:
Taufiq879 Present
:
Destined To Live With You
:
Bab 3
Awal Pernikahan
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Mata Naruto terbuka kala ia mendengar suara alarm yang telah diset pada pukul 05.00. Pagi ini adalah pagi yang penting. Berdasarkan rapat keluarga yang di gelar Jiraiya beberapa hari yang lalu, hari ini adalah hari di mana Jiraiya telah memutuskan untuk menikahkan Naruto dan Hinata secara diam-diam.
Naruto tak memiliki semangat untuk bangun di pagi ini. Ia membiarkan alarmnya terus berbunyi sementara ia menutup kepalanya memakai bantal. Namun semakin lama alarm itu berbunyi semakin keras dan memaksa Naruto untuk segera berdiri dan melempar alarm itu keluar jendela.
"Ahhh! Kenapa pagi datang begitu cepat!" teriaknya sangat kesal. Ia menjatuhkan tubuhnya kembali di atas kasur. Ia menatap sebuah jas hitam yang berada di kamarnya. Ia benar-benar frustrasi saat ini mengingat perjodohan ini hampir menyentuh akhir di mana ia akan menikah dengan pilihan kakeknya itu.
Memang beberapa hari ia sudah merelakan takdirnya ini. Ia ingin menjalani sisa hidupnya bersama gadis yang baru ia kenal sekitar 2 Minggu yang lalu. Setidaknya Hinata pun mengalami hal yang sama dengan Naruto.
"Tuan muda! Tuan muda!" Seorang pramuwisma mengetuk pintu dan memanggilnya. "Tuan muda. Nyonya memanggil anda."
"Ya, sebentar lagi." Naruto masih tetap memeluk guling.
Suara langkah kaki pramuwisma itu terdengar makin menjauh sehingga Naruto kembali mempertahankan posisinya dan berharap dirinya dapat tertidur pulas hari ini.
Namun apa yang terjadi berbeda dari yang ia harapkan. Ia sudah cukup banyak tidur kemarin sehingga pagi ini ia sudah tak dapat menutup mata lebih lama lagi. Rasa kencing membuatnya harus berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ia juga memutuskan untuk mencuci muka. Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, ia berjalan menuju balkon. Didapatinya sekitar 4 mobil telah terparkir di halaman. Itu pasti adalah mobil para undangan khusus. Jiraiya memang tidak berniat mengundang banyak orang yang berpotensi akan membocorkan masalah ini. Hanya para petinggi dan keluarga besar yang di undang.
Ia kembali melihat jas hitam yang telah digantung di kamarnya. "Aku tidak suka pernikahan ini. Tapi... Aku sudah berjanji pada kakek dan nenek bahwa aku akan tetap menikahi Hinata meskipun hatiku berat." Ia pun mendekati jas yang menjadi pertanda suramnya masa depan yang akan ia lewati. Menyentuh lembut jas itu dengan tangan. Jas itu ialah jas yang pernah dikenakan oleh ayahnya ketika menikahi ibunya. Meskipun ia tidak ada di sana dan hanya melihat dari foto, tapi ia bisa merasakan betapa bahagia ayahnya ketika memakai jas ini di samping ibunya.
Naruto melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi. Begitu air yang dingin menyentuh kulitnya, Naruto perlahan memasrahkan masa depannya pada takdir yang mempertemukan dirinya dengan Hinata.
Jam telah menunjukan pukul 7 pagi. Naruto kala itu sudah memakai jasnya. Menyisir rambutnya dan memakai parfum. Ia berusaha tersenyum tulis namun malah senyum hambar yang terlihat.
Pintu perlahan terbuka dan menampakkan Jiraiya. Dengan tersenyum bangga ia menghampiri Naruto dan berkata, "Kau terlihat seperti ayahmu. Tapi wajahmu tidak seperti dia sewaktu menikahi ibumu. Cobalah untuk tersenyum meskipun pernikahan ini berat."
