:

Taufiq879 Present

:

Destined To Live With You

:

Bab 7

Pergi Berbelanja Bersama

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]

"Aku berterima kasih padamu karena telah membantuku kemarin. Dan ngomong-ngomong soal wajah kita. Kalau ada yang bertanya, katakan saja kita berdua saling berkelahi untuk menguji kemampuan."

"Baik. Lalu siapa yang menang?"

"Kurasa kau bisa mengatakan bahwa kau yang menang. Anggap saja itu sebagai rasa terima kasihku."

Setelah mengatakan itu, mereka melanjutkan perjalanan bersama menuju kelas. Tentu saja saat melihat keadaan dua orang itu, para siswa kelas 10-A menjadi heboh dan mulai bertanya. Terkhususnya kepada Sasuke, laki-laki paling populer di kelas itu. Namun keributan itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian, seorang guru datang untuk memulai pelajaran jam pertama.

[]

Sekali lagi, hari melelahkan di sekolah berakhir. Para murid SMAK mulai meninggalkan sekolah menuju rumah masing-masing. Namun dari semua siswa yang ceria karena waktu pulang telah tiba, ada satu siswa yang terlihat murung di kelas. Ia adalah Naruto. Meski teman sekelasnya sudah mulai meninggalkan kelas, ia masih saja duduk di kelas dalam keadaan melamun.

"Siapa sebenarnya gadis itu. Kenapa nenek tidak pernah menceritakan hal itu padaku. Apa perlu kutanya padanya?" Ia melihat jam yang terdapat di dalam kelas. "Ngomong-ngomong, bagaimana caranya aku pulang?" Ia mengambil tasnya dan mulai berdiri.

Ia melihat ke samping, ternyata di sana masih terlihat Hinata yang masih sibuk menulis. Namun ia tidak bisa menemui keberadaan Sasuke. "Sial. Dia meninggalkanku!" Ia berlari keluar untuk mencari keberadaan Sasuke. Padahal siang tadi Sasuke sudah berjanji untuk mengantarnya pulang. Namun sekarang, laki-laki beraven hitam itu hilang tanpa jejak.

Tak lama setelah Naruto keluar dari dalam kelas, ponsel Hinata pun berbunyi. Ia sedikit terlibat percakapan untuk sesaat sebelum akhirnya dengan tergesa-gesa memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan berlari mengejar Naruto.

Ia menemukan Naruto yang sedang berdiri dalam keadaan putus asa di depan gerbang sekolah. Ia mengeluhkan kepergian Sasuke yang dengan teganya meninggalkan dirinya. "Brengsek kau Sasuke. Kau tidak bisa menepati janji." Ia mengambil ponselnya dari saku. Namun ponsel itu telah mati karena kehabisan daya.

"N-Naruto!" panggil Hinata seraya mendekatinya.

Sekejap, Naruto pun berbalik. "Ada apa?" jawabnya datar.

Hinata mendekatinya dan mulai berbicara dengan pelan. "Nenek menyuruh kita datang ke vila. Jemputan kita sudah menunggu di halte."

[]=[]=[]

Disambut bagaikan tamu di vila keluarganya sendiri memang terasa aneh. Namun itulah yang terjadi pada Naruto hari itu. Mulai dari memasuki gerbang hingga duduk di ruang tamu, ia diperlakukan pekerja-pekerja di rumah itu bagaikan tamu. Mungkin saja itu adalah hal yang wajar mengingat ia sudah tidak menjadi bagian dari vila itu meski masih menjadi bagian dari keluarga Uzumaki.

Saat duduk di ruang tamu, seorang pelayan membawakan minuman favorit Naruto. "Silakan dinikmati, tuan muda."

"Terima kasih," ucap Naruto.

Tak lama menunggu, Jiraiya bersama Tsunade muncul di hadapan mereka. Mereka langsung duduk di hadapan Naruto dan Hinata.

"Terima kasih kalian mau memenuhi undangan kami. Kakek se—" Perkataan Jiraiya itu di hentikan oleh Naruto.

"Langsung ke pembicaraan utama saja," ucap Naruto datar. Tidak bisa disangkal bahwa Naruto saat ini masih marah pada kakeknya.

Sang ajudan datang menghampiri Jiraiya sambil membawa sebuah map. "Tuan. Ini dokumennya." Setelah Jiraiya menerimanya. Ia membukanya hendak menunjukkan isinya pada Naruto dan Hinata. "Bagaimana hubungan kalian?"

