:
Taufiq879 Present
:
Destined To Live With You
:
Bab 9
Pesan Terakhir Jiraiya
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
"Segera hubungi kepolisian. Kita harus segera mengantar tuan Jiraiya ke rumah sakit. Serahkan tugas itu padaku. Siapkan mobil Ferari perusahaan. Siapkan juga tabung oksigen." Dengan tegas, Arashi memberikan perintah-perintah agar peristiwa ini cepat ditangani. Bersama 3 ajudan lainnya, ia membawa Jiraiya keluar gedung, tempat di mana mobil Ferari milik perusahaan menunggu.
"Kau baik-baik saja, Naruto?" tanya Hinata yang sepertinya sedang khawatir.
"Aku baik-baik saja. Sekarang ayo pergi ke rumah sakit." Naruto menghampiri neneknya yang masih syok. "Nenek, kita harus ke rumah sakit sekarang."
Meski masih syok, namun Tsunade berusaha kuat dan percaya bahwa suaminya itu akan bertahan. Ia menerima uluran tangan Naruto dan ikut dengannya menuju rumah sakit.
[]
[]
Langit siang itu tampak mulai mendung. Sudah 20 menit berlalu semenjak Jiraiya dilarikan ke rumah sakit. Para keluarga menunggu kabar darinya dengan cemas. Tsunade tak henti-hentinya terisak. Naruto terlihat sangat gelisah. Ia selalu saja membayangkan perkataan maaf Jiraiya sebelumnya. Ia takut bahwa itu akan menjadi kata maaf terakhir yang keluar dari orang yang paling dekat dengannya itu.
Kabar mengenai penyerangan itu sudah terdengar oleh kepolisian Konoha dan juga para petinggi perusahaan. Kepolisian Konoha menyerahkan unit-unit penyelidik terbaik mereka untuk mencari pelaku pelempar tabung gas beracun itu.
Tidak lama kemudian, seorang dokter pun keluar dari ruang UGD. Wajahnya terlihat cemas. Seperti ada sebuah kabar tidak mengenakkan yang harus ia sampaikan pada keluarga pasien. Dengan segenap keberanian, ia menghadap keluarga pasien. Hanya dengan beberapa kalimat, suasana tegang dan cemas itu pun berubah.
"Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Namun, gas dalam tubuh tuan Jiraiya telah menyebabkan detak jantungnya semakin lama semakin melambat. Dan nyawa pasien sudah tidak bisa tertolong lagi"
Tangis Tsunade pun pecah setelah mendengar kabar itu. Air mata Naruto pun perlahan keluar sebab mendengar kabar tersebut. Meski tak sekencang Tsunade, Naruto merasakan badannya lemas seketika. Hinata memang tidak merasa sesedih Naruto maupun Tsunade sebab tidak begitu mengenal Jiraiya. Namun dengan hanya melihat Tsunade dan Naruto sedih seperti itu, ia juga bisa merasakan kesedihan yang mereka berdua rasakan. Ia berusaha menenangkan Tsunade.
Sementara itu, para ajudan-ajudan Jiraiya terlihat sedang berduka. Mereka berdiri seraya menundukkan kepala. Para petinggi yang datang siang itu pun sama-sama berduka karena kehilangan pimpinan mereka. Dan tentu saja mereka semua menjadi khawatir akan masa depan perusahaan dan tentunya karir mereka sendiri.
[]=[]=[]
Hidup itu penuh akan kejutan. Kejutan sendiri memiliki beragam jenis. Ada kejutan yang bersifat membahagiakan dan ada juga yang bersifat menyedihkan. Kematian orang yang di sayang tanpa di duga merupakan sebuah kejutan menyedihkan.
Entah sekuat apapun kau mencoba menghindari kematian, kematian itu sendiri akan menghampirimu dengan berbagai cara yang tak pernah kau bayangkan. Begitulah cara kerjanya. Mereka yang telah ditakdirkan untuk mati suatu saat, tidak akan pernah bisa mengubah takdir itu.
