Warn! typos dan membosankan. Enjoy!

.

.

.

.

.

Donghyuck berjalan terserok-seok menuruni tangga sambil mengumpati Mark di dalam hati. Semalam Mark menggempurnya habis-habisan tanpa ampun. Seingat Donghyuck mereka melakukannya sampai 3 ronde, dan Mark masih belum juga puas, Mark tidak akan mau berhenti jika saja Donghyuck tidak mengancamnya kalau dia tidak akan mau menikah dengan Mark jika Mark masih terus saja menggempurnya. Dia sudah mau pingsan rasanya, dan saat ia terbangun di subuh hari tubuhnya terasa hancur dan pantatnya terasa luar biasa perih. Donghyuck sampai mengeluarkan air mata saat menggerakan badannya sedikit saja, rasanya ia ingin menggunduli kepala Mark yang sedang tidur pulas sambil mendusal-dusalkan kepala dilehernya. Terkutulah Mark dengan segala hormon sialannya itu.

"Pinggangmu masih sakit? apa perlu aku memanggil tukang pijat?" Ten, ibu Donghyuck yang melihat putranya berjalan tertatih-tatih meringis prihatin.

Jika kalian mengira Ten tahu bahwa Donghyuck baru saja digempur oleh Mark maka jawabannya tentu saja tidak!. Donghyuck bisa langsung dipecat menjadi anak jika ibunya sampai tahu. Pagi tadi Mark mengantarkan Donghyuck dan mengatakan pada Ten bahwa Donghyuck terpeleset di kamar mandi, dan Mark rasa pinggul Donghyuck cidera. Donghyuck hanya dapat mencibir di dalam hati mendengar Mark mengatakan alasan yang menurutnya sangat tidak masuk akal seperti itu. Dan yang mengherankan, kenapa ibunya percaya begitu saja??!

"Tidak usah, aku tidak apa-apa" Donghyuck mendudukan dirinya di kursi meja makan dengan susah payah. Bokongnya kembali nyeri bukan main saat bersentuhan dengan kursi meja makan. Sialan benar Mark, kenapa badannya terasa sakit semua seperti ini?

"Mana ayah?" tanya Donghyuck sambil menyendokkan makanan kemulutnya

"Dia sudah berangkat kerja sejak subuh buta, katanya dia banyak perkerjaan dan paginya akan meeting dengan Direktur Rumah sakit" Ten melirik sekilas ke arah Donghyuck dan melanjutkan perkerjaan memanggang kuenya

"Seperti yang kau tahu, ayahmu itu dokter yang sibuk"

Donghyuck hanya mangut-mangut saja mendengar perkataan ibunya.

Kemudian matanya memicing heran saat melihat ibunya membuat kue. Tumben sekali ibunya itu mau repot-repot membuat kue. Biasanya, meskipun Donghyuck meminta dibuatkan cemilan manis itu sambil merengek sampai menangis pun Ibunya itu tetap tidak sudi membuatkannya. Ia malah memberikan Donghyuck uang dan menyuruhnya membeli di toko kue yang berada di depan komplek perumahan mereka.

"Ibu membuat kue? tidak biasanya" Tanya Donghyuck

"Kau bilang tadi Renjun mau kemari, jadi Ibu membuat kue untuknya" Ucap Ten sambil menoleh sekilas ke arah Donghyuck.

Donghyuck menganga tak percaya, walaupun dia tahu Ibunya sangat menyukai Renjun tapi ia tidak menyangka Ibunya ini benar-benar sangat menyukai Renjun dibandingkan dirinya. Astaga malang sekali nasibmu Hyuck!.

"Pagi semuanyaaaaa"

Donghyuck mendengus keras, tanpa melihat siapa yang datang pun dia sudah tahu jika sahabatnya itu sudah menerobos masuk tanpa permisi dirumahnya seperti biasa.

"Pagi sayang" Balas Ten sambil tersenyum cerah.

"Bibi buat kue?"

"Iya, Donghyuck bilang kau akan kemari pagi ini. Jadi bibi membuatkanmu kue"

Renjun menatap Ten dengan mata berbinar "Bibi yang terbaik! "

Renjun mendudukan dirinya disamping Donghyuck yang sedang memakan sarapannya tanpa minat sedikit pun untuk ikut bergabung ke dalam obrolan tidak penting yang sedang dilakukan oleh Ibu dan sahabatnya itu.

Renjun mendendang-nendang kaki Donghyuck pelan lalu berbisik "Bagaimana?" Tanyanya tidak jelas.

"Apanya?" balas Donghyuck malas

"Hisss, jangan berpura-pura tidak tahu! " sungut Renjun jengkel

"Ya kau bertanya tidak jelas seperti itu!"

Renjun menghembuskan nafasnya pelan "Maksudku, kau dan Mark Sunbae bagaimana? kau bilang kau menginap di Apartemennya, bagaimana bibi bisa mengizinkanmu?"

Mendengar pertanyaan Renjun barusan membuat Donghyuck merasa diingatkan kembali dengan kejadian panas tadi malam. Tiba-tiba wajahnya kembali memerah dan membuatnya meringis tidak jelas.

