:
Taufiq879 Present
:
Destined To Live With You
:
Bab 6
Sebuah Kenangan Masa Lalu
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Di tengah-tengah kesunyian, Sasuke mendengar suara motor. Ia melihat ke arah jalanan. Jauh di sana, 2 orang pengendara motor terlihat bergerak dengan sangat cepat menuju tempat mereka. Semakin dekat pengendara itu, Sasuke semakin menyadari sesuatu. "Gawat!" Ia merunduk. "Naruto, merunduk!"
Naruto langsung mendekati Sasuke dan merunduk di dekatnya. Pengendara itu semakin dekat. Setelah Sasuke memperhatikan, setidaknya ada 4 orang yang mengarah ke sini. Para pengendara itu melepas senjata tajam untuk memecahkan bal mobil milik Naruto dan Sasuke.
"Gawat. Itu mereka," kata Sasuke panik.
Para pengendara itu berhenti tepat di samping mobil mereka. "Keluarlah. Kalau kau keluar dengan sendirinya, aku janji tidak akan menyiksamu,"
"Sial. Sekarang bagaimana?" tanya Naruto.
[]
"Keluarlah, Uchiha! Tidak ada untungnya kau bersembunyi."
Sasuke berusaha untuk tidak menunjukkan diri terlebih dahulu. Ia sedang menyusun rencana untuk dapat kabur. "Serahkan semua rokok yang kau punya," kata Sasuke.
Naruto mengeluarkan satu selop rokok yang baru berkurang 2 batang. "Untuk apa?"
"Setelah kuberi tanda, kita lari menuju pepohonan itu. Usahakan berlari secara zig-zag untuk menghindari senjata tajam mereka apabila dilemparkan ke arah kita. Dengan menembus hutan kecil itu, kita bisa langsung berada di distrik 7. Di sana ada pos polisi."
"Lalu untuk apa rokok-rokok itu?"
Sasuke mengambil korek milik Naruto yang sebelumnya ia simpan di kantungnya. Ia menyetel korek itu agar menghasilkan api yang cukup besar lalu membakar satu selop rokok itu sekaligus. Begitu di rasa api yang membakar rokok-rokok itu sudah cukup besar, ia melemparkannya ke arah pengendara motor yang sudah menunggu mereka. "Sekarang Naruto!"
Ketika selop rokok itu di lempar, api yang membakar rokok itu padam dan akibatnya, timbul asap yang pekat. Asap dari rokok sebanyak itu selain mengganggu penglihatan mereka, juga mengganggu pernafasan mereka. Dan di saat bersamaan, Naruto dan Sasuke berlari ke arah pepohonan sesuai rencana.
"Kau cerdas Sasuke! Menghirup asap rokok sebanyak itu pasti akan langsung membuat seseorang langsung terkena kanker."
"Itu kalau ada di dalam ruangan. Tapi di sini, asap-asap itu akan segera menyebar. Tapi setidaknya asap itu akan memberi kita waktu cukup banyak untuk melarikan diri."
Berlari dengan cepat merupakan hal yang mudah bagi Sasuke dan Naruto. Namun, berlari seraya menghindari pohon-pohon di hadapan mereka itu sudah beda cerita. Para pengendara motor yang mengejar mereka pun merasakan betapa susahnya berlari di pepohonan seperti ini.
"Naruto! Kau terlalu lambat. Kalau begini, kita bakal tertangkap."
Kala itu, Naruto berlari sambil menahan rasa sakit. "Maaf Sasuke. Aku sudah tidak kuat lagi." Rasa sakit yang tiba-tiba muncul membuat Naruto memperlambat larinya dan akhirnya berhenti. Ia memegangi lututnya yang nyeri.
"Naruto, apa yang kau lakukan?" Sasuke pun berhenti dan menghampiri Naruto.
"Cedera yang kualami ini menghambatku untuk berlari lebih jauh lagi."
