:

Taufiq879 Present

:

Destined To Live With You

:

Bab 2

Demi Kakek Dan Perusahaan

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]

"Aku sadar. Hidupku mungkin tidak akan lama lagi. ajal bisa menjemputku secara tiba-tiba. Syukurnya hari ini aku masih di beri kesempatan. Jadi aku akan mengatakan ini." Jiraiya menarik nafas. "Kalian akan kami nikahkan dalam beberapa hari."

Naruto merasa ada yang aneh dengan perkataan kakeknya itu. Mendadak ia syok ketika mendengar kata "Menikah". Tak hanya Naruto, Hinata pun sepertinya mengalami hal yang sama.

"MENIKAH?!" ujar mereka berdua bersamaan tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Tsunade mengangguk. "Ada sesuatu yang mendasari kenapa kami harus menikahkan kalian."

"T-Tapi aku masih berusia 16 tahun. Kemungkinan Hinata juga sama denganku. Untuk apa kami menikah di usia semuda ini. Lagi pula kami tidak saling mengenal," ujar Naruto menentang.

"A-Aaku juga setuju dengan pernyataan cucu anda."

"Ada beberapa alasan. Pertama karena aku khawatir jika aku meninggal sebelum Naruto menikah, maka perusahaan Uzumaki Enterprises akan jatuh ke tangan pemerintah sesuai perjanjian yang telah aku buat dengan pemerintah agar aku dapat memimpin perusahaan untuk menggantikan Minato, kakekmu."

"Perjanjian itu berisi syarat. Jika Naruto, selaku pewaris perusahaan belum menikah pada saat Kematian Jiraiya, maka perusahaan akan di berikan pada negara. Penyebabnya adalah karena perusahaan Uzumaki Enterprise adalah perusahaan keluarga. Jika dipimpin oleh orang luar dari keanggotaan keluarga, maka secara resmi gelar perusahaan keluarga akan hilang dan Uzumaki Enterprise akan jatuh ke tangan pemerintah sesuai perjanjian yang telah di buat," kata Tsunade.

"Kedua adalah karena pesan Minato. Ia menyuruh kakek untuk merawat Hinata dan menjadikannya sebagai bagian dari keluarga Uzumaki. Namun, hal itu tidak bisa di lakukan karena aturan negara kita. Salah satu cara agar Hinata secara resmi menjadi bagian dari keluarga Uzumaki adalah dengan menikah dengan Naruto."

"Jika perusahaan Uzumaki jatuh ke tangan pemerintah. Maka perlahan kita akan menuju kemiskinan. Harga diri keluarga Uzumaki pun akan hilang," kata Tsunade.

"Jika kalian sudah menikah, kakek bisa bernafas dengan lebih lega. Jika sewaktu-waktu kakek meninggal, kau bisa menggantikan posisi kakek karena telah menikah. Kuharap kalian berdua bersedia," kata Jiraiya.

Hinata maupun Naruto terdiam. Kesal adalah hal yang dirasakan Naruto. Bagaimana tidak. Tiba-tiba saja ia di jodohkan oleh gadis yang tidak ia sukai dan bahkan sebenarnya gadis itu sama sekali tidak ia kenal.

Hinata terlihat sedang menimba-nimba pikiran. Naruto merasa bahwa jawaban gadis itu adalah tidak. Dengan begitu, kakeknya tidak akan bisa memaksa mereka untuk menikah. Namun apa yang terjadi malah di luar bayangan Naruto.

"Aku bersedia. Keluarga anda sudah sangat baik pada keluargaku. Aku merasa berhutang budi pada kalian. Untuk membalas budi yang kalian berikan pada aku dan keluargaku, aku bersedia menikah dengan cucu kalian, Naruto Uzumaki." Gadis itu berkata dengan tegas dan pasrah seperti tidak punya pilihan lain.

