:
Taufiq879 Present
:
Destined To Live With You
:
Bab 4
Awal Yang Baru
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Sore yang cerah, dengan masih berpakaian seragam sekolah Naruto mendatangi rumah lama keluarga Uzumaki bersama Hinata untuk menyusul sang nenek yang sudah sedari tadi berada di sana.
Seorang ajudan terlihat berjaga di depan teras sekaligus menunggu kedatangan sang tuan muda—Uzumaki Naruto. Setelah memarkirkan mobilnya, Naruto dan Hinata pun memasuki rumah untuk menemui neneknya yang kemungkinan sedang berada di halaman belakang.
Memang benar, Tsunade sore itu sedang bersantai di kursi goyang. Di meja terdapat 2 buah map berisi dokumen-dokumen penting. Di dalam rumah, para pramuwisma terlihat sedang sibuk membersihkan rumah.
"Sore, nenek!" kata Naruto.
"Akhirnya kalian berdua sudah tiba. Nenek sudah dari pagi berada di sini untuk mengurus semua hal agar rumah ini siap di tempati." Tsunade mengambil dokumen itu dan menyerahkannya pada Hinata. "Rumah ini terdaftar sebagai milik Hinata. Dan kau Naruto, terdaftar sebagai sepupu Hinata. Tidak banyak orang yang mengenalmu jadi manipulasi data seperti ini bisa di lakukan dengan mudah. Namun data ini hanya berlaku di distrik 7 karena nenek sudah bekerja sama dengan kepala distrik ini."
Setelah Hinata menerima dokumen itu, Tsunade mengajak mereka berkeliling. "Agar dapat nyaman tinggal di sini, pertama kalian harus lebih mengenal rumah yang penuh kenangan ini. Di rumah inilah nenek dan kakek membesarkan ayahmu. Ketika kakekmu mengambil alih kepemimpinan perusahaan pasca Kematian ayahmu, kami terpaksa harus meninggalkan rumah ini untuk tinggal di vila keluarga. Sayang kakekmu sekarang sedang sibuk jadi tidak bisa ikut ke sini."
"Rumah ini terlihat masih bagus. Sepertinya anda mengeluarkan uang yang banyak setiap bulan untuk perawatan rumah ini," kata Hinata.
"Benar. nenek tidak mau rumah ini di jual atau rusak karena tidak terurus. Itu makanya nenek menyuruh kakek mencari orang yang mau mengurusi rumah ini."
Tsunade mulai bergerak meninggalkan tempat ini untuk memulai tur berkeliling rumah. Dengan langkah kaki terkesan malas, Naruto menyusul Hinata dan neneknya yang sudah berjalan berdua di depannya.
"Rumah ini memiliki 3 kamar. Namun kamar mandinya hanya 1. Jadi nanti kalau kalian tinggal di sini, kalian harus bisa berbagi kamar mandi.
Naruto menghentikan langkah kakinya, "maksud nenek mandi bersama?!"
"Bukan, mesum! Maksud nenek adalah membagi waktu dan jangan berlama-lama di kamar mandi. Memberi kesempatan agar yang lain dapat mandi."
"Oh!"
Mereka berkeliling dan akhirnya berhenti di ruang keluarga. "Untuk masalah kebersihan pakaian, rumah, dan perabotan lainnya, serahkan saja pada pramuwisma yang akan datang setiap 2 hari. Untuk masalah makan, kalian bisa membelinya atau membuatnya sendiri. Hinata cukup pintar memasak. Dan rasa masakannya juga enak."
Hinata merasa tersanjung. Semburat malu terlihat di wajahnya. Mereka berdua duduk di sofa. Tsunade duduk tepat di tengah antara Naruto dan Hinata. Ia menjadi pembatas kedua orang berbeda gender itu.
Tangan Hinata dipegang oleh Tsunade. Ia juga memegang tangan Naruto. Dan bersamaan tangan Naruto dan Hinata saling didekatkan oleh Tsunade. Di atas paha Tsunade, tangan Hinata dan Naruto saling bergenggaman. Walau Naruto maupun Hinata merasa tak nyaman, tapi mereka harus menahannya karena yang menggenggamkan tangan mereka adalah Tsunade.
"Aku melakukan hal yang sama seperti dulu pada Minato dan Kushina. Kami duduk di sini dan aku menggenggamkan tangan mereka. Tapi aku sudah lupa apa yang kukatakan waktu itu."