Naruto dan Hinata saling menatap bingung. Namun di tengah kebingungan yang melanda mereka, Hayate—Si ajudan yang selama ini menjadi sopir Hinata berkata, "Hubungan cucu Anda dengan nona Hinata cukup baik. Namun masih ada kecanggungan yang melanda mereka. Komunikasi mereka masih sedikit terganggu karena masing-masing dari mereka masih menganggap satu sama lain sebagai orang asing. Setidaknya itulah menurut pengamatan saya."

Naruto menjadi bimbang antara ingin marah atau berterima kasih atas jawaban yang diberikan oleh Ajudan itu. Namun, meskipun ia marah, tapi ia tidak bisa menemukan jawaban yang lebih baik dari pada yang dituturkan oleh ajudan bernama Hayate itu.

Jiraiya menghembuskan nafas pasrah. "Sepertinya belum saatnya aku menyerahkan dokumen ini pada kalian. Kesempatan kalian untuk bercerai masih terlalu besar. Dan itu akan sangat berbahaya bagi masa depan perusahaan apabila kalian bercerai setelah menerima dokumen ini."

"Dokumen? Dokumen apa?" Naruto bertanya.

"Dalam map ini, ada sebuah dokumen yang nantinya akan kau gunakan untuk mengambil dokumen perusahaan yang asli. Dokumen itu disimpan oleh pemerintah. Namun dengan dokumen ini, kau nantinya bisa mengambil dokumen ini atas nama Minato, ayahmu. Dibandingkan denganku, hakmu sebagai anak dari Minato lebih besar untuk memimpin perusahaan."

"Kenapa dokumen itu disimpan oleh pemerintah?" tanya Hinata yang tiba-tiba tertarik untuk ikut dalam pembicaraan.

"Aku sudah pernah mengatakan bahwa perusahaan Uzumaki Enterprise tidak bisa dipimpin oleh sembarangan orang, kan? Hanya keturunan dari pimpinan sebelumnya yang bisa memimpinnya. Namun saat ayah Naruto meninggal, Naruto masih belum cukup umur untuk memimpin. Karena itu aku mengambil alih. Namun karena aku adalah Ayah angkat dari Minato, hak-hakku untuk memimpin perusahaan terbatas. Bahkan aku harus memenuhi persyaratan yang diajukan pemerintah untuk dapat mengambil alih kepemimpinan untuk sementara. Salah satu syaratnya adalah Dokumen kepemilikan perusahaan harus disimpan oleh pemerintah sebagai jaminan.

"Lalu syarat berikutnya sudah pernah aku katakan pada kalian. Ketika aku meninggal dunia, maka kepemilikan perusahaan akan jatuh ke tangan pemerintah kecuali Uzumaki Naruto, selaku anak dari Minato telah berstatus menikah maka ia berhak mengambil alih. Itu adalah alasan dasar mengapa kami menikahkan kalian berdua. Masih ingat kan?"

"Cih! Tentu saja. Mana mungkin aku bisa melupakan hari di mana tiba-tiba saja aku dikatakan akan menikahi seorang gadis yang bahkan baru kutemui. Kakek merenggut masa mudaku dengan keputusan sepihak itu. Kakek beruntung karena sampai saat itu aku belum memiliki seorang pacar jadi aku bisa menerima keputusan kakek itu mentah-mentah."

Tsunade dan Jiraiya hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan cucu mereka itu.

Naruto melipat tangannya dengan sikap angkuh lalu bertanya, "Lalu kapan dokumen itu akan kuterima?"

"Tentu saja saat kakek meninggal."

Naruto cukup kaget. Dokumen yang ia maksud adalah dokumen yang dipegang oleh kakeknya. Sepertinya kakeknya mengira ia bertanya soal dokumen kepemilikan perusahaan. "Bukan yang itu. Tapi dokumen yang kakek pegang."

"Oh yang ini? Kakek akan memberikannya secepatnya saat hubungan kalian menjadi lebih harmonis dan tidak ada celah untuk perceraian." Jiraiya menyerahkan kembali dokumen itu ke tangan ajudannya. "Tolong disimpan lagi."

"Huh! Kapan itu?" keluh Naruto.

"Makanya Naruto. Kalau mau cepat, kauharus cepat juga mempererat hubunganmu dengan Hinata," ucap Tsunade.