Jiraiya dan Tsunade tersenyum puas. "Meskipun sebenarnya kami tidak ingin memaksakan kehendak, tapi tidak ada cara lain. Aku tidak bisa begitu saja menikahkan Naruto dengan orang lain selain yang bisa kupercaya seperti kau, Hinata. Walaupun aku baru saja bertemu denganmu, tapi aku sudah punya firasat bahwa kau adalah seorang perempuan yang cocok untuk cucuku. Dan lagi, keluargamu adalah bagian dari Uzumaki Enterprise."

Naruto berdiri dengan tegap. Tangannya sedang ia kepal kuat-kuat bertanda sedang kesal. Bagaimana tidak. Keputusan penting seperti itu malah di buat oleh kakeknya secara sepihak tanpa sepersetujuannya dulu. Ingin dirinya menolak. Tapi mendengar cerita sang kakek, membuat Naruto tidak kuasa untuk mengangkat tangannya dan berkata bahwa dirinya tidak setuju.

Terlebih lagi, gadis di sampingnya ini malah setuju tanpa memikirkan masa depannya kelak. Apa gadis itu siap menjalani kehidupan rumah tangga tanpa adanya cinta? Entah gadis itu mampu berpikir kritis atau hanya asal menjawab dari apa yang ia rasakan di hatinya.

"Naruto, mungkin ini berat untukmu. Tapi kau harus membuat keputusan terbaik. Yang di katakan kakekmu itu benar. Nenek dan Kakekmu ini sudah tua. Mungkin jatah kami di dunia ini tersisa beberapa tahun lagi. Kesehatan kakekmu juga mulai menurun. Andai saja ia tidak ikut terapi kesehatan setiap Minggu, mungkin saja saat ini kakekmu hanya bisa berbaring di kamar. Keputusan yang di buat oleh kakekmu ini untuk kepentingan kita bersama sebagai keluarga besar Uzumaki Enterprise. Jadi bagaimana?" Tsunade pun turut membantu meyakinkan Naruto.

"Naruto menutup matanya. Pikirannya saat ini sedang berusaha menimbang-nimbang jawaban. Pada akhirnya ia mengangguk lalu berkata, "A-Aku setuju. Tapi, aku masih ingin sekolah. Lalu bagaimana nasibku jika satu sekolah tahu bahwa aku sudah menikah? mungkin aku hanya akan menjadi bahan ejekan di sekolah."

Tiba-tiba seorang perawat masuk. "Maaf. Tuan Jiraiya harus meminum obat dan beristirahat. Kami mohon untuk segera meninggalkan pasien."

Jiraiya pun mengatakan akan melanjutkan untuk membahas hal ini setelah keluar dari rumah Sakit. Sementara itu, Naruto pun berpamitan pada neneknya untuk kembali ke sekolah. Yah walaupun tujuan utamannya adalah datang ke kantor polisi untuk menjalani hukumannya dan juga mengambil tas dan ponselnya.

[]=[]=[]

Dengan memakai jasa taksi, Naruto kembali ke kantor polisi. Awalnya ia berniat mencari Sasuke di ruang Interogasi. Namun polisi mengatakan bahwa Sasuke saat ini sedang berada di tempat hukumannya akan berlangsung. Shishui kala itu juga bertemu dengan Naruto. Ia pun berkata.

"Naruto, Sasuke telah bersaksi. Ia sudah berjanji untuk tidak melibatkanmu jika kalian terkena masalah akibat ulahnya. Jadi Sasuke akan membayar denda dan melaksanakan hukuman yang harusnya kau jalani bersamanya."

"Benarkah? Lalu apa boleh aku menemuinya?"

"Tidak bisa. Sebaiknya kau pulang."

Dan Naruto pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat sekaligus menenangkan diri. Naruto berpikir hari ini sebaiknya ia menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Ia bersyukur Sasuke menepati janjinya dan membuat dirinya menjalani semua hukuman yang harusnya kujalani bersamanya.

Begitu tiba di rumah, Naruto langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menimbang-nimbang pikiran mengenai apa saja yang akan terjadi ketika dirinya menikah dengan Hinata. Apakah kehidupannya bersama Hinata kedepannya akan bahagia? Atau malah pernikahannya dengan Hinata hanya akan membawa kesengsaraan bagi keduanya karena pernikahan itu di bangun tanpa adanya cinta antara keduanya.