"..." tak ada jawaban dari Naruto.
"Maafkan kakek. Memang keputusan ini diambil tanpa memperhatikan perasaanmu. Tapi tidak ada pilihan lain. Kurasa ayahmu pun akan setuju jika mengetahui semua alasan."
Dengan wajah datar, Naruto bertanya, "Kapan pernikahan itu akan di gelar?"
"Pagi ini, tepatnya ketika kau dan Hinata siap." Jiraiya membelakangi Naruto. "Setelah pernikahan ini selesai, kau bisa menjalani kehidupan seperti biasa namun dengan suasana yang berbeda. Dan cobalah lebih mengakrabkan diri dengan Hinata. Semoga saja pernikahan kalian ini bisa bertahan selamanya." Ia pergi meninggalkan kamar Naruto. "Kami akan menunggumu dan Hinata di ruang tengah," ucapnya saat berjalan pergi.
Ia mengambil ponselnya. Sebelumnya ia telah berencana untuk mengatakan hal ini pada sahabat terbaiknya, Uchiha Sasuke. Namun pagi ini ia menjadi ragu. Mungkin saja tawa si anak bungsu Uchiha itu akan pecah ketika mendengar ceritanya. "Huh! Baiklah biarkan pernikahan ini hanya di ketahui oleh keluargaku dan beberapa petinggi perusahaan." Ucapnya perlahan lalu melempar ponselnya itu ke kasur.
Dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara singkat, Naruto mengambil langkah pertamanya menuju pintu keluar. Begitu ia berada di luar kamar, seorang ajudan tiba-tiba berlari ke arahnya. "Tuan muda. Apa anda sudah siap?" tanya ajudan tersebut.
"Siap atau tidak siap itu bukan lagi masalah. Sekarang aku terpaksa harus melakukannya demi kakek dan ayahku."
Ajudan tersebut menyerahkan sebuah kotak berisi 2 cincin. "Tuan Jiraiya menyuruhku memberikan ini pada anda."
"Cincin? Untuk apa?"
"Pernikahan anda. Ini cincin pernikahan tuan muda dan nona Hinata," kata Ajudan tersebut.
Setelah menerima cincin itu, Naruto kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang tengah. Ajudan itu turut mengikuti dari belakang sampai ke pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Begitu Naruto memasuki ruang tengah, semua mata orang-orang yang berada di ruangan itu tertuju pada Naruto. Orang-orang yang ada di ruangan itu memang tidak banyak. Namun sesak bisa begitu di rasa. Di ujung ruangan, Hinata sedang berdiri dengan gaunnya. Para tamu pun membuka jalan untuk Naruto agar bisa mendekati Hinata.
[]=[]=[]
Pernikahan berlangsung dengan lancar. Semua prosesi pernikahan diikuti dengan baik oleh Hinata maupun Naruto meskipun pernikahan itu bukanlah kehendak mereka. Ke-12 tamu yang diundang secara khusus pun nampak senang. Terlebih lagi Jiraiya dan Tsunade. Bagi mereka, pernikahan cucu mereka ini telah mengingatkan mereka pada putra mereka sewaktu menikah dan tentunya pernikahan mereka sendiri.
Sepasang suami istri yang dapat melihat pernikahan cucunya memang menjadi momen langka. Tak semua orang tua dapat menyaksikan pernikahan cucu mereka. Tentu saja ini adalah momen yang sangat langka.
Sesi foto bersama tidaklah di adakan. Bahkan kamera pun dilarang dibawa ke dalam kediaman Uzumaki. Namun, ada 1 momen yang di ambil yaitu ketika Naruto memakaikan cincin pada Hinata. Sengaja diminta oleh Jiraiya sebab itu mungkin akan menjadi satu-satunya kenangan.
Satu persatu undangan pun meninggalkan kediaman Uzumaki. Naruto dan Hinata masih setia berdiri menunggu semua tamu yang diundang secara khusus dan rahasia itu keluar. Pada akhirnya rumah menjadi sepi. Pernikahan pun berakhir.
