:
Taufiq879 Present
:
Destined To Live With You
:
Bab 5
Sebuah Masalah
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Pertama kali membuka mata di hari yang baru, Naruto tampak kebingungan. Ia masih belum terbiasa menatap kamar barunya itu. "Di mana? Oh benar. Rumah baru ya." Ia duduk di pinggiran kasur seraya mengusap kepalanya. Ia melihat jam yang saat itu menunjukkan pukul 7 tepat.
"Tinggal 1 jam lagi sebelum pagar sekolah di tutup." Ia menghela nafas. "Kenapa aku tidak terbangun lebih lama lagi ya. Padahal aku sedang malas sekolah hari ini." Meskipun sedang malas, tapi ia tetap mencoba berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika ia melewati ruang tamu, ia melihat seorang ajudan tak berseragam yang sedang duduk di sana.
"Selamat pagi, tuan muda!" ucap ajudan itu kala melihat Naruto.
"Ah iya, pagi." Naruto menghampirinya. "Kau sedang apa pagi-pagi begini, Hayate?"
"Aku diminta mengantarkan sesuatu oleh tuan Jiraiya dan juga mengantar nona Hinata ke sekolah."
"Begitu ya. Lalu kenapa kau memakai pakaian biasa?"
"Perintah dari nyonya. Alasannya agar teman-teman nona Hinata tidak curiga." Ajudan bernama Hayate itu melihat jam tangannya. "Sebaiknya Anda segera mandi, tuan muda. Saya akan mengantar nona Hinata apabila Anda sudah meninggalkan rumah."
Merasa tak ada yang perlu dibahas lagi, Naruto pun pergi dengan alasan ingin segera mandi dan bersiap ke sekolah. Tentu saja dengan adanya ajudan milik kakeknya di rumah ia tidak bisa bolos sekolah semudah itu. "Sial. Pasti kakek memberikan perintah rahasia pada Hayate untuk memastikan aku pergi ke sekolah."
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Naruto langsung menuju di dapur. Di sana, ia melihat Hinata yang baru saja selesai sarapan. Dari apa yang ia lihat, ia dapat mengetahui bahwa Hinata baru saja menghabiskan semangkuk serela.
"Cepatlah sarapan. Kita harus berangkat ke sekolah."
"Kalau kau mau, kau bisa minta ajudan itu mengantarmu lebih awal. Aku janji untuk tidak akan bolos."
"Benarkah?" tanya Hinata untuk memastikan perkataan Naruto.
"Setidakpercayakah itu kalian padaku?"
"Mau tidak mau terpaksa aku harus percaya padamu. Hari ini aku ada tugas piket, jadi aku harus datang lebih cepat." Hinata menyerahkan kunci rumah pada Naruto. "Tolong pastikan semua pintu sudah terkunci sebelum kau pergi ya?"
Setelah mengatakan itu, Hinata pun pergi. "Menyebalkan. Aku memang sering bolos. Tapi setidaknya aku tidak sering berbohong. Kenapa mereka sulit percaya sih. Memang benar hari ini aku berencana tidak sekolah. Tapi melihat ajudan itu, mau tidak mau aku harus sekolah hari ini," batin Naruto ketika menuangkan sereal dan susu di atas mangkuk. Ia menikmati sarapannya itu dengan lambat tanpa memedulikan waktu.
[]=[]=[]
Setelah memastikan keadaan rumah aman untuk ditinggal, Naruto pun pergi menuju sekolah. Ia melajukan mobilnya dengan cukup cepat. Bukan agar bisa segera sampai, melainkan hanya untuk kesenangannya pribadi. Ia tidak memedulikan polisi-polisi yang kemungkinan melihat aksi ngebut yang ia lakukan di tengah hiruk pikuk kota pagi hari.
Setelah melalui perjalanan cukup lama dari rumah menuju sekolah, ia pun tiba. Pagi itu keadaan terlihat cukup ramai sebab waktu telah menunjukkan pukul 7.40 yang artinya hanya tersisa 20 menit lagi menjelang bel berbunyi.
Begitu mobilnya telah terparkir dengan rapi di tempat parkir khusus siswa, ia melanjutkan perjalanannya dengan santai menuju kelas. Koridor-koridor yang ia lalui pagi itu terlihat cukup ramai. Para siswa terlihat sedang asyik bertukar cerita mengenai liburan kemarin. Ketika ia tiba di kelas, suasana yang terasa pun tak jauh berbeda dengan suasana di sepanjang koridor. Semua siswa sibuk dengan urusan mereka. Tentu saja ada yang sedang membawa, mengobrol, dan bahkan membersihkan kelas. Hanya saja, salah satu siswa dari kelasnya pagi itu terlihat murung. Dia adalah Sasuke yang sejak aku masuk ke dalam kelas hingga duduk di sampingnya, ia tidak mengangkat kepalanya sedikit pun.
