:
Taufiq879 Present
:
Destined To Live With You
:
Bab 10
Hari Yang Akan Tiba
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Flasback
Beberapa jam setelah Tsunade bertemu dengan Itachi di pemakaman.
Sore itu, para pekerja sedang sibuk menyiapkan ruang rapat yang berada di vila keluarga Uzumaki. Beberapa tamu penting akan datang sehingga Tsunade harus mempersiapkan semua dengan rapi meski keadaannya saat ini masih berduka.
Seseorang membuka pintu ruangan tersebut.
"Nyonya. Kepala kepolisian telah tiba."
"Arahkan mereka menuju ruangan ini."
"Baik."
Seorang yang berada di dalam ruangan itu mendekati Tsunade. "Nyonya. Bagaimana dengan orang-orang kita. Apa tidak perlu kita undang?"
"Aku tidak akan mengundang mereka. Aku ingin mencegah informasi dalam pertemuan ini bocor. Dan satu hal lagi Arashi, pastikan semua Ajudan dapat menghadiri pertemuan kali ini."
Yang dituju itu pun merapatkan kakinya dan berdiri tegap. "Siap!"
Pintu pun di buka dengan lebar. Dari balik pintu itu, terlihat beberapa orang dari kepolisian. Uchiha Fugaku yang dikawal para kepolisian termasuk putra pertamanya, Uchiha Itachi.
"Selamat datang, Tuan Fugaku," sambut Tsunade.
"Kita akan segera memulai pembicaraan penting ini. Saya tidak ingin basa-basi lagi."
Para Ajudan mengarahkan kepala Kepolisian Konoha itu ke meja rapat. Hanya diperlukan beberapa detik untuk membuat semua orang di ruangan itu berada di posisinya.
Itachi mengeluarkan sebuah map yang berisi beberapa dokumen lalu menyerahkannya pada Fugaku.
"Akan saya mulai." Ia membagikan dokumen-dokumen itu kepada Tsunade dan para Ajudannya. "Itu adalah kasus-kasus usaha pembunuhan yang pernah melibatkan tuan Jiraiya. Dan sejauh penyelidikan kami yang bermula semenjak kematian pimpinan perusahaan Uzumaki Enterprise yang sebelumnya, Minato. Kami menemukan beberapa keganjilan dalam kematian beliau."
Itachi turut membagikan dokumen-dokumen lain. "Berdasarkan hasil penyelidikan yang terpapar di dokumen itu, kecelakaan yang menimpa tuan Minato, pimpinan sebelumnya bukanlah kebetulan. Hal itu sudah direncanakan dengan cukup matang dalam waktu yang lama. Saat menyelidiki mobil pelaku yang menabrak mobil milik tuan Minato, kami menemukan beberapa sidik jari orang-orang. Setelah kami tangkap dan interogasi, kami bisa yakin bahwa kecelakaan itu memang perbuatan orang yang ingin menghilangkan nyawa tuan Minato. Dan sepertinya, pembunuhan atas Tuan Jiraiya ini pun dilakukan oleh orang yang sama."
Tsunade terlihat terkejut mendengar perkataan itu. "J-Jadi. Siapa dalang dibalik ini semua."
"Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Sampai saat ini, dalang dibalik pembunuhan ini masih belum terungkap. Soalnya dalang dibalik kejadian ini tidak mengotori tangannya. Ia hanya membayar orang untuk melakukan rencananya."
"Jangan-jangan, orang dari pemerintahan yang merencanakan ini semua," ucap ajudan bernama Hayate.
"Tidak. Kita tidak punya bukti cukup kuat. Benarkan?" kata kepala ajudan bernama Arashi.
"Benar. Meskipun pemerintah memang ingin memiliki perusahaan ini, mereka pasti tidak akan melakukan itu," ucap Itachi.
"Itu tidak sepenuhnya benar, Itachi." Bantah kepala kepolisian, Fugaku.
"Apa maksud Anda?" tanya Tsunade.
"Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Pelaku tentu tidak mengotori tangannya sendiri. Maka dari itu ia menyewa orang untuk melancarkan serangannya. Bisa jadi pemerintah juga melakukan hal yang sama. Asal kalian tahu, banyak orang di pemerintahan yang terkenal licik. Mereka ini biasanya sering memperkaya diri mereka sendiri. Aku yakin, ada seseorang yang akan sangat diuntungkan apabila perusahaan Uzumaki Enterprise jatuh ke tangan pemerintah," ucap Fugaku.