Air mata haru terlihat keluar membasahi pipi nenek yang masih terlihat cantik itu.
"Nek. Nenek kenapa?" tangan kiri Naruto terlihat menghapus air mata Tsunade.
"Nenek tidak apa-apa. Hanya terharu." Tsunade makin mengeratkan genggaman tangan Naruto dan Hinata. "Berjanjilah, meskipun pernikahan kalian ini tidak berdasarkan rasa cinta dan sayang terhadap satu sama lain, meskipun pernikahan kalian adalah paksaan, meskipun dijodohkan secara paksa, kalian tidak akan pernah berpisah hingga maut memisahkan salah satu dari kalian. Berjanjilah kalian melakukan ini untuk kakek, nenek dan keluarga besar Uzumaki Enterprise. Berjanjilah kalian akan mengakrabkan diri."
Naruto dan Hinata terdiam. Sepertinya keduanya sedang memikirkan sesuatu. Hinata terlihat melirik ke arah Naruto. Begitu pula sebaliknya, Naruto juga menatap Hinata. Dan bersamaan bibir mereka mulai terbuka dan keduanya berkata "Aku... berjanji."
[]=[]=[]
Ini adalah malam terakhir Naruto tinggal di vila keluarga Uzumaki. Ia dan Hinata telah sepakat untuk pindah ke rumah lama neneknya mulai besok. Meskipun bisa dikatakan ia sebenarnya terpaksa harus pindah karena menuruti perintah neneknya demi keamanan masa depan keluarga dan Uzumaki Enterprise.
Malam itu, ia mengudang Sasuke datang ke rumahnya berhubung besok kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Tentu saja bukan itu satu-satunya alasan sampai nekat mengajak Sasuke ke vila keluarganya. Tsunade—Nenek dari Naruto mengajak Hinata untuk menginap di rumah itu malam ini. Sementara itu, Jiraiya sedang ada kunjungan ke luar kota untuk urusan bisnis. Akan sayang kalau ia tidak menghabiskan waktu semalam bersama sahabatnya.
Dengan modal sebuah game keluaran terbaru, Naruto menggoda Sasuke untuk datang ke rumahnya. Meskipun awalnya Sasuke menolak karena ia telah berencana mengadakan kencan dengan Sakura, tapi rencananya itu malah di tolak oleh pacarnya itu dengan alasan ia sedang tidak enak badan. Mau tidak mau dan juga sekaligus untuk menghilangkan rasa kecewanya, Sasuke pun mendatangi kediaman Uzumaki.
Sudah lebih dari 2 jam mereka bermain game terbaru yang hanya bisa dimainkan pada konsol game termahal. Tak ada rasa bosan yang mengganggu mereka sewaktu menikmati game itu. Selain seru, Sasuke maupun Naruto saling tertantang untuk mengalahkan satu sama lain dalam permainan itu.
"Kali ini akan kukalahkan kau? Ini akan menjadi kemenanganku yang ke-57," ucap Naruto yakin.
"Cih! Ini akan menjadi kekalahanmu yang ke 60 dan akan menjadi kemenanganku yang ke 59,"
"Kita lihat saja kalau begitu."
Sekitar 4 jam mereka kembali bermain. Pada akhirnya setelah kelelahan dan mengantuk, mereka pun memutuskan untuk berhenti dengan Sasuke yang meraih kemenangan terbanyak yaitu sekitar 70 kemenangan.
Naruto melihat ke arah jam. "Wah, tidak kusangka ternyata sudah jam 3."
Sasuke mengemas barang-barangnya. "Aku akan pulang. Terima kasih atas ajakannya. Setidaknya sekarang kekecewaanku sudah hilang."
"Kau mau pulang sekarang?"
"Ya. Aku bakalan kena masalah kalau pagi ini ayahku tidak menemukanku ada di rumah."
"Kukira kau meminta izin?"
"Memang. Aku sudah meminta izin. Tapi ayahku berkata untuk pulang sebelum matahari terbit. Ini adalah hak khusus yang diberikan ayahku di hari libur seperti ini."
"Ya sudah. Kalau satpamnya tidur, bangunkan saja dia dengan klakson mobilmu."
"Baik. Sampai jumpa!"
Begitu Sasuke keluar dari kamarnya, ia pun mematikan lampu kamarnya dan mulai berbaring. Ia menutup matanya sambil membatin. "Aku lelah sekali. Tapi setidaknya aku membuat kesan yang baik untuk hari terakhir aku tinggal di sini," batinnya. Ia pun mulai terlelap dalam tidur yang nyenyak.