"Oi, Teme. Kau kenapa? Sakit?"
"..."
Tak ada jawaban dari Sasuke. Pemuda itu sama sekali tidak bergeming meski dipanggil oleh sahabatnya.
"Oi, Sakura menghampirimu itu!"
"..."
"Cih! Tidak ada cara lain." Batinnya sambil menatap Sasuke dengan licik. Ia mengulurkan jarinya ke pinggang Sasuke lalu menusuknya dari samping. Efek dari tusukan itu membuat Sasuke langsung menegakkan badannya dan secara refleks memukul pelakunya.
Naruto tak terlihat terkejut. Meskipun pukulan itu mengarah pada mukanya, ia masih bisa dengan santai menangkis pukulan Sasuke itu dengan telapak tangannya.
"Apa-apaan kau, Dobe?!" teriak Sasuke yang secara jelas menarik perhatian semua murid dikelas 10-A itu.
Naruto terkejut. Bukan karena Sasuke yang marah, melainkan wajahnya yang terlihat babak belur. "Wa-wajahmu kenapa?"
"Cih! Bukan urusanmu." Sasuke kembali meletakan kepalanya di atas meja. Namun sebelum itu, Naruto sudah meletakan tangannya di dahi Sasuke untuk mencegahnya tidur kembali. "Hei, hei, bukan waktunya tidur. Pelajaran sudah mau mulai." Dari depan pintu, terlihat guru mata pelajaran pertama sudah memasuki kelas bersama sang ketua kelas.
Semua murid berdiri untuk memberi salam termasuk Sasuke yang pada dasarnya sedang tidak ingin mengangkat kepalanya dari atas meja.
"Selamat pagi semua!" Sang guru membalas salam para muridnya. Pagi itu, guru yang masuk bernama Kurenai. Seorang guru yang sangat cantik dan terlihat masih sangat muda. Namun ada satu sisi dari sang guru yang membuat beberapa siswa merasa tidak nyaman.
Ketika para siswa sedang mengeluarkan buku dan alat menulisnya, Bu Kurenai berkata, "yang nomor absennya genap silakan pergi menuju perpustakaan. Yang dikelas hanyalah yang ganjil."
Semua mulai terlihat gelisah. "Ibu akan memberikan kuis hari ini. Dan bagi siapapun yang memiliki nilai rendah akan ibu paksa membersihkan kamar mandi. Yang genap silakan keluar dan menunggu giliran di perpustakaan."
Mereka yang bernomor absen genap bisa bernafas lega sebab memiliki waktu untuk belajar. Namun, kesuraman begitu terasa dari jiwa-jiwa murid kelas 10-A SMAK yang bernomor absen ganjil.
Dengan senyuman penuh rasa bangga, Naruto berdiri dan menepuk pundak Sasuke. "Berjuang ya, Sasuke. Aku tahu kau tidak mau membersihkan kamar mandi." Senyuman licik yang bersifat merendahkan itu memang tidak enak dipandang. Namun Naruto merasa sangat bangga karena sejak awal nomor absennya adalah genap. Namun ketika ia hendak pergi, tangannya di tahan oleh Sasuke. Ia berdiri menghadap Naruto. "Kau lupa satu hal, bodoh! Semenjak." Sasuke memungut buku-buku dari atas mejanya. "Semenjak Hinata pindah, nomor absen kita bergeser. Kau di ganjil sementara aku di genap."
Jiwa Naruto bagai tercabik-cabik mendengar fakta itu. Perasaannya saat ini benar-benar hancur layaknya habis ditola mentah-mentah oleh gadis yang sangat ia sukai. Kesuraman mengisi tubuhnya yang telah kosong tak berjiwa. Naruto hanya bisa terduduk di lantai dan menyadari kebodohannya. "B-Benar. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu? Bodohnya aku."
Sasuke menepuk kepala Naruto dengan tumbukan buku yang ia pungut dari meja. "Berjuanglah... Untuk membersihkan kamar mandi. Aku tahu kau sama sekali belum belajar." Setelah mengatakan itu, Sasuke pergi menyusul teman sekelasnya yang sudah mengarah ke perpustakaan.
[]=[]=[]
Tik...Tik...Tik...Tik...