Sehari kemudian, bertepatan dengan hari libur sekolah. Keluarga besar Uzumaki Enterprise mengadakan rapat besar di kediaman Uzumaki. Rapat itu di hadiri semua anggota keluarga termasuk Hinata dan juga beberapa petinggi perusahaan. Rapat itu di gelar secara tertutup dan rahasia sehingga yang mengetahui mengenai rapat ini dan juga pembahasan dalam rapat kali ini hanyalah mereka yang turut terlibat di dalamnya.

Siang itu, mereka membahas mengenai rencana Jiraiya untuk menikahkan Naruto dan Hinata. Semua alasan mengapa pernikahan itu harus digelar secepat mungkin di paparkan oleh Jiraiya. Semua orang setuju dan menganggap itu adalah gagasan yang baik demi kelangsungan perusahaan di bawah pimpinan keluarga besar Uzumaki.

Setelah diam cukup lama, Naruto angkat bicara. "Kakek harus mengerti. Akulah yang harus menjalani semua ini. Aku akan malu seumur hidup apabila teman-teman sekolahku tahu bahwa aku sudah menikah di usia muda."

Perbincangan terjadi antar peserta rapat untuk menanggapi pernyataan Naruto itu.

Jiraiya berdiri dari Kursinya. "Tenang Naruto. Kakek tidak membuat keputusan ini tanpa berpikir matang. Kakek sudah punya rencana. Kami akan merahasiakan pernikahan kalian. Kalian akan bertindak seperti remaja biasa dalam lingkungan sosial. Tapi dalam keluarga kalian adalah pasangan suami istri yang sah. Pernikahan kalian hanya akan di ketahui kita semua yang ada di ruangan ini dan juga di rumah ini."

Sekali lagi Naruto mengepal tangannya. Ingin dirinya membentak sang kakek karena keputusan ini. Rasa benci sudah mulai muncul di dalam benak Naruto. Tapi bagaimanapun Kakeknya ini sangat menyayanginya.

"Kakek tidak akan melakukan ini jika bukan karena untuk kepentingan kita bersama. Lagi pula kakek merasa kau dan Hinata akan cocok. Yang perlu kalian berdua lakukan hanya saling mengenal agar dapat terbentuk cinta di antara kalian. Ini adalah permintaan kakek yang terakhir seumur hidup kakek."

Dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa kesal, perlahan ia melemaskan tangannya dan kembali duduk. Ia mengangguk. Pasrah akan keadaan. Hinata melirik ke arah Naruto. Tangannya bergerak mendekati tangan Naruto. Ia hendak memegang dan mengatakan, "Kita akan menjalani semua ini. Meskipun tak ada rasa cinta di antara kita berdua." Namun ia tak punya cukup keberanian untuk melakukan itu sehingga ia membatalkan niatnya.

[]=[]=[]

Sehari kemudian, Naruto kala itu sedang tidur di meja kelas seraya menunggu guru mata pelajaran pertama tiba. Sasuke yang kebetulan baru tiba langsung menghampirinya.

"Hei, kenapa kau terlihat lesu hari ini?" tanyanya.

"..." Tak ada jawaban.

"Naruto! Aku bicara padamu."

"Aku tidak apa-apa," katanya tanpa mengangkat kepalanya.

"Aku tidak percaya kalau kau baik-baik saja. Ini bukanlah dirimu."

Naruto mengangkat kepalanya perlahan seraya berkata, "aku sebenarnya punya masalah. Tapi aku harus merahasiakannya." Begitu ia mengangkat kepalanya, ia memperhatikan wajah Sasuke baik-baik. "Loh! Wajahmu kok terlihat lebih gelap?"

"Hufft, ini karena hukuman kemarin lusa. Bahkan ini sudah mendingan ketimbang kemarin. Aku harus berendam seharian dan melakukan perawatan kulit di spa bersama ibuku."

"Oh! Aku tidak terlibat kan?"