[]=[]=[]
Hari Senin, beberapa orang mengatakan bahwa itu hari yang sangat buruk untuk beraktivitas. Mereka bilang hari Senin adalah hari yang menyebalkan sebab merupakan hari di mana menjadi akhir dari pekan yang santai dan menjadi awal penderitaan selama 5 atau 6 hari ke depan. Hari ini pun menjadi hari pemakaman Jiraiya, seorang kakek, ayah, suami, serta pimpinan tertinggi sebuah perusahaan penerbangan komersial terbesar di Jepang sekaligus investor terbesar di Konoha.
Hampir semua pimpinan Instansi pemerintahan, perusahaan di kota, pegawai-pegawai Uzumaki Enterprise, dan bahkan siswa-siswi SMAK kelas 10-A—Teman sekelas Naruto datang menghadiri pemakaman itu.
Cuaca mendung di hari itu layaknya menjadi tanda bahwa bumi pun berduka atas meninggalnya Jiraiya. Pemakaman hari itu memang telah selesai dan tinggal menunggu semua hadirin untuk pulang. Di dekat makam, terlihat keluarga Uzumaki sedang berdiri sambil melihat liang lahat Jiraiya. Mereka dikelilingi oleh ajudan-ajudan Jiraiya yang kini tidak lagi memiliki tuan untuk dilayani. Namun itu tak lama sebab sebentar lagi mereka harus melayani tuan yang baru, Uzumaki Naruto. Setidaknya itulah yang tertulis di kontrak kerja mereka.
Teman-teman sekelas Naruto mendatanginya. Mereka ingin mengucapkan ucapan duka cita secara langsung. Sebagai pembukaan, Sasuke lah yang pertama mendatangi laki-laki berambut pirang yang sedang berduka itu.
"Naruto. Aku turut berduka."
Tak ada senyuman yang keluar. Ia hanya mengangguk. Sikapnya hari itu benar-benar berbeda dengan sikapnya yang biasa.
Tak berhenti hanya mengucapkan ucapan duka cita. Sasuke pun turut memeluk Naruto dengan pelukan sahabat untuk menenangkannya. Itu pun diikuti oleh teman-teman laki-lakinya yang lain seperti Sai, Shikamaru, Shino, Choji, Kiba dan yang lainnya.
Setelah para lelaki selesai, giliran para perempuan. Yang memimpin adalah Sakura. "Naruto. Yang tabah ya. Aku yakin kau pasti kuat. Sebagai ketua kelas, saya minta maaf karena tidak bisa mengumpulkan semua murid."
Ya, tidak semua murid kelas 10-A itu hadir saat itu. Contohnya saja Hinata yang tidak datang untuk berjaga-jaga timbulnya masalah yang akan berdampak pada rahasia perjodohan Naruto dan Hinata
Sekilas, Naruto mendapati Itachi tengah berbicara dengan neneknya. Entah apa yang mereka bicarakan, itu terlihat sangat serius hingga akhirnya Itachi pergi meninggalkannya.
[]=[]=[]
Kepulangan Naruto ke rumahnya di sambut oleh Hinata yang telah menunggunya. Wajahnya terlihat kecewa karena tidak bisa turut hadir dalam pemakaman itu. Tapi ia tidak menyesalinya sebab itu demi kebaikan mereka sendiri. Walaupun pada akhirnya rahasia ini pun akan tetap ketahuan apabila Naruto telah menjabat sebagai direktur Uzumaki Enterprise.
"Maaf Naruto. Aku tidak bisa menghadiri pemakaman kakekmu." Ia benar-benar menundukkan kepala karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Lagi pula tadi cukup banyak teman kelas yang datang." Naruto berusaha memberikan senyuman ramah. Namun senyuman yang bertentangan dengan hati tidak akan sebaik senyuman ikhlas.
"Sebaiknya kamu makan dulu. Dari pagi tadi kamu belum makan apa-apa."
"Tidak usah. Aku sedang tidak selera. Aku mau menenangkan pikiran di kamar."
Hinata memang tidak punya kuasa untuk memaksa Naruto melakukan apa yang ia inginkan. Ia hanya bisa membiarkannya begitu saja selama tubuhnya tidak terancam karena kesedihannya itu.
Sore harinya, saat itu Hinata sedang belajar di ruang tamu. Ia merasa tidak nyaman belajar di kamar sebab AC-nya sedang rusak. Ketika sedang fokus dalam mengerjakan tugas sekolah, tiba-tiba saja ia mendengar suara kaca yang pecah. Parahnya lagi itu dari kamar Naruto.