"Sepertinya Anda memang benar, tuan Fugaku. Selama ini kami juga sudah berjuang keras agar perusahaan ini tidak jatuh ke tangan pemerintah. Kami bahkan sampai menikahkan cucu kami hanya untuk situasi seperti ini."
"Persiapan Jiraiya bisa kukatakan cukup bagus. Ia tahu suatu hari nanti ia akan menghembuskan nafas terakhir. Dan untuk berjaga-jaga agar ia bisa tenang ketika meninggal saat Uzumaki Naruto masih berusia muda adalah dengan menikahkannya. Aku memang pernah membicarakan hal ini dengan Jiraiya. Jujur saja, sebagai ayah dari Sasuke yang merupakan sahabat Naruto, aku benar-benar tidak mengizinkan pernikahan seperti itu. Bagaimanapun, ia melakukan semua itu untuk perusahaannya."
"Aku baru tahu kalau si Naruto itu sudah menikah. Sasuke benar-benar tertinggal," ucap Itachi.
"Dalam beberapa hari lagi, berita mengenai cucu saya telah menikah akan tersebar seiring dengan diangkatnya ia menjadi direktur tertinggi perusahaan Uzumaki Enterprise. Naruto mungkin akan terancam putus sekolah. Hinata pun demikian. Ini benar-benar pengorbanan besar yang akan mereka berdua lakukan. Aku benar-benar merasa bersalah."
"Kita kembali ke pembahasan utama. Mengenai peristiwa tertabraknya mobil tuan Jiraiya di persimpangan jalan di wilayah 16. Para pelaku diduga mabuk minuman keras dan mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi. Namun, kalo kita melihat secara detail CCTV yang kebetulan menangkap kejadian itu, kita akan mengetahui bahwa mereka tidak sepenuhnya mabuk."
Seorang polisi mengeluarkan laptop dan menayangkan sebuah video pada semua orang.
Dari video itu, terlihat mobil yang dulu dinaiki Jiraiya sewaktu kecelakaan pertama. Ketika lampu telah berubah menjadi hijau, terlihat mobil itu berjalan perlahan. Namun tiba-tiba saja dari sisi kanan, sebuah mobil melaju dan melanggar lampu lalu lintas. Setelah itu video itu diperlambat. Bisa terlihat dengan jelas bahwa mobil itu tidak melaju dalam keadaan lurus. Mobil itu sedikit demi sedikit berbelok untuk menabrak mobil yang dinaiki Jiraiya. Tabrakan kuat pun tak terhindarkan. Sisi samping-kanan-belakang ringsek. Dan mobil yang menabrak itu terlihat mengalami kerusakan cukup parah di bagian depan. Dan setelah itu video itu pun berakhir.
"Dari video itu, kami berhasil mengidentifikasi bahwa pelaku sebenarnya tidak mengalami mabuk berat. Mereka masih sadar saat menjalankan aksinya. Dan karena hukum di negara kita mengatakan bahwa orang yang melakukan kejahatan dalam keadaan mabuk tidak bisa disalahkan. Hal itulah yang membuat mereka berpura-pura sedang mabuk. Namun sekarang, mereka sudah bisa tidur tenang di dalam penjara," ucap Itachi.
"Lalu bagaimana dengan kejadian yang baru saja terjadi ini?" ucap salah satu ajudan.
"Unit penyelidik kami masih belum menemukan petunjuk. Namun, aku yakin kalian juga merasakan beberapa kejanggalan."
"Benar. Sebagai salah satu ajudan tuan Jiraiya, saya merasa penyerangan kali ini benar-benar penuh pertanyaan. Salah satunya ialah bagaimana cara pelaku mengetahui bahwa tuan Jiraiya memang berada di ruangannya. Padahal kaca yang ada di ruang kerja beliau itu tidak tembus pandang dari luar."
"Itu salah satu kejanggalannya. Aku rasa ada yang memberitahu pelaku," ucap Fugaku.
"Jangan-jangan, ada orang dalam yang berkhianat," ucap Tsunade panik.
