:

Taufiq879 Present

:

Destined To Live With You

:

Bab 11

Kehidupan Yang Berubah Drastis

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]

Naruto menarik nafas yang amat panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Di depan kaca seukuran badan, ia terlihat merapikan jas yang ia pakai. "Sial. Aku gugup."

Tok! Tok!

"Masuklah!"

"Tuan muda. Kita sudah tertinggal jadwal. Anda harus segera datang ke aula perusahaan sekarang," Arashi saat itu terlihat sangat cemas.

"Sebentar lagi. Aku masih belum siap."

"Harusnya semalam saat kau menyetujui rencana pergantian pimpinan ini, harusnya kau menyiapkan diri. Sudah terlambat bagi kita untuk mundur. Kita harus sesuai rencana." Arashi terlihat kesal.

"Iya... Iya. Aku aku akan bersiap. Jangan marah-marah." Dengan santainya Naruto mengatakan itu.

Pintu terbuka secara paksa. "Ketua Arashi!" teriak seorang pria yang sepertinya telah mencari-cari pemilik nama itu. "Akhirnya aku menemukan anda. Nyonya menyuruh anda untuk mengurus para reporter di lobi. Mereka sepertinya dikirim oleh pemerintah untuk meliput upacara pelantikan ini." Itu adalah seorang ajudan.

"Huuuh! Merepotkan. Akan kuurus mereka. Kau cepat bawa dengan paksa tuan muda ke aula. Kita benar-benar sudah tertinggal dari jadwal."

"Baik."

Arashi dengan tegas melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan itu. Setelah Arashi keluar, Ajudan dengan papan nama Korata itu mendekati Naruto dan menarik lengannya. "Kita harus ke aula sekarang."

"Ehh! Bentar-bentar. Aku belum siap." Naruto berusaha menghentikan Korata yang menariknya secara paksa, namun diabaikan.

"Maaf tuan. Anda harus menyiapkan diri dalam perjalanan. Nyonya sudah menunggu di sana." Karena Naruto tak kunjung menurut, ia sampai menyeretnya.

Hari itu adalah hari pelantikan Naruto menjadi pemimpin perusahaan. Cukup banyak hal yang terjadi. Tsunade sudah banting tulang untuk membuat hari ini dapat terwujud. Tidak terbayang jadinya jika sampai Naruto menolak untuk memimpin perusahaan. Tapi hal itu tidak perlu di khawatirkan. Hari ini ia 99% siap untuk menjadi pengganti Jiraiya dalam memimpin perusahaan. Ke mana 1 persen lainnya? Tentu saja ia masih berusaha untuk menyiapkan diri agar upacara pelantikannya bisa berjalan sukses tanpa kendala seperti gugup atau apalah.

Korata menyeretnya hingga aula melalui pintu belakang. "Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri."

"Sudah terlambat untuk itu. Kita sudah di aula, tuan muda." Korata pun melepas genggamannya.

"Cih!" Naruto mencoba menarik nafas untuk menghilangkan kesal dan gugupnya.

Tsunade dan Hinata yang melihat kedatangan Naruto langsung menyambutnya. Alih-alih sambutan hangat yang diberikan Tsunade. Justru kemarahan dari sang neneklah yang ia dapatkan.

"Kau ini! Kenapa lama sekali. Seharusnya kau bertatap muka dengan para tamu undangan itu 30 menit yang lalu."

"M-Maaf nek."

Tsunade mengangkat tangannya dan mendekati Naruto. Sejenak ia mengira bahwa dirinya akan dihajar oleh neneknya. Namun. "Rapikanlah jasmu ini. Di sana ada berbagai tamu penting dari pemerintah, klien-klien penting. Dan rekan-rekan bisnis kakek dan ayahmu." Tsunade merapikan pakaian yang dikenakan Naruto. Pakaian itu merupakan jas berwarna hitam. Namun karena penarikan paksa itu, penampilan Naruto menjadi sedikit acak-acakan.

"Rambutmu berantakan, Naruto," kata Hinata. Untuk menindaklanjuti perkataannya itu, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah sisir dikeluarkannya untuk merapikan rambut Naruto yang berantakan.

Walau sempat menolak untuk disisiri oleh Hinata, namun karena desakan dari Tsunade dan Korata ia pasrah. Setelah beberapa detik kemudian, Hinata mengambil langkah mundur dan memperhatikan penampilan Naruto. "Nah, beres."

"Hufft. Kayaknya tidak beda jauh dengan penampilanku sebelumnya," gerutu Naruto saat melihat rambutnya pada layar ponselnya. "Oh ngomong-ngomong kenapa kau tidak ke sekolah, Hinata?"

"Ahh. Mengenai itu. Nenek yang menyuruhku untuk izin sakit hari ini."

"Akan ada pertemuan dengan orang-orang pemerintahan sehabis upacara ini. Mereka ingin bertemu dengan pasangan termuda perusahaan Uzumaki Enterprise."

Wajah Hinata maupun Naruto tiba-tiba memerah. Mereka berdua dengan segera memalingkan wajah satu sama lain setelah mendengar perkataan Tsunade itu.

"Ara-ara. Ternyata kalian berdua tersipu. Maafkan nenek," Tsunade tertawa kecil.

"Nyonya Tsunade. Para tamu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Upacara pelantikan tuan Uzumaki Naruto sebagai pimpinan baru Uzumaki Enterprise harus segera dilaksanakan." Seseorang tiba-tiba mendatangi mereka.

"Iya. Cucu saya akan segera ke sana."

"Berjuanglah, tuan muda."

"Kau pasti gugup," ucap Hinata.

Naruto mengambil nafas panjang. "Hari 'itu' telah tiba sekarang. Beberapa hari yang lalu aku memang masih bimbang. Namun setelah pertemuan kami di cafe itu. Aku sudah bisa memikirkan masalah ini dengan lebih baik. Ya. Pertemuan itu dan juga sebuah kejadian dimalam harinya menjadi alasan yang kuat mengapa aku berada di sini hari ini," Naruto menutup mata dan membatin. Ia membuka mata. "Waktunya melangkah ke arah perubahan!" teriaknya kuat seraya melangkahkan kakinya menuju podium yang berada di aula.

[]=[]=[]

Flashback

"Agh! Aku kekenyangan," keluh Naruto dan Kiba.

