BTS - Big Hit Entertainment.

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita.

.

.


.

.

"Rasanya aku pernah melihatmu," Yoongi kembali mengerenyit, alisnya bertaut. Tak sengaja meninggalkan kacamata di ruang bimbingan belajar memang bukan ide bagus, "Bukankah kau anak kelas khusus yang selalu mondar-mandir dengan jaket kuning di perpustakaan?"

"Eh?"

"Rupanya benar. Siswa kesayangan guru Matematika yang rumornya tak pernah dapat nilai kurang dari sembilan. Wah, wah, tak kusangka bisa bertemu dalam keadaan seperti ini. Hmm, rok itu cocok sekali untukmu," telunjuk beserta ibu jari Yoongi menggaruk dagu mengamati, sementara raut remaja yang bersangkutan mendadak pucat pasi, "Tapi ngomong-ngomong, bukankah kita dilarang mengambil kerja sambilan menjelang ujian? Kalau ketahuan sekolah bisa kena detensi lho?"

"J, justru karena itu! Jangan dilaporkan! Aku cuma membantu teman!"

"Ah, alasan."

"Sungguh!"

"Kelas II-4 kan? Siapa namamu tadi? Moomin? Micin?" lengos Yoongi sekenanya, kedua kaki bersilang jumawa selagi punggung tangan menumpu pelipis. Telunjuk lainnya berputar-putar di udara dengan mata terpejam seolah memikirkan susunan nama yang tepat. Sosok di hadapannya bergegas menyambar.

"Jimin," tukas remaja itu, gusar, "Park Jimin."

"Oke, Jimin," Yoongi mengangguk setenang rawa, "Di selebaran ini tertulis jika tamu restoran akan ditemani seorang pelayan di masing-masing meja selama satu jam. Benar?"

Jimin mengiyakan, canggung, "Ada pelayan yang akan duduk di samping pengunjung karena menu di restoran kami disajikan dengan bonus permainan. Misalnya rolet bola gurita. Dari enam bola, hanya ada satu yang berisi saus cabe. Pelayan akan ikut makan bersama Anda agar permainannya bisa berjalan, kira-kira seperti itu," terangnya, tak nyaman. Bukan perkara mudah menjelaskan aturan seaneh itu dalam kondisinya. Mengenakan pakaian pelayan warna merah muda berenda-renda yang seharusnya dipakai seorang wanita, Jimin berusaha keras menarik-narik ujung roknya agar tak terlalu memperlihatkan paha. Sebuah bando berbahan serupa menghiasi kepala, didukung kaus kaki sebetis berbahan tipis, juga sepatu balet bersemat pita yang manis. Meski hampir tak bisa dibedakan dengan wujud seorang gadis, jakun di pertengahan lehernya masih membuktikan jika Jimin masihlah laki-laki dan memiliki sebatang penis.

"Kalau hyung tertarik, aku bisa meminta potongan harga pada manajer restoran, asal..."

"Asal aku tak membocorkan soal kerja sambilanmu? Heee, murah sekali," telapak tangan kiri Yoongi terkibas enggan, alis terangkat sebelah, "Bagaimana jika kau membantuku mencari informasi tentang pelayan paling cantik dan seksi untuk dijadikan teman makan?"

Jimin sontak menggeleng cepat, "Maaf hyung, tapi itu tidak mungkin. Pelayan yang bertugas menemani tidak bisa dipilih sesuka hati. Sudah ada pembagian nomor meja dan giliran berjaga."

Tamu kurang ajarnya pun mendesah kesal dan dagu Yoongi kembali digaruk penuh maksud sambil mengamati Jimin dari bawah ke atas. Mulai dari betis yang bagus, paha yang mulus, pinggang ramping yang membius, juga kulit dada yang terpapar di balik kerah rendah seragam bertabur glitter halus. Pinggul sintal, membius.

"Kalau begitu..." bola mata Yoongi bergeser licik, "Kau saja yang menemaniku."

"Eeeeeeh! Itu mustahil!" Jimin menggeleng lebih cepat dari putaran kipas angin, mukanya ditundukkan dalam-dalam seraya berharap bando kain lucu yang terpasang di batas poninya itu bisa memanjang dan menyembunyikan dirinya dari pandangan Yoongi. Atau lebih bagus lagi, secepatnya kabur dari sini, "Aku hanya bertugas membagi selebaran dan tisu gratis ke pejalan kaki yang lewat di depan restoran, lagipula Jieun-nuna berkata pekerjaanku cuma berlangsung satu minggu."