"Cedera?" Sasuke mendengar suara orang berlari mendekati mereka. "Cih! Jelaskan nanti saja. Kalau sudah begini, terpaksa aku harus melawan mereka." Sasuke mematahkan ranting pohon yang berukuran cukup besar dan memakainya sebagai pemukul. "Kau duduk dan bersantailah."
"Jangan bodoh! Aku hanya tidak bisa berlari. Tapi kalau memukul beberapa orang, aku masih bisa." Naruto berdiri lalu meraih ranting pohon dengan ukuran yang lebih besar dari milik Sasuke. Namun semakin besar ukurannya, tentu akan semakin susah di patah. Itulah yang terjadi. "S-Sasuke, bantu aku!"
"Kau bertingkah sok keren. Tapi kau tetap saja bodoh." Ia membantu Naruto mematahkan ranting itu. Setelah berhasil didapatkannya, Naruto mengayunkan ranting itu beberapa kali untuk pemanasan.
Orang-orang yang mengejar mereka itu datang. "Kalian membuat kami berlari mengejar kalian di tempat seperti ini. Akan kupastikan kalian akan aku siksa," kata orang pertama yang memegang pisau.
Naruto maupun Sasuke bersiaga dengan ranting pohon mereka. Skenario terburuk saat ini adalah mereka harus melawan para geng motor itu dengan hanya memakai ranting pohon sementara mereka memakai senjata tajam. Namun beruntungnya mereka sebab para geng motor itu hanya membawa senjata tajam berupa pisau. Namun tetap saja mereka harus menghadapi skenario terburuk. Berkelahi dengan hanya bersenjatakan ranting pohon.
Seseorang dari mereka melemparkan pisau ke arah Sasuke sebagai awal dari perkelahian berdarah itu. Meskipun terkejut, Namun Sasuke mampu menghindarinya. Itu tidak mengherankan sebab sedari kecil, Sasuke sudah diikutkan dalam klub-klub bela diri.
Mereka pun mulai menyerang. Sasuke dan Naruto hanya diberi kesempatan untuk menghindar dan menangkis serangan mereka. Tentu saja ranting pohon yang mereka pakai dikikis habis-habisan oleh mereka yang memakai benda tajam. Pertarungan saat itu terasa sangat tak seimbang. Namun sejauh ini, Naruto dan Sasuke cukup beruntung karena belum terluka.
Ketika mendapat kesempatan untuk menyerang, Sasuke menghantam pisau yang dipegang oleh salah satu geng motor itu dengan cukup keras sehingga terlempar ke atas. "Naruto! Pukul pisau itu sejauh mungkin!"
"Baik!" Naruto mengambil ancang-ancang lalu memukul pisau itu layaknya sebuah bola kasti. Sekarang, pisau itu sudah jatuh entah di mana.
Sasuke memakai taktik yang sama untuk membuang pisau 2 orang lainnya. Namun pada saat ingin melakukan hal yang sama pada pimpinan geng motor itu, Sasuke meleset dan nyaris saja tersayat di badan jika Naruto tidak cepat menariknya.
"Padahal tinggal sedikit lagi. Tapi kau cukup beruntung Uchiha, punya teman dengan refleks bagus seperti itu." Si pimpinan geng itu pun membuang pisaunya cukup jauh. "Mari kita bertarung secara sportif. Tidak ada senjata, hanya pukulan. Bagaimana?"
Sasuke mematahkan ranting pohon yang ia pegang lalu membuangnya. "Kurasa itu lebih baik."
"Hufft. Meskipun kami bisa babak belur, tapi setidaknya kami tidak perlu melawan kalian yang memakai senjata tajam," ucap Naruto.
Perkelahian dengan tangan kosong terasa begitu sengit. Apalagi jumlah mereka tidak sepadan. Namun satu hal yang Sasuke sadari saat berkelahi melawan mereka, kemampuan bela dirinya dan Naruto jauh lebih baik dari mereka. Namun itu tidak akan menjadi patokan bahwa mereka akan memenangkan perkelahian itu tanpa sedikit memar.
