:
Taufiq879 Present
:
Destined To Live With You
:
Bab 12
Hari Pertama
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Suasana kelam menyelimuti sebuah ruangan dengan cahaya remang-remang. Ruangan itu terlihat seperti ruangan rapat. Ukurannya cukup besar dan ada sebuah meja yang lebar di tengah. Orang-orang di dalam ruangan itu sedang mendiskusikan sesuatu yang penting.
"3 tim pembunuh yang kita kirim dibasmi dengan cepat oleh kepolisian. Dari 3 tim itu, hanya satu tim saja yang berhasil menemukan target dan nyaris saja membunuhnya. Hanya saja, kepolisian benar-benar bekerja dengan baik. Kita jadi kesulitan seperti ini."
"Itu salahmu mengirim tim yang tidak berpengalaman. Kalau kau ingin membunuh seseorang yang dilindungi oleh uang, kau harus mengorbankan sejumlah uang untuk membeli peralatan yang memadai."
"Itu benar. Orang yang mengurus khas kota tidak mendeteksi adanya pemakaian uang besar-besaran dari kepolisian. Artinya dalam operasinya, mereka memakai dana dari luar. Mereka benar-benar melindungi Uzumaki Naruto dengan baik sebab mereka menerima sejumlah besar uang dari perusahaan Uzumaki Enterprise."
"Peralatan yang setara dengan milik militer. Yang melindunginya adalah tim pengintai terbaik kepolisian. Tsunade pasti mengeluarkan uang sangat banyak demi melindungi cucunya. Jadi apa rencana kita ke depannya. Bos kita sudah mengeluarkan uang sangat banyak untuk mencoba untuk mendapatkan perusahaan itu."
"Itu benar. Kalian pasti tahu berapa harga senjata-senjata itu. Berapa banyak uang yang harus kubayar pada para pembunuh bayaran itu. Dengan sisa kekuatan yang kalian miliki, perusahaan itu harus jatuh ke tanganku sebelum jabatanku dan wali kota itu berakhir."
"Serahkan saja padaku, bos. Saya sudah membuat rencana jangka panjang untuk mengambil alih perusahaan. Dan saya pun berencana untuk memakai kartu as kita."
"Ohoho. Itu rencana yang bagus. Memakai orang dalam untuk membantu. Sama saat pembunuhan Jiraiya. Benarkan, bos?"
Orang yang dipanggil bos itu mengangguk. "Kuharap rencana jangka panjang itu segera kau mulai dan tidak meraih kegagalan." Ia berdiri. "Aku punya tugas yang harus diselesaikan. Selamat tinggal."
Tak penting siapa saja yang terlibat dalam pembicaraan itu. Tapi, sesuatu yang berbahaya akan segera mengancam nyawa Naruto, direktur baru perusahaan ternama di Konoha.
[]=[]=[]
Sore itu, langit terlihat sangat jingga. Burung-burung terlihat di udara hendak kembali ke sarang atau rumah mereka. Jalanan kota pun mulai tampak ramai akibat jam kantor dan sekolah yang telah berakhir. Dari tempatnya berdiri, Naruto bisa melihat berbagai pemandangan yang sangat jarang ia saksikan. Melihat kesibukan kota di sore hari dari ketinggian, ternyata bagi Naruto itu sudah cukup untuk menghilangkan penat.
Sehari yang lalu ia telah dilantik. Dan sekarang, ia sudah melewati hari pertamanya sebagai direktur dengan baik. Lelah dan letih, itulah yang ia rasakan dari pagi hingga saat ini. Rapat, pertemuan dengan klien, menandatangani beberapa dokumen, dan melihat-lihat kinerja kerja karyawan. Hari pertama ini belumlah berakhir. Malam ini ia dijadwalkan akan melihat sebuah unit pesawat baru yang sedang berada di bandara Konoha.
"Permisi!" seseorang membuka pintu. Naruto pun lekas membalik badan dan melihat ke arah orang itu.
"Anda bisa pulang dan beristirahat sejenak. Saya akan menjemput Anda nanti malam sekitar pukul 8," ucap Korata.
"Bukankah tugas mengantarku ke sana seharusnya jatuh kepada Arashi?"
"Ketua sedang berhalangan malam ini. Saya selaku tangan kanannya diminta menggantikannya. Saya harap Anda tidak keberatan."
