:

Taufiq879 Present

:

Destined To Live With You

:

Bab 8

Penyerangan Gas Beracun

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]

Hari ini adalah hari terakhir para murid SMAK bersekolah di minggu ini. Dengan kata lain, besok adalah akhir pekan. Bel tanda pulang sekolah terdengar begitu indah di telinga para siswa terutama bagi mereka yang memang sangat menantikan akhir pekan kali ini.

Setelah menyelesaikan tugas piketnya seorang diri sebagai hukuman karena tidak melaksanakan tugas piket pagi, Naruto berjalan seorang diri menuju tempat parkir. Lorong-lorong di sekolah kala itu telah sepi. Cukup sepi sampai Naruto tidak bisa menemukan siapa-siapa lagi yang masih berada di sana. Namun meskipun begitu, dari dalam kelas-kelas yang ia lewati, masih terdengar suara percakapan.

"Menyebalkan." Ia mengeluh kesal sebab harus membersihkan kelas seorang diri. "Syukur hari ini aku membawa mobil sendiri." Ia berjalan dengan cepat lalu menuruni tangga agar tiba di lantai terendah dari gedung sekolahnya. Dari lantai 2, terlihat tempat parkir yang hanya menampakkan beberapa mobil saja.

Setibanya di tempat parkir, ia langsung menuju tempat di mana ia memarkirkan mobilnya. Tidak ada yang aneh saat ia membuka pintu dan duduk di bangku kemudi. Namun keanehan itu mulai tampak ketika ia melihat kaca yang ada di dalam mobilnya. Dari kaca itu, ia melihat seseorang yang sedang duduk bersila tangan memperhatikan ke arahnya. Seketika itu juga, Naruto langsung berbalik.

"Apa yang kau lakukan di mobilku, Sasuke?" tanyanya.

"Kau harusnya mengunci pintu mobilmu. Benar-benar ceroboh."

"Apa yang kau lakukan?"

"Hn. Kurasa ada sesuatu yang ingin kutanyakan." Mukanya terlihat sangat serius. "Mengenai hubunganmu dengan Hinata?"

Betapa terkejutnya Naruto mendengar hal itu dari Sasuke. Entah mengapa dan bagaimana, ia mengetahui bahwa Naruto dan Hinata memiliki sebuah hubungan yang tidak biasa. Padahal ia sudah sangat yakin bahwa sejauh ini, ia selalu menutup-nutupi hubungan itu di sekolah maupun saat bergaul bersama teman-temannya. Ia bahkan selalu menjauhi dan menjaga pandangannya agar tidak dicurigai siapa-siapa.

"Hubungan? Hubungan apa?" Meski ia merasa bahwa Sasuke mungkin sudah mengetahui kebenaran, tapi ia tetap mencoba menutupi hubungan itu sampai akhir.

"Jangan berbohong. Semalam saat kita bertemu di supermarket itu, aku mencurigaimu menyembunyikan sesuatu. Karena itu, aku mencoba membuntutimu dan akhirnya mendapatimu mengantar Hinata ke rumahnya. Bahkan aku melihatmu memasuki rumah bersamanya dan tak pernah keluar lagi. Jadi jangan mencoba menutupi apa pun dariku."

Naruto terdiam, ia sudah tidak bisa menyangkal hal itu lagi. "A-Akan kuceritakan. Tapi aku minta kau merahasiakan hal ini dari siapa pun termasuk Sakura."

"Bagaimana ya? Aku tidak akan mendapatkan keuntungan apapun kalau menyebarkan hal ini. Jadi ceritakanlah tanpa ragu."

"H-Hinata sebenarnya bukanlah orang asing bagiku. Dia anak dari kenalan ayahku. Dan dia adalah orang yang kakekku jodohkan untukku."

Seketika Sasuke pun tertawa kecil. "Jodoh! Kau pikir jaman apa ini?"

"Tanyakanlah pada kakekku!" Naruto menjawab dengan kesal. "Ada beberapa alasan mengapa aku sampai di jodohkan dengan Hinata. Aku akan menjelaskannya agar kau tidak menganggap hal ini aneh."

Naruto pun mulai menjelaskan secara perahan dan mendetail. Ia mulai menjelaskan latar belakang Hinata lalu kemudian alasan mengapa ia dijodohkan dengan Hinata. Dan ketika Naruto mengatakan "Ketika kakekku meninggal nanti, aku bisa mengambil alih perusahaan apabila sudah dalam status telah menikah. Namun apabila saat kakekku meninggal dan aku belum menikah, maka perusahaan itu akan jatuh ke tangan pemerintah."

"Tunggu! Jika itu adalah syaratnya, maka kau—"

"Aku benci mengatakan ini, tapi sebenarnya aku dan Hinata telah menikah dan hidup satu atap."