Seketika, Hinata pun berlari menuju kamar Naruto untuk memastikan keadaan. Ia mencoba membuka pintu, namun pintu itu terkunci. Ia mengetuk-ketuk pintu itu berkali-kali sambil memanggil-manggil namanya. "Naruto! Naruto! Ada apa! Naruto!"
"Pergilah Hinata!" Gertakan itu cukup kuat sehingga membuat Hinata terdiam seketika. "Biarkan aku sendiri." Perkataannya barusan itu terdengar lebih lembut. "Pergilah! Biarkan aku sendiri sekarang." Perkataan terakhir itu terdengar seperti Naruto hendak menangis.
"Kumohon Naruto. Jangan seperti itu. Apa yang kau lakukan di dalam." Hinata mencoba mendorong pintu tersebut. Akhirnya ia menyadari bahwa sebenarnya pintu itu tidak di kunci. Melainkan hanya ada sebuah meja yang menghalanginya. Dengan sedikit dorongan kuat, Hinata berhasil membuka pintu itu perlahan dan mendapati kamar Naruto sedang berantakan.
Kala itu, ia bisa melihat Naruto sedang duduk di pojok ruangan dengan 2 buah botol minuman keras yang sudah kosong. Selain itu, ada 1 lagi botol namun dalam kondisi pecah di dekat jendela. "Apa yang kau lakukan. Kenapa kau minum minuman itu?" Hinata syok melihat orang yang cukup dekat dengannya itu.
"Bukan urusanmu." Naruto menyandarkan kepalanya pada tembok. Ia benar-benar sedih atas kematian kakeknya itu. Terlebih lagi, menjelang detik-detik terakhir sang kakek hidup, ia tidak bisa membuat sebuah kenangan indah bersamanya. "Maafkan aku kek, karena sempat membencimu." Air matanya keluar akibat ratapannya itu.
Naruto terlihat mengeluarkan sesuatu dari sebuah kotak peti. Itu merupakan bir ke empat yang hendak ia minum. "Sudah cukup! Minuman itu seharusnya tidak kau minum dalam jumlah banyak seperti itu." Hinata berteriak kasar. Sebuah teriakan itu tidak pernah dikeluarkan oleh Hinata. Ia mendekati Naruto lalu mengambil botol bir itu dari tangan Naruto dengan paksa. Karena dalam kondisi mabuk, Naruto tak mampu mengambil kembali botol itu. Bahkan ia sudah tidak sanggup untuk berdiri.
"Kembalikan, Hinata!"
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus."
"Kembalikan!" terjadi sebuah pertengkaran kecil antara Hinata dan Naruto yang ingin mendapatkan botol birnya kembali. Usaha perebutan itu membuat isinya tumpah ke mana-mana dan membasahi pakaian Hinata.
"Tidak! Sudah cukup! Kau sudah mabuk cukup berat hanya dengan 3 botol. Kamu pikir aku akan menyerahkan botol keempat ini begitu saja."
Naruto terlihat menyerah. Namun ketika Hinata lengah, Naruto menyerangnya hingga terjatuh ke lantai. Karena jatuh, bir yang ia pegang itu tumpah ke wajahnya. Beberapa mililiter bir tersebut sepertinya masuk ke dalam mulutnya. Meski hanya sedikit, itu sudah membuat Hinata menjadi setengah sadar. Karena masih sempat berpikir bahwa bir itu berbahaya, Hinata pun membuangnya selama kesadarannya masih ada. Lemparannya itu tidak cukup bagus, namun berhasil keluar dari jendela kamar Naruto. Namun itulah yang tergawat.
"Ini gawat!" Ia ingin mengambil bir itu dan menyembunyikannya agar tidak menimbulkan masalah bagi Naruto. Tapi kepalanya terasa berkunang-kunang dan membuatnya kesulitan melihat jalan. Ia pun memasrahkannya dan memutuskan untuk membawa Naruto ke kasur.
Memang cukup sulit. Namun ia tidak bisa membiarkan Naruto tertidur dilantai seperti itu. Apalagi ada pecahan-pecahan beling di dekatnya. Karena sudah tidak kuat, ia pun membuang Naruto ke atas kasur dengan seluruh tenaga yang masih bisa ia kendalikan.