"Sudah selesaikan?" tanya Naruto datar.
Jiraiya mengangguk dan Naruto pergi meninggalkan ruang tengah. Menurutnya tugasnya di sini sudah selesai. Sekarang ia sudah secara resmi menikah dengan gadis pilihan kakek dan neneknya itu. Tak ada ekspresi bahagia yang dikeluarkan oleh Naruto. Begitu pula dengan Hinata. Yang perlu mereka lakukan sekarang adalah menjalani kehidupan di dalam rumah sebagai pasangan suami istri yang sah sementara ketika berada di luar mereka harus menjalani kehidupan bagai remaja biasa. Kehidupan mereka ke depan adalah keputusan mereka sendiri. Skenario pun harus di siapkan sebaik-baiknya agar pernikahan mereka ini tidak sampai diketahui orang lain.
[]=[]=[]
Mentari sudah terbit menandakan hari baru telah di mulai. Naruto hanya berbaring sambil melihat langit-langit rumah. Ia mengambil ponselnya dan melihat-lihat postingan-postingan tidak bermutu milik teman-temannya di media sosial.
"Sial. Hari ini ada ulangan." Ia melempar ponselnya dan berlari ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk mandi mengingat saat ini jam sudah menunjukan pukul 7. Sebelumnya ia berencana untuk tidak sekolah setelah menyadari ia bangun Kesiangan. Namun ketika melihat postingan teman kampretnya, ia memutuskan untuk sekolah.
Ia berjalan menuju dapur. Saat ia tiba, ruang makan terlihat sepi. Namun di meja makan sudah tersaji makanan-makanan yang masih hangat untuk sarapan para pemilik rumah. "Tidak biasanya tempat ini sepi?"
Ia melihat jam yang sudah hampir mencapai 7.30. Tak ada waktu untuk sarapan lagi. Ia hanya mengambil susu di kulkas dan pergi meninggalkan rumah. Sebenarnya ia penasaran mengenai keberadaan Kakek dan Neneknya yang seharusnya tadi ia temukan di dapur. Namun makanan yang di dapur pun terlihat seperti belum di sentuh.
Ketika berada di teras, ponselnya berbunyi.
"Naruto Uzumaki?" suara dari orang yang menghubunginya.
"Ya. Saya sendiri. Ada apa?"
"Mobilmu sudah selesai. Aku baru saja mengantarnya ke sekolah seperti permintaanmu seminggu yang lalu."
"Ok, terima kasih. Berapa biayanya?"
"Aku sudah menyelipkan nota di dalam mobil."
"Baik. Akan kukirim uangnya langsung ke rekeningmu."
Naruto mengembalikan ponselnya ke dalam saku. Ia menghampiri satpam dan bertanya.
"Kakek ke mana? Dan kenapa tidak ada satupun ajudan di rumah?"
"Tuan Jiraiya dan nyonya Tsunade pergi ke kantor sejak jam 5. Sementara ajudan yang bertugas di rumah sedang mengantar nona Hinata."
"Ok, terima kasih."
Naruto berlari ke luar. Ia memutuskan untuk naik taksi. Namun sejauh matanya memandang, ia tak menemukan satu taksi pun yang lewat di area kompleks perumahan elit di Konoha. Ia mengambil ponselnya kembali untuk memesan jasa taksi Online. Sialnya semua supir taksi Online yang terdaftar di sebuah situs sibuk.
"Sepertinya aku harus berjalan hingga ke tempat yang ramai." Akhirnya, Naruto berlari semakin kuat menuju jalanan yang ramai. Setidaknya itu harus menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer agar ia bisa bertemu persimpangan.
Pukul 8.00. Naruto tiba di sekolah setelah ia mendapatkan sebuah taksi tak lama begitu ia tiba di persimpangan. Keadaan sekolah sudah sangat sunyi dan bahkan gerbang sekolah sudah terkunci. "Mungkinkah aku harus masuk lewat gerbang dan menerima hukuman karena terlambat, atau lewat jalan lain?" batinnya.