"Baik. Akan kutunggu. Jangan telat."
"Baik. Oh saya hampir lupa. Maafkan saya. Yuikaze sudah menunggu Anda dilobi. Ia menjemput Anda."
"Yuikaze? Ajudan di vila itukan? Bagaimana bisa ia menjemputku. Bukankah itu harusnya tugas Hayate?"
"Hayate sedang sibuk. Lagi pula ia tidak bertugas mengantar jemput Anda. Tugasnya adalah berperan sebagai paman sekaligus supir nona—Nyonya Hinata."
Tentu saja panggilan baru pun akan tercipta. Naruto yang dulunya dipanggil "tuan muda" kini dipanggil dengan "tuan" tanpa tambahan kata muda. Sementara itu, Hinata yang dulunya dipanggil "nona" sekarang sudah setingkat dengan Tsunade, yaitu "nyonya". Selain Fakta bahwa ia adalah istri Naruto, ia juga merupakan istri dari direktur tertinggi. Sudah sepantasnya bagi ajudan maupun karyawan untuk memanggilnya dengan sebutan "itu". Meskipun panggilan "itu" hanya berlaku bagi mereka yang mengetahui "Rahasia itu".
Mengapa pernikahan Naruto dan Hinata masih dirahasiakan? Tentu karena belum diketahui khalayak umum. Mengapa demikian? Tentu saja sebab perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Minato dan Jiraiya biasanya bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Misalnya saja syarat agar pemerintah dapat mengambil alih perusahaan Uzumaki Enterpise. Syaratnya itu adalah Naruto harus sudah cukup umur atau sudah menikah. Naruto memang sudah memenuhi salah satu persyaratan itu. Namun syarat itu hanya diketahui secuil orang dalam perusahaan dan pemerintah. Sehingga saat pelantikan, orang-orang hanya akan menyadari bahwa Naruto bisa menjadi penerus karena ia merupakan keturunan dari Minato dan juga karena ia menyandang nama Uzumaki sehingga ia berhak untuk memimpin perusahaan ketika Jiraiya meninggal. Oleh karena itu, status pernikahan Naruto dan Hinata tidaklah diketahui.
Sesuai yang dikatakan Korata, Yuikaze memang telah menanti kedatangan Naruto di lobi. Begitu Naruto muncul, ia langsung membungkuk tanda memberi hormat. "Selamat malam, tuan. Saya akan mengantar Anda ke rumah."
"Terima kasih."
Mereka berdua berjalan keluar. Para satpam dan para karyawan yang hendak pulang memberi salam ketika melihat dan dilewati olehnya.
"Yuikaze, apa sudah ada kabar mengenai mobilku?"
"Belum ada. Kemungkinan para polisi itu masih memperbaikinya."
"Padahal kerusakan mobilku tidak parah. Kenapa lama sekali. Tahu begini lebih baik kubawa ke bengkel langgananku saja."
"Para polisi itu bersikeras untuk membawa mobil itu ke bengkel mereka. Aku rasa mereka ingin memasang alat pelacak dan perlindungan tambahan lainnya. Anda pasti tahu, setengah dari khas perusahaan kita berikan kepada kepolisian untuk menjamin keselamatan Anda sekeluarga."
"Huufft. Setengah khas perusahaan? Kira-kira sebanyak apa itu?"
"Hmmm. Saya tidak tahu pasti." Mereka tiba di samping mobil yang terparkir di depan pintu. Yuikaze membuka pintu dan mempersilakan Naruto masuk. "Kemungkinan, dengan uang segitu mereka bisa membeli vila keluarga Uzumaki. Dan bahkan masih memiliki sisa yang cukup untuk membeli 2 mobil balap dengan mesin termutakhir." Lanjut Yuikaze.
Dalam perjalanan pulang, Naruto kembali bertanya. "Memberikan uang sebanyak itu pada kepolisian. Kupikir itu tindakan yang amat boros. Kita tidak tahu sebesar apa niat para polisi itu ingin melindungi kita. Terakhir kali aku diserang, kepolisian hanya mengerahkan 2 orang elit mereka untuk mengatasi musuh. Itupun adalah kakaknya Itachi dan temannya."
"Uang itu diberikan nona Tsunade agar kepolisian dapat melindungi Anda dalam jangka waktu yang lama."
Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, mereka pun tiba di depan gerbang rumah Hinata.
"Terima kasih tumpangannya. Tolong terus cari informasi tentang mobilku."
"Baik. Nanti akan saya ambilkan mobil Anda apabila mereka sudah memberi kabar."
Setelah Yuikaze pergi, Naruto melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah. Diketuknya beberapa kali pintu itu. Berhubung tak segera mendapat respons, ia pun mencoba membuka pintu tersebut. Begitu pintu itu terbuka, ia terkejut kala melihat Hinata berada tak jauh dari pintu. Ia sepertinya berniat untuk membukakan pintu.
"H-Hinata?" Naruto terkejut.
"M-Maaf Naruto. Aku baru saja mau membuka pintu. Aku sengaja tidak bersuara karena aku ingin mengecek siapa yang datang. Hayate memberiku perintah untuk melakukan itu terlebih dahulu."
"Ahh. Aku mengerti. Lalu di mana dia?"
"Tadi sore dia meminta izin untuk pergi. Katanya ia punya urusan penting malam ini."
"Oh, begitu. Berarti rumah ini tidak dijaga." Naruto masuk dan melepas sepatunya. Ia juga melepas jasnya dan menyerahkannya kepada Hinata. "Malam ini aku akan pergi lagi. Tolong jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku atau Hayate."
"Baik."
Naruto berjalan menuju ruang tamu dan menelungkupkan badannya di sofa. Sementara itu, Hinata melipat dan menaruh jas itu di meja. Dari sikap yang di tunjukan oleh Hinata ataupun Naruto, mereka seperti sudah terbiasa. Namun baru kali ini mereka melakukannya. Itu tidak heran. Baik Naruto maupun Hinata sudah sering melihat hal itu. Hinata pastinya sering menyaksikan ibunya ketika menyambut ayahnya saat pulang kerja. Naruto pun demikian. "Aku akan kebelakang sebentar, Naruto."
Setelah beberapa menit, Hinata membawa secangkir minuman hangat untuk Naruto. Dari aromanya, sepertinya itu adalah sebuah teh yang ditemani semacam biskuit yang dibawa menggunakan nampan. Ia menaruh semua yang ada dinampan itu ke atas meja.
Hinata duduk di salah satu sofa yang letaknya tidak jauh dari Naruto. "Jadi bagaimana dengan kerjaanmu di hari pertama?"
"Buruk! Aku bisa-bisa mati jika harus melakukan hal seperti itu selama sebulan penuh."
"Hehe. Kamu pasti bisa bertahan, Naruto. Aku yakin."
Naruto mengubah posisinya. Sekarang ia duduk untuk menikmati teh dan camilan yang dibawakan oleh Hinata. Tak lama kemudian, Naruto bertanya, "lalu bagaimana keadaan di sekolah?"
"Seperti yang sudah diduga sebelumnya. Berita bahwa kamu menjadi direktur termuda di Konoha dengan cepat menyebar. Sekolah menjadi heboh karena hal itu. Sekarang kamu jadi cukup terkenal. Bahkan saat istirahat pun Sasuke dan teman-temanmu yang lain diwawancarai oleh reporter."
Kala itu, Naruto mencicipi camilan itu dengan santai. Ia tidak begitu terkejut akan hal itu. "Keputusan yang bagus untuk tidak masuk hari ini. Tapi nantinya jika aku mulai bersekolah lagi, kehebohan macam apa ya yang akan terjadi."
"Memang kapan kau bisa bersekolah?" tanya Hinata. Dan itu bukanlah pertanyaan aneh. Ada alasan dibalik pertanyaan itu.
"Aku tidak tahu. Sekretarisku sedang memikirkan hal itu. Ia sedang membuat jadwal agar aku bisa membagi waktu antara bersekolah dan mengurusi perusahaan. Tapi kalau nenek yang memerintahkanku sekolah, mungkin pada saat itu juga aku akan pergi ke sekolah meskipun sekretarisku belum menyelesaikan jadwalnya."
"Sepertinya kau juga kerepotan ya. Menjadi direktur perusahaan besar di usia semuda ini tentu menjadi sebuah masalah. Tapi kau harus bisa mengatasi semuanya."