"Masih ada makanan penutupnya lho," ucap Choji.

Naruto yang kepalanya berada di atas meja kala itu berkata, "Kalian makan saja jatahku. Aku sudah tidak kuat."

"Aku juga. Aku terlalu banyak makan."

Sementara itu, teman-temannya yang lain masih terlihat santai menyantap makanan-makanan yang dihidangkan Choji. Tentu saja hal itu ada penyebabnya.

"Dasar rakus. Kalian makannya buru-buru dalam jumlah yang banyak sekaligus," kata Sasuke. Itulah yang menjadi penyebab mengapa Naruto dan Kiba bisa kekenyangan duluan.

"Lihatlah! Choji saja masih bisa menahan diri untuk tidak makan seperti itu. Dasar kalian berdua. Saat-saat begini malah kalian jadikan perlombaan," ucap Shikamaru. Itu adalah alasan kedua. Naruto dan Kiba terlibat lomba makan. Siapapun yang bisa bertahan sampai lawan mereka kekenyangan adalah pemenangannya.

"Tapi setidaknya aku menang!." Naruto mengangkat kepalanya. "Aku tidak mau kalah dari Kiba sebelum aku bisa mengalahkan Sasuke dalam adu balap," kata Naruto.

"Seberapapun kerasnya kau berusaha, kau tidak akan bisa mengalahkanku kalau aku sudah serius."

"Ngomong-ngomong, kudengar dari Sasuke kalau mesin pacumu itu setara dengan mesin pacu yang diproduksi untuk Ferari. Benarkah?"

Dengan bangga Naruto mengatakan, "Tentu. Mobilku lebih laju dari pada mobil Sasuke. Mesinnya berkualitas tinggi dan lebih hemat bahan bakar. Benar-benar setara mesin pacu Ferari. Me-meskipun hanya imitasi dan harganya tidak semahal yang asli." Tiba-tiba kebanggaan yang ia tunjukan di awal memudar diakhir.

"Meskipun itu imitasi, tapi harganya tetap mahal. Kau juga meminjam setengah dari uang simpananku untuk membelinya. Sampai sekarang pun, utangmu itu belum kau lunasi."

"Iya-iya. Nanti aku bayar. Lagi pula dalam beberapa hari atau minggu aku akan menjadi direktur." Dengan santainya Naruto mengatakan itu. Namun dampak dari perkataan itu terjadi sedetik setelah ia selesai mengatakannya.

Teman-temannya berhenti makan dan mulai menatap Naruto dengan heran. Mereka sepertinya kaget akibat pernyataan Naruto. Sasuke sepertinya tidak terkejut dan malah terheran karena Naruto tiba-tiba mengatakan itu di hadapan teman-temannya.

"K-Kau? Direktur?" Kiba benar-benar terkejut.

"Benarkah?" tanya Choji.

"Bagaimana bisa?" Sai.

"..." Shino.

"Memang wajar jika kau menjadi direktur di perusahaan keluargamu. T-tapi kalau sekarang, bukankah terlalu cepat?" Shikamaru.

"Ya, aku juga sebenarnya tidak terlalu ingin memimpin perusahaan itu sekarang. Aku masih ingin menikmati kebebasan. Tapi semenjak kakekku meninggal, aku harus mengambil alih perusahaan karena berbagai alasan yang cukup mengekang. Perusahaan itu tidak bisa dipimpin oleh orang lain karena sebuah persyaratan yang dibuat oleh pemerintah. Jika bukan aku yang memimpin, maka seluruh saham perusahaan itu akan jatuh ke tangan pemerintah. Dan keluargaku akan kehilangan hak-hak dan aset berharga atas perusahaan itu."

"Bagaimana bisa. Persyaratan apa saja itu?"

"Maaf. Aku tidak bisa menceritakannya. Intinya perusahaan keluargaku itu bisa sukses seperti sekarang adalah karena kerja keras ayahku dan kakekku. Dan untuk mencapai kesuksesan itu diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Salah satunya adalah pemerintah."

"Wah. Ini hebat. Teman kita akan menjadi direktur di usia muda. Kelas kita bakalan terkenal," ucap Kiba.

"Itu akan merepotkan. Lagi pula kita tidak tahu bagaimana nasib Naruto saat nantinya sudah menjadi direktur," kata Shikamaru.

"Benar. Kehidupanku akan berubah saat hari 'itu' datang." Ia kembali menundukkan kepala di atas meja. "Karena itu, aku sebenarnya malas. Aku tidak ingin memimpin perusahaan itu. Bahkan meneruskan usaha ayahku bukanlah cita-citaku. Aku ingin kebebasan. Aku ingin memilih takdirku sendiri. Tapi tidak bisa. Karena jika kulakukan itu, keluargaku akan hancur. Meskipun keluargaku yang tersisa hanya nenekku dan Hi—" Naruto hampir keceplosan. Dengan cepat ia menghentikan perkataannya tanpa membuat gerakan apa-apa agar tidak memancing rasa penasaran.

Di sisi lain, Sasuke cukup terkejut kala ia mendengar Naruto hampir menyebut nama 'Istrinya' di hadapan teman-temannya.

"Hi? Siapa Hi?" Sepertinya Shikamaru memiliki pendengaran dan rasa ingin tahu yang tajam.

"Maaf. Lidahku tergigit tadi. Biar kuulangi. Yang tersisa dari keluargaku sekarang hanya aku, nenekku, dan 6 ajudan peninggalan ayahku. Meskipun nantinya jika perusahaanku itu jatuh ke tangan pemerintah, mereka juga akan diberhentikan atau berhenti bekerja."

Shikamaru masih melirik Naruto penuh curiga. Ia masih merasa bahwa Naruto masih menyembunyikan sesuatu. Tapi ia tidak kembali bertanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Bukan tanpa alasan, saat itu pelayan datang dan membawakan makanan penutup. Mereka terkecuali Kiba dan Naruto menyambut hangat makanan penutup yang dipesan Choji itu. Menurut kabar, menu Dessert yang sedang disajikan itu memiliki rasa yang nikmat dan merupakan kebanggaan cafe itu.

