melihat kalian ribut karena hal sepele."

Rambut tengkuk Jimin berdiri terbalik, "Sepele katamu? Ini menyangkut hubunganku dengan Yoongi-hyung, tahu! Harusnya kau memberiku saran bagaimana cara mengetahui siapa yang sering diteleponnya dalam dua-tiga minggu ini. Aku tidak bisa tenang karena membayangkan dia berkencan dengan orang saja sudah membuatku pusing. Jungkook-aaaaah, apa yang harus kulakukan?" diguncang-guncangnya bahu kokoh Jungkook yang kini bersedekap dengan wajah datar. Matanya melipir melirik ekspresi Jimin sambil bertanya-tanya tentang kelebihan yang dimiliki oleh pria bermulut pedas itu sampai sang tetangga apartemen menjadi sebegitu khawatir. Tampan? Ha! Ha! Ha! Jungkook berani bertaruh bila rekan-rekan kuliahnya yang kerap menawarkan tumpangan pulang (dan sangat tertarik pada Jimin) tampak jauh lebih menarik baik dari segi wajah maupun penampilan dibanding Yoongi. Mengecualikan poin krusial jika Yoongi terbilang mapan, hampir tak ada hal keren lain yang bisa dibanggakan dengan berlebihan. Tapi yah, selera Jimin memang sukar dipahami dan Jungkook tak berminat merusuh. Asmara adalah masalah yang harus dihindari jika ingin menjalani hari dengan damai.

"Kenapa tidak ditanyakan sendiri?"

"Tidak berani, Yoongi-hyung pasti marah," Jimin menurunkan tangannya lalu memutar-mutar ibu jari berlawanan arah, "Nanti dia bilang aku terlalu cerewet atau suka menduga yang tidak-tidak."

Cengir Jungkook terulas hambar. Bukannya memang seperti itu?

"Oke, kalau hyung tidak berani, akan kuambil alih," selorohnya, mengibas debu imajinatif dari bahu lalu menggeliat sejenak, "Kebetulan ada temanku yang akan mengikuti seleksi kompetisi piano dan minta dicarikan guru musik yang bagus. Jam berapa Yoongi-hyung pulang mengajar? Apa boleh kutelepon? Nomornya mana ya?"

"Jangan!" cegah Jimin selagi jari Jungkook menari di atas tombol-tombol angka, "Bi, biar aku yang bilang."

"Tapi aku ada perlu."

"BIAR AKU SAJA!" Jimin berdiri sambil menggerut tasnya erat-erat, matanya yang minimalis kini bersinar penuh ssemangat, "Ini adalah bagian dari rencana untuk menguak rahasia Yoongi-hyung sekaligus misi suci untuk mengenal seluk-beluk kehidupan pribadinya lebih jauh! Yep! PARK JIMIN! SEMANGAT!" tangannya dikepalkan tinggi-tinggi ke udara sebelum berlalu dari hadapan Jungkook yang memiringkan kepala.

.


.

"Apa? Tidak jadi?" Yoongi urung memasang helmnya seraya memicing heran pada pemuda tanggung berambut kecoklatan yang sedang mengatupkan tangan di atas kepala, matanya berpendar meneliti Jimin dari atas ke bawah, "Kau sakit?"

Jimin menggeleng.

"Lalu kenapa?" ujar Yoongi, masih mengacungkan dua tiket bioskop dari dalam dompet serta balas memandang tak nyaman, "Bukannya kau sendiri yang bilang ingin menonton film ini? Apalagi sekarang jadwal pemutaran pertama, kenapa malah tak mau pergi?"

"Me, mendadak aku ada urusan!" tangan Jimin kembali terkatup, matanya dikedip-kedipkan memelas dari balik poni, "Hyung bisa mengajak Hoseok-hyung atau teman guru yang lain. Aku tidak keberatan kok! Ya, ya? Aku janji tak akan mangkir di kencan berikutnya. Atau kuganti uang tiketnya? Jangan marah ya, hyung? Aku benar-benar minta maaf."

Yoongi berdecak pelan, gestur sebal bercampur curiga karena reaksi Jimin sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang diburu sesuatu, "Ada urusan apa sih?"