Sasuke terlihat sangat terkejut. "Jadi, kau sudah melakukannya dengan Hinata?" pertanyaan ini terdengar mesum. Tapi Naruto sepertinya tidaklah peka.

"Melakukan apa?" Naruto terlihat kebingungan.

Sasuke berbisik ke telinga Naruto. Seketika, terlihat wajah Naruto memerah mendengarnya. "Tidak! Tidak! Aku belum dan tidak akan melakukan itu padanya. Meski aku dan dia sudah menikah, tapi aku tidak akan melakukannya sebab ia masihlah orang asing bagiku."

"Cih! Padahal di antara kita, kaulah yang punya nafsu paling besar. Aku tidak menyangka ternyata setelah menikah, kau menjadi orang yang lebih baik."

"Ya! Pada dasarnya aku sama sekali tidak mengenal Hinata dan bahkan mencintainya. Jadi mungkin aku tidak pernah berpikir untuk melakukan itu. Lagi pula statusku masihlah seorang pelajar."

Sasuke membuka pintu mobil. "Aku tidak akan menanyakan masalah ini lebih jauh lagi. Aku tidak mau mencampuri urusan rumah tanggamu. Aku hanya bisa menyampaikan rasa bela sungkawaku saja. Namun, aku punya satu saran untukmu."

"Apa itu?"

"Jika suatu saat nanti kau ada rasa pada Hinata meskipun sedikit, jangan sampai kau coba membohongi dirimu sendiri. Bisa jadi kau dan Hinata memang bisa berjodoh."

"Apa yang kau bicarakan."

"Bukan hal yang penting." Sasuke keluar dari dalam mobil. "Aku akan pulang sekarang. Rasanya tidak sia-sia aku bersembunyi di mobilmu selama 20 menit. Sampai jumpa lusa atau mungkin besok bisa saja aku mendatangi rumahmu sambil membawa hadiah pernikahan."

"Heh! Akan kupastikan kau akan mendapat sambutan hangat dari tinjuku kalau datang."

Begitu Sasuke meninggalkannya, Naruto bersandar dan merenung. "Sial! Pada akhirnya sahabatku sendiri mengetahui pernikahan ini. Sepertinya semakin lama kusembunyikan, maka akan semakin banyak yang mengetahuinya."

[]=[]=[]

Setibanya di rumah, Naruto langsung mencari Hinata dengan niat menceritakan bahwa Sasuke telah mengetahui semuanya. Namun, ia sama sekali tidak dapat menemukan Hinata di dalam rumah. Kamarnya sepi, kamar mandi pun kosong, bahkan dapur pun masih dingin dan tak ada aroma masakan. Namun, ia menemukan petunjuk. Pintu halaman belakang terbuka. Ia mencoba untuk mencari sosok Hinata di sana. Tepat seperti perkiraannya, Hinata memang berada di sana. Kala itu ia terlihat sedang mengangkati jemuran yang ia jemur pagi tadi.

Ketika ia melangkahkan kakinya ke rumput di halaman belakang itu, angin yang cukup kencang tiba-tiba bertiup dan menerbangkan sebuah seprei kasur milik Hinata yang hendak ia angkat. Dengan refleks yang cepat, Naruto berlari dan langsung menangkap Seprei itu sebelum jatuh ke tanah. Namun efek dari pergerakan tiba-tiba itu mulai terasa. Cederanya kembali terasa dan membuatnya mengeluh kesakitan.

"Kau baik-baik saja!"

"Ya! Aku baik-baik saja. Hanya sakit sebentar." Naruto menggulung-gulung seprei itu berantakan sebelum menyerahkannya pada Hinata.

"Terima kasih. Tapi lain kali jangan memaksakan dirimu untuk menolong orang lain apabila itu hanya akan menyakitimu."

"Ya..Ya.., aku akan mencoba mengikuti saranmu," ucap Naruto dengan nada meremehkan. Ia berbalik ke arah pintu hendak masuk. "Hinata, masuklah. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu."

"Hal?" Hinata segera mengangkat pakaian yang masih tersisa lalu menyusul Naruto yang sudah berada di dalam.

Setidaknya 10 menit sudah berlalu semenjak Hinata memasuki dapur. Selama 15 menit itu, Naruto dan Hinata terlibat percakapan serius. Tentu saja, Hinata cukup terkejut mendengarnya sebab bagaimanapun itu adalah kesalahan mereka sendiri sehingga menyebabkan Sasuke mengetahui kebenaran.

"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Hinata.

"Kurasa kita tidak perlu mempermasalahkan Sasuke. Aku sudah bersama dengannya sejak SMP, dan selama itu aku sudah mempelajari sifat-sifatnya. Ia bukan tipe orang yang mau mencampuri urusan orang lain. Dan tentunya sifat yang menguntungkan bagi kita saat ini adalah, Sasuke adalah orang yang pintar menjaga rahasia terutama rahasia orang terdekatnya."