"Tidak. Aku sudah berjanji untuk tidak melibatkanmu jika sampai terjadi sesuatu. Aku juga sudah membayarkan dendamu dan bahkan melakukan hukumanmu. Syukur saja semenjak SMP aku sudah sering latihan fisik atas perintah ayahku. Jadi hukuman kemarin itu kecil bagiku," kata Sasuke sombong.

Shikamaru tiba-tiba datang menghampiri mereka. "Dengarlah. Katanya ada anak baru yang akan masuk ke kelas kita," ucapnya yang langsung menarik perhatian semua murid laki-laki.

"Perempuan atau laki-laki?" tanya Kiba.

"Laki-laki atau perempuan, pasti gadis itu pintar karena di masukan dalam kelas kelas," kata Shino.

"Wah, saingan baru ya," ucap Choji.

"Aku penasaran, murid baru itu laki-laki atau perempuan, kalau perempuan, bisalah masuk dalam geng kita, benar kan Sakura?" tanya Ino.

"Ya."

"Perempuan!" tegas Shikamaru.

"Sasuke, kalau begitu kau harus tahan matamu. Ingatlah kau sudah punya Sakura. Aku punya firasat gadis yang akan masuk ke kelas kita ini sangat cantik," kata Naruto.

"Ya.. ya..! bagaimana jika gadis itu nanti kau ambil saja."

"Kalau bisa akan kuambil dia, hahaha," tawa garing Naruto.

"Tapi ini aneh. Kelas kita kan sudah mencapai jumlah murid maksimum. Lalu kenapa ia di masukan dalam kelas kita?"

Bel berbunyi. Para guru mulai keluar dari ruangan mereka untuk mengajar. Sakura meminta semua siswa kelas 10-A untuk segera duduk dan membaca buku-buku pelajaran seraya menunggu guru mereka tiba.

Tak berselang lama, akhirnya seorang guru memasuki kelas mereka. Namun pagi itu yang masuk ialah wali kelas mereka.

"Pagi ini ibu mau memperkenalkan anak baru pada kalian."

Semua siswa terkhususnya laki-laki memperhatikan pintu dengan seksama. Mereka yakin anak baru itu sedang berada di depan pintu menunggu persetujuan masuk dari sang wali kelas.

Naruto dan Sasuke memperhatikan dengan Seksama. Mereka benar-benar penasaran sama gadis yang akan masuk ke kelas mereka.

"Masuklah." Guru itu memberi tahu gadis itu untuk masuk. Rasa penasaran Naruto sudah sampai puncak. Langkah kaki pun terdengar. Sebuah sepatu dan tangan terlihat. Tangan gadis itu terlihat putih layaknya porselen walaupun tak menyerupai. Mata semua laki-laki di ruangan itu berbinar kala melihat wajah perempuan itu. Rambut Indigo dan wajah yang putih berseri dan tak hanya itu saja, badannya pun bisa di katakan sempurna. Bisa di katakan gadis itu adalah saingan gadis-gadis yang ada di kelas mereka ini. Semua laki-laki menjadi heboh sendiri kecuali Naruto yang sepertinya sedang syok kala mengetahui murid baru tersebut adalah Hinata.

Kehebohan berakhir setelah Hinata memperkenalkan dirinya pada semua siswa kelas 10-A. Hinata duduk di samping Sakura yang kebetulan hari itu sedang sendirian karena Ini memilih duduk dengan tenteng hari itu.

Tak henti-hentinya para laki-laki di ruangan itu menatap Hinata yang sedang berkenalan lebih jauh dengan Sakura. Sasuke terlihat begitu tertarik untuk melihat gadis itu. Namun Naruto hanya duduk dan memandangi papan tulis.

"Naruto, tunggu apa lagi. Mumpung Pak Kakashi belum datang, cepat kenalan sama gadis itu," ucap Sasuke.

"Aku tidak tertarik pada gadis itu," kata Naruto.

Sasuke memandangi Naruto dengan heran. "Jangan katakan kalau kau sudah bertranformasi jadi 'homo'?"