"Uuh, uh. Temanku meminta bantuan soal tugas akhir. Temanya sulit sekali, tidak enak kalau ditolak. Hyung juga suka mengundur jam makan malam kalau ada murid bimbingan yang mendadak mampir ke apartemen untuk berdiskusi,kan?" Jimin tertawa polos, membuat Yoongi beralih menatap lembaran tiket di tangannya sambil menghela napas. Bukan perkara mudah mendapatkan dua benda tersebut mengingat jadwal mengajarnya yang terbilang padat. Apalagi konon filmnya sangat terkenal, meski Yoongi gagal memahami dimana menariknya cerita tentang pertarungan melawan dinosaurus. Katakanlah dia manusia udik atau ketinggalan jaman, tapi jenis tontonannya memang sangat bertolak belakang dibanding Jimin. Yoongi sampai rela menahan kantuk di bioskop hanya supaya Jimin tidak kecewa atau beranggapan bila Yoongi tidak senang diajak jalan-jalan. Guncangan pelan di bahunya saat Jimin menertawakan adegan humoris dan cengkeraman menyakitkan dari kuku pemuda itu tiap menyaksikan adegan dramatis terbilang lebih dari cukup untuk membayar usaha Yoongi yang selalu mencari reservasi paling awal. Mimik muka dan raut wajah yang berubah-ubah itu sungguh menarik dan Yoongi berpikir bahwa Jimin yang sedang terperangah justru terlihat benar-benar manis.

Ekspresif, menempel bagai anak kucing, suara yang menenangkan, sorot mata yang sangat mempesona, sekaligus perangai yang ceria membuat Yoongi tak pernah mampu menolak permintaan Jimin. Bagaimana mungkin dia berkata tidak pada kekasih selucu itu? Toh Jimin bukanlah tipe yang gemar menuntut hal-hal aneh. Tapi namanya manusia, pasti ada cela meski awalnya bukan masalah.

Jimin mudah berubah pikiran. Pemuda itu kadang terlalu menghayati sesuatu, khawatir tanpa alasan, kebingungan, lalu ujung-ujungnya panik sendiri. Jimin juga kurang pandai menyimpan rahasia dan selalu bertingkah aneh saat berbohong, karena itulah Yoongi merasa wajar jika dia mengendus bau tidak beres dari pembatalan kencannya berusan.

"Apa urusan dengan teman lebih penting daripada pacar?" sambarnya sengit. Entah kenapa intonasinya belum melunak walau Jimin sudah minta maaf. Mungkin karena merasa dinomorduakan secara tak langsung, lelah usai bekerja, atau kenyataan jika mereka batal menghabiskan sore berdua. Yang manapun terasa menyebalkan dan Yoongi enggan memaklumi, "Kau tahu bagaimana repotnya meluangkan jam kosong di minggu-minggu seperti ini kan? Kenapa temanmu tiba-tiba minta bantuan padahal tahu kau akan pergi?"

"Aku tidak mengatakan apapun soal rencana hari ini, mau menggeleng juga tidak enak sekali. Akan kuganti berapapun dan kapanpun hyung mau. Sungguh. Hoseok-hyung jugapasti senang kalau diajak nonton, pulangnya kalian bisa minum di apartemen dan mengobrol banyak. Ideku bagus kan? Kujamin hyung akan lupa waktu karena terlalu asyik," mata Jimin berbinar imut mencoba membujuk. Air muka Yoongi berubah masam dengan dahi tertekuk tujuh. Tidak gampang menghubungi Hoseok yang suka hinggap kesana-kemari begitu keluar dari pagar sekolah, apalagi kalau manusia itu sudah menemukan geng penari lepas di sepanjang jalanan Hongdae. Bisa-bisa tidak pulang sampai pagi.

Pergi bersama pacar dan teman jelas berbeda. Yoongi ragu Jimin mampu mengerti apa yang dia keluhkan.

"Aku tahu tiketnya mahal dan hyung kesal karena sudah susah-susah membelinya untukku. Aku belum memeriksa sisa uang bulanan yang dikirimkan ayah, tapi akan kuusahakan mencari jalan supaya kita bisa tetap berkencan minggu depan. Hyung tidak perlu khawatir," kicau Jimin tanpa dosa, masih gagal paham. Yoongi menarik napas panjang serta memilih untuk memasang kembali helmnya sebelum menghidupkan motor. Ekor matanya melipir sekali lagi ke arah Jimin demi memastikan bila dugaannya yang mulai mengawang itu tidak benar. Sembari mendengus, disepaknya kait penyangga motor lalu berpaling membuang muka. Pemuda mungil di sebelahnya meringis kecil, memeluk lengan Yoongi selama beberapa detik, kemudian menjauh diiringi cengir puas.