Mereka menikmati Dessert itu. Canda gurau mereka lakukan seraya menyantapnya. Kiba dan Naruto yang sudah tidak sanggup memasukkan lagi makanan ke perut mereka hanya bisa menikmati canda gurau tersebut. Dan setelah setiap piring telah bersih dari makanan, mereka pun meninggalkan cafe itu dengan perasaan amat puas.

[]=[]=[]

Setelah berpisah dengan teman-temannya. Naruto dan Sasuke memutuskan untuk pergi bersama ke sebuah tempat. Saat itu, matahari sudah hampir tergelincir ke ufuk barat. Naruto dan Sasuke memacu mobil mereka melewati keramaian lalu lintas kota yang padat.

Jalanan kosong yang selalu mereka pakai untuk balapanlah yang menjadi tujuan mereka saat ini. Namun sepertinya kali ini bukan untuk balapan, melainkan hanya sebuah pertemuan antar dua sahabat.

Mereka berhenti di sisi jalan yang tak asing lagi bagi mereka. Sebuah insiden pernah menimpa mereka di sini. Tapi itu sudah berlalu cukup lama dan tentu saja orang-orang itu tidak akan mengincarnya lagi sebab sekarang mereka sudah berada di balik jeruji.

Naruto keluar dari dalam mobil dan mendatangi jendela mobil Sasuke. "Sudah lama kita tidak di sini. Aku pikir kau mengajakku ke sini untuk balapan."

"Aku mengajakmu ke sini bukan untuk balapan. Hanya bersantai seraya menurunkan makanan tadi." Sasuke merogoh kantung celananya. Sebuah selop rokok ia keluarkan. "Kau masih ingat tempat ini?" Sasuke menawarkan rokok pada Naruto.

"Iya. Gara-gara hari itu kita ada di tempat ini, kita jadi babak belur."

Sasuke menghembuskan nafas penuh asap rokok. Naruto bahkan tidak sadar bahwa Sasuke sudah dahulu memulai aktivitas merokok bareng itu. "Jadi, apa kau yakin akan memimpin perusahaan?"

Naruto memasuki mobil Sasuke.

"Ternyata kau mengajakku ke sini untuk membicarakan hal ini toh. Kalau boleh jujur, aku memang ingin menjadi direktur. Siapa coba yang tidak mau mengambil posisi itu apabila diberikan. Aku bisa memiliki uang sendiri dalam jumlah besar. Aku bisa membeli apapun. Mobil Lamborgini, Ferari, atau mobil-mobil mahal lainnya. Hanya saja, direktur merupakan posisi yang berat bagiku. Apalagi usiaku baru 16 tahun. Dan lagi aku masih bersekolah. Seandainya kakekku masih hidup, aku seharusnya masih punya waktu hingga berada di kondisi benar-benar siap memimpin perusahaan."

"Posisiku juga sama sepertimu. Jangan berpikir hanya kau sendirian. Sebagai anak seorang polisi sekaligus kepala kepolisian, ayahku jelas memintaku dan Itachi untuk mengikuti jejaknya. Bukan karena gaji atau ketenarannya. Melainkan agar kami bisa melanjutkan tugasnya untuk melindungi kota ini. Aku tidak bisa menolaknya karena aku pikir itulah yang terbaik. Dengan adanya ayahku sebagai kepala kepolisian, maka dalam 3 tahun yang akan datang aku akan mendapatkan posisi yang bagus dalam kepolisian seperti Itachi yang merupakan komandan regu khusus."

"Kita memang senasib." Naruto merangkul Sasuke.

"Kita nyaris senasib. Aku tidak menikah di usia muda. Aku masih dalam status berpacaran."

Naruto melepas rangkulannya. "Kupikir itu kata-kata penyemangat." Naruto tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya. Aku belum memberitahu Hinata. Sebaiknya aku bilang padanya untuk membuat makan malam hanya untuknya saja." Ia mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu pada ponsel itu. Cukup singkat isi pesannya sehingga ia tidak memakan waktu yang lama untuk mengetik.

"Apa semuanya berjalan dengan baik?"

"Apa maksudmu?"

"Hubunganmu dengan Hinata. Kulihat sepertinya kalian bisa menjalankan peran sebagai suami istri dengan baik."

"Hubungan ya... Antara baik dan buruk. Karena kami dijodohkan secara paksa di usia muda, kami tidak bisa memainkan peran itu dengan baik. Terlebih lagi untuk saat ini pernikahan kami berdua masih bersifat rahasia. Di luar rumah kami harus berusaha untuk tak saling mengenal. Namun begitu di rumah, hubungan kami hanya sebatas kenalan saja. Meskipun begitu, Hinata bisa memenuhi beberapa tugas yang menjadi kewajiban seorang istri seperti memasak makanan. Ia juga terkadang bersih-bersih. Bagaimanapun juga rumah kami itu adalah milik Hinata yang diberikan oleh nenekku kepadanya.

"Lalu, apa kalian berdua sudah melakukan 'itu'?" pertanyaan Sasuke itu sepertinya merupakan hal tabu bagi Naruto. Tidak heran jika Naruto terkejut mendengar pertanyaan itu. Bahkan rokok yang sedang berada ditangannya tiba-tiba terjatuh.

"Kau gila!" Naruto merespons dengan nada kasar. "T-Tidak mungkin aku melakukan itu dengannya. Meskipun kami sudah resmi menikah, tapi itu masih terlalu cepat. Lagi pula hubungan kami saat ini berada di level 'berusaha saling mengenal lebih jauh' artinya hubungan kami masih cukup renggang."

"Saat pertama kali mendapati kalian berdua bersama, kalian terlihat sangat akrab. Bahkan saat itu Hinata sampai bersembunyi dibalik badanmu. Saat itu aku berpikir kalau kalian diam-diam menjalin hubungan. Tapi aku sangat terkejut kala mengetahui kebenaran bahwa kalian ternyata sudah menikah."

"Ahh. Aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Aku benar-benar malu saat itu. Aku sebenarnya tidak ingin hubunganku ini diketahui orang lain, terlebih lagi teman-teman sekelas. Tapi aku sedikit bersyukur karena aku dan Hinata terciduk olehmu, bukan orang lain."

"Ya, itu memang keberuntungan kalian."

Mereka terus mengobrol sambil merokok. Hari semakin lama semakin gelap dan udara pun makin dingin. Setidaknya mereka sudah menghabiskan masing-masing 3 puntung saat itu.