"Jangan asal bicara. Aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu," kata Naruto.

"Hari ini kau memang aneh. Padahal gadis itu sangat cantik. Yah, meskipun Sakura terlihat lebih cantik bagiku," ucap Sasuke.

Tak lama kemudian, Kakashi—Sang guru fisika datang. Pelajaran pun di mulai.

[]=[]=[]

Waktu istirahat. Tentunya itu ialah waktu yang paling menyenangkan bagi siswa di sekolah manapun. Kala itu, Sakura mengajak sahabat barunya, Hinata untuk pergi ke kantin. Namun bisa terlihat Hinata menolak tawaran Sakura dengan berkata ia sedang diet.

Hampir semua siswa sudah meninggalkan kelas untuk menuju kantin. Hanya Hinata, Naruto, Sasuke dan beberapa siswa yang masih di dalam kelas. Tak lama kemudian, Sasuke mengajak Naruto ke kantin menyusul Shikamaru dan teman-teman mereka yang sudah berada di sana terlebih dahulu.

Naruto dan Sasuke pergi meninggalkan kelas. Para siswa lain yang sedang berada di kelas juga ikut keluar meninggalkan Hinata yang sedang membaca sebuah novel. Tiba-tiba Naruto berhenti dalam perjalanan mereka menuju kantin.

"Loh! Dompetku tidak ada? Jangan-jangan ketinggalan," kata Naruto yang pada akhirnya menghentikan langkah Sasuke. "Teme, aku kembali ke kelas dulu. Mau mengambil dompet. Kau duluan saja, nanti aku nyusul."

"Heh! Terserah kau saja. Jangan lama-lama, kami tidak akan menunggumu," kata Sasuke.

Naruto berlari dengan cepat menuju kelas. Untung saja sepatu yang ia kenakan memang di desain agar enak di pakai di sekolah. Khususnya sekolah dengan lantai berupa keramik. Jadi Naruto dapat berlari dengan cepat tanpa perlu khawatir sewaktu-waktu akan terpeleset.

Begitu tiba di dalam kelas, mata Hinata tertuju pada Naruto yang sedang memasuki kelas. Begitu pula dengan Naruto yang saat ini sedang memandangi Hinata. "Kenapa kau kembali?" tanya Hinata.

"Dompetku ketinggalan. Oh kenapa kau tidak ke kantin. Aku tidak percaya kalau kau diet. Soalnya tadi pagi kau makan cukup banyak," kata Naruto seraya mendekati mejanya untuk mengambil dompet.

"Anu. Aku tidak membawa uang untuk jajan. Nenek juga sepertinya lupa memberiku uang."

Setelah mendapatkan dompetnya, Naruto mendekati Hinata. "Jadi kau lupa bawa uang? Dasar kakek payah. Bilangnya ia ingin merawatmu. Tapi kenapa ia malah lupa memberi uang pegangan padamu," kata Naruto.

"Sudahlah Naruto. Ini bukan kesalahan kakekmu. Tapi kesalahanku karena tidak meminta uang pada mereka."

Naruto duduk di atas meja Hinata. "Lalu kenapa tidak ada yang cerita kalau kau akan bersekolah? Dan lalu kenapa kau bisa satu kelas denganku?"

"Semenjak rapat besar itu, kau jarang bertemu kakek ataupun nenekmu. Jadi mereka tidak bisa mengatakan hal ini padamu. Aku tidak tahu kenapa kita bisa sekelas. Tapi mungkin ada baiknya kau tanyakan pada kakekmu," kata Hinata.

"Kau pasti lapar." Naruto mengambil uang dari dompetnya. "Ini ambillah!" Naruto memberikan Hinata sejumlah uang. Meskipun saat ini perut Hinata sedang dilanda kelaparan, tapi ia tetap tidak menerima uang dari Naruto.

"Maaf Naruto. Aku tidak bisa menerima uang itu. Lagi pula aku tadi sudah berkata pada Sakura bahwa aku sedang diet. Tidak mungkin aku diam-diam berubah pikiran dan membeli makanan."