Melihat 2 orang satpam sekolah dan seorang guru kesiswaan membuat Naruto membatalkan niatnya untuk masuk melewati pintu depan. Ia berjalan memutari sekolah hingga tiba tepat di belakang sekolah. Ia memanjat sebuah pohon dan melompat ke atas tembok sekolah.
Kini ia sudah berada di lingkungan sekolah. Tempat ia berada kini bukanlah tempat asing. Ia sering melakukan kegiatan siswa-siswa berandal di tempat ini. Tempat yang di kelilingi sisi gedung yang tak berjendela dan hanya memiliki 1 jalan masuk yang sempit memang menjadi tempat yang ideal bagi siswa-siswa yang menganggap diri mereka berandal.
Naruto memutuskan untuk duduk di tempat itu menunggu bel tanda berakhirnya jam pelajaran pertama berbunyi. Ia mengorek bagian dalam tasnya dan tidak menemukan apa yang ia cari. Di sana Cuma ada sebuah korek. Namun tidak ada sebuah kotak yang berisi rokok.
"Sial, aku meninggalkannya di kamar. Semoga saja pramuwisma tidak membersihkan kamarku hari ini," katanya pada diri sendiri.
Jam sudah menunjukan pukul 9.15. Bel pun berbunyi. Naruto langsung berlari dengan cepat seraya berharap tidak bertemu satu orang guru pun saat ia sedang berjalan menuju kelasnya.
Koridor saat itu sepi. Terlihat beberapa guru yang memang keluar dari dalam kelas. Ia berjalan perlahan menuju kelasnya dan mengintip melalui jendela untuk memastikan tak ada guru di dalam. Betapa senang dan lega hatinya ketika ia tidak melihat guru di kelasnya sudah tidak ada. Beberapa temannya juga menyadari bahwa Naruto sedang mengintip dari jendela.
Ia memasuki kelas dengan gagah. Ia tak menghiraukan bahwa ia telah terlambat dan mungkin akan di soraki teman-temannya. Begitu ia masuk, tentu ada yang heran. Suara sorakan untuk mengolok-olok Naruto yang terlambat pun keluar. Namun ia tidak memedulikan suara itu dan malah tersenyum seperti orang yang bangga akan prestasinya.
"Kupikir kau tidak masuk, dobe," kata Sasuke.
Naruto meletakkan tasnya. "Aku bangun Kesiangan. Sebenarnya aku berencana tidak masuk. Tapi karena informasi ulangan hari ini, aku memutuskan masuk."
"Ulangan fisika ya? Wah, kau sepertinya benar-benar ketinggalan berita. Memang dari mana kau tahu kalau hari ini ulangan?"
"Dari postingan di sosial media yang kulihat tadi pagi."
"Ada perubahan info. Ulangan di batalkan. Laptop pak Kakashi di retas dan soal ulangan sudah tersebar secara lisan."
"Sialan. Aku sudah lompat pagar agar bisa masuk tanpa hukuman. Ternyata ulangan di batalkan. Tahu begini lebih baik aku tetap di rumah dan main game," kata Naruto.
"Bersyukurlah kau masuk hari ini. Mobilmu datang pagi tadi. Andaikan kalau kau tidak masuk? Bayangkan apa yang akan terjadi," Sai yang duduk di belakang mereka pun tiba-tiba ikut dalam pembicaraan.
"Oh ya, benar juga."
[]=[]=[]
Sore itu setelah bel tanda berakhirnya proses belajar mengajar berbunyi, Naruto berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Ketika berada di dalam mobil, ia melihat Hinata dan Sakura sedang berjalan di dekat mobilnya.
Samar-samar ia mendengar percakapan.
"Bagaimana tugas rumah kali ini kita kerjakan hari ini di rumahmu? Aku sedang tidak ingin pulang tempo hari ini," kata Sakura.
