BTS – Big Hit Entertainment

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita.

AU. Min Yoongi, dokter gigi anti makanan bergula, yang terpaksa menghadapi kenyataan jika kekasihnya adalah penggemar nomor satu jajanan manis dan minuman bersoda.

.

.


.

.

"Aku tidak mengerti kenapa harus selalu aku yang menemanimu belanja. Ini hari kerja, bukan akhir minggu. Dan kenapa bahan makanan di lemari dapur cepat sekali habis? Memangnya makhluk-makhluk itu membabi di kamarmu atau bagaimana? Mereka menggosok gigi sesudah makan, tidak? Pasti minumnya sejenis sirup dan soda. Kuingatkan, kadar gula berlebih tidak baik untuk badan dan membuatmu cepat lelah. Apalagi sehabis olahraga, lebih baik minum air atau isotonik. Vitamin C juga. Kau dengar?"

Yoongi mengarahkan mobil menuju jajaran kendaraan lain di pelataran gedung, Jimin duduk bergeming dan memilih menelusuri permainan di ponselnya selama pria tampan itu mengomel. Tak biasanya. Mungkin akibat seharian harus melayani begitu banyak pasien bergigi bolong dan Yoongi jadi uring-uringan. Pulang terlambat dari tempat praktek, dia terpaksa mengabaikan urusan perut dan memilih untuk langsung menapak menuju apartemen kekasihnya dengan raut masam. Yang sialnya, tepat ketika yang bersangkutan tengah mengadakan pesta camilan bersama sejumlah junior kampus sembari selonjor menonton televisi. Jimin bahkan harus menenangkan Yoongi supaya tak kelepasan mencabut gigi geraham Jungkook yang membuka pintu sambil mengunyah donat tanpa dosa.

Mobil sudah terparkir sempurna dan Yoongi pun mengetuk-ngetukkan jari di kemudi. Matanya berputar ke samping untuk mendapati Jimin yang memiringkan kepala dengan heran.

"Hyung tidak ikut masuk?"

Yoongi tak lekas merespon dan turun tanpa banyak komentar. Bunyi riuh rendah bersahutan menyerbu dari beberapa konter, pengunjung hilir mudik dengan kereta dorong dan keranjang masing-masing. Jimin menyambut riang sapaan seorang pegawai supermarket yang memberinya selebaran promosi untuk hari itu, juga menatap Yoongi yang tampak sangat tersinggung saat ditanya—"Dengan anaknya?" hingga dahi pria itu terlipat-lipat tak suka dan hendak berkilah ketus, namun Jimin terlanjur menyambar pergelangan tangannya menghindar sambil mendorong kereta belanja. Tak sopan sore-sore memulai keributan, di tempat umum pula.

"Kesini dulu," Jimin mengarahkan langkah menuju area makanan manis. Mata berbinar kala ujung jari-jarinya menelusuri pinggiran etalase yang sejuk sambil memandangi wujud kue-kue lucu di bagian dalam, terutama yang dihias irisan buah berlapis jeli. Promosi hari ini, sesuai yang dibacanya di kolom selebaran, adalah roti daging, pai persik, pai apel, serta berbagai bolu gulung. Wanita yang melayani mereka dengan senang hati menyodorkan sepotong kecil pai untuk dicicipi Jimin. Pemuda itu cekatan membuka mulutnya dan Yoongi spontan mengerenyit.

"MANIS!" Jimin meringis seraya menjilati tepi bibirnya yang dipenuhi gelatin, "Aku mau dua potong pai apel dan empat potong pai persik. Oh, bolunya juga. Tiga."

"Kenapa banyak sekali?" Yoongi menyela usai mereka menjauh, Jimin bersenandung.

"Karena aku suka makanan manis."

"Tapi bukan berarti kau boleh membeli banyak makanan manis."

"Jungkook minta dibelikan yang manis-manis."

"Kenapa dia minta dibelikan yang manis-manis?"

"Karena aku bilang mau membelikan dia makanan manis."