"Bukan berarti aku ingin memiliki dokumen perusahaan itu secepatnya." Naruto berdiri dan mulai berjalan meninggalkan ruang tamu. "Lagi pula hari di mana dokumen itu akan berada ditanganku pun akan datang. Jadi aku tidak mau terlalu memikirkannya," ucapnya ketika berjalan menuju pintu keluar.

"N-Naruto! Kau mau ke mana?" tanya Hinata.

"Aku capek. Aku mau pulang dan tidur."

Mendengar itu, Hinata pun dengan segera mengambil tasnya dan juga tas milik Naruto yang ia lupakan. "Nenek... Kakek... Kami pamit dulu. Aku juga ada keperluan."

"Kalian tidak makan malam dulu di sini?" tanya Tsunade.

"Aku akan mengikuti Naruto. Mungkin Naruto akan mencari makanan di luar. Tapi terima kasih tawarannya."

Tsunade dan Jiraiya memperhatikan kepulangan Naruto dan Hinata. "Kurasa hal ini pernah terjadi," ucap Jiraiya.

"Ya. Kurasa ini hampir mirip."

[]=[]=[]

Setibanya di rumah, Naruto langsung merebahkan badannya di kasur. "Kakek payah! Apa ia pikir perasaan suka itu bisa di dapat dengan cara diminta? Apa ia pikir cinta itu bisa dipaksakan? Benar-benar menyebalkan." Sudah cukup lama ia menahan kesal itu. Saat rasa kesalnya memuncak, ia memutuskan untuk pulang dan melampiaskannya di rumah.

Naruto kala itu hendak tidur dan melupakan semua yang terjadi sore ini. Meski jam masih menunjukkan pukul 7 dan ia masih belum merasakan kantuk, tapi ia tetap berusaha menutup mata. Walaupun begitu, pada akhirnya ia membuka matanya lebar-lebar saat merasakan lapar.

Naruto berjalan menuju dapur karena ia pikir Hinata sedang memasak makan malam di sana. Namun yang ia dapatkan hanya dapur yang kosong. Bahkan peralatan masak yang biasa di gunakan oleh Hinata terasa dingin. "Apa dia tidak memasak?" batin Naruto. Ia berbalik dan langsung menuju kamar Hinata yang lokasinya tidaklah jauh dari kamarnya. Ia mengetuk pintu seraya memanggilnya. "Hinata! Apa kau tidur?"

Tak berselang lama, Hinata membuka pintu. Dari luar, Naruto bisa mengetahui bahwa Hinata sedang belajar. Terlihat dari kondisi meja belajarnya yang penuh buku dan lampunya sedang menyala.

"Aku sedang mengerjakan tugas. Ada apa?"

Naruto terdiam. "Sepertinya aku tidak boleh mengganggunya belajar. Aku tidak mungkin memintanya memasak makan malam saat ia sedang belajar. Itu hanya akan mengganggu konsentrasinya." Naruto membatin.

"Naruto! Naruto! Ada apa? Kenapa kau melamun?"

"Ahh, aku hanya mau tanya. Apa kau mau titip sesuatu? Aku mau keluar. Mungkin ke supermarket."

"Ke supermarket? Dengan pakaian seragam itu?"

"Ahh benar. Aku belum ganti baju?" Naruto mendadak menyadari bahwa ia masih memakai seragam sekolah. "Ya tidaklah. Aku nanti ganti baju. Jadi ada yang mau kau titip?"

Hinata terlihat gugup. Tiba-tiba wajahnya memerah. Saat ini ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi malu untuk mengatakannya.

"Ada apa Hinata?"

"Anu. Naruto. Bagaimana...Bagaimana kalau kita berdua pergi bersama?"

"Heh?"

"Bahan makanan di kulkas sudah hampir habis. Jadi karena kau mau keluar, bagaimana kalau aku ikut denganmu untuk berbelanja."

"Ahh. Baiklah. Tapi aku mandi dulu. Setengah jam lagi baru kita pergi."

"Baik."

[]=[]=[]

Malam itu sekitar pukul setengah delapan, Naruto keluar dari dalam kamarnya dengan celana panjang dan berjaket jingga-hitam. Semerbak aroma parfum tercium kala ia membuka pintu kamarnya. Ia menghampiri Hinata yang sedang menunggunya di ruang tamu dengan memakai jaket putih. Belum saja dipanggil, Hinata sudah berbalik ke arahnya sebab mencium aroma parfum dari arah Naruto. "Tidak biasa kau memakai parfum sampai menyengat seperti ini?" tanya Hinata heran.