Satu persatu lawan pun tumbang. Meski kelelahan dan babak belur, Naruto dan Sasuke masih terus melawan para geng motor itu untuk melindungi nyawa mereka sendiri. Pada akhirnya, dengan tumbukan yang sangat kuat secara bersamaan di wajah pimpinan mereka, perkelahian itu berakhir.
"Huhhhh!" Naruto terduduk. Rasanya ia sudah tidak kuat berdiri lagi. Ia mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal. "Sial. Pukulan mereka sakit sekali."
Sementara itu, Sasuke masih mampu berdiri meski telah sangat kelelahan. Ia menghela darah yang keluar dari hidungnya. "Tapi pukulan kita jauh lebih kuat. Buktinya mereka langsung pingsan."
"Jadi orang itu yang kau tembak?" tanya Naruto menunjuk pimpinan mereka.
"Ya. Aku juga tidak menyangka bahwa dia adalah pimpinan geng motor dari distrik 16. Sebaiknya kita segera pergi sebelum mereka sadar."
"Bantu aku berdiri."
[]=[]=[]
Perkelahian itu memang terjadi di saat-saat matahari nyaris terbenam. Dan lagi, ia harus mengganti ban mobilnya terlebih dahulu sebelum pulang. Syukurnya ia cukup mengenal salah satu montir dari bengkel langganannya. Jadi dengan hanya ditelepon, dalam sekejap orang itu bisa datang dan mengganti ban mobil miliknya dan Sasuke. Hanya saja, proses penggantian ban itu tetap memakan waktu.
Sambil menunggu, Naruto dan Sasuke terlibat sebuah pembicaraan. Tentu saja mereka membahas perkelahian yang baru saja mereka lakukan.
"Aku tidak menyangka, ternyata mereka lemah kalau berkelahi dengan tangan kosong," ucap Naruto.
"Hanya masalah waktu saja sebelum mereka sadar."
Naruto berbaring di bahu jalan. "Luka-luka ini pasti akan terasa perih saat terkena air nanti."
"Aku jadi ingat. Tadi sewaktu kita berlari, kau mengeluh bahwa lututmu cedera. Bisa kau beritahu mengapa kau bisa mengalami cedera itu?" tanya Sasuke.
"Aku tidak begitu mengingatnya. Tapi menurut cerita dari nenekku, 10 tahun yang lalu kami pernah berlibur ke sebuah pondok di hutan. Di sana katanya aku sering bermain dengan seorang anak yang usianya sama denganku. Hanya saja aku tidak mengingat nama dan wajahnya. Suatu hari kami main ke hutan. Aku benar-benar tidak ingat kejadian hari itu. Tapi kami berdua ditemukan tergeletak di dasar sebuah jurang dalam keadaan terluka. Menurut dokter, kepalaku mengalami benturan yang sangat keras. Mungkin karena itu, aku melupakan kejadian selama liburan tersebut. Selain itu, ia juga mengatakan tempurung lututku hampir hancur karena mengalami benturan yang kuat."
"Sepertinya kau masih cukup beruntung. Kau masih bisa bergerak dengan lincah meski lututmu hampir hancur."
"Meskipun begitu, terkadang kalau aku terlalu memaksakan diri, rasa sakit akibat cedera itu sering muncul."
"Ternyata yang menjadi penyebab kau sering bolos jam pelajaran olahraga adalah cedera itu?"
"Begitulah. Terkhusus kalau materinya adalah lari atau olahraga atletik lainnya."
"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami. Padahal kalau memang cedera itu mengganggu, kau bisa minta izin khusus jam pelajaran olahraga tanpa harus bolos jam."
"Aku hanya tidak ingin cedera ini diketahui banyak orang."
"Kau memang bodoh. Hal seperti itu malah kau rahasiakan. Tahu begitu, lebih baik kita melawan mereka saja langsung ketimbang mencoba melarikan diri."
"Hehe. Maaf. Aku juga tidak menyangka kalau cedera itu bisa muncul di saat seperti ini."