"Kenapa kau bilang mau membelikannya makanan manis?"

"Karena Jungkook suka makanan manis."

"Kenapa dia suka makanan manis?" tanya Yoongi lagi. Jimin pun menyepak kakinya sambil mendorong punggung pria itu untuk menepi ke jajaran makanan instan. Diraihnya kotak sereal jagung dan gandum, sekotak susu vanila dan susu rendah kalori. Selanjutnya dia memutar arah ke samping, diambilnya kemasan gula batu, kopi susu, kopi moka, pasta cokelat, cokelat bubuk, dan selai cokelat. Begitu banyak gula dan sakarin, kulit Yoongi langsung gatal-gatal kala menerima kemasannya.

Jimin berjalan ke tempat camilan dan Yoongi mengikuti dengan gontai. Pundaknya beringsut tak tenang melihat bagaimana jemari Jimin bergerak lincah menaruh kantong-kantong keripik kentang, dua kemasan stik rasa stroberi, tiga kotak biskuit berperisa cokelat, lima cangkir puding custard, dan sekantong marshmallow ukuran jumbo berlabel diskon dua puluh lima persen. Gigi Yoongi gemeletuk, tak tahan lagi.

"Kenapa semuanya jajanan manis? Kenapa harus puding dan jeli? Kenapa harus berisi pasta cokelat? Tak bisa rasa asli saja? Dan kenapa harus stik stroberi? Kenapa tak mengambil yang kayu manis atau lemon atau apalah itu? Kenapa harus yang cokelat? Ini tak baik untuk gigimu!"

Jimin hanya melengos dan berbelok ke rak berikut sehingga Yoongi hanya bisa menggeram tak jelas seperti beruang tua. Pengunjung di sekeliling Jimin memandangi mereka dengan tatap aneh bercampur heran, sebab yang berwajah imut tampak begitu gembira berbalut syal tebal membungkus sebagian dagu, sementara yang satu lagi bermuka datar tanpa ekspresi meski tampan sekali. Yoongi pun merapat ke pinggir, dia lebih suka menunggu daripada dimintai pendapat, terutama jika pemuda itu sudah berdiri di depan rak berisi cokelat batangan kesukaannya sejak sekolah menengah. Yoongi tak bisa berkomentar.

Jimin mengetuk bibirnya sendiri dengan telunjuk, sekilas berpikir mana yang harus dibelinya diantara sekian macam rasa dan merek, semuanya terlihat enak dan Jimin suka. Diliriknya pria yang menumpu tangan di atas pegangan kereta dorong dan menopang dagu melihat-lihat sekitar. Senyum Jimin terkembang tipis dan ditariknya pelan lengan baju Yoongi.

"Yuk."

"Lho?" Yoongi tercenung, "Tidak jadi beli?"

"Tidak."

"Kenapa?" tanya Yoongi lagi, "Aku jauh lebih suka melihatmu makan cokelat batangan biasa daripada yang sudah diolah seperti kue, tart, atau biskuit. Menurutku, cokelat seperti itu bagus untuk memperbaiki suasana hati, asal tidak dimakan berlebihan dan langsung menggosok gigi dengan baik sesudah memakannya. Paham?"

Jimin tak menanggapi, malah bersiul-siul meninggalkan rak sambil menggamit lengan Yoongi sebelum dokter itu meracau lagi. Pun tak terusik dengan lirik kaget para pengunjung yang melihatnya menempel erat di sisi seorang pria matang dengan perawakan jauh lebih dewasa. Sementara Yoongi menggosok tengkuk, apalagi kalau bukan merasa kurang enak pada pemuda di samping kirinya. Tapi melihat Jimin yang tetap kalem meski dihujani delik menilai, Yoongi pun memilih pasrah dan menurut.