Naruto menggaruk kepalanya. "Ya bagaimana ya. Jaketku ini sudah lama tidak kucuci. Jadi aku memakai parfum untuk menutupi baunya."

Ingin Hinata mengatakan "jorok" tapi hal itu bertentangan karakternya. Jadi tidak mungkin ia mengatakannya secara terang-terangan begitu.

Mereka pergi dengan menaiki mobil. Tentu saja karena kondisi Naruto sudah lebih baik ketimbang tadi pagi, Hinata mengizinkannya mengemudikan mobil.

"Jadi kita mau ke supermarket mana, Naruto?" tanya Hinata.

"Menurut GPS ini," Naruto melihat layar GPS di mobilnya. "Supermarket terdekat berada di distrik 9."

Naruto melesat mengikuti petunjuk pada GPS di mobilnya untuk dapat menemukan supermarket itu. Namun ketika tiba di sana, sayangnya supermarket itu tutup sebab ada perbaikan. Sekali lagi, Naruto mencari melalui GPS. "Sial. Yang terdekat dari sini hanyalah yang berada di distrik 12."

"Memang ada apa dengan distrik 12?" tanya Hinata.

"Supermarket itu dekat dengan rumah Sasuke."

"Gawat!" Hinata terlihat terkejut. "Lalu sekarang bagaimana? Kalo kita ke pusat perbelanjaan, mungkin kita bisa menemukan apa saja yang kita butuhkan. Tapi berbelanja di tempat seperti itu memakan waktu. Belum lagi perjalanan ke sana."

"Kau benar. Bisa-bisa kita pulang jam 11. Tapi kurasa berbelanja di supermarket distrik 12 tidak akan menimbulkan masalah. Sasuke bukan tipe orang yang mau dan senang di suruh berbelanja. Jadi kita ke sana saja."

Naruto kembali menjalankan mobilnya menuju distrik 12. Setibanya di sana, Naruto terkejut kala melihat keadaan supermarket yang sedang ramai. Bahkan mencari tempat parkir untuk mobil pun terasa sangat susah. Bahkan Naruto sampai harus memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ternyata yang menjadi penyebab keramaian malam itu adalah adanya spanduk bertuliskan "Diskon 15% untuk semua produk"

Hinata pun terlihat tergiur dengan spanduk itu dan mulai turun dari mobil. Naruto sendiri merasa hal itu bukan sesuatu yang istimewa sebab ia bukan tipe orang yang kesulitan dalam hal keuangan. Setidaknya itu dulu. Saat ini ia harus belajar bagaimana cara menghemat uang yang baik dan benar untuk kelangsungan hidupnya meskipun kata "kelangsungan hidupnya" sedikit berlebihan sebab ia masihlah seseorang dari keluarga yang kaya raya.

"Naruto, apa kau tidak mau ikut?' tanya Hinata yang saat itu masih melihat Naruto terpaku di dalam mobil.

"Tu-Tunggu dulu. Aku juga kan mau membeli sesuatu." Ia melepas sabuk pengamannya dan menyusul Hinata.

Mereka berjalan mendatangi supermarket itu bersama. "Jadi, apa yang ingin kau beli Naruto?" tanya Hinata.

"Aku membutuhkan beberapa camilan untuk teman belajar atau sekedar bersantai." Naruto berjalan dengan kedua tangan di belakang kepalanya. "Kalau dulu, aku tinggal membuka lemari yang ada di dapur. Camilan kesukaanku akan selalu berada di sana."

Setibanya di dalam, Naruto jadi lebih terkejut lagi saat melihat keadaan supermarket yang hampir ludes isinya karena diserbu para pembeli yang lain. "K-Kalo begini, apa barang yang kita cari masih ada?" ucap Naruto.

"Kurasa kalau kita mencari, satu atau dua, atau bahkan 10 barang yang kita inginkan masih ada," jawab Hinata.

Mereka pun mulai berkeliling untuk mencari barang-barang yang mereka butuhkan. Setidaknya sudah 12 menit mereka berada di sana, namun barang-barang yang mereka dapatkan baru setengah dari daftar barang yang ingin di beli oleh Hinata. Sementara itu, Naruto merasa sangat beruntung bisa mendapatkan camilan yang diinginkannya dengan harga diskon. Jadi tidak heran jika ia memborong cukup banyak camilan itu.