"Tenang dulu nyonya. Itu masih belum pasti. Bisa jadi pelaku memang telah mempelajari keseharian tuan Jiraiya. Lagi pula, saat itu tidak ada orang lain yang berada di sana kecuali saya, tuan muda, nona Hinata dan juga sekretaris beliau," ucap Arashi.
"Ini memang masih belum terbukti. Tapi aku yakin akan hal itu. Pasti ada pengkhianat dari perusahaan kita yang melaporkan gerak-gerik tuan Jiraiya. Karena mustahil pelaku mengetahui lokasi tuan Jiraiya berada," respons salah satu ajudan.
"Kami kepolisian akan menyelidikinya. Kalian fokuslah untuk mengatur pergantian direktur perusahaan."
"Akan kami lakukan, terima kasih atas bantuannya, Fugaku."
"Saya senang bisa membantu orang tua dari teman saya."
Para anggota kepolisian pun keluar. Rapat hari itu telah berakhir. Tsunade benar-benar dibuat pusing dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
"Terlalu banyak masalah tuk kuhadapi sendiri." Ia memanggil Arashi dengan suara lantang. "Arashi! Percepat persiapan pergantian direktur. Semakin lama kita tunda, maka perusahaan kita akan semakin cepat jatuh."
"Siap!"
Flasback Berakhir
[]=[]=[]
Hari demi hari telah berlalu. Kini sudah 3 hari semenjak meninggalnya Jiraiya. Kematiannya memang menjadi sebuah pukulan keras bagi keluarga Uzumaki dan juga keluarga besar Uzumaki Enterprise. Apalagi kematiannya itu telah direncanakan oleh seseorang dalam artian ia tewas karena di bunuh. Namun hari ini, keadaan keluarga yang ditinggalkannya sudah sedikit pulih. Tsunade, sebagai pengganti sementara telah dapat menjalani kesehariannya seperti biasa meskipun harus bergelut dengan kesibukan pasca kematian suaminya.
Untuk Naruto sendiri, kehilangan sosok kakek seperti Jiraiya benar-benar berdampak pada mentalnya. Hal yang ia rasakan saat kematian ayahnya pun kembali terulang di kematian kakeknya. Saat itu, ada kakeknya yang menenangkannya. Dan sekarang, ada Hinata di sisinya. Karena itu, keadaan mentalnya tidak bertambah buruk.
Hari ini Naruto memutuskan untuk sekolah. Ia tidak punya alasan untuk berdiam diri di rumah terlalu lama. Bagaimanapun juga, ujian kenaikan kelas hanya tinggal beberapa bulan lagi. Dan di musim dingin kali ini, ia harus mencurahkan semua perasaannya untuk belajar. Tapi kesampingkan dulu masalah naik atau tidaknya ia ke kelas 2. Saat ini dirinya sedang bingung. Sebagai satu-satunya pewaris perusahaan, ia sudah memenuhi persyaratan-persyaratan untuk mengambil alih perusahaan meskipun ia belum lulus SMA. Sementara ia sendiri pun tidak bisa menolak hal itu sebab ia telah ditakdirkan untuk memimpin perusahaan dan ada semacam janji tak terucapkan antara dirinya dan juga kakek-nenek serta kedua orang tuanya saat ia menerima pernikahannya dengan Hinata. Tanpa sadar saat ia menerima pernikahan itu, ia telah berjanji untuk menjadi penerus yang akan memimpin perusahaan.
Pagi itu ia sudah berada di sekolah. Karena sedang memikirkan masalah pergantian pemimpin dan juga dampaknya bagi kehidupannya kelak, ia terlihat sedang melamun dari luar.
"Ya ampun Naruto. Pagi-pagi begini kau sudah melamun. Lebih baik kau bantu teman-temanmu membersihkan kelas sana."
Suara itu adalah suara Sakura. Bukannya ia tidak mengerti keadaan Naruto yang baru bangkit dari duka. Ia hanya tidak ingin melihat teman sekelasnya terus hanyut dalam kesedihan dan kebimbangan pasca kehilangan seseorang.
"Sakura benar. Kau harusnya piket bersama kami, Naruto." Sasuke yang sedang menyapu di dekat mereka pun memberikan respons.
"Naruto. Aku memang tidak tahu perasaan seperti apa yang kau rasakan. Tapi kau tidak boleh lalai dari tugasmu. Bantulah yang lain untuk piket. Kalau tidak, aku terpaksa harus menarik 20 ribu darimu sebagai denda."