"Iya. Beberapa hari yang lalu aku dibuat bimbang. Tapi setelah aku memutuskan untuk meneruskan kepemimpinan perusahaan, kebimbangan itu berakhir dan aku siap menanggung semua risiko. Bahkan kalaupun aku harus keluar dari sekolah, akan kulakukan."
Hinata memukul meja dan berdiri. Hal itu membuat Naruto kaget dan langsung terdiam. "Kau tidak boleh sampai keluar dari sekolah hanya karena disibukkan dengan urusan kantor!" Mendengar perkataan Hinata itu, Naruto dibuat bingung untuk sejenak. "Hal yang masih tersisa di hidupmu sebagai lambang masa mudamu ialah masa-masa sekolah. Kalau kau sampai mengorbankan itu juga hanya demi perusahaan keluargamu, kau nantinya akan menyesal."
"Aku tahu itu. Tapi... Kalau kesibukannya seperti ini terus, aku tidak akan bisa bersekolah."
"Kau bisa." Ucapan itu bukan berasal dari Hinata. Karena terkejut, Hinata dan Naruto melihat ke asal suara. Tanpa salam atau peringatan lainnya, Tsunade memasuki rumah bersama Sekretaris Naruto.
"N-Nenek!" sebut mereka berdua.
"Maaf nenek datang dan langsung masuk. Mendengar percakapan kalian membuat nenek ingin segera memberikan pendapat. Malam ini sekretarismu sudah selesai membuat jadwal kerja untukmu. Kau bisa bersekolah dan sepulang sekolahnya, kau akan bekerja dikantor untuk mengurusi hal-hal yang tidak sempat kau kerjakan di siangnya."
"Benar, tuan. Jadwal ini sudah saya buat sedemikian rupa agar Anda bisa membagi waktu antara sekolah dan perusahaan. Jika jadwal perusahaan cukup sibuk, maka Anda harus mengambil izin untuk tidak sekolah..." Sekretaris itu membicarakan cukup banyak hal dan memakan waktu cukup lama. Naruto dipaksa untuk mendengar semua jadwal kegiatan untuk besok dan lusa serta kesepakatan antara pihak perusahaan dengan sekolah. Dan setelah pembicaraan panjang lebar. "Itulah hal yang perlu Anda ketahui. Besok Anda bisa mulai bersekolah. Namun karena jam pelajaran terakhir tidaklah begitu penting, besok Anda diizinkan pihak sekolah untuk pulang lebih awal agar bisa menghadiri rapat perdana itu."
Rapat perdana adalah rapat pertama Naruto bersama para petinggi perusahaan. Rencananya mereka akan membahas mengenai rencana perusahaan ke depannya bersama direktur baru mereka.
"Jam terakhir untuk besok?" Naruto berpikir. "Oh benar. Olahraga. Benar tidak penting buatku. Lagi pula biasanya aku bolos jam pelajaran olahraga." Batinnya menanggapi perkataan sekretaris itu.
"Kira-kira itu saja yang harus saya sampaikan. Selamat beristirahat."
"Istirahat? Aku belum bisa beristirahat. Bukannya hari ini aku harus pergi ke bandara untuk melihat pesawat baru kita?"
Sekretaris itu melihat Naruto dengan heran. "Anda belum diberitahu?" perkataan sekretaris itu mendapatkan reaksi bingung dari Naruto. "Karena ada masalah di bandara tadi sore, mereka membatalkan rencana itu. Lagi pula jika Anda tidak mau membuang-buang waktu untuk melihat pesawat itu, Anda bisa saja langsung meresmikannya dari kantor Anda."
"Oh begitu. Lalu kenapa Arashi dan Korata tidak memberitahuku hal itu?"
"Umm. Entahlah. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam tuan Naruto, Nyonya Tsunade, dan Nyonya Hinata." Sekretaris itu pun pergi. Naruto membaringkan badan di sofa dan mengeluh. Ia bahkan mengabaikan 2 orang yang sedang duduk di dekatnya.
"Ehem. Kau lupa. Masih ada nenek di sini."
Naruto cepat-cepat mengubah posisinya. "M-Maaf."
"Kau sepertinya sangat kelelahan. Malam ini kau harus segera beristirahat."
"Ada apa nenek datang malam-malam begini kesini sendirian?" tanya Hinata.
"Nenek tidak sendiri. Ada Korata menunggu nenek di mobil."