Mereka berjalan dengan santai sambil melihat-lihat barang-barang yang hendak mereka beli. Menyelip-nyelip di antara orang yang sedang berbelanja untuk mendapatkan barang yang ada dalam daftar belanja mereka.

Ketika hendak menuju kasir, tiba-tiba saja di sebuah lorong mata Naruto menangkap sosok yang sangat tidak ingin ia temui. Namun saat ia menyadarinya, semua sudah terlambat. Orang itu telah menatapnya dengan tatapan heran dan penuh kecurigaan.

"S-Sa-Sasuke!" rasanya nama itu cukup sulit ia sebut saat itu. Mereka saling menatap satu sama lain penuh dengan keheranan. Hinata yang berada di belakangnya Naruto merasa heran. Saat ini dirinya memang belum melihat Sasuke dan secara otomatis Sasuke juga belum melihatnya sebab mereka tertutup rak.

Seketika Sasuke hendak mendekatinya untuk bertanya, Naruto dengan segera mundur dan bersembunyi di balik rak. Ia menghadap Hinata dan berkata, "Lari! Ada Sasuke. Cepat sembunyi dan jangan sampai terlihat olehnya."

Hinata seketika panik, ia dengan cepat pergi ke arah berlawanan dengan tempat yang sebelumnya ingin ia datangi. Ia bersembunyi dengan cara berbaur dengan ibu-ibu yang sedang memilah-milah barang. Naruto menyaksikan itu dengan perasaan lega sebab Hinata mampu bersembunyi dengan baik. Namun ia sempat melupakan satu hal. Sasuke mendatanginya lalu menyentuh pundaknya. Seketika rasa paniknya semakin menjadi dan membuatnya gugup saat hendak menyapa Sasuke.

"Y-Yo Sa-Sasuke!"

"Apa yang kau lakukan di tempat ini? Kupikir kau bukanlah tipikal orang yang suka berbelanja di tempat berdiskon seperti ini."

"Lah! Kau sendiri? Aku yakin, kau bukanlah orang yang suka berbelanja ataupun mau di suruh berbelanja. Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Naruto.

"Padahal aku yang bertanya dahulu. Dasar!" Sasuke meletakan keranjang berisi belanjaan yang sebelumnya ia tenteng. Ia meregangkan tangannya yang terasa pegal karena membawa belanjaan yang cukup banyak itu. "Ibuku sedang ada di luar kota. Sementara itu, bahan makanan di rumah sudah hampir habis. Karena Itachi sedang sibuk, ayah menyuruhku untuk berbelanja. Tentu saja awalnya aku tidak mau, tapi ia sudah menduga bahwa aku akan mengatakan itu. Maka dari itu, ia menyiapkan senjata berisi peluru karet dan mengancamku dengan itu. Aku sempat menolak, tapi ia malah langsung menembakku di bahu. Padahal Cuma peluru karet, tapi rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang."

"Hachi! Kasihan!" Naruto bersin seraya menyematkan kata "Kasihan" dalam bersinnya untuk mengejek Sasuke.

"Lain kali akan kutembak kau dengan senjata itu." Ia kesal. Namun ia tidak mungkin marah pada sahabatnya. Ia juga tahu Naruto hanya bercanda oleh karena itu ia tidak marah meskipun sedang kesal. Ia mengambil keranjang belanjaannya lagi lalu bertanya, "lalu, bagaimana dengamu? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?"

"Ehh. Anu...Eng... Aku..." Ia bingung mau menjelaskan apa. Dalam kebingungannya itu ia membatin. "Apa yang harus kukatakan? Ayolah berpikir! Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku sedang mengantar teman berbelanja sebab aku tidak punya seorang teman yang senang berbelanja. Kalo pacar?" tiba-tiba wajah Naruto menunjukkan sebuah kesuraman. "Aku bahkan tidak punya pacar."

"Naruto. Kenapa kau diam?"

"..."

"Dobe! Naruto." Karena kesal tak kunjung mendapat tanggapan dari Naruto yang sedang melamu, Sasuke pun mengutik dahi si pirang itu hingga tersadar dari lamunannya.

"Agh! Apa!" gertaknya tidak terima dengan perlakuan Sasuke.

"Aku bertanya padamu. Harusnya kau menjawabnya bukan melamun. Jadi apa yang membuatmu bisa berada di supermarket ini?"

"Ak-Aku sedang menemani seseorang belanja."

'Siapa?" tanyanya lebih lanjut hingga membuat Naruto kebingungan menjawab.