Suara jam berdetik terdengar begitu jelas di dalam kelas yang sunyi. Semua siswa sedang mengerjakan soal yang terdapat pada secarik kertas di hadapan mereka. Namun hal itu tidak menutupi kemungkinan adanya siswa yang kebingungan dalam memahami soal dan mengerjakannya. Mereka ini biasanya terlihat santai dalam di saat-saat mata sang guru mengarah pada mereka, namun begitu pandangan sang guru menjauhi mereka maka dengan cepat mereka akan berusaha menoleh untuk mencari jawaban.
Naruto memang kebingungan. Sudah 25 menit berlalu namun belum satu pun soal berhasil diselesaikan olehnya. Beberapa kali ia memberi kode pada Shikamaru yang berada di sampingnya. Namun layaknya orang tuli, Shikamaru sama sekali tidak bergeming terhadap panggilannya. Ia benar-benar gelisah dan tidak bisa tenang. Berbeda dengan Hinata yang saat itu ada di depannya. Ia begitu tenang dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan Kurenai itu.
"Sial. Apa tidak ada yang mau membantuku?" batin Naruto gelisah seraya melihat ke segala arah untuk menemukan kemungkinan teman yang mau membantunya. Hanya saja, satu-satunya teman terdekat yang ada di sampingnya saat itu hanya Shikamaru yang tentu saja tidak akan membagikan jawabannya.
"Uzumaki! Kerjakan soal itu sendiri. Dilarang menyontek milik orang lain!" teguran itu datang dari Bu Kurenai yang sudah sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Naruto yang mencurigakan.
Setelah mendapat teguran itu, tentu saja Naruto langsung terdiam di tempat. Ia kurang berhati-hati dalam meminta bantuan. Kalau sudah seperti ini, tidak mungkin akan ada orang yang mau membantunya. "Hufft." Itu adalah suara nafas yang menandakan kepasrahan Naruto. "Kurasa membersihkan kamar mandi tidak akan begitu buruk. Sejauh ini kamar mandi SMAK selalu bersih."
Tiba-tiba kesunyian kelas menghilang saat ponsel Bu Kurenai berbunyi. "Halo. Ada apa?/Oh ya. Aku sudah mengatakan ini pada kepala sekolah. Aku sudah meminta beliau untuk melarang pembersihan kamar mandi besok./Iya. Aku bisa pastikan akan ada siswa yang gagal dalam kuis ini./Ya semoga saja hukuman ini bisa memotivasi mereka untuk belajar lebih giat lagi."
Semua siswa mendengar percakapan itu. Perasaan mereka menjadi tidak tenang saat mendengar hal itu. Meski ada kata-kata bijak di akhirannya, tapi tetap saja itu tidak mengubah fakta bahwa guru ini bisa bersikap kejam pada murid yang kemampuannya di bawah rata-rata.
"Gawat. Kalau begitu gawat!" Ia memukul meja beberapa kali dengan suara seminim mungkin. Ia mengutuk dirinya yang tidak bisa mengerjakan soal-soal itu karena tidak belajar.
"Ada yang sudah selesai?" tanya Kurenai. Beberapa detik kemudian, beberapa siswa terlihat mengangkat tangannya. "Bawa ke depan sini biar ibu periksa. Jika ada kesalahan, nanti ibu kasih kesempatan untuk memperbaikinya." Setelah itu, siswa-siswa yang sebelumnya mengangkat tangannya pun berjalan ke depan. Karena hal itu, perhatian sang guru hanya terpusat pada kertas jawaban para siswa.
"Sstts...! Shikamaru!" Sekali lagi Naruto mencoba memanggil Naruto. Namun pemuda itu hanya menguap lalu meletakan kepalanya di atas meja dan tidur untuk mengistirahatkan pikirannya. "Apa-apaan kau!" batinnya kesal.
Naruto pun pasrah. Ia kembali fokus pada kertas jawabannya. Ia telah berencana untuk mengisi kertas itu dengan jawaban apa pun yang bisa ia masukan. Namun tak disangka, di hadapannya terdapat sebuah lembaran yang berisi jawaban. Di kertas itu terdapat sebuah pesan yang berbunyi "Maaf Naruto karena telat memberikan kertas ini. Kuharap kau terbantu. Dan maaf sebab jawabanku ini belum terbukti kebenarannya. Tapi aku sudah mengikuti cara yang diajarkan oleh Sakura." Hanya dengan membaca pesan itu saja, Naruto sudah mengetahui siapa yang mengirimkannya. Ia menatap orang yang ada di hadapannya. Gadis itu masih saja terlihat tenang mengerjakan setiap soal yang ada. "Makasih, Hinata," ucap Naruto karena ia tahu yang memberikannya kertas itu adalah Hinata.