[]=[]=[]
Siang hari, ia dibangunkan oleh keributan para ajudan dan pramuwisma yang sedang mengangkat barang-barang milik Naruto. Ia sempat bingung kala itu. Namun ketika ia melihat sang kakek memberi perintah dari depan pintu, ia sadar. Barang-barangnya itu akan dipindahkan menuju rumahnya yang baru. Kehidupan semi mandiri bersama istri yang dijodohkan untuknya pun akan segera di mulai.
"Kau sudah bangun, Naruto. Maafkan kakek karena keributan ini pasti yang membangunkanmu."
"Hufft. Benar-benar menganggu." Ia bangun dan berjalan menuju kamar mandi."
Namun sebelum ia membuka pintu, ia mendengar suara sang kakek.
"Tunggu dulu. Benda itu jangan dipindahkan. Biarkan saja ada di kamar ini."
Naruto berbalik. Ia menyadari benda yang dilarang dipindahkan itu ternyata adalah konsol game terbarunya. "Tunggu dulu kek. Itu kan milikku. Kenapa aku tidak boleh dipindahkan ke rumah baru kami?"
"Benda itu akan menyita banyak waktumu yang berharga. Lebih baik kau menghabiskan waktumu untuk belajar atau lebih mengenal Hinata. Jika benda ini ada di rumahmu, nanti kan akan lebih sering berada di kamar untuk bermain game. Kakek tidak ingin hal itu terjadi karena jika kau tidak berusaha untuk mengenal Hinata lebih jauh lagi, selamanya kalian akan menjadi orang asing di hadapan satu sama lain."
"L-Lagi-lagi kakek membuat keputusan sepihak. APA KAKEK TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN PERASAANKU?" ia berteriak. Namun sepertinya teriakan itu tidak membuat sang kakek gentar. Ia sudah terbiasa menghadapi Naruto yang sedang dalam masa memberontak itu. Memang kesalahan terbesarnya adalah melakukan perjodohan yang tidak diinginkan oleh cucunya itu. Tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan masa depan keluarganya dan juga keluarga besar Uzumaki Enterprise.
Melihat sang kekek hanya menatapnya tanpa ada satupun kata yang keluar, Naruto berbalik pergi sambil berkata, "terserah. Apa yang akan kakek lakukan. Aku tidak peduli. Aku juga sudah tidak peduli dengan masa depanku lagi sejak aku setuju menikah dengan gadis itu. Jadi apa yang mau kakek lakukan terhadapku, silakan saja." Tentu saja itu adalah perkataan dari orang yang sudah berusaha menahan amarah yang sangat besar. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa melihat wajah sang kakek setelah ia memarahinya membuat hatinya hancur. Bukan karena ia tidak tega memarahi kakeknya itu, tapi melihat ekspresi tanpa bersalah dari kakeknya itulah yang membuatnya kesal.
Ia melampiaskan kemarahannya dengan memukul tembok kamar mandi berkali-kali. Akibatnya, tangannya itu mengeluarkan darah. Namun ia tidak memedulikan luka itu dan memutuskan untuk membersihkan badannya. Luka di tangan yang tersiram air itu terasa perih. Tapi hatinya saat ini jauh lebih perih. Sebenarnya ia sangat menyayangi kakek dan neneknya. Namun perjodohan ini sedikit membuatnya perlahan menutup hatinya untuk kedua orang lansia tersebut.
Ia menghabiskan sekitar satu jam di kamar mandi. Itu pun sudah termasuk saat ia memukul-mukul tembok. Begitu ia keluar, ia dikejutkan dengan keadaan kamar yang nyaris kosong. Yang tersisa saat itu hanyalah TV LED 25 inchi, konsol game dan sejumlah barang-barang lain yang tidak penting.
"Sial. Semua mereka bawa. Syukur baju semalam masih bersih." Ia menyadari bahwa lemari pakaian telah dibawa pergi tanpa meninggalkan satu potong pakaian pun.
Lalu tiba-tiba ia menyadari sesuatu. "Di mana kunci mobilku ya?" Ia mengamati sekitar untuk menemukan keberadaan kunci mobilnya. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Kuncinya itu ia letakan di atas meja belajar. Sekarang meja itu sudah tidak lagi berada di kamarnya ini. "Sial. Mereka juga membawa pergi kunci mobilku. Hufft. Aku jadi semakin malas ke sana."