"Jieun? Oh, Jieun, ya, ya, ya," sergah Yoongi manggut-manggut, suara rendahnya terdengar bagai musik kematian di telinga Jimin, "Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku tahu dia punya kegemaran berlebih pada kosmetik dan hobi mendandani orang lain, tapi tak kusangka akhirnya makan korban juga," kekehnya, melipat kemasan tisu sebelum dikantongi di saku baju. Kepalanya dijajarkan setara jarak pandang Jimin yang tetap menunduk meski suasana hening, "Aku mau kamu yang duduk di sini. Katakan pada Jieun kalau aku yang meminta, dia pasti akan menyanggupi tanpa banyak bicara."

Mulut Jimin terbuka tak paham, "Kok bisa?"

"Tentu saja bisa," Yoongi membusung congkak, seringai mengembang dalam hingga bagian geraham, "Dia sepupuku."

Demi gulungan usus babi, kali ini Jimin benar-benar ingin ditelan bumi.

.


.

Jimin merasa dirinya tak berbuat dosa, sungguh. Siapa yang bisa menolak kala menghadapi tatap memelas kakak kelasnya yang menghampiri dan mengadu, jika salah satu pelayan di restoran temannya absen karena flu. Jimin sangat lemah melawan bola mata yang berkaca-kaca serta kalimat penuh nada memohon, apalagi yang meminta bantuan adalah anggota OSIS dan Jimin sedang butuh uang untuk membayar iuran bimbingan. Sejujurnya, tanpa perlu mempertimbangkan kebutuhan pun, Jimin tak akan bisa menggeleng pada tiap orang yang membutuhkan pertolongan. Kata orangtuanya, menolong sesama manusia adalah kunci masuk surga dan Jimin ingin mengamalkannya dengan baik, walau resikonya kadang cukup pelik.

Jieun menjamin tidak ada masalah mengenai penampilan karena wajahnya memadai. Jimin pasrah dipuji manis, terlalu sering dikomentari dan sudah kebal ditawari kencan oleh lelaki. Gadis itu juga berujar bila Jimin tak perlu khawatir dicurigai oleh komite sekolah, sebab tugasnya hanya berdiri dan menyebarkan setumpuk selebaran persegi berisi informasi diantara hilir-mudik manusia di sekitar lokasi.

'Akan ada beberapa gadis yang berkostum sepertimu nanti, seragamnya mirip dan aku yakin kalian bisa membaur. Bayarannya bisa segera diambil begitu pekerjaanmu selesai, bagaimana?'

Bodohnya, Jimin langsung percaya.

Harusnya dia sadar jika sesuatu yang tampak mudah, biasanya datang dengan kejadian yang tidak lumrah.

.


.

Identitasnya jelas hanya dari lirikan sekilas.

Jimin tak perlu susah payah memastikan apakah mereka pernah berpapasan atau bertemu di suatu tempat. Dia hapal benar siapa pemuda itu, meski tak memiliki cukup nyali untuk menyapa saat berpapasan di gerbang depan, koridor menuju perpustakaan, maupun di bangku sudut tangga tempat Yoongi tidur-tiduran. Deret ruang kelas tiga menjadi jalur rutin Jimin tiap kali berniat mengembalikan buku maupun meminjam daftar pustaka untuk bahan ulangan Matematika. Kursi Yoongi juga terletak di dekat pintu, sehingga Jimin sering mendapati kepalanya tertelungkup di atas meja saat tak sengaja menengok dari luar beranda.