"5 menit lagi!"
Mendengar itu, Naruto pun dengan cepat menyalin jawaban dari kertas itu. Hanya butuh waktu sekitar 3 menit bagi Naruto untuk menyalin jawaban yang ada di kertas itu. Naruto sudah cukup terlatih untuk melakukan hal itu sewaktu masih SD. Tidak bisa dipungkiri, kecepatan menyalin sanggatlah penting bagi seorang siswa SMA dengan kemampuan yang pas-pasan.
"Waktu habis. Semua segera lepas bolpoin. Orang paling belakang silakan kumpul jawaban teman di depannya."
[]=[]=[]
"Hahhhhh!" Perasaan lega itu diutarakan oleh Naruto ketika keluar dari dalam kelas.
"Kemana ekspresi takutmu tadi hah, Naruto?" tanya Shikamaru yang keluar bersamaan dengan Naruto.
"Cih! Kau ini pelit sekali sih. Padahal aku Cuma minta 2 atau 3 jawaban saja," kata Naruto.
"Sudah kubilang kan. Aku tidak akan membantumu kalau situasinya berbahaya."
"Alasan macam apa itu. Jelas-jelas di saat-saat terakhir seharusnya kau punya kesempatan untuk membagikan jawabanmu padaku. Tapi malah kau hiraukan panggilanku."
"Sudah-sudah. Ayo ke perpustakaan. Aku mau istirahat."
Mereka berjalan dengan cepat menuju perpustakaan. Jauh di belakang mereka, Hinata dan Ino sedang jalan berdua sembari bertukar cerita mengenai kuis dadakan itu. Berjalan di dalam gedung yang besar dan memiliki banyak ruangan bukan perkara yang mudah. Terkadang mereka salah berbelok. Namun yang menjadi patokan saat ini adalah mereka harus berjalan hingga ke tangga sebab perpustakaan sekolah terletak di lantai 3.
Ketika sedang menaiki tangga, Naruto dan Shikamaru berpapasan dengan Sasuke yang saat itu berjalan seorang diri. "Kau sendiri Sasuke? Mana yang lain?" tanya Shikamaru. "Mereka sudah deluan. Tapi katanya mau ke kamar mandi."
Sasuke melihat Naruto. "Lalu bagaimana? Lancar?" tanyanya.
"Kurasa begitu. Aku mendapat jawaban dari seseorang." Tiba-tiba Sasuke melihat ke arah Shikamaru.
"Bukan dari aku," jawab Shikamaru.
"Lalu siapa?"
"Siapa orangnya, kalian berdua tidak perlu tahu. Meskipun aku tidak mengharapkan jawaban darinya, tapi aku sedikit bersyukur karena ia dengan baik hatinya membagikan jawaban untukku. Tidak seperti orang di sampingku ini." Kalimat terakhir yang diucapkan Naruto adalah kalimat ejekan.
"Terserah! Aku duluan!" Shikamaru pun pergi meninggalkan Naruto.
"Apa dia marah?" Naruto bingung.
"Kurasa tidak. Mungkin ia ingin segera sampai ke perpustakaan."
"Kau benar. Dia tipe orang yang datang ke perpustakaan hanya untuk menikmati kesunyiannya dan tidur." Naruto melangkahkan kakinya. "Kalau begitu, berjuanglah. Jangan sampai kau mendapat nilai jelek sebab Kurenai-sensei telah meminta pihak kebersihan untuk tidak membersihkan kamar mandi besok."
"Tenang saja."
Mereka pun berpisah.
[]=[]=[]
Ketika tiba di perpustakaan, hal pertama yang dilakukan oleh Naruto adalah mencari keberadaan teman-temannya. Hanya saja di nomor ganjil, teman yang cukup akrab dengannya hanya Shikamaru. Mencari orang di dalam perpustakaan ini susah-susah gampang sebab pandangan sekitar akan tertutup dengan rak-rak buku. Di perpustakaan ini, ada dua tipe meja: meja bilik dan meja memanjang. Tidak sulit menemukan si rambut nanas itu. Cukup pergi bilik yang berada di paling pojok ruang perpustakaan.
"Ternyata kau memang ada di sini. Apa kau tidak ada kegiatan lain selain tidur? Lihat, teman-teman kita yang lain pada asyik membaca."
"Setelah 30 menit mengerjakan soal yang diberikan Kurenai-sensei, aku lebih memilih untuk beristirahat. Apalagi setelah ini, kita harus bertemu dengan Kakashi-sensei dan mata pelajaran fisika kesayangannya."