"Sebentar..." dokter itu mengambil alih kemasan bumbu kare yang baru dipegang Jimin, mata menyipit di balik kacamata. Diamatinya sekilas, kemudian membalik kalengnya kiri kanan atas bawah, memeriksa tahun, tanggal kadaluarsa, termasuk bahan-bahan yang terkandung di dalamnya, "Tujuh bulan enam hari lagi, cari yang lebih lama," perintahnya. Jimin melirik dengan mata setengah tertutup seraya memasukkan benda itu tanpa mengindahkan perkataan Yoongi.

"Hei!"

"Lalu pesanan Taehyungie, hmm...apa ya?" Jimin pura-pura tuli, "Tuna kalengan, ramen cup, dan...oi, hyung!" pemuda itu menggapai benda-benda yang keburu disambar Yoongi dan diperhatikan baik-baik. Kacamata pria itu terlihat berkilat-kilat sewot, ucapannya terlontar mengancam.

"Kadar garamnya terlalu tinggi. Kalau tetap mau makan, sebaiknya dicampur dengan banyak sayuran. Ingat ya, harus seimbang. Katakan pada sahabatmu yang nyeleneh itu."

Jimin mengangguk pelan.

"Ini tak usah diambil," Yoongi meletakkan kembali kaldu instan ke tempat semula, lalu menaruh kaleng tuna ke tangan Jimin, "Lebih baik membeli kelp atau serutan ikan kering daripada buatan pabrik. Lebih sehat. Jangan dibiasakan menambah banyak penyedap rasa. Tidak bagus untuk tubuh."

Jimin bungkam seraya memasukkan kalengan tersebut ke kereta dorong. Mulai tak nyaman karena tempo kalimat Yoongi yang makin meninggi. Bukan berarti Jimin lebih menyukai Yoongi yang pendiam atau tak banyak petuah, namun jika kekesalannya selalu dilampiaskan dengan menasehati tanpa memikirkan perasaan orang lain, lambat laun kesabaran Jimin bisa habis juga. Dia tak meminta dijemput setiap hari, tak minta ditemani setiap pergi, tak minta ditraktir setiap kencan, juga tidak minta dikunjungi setiap malam. Yoongi memang tipe yang berbicara tanpa sensor kata-kata, tapi Jimin tetap belum mengerti bagaimana caranya agar dia terbiasa.

"Tempat ini ramai sekali," Yoongi menggerutu lagi, "Dimana-mana ada orang berkerumun."

"Namanya juga supermarket, hyung."

"Iya, tapi belanjanya kan bisa sambil diam."

"Hyung juga tak bisa diam," balas Jimin, jengkel, "Bicara terus dari tadi. Berisik."

Satu teguran sudah terucap dengan jelas dan Jimin tak lagi mendengar bantahan. Puas, dia berputar santai ke bagian peralatan mandi untuk mengambil sabun, pasta gigi, serta pembersih wajah. Matanya tertuju pada jajaran shampoo di sebelah dan melipir untuk mencari-cari merek favorit Yoongi, campuran mint dan lavender yang disukainya. Sayang, Jimin harus berdecak usai gagal menemukan apa yang dicari. Sebagai gantinya dia meraih sebotol shampoo beraroma sitrus untuk dirinya sendiri.

"Ini boleh dibeli ti...lho? Hyung?" Jimin menoleh, heran karena tak menjumpai kereta dorong waktu meraba-raba ke belakang. Yoongi sudah tak berada di sana, begitu juga dengan bawaan yang raib entah kemana. Toleh kanan, nihil. Toleh kiri, tak ada hasil. Jimin berbalik langkah dan mengintip dari balik rak, Yoongi tak ada di sebelah maupun di depannya. Maka sembari memeluk benda-benda yang baru saja diambil, Jimin berlari-lari kecil ke sisi rak supaya tidak mengganggu pengunjung lain, kepalanya dijulurkan keluar, berharap mendapati punggung sosok berambut hitam tersebut diantara hilir mudik manusia di sekitarnya. Saat-saat begini memang tidak enak punya tubuh pendek.