Montir tersebut mendatangi mereka. "Sudah selesai. Hanya saja aku Cuma mengganti ban dalamnya saja."
"Tidak apa-apa. Terima kasih. Uangnya akan kami kirim ke rekeningmu," ucap Naruto.
"Perlukah kupanggilkan polisi. Penjahat seperti mereka itu bisa membahayakan kalian kapan saja." Naruto dan Sasuke memang sudah menceritakan situasinya pada montir terpercayanya itu.
"Kurasa tidak perlu. Masalahnya akan lebih gawat lagi kalau sampai para penjahat itu dipolisikan," kata Sasuke.
[]=[]=[]
Naruto mengemudikan mobilnya secara perlahan menuju rumah. Rasanya kepalanya pening sehabis berkelahi tadi. Namun jika dipikir-pikir ia hanya lapar sebab saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Ia memasuki gerbang rumahnya. Saat itu keadaannya cukup sepi. Ia keluar dari dalam mobil secara perlahan dan berjalan menuju pintu. Ketika ia mencoba membukanya, ternyata terkunci. "Sial, kenapa pakai terkunci segala sih?" Ia menyandarkan diri pada pintu tersebut seraya mencoba mengetuk pintu tersebut sekuat tenaga yang tersisa pada tubuhnya.
Cukup lama ia menunggu hingga pada akhirnya pintu itu terbuka. Namun karena terbuka saat Naruto bersandar, seketika itu juga ia terjatuh dan mengejutkan Hinata.
"Naruto! Kau kenapa?" gadis itu terlihat sangat terkejut. Sekilas ia memandangi mobil Naruto yang terlihat baik-baik saja. "Apa kau berkelahi?"
Naruto mengangguk. "Tapi kalau tidak terpaksa, aku tidak akan berkelahi. Masalahnya ini bersangkutan dengan nyawaku dan Sasuke."
Hinata mencoba membantu Naruto berdiri. Namun bobot Naruto cukup berat bagi gadis itu sehingga ia cukup kesulitan saat mencoba merangkulnya menuju sofa. Ia membaringkan Naruto di sofa.
"Hinata. Bisa tolong ambilkan aku air minum? Rasanya kepalaku pusing sekali," kata Naruto.
"Sebenarnya kau kenapa?"
"Akan kuceritakan nanti."
Tak lama kemudian, Hinata pun kembali sembari membawa segelas air dan juga kotak P3K.
"Ini airnya, Naruto." Hinata menyerahkan segelas air itu pada Naruto. Ia membuka kotak P3K itu dan mulai mengambil cairan antiseptik dari dalamnya. Ia membersihkan luka-luka yang ada diwajah Naruto dengan sebuah kapas.
"Agh! Pelan-pelan Hinata."
"M-Maaf." Ia mulai membersihkan luka-luka Naruto dengan lembut. "Sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai kau babak belur begini."
Naruto meneguk segelas air itu hingga tandas. Setelah itu, ia pun mulai menceritakannya saat Hinata sedang mengobati lukanya.
15 menit sudah waktu berlalu. Naruto saat itu masih menjelaskan situasi yang ia alami sehingga bisa babak belur begitu. Hinata kala itu hanya bisa mendengar dengan perasaan marah. Bagaimana tidak, mereka berkelahi dengan orang-orang berbahaya seperti itu tanpa memikirkan nyawa mereka sendiri.
"Tindakan kalian itu bodoh. Kalian beruntung bisa selamat. Harusnya kalian tetap lari saja." Hinata melemparkan komentar itu.
"Kondisinya tidak memungkinkan. Kami terpaksa harus berkelahi dengan mereka."
"Memang apa yang menyebabkan kalian tidak bisa tetap kabur?" Hinata bertanya dengan nada ingin mengintimidasi lawan bicaranya. Melihat itu, Naruto menjadi merasa terpaksa harus menjawab.
"Sial! Aku terpaksa harus mengatakan ini pada orang lain lagi. Lututku mengalami cedera saat aku kecil. Karena itu, aku tidak bisa berlari dengan cepat dalam waktu lama. Kalau aku memaksakan diri, maka sakitnya akan terasa."