"Lalu apa tujuan nenek datang ke sini?" tanya Naruto.
"Nenek ingin mengajak kalian kembali ke vila. Nenek kesepian di sana."
Ekspresi Naruto dan Hinata kala itu berubah. Tentu saja tanpa Jiraiya, Tsunade akan merasa sangat kesepian tinggal di rumah sebesar itu sendirian.
"Tapi nek. Bukankah itu terlalu berbahaya."
"Tidak akan berbahaya selama kau... bukan. Jika kalian tidak mengajak teman ke rumah."
"Baiklah nek. Kami mengerti. Kami akan pindah ke sana. Kau setuju kan, Naruto?"
Naruto terlihat berpikir. Ia pun mengangguk setelah cukup lama menimbang-nimbang pikiran.
"Nenek akan mengatur kepindahan kalian. Besok nenek akan menyuruh orang untuk memindahkan semua barang-barang kalian ke vila. Dan besok kalian langsung pulang saja ke vila."
Setelah mengatakan itu, Tsunade pun berpamitan dan pergi. Itu adalah kunjungan yang sangat cepat. Namun ada kesan tersendiri yang tertinggal di hati Naruto dan Hinata. Terkhususnya saat Tsunade mengatakan bahwa ia kesepian. Karena hal itu pula, Naruto pun setuju untuk pindah ke vila tersebut.
"Jadi Naruto. Apa kau mau mandi dulu atau makan dulu? Atau kau mau langsung beristirahat?" tanya Hinata.
"Kurasa aku mau mandi."
"Kalau begitu, akan kusiapkan bak air panasnya."
"Terima kasih."
Hinata meninggalkan ruang tamu menuju kamar mandi. Naruto pun berjalan menuju kamarnya untuk mengambil baju yang akan ia pakai setelah mandi.
[]=[]=[]
Makan malam kali ini mungkin akan menjadi makan malam terakhir mereka di rumah ini. Sesuai rencana, mereka akan mulai beres-beres dan besok ketika pulang sekolah, mereka akan langsung pulang menuju vila keluarga Uzumaki yang berada di distrik istimewa tempat di mana para orang-orang sukses dan penting tinggal.
Keadaan di dapur kala itu cukup sunyi. Bahkan suara dentingan akibat sendok yang menyentuh permukaan piring bisa terdengar sampai ke ruang tamu. Mereka berdua sama sekali belum mengeluarkan kata-kata apapun semenjak mengunyah sesendok nasi pertama.
Begitu sesendok nasi terakhir telah ditelan oleh Naruto, ia segera meminum segelas air hingga dirasa mulutnya telah bersih dari sisa-sisa nasi. "Terima kasih, makanannnya," ucapnya seperti biasa ketika selesai menyantap makanan yang dimasak Hinata.
Naruto kala itu hendak berdiri untuk meletakan piring ke tempat pencucian piring. Tiba-tiba ia dihentikan oleh Hinata.
"Biar aku saja, Naruto! Kamu beristirahat saja."
Naruto menurut. Ia pun tidak mungkin mau mencuci piring sehabis makan. Itu bukan kebiasaannya meskipun saat ini hidup berdua dengan Hinata. Ia tadi hanya bermaksud untuk membawa piring dan gelas yang telah ia pakai ke tempat pencucian piring untuk mempermudah Hinata. Tapi respons dari gadis itu membuatnya kembali meletakkan piring tersebut kembali ke atas meja.
"Ahh. Baiklah—" Naruto melihat piring Hinata. Nasi dan lauknya masih banyak meskipun sudah 15 menit berlalu. "Hinata. Apa kau makan banyak hari ini?" Sekilas ia melihat Hinata makan dengan lambat sebelum akhirnya melihat ke arahnya untuk menanggapi pertanyaan yang Naruto lontarkan. "Atau kau lagi tidak enak badan?"
Naruto memandangi wajah Naruto lalu berkata. "A... Aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin makan terburu-buru."
"Benarkah?" Naruto sangat serius memperhatikan wajah Hinata. Namun meskipun ia melihat wajah Hinata yang serius saat mengatakan bahwa ia tidak kenapa-kenapa, Naruto melihat ada sekilas tipu daya di sana. Itu membuatnya kembali melontarkan pertanyaan untuk memastikan perkataan Hinata.