"Yoongi-hyuuuung?" panggilnya agak kencang. Beruntung, seperti kata Yoongi, pengunjung di tempat itu memang sangat ramai sehingga seruan Jimin terdengar wajar. Satu, dua, tiga kali. Jimin pun membuka ponsel dan berusaha menghubungi nomor telepon Yoongi. Bibirnya mengerucut kesal begitu mendengar jawaban sibuk dari operator. Jimin mulai gelisah, kalau sampai Yoongi tersinggung akibat tegurannya tadi dan memilih pulang, Jimin masih bisa menerima. Tapi kalau dokter itu terlanjur marah dan absen meneleponnya selama beberapa hari ke depan, Jimin pasti tak bisa tenang belajar.

Ah, bagaimana sih. Belum ada setengah jam sejak keluhannya soal jemputan dan kunjungan rutin, sekarang dia malah kuatir tidak ditemani lagi. Jimin menggaruk-garuk pipi, terlanjur nyaman di samping Yoongi membuatnya jadi kurang menghormati pria itu. Mau berstatus sebagai teman dekat atau pacar sekalipun, Yoongi tetap sembilan tahun lebih tua darinya dan Jimin harus menghargai hal tersebut.

"Uhm, maaf," Jimin bertanya pada seorang wanita dengan keranjang belanja di rak makanan ringan, "Apa anda melihat pria berkulit putih, memakai kacamata, dan berkemeja biru lewat sini?"

Wanita itu berpikir sejenak sebelum bergumam 'aha!' dan Jimin memandang penuh harap.

"Tadi ada yang seperti itu di depan rak mainan anak, mungkin mencari hadiah. Ayahmu, ya?"

Malas menanggapi, Jimin hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Masih memeluk bawaan, dia bergegas menuju rak yang dimaksud sambil berharap agar pria itu belum pergi kemana-mana. Minimal dia bisa bernapas lega sebab Yoongi masih berada di dalam supermarket dan bukan pulang ke rumah.

"Hyung?" panggilnya lagi, kepalanya berpaling ke segala arah, berusaha tak memperdulikan apa yang terpajang di konter meski barang-barangnya sangat menarik perhatian. Dilewatinya belokan terakhir dengan kebingungan, badannya berputar ke kanan dan di sanalah dia bersorak gembira.

Punggung yang dikenalnya berdiri membelakangi beberapa langkah di depan Jimin. Tangan pria itu bergerak mengusap sesuatu yang tersembunyi dari pandangan, sementara tangan kanannya masih menggenggam pegangan kereta berisi belanjaan. Seorang wanita berdiri di tempat serupa dan kini membungkuk hormat sambil tersenyum lebar. Jimin mengangkat alis, berusaha tetap berasumsi positif selagi berjalan mendekat.

"Yoongi-hyung?"

Pria itu menoleh dan Jimin mengerjap mendapati apa yang tersembunyi oleh tubuhnya sedari tadi. Seorang anak laki-laki, kecil, hanya sepinggang Yoongi. Menjilati sebatang permen dengan mata berbinar. Mungil dan lucu sekali.

"Oh, maaf, mencariku ya?" Yoongi terkekeh sambil berbalik, wanita tadi segera pamit seraya menggandeng anak kecil tersebut, Yoongi mengangguk serta melambaikan tangan sebelum kembali menghadap Jimin sambil menepuk-nepuk pegangan kereta, "Yap, sampai mana kita?"

"Sudah selesai kok," Jimin menaruh benda-benda dalam dekapannya ke tumpukan barang di kereta dorong, lalu melirik Yoongi, "Tadi hyung menghilang kemana saja? Teleponnya sibuk terus."

Yang ditanya balas mengeluarkan ponselnya dan berkedik sekilas, "Maaf, tadi kebetulan ada yang menyapa waktu aku berjalan di belakangmu."

"Siapa?"