"Ya sudah. Kalau begitu aku mau ke kantin. Perutku sudah lapar." Naruto memasukan kembali uangnya ke dalam dompetnya. Hinata menarik nafas dalam-dalam dan kembali membaca novel sambil berharap rasa laparnya ini bisa hilang. Ini bukan masalah besar, Hinata sudah pernah bertahan 3 hari tanpa makanan dan hanya mengonsumsi air putih. Meskipun pada akhirnya ia pingsan di hari keempat.

Naruto pergi meninggalkan Hinata menuju kantin. Kantin SMAK merupakan sebuah tempat terluas di sekolah selain lapangan dan gedung olahraga. Kantin ini juga merupakan tempat yang paling menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Didesain kantin sekolah ini ialah semi terbuka. Di kelilingi oleh pohon dan tanaman-tanaman hias. Jadi para siswa dan guru dapat menikmati makanan mereka sekaligus menikmati pemandangan sekitar dan juga angin segar.

Hampir semua siswa dan guru berkumpul di kantin untuk makan siang. Tempat itu memang penuh namun tak sesak. Meja makan yang tersedia di kantin semi terbuka itu juga sangat banyak sehingga semua orang dapat menikmati makanan mereka sambil duduk di tempat yang layak. SMA bagaikan Kampus merupakan ungkapan yang menggambarkan Sekolah Menengah Atas Konoha ini.

Naruto menemukan teman-temannya sedang makan di pinggir kantin. Ia memesan makanan dan menunggu beberapa saat sampai makanan itu selesai di siapkan baru kemudian ia pergi menuju teman-temannya yang sedang makan.

"Naruto, kau lama sekali," kata Kiba ketika Naruto tiba di hadapan mereka.

"Maaf. Aku tadi harus kembali dan mengambil dompetku," kata Naruto.

Sasuke kala itu sudah menghabiskan makanannya. Ia meminum segelas jus yang ia pesan. "Kau makan cepat. Habis ini kita belajar untuk ulangan harian nanti."

"Wah benar!" kata Choji.

"Syukurnya aku sudah belajar tadi malam." Sai pun ikut berbicara.

"Sesusah apapun soal yang akan bu Kurenai berikan, kita pasti akan mudah menyelesaikannya. Kan ada Shikamaru dan Sasuke," kata Lee.

"Betul!" Kiba bersorak seraya mengangkat tangannya.

"Haha, itu benar. Shikamaru pasti akan membantu kita menjawab semua soal matematika," kata Naruto.

"Terlebih lagi ada Sasuke. Kita bisa mendapat Nilai bagus," ucap Choji.

"Enak saja. Aku belajar semalaman bukan untuk membantu kalian." Shikamaru sepertinya tidak begitu menyukai gagasan Lee tersebut.

"Hn. Aku setuju. Kalian harus berusaha. Lagi pula bu Kurenai sudah memberitahukan mengenai ulangan ini seminggu yang lalu. Harusnya kalian lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan hari ini," kata Sasuke.

"Menyontek bukanlah perbuatan terpuji. Lebih baik kalian mengerjakan setiap soal itu dengan kemampuan kalian sendiri. Nilai yang akan kalian dapat pasti akan lebih memuaskan," kata Shino.

"Dengarlah. Pintar itu relatif. Menyontek itu alternatif," kata Naruto.

Tawa pun keluar dari semua teman-teman Naruto. "Benar!" "Aku setuju" "Ada-ada saja" itulah perkataan-perkataan yang dilontarkan oleh teman-temannya.

[]=[]=[]

Bel pulang berbunyi menghiasi langit sore SMAK. Para guru terlihat mulai meninggalkan kelas disusul dengan siswa dan siswi sekolah itu. Suara motor dan mobil membisingkan tempat parkir dan gerbang sekolah itu.