"Titip salam untuk Hoseok-hyung!"

Yoongi hanya berkedik pasrah dan segera memacu kendaraan diiringi lambaian tangan sang kekasih yang tetap bertingkah tak bersalah. Sekilas, ditangkapnya pantulan senyum Jimin lewat kaca spion. Manis, terlalu manis sampai membuatnya tak berkutik. Sial betul.

Di lain pihak, Jimin bergeming. Sudut bibir tersungging tinggi-tinggi, menunggu hingga sosok Yoongi lenyap di belokan jalan. Telapak tangannya terkepal kuat-kuat antara gusar bercampur girang, "Tidak boleh buang waktu, harus cepat-cepat."

Kaki pendeknya berkelit ke balik dinding luar minimarket tempat dirinya dan Yoongi bertemu, lalu mendorong keluar sepeda pinjaman dari Jungkook bersama kantong plastik besar berisi barang belanjaan harian. Yoongi tak akan kembali sampai sekitar tiga jam ke depan dan Jimin yakin dirinya sanggup memecahkan satu kasus yang membuatnya cukup terganggu belakangan ini. Persetan bila Jungkook menjulukinya paranoid atau tukang gali kubur. Yoongi belum tentu main serong di belakang, tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga. Yang jelas Jimin ingin mengulik jawabannya sendiri walau harus membohongi mantan berandalan tersebut.

Apartemen Yoongi terletak di tak jauh dari kampus Jimin. Pemuda itu mengayuh sepedanya tergesa-gesa sambil berharap agar orang-orang yang berjalan ke arah berlawanan dan menyeberang pertigaan tidak langsung mengambil jalan lurus tanpa melihat-lihat dulu—atau mereka akan tertabrak tanpa ampun. Helaian poninya berayun-ayun seiring kecepatan Jimin melaju dengan raut sumringah menanti hal bagus, setidaknya menurut perkiraan yang, kata Jungkook, suka mengada-ada.

Ditekannya rem sekuat tenaga dan melempar sepeda itu setelah turun dengan semena-mena, tak perlu bertanya soal bagaimana cara memasuki apartemen tersebut sebab Jimin selalu membawa kunci yang sengaja diberikan Yoongi. Dia jarang menggunakannya karena toh tak ada alasan khusus untuk berkunjung jika Yoongi tak ada di tempat atau jika Yoongi tak menjemputnya sepulang kuliah, Namun di saat-saat seperti ini, Jimin akhirnya merasa bahwa kunci di kantongnya sungguh berjasa.

Dua kali putaran dan dia sudah berada di dalam. Pintu ditutup pelan-pelan dibarengi gumaman yang meluncur sopan, "Permisiiiii."

Tak ada respon, tentu saja. Jimin terkikik. Dilepasnya sepatu lalu mengendap-endap menuju salah satu kamar paling besar. Sejenak diamatinya ruang tengah yang tampak berkilau tanpa adanya gumpalan kertas, bungkus camilan, gelas plastik bekas kopi, maupun remah sisa makanan. Matanya berpendar ke seluruh penjuru kamar lalu berkedip bak orang bodoh. Selimut terlipat di ujung ranjang, bantal disusun bersama piyama ganti yang sepertinya disiapkan untuk nanti malam, aroma apel hijau terendus samar-samar dan Jimin spontan mengerenyit, sejak kapan Yoongi sebersih ini?

Bukan saatnya kagum, Park Jimin!

Pemuda itu menampar pipinya sendiri. Jika benar Yoongi menyimpan sesuatu yang disembunyikan dari Jimin, maka dia harus mencari mulai dari tempat paling pribadi. Ponsel boleh terbawa pemiliknya, tapi Jimin yakin ada benda lain yang bisa dijadikan bukti di kamar ini. Sudah sekitar sebulan sejak Yoongi bertingkah ganjil dan Jimin bukannya berharap pria itu betulan selingkuh. Sekedar curiga termasuk lumrah kan? Jimin memantapkan niat, statusnya sebagai pacar mempunyai arti dia berhak mengorek sedikit privasi dari Yoongi. Jungkook enggan sependapat, tapi Jimin tetap bersikukuh.