Hinata terlihat kebingungan. "Cedera?"
"Sekitar 10 tahun yang lalu. Aku bermain bersama seorang anak yang usianya sama denganku. Mungkin karena kurang berhati-hati, kami terjatuh ke jurang. Saat jatuh, lututku membentur batu. Itulah penyebab cederaku. Dan lagi, kepalaku terbentur. Hal itu membuat ingatanku mengenai hari itu dan beberapa hari sebelumnya lenyap."
Hinata terlihat terkejut. Naruto yang memperhatikan sikap Hinata itu pun bertanya. "Kau kenapa?"
"Tidak. Aku hanya tidak percaya kau pernah mengalami kecelakaan seperti itu." Setelah mengatakan itu, Hinata terlihat diam dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Dan lagi, sikap Hinata itu mengundang Naruto untuk kembali bertanya. "Kau kenapa?"
"Eng! Aku hanya sedang memikirkan anak yang jatuh bersamamu itu."
"Benar juga. Nenek tidak pernah menceritakan soal kondisi anak itu. Aku tidak ingat nama dan wajahnya. Aku tidak tahu apa dia selamat atau tidak. Tapi aku merasa anak itu adalah seorang perempuan. Kalau benar, maka sepertinya cukup beruntung juga dia kalau selamat."
Hinata berdiri. "Kau laparkan? Aku tadi memasak nasi goreng. Akan kuambilkan."
Naruto mencoba berdiri. "Tidak usah repot-repot Hinata. Akan kuambil sendiri." Namun saat ia berdiri, tiba-tiba saja kepalanya menjadi sakit dan memaksanya kembali duduk di sofa. Saat itu, ingatan lama tiba-tiba saja muncul. Yang ia ingat adalah saat di mana dirinya terbaring di dasar jurang dengan keadaan badan penuh luka dan darah. Di sampingnya, meski samar tampak seorang gadis yang tengah pingsan. Tak hanya itu, ia juga mengingat kejadian di mana ia bersama gadis itu bermain bersama. Akibat mendapat ingatan itu, kepalanya terasa sangat sakit hingga membuatnya berbaring di sofa dan tanpa sadar merintih. Setelah tidak ada lagi ingatan masa lalu yang teringat olehnya, rasa sakit yang ia rasakan mulai mereda. Namun nafasnya menjadi tidak teratur setelahnya.
Hinata yang menyadari tingkah Naruto yang saat itu terlihat menderita langsung menghampirinya. "Kau baik-baik saja?"
"A-Anak itu ternyata seorang perempuan. Aku tiba-tiba saja mengingat beberapa kejadian yang terjadi 10 tahun yang lalu. Tapi rasanya kepalaku masih sakit. Aku harus segera beristirahat."
"Kau makan dulu. Aku akan suapi."
Naruto hendak menolak. Namun saat ia melihat tangannya gemetaran, ia pun hanya bisa mengangguk dan membiarkan Hinata pergi menuju dapur untuk mengambilkan ia makan malam.
Disuap oleh Hinata merupakan pengalaman baru bagi Naruto. Ia merasa tak percaya bahwa hanya dengan tinggal di atap yang sama, hubungan mereka sudah sampai ke tahap seperti ini. Namun bukan berarti ia merasa dirinya sudah bisa menerima Hinata.
[]=[]=[]
Setelah makan, Naruto pun beristirahat. Dalam tidurnya, ia bermimpi. Namun mimpi itu tidak sepenuhnya sebuah bunga tidur sebab merupakan bagian dari kenangan masa lalunya yang telah lama lenyap dari ingatannya.
Saat itu, dirinya masihlah seorang anak kecil. Ia duduk berdua di bawah pohon dengan seorang gadis yang terlihat samar. Gadis dalam mimpinya itu hanya berupa siluet karena ia masih belum mengingat dengan jelas siapa gadis itu.