Ketika ia merasa tugasnya telah selesai, tiba-tiba saja ia merasakan adanya cairan hangat yang menjulur di tangannya. Warna merah itu membuat Hinata sadar bahwa ada sebuah beling yang menancap di lengannya. Cukup besar dan membuatnya tidak berani untuk mencabutnya.
Ia berencana untuk ke kamar dan mengambil ponsel agar bisa menghubungi nenek Naruto. Namun, entah mengapa ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke kasur Naruto. Ia sudah tidak kuat lagi berjalan. Efek dari bir itu benar-benar kuat. Apalagi setelah ia menyadari bahwa logo pada botol yang tanpa sengaja diteguknya itu berbeda dari yang lain. Efek alkohol yang memabukkannya itu pun telah membuatnya tidak merasakan sakit akibat beling yang tertancap di lengannya.
Hinata menatap Naruto yang kala itu sudah tertidur. "Dasar Naruto bodoh! Kali ini kau yang membuatku terluka." Hinata pun menutup matanya perlahan dan akhirnya tertidur akibat efek alkohol itu.
[]=[]=[]
Sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, Naruto berusaha bangun dari posisi tidurnya. Namun, ia merasakan sesuatu yang basah di tangannya. Ketika ia mencoba mengangkatnya, ia terkejut ketika melihat tangannya itu berdarah. Ia sempat panik. Namun ia sama sekali tidak merasakan sakit dan akhirnya tersadar bahwa itu bukanlah darahnya. Ia teringat sesuatu. Mengenai pertengkarannya dengan Hinata. Ia memang bukan pemabuk. Namun sekali mabuk, ia masih tetap bisa ingat apa yang telah ia lalui selama dipengaruhi alkohol itu.
Satu hal yang ia ingat sebelum ia pingsan adalah, ia mendorong tubuh Hinata. Ia juga melihat bir itu tumpah ke wajahnya. Selain itu, ia juga sadar bahwa ia menghantam kaki Hinata tepat dikepalanya sehingga ia pingsan. Setidaknya itulah yang terjadi mengapa Naruto bisa tiba-tiba tertidur. Hinata yang kala itu setengah sadar karena pengaruh miras tidak menyadarinya sama sekali.
Ia melihat ke arah Hinata. Hal yang pertama kali ia sadari adalah lengan Hinata yang berdarah dan terdapat beling yang menancap. "Sial. Apa dia terkena beling saat kudorong tadi?" Lalu tiba-tiba Naruto menyadari satu hal, seharusnya ia pingsan di lantai. Tapi kalau saat ini ia ada di kasur, itu artinya Hinata telah berjuang keras untuk membawanya ke sini. Ia juga melihat bercak-bercak darah di lantai yang sepertinya ditinggalkan Hinata. "Cih! Dasar ceroboh. Kau bisa mati kalau luka itu tidak cepat-cepat di obati. Dan lagi, kau memenuhi sepertiga kasurku dengan darah."
Naruto melihat jam. Saat itu sudah malam dan setidaknya sudah jam 11 malam. Mungkin biasanya kalau orang mabuk pasti akan terbangun keesokan harinya. Namun bagi Naruto, ia bisa dengan cepat mendapatkan kesadarannya kembali dengan hanya tidur sebentar. Memang tubuhnya itu unik.
Naruto berdiri. Meski masih terasa pusing, tapi ia sudah bisa mengendalikan tubuhnya seperti biasa. Ia memutuskan untuk mencari kotak P3K untuk mengobati luka Hinata. Bagaimanapun, luka seperti itu masih masuk kategori aman untuk diobati oleh orang amatir sepertinya.
Begitu kembali dengan kotak P3Knya, ia mengambil gunting dan menggunting lengan pakaian yang menutupi luka tersebut. Ia tidak peduli apakah itu baju kesayangannya atau apa. Dengan uang yang ia miliki, seharusnya ia bisa membeli lebih dari satu kontainer pakaian seperti itu. Meski uang bulanannya dipotong agar bisa hidup mandiri, tapi sekarang ia sudah menjadi satu-satunya calon penerus perusahaan. Meskipun ia sama sekali tidak berniat untuk menjadi direktur perusahaan itu karena menurutnya pasti akan membosankan. Tentu saja pikirannya masih seperti itu. Bagaimanapun, Naruto memang masih berstatus pelajar SMA kelas 10.