Lemari, sudut bufet, meja tempat Yoongi menulis nada, bahkan bagian belakang bingkai foto menjadi sasaran pengamatan Jimin. Tidak ketinggalan sekat-sekat yang memungkinkan menyimpan kertas tipis seperti bon atau post-note. Jimin mengeluarkan buku-buku dari dalam rak satu demi satu lalu sibuk membolak-balik halaman, ada banyak ragam pembatas bermotif monokrom di tiap separuh halaman. Pasti pemberian murid-murid bimbingan, tidak penting. Disingkirkannya secara sembarang sambil terus mengaduk-aduk isi lemari. Memo, referensi, buku musik, kertas fotokopi, serta setumpuk kotak bolpoin. Bagian atas meja yang biasanya penuh sobekan kertas kini rapi tertata seperti bangku murid SMA. Jimin menggaruk pipinya curiga, benar-benar bukan seperti Yoongi yang biasanya masa bodoh dengan kondisi rumah. Jangan-jangan ada orang asing yang sukarela membereskan kamar? Hoseok pasti tak sudi ikut membantu walau pria itu baik hati.

"Pasti pacar gelap Yoongi-hyung!" tebak Jimin tanpa tedeng aling-aling. Diremasnya sekotak post-note di atas meja lalu dibanting ke karpet dengan gemas. Ayo berpikir, berpikir. Dulu Jimin bisa mengumpulkan foto yang dicetak dari photobox setebal buku panduannya di minggu pertama mereka bersama. Maka jika dugaannya tentang Yoongi jalan dengan orang lain itu benar, pasti ada foto yang sudah diambil sebagai kenang-kenangan.

Tapi kan mereka pacaran diam-diam, mana mungkin nekat menyimpan foto? Jimin merengut terpengaruh lamunan, Yoongi-hyung pasti tidak ingin ketahuan, jadi sebisa mungkin dia menghindari hal-hal semacam itu.

Batinnya gamang selagi membongkar lemari baju. Wangi maskulin Yoongi menggapai hidung mancungnya dan kekesalan Jimin perlahan naik ke ubun-ubun. Bayangan tentang adanya orang lain memasuki kamar pria itu dan menyentuh barang-barang Yoongi membuat emosinya meninggi. Sebal, dibukanya laci-laci kecil di meja lampu lalu memeriksa dengan seksama setiap sudutnya. Cuma ada arloji serta beberapa sarung tangan yang biasanya dipakai Yoongi mengendarai motor. Kening Jimin berkerut, disembunyikan dimana sih?

Bola matanya mendarat ke arah ranjang. Jungkook pernah berkata bahwa salah satu resep mimpi indah adalah menyelipkan foto orang yang disukai di bawah bantal. Setengah tergopoh sampai nyaris terpeleset saat berdiri, Jimin menghampiri objek yang dimaksud lalu menyeret kasar bantal di susunan terbawah, tak peduli jika piyama dan tumpukan bantal di bagian atas ikut jatuh berguling ke lantai. Dasar belum beruntung, semuanya bersih sebersih warna seprai yang dilihat Jimin. Jangankan foto, sedikit bekas kotor pun nihil. Terlalu seram.

Jimin mendesah keras, capek juga.

Jangan menyerah, mungkin letaknya bukan di sini.

Derap kakinya bergerak menuju dapur, Jimin hapal setiap kisi ruangannya di luar kepala. Tak jauh beda dengan kamar tidur, wilayah ini pun bebas bau sementara peralatannya ditaruh sedemikian rupa sehingga mudah dijangkau. Terakhir kali berkunjung, Jimin memergoki kecoa di sudut wastafel, kini area itu mengkilat seperti baru disikat.

Mencoba mengacuhkan sambil menggumam jika ini sudah kelewat batas, dibukanya laci-laci bahan masak dan kotak tisu di meja makan mini. Rasanya seperti orang bodoh tapi siapa tahu kan? Jimin menggaruk-garuk rambut. Masa sih harus mencari di kamar mandi? gerutunya seraya berjalan keluar dapur, terdengar mirip maniak. Lagipula semakin banyak tempat yang dijelajahi, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menata ulang. Mengingat hal itu, mata Jimin spontan membelalak hebat. Terlampau serius mencari membuatnya lupa satu hal terpenting.

Letak semula.