"Denda?" Naruto mengangkat kepalanya dan menatap Sakura penuh kebingungan.
"Peraturan baru wali kelas. '20 ribu adalah denda yang akan dibayar kepada bendahara kelas apabila ada yang tidak menjalankan tugas piket pagi dan siang.' Kira-kira begitu perkataannya kemarin," ucap Sakura.
"Cih! Pantas. Aku heran kenapa Sasuke dan Shikamaru hari ini terlihat rajin. Ternyata itu penyebabnya ya."
"Kalau kau sudah tahu, cepat kosongkan tempat sampah kelas," ucap Sasuke.
"Hufft! Padahal kita membayar mahal untuk bersekolah di sini. Tapi kenapa tugas bersih-bersih juga harus kita lakukan sih. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa orang dewasa mencari uang dengan cara seperti ini."
"Jangan mengeluh."
Naruto tiba-tiba mengeluarkan secarik kertas dengan tulisan 20 ribu. "Hari ini aku sedang banyak pikiran. Jadi lebih baik aku bayar denda saja." Ia menyerahkan uang itu pada Sakura dan mengalihkan perhatiannya dari dua orang itu dengan cara tidur.
"Oi Naruto. Aku menyuruhmu piket bukan tanpa tujuan!" Sakura sepertinya kecewa karena Naruto langsung memutuskan untuk membayar denda itu. "Ahh sudahlah. Selamat tidur!" Ia kesal dan memutuskan untuk meninggalkan Naruto.
Tak jauh dari tempat Naruto duduk, Hinata terlihat memandangi mereka. "Naruto pasti kepikiran soal itu. Sepertinya tidak akan lama lagi kami akan merayakan pesta lahirnya pemimpin baru perusahaan," batin Hinata. Karena sedang memikirkan sesuatu seraya melihat ke arah Naruto, Hinata tidak sadar bahwa ada seseorang yang mendekatinya dan hendak mengajaknya berbicara.
"Hinata! Kenapa kau memandangi Naruto terus?"
Sontak, perkataan itu membuatnya langsung tersadar dan melihat lawan bicaranya itu. "Ehh! Sakura." Ia panik. Ia takut bahwa Sakura akan memikirkan hal aneh terhadap sikapnya.
"Hmm. Aku tidak tahu kalau kau tipe pengagum diam-diam." Ekspresi Sakura saat itu bak seorang pemburu yang bangga setelah mendapat hasil buruan yang besar. Ditambah dengan adanya sedikit gaya untuk menyudutkan Hinata.
"A-Aku tidak. A-Aku tidak seperti itu." Ia benar-benar panik saat tahu bahwa Sakura telah memikirkan sesuatu yang aneh karena melihat sikapnya.
"Hmm. Jadi apa kau menyukai sahabat pacarku?" Ia menginterogasi Hinata dengan nada menggoda.
"Eng.. A-Aku... Aku..." Ia panik sampai-sampai ia kesulitan untuk berbicara. Tentu saja dalam situasi seperti ini ia tidak bisa asal bicara. "Kenapa... Kenapa aku malah jadi bingung. Kenapa aku tidak bisa berbohong. Aku juga tidak bisa jujur." Dirinya membatin dan mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang saat ini ia hadapi. Ia mencoba melirik ke arah Naruto. Namun-
"Kau melirik Naruto lagi kan? Ayo jujurlah, Hinata. Kau menyukainya kan?"
"Naruto... Tolong aku.. Siapa saja... tolong aku. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa." Ia masih membatin. Namun saat ini dirinya sampai berkeringat karena panik. Sementara itu, Naruto seharusnya bisa mendengar percakapannya dengan Sakura. Tapi ia malah tidak bergeming sedikit pun dari posisinya.
"Bicaralah. Katakan sesuatu Hinata. Jangan jadi orang yang payah. Apapun jawabanmu itu nanti pasti akan mempengaruhi langkahmu kedepan. Tapi kalau kau tidak jawab kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri." Dalam posisi seperti itu, Naruto ternyata sedang panik. Ia memang mendengar semua percakapan itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa sebab dalam skenario luar rumah, ia tidak punya hubungan apa-apa dengan Hinata. Kalau sampai ia berbicara dan membantu Hinata, tentu saja gadis berambut pink itu akan curiga. Jadi diam mungkin lebih baik meski Hinata harus menanggung semua kebingungan.