"Hmm. Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak ingin makan buru-buru, makanya aku makan secara perlahan."
"Meskipun kau bilang begitu, kalau aku perhatikan makanan dipiringmu itu bahkan belum berkurang setengahnya. Tapi yah! Terserah padamu. Tapi usahakan kau mempercepat makanmu. Kau makan terlalu lambat. Nanti nasi dan lauk dipiringmu keburu dingin."
"Baik. Akan aku ikuti saranmu, Naruto. Sebaiknya kamu segera beristirahat."
"Aku mungkin akan belajar sebentar sebelum tidur. Melihat jam saat ini, masih terlalu awal untuk tidur."
"Kalau kau butuh teh atau yang lain, panggil aku saja. Aku akan berada di dapur untuk merapikannya sebelum kita pindah."
Naruto pun berjalan menuju kamarnya.
[]=[]=[]
Di kamarnya, Naruto terlihat cukup serius belajar. Ia mati-matian menghafal rumus matematika dan menerapkan rumus-rumus itu untuk menjawab berbagai soal. Keseriusannya ini berdasarkan pada satu hal yang ingin ia raih. Yaitu menjadi lebih pintar dari Sasuke dan membuat si Uchiha itu berkata, "Naruto, lihat jawabanmu, dong!" Meskipun sampai kapanpun si Uchiha itu tidak akan pernah mengatakan itu karena level matematika Naruto dengan Sasuke sangat berbeda.
Setelah cukup lama memacu otaknya untuk menemukan jawaban atas suatu permasalahan matematika, Naruto yang merasa haus pun menutup dan menyimpan semua buku-buku yang ia pakai. Ia berdiri dan berjalan menuju dapur. "Sepertinya masih atas satu kotak jus. Hmm. Habiskan sajalah."
Naruto berencana untuk meminum jus jeruk yang tersimpan di dalam kulkas seraya menonton acara malam hari yang tayang di TV. Sepintas ia memang mengingat kata-kata Hinata sebelum ia menuju kamar. Namun, ia tidak ingin mengganggu Hinata yang sedang membersihkan dapur.
Naruto tiba di dapur. Ia berjalan pelan ke arah kulkan. Sesekali matanya melihat ke arah Hinata yang memunggunginya karena sedang mencuci peralatan makan. Hinata sepertinya belum menyadari kehadiran Naruto. Namun ketika pintu kulkas dibuka, terdengar suara derik yang halus. Suara itu mengambil perhatian Hinata.
"Naruto! Ada apa? Kau cari sesuatu di kulkas?"
"Ya. Aku mau mengambil sekotak jus." Naruto melihat-lihat isi dalam kulkas. Tangannya meraih sebuah kotak yang menjadi kemasan minuman jus. Setelahnya, ia mengambil gelas yang berada sejajar dengan tempat pencucian piring.
Seraya menuangkan isi jus itu ke sebuah gelas yang besar, Naruto melihat ke arah Hinata. Gadis itu sangat fokus dalam mencuci piring. Pandangannya hanya tertuju pada piring saja. Ia bahkan tidak mengeluarkan satu pun kata-kata meskipun Naruto berada tak jauh darinya. Naruto berpikir bahwa Hinata sudah terlalu berlebihan. Ia tidak seharusnya seteliti itu hanya karena sedang mencuci piring dan peralatan makan lainnya.
"Yo Hina—" Naruto melihat piring yang sedang dipegang gadis itu terlepas dari tangannya ketika sedang di cuci. Tiba-tiba saja pose tegap yang sebelumnya dilakukan Hinata kala mencuci mulai berubah dan akhirnya ia terjatuh ke belakang.
Naruto melepaskan kotak jus yang ia pegang di tangannya dan segera menangkap Hinata dan melindungi kepalanya yang hampir saja membentur kaki meja makan yang terbuat dari besi. Ia sangat terkejut melihat Hinata pingsan ketika dirinya sedang bekerja.
"Oi! Hinata! Hinata! Kau kenapa?" Naruto menepuk pipi Hinata pelan. Ia mencoba menyadarkan Hinata dengan cara seperti itu. Tak dipungkiri lagi bahwa ia saat ini sedang panik. Ia merogoh kantung celananya namun tak menjumpai benda yang ingin ia pakai saat itu.