"GAWAT!" pemuda itu mengumpat sembari melirik jam dinding, sudah satu jam berlalu dari jeda yang tersedia. Dua jam bukan waktu yang cukup banyak apabila Jimin gagal mengingat dimana saja dia harus menaruh semua benda tadi.

"Beruntung aku tidak jumpalitan kemana-mana karena kesal, betul kan? Biasanya aku sering membanting sesuatu memakai tendangan lalu tahu-tahu semuanya pecah begitu saja. Ah sudahlah, tenang, Jimin, tenang," tukasnya percaya diri dengan dagu terantuk-antuk, "Tapi kalau Yoongi-hyung tahu aku usil begini, dia pasti..."

"Marah."

"Betul, betul."

Hening.

"EEEEEEEEH?!" Jimin sontak menempel ke dinding sembari menatap horor pada sosok yang tengah berdiri di depan pintu kamar. Kening berkerut hebat, lengan terlipat dan alisnya menyatu siap menerkam, "Kenapa? Kenapa? Eeeehh? Kenapa hyung ada di sini? Eh? Kenapa? Bukannya..."

"Kenapa aku di sini, katamu? Ini rumahku, tentu saja aku berhak datang kesini kapanpun aku mau," sergah Yoongi tak terima, kepalanya digerakkan sedikit ke kanan serta berujar tanpa merubah ekspresi, "Kuberi sepuluh menit untuk menjelaskan."

"Tapi hyung seharusnya ada di bioskop bersama Hoseok-hyung!" Jimin menuding lurus-lurus.

"Apa urusannya aku ada di bioskop atau tidak? Kalau kau menolak diajak pergi, maka semua keputusannya kembali padaku, baik tetap pergi atau memberikan tiketnya pada Hoseok. Daripada itu, lihat dirimu. Sudah seenaknya masuk apartemen orang tanpa ijin, mengobrak-abrik tempat tidur dan dapur, lalu sekarang mau mengacau ke ruangan lain? Bagus sekali."

"Bukan tanpa tujuan kok!" Jimin ngotot, menjauh dari dinding tapi masih menjaga jarak aman, "Pertama! Aku dapat kuncinya dari hyung, jadi aku berhak masuk sesuka hati. Kedua, hyung bohong! Katanya nonton, nyatanya pulang balik. Ketiga, hyung membuatku kaget! Kalau nanti aku jantungan lalu mati, apa hyung mau tanggung jawab? Dan keempat! Justru harusnya aku yang keberatan dan protes karena hyung selingkuh!" sepatnya beruntun dalam satu lengkingan kuat. Matanya yang minim itu dipaksa melebar sementara hidung dan pipinya memerah entah malu entah marah.

Lipatan tangan Yoongi sontak terlepas, tas punggungnya bergelantung pasrah di satu bahu, rautnya berubah muram seolah tengah mencerna setiap kalimat tuduhan dengan seksama. Sejenak kemudian dahinya terlipat bingung, "Selingkuh?"

"IYA!"

"Aku selingkuh?"

"IYA!"

"Atas dasar apa dan dimana buktinya?" Yoongi menggeram rendah, "Kalau tak bisa memberi alasan yang tepat dan sumber yang jelas, kau bisa dijebloskan ke penjara karena pencemaran nama baik."

Bibir Jimin mengerucut maju, "Akhir-akhir ini hyung bertingkah aneh. Bukan cuma menyingkir waktu menerima telepon, tapi juga langsung menghindar begitu ponselnya bergetar sedikit. Padahal biasanya hyung tidak akan sampai pergi ke beranda hanya untuk melihat pesan masuk. Sembunyi-sembunyi segala. Mau tak mau kan aku jadi curiga. Dan kalau hyung berkata pacar tidak punya hak menegur, aku akan menendang hyung ke dinding depan. Serius. Kulompati juga sekalian."

Pria berkulit putih tersebut tampaknya berusaha mencerna sebab bibir Yoongi terbuka tanpa suara. Jimin mencibir, ditatapnya Yoongi penuh tantangan selagi matanya bergerak mengamati mulai kepala hingga kaki dan—aha! Pandangannya tertumbuk pada ponsel hitam yang sedang digenggam, "Di sana! Hyung pasti menyimpan nomor orang itu di sana!"

"Apa katamu?"