Dengan hati-hati, ia menarik beling itu. Gerakan yang harus ia lakukan untuk mencabut beling itu dengan aman adalah menariknya tanpa membuat gerakan ke kiri, kanan, atas, ataupun bawah sebab itu hanya akan membuat lukanya semakin besar. Cara terbaik adalah langsung menariknya keluar namun dengan hati-hati agar darah Hinata tidak muncrat.
Dengan satu tarikan nafas, beling itu pun sudah lepas dari tubuh Hinata. Darah segar pun mengalir karena penghambatnya telah tidak ada. Dengan cepat Naruto mengambil alkohol dan menyiramkannya langsung ke lengan Hinata. Ia tidak peduli dengan kasurnya yang menjadi basah karena siraman alkohol pensterilan luka itu.
Dengan pengetahuan yang ia dapat sewaktu menjadi anggota palang merah remaja sewaktu SMP bersama Sasuke. Ia bertindak layaknya seorang profesional untuk menghentikan pendarahan sekaligus membalut luka tersebut. 20 menit berlalu dan akhirnya penanganan luka Hinata telah selesai.
Awalnya ia berencana untuk membawa Hinata ke dokter. Namun kondisi mereka berdua saat ini tentu saja tidak memungkinkan untuk pergi keluar rumah. Baju Hinata basah tersiram miras, dan tentu saja Naruto masih belum benar-benar sadar.
Melihat kondisi pakaian Hinata yang basah memang membuat Naruto ingin menggantinya. Namun bagaimanapun ia tidak bisa melakukan itu. Meskipun status mereka adalah suami istri yang sah. Namun, ia masih merasa belum pantas meski hanya sekedar mengganti pakaian Hinata. Tetapi, ia tidak bisa membiarkan kondisi Hinata yang seperti itu. Akhirnya setelah menimbang-nimbang pikiran dalam waktu yang lama, ia pun memutuskan untuk melepaskan pakaian Hinata.
Semua bermula dari Naruto menatap dan mempelajari pakaian Hinata. Setidaknya ia habiskan 30 detik untuk mengamati jenis, bentuk, dan cara melepas pakaian tersebut. Kemudian ia mengambil sarung guling dan memakainya sebagai penutup mata. Tentu saja, dengan cara ini ia bisa menghindari kontak mata dengan tubuh Hinata. Semua berjalan lancar. Tak ada kesulitan berarti selama ia melepaskan pakaian milik Hinata.
"Maaf Hinata. Tidak ada cara lain. Kalau kau mau marah silakan."
Setidaknya pakaian luar sudah berhasil ia lepaskan. Ia tidak perlu melepas pakaian dalam karena itu tidak pantas untuk dilakukan olehnya. "Sekarang tinggal menutupi tubuh Hinata dengan selimut agar dia tidak kedinginan." Naruto mencoba meraba-raba kasur dengan mata tertutup. Namun ia tidak bisa menemukan apa yang ia cari. Seketika ia panik. Ia tidak bisa asal meraba-raba setiap bagian kasur karena ditakutkan tangannya akan menyentuh Hinata.
"Sial! Tidak ada cara lain." Naruto sedikit membuka penutup mata itu untuk mencari keberadaan selimut yang seharusnya sudah ia siapkan di dekatnya. Namun ia tidak bisa menemukan apa-apa di atas kasur. "Bodoh amat!" Naruto melepas penutup matanya dan dengan segenap jiwa raganya, ia mencari selimut itu sambil menghindari kontak mata dengan tubuh Hinata.
"Di mana sih. Kok tiba-tiba hilang?" Ia melihat setiap sudut kasur, membolak-balikan bantal, dan bahkan melihat ke sekitar. Namun ia tidak bisa menemukan selimut itu. tiba-tiba saja kakinya menyentuh sesuatu. Sesuatu yang lembut. Kelembutan itu membuatnya cukup terkejut dan juga senang. Ya, selimut itu ada di lantai. Entah mengapa bisa jatuh, tapi ia harus lebih teliti dalam mencari sesuatu. Bagaimana mungkin ia tidak mencoba mengecek di lantai.