"Sial. Apa yang harus kulakukan?" Ia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini jadi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat Hinata sadar. "Aku harus membaringkan Hinata di kamar lalu menghubungi nenek. Itu yang harus kulakukan saat ini." Terlintas pemikiran itu dan segera ia laksanakan. Ia mengangkat Hinata dengan kedua tangannya lalu membawa Hinata menuju kamar. Ia sempat kesulitan saat ingin membuka pintu karena kedua tangannya dipakai untuk membopong Hinata. Namun ia tidak kehabisan akal. Alih-alih menurunkan Hinata lalu membuka pintu, Naruto lebih memilih untuk membuka pintu dengan kakinya. Risikonya memang fatal apabila ia kehilangan keseimbangan. Namun ia yakin bahwa keseimbangannya cukuplah baik. Ia cukup bersyukur bahwa model gagang pintu di rumah ini masih memungkinkan ia membuka pintu dengan memakai kaki.
Ruangan kamar saat itu cukup gelap. Wajar saja karena Hinata sering mematikan lampu kamar apabila tidak digunakan. Namun keadaan kamar tidaklah begitu gelap sebab masih ada cahaya remang-remang yang berasal dari luar kamar.
Ia menurunkan Hinata perlahan di kasur dan memakaikannya selimut. Matanya secara refleks melihat ke arah benda berwarna pink yang berada di atas meja belajar Hinata. Ia segera meraihnya dan mencoba menyalakannya. "Sial. Ternyata pakai sandi." Ia cukup kecewa dan akhirnya meletakan ponsel itu kembali. Ketika ia memutuskan untuk mengambil ponsel yang ada dikamarnya, tiba-tiba ponsel milik Hinata berbunyi. Suaranya cukup keras bahkan suara itu cukup membuat Hinata sadar dari pingsannya. Aneh memang. Namun itulah yang terjadi. Naruto juga dilanda kebingungan akan hal itu. Ia juga merasa senang bahwa Hinata tidak pingsan hingga berjam-jam atau bahkan semalaman.
"Naruto!" Hinata nampak bingung saat melihat Naruto dan ruangan yang gelap. "Di mana aku?"
Naruto menghembuskan nafas lega. "Syukurlah kau sudah sadar. Tadi kau pingsan. Makanya aku membawamu ke kamar."
Sejenak mereka tidak memperhatikan bahwa ponsel pink itu masih bergetar dan mengeluarkan suara tanda panggilan masuk. Suara itu sempat hilang dalam kurun waktu kurang dari satu detik sebelum akhirnya kembali berbunyi dengan nada yang berat. Seketika itu juga Naruto menyadari bahwa ia harusnya menyerahkan ponsel itu pada Hinata. Segera ia mengambilnya dan melihat nama si pemanggil. "S-Sakura!"
"Ehh! Sakura." Hinata dan Naruto sepertinya cukup terkejut.
Naruto segera menyerahkan ponsel itu dan menutup rapat mulutnya sebelum Hinata mengangkatnya.
"H-Halo...Sakura."
"Lama banget kau angkatnya. Lagi tidur ya?"
"Tidak! Aku tadi lagi di dapur." Itulah yang Hinata katakan. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia baru siuman.
"Ohh."
"Ada apa tiba-tiba menghubungiku?"
"Eh! Kau lupa? Bukankah tadi sekolah, aku sudah bilang kalau aku mau datang ke rumahmu untuk meminjam buku resep dan mengembalikan uang yang tadi kupinjam di sekolah. Kau bahkan sudah setuju."
"Ehh!" terkejut luar biasa. "Benarkah? Aku benar-benar lupa. Maaf. Besok akan aku bawakan."
"Besok? Jadi aku tidak bisa datang ke rumahmu, Hinata?"
"Maaf. Pamanku melarang membawa teman ke rumah."
"He! Tapi aku sudah terlanjur datang karena tadi siang kau bilang boleh."
"Ehh...Eng..." Hinata terlihat bingung ingin mengatakan apa.
Sementara itu, Naruto mengintip melalui jendela. Posisi kamar Hinata memang memungkinkannya untuk melihat ke arah gerbang. Benar sekali. Di sana ada seseorang yang sedang menunggu. Dan di bawah lampu jalan, ada sebuah mobil yang tidak asing lagi di matanya.