"Rumahku?" Hinata nampak bingung dan berhenti tepat di samping mobil Naruto tanpa menyadari bahwa si pemilik mobil ada di dalam.
"Ya, rumahmu. Lagi pula sampai sekarang aku sama sekali tidak tahu rumahmu itu di mana. Kau tidak pernah memberi tahu."
Diam dan mendengar pembicaraan kedua gadis itu secara seksama adalah hal yang di lakukan Naruto kala ini. Karena kaca mobilnya tidak bisa tembus pandang dari luar, Sakura maupun Hinata yang berada di samping mobil tidak menyadari bahwa si pemilik mobil ada di dalam.
"Seperti yang kau tahu, aku tinggal bersama... Pamanku. Ia seorang tentara yang sering mendapat tugas di tempat jauh. Aku tidak bisa sembarang memberi tahu alamat rumah atau bahkan mengajak teman ke rumah tanpa izin dari pamanku," kata Hinata.
"Ternyata, Hinata pintar mengarang. Syukurlah alasan palsunya itu logis," batin Naruto.
"Baik. Aku mengerti. Kalau begitu kita kerjakan kapan-kapan saja di rumahku, soalnya kalau sekarang kita tidak bisa kerja tugas di rumahku."
"Oke!"
Mobil Sasuke pun berhenti tepat di depan Sakura. "Sayang, Ayo!" ajak Sasuke dari dalam mobil.
"Ayo Hinata. Aku akan minta Sasuke untuk mengantarmu pulang,"
"Loh, katanya tadi mau kerja tugas di rumah Hinata?" tanya Sasuke bingung.
"Ngak jadi. Di batalkan. Kita kerja saja besok di rumahku," kata Sakura.
Sasuke turun dari mobil dan mendekati mobil Naruto. Ia duduk di atas mobil dan berkata "apa kau mau menguping atau bagaimana, Naruto!" Setelah perkataan Sasuke itu, Hinata dan Sakura pun tersadar akan kehadiran Naruto. Perlahan Naruto membuka kaca jendelanya dan menyapa kedua gadis itu.
"Kenapa kau menguping pembicaraan kami, Naruto?!" ujar Sakura kesal.
"Bukan menguping Sakura!" Naruto terlihat panik dan takut. "Aku sebenarnya mau pulang. Tapi ketika kalian berdiri di samping mobilku, aku jadi tidak berani jalan karena takut melindas kaki kalian," kata Naruto panik.
"Alasan saja. Lain kali aku akan menghajarmu, Naruto!" Sakura mendekati mobil Sasuke.
"Maaf. Lagi pula pembicaraan kalian tadi bukan pembicaraan penting kan? Apa yang perlu di khawatirkan," kata Naruto.
Sasuke memasuki mobil Naruto. "Bagaimana, apa mesinnya sudah di ganti?" tanya Sasuke.
"Ya. Mesin khusus untuk dapat di pacu dalam kecepatan tinggi. Kali ini kalau kita balapan dengan serius, aku jamin akan menang," kata Naruto.
"Cih! Jangan sombong. Lagi pula tanpa bantuan modal dariku, mobilmu juga tidak bakal kelar. Jadi aku harap kau mengganti uangku itu secepat mungkin," kata Sasuke.
"Sasuke!" panggil Sakura. "Ayo kita pulang!"
"Sana keluar! Pacarmu sudah memanggil!" ujar Naruto seraya mendorong Sasuke untuk mengusirnya dari mobil.
"Ayo Hinata. Kami akan mengantarmu pulang," kata Sakura dari dalam mobil Sasuke.
"A-Aku naik taksi saja. Aku kan sudah mengatakan alasannya padamu?" ucap Hinata.
"Logislah Hinata. Kami hanya berhenti di depan rumahmu. Tidak masuk. Jadi kau tidak akan melanggar amanat yang di berikan pamanmu itu," ujar Sakura.