Mereka berdua bermain dengan begitu gembira di bawah pohon itu. Kala itu ia dapat melihat sebuah pondok kayu dengan ukuran cukup besar. Di sana, ayahnya memanggil. Ia bersama gadis itu pun berlari bersama memasuki pondok itu.
Hari berikutnya, mereka berdua terlihat bermain di sebuah ladang yang berada di gunung. Di sana ada ibunya yang sedang memetik beberapa sayuran untuk makan siang. Mereka berlarian di lereng gunung dengan begitu gembira.
Lalu di hari berikutnya lagi, mereka pergi ke dalam hutan sendiri tanpa pengawasan orang dewasa. Si gadis tampak takut. Namun Naruto berusaha meyakinkan gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja. Hal yang ingin Naruto kunjungi saat itu adalah sebuah telaga yang berada di dalam hutan. Mereka berlarian dengan riang. Canda tawa memenuhi setiap langkah kaki mereka. Namun, tanpa sadar mereka mengarah ke sebuah jurang. Akibat terkejut, mereka tersandung dan jatuh ke dalam jurang tersebut. Mereka terguling-guling di tebing jurang dengan kemiringan sekitar 60 derajat itu. Naruto memeluk gadis itu dengan maksud untuk melindunginya dari benturan. Akibatnya, tubuhnya di penuhi luka. Saat berguling-guling itu, lututnya menghantam sebuah batu besar.
Saat ia membuka matanya, ia sudah terbaring di dasar jurang dalam keadaan penuh luka. Kepalanya terlihat bercucuran darah. Saat ia melihat ke samping, gadis itu terlihat pingsan dengan luka yang tidak separah seperti Naruto. Ia pingsan karena tak kuasa menahan sakit yang dirasakannya.
[]=[]=[]
Naruto terbangun di pagi hari. Ia mengeluhkan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Saat itu juga, nafasnya menjadi tidak teratur. Namun satu hal yang pasti, ingatannya yang pernah hilang tiba-tiba muncul tanpa ia tahu apa penyebabnya.
Saat rasa sakitnya mereda, ia melihat jam dinding. "Pukul 7." Ia berjalan menuju dapur dan mendapati Hinata sedang memasak. Sekilas saat melihatnya, kepala Naruto terasa pening sekilas.
Hinata menyadari kehadiran Naruto. "Kau sudah baikkan?"
"Ugh! Ya. Tapi terkadang rasa sakit di kepalaku sering muncul."
"Sebaiknya kau periksakan ke dokter."
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Segera mandi dan sarapan. Semalam aku menelepon nenek. Aku menceritakan kondisimu. Tapi aku tidak berbicara kalau kau berkelahi. Hayate juga menyarankan agar kau hari ini tidak membawa mobil sendiri."
"Apa? Berarti?"
"Ya. Terpaksa kita harus pergi sama-sama ke sekolah."
"hufft." Naruto menghembuskan nafas pasrah. Tentu saja ia mengeluh. Jika ia pergi bersama Hinata menuju sekolah, maka ia akan di turunkan pada sebuah tempat yang berlokasi tak begitu jauh dari sekolah.
[]=[]=[]
Naruto berjalan menuju kelasnya seorang diri. Semenjak meninggalkan rumah hingga kini, ia selalu terpikirkan mimpi yang ia alami semalam. Ia sadar itu adalah ingatan masa lalunya yang hilang. Tapi ia tidak tahu apa penyebab ingatan itu muncul setelah sekian lama hilang.
Ia berhenti di depan mading sekolah. Bukan untuk membaca berita-berita yang terpampang di sana, melainkan hanya ingin berkaca.
"Sial. Wajahku terlihat hancur." Wajahnya memang dipenuhi memar. Selain itu, beberapa plester juga ditempelkan pada wajahnya untuk menutupi luka. Hal itu membuatnya menjadi tidak Pede untuk memasuki kelas. Selain berkaca untuk melihat keadaan wajahnya, Naruto juga menyadari bahwa rambutnya berantakan. Dengan beberapa gerakan tangan, rambutnya sekarang sudah bisa di katakan rapi meski tanpa memakai sisir.