Naruto menarik kursi dan duduk di bilik sebelah. "Sial, kau benar. Hari ini memang pelajaran menyebalkan semua. Tapi 30 menit di sini hanya digunakan untuk tiduran bagiku terasa sangat sia-sia."
"Lakukan apa yang mau kau lakukan. Jangan ganggu aku."
Naruto berdiri. "Kau tidur sudah. Nanti aku bangunkan. Mungkin aku akan mencari komik dan membacanya. Itupun kalau ada," kata Naruto lalu pergi.
Dengan tangan yang berada di kantung celananya, Naruto berkeliling seraya melihat-lihat. "Matematika... Sejarah... Sastra... Biologi... Umum... Biografi... Novel..." Sejauh matanya memandang, ia hanya menemukan rak-rak buku yang berisi buku-buku membosankan baginya. "Sial, apa perpustakaan ini tidak punya komik untuk di baca?"
Ia berjalan perlahan hingga akhirnya terhenti kala melihat Hinata yang berusaha meraih buku yang terletak di paling atas. Ia mendekati Hinata perlahan tanpa membuatnya menyadari kedatangan dirinya. Tangannya terulur ke atas dan menggapai buku yang hendak diambil Hinata. Ia memberikan buku itu pada Hinata.
"Terima kasih." Setelah menerima buku itu, Hinata hendak beranjak pergi. Namun pundaknya di tahan oleh Naruto.
Sebelum berbicara, Naruto melihat keadaan sekitar. "Untuk yang tadi. Aku sangat berterima kasih. Berkat kau aku punya peluang untuk tidak membersihkan kamar mandi."
"Hmph! Kurasa itu juga menjadi tanggung jawabku. Sudah ya. Aku harus pergi. Akan gawat kalau sampai ada yang melihat kita."
"Ya. Kau benar."
Setelah itu, Hinata pergi meninggalkannya. Naruto hanya bisa menatap kepergian Hinata sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat Shikamaru berada.
[]=[]=[]
Waktu istirahat. Siang itu geng paling terkenal di kelas 10-A sedang berkumpul untuk menikmati makan siang di kantin. Suasana ceria begitu tergambar jelas melalui tingkah laku dan tawa mereka saat bersama-sama menikmati makan siang.
"Kalian bisa tersedak kalau makan sambil tertawa seperti itu," Sasuke memperingatkan.
"Bodo amat. Kita harus merayakan keberhasilan kita dalam menuntaskan ulangan fisika dengan menyontek tanpa ketahuan Kakashi-sensei!" seru kiba.
"Kalian bodoh atau apa? Membicarakan hal itu secara terang-terangan begini," ucap Sai.
"Aku tidak menyangka kalau kau akan membagikan jawabanmu pada mereka, Sasuke," kata Shikamaru heran.
"Kurasa aku hanya terpaksa karena si pirang bodoh itu meminta padaku secara terus menerus."
"Aku juga tidak menyangka kalau akhirnya kau juga akan saling bekerja sama dengan Sasuke dalam mencari jawaban, Shikamaru," kata Choji.
"Sudah-sudah. Yang terpenting adalah kita telah memecahkan rekor baru. Bekerja sama dalam ulangan fisika tanpa ketahuan Kakashi-sensei!" Tanpa sadar ia mengucapkan itu dengan cukup keras hingga mengundang perhatian para siswa yang lain. Namun pandangan siswa lain itu tidak mengarah pada Naruto melainkan sosok pria bermasker yang berjalan mendekati mereka.
"Kau dengan itu, Guy?"
"Loud and Clear," jawab Guru Guy.
Mendengar suara itu, Sasuke, Shikamaru, Kiba, Choji, Shino, Sai, dan terutama Naruto bergidik ngeri.
"S-Sensei!" ucap mereka bersamaan.
"Masih terlalu cepat 100 tahun bagi kalian untuk menyontek tanpa sepengetahuanku. Dasar murid-murid berandal! Meskipun aku duduk sambil mengerjakan sesuatu di laptop selama jam pelajaran, tapi mataku ini tetap lincah mencari para penyontek-penyontek ulung seperti kalian. Aku bahkan sudah membuat daftar nama lengkap dengan waktu saat ia menyontek. Sudah kumasukan dalam buku ini," Kakashi mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari dalam kantungnya. Di sampulnya, tertulis "Death Note" Seperti judulnya, siapa saja yang namanya tertulis di buku catatan itu, maka ia akan mati dalam hal nilai. Nilai ulangan fisikanya tidak akan pernah tembus KKM. Semakin banyak namanya dalam buku itu, maka nilainya di rapot pun tidak akan mencapai KKM.