Hinata bernafas lega. Namun, kelegaannya berakhir kala ia tiba-tiba mendapati mata Naruto sedang meliriknya dengan serius.

"Tapi! Itu tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat nanti akan ada orang lain yang mengetahui hubungan kita. Tidak ada orang lain lagi selain Sasuke yang kupercayai mampu menjaga rahasia. Jadi kemungkinan besar, jika ada satu orang lagi yang mengetahui hubungan kita, maka masa depan kita sudah dipastikan hancur."

Hinata menunduk. "Aku juga merasa bahwa sebaik apapun kita menutupi hubungan kita, suatu saat pun akan terbongkar."

Naruto tiba-tiba bersemangat. "Yosh! Tetapi, jika itu sampai terjadi, aku juga tidak akan tinggal diam. Akan kupastikan orang-orang yang mengetahui hubungan kita itu menutup mulut. Dengan uang, kekerasan, atau bujukan maut pun akan kukerahkan akan hubungan ini tidak diketahui oleh publik. Dan suatu saat nanti, akan kubuat kakek meminta maaf pada kita karena telah menjodohkan kita secara paksa!" dengan pandangan mata yang berbinar-binar, Naruto mengangkat salah satu kakinya di atas kursi dan menunjukkan tinjunya pada langit-langit rumah.

Hinata tertawa geli melihat tingkah Naruto. "Kau kenapa, Hinata?" Naruto memasang tampang bodoh saat bertanya.

"Posemu berlebihan, Naruto."

Seketika Naruto syok menyadari bahwa ia telah bertingkah layaknya guru Guy. Ia segera duduk dan menganggap tindakannya itu tidak pernah ia lakukan. Ia benar-benar merasa malu karena bertingkah seperti itu di hadapan Hinata. "Ehem! Hem! Jadi itu rencana kita ke depannya."

"Naruto, boleh aku bertanya?"

"Tanya saja."

"Apa kau masih marah pada kakekmu karena perjodohan kita ini?"

"Marah?" Naruto menunduk. "Aku tidak tahu. Aku hanya masih belum menerima perjodohan ini dengan senang hati. Aku hanya sedikit kesal saja karena keputusan kakek. Jadi aku minta maaf kalau mungkin aku masih bersikap dingin padamu."

"Aku mengerti."

"Lalu, kau sendiri bagaimana?"

"Aku? Aku tidak benci atau marah pada kakek dan nenekmu. Mau tidak mau aku harus menerima perjodohan ini. Karena perjodohan ini sangat penting bagi keberlangsungan keluargamu, Aku rela melakukan ini untuk membalas kebaikan ayahmu. Tapi itu alasanku dulu. Namun sekarang, aku punya alasan tersendiri mengapa aku mau menjalani kehidupan rumah tangga ini bersamamu. Setidaknya aku punya 2 alasan sekarang.."

Naruto menatapnya dengan bingung. "2 alasan? Apa itu?"

Hinata berdiri dan mengangkat keranjang berisi pakaiannya. "Aku tidak bisa memberitahumu. Tapi itu bukan hal yang buruk kok. Tetapi, suatu hari nanti, kau pasti akan mengetahuinya." Setelah mengatakan itu, dia pun pergi meninggalkan Naruto berpikir keras di dapur.

"Alasan... Kira-kira apa alasannya." Naruto mencoba berpikir untuk mencari jawaban. Tapi ternyata otaknya tidak dapat memproses jawaban dari pertanyaan yang saat itu memenuhi kepalanya. "Benar juga. Aku tidak punya alasan khusus kenapa aku menerima perjodohan ini. Aku melakukannya karena hanya mengikuti keinginan kakek dan nenek. Kurasa sekarang aku harus memutuskan alasanku menerima perjodohan ini agar bisa setegar Hinata."

[]=[]=[]

Naruto membuka matanya setelah tidur dalam waktu yang cukup lama. Hal pertama yang ia lihat adalah jam. "Jam 10." Ucapannya itu pelan namun terdengar terkejut. Ia meregangkan badannya di atas kasur seraya berkata, "Untung sekarang hari minggu."

Ia merasa tubuhnya sedikit kaku karena tidur terlalu lama. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Ketika ia menyiramkan air ke wajahnya, seketika matanya melek karena dinginnya air yang mengenai wajahnya. "Benar juga. Sekarang sudah memasuki musim dingin."

Ia mengambil handuk dan mengusap lembut di wajahnya hingga kering. Tak ada rencana khusus yang ingin ia lakukan di hari minggu ini, kecuali menikmati acara-acara tv di akhir pekan, bermain game seharian, dan tidur sepuasnya. Setidaknya itu rencana dadakan yang ia rencanakan tadi. Namun setelah Hinata mengetuk pintu kamar mandi, semuanya menjadi berubah.