"Musim dingin memang menyebalkan. Selain udara yang dingin, nantinya kita akan melaksankan ujian."

"Tidak terasa sudah hampir 6 bulan. Berarti sudah 3 bulan berlalu semenjak kau menikah dengan Hinata." Sasuke melihat Naruto mengangguk. "Lalu, bagaimana jika sampai lulus nanti hubungan kalian masih seperti saat ini. Tidak ada perkembangan."

Naruto melihat ke arah Sasuke yang sedang menatapnya dengan tajam. "Kurasa kalau dia minta cerai, aku akan menyetujuinya. Bagaimanapun juga pernikahan ini dipaksakan kepada kami. Pasti sisi lain dari hatinya menolak dengan keras. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain, jadi ia hanya bisa menerima pernikahan ini dengan ikhlas."

"Lalu, apa kau sendiri tidak keberatan?"

"Keberatan? Sepertinya tidak. Seperti apa yang tadi kukatakan. Jika ia minta, itu artinya ia sudah tidak tahan dengan perjodohan ini, maka aku akan menyetujuinya. Tapi mungkin saja bila hari itu datang aku akan sedikit berat melakukan itu."

"Kau menyukainya, kan? Maka seharusnya perceraian itu bisa kau hindari."

Naruto membuang puntung rokok yang telah habis keluar jendela. "Bukan, Sasuke. Aku dan Hinata sudah berjanji untuk tidak bercerai apapun yang terjadi. Tentu saja hal itu tidak akan mudah kami lakukan. Janji itu kubuat dengan nenekku. Bahkan kami juga sudah berjanji pada kakekku. Tapi jika memang pernikahan ini hanya akan membuatnya menderita, maka aku siap melanggar janji itu dan menerima segala konsekuensinya."

"Aku memang tidak mengerti dengan masalah yang kalian hadapi. Tapi apa yang membuatmu yakin bahwa suatu hari nanti Hinata akan meminta cerai? Apa kau tahu bagaimana perasaannya padamu? Apa kau yakin kalau dia menerima perjodohan itu karena terpaksa?" Tingkah Sasuke saat itu seperti hendak menginterogasi Naruto. Namun Naruto terlihat diam tak bisa menjawab. Tak kunjung mendapat Respons dari Naruto, Sasuke menatap Naruto dari jarak yang amat dekat dengan tatapan yang seakan mengatakan "Jawablah atau kuhajar kau"

Naruto memalingkan wajahnya. "Aku memang tidak tahu ia terpaksa menerima atau memang menerima. Tapi aku tahu bahwa Hinata sama sekali tidak memiliki perasaan cinta padaku. Bahkan aku ragu kalau ia menyukaiku. Dimatanya, ia menganggapku sebagai orang yang terikat dengan takdir yang sama dengannya. Namun ia berusaha untuk menerima takdir itu. Aku merasa bahwa rumah tangga kami berdua itu seperti kapal yang memiliki lubang didasarnya. Semakin lama kami berlayar, maka perlahan-lahan air akan masuk melalui lubang itu dan suatu saat kami akan tenggelam." Naruto berbalik lagi menatap Sasuke. "Jadi jika kau bertanya, apa yang membuatku sampai berpikir bahwa ia akan meminta cerai adalah karena ia memang tidak menyukaiku sehingga tidak mungkin akan timbul perasaan cinta."

Sasuke bersandar. Membuka pintu untuk membiarkan semua aroma asap rokok yang bersemayam di mobilnya keluar. Ia menutup mata lalu berkata, "Dari mana kau tahu kalau dia tidak menyukaimu?"

"Aku mendengarnya sendiri. Kau pasti ingat pembicaraan antara Hinata dan pacarmu hari ini disekolah. Mereka melanjutkannya lagi saat istirahat. Tanpa sengaja aku memergoki mereka berdua sedang membahas perasaan Hinata padaku." Kali ini Naruto berbicara dengan nada keras dan lumayan cepat layaknya orang marah. "Di sana... Aku..." nada bicara yang keras dan cepat itu berubah menjadi pelan. "Aku mendengar Hinata mengungkapkan perasaannya padaku di hadapan Sakura. Kau tahu apa yang ia katakan? Ia tertawa sesaat lalu mengatakan bahwa ia tidak menyukaiku. Dari nada bicaranya, ia tidak kesulitan dalam mengungkapkannya."

"Apa itu benar?"

Naruto tidak mendengar perkataan Sasuke. Ia masih melanjutkan perkataannya. "Kau tahu, sebelumnya aku memang mengatakan padanya untuk berkata jujur tentang perasaannya padaku apabila ditanya oleh Sakura. Saat kudengar... Saat kudengar pernyataan Hinata itu, aku terkejut. Entah mengapa hatiku sakit. Padahal akulah yang menyuruhnya untuk jujur. Harusnya aku bisa menerima apapun yang dirasakan Hinata padaku. Tapi... Tapi kenapa? Kenapa?" nada bicara Naruto kala itu terdengar seperti orang putus asa yang ingin menangis. "Rasanya sangat sakit."

"Bodoh!" Satu kata itu membuat Naruto terhenti dari ratapannya dan melihat ke arah Sasuke. "Aku sering mengatakan bodoh padamu. Tapi aku tidak tahu kalau kau ternyata benar-benar bodoh. Sangat bodoh sampai-sampai tidak peka dengan apa yang kau rasakan. Kau menyukai Hinata."

Mendengar itu, mata Naruto yang sayu saat itu tiba-tiba terbuka lebar. "Menyukainya? S-Sejak kapan? Selama ini aku menganggapnya sebatas gadis malang yang harus rela menikah denganku demi perusahaan. Sejak kapan?!"

"Mana aku tahu, bodoh!" gertak Sasuke. "Bisa saja saat pertama kali kau melihatnya, kau sudah menyukainya. Atau bisa saja ada hubungan spesial antara kau dengan Hinata. Kau terlalu bodoh sehingga tidak peka. Sadarlah, bodoh!"

"Jadi. Karena aku menyukainya ya? Sepertinya memang begitu." Naruto mengangkat kedua kakinya di jok mobil. Ia pun mengusap wajah hingga rambutnya. "Lalu, apa dengan aku menyukainya, apakah rumah tangga kami akan berjalan lancar?"