"Eng...Kurasa kau bisa sebut teman. Aku hanya menemaninya belanja."

"Pacar?"

"Teman!" Gertak Naruto. "Apa kau tidak bisa membedakan kata 'teman' dan 'pacar'?" Naruto kesal namun terlihat ia sedang tersipu karena tanggapan Sasuke.

Tentu saja Sasuke menyadari sifat Naruto itu. "Baik! Baik! Aku tidak peduli yang kau antar itu pacar atau sekedar kenalan. Yang pasti, tidak mungkin kau mengantar nenekmu atau pembantumu berbelanja di sini. Lagi pula, rumahmu berada sangat jauh dari distrik ini. Lalu di mana orang itu?" Sasuke terlihat mengamati sekitar.

Naruto terdiam. Ia tidak tahu ingin menjawab apa. "Sial. Pada akhirnya akan jadi begini. Apakah akhirnya nanti Sasuke akan tahu kalau aku sudah dijodohkan dengan Hinata?" batinnya.

"Ya sudahlah. Aku juga tidak ada niatan untuk menginterogasimu lebih jauh lagi. Aku harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam." Ia terlihat melihat sekitar sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Naruto.

Naruto saat ini sudah bisa bernafas lega. Ia bersyukur bahwa Sasuke adalah tipikal orang yang tidak mau tahu dan tidak mau terlibat dengan urusan orang lain. Jadi kemungkinan besar ia sudah tidak memikirkan alasan di balik mengapa Naruto bisa ada di supermarket dekat dengan rumah miliknya. "Puf! Hampir saja semuanya terbongkar."

Merasa keadaan telah aman, Naruto pergi mencari Hinata untuk segera mengajaknya pulang. Namun ia membuat sebuah jeda beberapa saat untuk memastikan bahwa Sasuke telah pergi dari supermarket sebelum akhirnya ia dan Hinata mendatangi kasir.

[]=[]=[]

Setelah berbelanja, Naruto langsung membawa Hinata pulang. Perjalanan itu memerlukan waktu cukup panjang sehingga saat ia tiba di distrik tempat tinggalnya, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

"Tugas sekolah kita banyak tidak, Hinata?" tanya Naruto yang tiba-tiba saja kepikiran tentang tugas sekolah.

"Cukup banyak. Aku bahkan baru menyelesaikan setengahnya. Sepertinya malam ini aku hanya bisa menyelesaikan seperempat sisanya saja."

"Sebanyak itu?" Badan Naruto langsung terasa lemas mendengarnya. "Aku pinjam ya?"

"Lebih baik kau mengerjakannya sendiri. Aku akan membantumu setelah selesai membuat makan malam."

"Baiklah!"

Naruto berbelok ke kiri lalu tak lama kemudian berbelok lagi ke kanan hingga akhirnya memasuki gerbang rumahnya. Ia memarkirkan mobil tepat di samping teras dan mulai mengeluarkan semua barang belanjaan mereka dari dalam mobil.

Ketika sedang membawa masuk belanjaan ke dalam rumah, karena kurang berhati-hati kaki Hinata menyandung sebuah batu hingga menyebabkannya kehilangan keseimbangan. Namun Naruto dengan cepat menolongnya meski bantuannya bisa di katakan terlambat dan tak banyak berarti sebab ia membantu tepat saat Hinata telah terjatuh. Akibatnya, ia pun juga ikut terjatuh. Namun setidaknya, ia bisa mencegah Hinata membentur lantai teras yang keras.

"Agh! Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto.

"Hn. Aku baik-baik saja. Terima kasih."

Tanpa mereka sadari, sebuah mobil berwarna biru tengah berhenti di seberang jalan depan rumah mereka. Si pemilik mobil itu sepertinya sedang mengamati Naruto dan Hinata dari balik kaca mobilnya. Ia memperhatikan mereka berdua sebelum akhirnya memutuskan pergi meninggalkan tempat itu ketika Naruto dan Hinata hilang dari pandangannya.

[]

[]=[Bersambung]=[]

[]

Seperti biasa, author ingin minta maaf karena tidak bisa update rutin. Alasannya masih sama, yaitu jaringan.

Terima kasih bagi kalian semua yang sudah pada review dan terkhusus bagi kalian yang telah memfav&Follow cerita ini.

Sepertinya tidak ada hal spesial yang bisa di bahas kali ini. Jadi cukup sekian dan jangan lupa dukungannya agar cerita ini tetap berlanjut.