"Sebenarnya... Aku tidak ingin jadi nyamuk. Jadi aku pulang naik taksi saja," ucap Hinata.
Naruto menyalakan mesin mobilnya. "Kalian semua. Aku duluan!" Ia menyadari bahwa mobilnya tidak bisa keluar sebab terhalangi oleh mobil Sasuke. "Kampret! mundurkan mobilmu!" kata Naruto.
Sasuke malah semakin menghalangi jalan Naruto. "Bagaimana kalau kau ikut kami mengantar Hinata pulang, Naruto?" tanya Sasuke.
"Wah, ide bagus. Siapa tahu kalian berdua cocok. Hihi!" kata Sakura.
Seketika Naruto dan Hinata panik.
"Tidak. Aku naik taksi saja. Makasih."
"Ya. Lagi pula aku buru-buru."
"Kau kan pembalap. Setelah mengantar sahabat pacarku ini, kau bisa melaju untuk dapat sampai di rumah tepat waktu," kata Sasuke.
"Tapi—" perkataan Naruto di hentikan oleh Sakura.
"Begini saja. Kalau kau tidak mau ikut mengantar Hinata bersama kami, besok aku tidak akan membantu kau dan Sasuke dalam ulangan kimia," ancam Sakura.
"K-Kenapa aku juga, Sakura?" bantah Sasuke.
"Karena kau sahabat Naruto."
Sasuke bersandar pada kursi. Menghembuskan nafas secara perlahan. "Naruto, sebaiknya kau antar Hinata. Atau kau akan punya masalah besar denganku," ancam Sasuke.
"Aku tidak takut sama ancamanmu, Teme!" gertak Naruto. Namun tak lama kemudian, ia membuka pintu mobilnya. "Tapi, tidak mendapat jawaban kimia dari Sakura, itu buruk dan tidak boleh terjadi." Ia bersandar. "Masuklah, Hinata. Kumohon."
Apa boleh buat. Hinata merasa tidak tega. Meskipun sebenarnya ia malas dan bahkan masalah antar pulang ini jauh lebih rumit, tapi ia terpaksa menuruti perintah dan masuk ke dalam mobil.
Sasuke memundurkan mobilnya. "Naruto, pimpin jalan."
Mereka pun meninggalkan halaman sekolah. Naruto maupun Hinata nampak bingung. Ke mana mereka harus pergi sekarang. Tidak mungkin ia mengantar Hinata ke Vila Uzumaki sebab itu akan membongkar rahasia.
"Sekarang kita mau ke mana, Naruto?" tanya Hinata.
"A-Aku tidak tahu. Aku juga bingung. Kita akan berputar-putar sejenak selama aku mengumpulkan ide."
Naruto mengemudikan mobilnya perlahan menyusuri jalan kota seraya mengumpulkan ide. Hinata pun tak henti-hentinya memainkan jari jemarinya untuk berpikir.
Tiba-tiba, "Nenek!" kata Naruto dan Hinata bersamaan ketika terlintas sebuah ide.. Merasa bingung karena kesamaan yang tidak disengaja itu, mereka berdua hanya menatap satu sama lain dengan ekspresi bingung.
"Hubungi nenekmu, Naruto. Beliau pasti tahu apa yang harus di lakukan," titah Hinata.
"Kau yang hubungi. Ambil ponselku di tas."
Setelah beberapa detik berlalu, sang nenek menjawab telepon. Mereka terlibat sedikit pembicaraan dan perdebatan.
"Ini masalah yang rumit. Akan gawat jika teman sekolah kalian sampai mengetahui kebenaran. Oke, pergilah ke distrik 7. Kau masih ingat rumah lama nenek kan?"
"Rumah lama itu? Tidak! Mereka pasti tidak akan percaya. Itu rumah kosong yang sudah lama di tinggal."
"Tidak Naruto. Rumah itu masih di rawat oleh seorang penjaga kebun. Rumah itu menyimpan banyak kenangan jadi nenek tidak kuasa untuk menjualnya. Kalian datanglah ke sana."