"Aku tak menemukan apapun di apartemen ini,aku juga tak tahu hyung menutupinya serapi apa, tapi orang itu pasti penting sekali sampai-sampai diijinkan masuk ke kamar tidur dan merapikan seluruh isinya. Lihat, pangling kan? Tak mungkin hyung bersih-bersih tanpa alasan. Aku tidak bodoh lho! Hyung tidak bisa bohong padaku! Ayo mengaku!"

"Ya Tuhan," decak Yoongi, meremas poni rambut. Antara pasrah, gemas, sekaligus menahan keinginan untuk tak membekap mulut Jimin yang terus meracau, "Aku tak tahu apa ada kemungkinan kepalamu terbentur benda keras, salah makan, atau entah apalagi. Tapi yang jelas, semua kalimatmu benar benar membuatku...ASTAGA JIMIN! Bagaimana mengatakannya?" telapak tangan mengepal dan terbuka diikuti bibir yang mendesis, "Aku tak percaya sudah menghabiskan empat puluh delapan jam di depan layar untuk berburu tiket dan semuanya jadi sia-sia hanya karena kecurigaan konyolmu barusan."

"TIDAK KONYOL!" Jimin berdalih, "Semuanya salah hyung!"

"Kenapa jadi aku yang disalahkan?!" Yoongi ikut berteriak, tasnya dihempaskan begitu saja ke lantai, "Kau pikir aku akan rela mengorbankan jadwalku kalau bukan demi menuruti keinginanmu? Jam belajar murid-muridku jauh lebih penting daripada sekedar nonton bioskop, tahu! Sebetulnya aku tak mau mengatakan ini tapi kau sudah kelewatan," didekatinya Jimin yang mundur selangkah, "Apa ada yang salah kalau apartemenku bersih? Ada yang salah kalau kamarku tidak berantakan? Salah juga kalau misalnya aku yang mengerjakan semuanya? Salah? Jimin-ah?"

"Iya!" Jimin mencondongkan muka setengah jinjit, "Karena hyung biasanya tidak begini!"

"Tidak biasa bukan berarti tidak bisa."

"Tapi"

"Periksa sesukamu, periksa apa yang mau kau lihat dan apa yang ingin kau tahu," ponsel tadi tersodor di depan hidung Jimin sementara pemiliknya merutuk sengit, "Aku hanya akan menjelaskan satu kali dan sebaiknya dengarkan baik-baik."

Berkedip ragu, Jimin membuka sandi ponsel tersebut dan bergegas menuju panggilan masuk. Ada dua nomor serupa dari nama yang tak dikenal, dicarinya ke halaman kontak seraya mengerenyit dan mengangkat kepala heran, "Jung Dawon? Apa dia wanita?"

"Benar," seloroh Yoongi kalem, meski segera menyambar cepat begitu melihat Jimin bersiap menuding, "Saudara perempuan Hoseok. Ibu dari salah satu murid yang mendaftar di kelas les piano tambahan. Dan sebelum kau menuduhku sebagai perusak rumah tangga orang atau memacari kakak sahabatku sendiri, biar kuingatkan kalau aku punya penjelasan yang jauh lebih logis daripada sikap buru-buru seperti ini."

Jimin hendak protes lagi, tapi digenggamnya ponsel itu seolah takut akan diambil balik.

"Aku punya beberapa murid baru. Salah satunya pindahan dari Gwangju dan harus tinggal di asrama. Ayahnya bekerja di luar negeri sementara ibunya minta tolong padaku untuk menyampaikan keadaan anak itu secara berkala karena beliau belum sempat menyusul dan masih mengurus banyak hal. Orangtua murid diperbolehkan berkomunikasi dengan sekolah kalau yang bersangkutan sedang sukar memantau. Kenapa bukan Hoseok? Karena Hoseok guru menari, bukan guru musik. Dia tidak bisa sembarangan duduk di kelas tambahan dan memelototi cara mengajarku setiap hari. Tentu saja aku tidak bermaksud menyembunyikan pembicaraan kami. Tapi bagiku, rasanya sangat tidak sopan berbicara dengan orangtua murid sementara perhatianku terfokus pada hal lain," Yoongi menggeram menegaskan kalau makhluk di depannya itu adalah objek yang selalu menyita perhatian, "Bukankah tindakanku mirip dengan kebiasaanmu yang suka menjauh saat sedang membahas sesuatu dengan Jungkook?"

Jimin tersedak, "Uh? Tapi aku tidak sembunyi-sembunyi."