Naruto menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat. Ia sedang mempersiapkan diri untuk segera menutup tubuh Hinata dengan selimut. Untuk melakukan itu, ia terpaksa harus melihat posisi tubuh dan juga mengatur agar selimut itu benar-benar menutupi Hinata. Dan ketika hembusan berikutnya dikeluarkan dengan cepat ia berbalik dan menggelar selimut itu di atas tubuh Hinata. Namun, ia melihat sesuatu yang benar-benar menarik perhatiannya. Sesuatu itu membuatnya tercengang dan memaksanya untuk melihat lebih dekat.
Sebuah bekas luka yang panjang terdapat pada pundak Hinata. Entah mengapa luka itu benar-benar menarik perhatiannya. Dan tiba-tiba saja kepalanya sakit. Sebuah kenangan masa kecil pun kembali muncul sekilas. Kali ini sangat samar dan hampir susah untuk diingat kembali oleh Naruto. "Kenapa rasa sakit ini muncul lagi. Benar-benar menyebalkan."
Naruto menyelesaikan tugas terakhirnya: menutup tubuh Hinata dengan selimut. Tugas itu selesai dengan sempurna. Namun karena rasa sakit akibat ingatan masa lalu yang teringat kembali, tubuh Naruto menjadi lemas. Ia duduk cukup lama di pinggir kasur untuk berusaha mengingat potongan ingatan masa lalu yang samar itu.
Setelah menyerah karena sama sekali tidak mendapat gambaran yang jelas, Naruto membuka laci dan menuliskan sesuatu di atas secarik kertas. Ia menempelkan kertas berisi pesan itu di tangan Hinata dengan bantuan perekat. Setelah itu, Naruto pun berjalan menuju pintu dan mematikan lampu. "Selamat malam, Hinata." Ia meninggalkannya setelah tugas-tugasnya berakhir.
[]=[]=[]
Hari ini untuk pertama kalinya bagi Hinata bangun kesiangan. Ketika terbangun, hanya kebingungan saja yang melanda pikirannya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Mengapa saat terbangun, ia bisa berada di kamar Naruto dengan keadaan hanya memakai dalaman bahkan lengannya sedang diperban.
Terlebih lagi, ia mencium badannya sendiri. Aroma alkohol itu benar-benar menyengat. Aroma itu pun memicu ingatannya mengenai kejadian semalam. Sekarang beberapa kebingungannya telah hilang. Namun meskipun begitu, ia masih tidak mengerti, bagaimana bisa pakaiannya telah tanggal.
Ia menyadari ada secarik kertas yang tertempel di tangannya. Ia mengambil kertas itu dan mulai membaca pesan yang terdapat pada kertas tersebut. "Aku minta maaf jika aku berbuat kasar semalam dan akhirnya membuatmu meneguk bir itu. Kenapa aku bisa ingat? Itu kelebihanku. Dan ngomong-ngomong aku juga minta maaf sudah melepas pakaianmu. Aku tidak bisa membiarkanmu tertidur dengan pakaian basah seperti itu. Tapi jangan khawatir. Aku menutup mataku saat melakukannya. Mengenai luka di lenganmu itu, aku sudah mengobatinya. Tapi untuk lebih lanjut, siang ini sebaiknya kita pergi ke dokter. Tambahan : Aku meminjam selimutmu. Tambahan lagi: Jangan pernah ungkit masalah ini. Aku benar-benar malu."
Hinata memungut pakaiannya yang kotor itu. Pakaian itu sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Ia juga cukup kaget ketika melihat lengan dari pakaiannya itu digunting. Ia tidak bisa marah terutama setelah mengetahui bahwa Naruto telah mengobati lukanya. Ia mengambil selimut dan mengenakannya untuk menutupi tubuhnya sebab ia berencana untuk ke kamarnya.
Letak kamarnya dan kamar Naruto memang tidak jauh. Bahkan seharusnya ia tidak memerlukan selimut itu. Namun ia memakainya hanya untuk berjaga-jaga siapa tahu ia bertemu Naruto di tengah perjalanan menuju kamarnya.