Tapi sepertinya Tuhan masih memihak Hinata. Sasuke yang saat itu berdiri di depan pintu kelas tiba-tiba memanggil Sakura.
"Sakura!" Setelah orang yang dipanggilnya berbalik. "Apa kau jadi mau pergi ke ruang BK bersamaku? Mumpung guru mata pelajaran hari ini agak telat."
"Iya. Tunggu sebentar." Ia kembali melihat ke arah Hinata yang masih tampak panik meski kepanikan yang dialaminya sedikit berkurang. "Akan kunanti jawabanmu. Sampai jumpa lagi, Hinata! Hehe!" Sakura pun menyusul Sasuke. Saat ini Hinata bisa bernafas lega.
"Sepertinya aku harus berterima kasih pada Sasuke." Hinata mengatakan itu dengan pelan. Namun meskipun pelan, Naruto masih bisa mendengar meski sedikit tidak jelas.
"Huh! Terima kasih, teme." Naruto juga bersyukur karena ada Sasuke yang tiba-tiba mengajak Sakura pergi. Namun keresahannya belum berakhir sebab kemungkinan Sakura akan bertanya lagi masih sangat besar. Karena hal itu, ia mulai mengetik sesuatu di ponselnya. Tak lama kemudian ponsel Hinata berdering.
"Jika Sakura bertanya lagi, katakan saja apa yang kau rasakan. Ingatlah. Jawaban 'iya' atau 'tidak' akan sangat berpengaruh. Katakan saja yang menurutmu terbaik."
Itulah pesan yang dikirimkan Naruto kepada Hinata. Membaca itu, Hinata benar-benar menjadi lebih tenang dan mulai memikirkan jawaban yang harus ia katakan.
[]=[]=[]
Setelah melalui beberapa jam untuk belajar, jam istirahat makan siang pun akhirnya datang juga. Wajah-wajah yang berseri-seri di siang hari itu menandakan bahwa para siswa sangat menikmati menit-menit mereka bisa lepas dari kekangan guru dan pelajaran. Dan layaknya sekolah-sekolah lainnya, kantin merupakan tempat terfavorit yang selalu dikunjungi saat jam istirahat.
Di jam istirahat yang panjang ini, Naruto terlihat tidak begitu bersemangat. Ia memang pergi ke kantin bersama teman-temannya. Namun ia tidak ikut dalam percakapan ataupun sekedar tertawa bersama mereka. Ia makan namun tak banyak. Dan setelah merasa tidak tahan dengan situasi kantin yang ramai dan ribut itu, Naruto pun memutuskan pergi meninggalkan teman-temannya.
Teman-temannya mengerti akan keadaan Naruto hari itu. Hanya saja mereka sedikit merasa kecewa karena pada akhirnya ia meninggalkan mereka. Padahal teman-temannya ingin membuatnya kembali ceria hari itu. Tetapi Naruto malah tidak ikut bergabung dalam pembicaraan-pembicaraan mereka. Ia diam dan terlihat seperti melamun. Bahkan ketika makan pun ia terlihat seperti melamun meskipun sebenarnya ia sedang memikirkan banyak hal saat itu dengan penuh kebimbangan—Galau.
Setelah meninggalkan kantin, ia berjalan dengan perlahan menuju kelas. Ia tiba di persimpangan lorong. Namun langkah kakinya terhenti kala mendengar nama Hinata dipanggil. Suara itu berasal dari lorong yang menuju kelasnya. Sementara itu, ia sendiri berada di lorong yang menuju kantin (Dalam kata lain, Naruto masih berada di luar gedung sekolah sebab kantin sekolah ini merupakan kantin semi terbuka yang artinya berada di luar gedung.)
Ia bersandar pada tembok dan mendengarkan percakapan antara Hinata dan Sakura—orang yang memanggil nama Hinata. Naruto menyadari sesuatu. Kalau Hinata dan Sakura bertemu dan memulai pembicaraan, pasti Sakura akan melanjutkan pembicaraan tadi pagi. Oleh karena itu ia memutuskan berhenti dan bersembunyi dari penglihatan mereka.