"Aku juga tidak bersembunyi, kau saja yang menganggap begitu. Aku selalu bilang mau pergi ke beranda tiap ada telepon dan pesan masuk, lalu keluar supaya kau tidak merasa diacuhkan gara-gara tidak paham apa yang dibicarakan. Pertanyaan dari wali murid kadang bersifat pribadi sehingga perlu dijaga baik-baik. Sebaliknya, aku selalu pamit pada murid-muridku untuk keluar kelas kalau kau mendadak menelepon atau mengirim pesan, apa itu kurang seimbang?" delik Yoongi, menaikkan alis. Bahu Jimin menciut ngeri, "Aku merapikan isi rumah karena kupikir kau akan butuh tempat menginap setelah kencan yang seharusnya tidak gagal. Dari ruang tamu, kamar tidur, sampai sudut dapur. Aku berusaha keras mengatur semuanya gara-gara perkataanmu bulan lalu. Bilang tidak ingat dan akan kujepit hidungmu."

Jimin mematung.

["Hyung jorok, seprainya pasti tidak diganti sejak terakhir aku kemari ya? Pokoknya aku tak mau lama-lama mampir kalau ruangannya masih kotor dan bau!"]

"A, aku pernah bilang begitu?" Jimin menatap lantai dan dinding bergantian, mendadak udara terasa panas, kemungkinan besar berasal dari kepala Yoongi yang mulai berasap, "O, oke, Aku kalah. Tapi tidak ada yang bisa membuktikan apakah perkataan hyung bisa dipercaya."

"Untuk ukuran orang yang baru saja berbohong demi tujuan pribadi, kau tak punya hak bicara begitu," kilah Yoongi, ujung rambutnya mencuat-cuat usai digerut, "Instingku berkata ada yang tidak beres dengan tingkahmu siang tadi dan ternyata dugaanku benar. Semalaman membersihkan kamar sampai begadang malah berakhir dengan tudingan yang bukan-bukan. Apa aku tidak diijinkan Tuhan untuk menyenangkan pacar hari ini?"

Jari-jari Jimin tergenggam gugup, matanya digerakkan kiri kanan canggung. Kepercayaan diri yang tadinya bertumpuk kini rontok perlahan-lahan.

"Jadi hyung, uh...tidak selingkuh?"

"Tentu saja tidak," gerung Yoongi datar, "Aku bukan orang seperti itu."

"Hyung kan bisa bilang kalau itu telepon dari orangtua murid!"

"Kau tidak bertanya."

"Kh...!" Jimin menggigit bibir kuat-kuat sementara Yoongi mengibaskan dua lembar tiket tadi di udara.

"Ada untungnya aku enggan memberikan ini pada Hoseok dan membiarkannya tersimpan di dompet. Tahu kenapa? Supaya kau selalu ingat untuk tidak melakukan interogasi tanpa perhitungan."

"Kan sayang!"

"Siapa peduli?" Yoongi melipat tiketnya untuk diselipkan ke kantong baju. Alis terungkit sinis, "Ada tuduhan lain?"

Jimin kembali beringsut, makin canggung. Pelipisnya digaruk sekilas sambil tersenyum pahit, "Se, sebaiknya aku kembali ke tempat Jungkook dan mengembalikan sepedanya. Ta, tadi dia bilang ingin pergi bersama senior dari jurusan sebelah. Hyung bisa santai di sini, makan siang, tidur-tiduran, nonton televisi, atau, uh—menyiapkan jadwal besok."

Secepat kilat, pemuda itu berjalan melewati Yoongi, tak menggubris bawaannya yang entah ada di mana sekaligus mengacuhkan tatapan tajam yang terasa semakin menusuk dari segala arah. Tujuannya hanya enyah dari kandang binatang buas itu sesegera mungkin dan mengubur diri dalam-dalam jika diperlukan.

Namun apa daya, sebentuk lengan mendorong pintu hingga tertutup dengan suara berdebum keras dan lengan lain menahan bahu Jimin berhenti di tempat. Kepala Yoongi menyusup di sisi kanan telinga dan napas pria itu berembus lirih membuat bulu kuduknya berdiri.

"Kau memang bisa masuk dan datang sesuka hati, Jimin-ah," senyum samar Yoongi terulas miring, matanya berkilat seram, "Tapi aku tak pernah bilang kau bisa keluar dengan cara yang sama."

Dan Jimin hanya mampu menelan ludah.

.

.


.