"Cih! Sasuke! Kenapa kau malah membawa Sakura ke sini. Harusnya kau paham situasinya, kan?" Naruto mengepal tangannya dengan kuat. Ia merasa ingin memukul sahabatnya itu. Ia menutup korden dan melihat ke arah Hinata. Ternyata ia juga sedang melihat Naruto dengan ekspresi yang mengatakan "Aku butuh bantuanmu."
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
Note
Hmmm! Tidak banyak yang ingin saya bahas. Kalian pasti taulah alasannya.
Untuk Review yang dikirim oleh (Guest) Terima kasih sudah memberi masukan yang berarti. Untuk masalah penggunaan action yang tidak tepat untuk cerita ini. Kurasa nasi sudah menjadi bubur. Terpaksa saya harus mengikuti alur yang ada. Namun tidak akan berlebihan layaknya ketika saya membuat adegan action di cerita Fanfiksi "Kehidupan Baru Boruto". Tapi ya untuk kedepannya mungkin akan saya lakukan saran ini. Tapi untuk sekarang kurasa cerita ini akan memasuki tahap santai terlebih dahulu dan juga updatenya pun akan menjadi tidak teratur seperti biasa. Ada beberapa alasan soalnya.
Lalu mengenai campur aduknya bahasa baku dan non baku dalam dialog. Saya mohon maaf. Saya tidak begitu memperhatikannya. Selama 3 tahun ini saya menulis cerita dengan sebagian besar memakai bahasa baku. Jadi agak sulit apabila memadukan bahasa sehari-hari ke dalam dialog. Terkadang hasilnya akan jadi seperti itu. Tapi jika ada kalimat yang pencampurannya benar-benar mengganggu silakan dilaporkan pada saya agar tidak mengulang kesalahan yang sama lagi.
Untuk review yang lain, mohon maaf sebab review kalian itu bersifat unrepeatable (Tak bisa dibalas sebab tidak memiliki bahasan)
Ah dan ngomong-ngomong mengenai review Faded Light505, saya sudah balas di kotak PM kan?
Kuharap di chapter 12 ini saya semakin mendapat banyak dukungan dan ulasan.
Terima kasih sudah membaca.
Pesan tambahan.
Masih ingatkah kalian dengan Fanfiksi berjudul "Uzumaki Destiny"
Sekarang cerita itu sudah dihentikan proses pembuatannya karena berbagai alasan. Alasan paling utama karena author sedang tidak mengikuti ceritanya sehingga tidak mendapatkan feeling untuk melanjutkannya.
Namun, jika kalian penasaran terhadap bagaimana jalan cerita Boruto versi saya dan juga kelanjutan dari chapter terakhir, maka saya mungkin akan melanjutkan proses pembuatannya sebab itu selamanya akan menjadi utang. Hanya saja, ada syarat pendukung.
Berilah review dengan memakai tak ( #Lanjut_Uzumaki_Destiny ) tak boleh diletakan setelah kalian memberikan ulasan untuk chapter ini atau bahkan bisa langsung memakai tag tanpa harus memberi ulasan. Jumlah maksimum yang saya patok ialah +10.
Jika tidak ada dukungan yang masuk atau jumlahnya tidak mencapai 10, maka secara resmi akan saya umumkan penghentian paksa cerita tersebut di update selanjutnya.
Maaf atas ketidaknyamanan ini. Semoga kalian masih setia mendukung cerita ini dan cerita-cerita yang akan saya publish kedepannya.
Numpang Promo Cerita Wattpad.
Mohon abaikan promo ini jika tidak berminat.
Keamanan dan ketenteraman kota terancam. Bermula ketika tim patroli militer menemukan sebuah bangunan yang berada di hutan dekat perbatasan. Bangunan itu ternyata dihuni oleh sekelompok orang bersenjata. Derza, salah satu prajurit TNI berpangkat Sersan Dua menjadi korban tembak dalam patroli itu.
Semua berubah sejak itu. Perlahan ketenteraman kota mulai terancam akibat keberadaan kelompok bersenjata tersebut. Puncak dari kekacauan terjadi ketika kelompok bersenjata yang menamai diri mereka KONPERA turun ke jalan dan melakukan aksi pemberontakan secara brutal.
Temukan Cerita Ini Di Wattpad.
Judul : Gejolak Di Bumi Animha
Kategori : Fiksi Umum