"Kita diminta datang ke kantor Kakek."

"Sekarang?" Hinata mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Naruto itu. "Untuk apa?"

"Akan ada rapat. Kakek memintamu untuk turut hadir dan mempelajari bagaimana cara pebisnis melakukan rapat."

"Cih! Padahal ini hari minggu. Para pebisnis itu benar-benar orang yang tidak memiliki waktu santai meski di hari minggu. Beri aku waktu sebentar untuk mandi."

"Baik. Aku juga akan bersiap."

Setelah bersiap, Naruto pergi menuju gedung perusahaan Uzumaki Enterprise yang terdapat di tengah kota bersama Hinata. Hinata kala itu memakai pakaian yang cukup rapi. Namun, Naruto sendiri memakai pakaian yang jauh dari kata rapi. Ia hanya memakai celana panjang dan kaos dengan gaya apa adanya.

"Setidaknya kau pakailah kemeja kalau memang tidak ada jas. Gaya pakaianmu seperti ini bisa mempermalukan kakekmu."

"Peduli amat. Lagi pula, di lemari pakaianku hanya ada pakaian seperti ini saja. Aku tidak pernah membeli pakaian-pakaian rapi seperti itu."

"Sayang sekali. Padahal kau terlihat lebih ta..." Hinata menghentikan kalimatnya secara mendadak.

"?" Ia menatap tatapan bingung dari Naruto karena Hinata menghentikan kalimatnya seperti itu. "Ada apa?"

"Tidak. Bukan apa-apa." Hinata menunduk. Sepertinya ia sedang menahan malu karena kalimat yang sempat ingin ia katakan.

"Ya sudahlah." Sesaat setelah mengatakan itu, ia mulai semakin mengebutkan mobilnya agar bisa tiba di perusahaan secepat mungkin.

[]=[]=[]

Dikarenakan hari libur, gedung parkir Uzumaki Enterprise yang biasa padat terlihat lebih renggang hari ini. Bahkan para satpam cukup banyak, hari ini pun hanya tampak beberapa saja. Hanya ada beberapa mobil-mobil eksklusif yang terparkir di sana. Dengan adanya mobil-mobil eksklusif yang terparkir di sana hari itu, menandakan bahwa peserta rapat hari ini adalah orang-orang penting perusahaan.

Begitu keluar dari dalam mobil, Naruto dan Hinata bersama-sama berjalan menuju tempat di mana rapat itu akan digelar. Mereka sempat melupakan satu hal. Tidak seharusnya mereka berjalan bersama seperti ini sebab mereka seharusnya menyembunyikan hubungan mereka dari orang lain. Meskipun hari itu sedang libur, namun masih saja ada beberapa orang yang terlihat mondar-mandir di kantor. Terkhususnya para petugas keamanan. Namun saat mereka menyadari kesalahan telak yang telah mereka lakukan, semua itu sudah terlambat. Di sebuah persimpangan jalan setapak yang memisahkan antara gedung parkir dan gedung perusahaan, mereka bertemu dengan seorang satpam yang cukup mengenal dirinya.

"Selamat siang, tuna muda. Tidak biasanya Anda datang ke sini. Apa ada urusan?" tanya satpam itu.

"Ya-Ya. Aku diminta datang oleh kakek."

"Lalu siapa gadis ini?"

Pertanyaan itu membuat Naruto maupun Hinata kebingungan. Baru saja kemarin mereka membahas rencana agar hubungan mereka tidak cepat terbongkar, tapi hari ini mereka sudah mendapatkan ujian pertama.

"Ke-kenalannya kakek. Aku tadi diminta menjemputnya."

"Oh! Maaf sudah mengganggu perjalanan Anda. Silakan dilanjutkan. Saya juga ingin segera mengantarkan dokumen ini."

Naruto pun pergi meninggalkan satpam itu. Ia merasa bersyukur bahwa dirinya masih mampu menemukan sebuah alasan yang masuk akal. Namun mulai saat ini, ia harus memakai alasan itu selamanya.

"Ini gawat Naruto. Kalau sampai kita bertemu dengan orang-orang di perusahaan ini lagi, itu akan gawat. Seharusnya aku tidak perlu ikut."

"Jangan khawatir. Alasan tadi sepertinya sudah cukup untuk membohongi orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui hubungan kita yang sebenarnya. Jika kakekku sampai berani menyuruh kita datang ke tempat ini bersama-sama, itu berarti ia yakin bahwa rahasia kita itu tidak akan sampai terbongkar."

"Sepertinya kau benar."

Begitu mereka sampai di lobi, seorang ajudan bernama Arashi datang menjemput mereka. Ia merupakan ajudan dengan posisi tertinggi sekaligus ajudan yang memiliki keakraban terbesar dengan Naruto sebab ia dipercaya untuk menjaganya saat masih kecil.