Pemuda itu mencolok, mudah dikenali dengan suaranya yang berat, raut penuh kantuk, dan rambut yang entah kenapa selalu lolos dari radar tim kedisiplinan meski terang-terangan dicat warna putih dan berponi melebihi batas dahi. Dasi menjuntai longgar menggapai perut, sementara jas luaran sekolahnya kadang disampirkan asal di pundak atau malah tak dipakai sama sekali. Jimin bukannya ingin dianggap sebagai penguntit, dia hanya hapal detil-detil kecil itu berkat kebiasaan melewati jalur kelas tiga. Dia bahkan mengetahui nama Yoongi dari seru-seruan siswa sekitar yang ditanggapi oleh pemuda tersebut dengan angguk datar. Terdengar sombong dan rumornya berhati dingin, tapi Jimin sangsi, mengingat salah satu komentar miring itu terlontar dari seorang siswi kelasnya yang sakit hati akibat cokelat valentinenya ditolak Yoongi.

Ibunya kerap mengingatkan untuk tak menilai orang lain berdasar penampilan atau gunjingan, dan Jimin mengiyakan tanpa banyak bertanya. Lagipula rumor itu tak sepenuhnya benar. Min Yoongi tidak pernah menginjak petak taman mini yang terletak diantara batas kelas dan koridor seperti siswa lain, tidak pernah dijemur di lapangan akibat terlambat, tak pernah sepi dari sapaan, dan yang paling penting, namanya selalu tercatat di baris peringkat tiga besar sejak kelas satu. Jimin jadi penasaran, jangan-jangan makhluk yang penampilannya mirip tokoh kriminal tersebut memiliki kepribadian ganda, atau ternyata punya kembaran yang kerap diajak bertukar peran.

Sudahlah. Yang perlu dibahas sekarang adalah, bagaimana cara keluar dari situasi yang membuat Jimin hendak mengubur diri di tengah ramainya pejalan kaki. Situasi dimana sosok Yoongi mendadak muncul dan menarik Jimin menjauh dari gadis-gadis penyebar tisu lainnya. Bukan sekedar memaksa, melainkan menyeretnya agak tergesa, menggenggam pergelangannya begitu erat seolah kuatir Jimin akan kabur, kemudian menggiringnya menuju restoran dengan cengir tersungging lebar.

Demi uang bimbingan, batin Jimin. Pasrah.

Selain dua pelayan penyambut tamu yang terkikik lucu sewaktu dia memasuki pintu bersama Yoongi, Jimin tak merasa ada hal lain yang membuatnya bisa bernapas lega. Pemuda yang menyeret lengannya menolak memberi kelonggaran jika Jimin bersikeras tak mau duduk bersebelahan seperti layaknya pelayan-pelayan lain di meja seberang. Padahal menurut Jimin, posisi yang diminta pemuda itu justru lebih mencurigakan. Kaki saling menempel dan lengannya wajib menggamit sang tamu tak diundang. Ini kan bukan host club, kenapa harus menyuruhnya bertingkah ambigu?

Panjang rok yang hanya mencapai paha pun cukup menyulitkan Jimin duduk dengan nyaman. Beberapa kali dia beringsut menarik roknya meski sia-sia, sepatu balet yang tak memiliki sol bergerigi beradu dengan lantai keramik membuat Jimin harus ekstra hati-hati saat membawakan pesanan agar tak terpeleset. Yoongi memilih tempat paling strategis untuk memisahkan dirinya dari pengunjung lain, tepat di sudut restoran dan terhalang tiang-tiang penyangga. Secangkir kopi pahit, empat potong kue stroberi, serta sepiring nasi kare bertabur abon sapi. Bukan perpaduan yang lazim, tapi terserah.

Yoongi melahap dalam sunyi. Dari caranya menyantap kue dan menyendok nasi, sepertinya pemuda itu sedang lapar berat. Baru setelah suapan kedelapan, Yoongi akhirnya mengangkat kepala dan melirik Jimin dari sebagian poni yang menghalangi dahi, "Sampai kapan kau akan membagi tisu di depan sana?"

"Sabtu, tinggal tiga hari lagi."

"Besok dan lusa ada bimbingan belajar, kan?"

"Aku berangkat sepulang bimbingan, jadi tidak ada masalah," cicit Jimin pelan, jari-jari mungil memainkan renda dengan canggung, berusaha keras menghindari kontak mata, "Itu juga kalau, eee... hyung tidak melaporkanku ke anggota komite."

Kunyahan Yoongi melambat seiring senyuman yang disembunyikan di balik punggung tangan, pucuk sendoknya teracung menyapa hidung Jimin, alis terangkat jahil, "Kau ini polos sekali ya?"

"Ha?"