"Kalian dalam masalah besar wahai anak muda," kata Guru Guy.
"Nilai ulangan kalian kali ini akan kujumlahkan bersama-sama dan kubagi dengan 14. Masing-masing dari kalian kuhitung menjadi 2. Permisi!" Setelah mengatakan "permisi" Kakashi dan Guy pergi meninggalkan mereka dalam keadaan terpuruk.
"Ya mau bagaimana lagi. Kita berbuat curang. Kita harus menanggung risikonya," ucap Naruto dengan begitu mudahnya.
Tangan Kiba menyambar kerah Naruto. "Ini gara-gara kau, bodoh! Kalau kau tidak berkata keras seperti itu, kita pasti tidak akan dipermalukan seperti ini?"
"Cukup! Memarahi si pirang itu tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Meskipun andai kata Naruto tidak berkata keras seperti tadi, nilai kita pun akan tetap dikurangi," kata Sasuke.
"Sensei sudah mencatat siapa saja yang menyontek dalam buku catatan mautnya. Kita sudah dikutuk memiliki nilai ulangan yang rendah," kata Sai.
"Menyebalkan. Padahal aku sudah mengerahkan semua kemampuanku untuk mengerjakannya. Kau juga pasti sudah maksimal kan, Sasuke? Tapi sekarang usaha keras kita sia-sia," kata Shikamaru.
"Mau bagaimana lagi. Kita terlalu ceroboh."
Siswa perempuan dari kelas mereka yang dipimpin Sakura berjalan mendekati mereka. "Bodoh!" ucap beberapa dari mereka.
"Huh! Sebentar lagi kita akan menjadi bahan olok-olokan di sekolah ini," ucap Kiba.
"Ngomong-ngomong Sasuke, kalau kuperhatikan sepertinya ada beberapa luka memar di wajahmu. Apa kau habis berkelahi kemarin?" tanya Choji.
"Ahh benar. Jawablah Sasuke. Kau membuatku penasaran? Siapa yang kau lawan?" tanya Naruto bersemangat.
"Tidak ada gunanya menyembunyikan rahasia dari kami," ucap Sai.
"Kurasa aku tidak punya pilihan lain." Sasuke menyuruh teman-temannya untuk mendekat. "Aku akan menceritakannya. Tapi kumohon untuk dirahasiakan. Sewaktu libur kemarin, kakakku, Itachi sekaligus kapten tim anti kejahatan mengajakku berpatroli berdua."
Flasback.
Itachi membawaku berkeliling di distrik 16. Sama seperti distrik 15, distrik ini juga terkenal akan aksi kejahatan yang melibatkan geng motor. Kejahatan yang sering terjadi ialah perampokan, pembegalan, dan pembunuhan.
Kami berkeliling memakai motor trail milik kepolisian. Itachi sengaja mengajakku agar memiliki pengalaman bekerja di lapangan sebagai seorang polisi. Itu karena aku memang sudah di takdirkan untuk menjadi anggota kepolisian Konoha.
Saat istirahat, kami makan makanan cepat saji yang dijual dipinggir jalan. Saat istirahat itu pula, Itachi menunjukkan senjatanya dan mengajariku memakainya. Ia memang sudah melarangku untuk menarik pelatuknya. Namun karena tanganku licin, aku tidak sengaja menarik pelatuknya saat memegang senjata itu. Alhasil, peluru itu menembus daging seorang pengendara motor yang diduga sebagai salah satu anggota geng bermotor.
Tak ingin membuat masalah, Itachi langsung segera menolong dan meminta maaf pada korban. Meskipun dia adalah anggota geng bermotor, tapi ia tidak melakukan apa-apa saat tertembak. Kejahatan ini akan menjadi kejahatan akibat keteledoran polisi dan tentu saja yang akan dijatuhi hukuman adalah polisi itu sendiri.
"Saya minta maaf. Adik saya tanpa sengaja menarik pelatuk itu," kata Itachi. Namun orang yang tertembak di lengan itu langsung menghajar Itachi.
"Dasar polisi biadab. Aku benar-benar membenci kalian." Ketika ia melihat papan nama Itachi, kemarahannya semakin menjadi. "Dasar Uchiha terkutuk. Aku akan membunuh kalian berdua di sini untuk membalaskan dendam saudara-saudaraku yang dibunuh oleh ayah kalian."
Mendengar itu, Itachi langsung mendekatiku. Ia menyuruhku untuk lari secepat yang kubisa. Aku heran, mengapa Itachi menyuruhku lari. Padahal kemampuannya dalam bela diri itu sangat bagus. Ia pasti bisa mengalahkan pria itu dalam beberapa kali serangan saja. Namun entah mengapa ia memintaku untuk lari bersamanya.