Semua berjalan lancar, ia berhasil tiba di kamarnya. Setelah mendapatkan handuk dan pakaian ganti dari dalam lemarinya, Hinata pergi menuju kamar mandi. Kala melewati ruang tamu, ia melihat Naruto sedang berbaring di sofa dengan memakai selimutnya. Ia terlihat tidur dengan lelap tanpa terganggu sedikitpun meski jam telah menunjukkan pukul 10. Ia hanya menatapnya sebentar lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi.
[]=[]=[]
Sehabis mandi, Hinata mempersiapkan makan siang. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit baginya untuk membuat makan siang untuk dirinya dan juga Naruto. Menyadari bahwa Naruto masih tertidur, ia berniat untuk membangunkannya. Bagaimanapun juga, dari kemarin siang hingga siang ini ia sama sekali tidak memasukkan nutrisi ke dalam tubuhnya.
Ketika dibangunkan, Naruto masih merasakan pusing di kepalanya. Namun bukan karena pengaruh alkohol. Melainkan sebuah ingatan masa lalu yang tiba-tiba saja muncul.
"Ayo kita makan dulu. Dari kemarin kamu belum makan apa-apa."
"Baik." Dengan dibantu oleh Hinata, mereka berdua berjalan menuju dapur.
Ketika telah berada di meja makan, Hinata mengambilkan nasi dan lauk untuk Naruto. Mereka menyantap makan siang itu bersama. Ketika itu pula, Hinata mengatakan sesuatu.
"Naruto. Terima kasih. Kamu sudah mengobati lukaku semalam."
Naruto tiba-tiba berhenti makan. "Luka?" tatapan kebingungan Naruto itu malah balik membuat Hinata kebingungan.
"Kamu tidak ingat?"
Naruto hanya membalasnya dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Hinata mengangkat lengan bajunya dan menunjukkan luka yang telah diperban itu. Tiba-tiba saja setelah melihat perban itu, Naruto menjadi ingat apa yang telah ia lakukan semalam. Tiba-tiba saja semburat malu terlihat di wajahnya. "Ahh. Sebenarnya aku ingin sekali melupakan hal itu. Dan lagi, sesuatu yang kulihat semalam benar-benar mengganggu pikiranku."
Tiba-tiba saja semburat malu juga terlihat di wajah Hinata. Terlebih lagi, ia terlihat menutupi anggota tubuh yang menjadi aset penting perempuan itu dengan kedua tangannya. "A-Apa saja yang ka-kamu lihat, Na-Naruto?"
Naruto tiba-tiba menyadari satu hal. Kalimat terakhir yang ia lempar itu benar-benar ambigu. "T-Tidak! Bukan 'itu' yang mengganggu pikiranku. Aku bersumpah!"
"L-Lalu apa yang kau lihat?"
"Bekas luka di pundakmu itu. Entah mengapa aku menjadi penasaran dan sampai sekarang masih mengganggu pikiranku."
"Bekas luka." Hinata terlihat kaget. Sepertinya ia benar-benar salah paham. "Lu-luka itu aku dapat sewaktu kecil." Saking paniknya, awalnya Hinata menjadi sedikit susah menjawab.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan luka itu?"
Hinata terdiam. Ia sepertinya tidak ingin menceritakan masalah luka itu dengan Naruto.
"Ada apa? Kau tidak mau menceritakannya."
Hinata mengangguk.
Naruto menghembuskan nafas kecewa. "Baiklah. Aku tidak akan membahas soal luka itu lagi." Ia memutuskan untuk kembali memakan makannya dan menghentikan pembicaraan saat itu juga.
"Maaf Naruto. Aku tidak bisa menceritakan soal luka ini padamu." Hinata menunduk dan memakan makanannya.
Suasana menjadi sunyi saat itu juga. Keduanya benar-benar mengeluarkan aura rasa bersalah.
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
Author Note :
Kuharap kalian masih menunggu chapter 9 ini meskipun sudah tahu apa yang akan terjadi. Pengorbanan itu penting untuk meraih tujuan utama dan mengubah situasi. Saya harap kalian tetap memberikan tanggapan positif mengenai alur kali ini.
Oke, sekarang mari bahas review yang masuk.