Setelah semua siswa kelas 10-A pulang, para siswa yang piket langsung membersihkan kelas. Naruto hari itu kebetulan sedang piket. Sementara teman-temannya sudah pulang. Begitu selesai, ia keluar dan mendapati sekolah sudah nampak sepi. Saat itu hanya tersisa beberapa kendaraan dan siswa yang sedang mendapatkan giliran piket.

Ia berjalan dengan cepat berharap dapat bertemu temannya yang mungkin belum pulang. Bingo! Dia menemukan Sasuke sedang berdiri di depan ruang guru.

"Sasuke! Teme! Oi!" teriak Naruto seraya melambaikan tangan

Mendengar suara Naruto memanggilnya, Sasuke berbalik. "Ada apa?" tanyanya ketika berbalik.

"Kenapa kau di sini?"

"Aku sedang menunggu Sakura. Ada apa?" tanyanya.

"Bisakah kau antar aku pulang? Mobilku masih di bengkel."

"Aku hari ini pulang bersama Sakura. Ia memintaku mengantarnya ke super Market," kata Sasuke.

"Oh! Baiklah. Tak apa-apa."

Ia pergi meninggalkan Sasuke. Ia berjalan dengan cepat menuju gerbang sekolah seraya mencoba menghubungi seseorang.

"Maaf tuan muda. Aku tidak bisa menjemput anda. Tapi, ajudan tuan Jiraiya yang lain sedang menuju ke sana untuk menjemput nona Hinata." Itulah yang terdengar di ponselnya.

Ia mencari keberadaan Hinata yang mungkin saja sedang menunggu di jalan. Hinata terlihat sedang duduk dan menunggu jemputan di bawah pohon. Dengan cepat ia menghampirinya.

"Hinata." Seketika pemilik nama itu melihat ke arah Naruto. "Kau sedang menunggu jemputan kan?"

Hinata mengangguk lalu kembali melihat ke arah jalan mencampakkan Naruto.

"Bolehkah aku nebeng?"

Kembali lagi Hinata melihat ke arah Naruto. "Boleh. Tapi apa kau tidak membawa mobil?" tanya Naruto.

"Mobilku rusak dan sedang berada di bengkel. Tolong jangan beri tahu kakek,"

Kembali lagi Hinata melihat ke arah jalan. "Jemputan sudah datang." Hinata memakai tas yang sebelumnya ia letakkan di bangku.

Sebuah mobil berwarna Hitam berhenti tepat di depan Hinata. Mata supir mobil itu pun terpusat pada Naruto.

"Hei. Aku nebeng ya?" tanya Naruto pada supir itu.

"Mobil tuan muda di mana?" tanya supir itu.

"Jangan beri tahu hal ini pada kakek. Sebenarnya mobilku ada di bengkel."

"Baiklah. Silakan masuk."

Naruto duduk di depan sementara Hinata di belakang. Ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah, Sang supir berkata.

"Nanti malam, Tuan Jiraiya ingin membahas masalah penting pada kalian. Aku di minta untuk menyampaikan hal ini agar kau dan Hinata datang ke kantor Uzumaki Enterprise nanti malam."

"Membahas masalah itu?" tanya Naruto.

Si supir mengangguk. "Iya."

Setelah itu tak ada lagi pembicaraan hingga mereka tiba di rumah.

[]=[Bersambung]=[]

[]

[]

[]

Hai semua. Jadi bagaimana menurut kalian tentang chapter 2 ini. Silakan saja bagi kalian yang punya kritik, saran atau sekedar hal kecil yang ingin disampaikan berkaitan dengan cerita terbaru saya ini boleh tuliskan di review.

Thanks ya bagi kalian yang sudah menjadikan cerita ini favorit dan juga yang sudah mengikuti cerita ini. Yang kalian lakukan itu adalah sesuatu yang penting sebab menambah daya tarik pembaca yang lain.

Sekedar info, kemungkinan hanya review yang berbobot (Dalam artian tidak berisikan kata 'lanjut thor' atau 'lanjut' atau sejenisnya sebab saya sendiri tidak tahu harus menjawab seperti apa) saja yang nantinya saya balas di chapter selanjutnya.

Sekian dari saya. Salam, Author Taufiq879