"Akhirnya kalian datang juga, tuan muda, nona muda."

"Apa kami terlambat?"

Ajudan itu melihat jam tangannya. "Sayang sekali. Rapat baru akan dimulai 5 menit lagi."

"Oh begitukah. Sayang sekali." Naruto menunjukkan ekspresi kecewa.

"Berhenti bermain-main. Sekarang kita harus segera pergi ke ruang rapat." Seorang ajudan lainnya tiba-tiba keluar dari tempat resepsionis.

"Baik-baik. Aku akan segera mengantar mereka. Kau, segera kembali bertugas." Kata Ajudan Arashi

"Siap!"

Bersama ajudan itu, Naruto dan Hinata berjalan menuju ruang rapat. Tempat rapat itu digelar berada di lantai yang cukup tinggi. Bisa dikatakan sebagai lantai eksklusif di perusahaan itu. Lantai 32, tempat di mana urusan sepenting itu selalu di gelar sekaligus menjadi lantai tempat ruang kerja direktur tertinggi berada.

Setelah beberapa menit berlalu, mereka akhirnya tiba di depan pintu ruangan tempat rapat itu di gelar. Ruang rapat itu berukuran cukup besar. Di gedung ini, setidaknya ada 5 ruang rapat yang terletak di 2 lantai yaitu lantai 31 dan 32. Di lantai ini, ruang rapatnya adalah yang terbesar serta merupakan tempat berlangsungnya rapat luar biasa atau rapat paripurna.

Namun khusus hari ini, ruang rapat khusus itu hanya di hadiri oleh orang-orang penting perusahaan dan juga penerus dari perusahaan, Naruto Uzumaki. Ketika pintu itu terbuka, semua mata para hadirin di rapat itu terpusat pada Naruto dan Hinata. Cukup banyak dari mereka memang sudah mengetahui hubungan sebenarnya Naruto dan Hinata. Namun beberapa dari mereka terlihat bingung ketika melihat perempuan yang datang bersama tuan muda mereka.

"Akhirnya kalian datang. Nenek dari tadi mencoba menghubungimu, tapi tidak diangkat."

"Telepon?" Naruto dengan sigap mengeluarkan ponselnya. Ponsel itu nyala, namun ternyata Naruto mengaktifkan modus senyap. Di layar ponsel itu, setidaknya ada pemberitahuan 12 panggilan terlewat. Ia menggaruk kepalanya dan mengatakan, "Hehe. Maaf. Ternyata mode senyapnya aktif."

Hinata dan Tsunade hanya bisa menghembuskan nafas pasrah melihat keadaan Naruto saat itu. "Ya ampun. Kau ini. Ya sudahlah, cepat duduk di dekat kakekmu. Dan Hinata, ayo ikut nenek."

Naruto dan Hinata ditempatkan bersebelahan. Tsunade kala itu memberikan sebuah pena dan buku catatan untuk Hinata. Tentu saja ia menjadi bingung. "Untuk apa ini, nek?"

"Sudah. Dengarkan pemberitahuan kakek," ucap Tsunade dengan nada pelan.

Jiraiya meneguk sisa air minum di gelasnya hingga tandas. Setelah itu ia berdiri. "Rapat akan segera saya mulai. Namun sebelum itu, saya akan memperkenalkan seseorang." Ia melihat ke arah Hinata. "Hinata Uz... Ehem! Maksud saya, Hinata Hyuuga. Dia adalah sekretaris khusus untuk cucu saya."

Perkataan itu jelas membuat Naruto dan Hinata cukup terkejut. Bukan hanya mereka berdua, namun sepertinya beberapa orang yang tahu hubungan mereka berdua sepertinya nampak terkejut.

"Sekretaris?" Hinata melihati buku yang ia pegang. "Jadi begitu."

"Ehh! Sekretaris? Untuk apa?" Spontan karena bingung, Naruto bertanya.

"Kau diam saja!" dan dengan spontan, Tsunade mengutik dahi Naruto.

"Uzumaki Naruto, penerus dari perusahaan kita harus membiasakan kehidupan perusahaan. Tentu ia harus belajar bagaimana mengatur jalannya perusahaan. Ia akan ikut serta dalam rapat-rapat tertentu, dan juga harus membiasakan diri memiliki sekretaris yang akan selalu berada di sampingnya. Kurasa sekian perkenalannya. Tuan, Danzo, Anda bisa mulai membacakan laporannya."

Yang disebut itu pun segera berdiri seraya membuka map berisi dokumen-dokumen yang akan di bahas dalam rapat kali ini. "Kita memiliki 5 topik pembahasan dalam rapat kali ini. Akan saya bacakan."

Demikianlah, rapat pun dimulai.

[]=[]=[]

Duduk lebih dari 3 jam sambil menghadapi pembicaraan-pembicaraan serius dalam rapat memang melelahkan, terutama bagi yang belum terbiasa.