Ia memutuskan untuk pergi. Setelah merasa tidak ada barang yang perlu ia bawah, ia meninggalkan kamarnya. Namun, ketika ia membuka pintu, seorang ajudan menghampirinya. "Selamat siang, tuan muda." Ia menyerahkan sebuah kunci. Kunci mobil miliknya yang seharusnya berada di atas meja. "Maaf. Karena keteledoran kami, kunci mobil Anda hampir saja terbawa."
"Ahh. Makasih." Naruto masih bisa menerima kunci itu dengan sedikit senyuman seperti biasa. Ia tidak boleh menunjukkan rasa kesalnya pada orang-orang yang bekerja untuk kakeknya. Setidaknya kalau ia mau marah, ia harus bertingkah sebagai laki-laki dan menghadapi kakeknya secara langsung.
Ketika ia telah menaiki mobilnya, ia memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat. Ketika ia mencoba memanaskan mobilnya itu dengan memainkan gas, ia seperti merasa ingin melaju bersama mobil dengan mesin baru itu. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke tempat di mana ia merusakan mobilnya itu.
Tempat yang ingin ia coba untuk memacu mobilnya itu bukanlah jalan yang lurus. Melainkan jalan yang panjang dan penuh dengan kelokan. Namun jalan itu dikenal sepi dan bebas dari pejalan kaki. Tempat yang sempurna untuk melakukan sparing.
Ketika ia memacu, perasaannya menjadi tenang. Dengan membuka kaca mobil, ia membiarkan angin masih dan menerpa badannya. Hal itu yang membuatnya merasa lebih tenang. Namun semakin cepat ia melaju, maka angin itu akan mengganggunya. Jadi ketika ia mencapai kecepatan 60 kilometer/jam, ia menutup kaca mobil dan fokus pada kecepatan.
Alhasil, ia berhasil mencapai kecepatan 120 kilometer/jam. Namun ia tidak bisa menembus kecepatan yang lebih dari itu sebab ia mengingat jalan ini penuh dengan kelokan. Tiba-tiba saja sewaktu ia sedang fokus mengemudikan mobil yang bergerak dalam kecepatan tinggi itu, ia dikagetkan oleh suara klakson sebuah mobil yang berada di sampingnya.
"Sasuke," sebutnya kala melihat kaca mobil di sampingnya itu terbuka.
"Cih! Mesin barumu itu luar biasa. Aku bahkan sampai kesulitan mengejarmu," teriak Sasuke karena tidak mungkin suara biasa akan terdengar oleh Naruto.
"Jangan sombong. Aku tahu mobilmu itu pakai mesin ilegal yang bisa menembus kecepatan 150 kilometer/jam. Aku yakin jika bukan karena kakakmu yang mempalsukan dokumen mesin mobil itu, kau pasti sudah berada di dalam penjara."
"Hei. Bagaimana kalau kita balapan? Siapapun yang sampai di cafe yang berada di ujung jalan ini, ia akan ditraktir oleh yang terakhir tiba. Kau setuju?"
"Baiklah. Kita mulai...Sekarang!" Ia menginjak gas mobilnya dalam-dalam agar bisa menembus kecepatan yang lebih tinggi. Tapi meskipun ia sudah berada jauh di depan Sasuke, ia masih saja dapat di kejar dengan mudah. Bahkan Sasuke tidak merasa kesulitan untuk menyamakan kecepatan mobil miliknya dengan kecepatan mobil milik Naruto.
Sasuke memberi hormat dua jari kepada Naruto. Sikapnya saat itu seperti mengatakan selamat tinggal. Dan benar saja, setelah menghormati Naruto ia pun melajukan mobilnya hingga tahap yang tidak bisa di kejar oleh Naruto.
Meskipun jalanan itu dipenuhi kelokan, tapi kecepatan mereka tidaklah berkurang dengan drastis. Keduanya sama-sama ingin menang. Mungkin karena ada sebuah alasan sehingga memaksa mereka untuk memenangkan balapan ini.
Pada akhirnya, balapan kali ini tetap dimenangkan oleh Sasuke. Tentu saja penyebabnya adalah Sasuke memakai mobil dengan mesin ilegal yang dikenal sangat halus dan kencang. Hanya saja, setibanya di sana mereka dikejutkan dengan keadaan cafe yang sedang tutup. Di pintunya terdapat tulisan "Mohon maaf. Kami sedang berlibur."