"Hinata, kau mau ke kantin?" tanya Sakura.
"Iya."
"Bareng yuk. Aku juga mau ke sana."
Dari kuantitas dan kualitas suara yang ia dengar semakin bertabah, bisa di pastikan bahwa mereka sedang mendekati belokan menuju lorong yang menuju kantin. Suara percakapan mereka terdengar semakin dekat. Bisa saja kalau Naruto berbelok maka ia langsung berhadapan dengan mereka berdua. Naruto bahkan bisa mendengar langkah kaki mereka dengan jelas.
"Hinata. Mengenai pembicaraan kita tadi pagi."
Tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti. Naruto yang saat ia hendak mengambil langkah untuk menghindari mereka pun membatalkan niatnya.
"Pembicaraan tadi pagi? Oh yang itu?"
"Hn. Mengenai perasaanmu pada Naruto."
Meskipun Hinata sudah menyiapkan jawaban dan juga mental untuk mengatakan apa yang ia pikirkan. Namun mendengar pertanyaan itu membuatnya tiba-tiba kesulitan dalam menjawab.
"Naruto. Haha. Aku tidak menyukainya kok. Aku memang...memang sering memperhatikannya, tapi itu karena hanya tertarik saja. Aku tidak menyukainya. Aku bahkan tidak begitu mengenalnya. Memang aku duduk tak jauh darinya. Tapi kami bahkan tidak pernah berbicara." Hinata bak orang lain saat mengatakan itu. Tingkah dan sikapnya benar-benar berubah saat mengatakan beberapa kalimat itu.
Kala itu, Naruto mencengkeram dadanya. "Sensasi apa ini. Memang sih aku yang menyuruhnya mengatakan apa yang ada di pikirannya. Tapi aku tidak menyangka itu jawabannya. Aku tidak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini." Ia membatin. Tak lama kemudian ia pergi kembali menuju kantin. "Aku rasa aku perlu membeli air."
"Aku tidak menyangka kalau ternyata kau bisa berbohong juga, Hinata."
"Berbohong. Maksudku aku berbohong tentang perasaanku?"
"Ya. Apalagi coba. Meski kau bisa berbohong, tapi kau tetap tidak pandai berbohong. Dari tingkahmu saat mengatakannya saja itu sudah terlihat sangat jelas kalau kau berbohong."
Hinata memasang wajah bersalah layaknya seorang penjahat yang sudah tidak bisa berkutik lagi setelah kedoknya diketahui. "Benar. A-Aku menyukainya."
"Hihi. Sepertinya dugaanku memang benar." Sakura menyentuh pundak Hinata. "Aku akan membantumu. Naruto itu orangnya tidak peka. Jadi mungkin kalau kau tidak agresif untuk mendekatinya, sampai lulus pun kau tidak akan menjadi siapa-siapanya."
"B-Begitu ya." Hinata memasang wajah terkejut yang dipaksakan. Dalam hatinya, "Aku memang bukan pacarnya. Tapi aku sudah ditingkat yang lebih jauh. Kalau Sakura tahu, reaksinya bakalan bagaimana ya?"
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita menuju kantin," ajak Sakura.
[]=[]=[]
Semua jadwal mata pelajaran hari ini telah selesai. Bel menjadi tanda bahwa proses belajar mengajar hari ini berakhir dan siswa diperbolehkan untuk pulang. Satu persatu siswa dari kelas 10-A mulai meninggalkan ruangan kelas. Keadaan sekolah pun mulai riuh.
Naruto kala itu masih di kelas. Tangannya terlihat sedang lincah mengetik sebuah pesan di ponselnya.
"Cepatlah. Teman-teman yang lain sudah menunggu di cafe itu." Itu adalah Sasuke yang sedang menunggu Naruto.
"Bentar. Aku baru mau kirim ke Hinata." Setelah terkirim, ia membuang ponselnya ke dalam tas lalu berdiri. "Lalu, siapa yang membuat rencana pertemuan mendadak ini?"
"Choji. Aku tidak tahu apa yang dia rencakan. Saat istirahat makan siang tadi, dia berkata mau mengadakan sebuah pertemuan sepulang sekolah di cafe dekat sini. Tapi dia bilang yang boleh datang hanya kita-kita saja. Aku bahkan sampai meminta Sakura untuk pulang naik taksi."