Kurotsuki Makito = Memang sih author senior sudah pada pensiun. setiap tahun jumlah author makin berkurang ditandai dengan semakin minimnya jumlah fanfiction yang di update dan di publish. Namun saya mersa perbandingan 1:100 itu cukup berlebihan. Suatu hari saya pernah melihat beberapa cerita-cerita baru yang di upload di hari yang sama. Ya meskipun kebanyakan dari mereka adalah author baru yang berasal dari kalangan reader yang kepincut ingin membuat sebuah mahakarya.
Ryuuack = Iya. Banyak kalangan pria lebih suka fanfic berbau lemon. Selain itu, genre Adventure pun lebih di sukai karena kebanyakan fic seperti itu menampilkan adegan-adegan yang menegangkan dari pertarungan. Hanya saja, untuk membuat cerita bergenre adventure dibutuhkan pemahaman bahasa yang baik. Soalnya, kalian harus mendeskripsikan adegan pertarungan dengan kata-kata berkelas supaya hasilnya menarik dan mudah dipahami alur pertarungan tersebut. Di sisi lain, genre romance biasanya santai dan hanya menampilkan kemesraan dari tokohnya saja. Namun semua itu akan berbeda jika Romance telah dipadukan dengan Drama, atau Adventure.
.980 = Tentu saya tidak bakal patah semangat. Review itu hanya sekedar tanggapan pembaca saja. Namun berbeda dengan Fav&Follow yang merupakan sebuah penghargaan tertinggi seorang Reader. Para senior yang pernah berbicara pada saya mengatakan bahwa itu jauh lebih penting dari Review. Saya sudah 3 tahun berjibaku dengan dunia . Mungkin memang ada ceritaku yang hiatus. Tapi saya tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.
BlackLoserJr = hehe... Kita tunggu saja jalan cerita di chapter 10. Btw, saya belum bisa memberitahukan posisi Danzo dalam cerita ini. Bisa jadi dia akan jadi Pro atau Anta. Namun bisa juga pendukung. Kita tunggu saja ya. Biarkan otak saya yang menentukan alurnya.
NN (Guest) = Penggemar fanfiction sudha seharusnya membaca dari situs ini. Situs resmi yang bisa dibilang cukup nyaman karena di situs ini, semuanya sama. Para penggemar tulisan fanfiction. Kalo di wattpad, Fanfiction hanya menjadi sebuah kategori kecil yang didalamnya bercampur aduk antara cerita-cerita ari film-film terkenal lainnya. Dan menurut saya. Sekali lagi menurut saya Fanfiction di wattpad cukup membuat saya tertanggu sebab ada begitu banyak fanfiction-fanfiction berbau korea dengan judul-judul yang aneh. Sejauh yang saya lihat dari sinopsis mereka, beberapa dari mereka masih memiliki tulisan yang masih acak-acakkan. Saya rasa kalian juga pasti tahu penyebabnya. Berbeda dengan jenis Fanfiction lain seperti Naruto. Kebanyakan penulis fanfiction Naruto di wattpad memang berasal dari . Ya meskipun saya perlu ingatkan. "Berhati-hatilah saat membaca cerita di . Begitu berlimpah ruah cerita berbau lemon dan LGBT. Bagi kalian yang masih di bawah umur (kurang dari 18) jangan pernah mencari ff yang memiliki rate M. Namun bagi kalian yang sudah memasuki umur aman dan memang menyukai cerita seperti itu, silakan dinikmati. Tapi ingat, dosa lu tidak ditanggung oleh authornya. Aku yakin setiap author cerita lemon akan memberikan peringatan seperti itu."
Sepertinya saya terlalu banyak berbicara. Maaf kalau ada kata yang membuat telinga dan hati kalian menjadi tidak tenang. Jadi sekian pembahasan mengenai Review yang masuk. Maaf juga kalau ada pembahasan yang tidak sesuai dengan isi review.
Untuk yang terakhir, saya akan menyampaikan bahwa cerita ini tidak hanya memiliki satu atau 2 genre. Meskipun genre utamanya adalah Romance (Ya meskipun ceritanya gak romantis amat.) cerita ini juga akan memiliki beberapa genre pendukung lainnya. Tapu kemungkinan ngak akan ada genre yang sampai membuat kalian menangis tersedu-sedu.