Melihat itu, Naruto bisa keluar dari dalam mobil dengan perasaan lega. Ia menghampiri Sasuke.
"Sepertinya kau sedang sial. Kau menang balapan kali ini. Tapi cafe ini malah tutup. Aku kasihan padamu," kata Naruto.
"Kalau begitu kita pergi ke kedai yang ada di dekat sekolah kita saja. Bagaimana? Soalnya aku belum makan siang."
Wajah Naruto tiba-tiba pucat. "K-Kedai? Tapi tempat makan yang ada di dekat sekolah kita itu kan restoran. Tidak ada kedai."
"Aku yakin untuk orang sepertimu, harga makanan di restoran itu akan terasa seperti kedai. Benarkan?"
"Aku sama sekali tidak punya uang yang cukup untuk mentraktirmu di restoran itu. Bahkan aku hari ini tidak membawa dompet."
"B-Benarkah?! Lalu kenapa kau terima tantanganku?"
"K-Karena kupikir aku bisa mengalahkanmu."
"Yang benar saja. Balapan kali ini ternyata sia-sia. Padahal kau sudah sangat lapar."
Tiba-tiba perut mereka berdua berbunyi. Itu adalah momen langka di mana 2 orang sahabat sama-sama merasa lapar.
"Ugh! Aku lapar sekali. Benar juga, semenjak tadi malam, aku tidak makan apa-apa," ucap Naruto.
"Aku juga. Semalam kau sama sekali tidak menyiapkan camilan untuk kita. Kau memang tuan rumah yang buruk ya."
"Aku kan Cuma mengundangmu untuk main game. Aku ingin menghilangkan stres yang kualami. Bukankah kau juga begitu?"
"Ya sudahlah. Lalu bagaimana sekarang?"
"Kau ada uang kan? Aku lapar sekali lo. Bagaimana kalau kali ini kau yang traktir? Aku sedang tidak ingin pulang ke rumah," kata Naruto.
Sasuke membalikkan wajahnya. "Begini. Dompetku ketinggalan di rumah."
"Apa?!" Otomatis ia pun kaget mendengarnya. "Lalu kenapa kau menantangku balapan?"
"Agar bisa makan gratis. Apalagi coba? Kau kan selalu kalah kalau balapan denganku, jadi aku tidak ragu saat membuat tantangan tadi meskipun aku tidak membawa dompet. Tapi tak kusangka kau juga tidak membawa uang sedikit pun."
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Aku akan pulang. Aku sudah lapar." Sasuke memasuki mobilnya tanpa mendengarkan perkataan Naruto terlebih dahulu.
"Oi. Sasuke. Lalu aku bagaimana?"
"Kau pulang saja sana. Aku yakin para juru masak keluarga kalian sudah menyiapkan makan siang."
Sasuke pergi meninggalkan Naruto seorang diri. Naruto hanya bisa bersandar di pintunya sambil menggerak-gerakan ponsel dengan tangannya. "Lebih baik aku ke rumah itu dan mengambil dompetku." Ia pun memasuki mobilnya dan pergi dari tempat itu.
[]=[]=[]
Naruto tiba di rumah barunya itu. Kala itu, pagar rumah terbuka dengan lebar. Wajar saja, beberapa menit yang lalu seharusnya truk yang membawa barang-barang milik Naruto baru saja menurunkan barang bawaannya di sini. Di depan pintu juga sedang terlihat seorang ajudan yang sedang berjaga.
Ia memasukkan mobilnya secara perlahan dan memarkirkan mobilnya di depan garasi. Ketika ia mendekati pintu, sang ajudan menyapanya.
"Selamat siang, tuan muda. Sepertinya nyonya Tsunade sedang menunggu Anda.
Ia memasuki rumah tanpa salam ataupun suara untuk memperingati penghuninya kalau ada yang mau memasuki. Ia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Ketika ia berada di lorong yang menghubungi kamar mandi dan dapur, Tsunade memanggilnya. "Naruto. Ayo makan bersama kami."
Sekilas, ia melihat ke arah dapur. Terlihat sang nenek yang sedang duduk di meja makan. Sementara, Hinata terlihat sedang sibuk menata makan siang di atas meja. Sekilas ia melihat Naruto lalu tak lama kemudian ia berpaling.