"Tentu saja tidak. Jika kau yang kau katakan tentang perasaan Hinata padamu itu benar, maka rumah tanggamu itu bisa diibaratkan sebagai kapal yang berlayar tanpa adanya kompas. Kalian hanya akan kebingungan di tengah laut dan hanya bisa menunggu sampai badai dan lautan yang ganas menghancurkan kapal kalian."

"Hasilnya ternyata sama saja. Memang sepertinya perceraian itu akan sulit untuk dihindari, benakan, Sasuke?"

"Tidak. Kalau kau adalah kapten yang hebat, kau tidak memerlukan kompas untuk berlayar tanpa kendala di lautan. Kau pasti bisa membuat jalanmu sendiri dengan berpatok pada matahari. Dalam kata lain, kalau kau bisa membuat Hinata menyukaimu, rumah tangga kalian akan berjalan lancar."

"Jadi begitu." Naruto mendapatkan semangatnya kembali. "Aku harus membuat Hinata menyukaiku."

"Berjuanglah. Aku mungkin akan membantumu." Sasuke memakai sabuk pengamannya. "Aku sarankan agar kau mulailah berpacaran. Anggap saja kau dan Hinata itu belum menikah. Dengan begitu kau bisa membangun hubunganmu dengan Hinata dari awal. Kau bahkan bisa melakukan itu di luar rumah."

"Ohh. Aku mengerti. Dengan begitu, kami tidak perlu berpura-pura tidak saling mengenal di luar rumah."

"Kalau sudah mengerti keluarlah. Aku mau pulang."

"Baiklah." Naruto membuka pintu. Ia mengeluarkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat ke belakang sebab ia mendengar suara 2 mobil yang sedang mengebut. "Apa ada yang balapan di sini selain kita?"

"Balapan? Kurasa mungkin." Sasuke melihat dari kaca spion.

Mereka memperhatikan kedua mobil yang masih jauh itu dengan intens. Namun tiba-tiba ponsel Sasuke berdering.

"Payah! Jangan keluar dari mobil. Tetap di dalam dan tutup semua kaca. Kalian berdua jangan keluar dari mobil apapun yang terjadi. DAN SEGERA KABUR DARI SANA!" Panggilan cepat dan tegas itu menyadarkan Sasuke akan sesuatu.

"Wah, kira-kira siapa ya mereka. Aku ingin adu balap juga dengan mereka. Tapi kok mobil mereka terlihat besar, sepertinya bukan mobil kelas balap."

Sasuke menarik Naruto yang hampir keluar dari mobil itu dengan paksa. "Masuklah dan tutup pintu itu!"

"A-Apa!" Naruto yang tidak tahu apa-apa dikagetkan dengan sikap Sasuke."

Sasuke menekan sebuah tombol. Kaca mobil yang awalnya terbuka pun perlahan tertutup. Mesin dinyalakan dan Sasuke bersiap memasukkan gigi. Sasuke memperhatikan kedua mobil itu dari spion. "Sial. Mereka sudah dekat."

"Ada apa? Sasuke!"

"Ingatlah kejadian waktu itu."

Naruto melihat kedua mobil yang semakin dekat itu. Sekilas ia membayangkan kedua mobil itu adalah 2 geng motor yang hari itu mau membunuh mereka. "Gawat. Kau membuat masalah lagi?"

"Entahlah. Ini perintah Itachi."

Sasuke pun mulai menggerakkan mobilnya. Masih ada ruang antara mobilnya dengan mobil Naruto sehingga ia bisa kembali ke jalan dengan mudah. Seharusnya begitu. Tapi salah satu mobil yang datang itu tiba-tiba menyerempet mobilnya dan berhenti tepat di sampingnya. Tak hanya itu. Saat Sasuke hendak mundur, tanpa ragu mobil yang lainnya malah menabraknya. Karena ukuran dan massa mobil yang jauh lebih unggul, Mobil Sasuke terdorong kedepan hingga menabrak mobil Naruto. Sekarang mereka terjepit diantara 3 mobil sehingga tidak memungkinkan bagi Sasuke untuk lari dari dalam kondisi saat ini.

"Gawat. Mereka akan membunuh kita. Ayo kabur seperti waktu itu!" Naruto yang panik kala itu hendak membuka pintu. "Jangan keluar! Apapun yang terjadi jangan keluar. Itu juga perintah dari Itachi."

"Perintah Itachi. Sebenarnya ada apa dan di mana dia?" Naruto benar-benar panik.

"Entahlah! Seharusnya ia sedang ada misi pengawalan dalam waktu yang lama."

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Sasuke pun panik. Terlalu banyak hal yang dipikirkan olehnya saat ini. Bagaimana kakaknya bisa meneleponnya di saat yang tepat untuk memperingatinya? Lalu siapa sebenarnya orang-orang itu?

Seseorang keluar dari mobil yang berada di belakang. Ia terlihat membawa Katana. Di susul oleh orang lain yang membawa pistol. Melihat itu saja, Sasuke maupun Naruto yakin mereka benar-benar berada di situasi yang buruk, benar-benar buruk.

"S-Sasuke. Apalagi yang kau lakukan? Apa kau membunuh anggota geng?"

"Aku tidak tahu apa-apa. Aku juga tidak melakukan apa-apa belakangan ini."

Akibat dari perintah yang diberikan Itachi, Naruto maupun Sasuke hanya bisa duduk diam di dalam seraya menahan semua ketakutan yang melanda mereka. Kaca mobil Sasuke ini dimodifikasi olehnya dengan memakai kaca kualitas terbaik. Setidaknya bisa menahan tusukan dan pukulan dari Katana itu. Tapi, beda cerita lagi jika orang berpistol itu yang melakukannya.

Orang yang memakai Katana itu mengetuk-ketuk kaca mobil dengan memakai Katananya. "Keluarlah, Uzumaki Naruto."

Seketika itu juga Naruto sadar, ia adalah orang yang diincar. Bukan Sasuke.

"D-dia mengincarku, Sasuke." Kepanikan Naruto semakin menjadi. "Apa kau tidak punya sesuatu di mobil ini untuk melawan mereka. Aku belum mau mati!"

"Yang kubawa saat ini hanya seperangkat alat menulis. Apa yang kau harapkan!"