Setelah mendengar saran dari neneknya, Naruto sekarang tahu tujuan mereka. Ia melajukan mobilnya menuju distrik 7. Namun karena Distrik 7 berada di belakang mereka, mereka harus berputar arah seraya berharap Sakura dan Sasuke tidak mempertanyakan hal itu.
Beberapa menit pun berlalu. Mereka pun tiba di depan sebuah rumah yang terlihat tak begitu besar dan mewah. "Jadi ini rumah nenekku." Naruto kagum melihatnya. "Bersikaplah seperti ini adalah rumahmu," kata Naruto pada Hinata.
Hinata mengangguk dan keluar dari mobil Naruto. "Terima kasih." Setelah Hinata mengucapkan kata itu, Naruto langsung pergi meninggalkannya. "N-Na..." Ia tidak mampu memanggil nama itu saat ini. Bagaimana tidak, ia tidak percaya sang suami langsung pergi meninggalkannya.
Mobil Sasuke mendekati Hinata. "Oh, jadi ini rumahmu. Kapan-kapan aku diizinkan berkunjung ke sini ya?" kata Sakura.
Hinata melihat ke belakang. Tentu saja karena ia bingung. "B-Baik. Akan kubicarakan dengan pamanku."
Setelah itu, Sasuke dan Sakura pun pergi. Hinata masih meratapi Kepergian Naruto yang sekarang entah sudah berada di mana. Ia mengambil ponselnya dan mendapati baterainya telah habis. "Aku sepertinya harus naik taksi." Matanya memandangi sekeliling. Namun tempat itu terlihat sepi dari lalu lintas kendaraan. Jalanan di distrik ini terkenal sepi namun memiliki warga yang ramah dan suka hidup sehat. Itulah mengapa sejauh mata memandang kau akan menemukan rumah yang di penuhi tanaman-tanaman hijau dan bunga serta sepeda yang di letakkan di halaman rumah.
"Naruto, kau tega sekali." Hinata mengambil langkah pertamanya untuk berjalan menuju jalan raya. Namun baru beberapa meter meninggalkan tempatnya berdiri, sebuah mobil pun mengklaksonnya.
"Naik cepat, Hinata!" titah seseorang dari dalam mobil itu.
"N-Naruto." Ia memasuki mobil. "Kukira kau meninggalkanku di sini."
"Tidak mungkin lah, bodoh! Aku bukannya membencimu. Tapi aku tidak mengenalmu. Lagi pula sekarang kau sah menjadi istriku berkat perjodohan kakek. Aku tidak mungkin meninggalkanmu."
"Terima kasih sudah kembali."
"Tidak usah di pikirkan."
Mereka pun pergi meninggalkan distrik 7 untuk pulang menuju rumah mereka.
[]=[]=[]
Makan malam keluarga Uzumaki di malam ini terasa berbeda. Namun bukan karena kehadiran 1 orang anggota baru. Melainkan situasinya tidak secanggung waktu sebelumnya. Hinata dan Naruto mulai mengakrabkan diri. Dan tentu saja Jiraiya dan Tsunade merasa bahagia karena perjodohan itu berhasil.
Ketika semua orang sedang makan, Naruto pun teringat kejadian tadi siang. Sehingga ia pun berkata, "Nek. Untuk menghindari kejadian seperti tadi siang, ada baiknya jika nenek mencarikan rumah untuk Hinata. Tidak mungkin kan kalau setiap hari Hinata pulang ke rumah ini setiap hari. Teman-teman yang melihat pasti akan curiga."
"Kau mau mengusir Hinata dari rumah ini?" sontak Jiraiya pun melotot pada Naruto.
Dengan ekspresi ketakutan, Naruto meluruskan perkataannya. "B-bukan itu maksudku."
"Sudah-sudah. Nenek sudah memikirkan masalah itu. Rumah lama kakek dan nenek akan menjadi rumah baru bagi Hinata."