"Baik. Aku mau ke kamar mandi dulu." Naruto membuka pintu kamar mandi. "Ada apa dengan dia. Tatapan pasrah itu. Tapi sepertinya wajar kalau ia tidak menerima pernikahan ini sepenuh hatinya."
Setelah urusannya di kamar mandi selesai, Naruto menghampiri nenek dan Hinata yang sedang menyantap makan siang.
"Syukur kau datang tepat waktu. Nenek sangat ingin makan siang bersama kalian hari ini. Kali ini semua di masak oleh Hinata loh. Coba kamu cicipi."
Tanpa berkata apapun, Naruto mencoba makanan buatan Hinata. Tidak ada komentar yang keluar dari mulutnya. Tapi dilihat dari sisi manapun, Naruto terlihat menikmati makanan itu. Hinata pun sepertinya tidak terlalu mengharapkan tanggapan dari Naruto.
Sikap mereka berdua memang masih dingin terhadap satu sama lain meskipun mereka sudah berjanji pada Tsunade untuk berusaha mengakrabkan diri, tapi sepertinya hal itu masih sulit untuk dilakukan saat ini. Semenjak mereka berdua menikah, Naruto maupun Hinata sama-sama merasa canggung. Dan terlebih lagi, semenjak pernikahan ini, jarak Naruto dan Jiraiya merenggang.
Ketika sedang menikmati makan siangnya, Tsunade tiba-tiba di telepon. Tak lama kemudian ia menutup teleponnya.
"Nenek hampir lupa. Sore ini nenek ada janji dengan teman-teman nenek." Tsunade berdiri. "Nenek mungkin tidak akan kembali ke sini jika tidak ada urusan penting. Nenek serahkan rumah ini untuk kalian. Masalah uang, akan nenek kirim setiap minggu. Hinata, kau bertugas mengatur keuangan seperti untuk keperluan rumah, makan, dan jajan. Kau juga harus mengatur uang pegangan Naruto. Nenek tidak mau ia memboroskan uang."
Naruto benar-benar kaget mendengarnya. "Apa maksud nenek? Kenapa semua uangku harus di kasih pada Hinata?"
"Tentu saja karena ia adalah istrimu. Anggap saja uang yang kuberi setiap minggu itu adalah gajimu. Dan layaknya seorang suami, kau harus mempercayakan gajimu itu pada Hinata sebab ia yang bertugas mengatur keuangan keluarga. Tidak masalah kan?"
Naruto hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa marah pada neneknya. Ia sudah meneguhkan hati untuk menerimanya. "Baiklah. Silakan saja." Naruto berdiri dan pergi dari dapur. Ia merasa sangat kecewa sebab kehidupannya menjadi lebih buruk setelah ia menikah. Mungkin saja memang benar, ia sudah tidak punya masa depan yang cerah lagi.
"Ya ampun. Dia pasti marah lagi." Tsunade melihat kepergian Naruto. Setelah Naruto hilang dari pandangannya, ia berbalik lagi ke arah Hinata. "Tolong jaga cucuku. Tapi biasanya dalam keluarga dia adalah anak yang baik."
"Baik. Saya akan berusaha."
"Kalau begitu," ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Ini uang untuk minggu ini. Tolong diatur supaya cukup. Dan tolong pastikan dia tidak boros dalam pemakaian uang."
"Baik."
[]=[]=[]
Malam telah tiba. Kala itu, Hinata terlihat sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara itu karena tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan di rumah barunya itu, Naruto hanya bisa duduk dan belajar di kamar. Tentu saja karena tidak terbiasa belajar di rumah seperti ini, Naruto menjadi bosan. Terlebih lagi dengan mengingat semua kejadian yang menimpanya saat ini telah membuatnya stres.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk belajar, ia berhenti saat rasa lapar memuncak. Ia tidak tahu bahwa saat ini Hinata sedang menyiapkan makan malam. Sementara itu saat ia memeriksa dompetnya, ternyata isinya kosong. "Sial. Malam ini makan apa ya?"
Ia membongkar-bongkar laci dan lemari untuk menemukan secarik kertas yang bisa dipakai untuk membeli makanan. Namun yang ditemukannya hanya kertas-kertas biasa. "Ahh. Sepertinya aku harus tahan lapar malam ini." Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 7. "Masih terlalu cepat untuk tidur. Mungkin sebaiknya aku bersantai di luar dululah."