Pemegang Katana itu di hunuskan dengan kuat ke kaca mobil. Memang benar, katana itu tidak bisa menembusnya. Tetapi meninggalkan retak yang cukup lebar.

Seseorang keluar dari mobil yang berada di samping. "Cepat bunuh kedua anak itu dan segera akhiri misi ini."

"Siap!" Ia yang memegang pistol pun membidik kepala Naruto.

Keadaan benar-benar sunyi. Bahkan Naruto dan Sasuke bisa mendengar suara jantung mereka yang terpompa kuat karena panik.

"Sial! Kalau begini kita akan mati konyol!" dengan kakinya, Naruto membuka pintu lalu menendang pintu mobil Sasuke itu sekuat tenaga. Cara yang pintar untuk menyingkirkan kedua orang yang berada dibalik pintu. Akibatnya, pemegang pistol dan katana itu tersungkur ketanah. "Sasuke, ayo kabur!"

"T-Tapi, perintah Itachi?"

"Masa bodoh dengan perintahnya. Kita tidak tahu di mana dia sekarang atau bagaimana dia bisa mengetahui situasi ini. Tapi satu hal yang akan terjadi jika kita berdiam diri di sini, kita akan mati!"

Naruto perlahan keluar dari mobil. Disusul oleh Sasuke. Mereka berlari sekuat tenaga menuju arah pepohonan.

"Mereka kabur. Bidik mereka!" perintah itu datang dari orang pemimpin pembunuh itu.

"Lari lebih cepat. Naruto!"

"Brengsek. Di saat begini." Cederanya kambuh lagi. Itu menyebabkan semakin lama kecepatan Naruto semakin berkurang.

"Paksakan dirimu, kalau tidak kita akan mati." Sasuke mendekati Naruto dan mencoba memeganginya. "Aku akan membantumu. Jangan kurangi lagi kecepatanmu."

Musuh mulai menembaki mereka dengan pistol. Setidaknya ada 3 orang dari mereka yang memakai senjata api. Keadaan yang gelap dan juga almamater yang mereka pakai benar-benar mendukung sehingga membuat orang-orang itu tidak bisa membidik mereka dengan benar.

"Sasuke! Naruto! Tiarap!" perintah itu datang dari 2 orang yang berada di depan mereka. Keadaan yang gelap serta jarak yang cukup jauh membuat mereka berdua tidak terlihat dengan baik di mata musuh maupun Sasuke dan Naruto. Tanpa memandang siapa yang memberi perintah, Naruto dan Sasuke langsung mengikutinya.

Meski samar-samar karena gelap, Naruto bisa menyadari bahwa kedua orang itu sedang mengarahkan senapan serbu ke arah musuh di belakang mereka. Dalam sekejap, total peluru yang di tembakan musuh ke arah Naruto dan Sasuke dibalas empat kali lipat oleh dua orang itu. Darah yang bercipratan, besi yang berpercikan, dan suara kesakitan adalah pemandangan yang disaksikan oleh Naruto dan Sasuke dibelakang mereka.

"Itachi! Di sana ada mobilku!"

"Diam!"

"Itachi?" Naruto melihat ke arah dua orang itu. Sekilas cahaya yang muncul akibat efek peledakan peluru membuat wajah para penembak itu terlihat. Meskipun, bagi Sasuke cukup mendengar suara saja ia sudah tahu bahwa yang memberi perintah merunduk tadi ialah kakaknya.

"Kami pro, Sasuke." Rekan Itachi berbicara. "Lihatlah baik-baik. Kami tidak membuat mobilmu terkena satupun peluru. Tapi mungkin kau harus mencuci mobilmu terlebih dahulu sebelum pulang."

Memang benar. Meski peluru yang mereka hambur ke arah musuh cukup banyak, tapi peluru-peluru itu tidak asal di tembakan. Mereka membidik dan menembak. Setelah musuh di luar dihabisi, mereka melanjutkan menembaki musuh yang bersembunyi di dalam mobil. Tentu saja saat itu mereka harus menebak dan menembak. Tidak bisa membidik karena target tidak terlihat dengan jelas. Perlahan Itachi dan rekannya maju seraya menembaki mobil musuh. Mulai dari kaca hingga pintu mobil mereka tembaki. Karena serangan balasan tak dilancarkan, Itachi dan rekannya pun bergerak cepat untuk mengecek keadaan mobil.

"Sudah aman! Kalian berdua kemarilah!"

Naruto memandangi sekitar. Mayat-mayat yang tertembak dengan darah yang berceceran. Rasa jijik dan hendak muntah mereka berdua rasakan saat itu. "Ngh! Kalau begini, makanan yang tadi kumakan bisa keluar lagi," kata Naruto.

"Jangan memperburuk keadaan, payah," ucap Sasuke. Sasuke mendekati mobilnya. "Sial, ada bercak darah di sana sini. Dan lagi bagian belakang penyok dan bagian samping lecet. Pembunuh bayaran sialan." Sasuke merasa sangat kesal.

"Mobilku juga penyok tahu."

"Kalian tidak apa-apa?" tanya rekan Itachi.

"Ya. Kami tidak apa-apa, kak Shishui. Terima kasih sudah menyelamatkan kami."

Itachi terlihat menginvestigasi mobil Sasuke dan puing-puing rokok di tanah. "Sasuke. Naruto." Panggilnya. Sontak kedua pemilik nama tersebut memperhatikannya. "Kalian sepertinya habis berpesta."

Shishui mendatangi Itachi dan mengambil sebuah puntung rokok. "Bukankah ini rokok mahal itu ya? Rokok yang katanya aromanya mirip parfum. Padahal rokok jenis ini tidak di jual dijepang."

"Cepat kalian bersihkan tempat ini dari sisa-sisa rokok. Sebentar lagi ayah akan datang." Itachi tidak menanggapi Shushui dan memberi perintah pada adiknya.

"Sial! Ayo Naruto!"

Mereka berdua pun bergegas mengangkat setiap puntung rokok dan membuangnya di tempat yang jauh.

Sementara itu, Shushui terlihat membuka tas milik Sasuke dan mengeluarkan sesuatu yang menarik dari dalam tas itu. "Ternyata benar. Ini rokok yang mahal itu." Ia berbalik ke Itachi. "Itachi. Berapa uang jajan adikmu setiap bulan?"