Hinata pun terlihat berhenti makan dan mendengarkan perkataan nenek Naruto.
"Bagus. Dari pada rumah itu nenek pertahankan tapi tidak ditempati, lebih baik berikan pada Hinata."
"Rumah itu menjadi milik Hinata. Dan kau Naruto. Sebagai seorang suami kau akan tinggal di rumah itu bersama Hinata."
Naruto menjatuhkan sendok ke piringnya. Ia terdiam setelah mendengarkan perkataan neneknya itu. Hinata pun nampak terkejut mendengarnya.
"Woah! Ide bagus. Dengan begitu cucu kita dan Hinata bisa hidup mandiri."
"Ya. Itulah yang kupikirkan sewaktu membuat keputusan ini."
"T-Tapi—" Perkataan Naruto dihentikan oleh Tsunade.
"Sssttt, jangan banyak bicara. Besok sore sepulang sekolah, datanglah ke rumah itu bersamaku."
Tak ada pilihan lain selain mengatakan "Ya". Naruto dan Hinata pun terpaksa harus setuju pada keputusan sepihak itu lagi.
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
[]
Hai. Bagaimana menurut kalian tentang chapter 3 ini?
Mungkin ada beberapa dari kalian yang menganggap alurnya kecepatan. Dan saya terpaksa melakukannya karena tidak mungkin bagi saya menjelaskan prosesi pernikahannya. Selain itu, mungkin masih ada lagi. Saya mohon maaf atas hal tersebut.
Pada kesempatan ini, saya akan membalas review para pembaca yang menurut saya penting untuk di balas.
Ujumaki641 = [Type your review here. Next.. Thoor chaap 10 nya] Chapter 10 apaan?
Murasakibara1 = [jlan cerita g terlalu berbelit2 sih .. hmm mungkin jgan terlalu di cepetin alurnyakalo post nya di cepetin ya gk masalah hehe .. thor niat kelar sampek chap brapa trus upseminggu brapa kali di hari apa .. udah itu aja thor . salam kenal dari ku aja..
oups .. klo boleh kasilah humor anak sekolahan .. dan bnyakin alur yg tentang masa sekolah .. pokok nya .. di bnyakin aja deh word nya .. ok] Makasih atas pendapatmu. Itu merupakan sesuatu yang penting. Lalu, ya maaf kalo alurnya kecepatan. Masalah ngeposting FF ini, saya tidak bisa memastikannya. Masalah utamanya adalah karena saya adalah seorang pelajar yang telah duduk di bangku kelas 3 SMA. Bentar lagi mau ujian jadi tidak bisa terus meluangkan waktu untuk membuat fanfiksi. Dulu sewaktu masih hijau (Baru) saya memang sering mengupdate cerita setiap 3 hari. Itupun pakai teknik selesai ketik langsung upload. Sekarang sudah ngak bisa.
Masalah humor ya? Jujur saya bukanlah orang yang humoris. Tapi mungkin akan saya sisipkan beberapa humor berdasarkan pengalaman saya di sekolah dan juga pengalaman orang lain. Meskipun nantinya garing, mohon maklumi. Untuk alur yang lebih banyak tentang masa sekolah. Mungkin itu tidak bisa saya lakukan soalnya fanfiksi ini bergenre family dan romance. Jadi ya masa sekolah yang wajar-wajar saja.
Oke, itu saja. Maaf kalo kepanjangan. Maaf kalau kalian merasa review kalian tidak dibahas di sini. Mohon jangan mengangap review kalian itu tidak penting. Tapi review kalian itu tidak punya sesuatu yang bisa saya bahas di sini.
Jika kalian punya pendapat, kritik, dan saran bisa sampaikan lewat review. Bagaimanapun juga, saya tidak akan bisa tahu isi hati kalian. Kalau saya tidak menerima review kalian, saya tidak akan bisa membuat cerita yang lebih baik lagi.