"Kalau aku melapor pada tim kedisiplinan tentang siswa yang bekerja sambilan di restoran ini, artinya Jieun akan ikut terseret karena dia adalah orang yang meminta bantuanmu sejak awal," tukas Yoongi, mengulum sendoknya sekilas sambil terkekeh. Jimin mengernyit gamang ke arah meja-meja sekitar, tatap tajam pemuda itu selalu terasa menusuk hingga tengkuk dan membuat bulu kuduknya meremang tanpa sebab.

"Sungguh?"

"Yep."

Nekat menyanggah, Jimin berujar ragu, "Andai Jieun-nuna bukan sepupumu, apa hyung akan langsung mengadu agar aku terkena skorsing dari sekolah?"

"Kau pikir aku setega itu?"

Bola mata Jimin berputar lagi, masih enggan mempercayai orang yang duduk menyilangkan kaki di sisinya kini. Apalagi kalau bukan karena ekspresi Yoongi yang tampak sangat mengintimidasi. Dagu ditopang telapak tangan, lidah menjilat bibir seraya mengangkat sebuah garpu yang Jimin yakin akan ditodongkan di depan wajahnya sebentar lagi.

Tapi tidak, Yoongi hanya menggunakan garpu tersebut untuk menjawil secuil kue yang batal dimakan, lalu menaruhnya terbalik di permukaan nampan. Sorotnya berpendar mengamati Jimin dari atas ke bawah, mendengus kecil, kemudian kembali menjilat bibir dengan taring menyembul.

Oh Tuhan, Jimin ingin lari.

"Aku akan tutup mulut," suara beratnya menyela keheningan, kepalanya berpaling pada salah satu pengunjung yang lewat diantar seorang pelayan. Berdempetan intim dan tampak mencurigakan. Detik berikutnya Yoongi melempar kedip usil, "Tapi tentu saja tidak gratis."

Bak reflek, Jimin menyambar secepat kilat, "Aku tidak punya cukup uang untuk membayarmu, hyung!"

"Aku juga tak berminat dengan nominal, percuma kau bekerja kalau hasilnya digunakan untuk membayarku," seloroh Yoongi, memainkan pegangan cangkirnya dan tertawa mendapati bagaimana mata Jimin membesar sempurna, "Bimbingan dan segala les tambahan itu membuatku benar-benar suntuk, dan sepertinya mampir melepas penat di tempat seperti ini bukanlah ide buruk."

"Lantas?"

"Aku tidak minta potongan harga, ditraktir, atau dibelikan sesuatu. Tapi aku akan senang jika kau bersedia menemaniku makan," kepala Yoongi bergerak condong, mengikis jarak hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga pemuda itu. Napas beratnya berhembus hangat, seduktif, "...Jimin-ah."

Yang dipanggil sontak berjengit, wajahnya mendadak panas.

.

.


.

.

Memberi senyum samar pada Jimin yang terlihat sangat manis sewaktu mengantarnya keluar dengan raut merah total, Yoongi melambaikan tangan sekilas dan bersiul melewati pintu. Ranselnya disandang gontai di satu bahu selagi kepalanya menengadah mengeja papan nama restoran tersebut. Pelipisnya berkedut kala menyadari derap kaki dan suara familiar mengusik dari belakang.

"Untuk ukuran senior idaman yang konon menolak hampir seluruh gadis dari tiap kelas, kau tampak terlalu bersemangat," sosok itu melipat tangan sambil terbahak sarkastis, "Apa tak bisa pakai cara wajar dan sederhana dengan langsung menyapanya di sekolah?"

"Hmmm, bagaimana ya?" kedik Yoongi acuh, "Hanya menyapa saja tak akan membuat rasa penasaranku hilang."

Jieun melengos, "Rasa penasaran tentang cocok tidaknya Park Jimin memakai rok berenda?" cibirnya, menggeleng-geleng tak paham seraya mengawasi gerak Yoongi yang masih memunggungi. Jemarinya berpindah memijat pangkal hidung lalu menghela napas panjang, "Semoga anak itu tidak curiga bahwa kau adalah orang yang memintaku berpura-pura kekurangan pekerja."

Menyeringai lebar, Yoongi balas mengerling tanpa dosa.

.

.


.

.