"Ya ampun. Merepotkan. Padahal kita hanya perkumpulan sebatas teman. Tapi kenapa sampai bisa ada pertemuan seperti ini. Ada-ada saja."
Naruto dan Sasuke akhirnya pergi meninggalkan kelas.
Sementara itu, di sebuah jalan yang menuju gerbang sekolah. Hinata yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti ketika ponselnya berbunyi.
"Hinata. Aku ada keperluan sore ini. Aku akan pergi bersama Sasuke dan teman-teman lainnya. Minta saja Hayate atau ajudan lainnya untuk menjemputmu. Kalau Hayate masih sibuk, minta saja Arashi menjemputmu. Aku yakin dia lagi tidak ada kerjaan sore ini."
Itu adalah pesan dari Naruto.
"Tapi, hari ini kan hampir semua Ajudan rumah dan kantor sedang sibuk. Tidak mungkin juga aku minta Arashi yang menjemputnya. Dia kan ketua para Ajudan. Dia pasti lebih sibuk. Naruto ini seenaknya saja." Hinata berbicara sendiri. "Naik taksi sajalah."
Ketika hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja sebuah tangan meraih pundaknya. Sontak Hinata terkejut dan langsung berbalik.
"Hai, Hinata." Sakura menyapanya dengan senyuman hangat.
"Oh Sakura, ada apa?"
"Kau naik angkutan umum kan untuk pulang?"
"Iya. Aku naik taksi."
"Sama-sama yuk. Hari ini Sasuke tidak bisa mengantarku pulang."
Sejenak Hinata berpikir. "Kurasa lebih baik pulang bersama dari pada sendiri," ucapnya setelah menimbang dampak yang akan terjadi. Tentu saja ia harus berhati-hati agar hubungannya dengan Naruto tidak diketahui.
"Kalau begitu. Ayo pulang," ajak Sakura bersemangat.
[]=[]=[]
Sementara itu, di sebuah cafe dekat sekolah.
"Heee! Jadi kau ulang tahun."
"Kupikir pertemuan apa."
"Merepotkan. Kenapa hal itu pun harus kau sembunyikan."
"Wah. Aku tak menyangka akan ditraktir Choji."
"Kau benar-benar mempermainkan kami. Aku pikir kita akan membahas sesuatu yang penting. Misalnya kau mendapat kisi-kisi untuk ujian semester."
"Hmm. Boleh juga. Jarang-jarang kita kumpul begini."
"Sampai berkata kita akan melakukan pertemuan di cafe ini. Aku tidak habis pikir. Untuk apa kau berkata seperti itu."
"Hehe. Ada beberapa alasan. Alasan khususnya adalah aku hanya ingin mentraktir orang-orang terdekatku saja. Makanya aku menyamarkannya dengan rencana pertemuan," kata Choji.
"Meskipun kau bilang begitu, setidaknya aku yakin setengah dari kelas kita sudah pada tahu kalau kau berulang tahun hari ini," ucap Shikamaru.
"Ahh. Tapi aku terkejut ketika tahu hari ini adalah ulang tahunmu," kata Naruto.
Tak lama kemudian, makanan dan minuman porsi pesta yang dipesan Choji pun berdatangan. Meja khusus yang mereka gunakan saat itu sudah dipenuhi oleh berbagai jenis makanan seperti yang tertera pada menu.
"Padahal bakal lebih asyik kalau kau merayakan ulang tahunmu di rumah. Tapi begini pun tidak masalah," Kiba terlihat sangat bersemangat. Ia bahkan hampir saja menjadi orang yang pertama menyentuh makanan-makanan itu jika saja Shino tidak menghentikannya.
"Apa kau tidak tahu sopan santun, Kiba? Choji belum menyuruh kita menyantap makanan-makanan itu. Lagi pula biarkan dia mengucapkan sepatah kata dahulu," kata Shino.
"M-Maaf."
"Eto. Apa ya... Mungkin... Terima kasih karena kalian sudah datang. Meskipun awalnya aku menyembunyikan maksud sebenarnya meminta kalian datang ke sini, tapi aku bersyukur karena karena kalian mau datang tanpa banyak bertanya. Lalu... Eng... Aku memang hanya mengundang kalian saja. Tapi tujuanku adalah untuk mempererat persahabatan kita. Jadi kuharap persahabatan ini bisa terus kita jaga hingga lulus. Ehh Kalau bisa sampai masing-masing dari kita menikah."