Telunjuk Yoongi terarah ke tempat anak kecil tadi berdiri, "Ibu dari pasienku, bacaan putranya tertinggal di tempat praktek, jadi kutelepon asistenku kalau-kalau dia menemukan buku cerita setelah beres-beres. Maaf, kau jadi repot mencari. Apa lama sekali? Capek?" telitinya sembari memiringkan kepala. Jimin mendesah panjang dan menggeleng lemah.

Usai membayar di kasir dan (sekali lagi) disangka sebagai ayah dan anak, Jimin menggamit Yoongi keluar dengan satu tangan menggenggam karton belanjaan. Dua karton lagi dipegang dokter berkacamata tersebut karena, di luar dugaan, barang belanjaan mereka ternyata banyak juga. Yoongi membuka pintu bagasi dan menjejalkan semuanya tanpa kecuali. Jimin ikut masuk sambil memasang wajah masam, tak segera menyampirkan sabuk pengaman dan malah memandang keluar jendela.

"Kupikir hyung marah."

"Ng?" Yoongi mengernyit, urung menyalakan mesin, "Kenapa aku harus?"

"Karena aku bilang hyung berisik."

"...oh, yang tadi?" Yoongi mengangguk-angguk lalu melengos hambar, "Kenyataannya memang berisik. Pikiranku sedang kacau dan berantakan, jadi aku bicara seenaknya," gumam pria itu. Jimin mengarahkan mata ke samping dan menemukan Yoongi yang menyangga dagu di atas kemudi dengan satu tangan memijat pangkal hidung. Napasnya berhembus berat, "Pekerjaanku tidak habis-habis dan pasienku makin sulit dinasehati, terutama orang-orang dewasa yang selalu mencari alasan tiap diberi saran. Mereka jauh lebih menyusahkan dibanding bocah taman kanak-kanak yang datang bergerombol dengan pipi bengkak. Mungkin gara-gara itu tekanan darahku naik dan kau jadi sasaran. Maaf, Jimin-ah. Lain kali hyung akan tidur saja di mobil."

Jimin mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan menggeleng cepat, "Aku tidak mau jalan-jalan sendiri. Lagipula harusnya aku mengerti kalau hyung masih capek waktu datang ke apartemen. Bukannya membuatkan minum dulu atau menyilakan duduk, malah langsung mengajak hyung pergi," kepalanya ditumpangkan di atas lutut, "Tugas kuliahku juga mulai banyak menjelang ujian semester, tidak enak mengajak Taehyung yang berbeda jurusan, apalagi memanggil Jungkook di tengah acara makan-makan bersama junior yang lain. Karena itu aku minta ditemani Yoongi-hyung."

Pria itu mengangguk paham, Jimin menangkapnya sebagai sinyal untuk terus menjelaskan.

"Soal makanan manis, aku tak bisa membantah. Anak-anak itu suka berkumpul dan makan di kamarku karena ruangannya paling besar sehingga kami bisa lesehan sambil menonton televisi. Tapi aku selalu ingat nasihat hyung untuk gosok gigi dan tidak banyak minum minuman bergula. Jungkook juga tidak mau otot hasil latihannya hilang sia-sia hanya karena soda," Jimin menelusuri motif jinsnya dan berusaha mencuri-curi pandang ke sebelah, "Aku tidak suka camilan rasa kayu manis, aku juga tidak hobi makan malam. Jadi aku membeli banyak puding untuk mengganjal lapar sewaktu belajar. Soal Taehyung, dia tak suka repot-repot memasak dan ingin segala sesuatu yang praktis. Tidak bisa diapa-apakan lagi, diperingatkan juga percuma," pungkas Jimin, bibirnya membentuk rengutan kecil usai bicara. Paling tidak Yoongi tahu sedikit bagaimana kebiasaannya selama berjauhan.

Pria itu kembali mengangguk, kali ini dengan sengaja menghela napas panjang dan beringsut mengusap mukanya dengan kedua tangan, terdengar menggeram dan Jimin menjulurkan tangannya untuk mengelus punggung Yoongi.