"Setara seperti seperempat gajiku."

"Oh pantas saja."

"Kak Shishui. Itu punyaku!" Sasuke berlari setelah melihat bahwa barang miliknya diambil tanpa izin.

"Kami rasa, benda ini perlu disita oleh kepolisian, benarkan Itachi?"

Ia mengangguk lalu berkata, "kami punya tahanan yang menyukai rokok seperti ini. Kurasa jika kami memberikan ini padanya, kami bisa dapat informasi yang banyak."

"Kalau begitu biarkan aku yang menyimpannya."

Sasuke benar-benar tidak berdaya. Ia terpaksa memasrahkan 2 selop rokok itu jatuh ke tangan kepolisian. Tapi sepertinya, Sasuke cukup cepat memasrahkannya. Terbukti bahwa ia langsung bertanya, "lalu sebenarnya apa yang terjadi?"

"Senang kau bertanya. Perlu kujawab, Itachi?" Setelah dapat respons anggukan, ia pun mulai bicara lagi. "Para pembunuh bayaran itu mengincar Naruto."

"Apa yang mereka inginkan dariku?" tanya Naruto.

"Kematianmu. Dengan begitu, perusahaan keluargamu akan jatuh karena tidak memiliki penerus. Pemerintah pun akan mengambil alih sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku saat kepemimpinan ayah dan kakekmu."

"Jadi pemerintah yang mengirim mereka?" tanya Sasuke.

Itachi tiba-tiba berkata, "Jangan bodoh. Jika pemerintah benar-benar ingin mendapatkan perusahaan itu, seharusnya mereka sudah bisa mendapatkannya sejak kematian Jiraiya. Dan bisa saja kepolisian yang akan ditugaskan untuk membunuh Naruto secara rahasia."

"Lebih tepatnya, ada orang yang memanfaatkan jabatan dan gajinya sebagai pegawai pemerintahan yang ingin mendapatkan perusahaan itu untuk keuntungannya sendiri. Hal ini pun tidak diketahui oleh pemerintahan. Hanya beberapa petinggi kepolisian dan petinggi perusahaan Uzumaki Enterprise yang mengetahuinya. Dan kau sebagai penerus wajib mengetahuinya sebab nyawamulah yang diincar," ucap Shishui.

"Sepertinya semua keanehan yang kurasakan sekarang sudah jelas. Ternyata memang benar, aku yang akan diincar berikutnya."

"Kesialan sepertinya sering menghampirimu ya, Naruto."

"Biarlah. Aku juga punya sisi keberuntungan yang membuatku bisa terus bertahan hidup hingga hari ini."

Sasuke berbalik ke arah Itachi. "Lalu, bagaimana kakak bisa tahu kalau akan ada orang yang menyerang kami?"

"Kau belum menyadarinya? Coba kau lihat ke atas."

Sasuke dan Naruto sama-sama mengangkat kepalanya untuk melihat langit. Di antara cahaya bintang-bintang malam hari, ada sebuah cahaya berwarna merah dan biru yang berkedip-kedip. "Drone?" sebut Naruto.

"Apa kakak memata-matai kami?"

"Aku dan Shisuhi dan beberapa orang dari tim kakak melakukan misi rahasia untuk menjamin keselamatan Naruto Uzumaki. Kepolisian dan juga perusahaan Uzumaki Enterprise telah bekerja sama untuk menangkap pelaku pembunuhan tuan Jiraiya dan juga menangkap sindikat orang yang berusaha membunuh Naruto," ucap Itachi.

"Disebut rahasia karena kepolisian berusaha menutup misi ini dari mata publik dan pemerintah. Pendanaan untuk misi ini pun dilakukan oleh perusahaan Uzumaki Enterprise sehingga pemerintah tidak akan mengetahui mengenai misi ini dari daftar pemakaian dana operasional kepolisian," tambah Shishui.

"Kalian berdua beristirahatlah dalam mobil itu." Itachi menunjuk mobil Naruto. "Saat bantuan datang nanti, akan kuminta salah satu mobil kepolisian untuk mengantar kalian pulang. Di rumah kau akan lebih aman."

Naruto dan Sasuke menuruti perintah itu. Mereka masuk ke dalam mobil yang hangat itu untuk beristirahat sekaligus membahas sesuatu.

"Sekarang apa yang mau kau lakukan?" tanya Sasuke.

"Sekarang aku tidak bisa bebas. Ke mana pun aku pergi, aku yakin kakakmu dan timnya akan terus memantauku. Di rumah aku pun tidak bisa bebas beraktivitas sebab ada ajudan yang selalu berada di sana 24 jam. Mungkin jika aku telah menjadi direktur, kebebasan itu bisa kuambil kembali. Meskipun hanya setengahnya sebab kebebasan masa mudaku pun akan direbut saat itu juga."

[]=[]=[]

Prosesi-prosesi upacara pelantikan itu berakhir setelah memakan waktu cukup lama. Benar-benar membosankan bagi Naruto. Waktu yang berharga baginya disia-siakan untuk berada di aula ini. Saat ini, Naruto telah resmi menjadi direktur baru perusahaan Uzumaki Enterprise. Berita ini pun akan siap dipublikasikan dalam beberapa menit ke depan setelah semua rangkaian acara hari ini selesai. Media memang bekerja dengan cepat. Meskipun wartawan dilarang masuk dan meliput di dalam gedung Uzumaki Enterprise, tapi para media adalah orang-orang akan melakukan apapun demi mendapatkan berita yang dapat menghasilkan uang. Mereka biasanya akan bekerja sama dengan orang-orang yang diundang secara resmi dan meminta mereka mengambil gambar secara diam-diam. Atau bahkan mereka menyamar sebagai tamu undangan apabila sebuah acara yang harus diliput itu tidak memiliki pengawasan super ketat.

Namun, upacara pelantikan di gedung Uzumaki Enterprise bisa dibilang cukup ketat. Wartawan tidak diizinkan masuk. Tamu luar pun hanyalah orang-orang pilihan yang diundang untuk menjadi saksi lahirnya pemimpin baru.

Mari lupakan masalah itu sejenak. Saat itu, sang direktur baru akan memulai pidato pertamanya di hadapan para karyawan-karyawan yang diundang. Mikrofon dipukul olehnya untuk memastikan pengeras suara terintegrasi dengan mikrofon di hadapannya.