"Huh! Aku benci kehidupan kantor. Rasanya badanku menjadi kaku. Apa hal seperti ini yang akan kuhadapi kelak?"

"Tanganku juga pegal. Tiba-tiba saja aku dijadikan asistenmu dan di suruh mencatat semua hal yang dibicarakan dalam rapat."

"Selamat datang dalam penderitaan keluarga, Hinata. Aku senang bahwa bukan hanya aku sendiri yang menderita."

Perut Naruto berbunyi karena lapar. "Agh! Sekarang aku merasa sangat lapar. Kau mau ikut ke kantin?"

"Kantin? Tapi bukankah kakek menyuruh kita datang ke ruang kerjanya."

"Dia bisa menunggu. Tapi rasa lapar ini benar-benar membuatku menderita."

"Kalo dipikir-pikir kau memang belum sarapan. Itu menjelaskan kenapa saat rapat tadi, kau terlihat tidak berkonsentrasi."

"Maka dari itu, ayo ke kantin."

"Tapi, tidak apa-apa ini kita jalan bersama. Nanti..."

"Kau sudah diangkat menjadi sekretarisku. Itu akan menjadi alasan terbaik. Ya, meskipun aku tidak mengerti. Untuk apa aku memiliki seorang sekretaris." Naruto mengeluarkan dompetnya lalu menghitung uang di dalamnya.

"Baiklah. Tapi kau harus makan dengan cepat. Setelah makan kita harus segera menemui kakekmu."

Naruto terdiam menatap Hinata seraya memasukkan kembali dompetnya itu. "Sial! Jiwa seorang sekretaris sudah merasukinya," batin Naruto.

[]=[]=[]

Mencoba mengakrabkan diri dengan orang yang secara tiba-tiba di jodohkan dengannya memang sulit pada awalnya. Namun, Naruto yang sekarang tanpa sadar telah mengakrabkan diri dengan Hinata dan mencoba lebih jauh mengenalnya. Hubungan mereka menjadi semakin baik dan sekarang telah menuju tahap saling mengenal. Bermula ketika Naruto mengantar Hinata ke rumah nenek Naruto yang dulunya belum menjadi milik Hinata hingga berbelanja berdua. Kini, mereka berjalan bersama menuju kantin. Benar-benar sebuah kemajuan bagi hubungan mereka.

Kantin perusahaan Uzumaki Enterprise. Sebuah tempat ternyaman untuk menghabiskan waktu istirahat. Terdapat di lantai teratas dan mengorupsi seluruh ruangan di lantai teratas itu. Kantin perusahaan ini memang sangat besar dengan berbagai fasilitas tersedia di dalamnya. Terdapat 5 ruang makan VIP yang dikhususkan bagi tamu-tamu penting dan juga bagi mereka yang siap membayar biaya sewanya.

Setidaknya, perusahaan ini memperkerjakan 5 orang chef handal untuk mengisi posisi juru masak kantin perusahaan. Ada sekitar 30 menu yang ditawarkan di kantin ini dan di mana sekitar 15 dari menu itu dapat di santap secara gratis. Terdapat sekitar 170 meja makan tipe 4 orang yang bisa di tempati secara gratis. Tempat ini benar-benar bagus untuk menghabiskan waktu istirahat.

"Aku baru tahu kalau ada menu gratis di kantin ini," ucap Naruto kala melihat sebuah poster menu gratis hari ini.

"Berarti kita harus memesan makanan di sana kan."

"Sekretaris, pesankan aku nasi goreng dan bawakan ke maja di pojok sana."

Hinata menatap Naruto dengan tatapan tajam yang disertai aura kemarahan yang seketika melihat tingkah arogan Naruto yang dibuat-buat itu mengendur.

"Bercanda. Ayo kita pesan bersama-sama."

Setelah mendapatkan makanan yang ingin disantap siang itu, mereka membawa makanan itu ke sebuah meja yang terletak di pojok ruangan kantin. Makan bersama di tempat umum seperti ini baru pertama kali bagi mereka. Tanpa sadar, mereka telah melakukan kencan tak sadar. Ya meskipun mereka berdua tidak menyadari hal itu.

Setelah selesai menyantap makan siang, mereka langsung meninggalkan kantin. Tak lama kemudian, seseorang datang dan membersihkan meja yang sebelumnya mereka gunakan untuk makan. Ya, memang begitulah cara kerja kantin ini.

[]=[]=[]

Setelah dari kantin, sesuai rencana. Mereka saat ini sedang menuju kantor Jiraiya untuk menemuinya. Orang pertama yang mereka temui saat itu adalah Sekretaris Jiraiya.

"Tuan muda. Anda lama sekali. Tuan Jiraiya sudah menunggu Anda."