Ia merapikan meja belajarnya dan pergi keluar kamar. Ia menuju ruang keluarga untuk bersantai menonton TV. Ketika sedang berada di sana, ia mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera makannya. Apalagi saat ini ia sedang lapar. Namun ia tidak memiliki keberanian untuk datang ke sana dan menagih makanan itu. Pasti akan terasa sangat canggung karena sang nenek tidak ada di rumah ini untuk menengahi hubungan mereka.
Perutnya berbunyi mencium aroma masakan itu. Namun ia berusaha untuk tetap tegar dan menonton TV. Ia juga masih kurang yakin apakah Hinata memasak makanan itu untuk mereka atau hanya untuk dirinya sendiri.
Hinata mendatanginya. "Naruto. Waktunya makan." Ia hanya berkata itu dan ketika selesai, ia langsung pergi menuju dapur. Hawa kesuraman kehidupan rumah tangganya benar-benar terasa. Memang wajar sebab pernikahannya dengan gadis itu memang sama sekali tidak mereka rencanakan. Semuanya terjadi secara mendadak.
Karena tidak ada pilihan lain, ia pun melangkahkan kakinya menuju dapur. Makanan yang tersedia di atas meja memang tidak terlihat mewah dan banyak. Hanya sekedar nasi goreng untuk 2 orang.
"Maaf ya Hinata. Karena nenek, kau harus memasak makanan untuk kita berdua."
"Kurasa aku melakukan ini bukan karena perintah dari nenekmu. Aku juga perlu makan dan mengingat di rumah ini ada kau juga, aku memang sengaja memasak untuk 2 orang."
Mendengarnya, Naruto menjadi terdiam. Tidak disangka Hinata memiliki sifat sedingin itu. Atau mungkin sifatnya ini muncul karena tekanan yang ada pada dirinya. Ia juga pasti merasa menderita sebab pernikahan ini.
Ketika mereka menikmati makanan itu, hanya kesunyianlah yang terdengar. Suasana canggung memenuhi dapur. Tak ada topik yang ingin di bawah saat itu. Namun ketika Naruto telah menghabiskan makanannya dan hendak pergi, Hinata menahan tangannya.
"Jangan pergi dulu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Hinata berdiri dan berjalan menuju sebuah meja yang berada di dapur. Dari dalam laci itu ia mengambil sebuah amplop putih yang terlihat cukup tebal.
"Apa yang ingin kau bicarakan." Awalnya Naruto bingung. Namun ketika melihat amplop itu, ia pun paham.
"Mengenai uang peganganmu. Nenekmu menyuruhku untuk mengaturnya dan juga memastikan kau tidak boros dalam pemakaian uang."
"Berapa yang nenek kasih."
"Jumlahnya tidak banyak. Setidaknya uang ini akan cukup jika masing-masing dari kita hanya memegang sekitar 30 persen sementara sisanya untuk keperluan rumah."
"Baiklah. Aku setuju. Bagaimanapun nenek sudah memberikan kebijakan padamu untuk mengatur keuangan kita."
Hinata mulai menghitung uang tersebut dan membagikan sekitar 30 persen kepada Naruto. "Ini uangmu. Sekitar 30 persen dari jumlah yang ada. Aku juga akan mengambil 30 persen. Sementara sisanya akan digunakan untuk keperluan rumah lainnya."
Naruto menghitung uang itu. Ia merasa tidak puas.
"Ada apa, Naruto. Apa masih kurang?"
"Karena aku punya hutang dengan Sasuke, uang segini tidak bakal cukup untuk peganganku selama 1 minggu."
"Apa kau mau tambah?"
"Kurasa tidak perlu. Aku masih bisa mencicil hutang itu."
"Sebenarnya kau hutang berapa banyak pada Sasuke?"
Naruto terdiam untuk sesaat. "Cukup banyak. Setidaknya dengan jumlah uang segini, aku memerlukan waktu sampai 2 tahun untuk bisa melunasinya."
Sekarang giliran Hinata yang terdiam. "Sebanyak itu. Sebenarnya untuk apa uang yang kau pinjam itu?"
"Maaf. Aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Tapi jangan khawatir. Itu bukanlah hal yang buruk. Sebenarnya jika aku memakai uang jajan yang selalu diberikan kakek setiap minggu, aku bisa melunasi hutang itu dalam waktu beberapa bulan saja."
Hinata menghitung uangnya lalu menyisihkan sekitar 20 persen. Ia memberikan uang itu pada Naruto. "Aku tidak bisa memberimu uang lebih dari sisa 40 persen itu. Tapi kau bisa mengambil uangku ini."