Bayangan seseorang terlihat di kaca itu. Ia segera berbalik untuk sekedar menyapanya. "Yo Sasuke." Ia memperhatikan wajah Sasuke. Hanya memar yang terlihat. Namun tidak terdeteksi luka sedikit pun.
"Ternyata kondisimu parah juga. Aku tidak mengira mereka memukulmu hingga penuh luka seperti itu," ucap Sasuke.
"Cih! Harusnya wajahmu itu yang penuh luka. Padahal kaulah penyebab mereka mengejar kita."
"Aku berterima kasih padamu karena telah membantuku kemarin. Dan ngomong-ngomong soal wajah kita. Kalau ada yang bertanya, katakan saja kita berdua saling berkelahi untuk menguji kemampuan."
"Baik. Lalu siapa yang menang?"
"Kurasa kau bisa mengatakan bahwa kau yang menang. Anggap saja itu sebagai rasa terima kasihku."
Setelah mengatakan itu, mereka melanjutkan perjalanan bersama menuju kelas. Tentu saja saat melihat keadaan dua orang itu, para siswa kelas 10-A menjadi heboh dan mulai bertanya. Terkhususnya kepada Sasuke, laki-laki paling populer di kelas itu. Namun keributan itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian, seorang guru datang untuk memulai pelajaran jam pertama.
[]
[]=[Bersambung]=[]
[]
Author Note
Wah! Maaf atas keterlambatannya. Jaringan di kotaku kembali jelek karena proses penyambungan kabel fiber telkomsel. Sudah berulang-ulang kali saya mencoba membuka ffn. Tapi ngak pernah nyambung. Jangankan fanfiction, buka google saja butuh waktu. Mohon bersabar ya yang merasa ingin membaca chapter selanjutnya.
Oke, menurut pandangan kalian sebagai pembaca, bagaimana kesan chapter ini?
Saat ini, Destined to Live With You sudah mau menyentuh plot utama. Kuharap dukungan kalian semakin besar mulai saat ini. Saya akan berjuang agar bisa melakukan publikasi secepatnya. Namun untuk bulan ini hingga tanggal 11 Maret, update cerita ini tidak akan bisa dilakukan dalam waktu cepat sebab jaringan masih lelet.
Sementara itu, author mungkin akan hiatus apabila USBN dan UNBK telah di depan mata. Maklum, masih anak sekolahan.
Satu lagi, jika kalian merasa menemukan cerita yang bagus di Fanfiction, jangan ragu untuk memfavoritkan dan juga mengikuti cerita tersebut (Fav&Follow) terutama bagi kalian yang merasa masih baru di dunia Fanfiction.
Situs ini sudah memasuki fase kritis semenjak di blokir oleh Internet Positif. Gara-gara itu, banyak pemula yang tidak bisa menembus situs yang diblokir tersebut sebab tidak mengetahui banyak hal mengenai dunia internet. Mereka pun beralih ke Wattpad dan sejenisnya yang tidak diblokir. Hal ini menyebabkan pengunjung Fanfiction makin berkurang hingga memaksa par penulis-penulis baru untuk buka lapak di situs lain.
Selain itu, mundurnya para leluhur-leluhur di dunia Fanfiction membuat banyak pembaca tidak dapat menemukan cerita-cerita bagus dari para leluhur tersebut hingga memutuskan untuk meninggalkan situs ini.
Untuk mencegah punahnya para penulis di dalam situs ini, ada baiknya bagi para pembaca untuk selalu memberikan semangat bagi para penulis dengan cara melakukan review dan juga melakukan Fav&Follow terhadap karya penulis yang kalian anggap bagus. Tanpa kalian sadari, hal kecil itu akan semakin lama membuat situs ini semakin ramai.
Kurasa sampai di sini saja. Jika punya pertanyaan, silakan inbox saja ke saya atau cantumkan pada kolom review.
Sekian dari saya
Author Taufiq879