"Ehem!" Naruto mencoba melegakan tenggorokannya. Ia gugup, itu sudah pasti. Hinata dan Tsunade yang duduk di salah satu bangku terdepan hanya bisa memberikan Naruto penyemangat dari dalam hati.

"Perkenalkan. Nama saya Uzumaki Naruto, putra satu-satunya dari Namikaze Minato alias Uzumaki Minato, pendiri perusahaan Uzumaki Enterprise dan juga saya merupakan cucu dari direktur yang menggantikan ayah saya, Jiraiya. Seperti yang kalian sadari, saya masih terlalu muda untuk memimpin sebuah perusahaan besar. Saya seharusnya belum pantas sebab masih berusia 16 tahun. T-Tapi, karena berbagai alasan saya dapat dan harus memimpin perusahaan itu." Naruto menundukkan kepala. "Tolong kerjasamanya agar perusahaan peninggalan orang tua dan kakekku ini bisa berjalan lancar di bawah pimpinanku."

Pidato singkat itu berakhir kala Naruto mulai mengangkat kepalanya. Ia memandangi sekitar. Keringat membanjiri pakaiannya. Kakinya terasa gemetar karena rasa gugup. Tapi semua itu terbayar saat satu persatu tepuk tangan meriuhkan suasana aula.

[]=[]=[]

Setelah semua rangkaian prosesi pelantikan berakhir, Naruto kembali ke belakang aula. Di sana Tsunade dan Hinata sudah menunggunya dengan perasaan bangga.

"Selamat ya Naruto, kau sekarang merupakan pimpinan perusahaan," ucapan itu datang dari Hinata.

"Terima kasih. Tapi tadi aku benar-benar gugup. Sekarang saja kakiku sedang lemas."

"Nenek bangga padamu. Aku yakin ayah, ibu, dan kakekmu merasakan hal yang sama. Nenek benar-benar terkejut saat kau datang ke vila dan tiba-tiba meminta nenek untuk mempercepat pergantian pemimpin."

"Ohh jadi Anda menyerahkan diri baik-baik untuk menjadi pemimpin. Jadi apa yang kau ingin beli, tuan?" ucap Arashi dengan nada yang ingin membuat Naruto kesal.

Naruto tak tinggal diam, ia pun membalas. "Senang kau bertanya, Arashi. Aku berencana membelikanmu mobil berisi satu ton bahan peledak." Nada bicara Naruto pun tak kalah menyebalkan.

"Aku benar-benar tidak sabar menantikan mobil itu, tuan."

"Tenang saja. Akan kukirimkan segera."

"Kalian berdua tenanglah. Berhenti bermain-main. Arashi. Berikan kunci ruangan direktur pada Naruto."

"Ini tuan." Arashi menyerahkan sebuah kunci. "Apa Anda perlu dikawal? Aku takut Anda kesasar. Sebab dulu Anda pernah benar-benar kesasar."

"Kau kira aku umur berapa sekarang. Itu kan 10 tahun yang lalu. Jangan bercanda."

"Kau pergilah dulu ke sana, Naruto. Nenek masih ada keperluan di sini." Tsunade berbalik ke arah Hinata. "Kau mau ikut Naruto?"

"Aku akan menemani nenek saja."

Kedua perempuan itu pun pergi kembali ke aula. Sementara itu, Naruto berjalan keluar. Begitu tiba dilorong, ia melihat ke kiri dan ke kanan bergantian dengan ekspresi bingung. Arashi menyadari hal itu dan ingin tertawa. Tapi ia tidak mungkin menertawakan tuan barunya itu karena menurutnya tidak sopan. Jadi ia memutuskan untuk mendekatinya dan berkata, "Lift pegawai berada di kiri, tuan. Jika Anda ke kanan, Anda akan menemui lift tamu yang langsung mengarah ke koridor. Lantai tempat kantor direktur berada satu tingkat di atas. Untuk membuka pintu ruangan, putar kuncinya ke kiri." Semua hal disampaikan Arashi dengan detail.

Wajah Naruto memerah seketika karena malu. Namun ia tidak mentah-mentah menerima keadaan. "I-Ini karena anak buahmu itu. Ia menarikku paksa ke sini sehingga membuatku tidak menghafal jalan."

"Baik-baik, terserah Anda." Arashi mulai berjalan meninggalkan Naruto. "Saran saya, Anda sebaiknya sering-sering melihat denah perusahaan dan berkeliling agar bisa terbiasa."

"Menyebalkan. Tapi aku sudah terbiasa sih. Sejak kecil aku selalu dijaga dia. Dan aku akui, dulu dia keren. Tapi sekarang kayaknya biasa-biasa saja. Mungkin ia sudah semakin tua."

Naruto melangkah menuju ruang direktur perusahaan Uzumaki Enterprise, ruang kerja yang pernah digunakan oleh ayah dan kakeknya. Sekarang, ialah yang akan menempati ruangan itu. Perintah tertinggi kini ada ditangannya. "Hari di mana kehidupanku akan berubah akhirnya datang juga. Dimulai dari menikah dengan Hinata, lalu sekarang menjadi pimpinan perusahaan. Kira-kira, kehidupanku sudah berubah berapa derajat ya?"

[]=[Bersambung]=[]

[]

[]


Kalian pasti heran, mengapa tiba-tiba di chapter ini Naruto langsung dilantik. Hehe. Maa karena tidak ada pemberitahuan.

Kuharap Flasback yang saya berikan di dalam cerita sudah lebih dari cukup untuk membuat keheranan kalian menghilang. Untuk jumlah word chapter kali ini memang agak banyak karena disesuaikan dengan flashback. Janganlah bertanya kenapa di chapter ini, secara tiba-tiba Naruto menjadi direktur. Karena saya juga tidak tahu alasan pasti kenapa saya menulis seperti itu. Mungkin hanya karena kesal karena hampir sebulan lebih jaringan di kota saya menghilang.

Tidak banyak yang ingin saya katakan kali ini. Tapi kurasa jika di chapter ini kalian memberikan sebuah review, maka saya mungkin akan punya topik pembahasan di chapter berikutnya.

Sampai jumpa di chapter depan.