"T-Tapi ini kan uang peganganmu?"
"Aku tidak memiliki pengeluaran yang besar. Palingan hanya makan siang di sekolah dan juga uang naik taksi."
"Maaf. Aku tidak bisa menerimanya. Hutangku harus dibayar sendiri dengan uangku. Sebaiknya kau simpan saja uangmu itu. Kehidupan di kota besar memerlukan uang yang banyak, tahu."
"Baiklah."
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
Hai semua. Maaf ya karena saya terlalu lama update. Bukan lagi tidak mood atau tidak punya ide melainkan tidak punya koneksi internet. Mohon di maklumi ya soalnya di kota saya, koneksi internet telkomsel mengalami gangguan besar-besaran yang menyebabkan jaringan satu kota mati. Permasalahan ini muncul sebab kabel optik bawah laut putus.
Hari ini mumpung jaringan 4g telah muncur, saya mau upload sekaligus membalas hampir semua review yang masuk. Mohon di simak.
Kurotsuki Makito = Chapter berapa ya? Mungkin baca saja ya nanti bakalan tahu. Masalahnya selain konflik besar, saya juga memaparkan beberapa konflik kecil. Btw, kayaknya saya ngak pandai buat konflik yang menguras air mata. Maaf
Gumizaq = Maaf, saya kurang teliti. Hal ini sering terjadi bahkan saya sudah sering ditegur. Tapi masih saja ada yang terlewat. Tapi belakangan ini saya selalu sadar apabila saya salah mengetik nama Naruto (Mungkin karena telah lama tidak melanjutkan fanfic Boruto)
Saputraluc000 = Silakan di saksikan saja, kemungkinan apa yang kau paparkan di review itu bukan menjadi konflik dari cerita ini.
Guest = Yo bro, Anda pemilik review terpanjang. Dan saya suka itu. Tapi jika niat Anda adalah untuk menjatuhkan semangat saya, maaf, ngak bakalan ngaruh. Untuk summary, hehe maaf. Ngak pandai bikinnya. Hanya itu yang terlintas. Mungkin kalau ada ide, bakal di ganti. Tapi saya bisa pastikan, apapun tafsiran Anda mengenai fanfic ini pasti salah sebab dlam cerita ini saya membuat sebuah alur yang kompleks yang di dapat dari berbagai sumber referensi dan bukan SINETRON alay atau SINETRON di indo***r. Syaa selalu menghindari adanya konflik yang biasa bak sinetron. Saya terlalu Noob untuk membuat fanfic yang seperti itu. Tujuan saya menulis fanfic memang adalah untuk memperbaiki kualitas penulisan. Dan Review seperti inilah yang saya jadikan panutan untuk perbaikan. Review yang membahas kekurangan dari karya saya. Terima kasih.
Oke, kira-kira itu yang perlu di jawab. Sisanya akan saya bahas secara narasi di bawah.
Kita mulai dari jumlah chapter yang telah saya miliki. Selama waktu ngak ada sinyal, saya sudah mengerjakan hingga 8 chapter. Dan tentu saja isi dari cerita ini kedepannya akan berbeda dengan tafsiran kalian yang menebak Hinata bakal menderita atau sejenisnya.
Karena saya bukan anak-anak bahasa, jadi penggunaan bahasa masih terkesan kaku dan tidak kaya. Ya mau bagaimana lagi, saya menggeluti dunia tulis menulis ini hanya karena ingin melampiaskan hobi mengetik dan membuat cerita. Dan puncak dari hobi ini adalah ketika saya mendapat juara 5 dalam lomba menulis cerpen.
Tambahan. Yang menjadi ujung tanduk dari cerita ini ada di chapter 5-7. Kemungkinan nanti Summary-nya akan di update. Tapi tentu saja, apa yang ada pada chapter 5-7 tidak akan saya bahas di summary agar cerita ini tidak diketahui alurnya oleh orang yang pertama kali membaca cerita ini.
Selama ini, saya merasa bahwa alur yang sedikit melenceng dari summary itu tidak perlu dipermasalahkan. Jadi maaf ya kalo memang menurut kalian cerita ini malah melenceng dari summary.
Sepertinya sampai di sini saja. Chapter berikutnya akan di update dalam beberapa hari dengan "Catatan" ada jaringan yang tersedia untuk melakukan proses tersebut.
22/02/2018
Salam, author Taufiq879