"Ya ya ya. Maaf. Aku tadi ke kantin dulu," ucap Naruto tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Sekretaris itu mengetuk pintu ruang kerja Jiraiya. Tak lama kemudian, pintu tersebut pun di buka oleh Ajudan yang bertugas di dalam. "Mereka sudah datang," ucap Sekretaris itu pada ajudan tersebut.

"Tuan muda dan Hinata sudah datang," lapor Ajudan itu pada Jiraiya.

"Biarkan mereka masuk."

Tanpa menunggu perintah, Naruto langsung masuk ke ruangan itu bersama Hinata. Ajudan itu keluar dan menutup pintu dari luar.

"Jadi apa yang ingin kakek katakan sampai menyuruh kami ke sini. Oh ya, aku juga mau tahu kenapa Hinata menjadi sekretarisku."

"Tentu saja itu untuk mengelabui para karyawan. Kalian akan lebih sering datang ke tempat ini sebab kau harus belajar bagaimana cara untuk memimpin perusahaan."

"Ohh!" tanggapan Naruto itu terkesan cuek.

Pintu kembali di buka, kali ini Tsunade yang datang. "Hinata, ayo ikut nenek. Ada suatu hal yang ingin nenek tunjukan padamu."

Seketika itu juga, hanya Naruto dan Jiraiya yang berada di ruangan itu. Ia duduk di salah satu sofa sambil melipat kedua tangan di belakang kepalanya. Ia benar-benar bersikap layaknya bos kala itu. "Aku ingin cepat-cepat pulang. Jadi kalau kakek mau menyampaikan sesuatu, segera katakan."

"Maaf sudah menyia-nyiakan hari liburmu. Dan maaf sudah memaksamu untuk menikah dengan Hinata. Sampai sekarang kakek selalu merasa bersalah karena telah menjodohkan kalian secara paksa. Kakek bersyukur hari ini kakek memiliki keberanian untuk mengatakan maaf padamu."

Seketika Naruto terdiam. Posisi bak seorang bos tadi ia rubah hingga ke posisi seperti seorang pelamar kerja yang sedang di Interview. Ia tidak menyangka bahwa kakeknya akan mengatakan kata itu secepat ini. "K-Kenapa? Kenapa kakek baru merasa bersalah setelah kami menikah. Berkat keputusan sepihak kakek itu, masa depanku dan Hinata sudah hancur."

"Kakek tidak memiliki pilihan lain. Kakek sudah menceritakan alasannya kan? Pilihan terbaik kakek saat itu hanyalah Hinata. Selama ini kakek terus memperhatikanmu. Juga menggali informasi dari Sasuke mengenai pergaulanmu. Kakek tahu selama ini kau tidak pernah memiliki satupun pacar. Bahkan kau kesulitan untuk mencarinya. Dan jikapun ada, kakek tidak bisa percaya bahwa ia mencintaimu dengan tulus."

"Lalu, bagaimana dengan Hinata. Apa kakek percaya padanya. Apa kakek yakin ia tidak memiliki alasan lain dibalik dengan mudahnya ia menerima perjodohan ini,"

"Kakek percaya. Tidak ada gadis yang bisa kakek percaya sepenuhnya selain Hinata. Ada alasan lain kenapa kakek memilih Hinata untuk menikah denganmu. Itu semua untuk pemenuhan janji."

"Janji ayahku dan ayah Hinata?"

Jiraiya menggelengkan kepalanya. "Suatu hari kelak, kau akan mengetahuinya sendiri."

Kebenarannya makin buram. Naruto tidak bisa memikirkan alasan mengapa Hinatalah yang dipilih kakeknya untuk menjadi pasangan Hidup Naruto.

"Namun!" kata itu terdengar tegas. "Jika kau merasa bahwa hubunganmu dan Hinata tidak akan berjalan lancar, kakek akan mengizinkan kalian bercerai saat kau telah menjadi pimpinan perusahaan. Artinya setelah kakek meninggal."

Keadaan menjadi sunyi selama beberapa menit. Naruto maupun Jiraiya hanya duduk diam tak mengeluarkan satupun kata-kata. Namun, tiba-tiba sesuatu menabrak kaca dengan sangat kuat hingga membuat dinding kaca di kantor Jiraiya berlubang. Tak hanya itu, sesuatu yang menabrak kaca itu sepertinya merupakan tabung gas. Seketika setelah tabung itu mendarat di lantai ruang kerja Jiraiya, tabung itu mengeluarkan gas berwarna merah yang perlahan memenuhi ruangan.

Jiraiya sepertinya mengetahui mengenai gas tersebut. Ia dengan cepat melepas jasnya dan menutupi muka Naruto yang sedang panik itu dengan jas tersebut. Naruto sepertinya berusaha berbicara. Namun dengan adanya jas yang menutupi wajahnya, suara yang ia keluarkan menjadi tidak terdengar jelas.