"Kenapa lari kak? Kakak bukan seorang pengecut kan?"
"Diam dan terus lari, bodoh! Kakak tidak ingin masalah ini semakin membesar. Kalo kakak menghajarnya maka ia akan semakin dendam pada kita."
"Kalau begitu tangkap saja." Setelah mengatakan itu, Itachi menghajarku tepat di muka hingga membuatku terpental cukup jauh. "Itu lebih bodoh lagi. Yang membuat kita dalam masalah seperti ini adalah karena kau menarik pelatuk itu. Kalau kakak menangkap dan membawanya ke kantor polisi, kau kira kakak tidak akan dapat masalah?"
Saat itu, aku langsung mengerti. Jika kami menangkapnya, maka ia akan berkata bahwa ia menghajar kami karena ia ditembak tanpa sebab. Dan yang menembaknya adalah aku. Masalah ini terjadi karena keteledoran kami. Tentu saja, kalau ayah kami mengetahuinya, entah hukuman apa yang akan ia berikan pada Itachi dan juga aku.
Flasback Selesai.
"Begitulah ceritanya. Sampai sekarang rasa memar di wajahku ini masih terasa. Ia benar-benar tidak main-main saat menghajarku."
"Kak Itachi mengerikan," ucap Naruto.
"Tunggu. Jika kalian kabur, berarti orang itu masih menyimpan dendam dan berusaha mencari kalian. Bukankah begitu?" tanya Shino.
" telah melarangku pulang malam-malam. Tempat teraman bagiku saat ini hanyalah di rumah, sekolah, dan kediaman Naruto."
"Ehh? Mengapa rumahku?"
"Alasannya sangat sederhana. Karena di rumahmu ada beberapa ajudan hebat peninggalan ayahmu."
"Kurasa mereka tidak sehebat itu."
"Setidaknya mereka jauh lebih hebat dari pada satpam di sekolah ini."
Bel tanda jam istirahat berbunyi. Semua siswa mulai berjalan meninggalkan kantin, begitu pula dengan Naruto dan teman-temannya.
[]=[]=[]
Langit mulai menampakkan cahaya jingganya. Bel sekolah sore itu berbunyi tanda pelajaran hari itu telah selesai. Dalam beberapa menit setelah bel itu berbunyi, kegaduhan mulai terdengar bersamaan dengan keluarnya murid-murid dari dalam kelas. Tentu saja kegaduhan itu disebabkan obrolan-obrolan yang mereka lakukan.
Naruto dan teman-temannya saat itu berjalan menuju parkiran. Naruto dan Kiba terlibat sebuah pertempuran argumen kecil yang lalu berakhir dengan adegan saling tonjok.
"Kalian seperti anak kecil saja," ucap Choji.
"Dia yang mulai," kata Kiba.
"Aku? Bukankah kau yang mulai memukulku duluan?"
"Kau yang memukulku duluan!"
"Kalian berdua. Hentikan!" sebuah pukulan pun dilancarkan Shikamaru pada kepala Naruto dan Kiba.
"Hufft. Orang-orang bodoh," Sasuke menggerutu secara pelan.
Setibanya di tempat parkir, mereka berpisah. Mereka menaiki kendaraan mereka masing-masing. Tentu saja tidak semua dari mereka memakai kendaraan yang berupa mobil. Contohnya Shikamaru, Kiba, Choji, dan Sai selalu berpergian dengan mengendarai motor. Sekolah ini juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan mengenai transportasi para siswa. Setiap siswa yang membawa kendaraan harus memiliki sim. Selain itu, akan ada biaya khusus bagi siswa yang membawa mobil ke sekolah.
Tentu saja bagi Naruto dan Sasuke, biaya itu tidak menjadi masalah. Hanya siswa elit saja yang membawa mobil ke sekolah. Yang lain biasanya membawa motor atau berjalan kaki. Sekolah ini memang bukan sekolah biasa. Dan di kota ini, selama kau memiliki surat izin mengemudi, maka kau bisa mengendarai mobil.
Saat Naruto memasuki mobilnya, terlihat sebuah mobil biru berhenti di hadapannya. Si pemilik mobil itu membuka kacanya. "Naruto. Bagaimana kalau satu putaran?"
Naruto hanya tersenyum lalu menyalakan mesin mobilnya. "Baik. Di tempat biasa?"
"Atau bagaimana kalau yang sampai di tempat itu terlebih dahulu, dia akan menjadi pemenangnya."