Satu persatu teman Choji pun menepuk tangan.
"Kau benar," ucap Kiba.
"Pidato yang tidak buruk," ucap Shino.
"Sampai menikah? Kupikir kita harusnya menjaga persahabatan ini sampai masing-masing dari kita mati," ucap Sai.
"Itu tidak mungkin. Akan sangat merepotkan kalau kita masih sering bertemu dan berkumpul seperti ini ketika sudah menikah. Dan lebih merepotkan lagi jika saat berkumpul seperti ini, kita mengajak istri-istri kita," kata Shikamaru.
"Dia benar. Jika sudah menikah, kita tidak akan bisa bebas berkumpul seperti ini. Dan lagi jika kita berkumpul bersama istri-istri kita kelak, kita tidak akan bisa bebas." kata Sasuke.
"Aku setuju dengan pemikiranmu, Sasuke. Kita tidak akan bisa bersenang-senang jika seperti itu," ucap Kiba dengan Suara lantang.
"Sudah-sudah. Kita belum ada pada masa untuk memikirkan hal itu. Sekarang yang penting bagi kita adalah lulus, kuliah, dan mencari pekerjaan. Jadi sekarang mari kita nikmati masa-masa bebas ini terlebih dahulu sehingga nantinya kita tidak ada penyesalan. Dimulai dengan menyantap makanan yang telah aku pesan sebelum makanan itu dingin," kata Choji.
Mereka pun mulai menyantap makanan-makanan yang sudah dihidangkan itu. Namun kala itu Naruto terlihat diam dan bergeming.
"Masa muda, menikmati masa penuh kebebasan. Hari itu akan segera datang cepat atau lambat. Kebebasanku untuk menikmati masa muda pasti akan terbatasi. Tapi, yang dikatakan Choji sepertinya benar," batin Naruto.
"Oi. Naruto. Masih melamun saja. Cepat ambil bagianmu. Nanti keburu habis," ucap Shikamaru.
"Lupakan apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Bersenang-senang dan bergembiralah seperti yang lain. Jangan memasang wajah seperti itu di hadapan temanmu yang sedang berulang tahun," kata Sasuke.
Naruto melihat teman-temannya. Kelihatannya teman-temannya juga sedang melihatinya dengan senyum. "Cih! Sepertinya aku memang harus menikmati masa-masa bebas ini sebelum hari itu datang," Naruto mengatakannya. Semua orang mendengarnya dengan bingung.
"Hari 'itu'?" itulah yang mungkin ada di benak teman-temannya yang sedang menatap dirinya penuh kebingungan.
"Ya. Aku akan bersenang-senang sebelum hari di mana kehidupanku akan berubah datang."
Satu permasalahan yang membuatnya galau seharian telah terpecahkan. Namun, ia masih memiliki beberapa masalah lagi yang belum terselesaikan.
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
Author Note:
Pertama saya akan mulai dari permintaan maaf sebesar-besarnya karena keterlambatan update yang sangat parah ini.
Bukan karena saya malas atau kehabisan ide. Namun berbagai macam situasi yang benar-benar menghambat saya untuk berkarya.
19-23 Maret 2018, saya mengikuti USBN. Tentu saja sebagai salah satu dari seluruh murid kelas 12 di Indonesia, masa-masa ujian akan saya lewati. Hal itulah yang menghambat saya untuk menulis. Maaf karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Lalu, pada tanggal 22 Maret hingga sekarang. Jaringan Telkomsel di kota saya kembali berduka. Kabel fiber optik milik telkomsel putus di tempat yang lain. Dan itu membuat jaringan internet 1 kota Merauke hilang. Mengakses internet melalui wifi atau jaringan ponsel adalah hal yang mustahil. Jika saya sudah mengupdate chapter ini, artinya jaringan internet mulai membaik.
Oh, kurasa itu saja. Terima kasih sudah membaca cerita ini. Maaf apabila chapter ini tidak meninggalkan kesan. Chapter terbaru akan diupdate beberapa hari lagi.
Pesan Tanggal 17 April 2018.
Semoga kalian masih menanti. Saya mengupload ini dengan sedikit perasaan cemas.