Jiraiya berusaha menutupi agar Naruto tidak menghirup gas tersebut dengan cara menutupi wajahnya dengan jas miliknya lalu membawanya keluar dari kantornya. Jiraiya pun dengan susah payah menahan nafasnya. Ruangan yang kedap suara membuat ajudan yang tepat berada di depan pintu tidak menyadari ada kejanggalan yang terjadi di dalam. Namun, melihat adanya gas yang keluar dari lubang pintu, dengan cepat ajudan itu membuka pintu.

"Tuan Jiraiya!" Ia berlari masuk dan menghampiri Jiraiya.

"Pecahkan kacanya. Cepat. Gas-gas ini harus dikeluarkan dari gedung!"

Dengan bermodal sebuah sofa, sang ajudan itu memecahkan kaca dengan cara memukulkannya. Semakin besar kerusakan pada kaca, membuat semakin banyak gas yang keluar sehingga kandungan gas yang sepertinya beracun itu berkurang.

"Anda baik-baik saja?" sambil menutup mulutnya dengan sebuah kain, ajudan tersebut membantu Jiraiya untuk keluar. Namun, saat itu Jiraiya sudah hampir tumbang karena terlalu banyak menghirup gas tersebut. "Tuan!"

"Kakek!" Naruto melepaskan jas yang menutupi wajahnya. Ia berusaha ikut menolong kakeknya.

"Bodoh! Kenapa kau lepaskan jas itu. Jangan menghirup gas ini." Jiraiya merasa bahwa nyawa cucunya itu lebih berharga dan sama sekali tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia kembali berusaha menutupi wajah Naruto dengan jas agar ia tidak menghirup gas beracun tersebut. Namun, ketika itu juga, ia pun tumbang. Ia pingsan karena terlalu banyak menghirup gas itu.

"Tuan muda! Keluarlah dari sini segera! Biarkan saya yang mengurus tuan Jiraiya."

Merasa tidak bisa melakukan apa-apa, Naruto pun berlari menuju pintu keluar. Di susul oleh si ajudan yang mengendong Jiraiya.

"Jiraiya!" Suara teriakan penuh kekhawatiran dari seorang wanita paruh baya itu begitu memekakkan telinga. Ia berlari bersama Hinata untuk menghampiri Jiraiya yang tengah dibaringkan di koridor kantor.

Beberapa ajudan terlihat mengikuti Tsunade.

"Apa yang terjadi?" tanya Arashi

"Seseorang menyerang kita dengan gas beracun. Sepertinya tuan Jiraiya terlalu banyak menghirup gas tersebut."

"Segera hubungi kepolisian. Kita harus segera mengantar tuan Jiraiya ke rumah sakit. Serahkan tugas itu padaku. Siapkan mobil Ferari perusahaan. Siapkan juga tabung oksigen." Dengan tegas, Arashi memberikan perintah-perintah agar peristiwa ini cepat ditangani. Bersama 3 ajudan lainnya, ia membawa Jiraiya keluar gedung, tempat di mana mobil Ferari milik perusahaan menunggu.

"Kau baik-baik saja, Naruto?" tanya Hinata yang sepertinya sedang khawatir.

"Aku baik-baik saja. Sekarang ayo pergi ke rumah sakit." Naruto menghampiri neneknya yang masih syok. "Nenek, kita harus ke rumah sakit sekarang."

Meski masih syok, namun Tsunade berusaha kuat dan percaya bahwa suaminya itu akan bertahan. Ia menerima uluran tangan Naruto dan ikut dengannya menuju rumah sakit.

[]=[Bersambung]=[]

[]

[]

[]

Author Note:

Berhubung jaringan di kota saya sudah mulai membaik, mungkin saya akan mulai update rutin. 'Dengan catatan' saya mempunyai data cerita yang siap di upload. Saya harap setelah chapter ini keluar, dukungan dari kalian akan semakin bertambah agar saya bisa menyelesaikan cerita ini.

Tentu saja tanpa ada dukungan, setiap penulis pun akan menjadi tidak semangat untuk menulis ceritanya.

Ada yang bertanya, "Apa situs Fanfiction akan punah?"

Menurut saya, itu akan terjadi apabila para pembaca yang mampir di situs ini makin berkurang. Dengan berkurangnya jumlah pembaca, maka semakin berkurang juga semangat penulis. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka hanya akan membuat situs ini makin terpuruk. Ini sekedar pendapat saya sih. Mungkin kalian ada yang punya pendapat lain.

Lalu, menurut kalian apakah Summary untuk cerita ini sudah menjadi lebih baik dari summary sebelumnya. Saya pernah mendapat kritikan membangun mengenai pembuatan summary cerita ini. Jadi beberapa hari yang lalu saya membangun ulang summary cerita ini menjadi lebih baik 'Menurut saya'