"Jadi, balapan di kota nih?"
"Ya."
"Kalau begitu, kita mulai setelah keluar dari gerbang sekolah."
Mereka pun mulai meninggalkan tempat parkir menuju gerbang. Begitu sudah berada di luar gerbang, kecepatan mobil mereka bertambah dan akhirnya dipacu dalam kecepatan tinggi. Meliuk-liuk di jalanan kota sore hari yang padat dengan lincah. Mereka tidak memedulikan lampu merah selama bisa dilewati.
Tanpa mereka sadar, mereka telah melewati sebuah mobil hitam milik keluarga Uzumaki.
"Bukankah itu mobil tuan muda?" Mata ajudan itu terfokus pada mobil putih dan biru yang sedang mengadu kecepatan di jalanan kota.
"Mereka balapan?" Hinata terlihat penasaran.
"Sepertinya. Aku yakin ia balapan dengan anak kepala polisi itu."
"Uchiha Sasuke?"
"Sudahlah. Itu sudah biasa."
Dengan niat ingin mengalahkan Sasuke dalam balapan mereka kali ini, Naruto terus melajukan mobilnya hingga nyaris menyentuh kecepatan maksimum. Saat ini Naruto berhasil mendahului Sasuke. Namun tak lama sebab Sasuke yang sekarang sudah menguasai tikungan dengan lebih baik. Naruto masih perlu banyak berlatih untuk bisa mengalahkan Uchiha itu.
Pada akhirnya, balapan kali itu dimenangkan oleh Sasuke lagi. Sasuke memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Naruto menyusulnya.
"Sayang sekali aku tidak memasang taruhan untuk balapan kali ini," kata Sasuke.
"Beruntungnya aku. Meski kalah, aku tidak perlu mengeluarkan uang." Naruto mengeluarkan 2 batang rokok dari sakunya. "Kau mau?" tanyanya pada Sasuke.
Sasuke menerimanya tanpa ragu. Sementara itu, Naruto menghembuskan nafas yang penuh dengan asap rokok. "Bersantai di tempat sepi seperti ini memang paling nyaman. Apalagi setelah melewati rutinitas sekolah yang melelahkan."
Sasuke bersandar di samping pintu mobil Naruto sambil menikmati sebatang rokok itu. "Kau tahu, kita bersantai di sini sementara aku saat ini sedang diincar oleh kelompok geng bermotor."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Distrik 16 cukup jauh dari tempat ini. Lagi pula tidak ada yang tahu kalau kita sering berada di tempat ini."
Di tengah-tengah kesunyian, Sasuke mendengar suara motor. Ia melihat ke arah jalanan. Jauh di sana, 2 orang pengendara motor terlihat bergerak dengan sangat cepat menuju tempat mereka. Semakin dekat pengendara itu, Sasuke semakin menyadari sesuatu. "Gawat!" Ia merunduk. "Naruto, merunduk!"
Naruto langsung mendekati Sasuke dan merunduk di dekatnya. Pengendara itu semakin dekat. Setelah Sasuke memperhatikan, setidaknya ada 4 orang yang mengarah ke sini. Para pengendara itu melepas senjata tajam untuk memecahkan bal mobil milik Naruto dan Sasuke.
"Gawat. Itu mereka," kata Sasuke panik.
Para pengendara itu berhenti tepat di samping mobil mereka. "Keluarlah. Kalau kau keluar dengan sendirinya, aku janji tidak akan menyiksamu,"
"Sial. Sekarang bagaimana?" tanya Naruto.
[]
[]=[Bersambung]=[]
[]
Author Note :
Kita bertemu lagi di chapter terbaru dari seri fanfiksi Destined to Live With You. Semoga chapter kali ini dapat membuat kalian terhibur.
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, konflik pada cerita ini akan berlangsung mulai dari chapter ini dan seterusnya. Dan meskipun cerita ini bergenre keluarga, tapi tidak ada peraturan yang mengatakan bahwa konfliknya haruslah konflik rumah tangga. Pada dasarnya, dalam cerita ini Naruto dan Hinata di jodohkan saat masih berstatus pelajar. Tentu saja saya menginginkan konflik yang lebih ditekan pada kehidupan sekolah dan bukannya rumah tangga. Tapi mungkin akan saya pertimbangkan ke depannya. Thanks atas komentarnya, Kurotsuki Makito.
Saya harap itu dapat menjawab pertanyaan kalian yang menginginkan adanya konflik dalam rumah tangga para tokoh di atas.
Salam, Author Taufiq879
23/02/2018