"Semangat dong, hyung," tukasnya, penuh perhatian, "Aku tahu hyung jauh lebih kuat dari ini. Tidak satu dua kali dikerumuni banyak pasien kan? Lagipula hyung sering berkata jika anak-anak di tempat praktek selalu membuat naluri kemanusiaanmu kembali. Kalau benar-benar lelah, hyung bisa mampir ke apartemenku dan menginap sesukanya. Aku janji tidak akan minta diantar kemana-mana kecuali hyung bersedia. Eh, tapi hyung selalu bersedia, ya?" ringisnya tersipu, "Hyung terlalu baik sih, aku yang tak tahu diri."

Yoongi menurunkan lengan dari wajahnya dan Jimin bisa melihat eskpresi pria itu berangsur melunak, diteruskannya mengelus punggung Yoongi karena tak banyak yang bisa dia lakukan untuk membantu. Yang bersangkutan mendesah lirih sembari membuka dashboard untuk mengambil kopi kaleng. Senyum sumringah Jimin pun tersungging dengan manisnya hingga Yoongi tak tahan untuk tidak bertanya.

"Kenapa?"

"Senang saja," seloroh Jimin, "Hyung terlihat jinak kalau sudah tersentuh kafein."

"Jinak?"

"Hm-mm," Jimin mengiyakan mantap. Tahu-tahu Yoongi memergoki sebentuk telapak tangan terentang di depan hidungnya diiringi Jimin yang mengangkat dagu jumawa, "Apa ini?"

"Co-ke-lat!" tagih pemuda itu dengan cengiran lebar, nakal seperti semula, "Aku sengaja tidak beli karena hyung selalu memberiku oleh-oleh tiap kita bertemu. Nah, sekarang mana cokelatnya?" tambah Jimin, mengaduk-aduk segala macam barang di dashboard. Sudut bibirnya tertarik turun usai menemui dua kaleng kopi lain beserta obat sakit kepala. Yoongi tertawa sampai nyaris tersedak.

"Jadi gara-gara itu kau batal membelinya?" tanyanya seraya menaruh kaleng tersebut di sisi tuas rem, "Dan kenapa harus cokelat dariku?" delik pria itu penasaran, Jimin mencondongkan badan ke arah Yoongi dan meringis dari telinga ke telinga.

"Karena rasanya lebih istimewa," bisiknya, masih menadah, "Ayo sini."

Tak berdaya menghadapi raut manis tersebut, Yoongi pun terpaksa menyerah kalah. Lengan kirinya terjulur sejenak ke belakang untuk mengambil tas kerja, dan Jimin bertepuk tangan begitu dua batang cokelat berlabel familiar dirogoh keluar dari kantong tas. Lengkap dengan perpaduan kening berkerut dan gerutuan yang terlontar seperti orang berkumur.

"Jangan lupa gos..."

"Iya! Iya! Aku pasti akan gosok gigi, pak dokteeerrrr," Jimin menekan nada bicaranya karena Yoongi pasti bersikap skeptis setiap kali membawakan jajanan, "Kuatir sekali sih, aku kan anak baik."

"Anak baik apanya?"

"Aku selalu menuruti kata-kata hyung lho?"

"Pintar sekali merayu," dengus Yoongi, membiarkan cokelat-cokelat itu dirampas Jimin untuk segera dimakan di tempat. Bunyi patahan dan kunyahan nyaring membuat Yoongi kembali gatal-gatal dan memilih untuk menyalakan mesin mobil sebelum alergi gulanya kambuh lagi.

Namun sedetik kemudian sesuatu yang basah menjilat pipi kanannya dan Yoongi pun sontak membeku. Tangannya sigap menyentuh muka sambil berpaling ke samping. Dilihatnya sang pelaku menjauhkan muka dengan puas, dengan sengaja mengerling dan menggigit bibir dengan jahil.

Bulu kuduk Yoongi langsung meremang.

"Manis," seringai Jimin yang kembali mengunyah cokelatnya tanpa rasa bersalah. "Ayo jalan, hyung."

"Bocah sialan."

.

.


.