Renjun menatap Donghyuck dengan heran "hei, hei, apa-apaan dengan wajahmu itu?! kau terlihat seperti pria tua mesum yang sering chenle ceritakan padaku"

Renjun menepuk pipi Donghyuck dengan kuat sehingga membuat Donghyuck memekik marah.

"Kenapa menamparku sih?!"

"Cepat ceritakan padaku!" desak Renjun tak sabar.

Donghyuck menelan suapan terakhirnya lalu bangkit dan menarik Renjun untuk segera menuju ke kamarnya, akan sangat berbahaya jika ibunya mendengar obrolannya dengan Renjun. Dahi Renjun berkerut heran melihat cara jalan Donghyuck yang tertatih-tatih sambil meringis kesakitan. Perasaannya seketika tidak enak, pikirannya sudah melayang jauh memikirkan kejadian erotis dan tidak-tidak yang mungkin terjadi antara Mark dan Donghyuck tadi malam.

"Jadi apa yang terjadi?" Renjun langsung menodong Donghyuck dengan pertanyaan setelah mereka duduk berdua berhadapan di atas tempat tidur.

Mata Donghyuck bergerak gelisah, menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakkannya pada Renjun atau tidak. Renjun itu kadang tidak bisa mengontrol mulutnya, sama saja dengan Jaemin.

"Aku dan Mark-"

"Jangan bilang kalian melakukan seks?" tebak Renjun dengan mata memicing tajam

Donghyuck tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar perkataan Renjun barusan, wajahnya langsung memerah hebat.

"What the fuck!" Renjun melotot tidak percaya melihat Donghyuck hanya menganggukan kepalanya dan menoleh kesana kemari dengan gelisah.

"Kau gila ya?!" Sembur Renjun tidak habis pikir.

Dia reflek memukuli kepala sahabatnya itu dengan guling saking kesalnya.

"Jangan memukuliku!" Protes Donghyuck

"Lagi pula semua ini salahmu! aku diperkosa dengan brutal oleh Mark semuanya salahmu!"

Donghyuck menunjuk-nunjuk Renjun dengan jari telunjuknya sedangkan yang ditunjuk memasang ekspresi terkejut dan tidak terima karna tiba-tiba saja disalahkan.

"Kenapa bisa menjadi salahku?!"

Donghyuck mendecih "Jika aku tidak mengikuti saranmu, pasti aku tidak akan merasa kesakitan sekarang. Pantatku serasa ingin lepas tahu!"

Renjun meringis setelah mendengar perkataan sahabatnya itu. Entah kenapa dia ikut merasa ngilu melihat ekspresi tidak berdaya yang Donghyuck tampilkan sekarang.

"Saranku yang mana? Jangan bilang.. -"

"Iya! aku meminta Mark untuk menikahiku"

Renjun menganga tidak percaya. Dia tidak menyangka jika Donghyuck akan benar-benar meminta Mark untuk menikahinya. Padahal kemarin saja dia mengatainya gila karna menyuruhnya melakukan hal itu. Dasar labil.

"Kenapa jadi salahku?! Kan aku cuma memberimu saran. Salahmu sendiri benar-benar melakukannya!" Protes Renjun tidak terima

"Ya aku hanya bercanda. Mana ku tahu jika Mark ternyata benar-benar sinting dan menganggap serius semua perkataanku!"

"Terus bagaimana sekarang?"

Donghyuck menggelengkan kepalanya lemah "Mana aku tahu"

Renjun terdiam, dia heran kenapa dia jadi ikut pusing sih!.

"Terus kenapa kalian bisa berakhir dengan melakukan seks seperti itu? berapa kali kalian melakukannya? apa Mark bermain kasar? kenapa kau tak menolaknya sih? terus- mmmph!"

Donghyuck langsung membekap mulut Renjun dengan tangannya karna sahabatnya itu malah berceloteh tidak jelas dan memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sensitif dan memalukan seperti itu.

"Diam bodoh!"

Renjun melepaskan tangan Donghyuck yang membekap mulutnya, dia langsung menghirup oksigen dengan rakus karna perbuatan Donghyuck barusan hampir saja membuatnya kehabisan nafas.

"Kau mau membunuhku ya?!" Renjun mendelik marah

"Aku memang ingin membunuhmu sejak dulu!"

Renjun mengabaikan perkataan Donghyuck, dia malah semakin merapatkan tubuhnya dengan Donghyuck. Kebiasaan yang Renjun miliki jika ia ingin mengajak Donghyuck bergosip.

"Jadi ceritakan apa lagi yang terjadi tadi malam" Renjun menatap Donghyuck dengan ekspresi penasaran

"Tidak" Tolak Donghyuck cepat

"His kau ini!"

Donghyuck memekik kaget saat dengan tiba-tiba Renjun menarik kaos yang ia kenakan ke atas, menampilkan perut dan dada Donghyuck yang dipenuhi dengan bercak-bercak merah keunguan serta bekas luka gigitan di sekitar putingnya.

"Astaga!" Renjun membekap mulutnya sendiri. Ia terkejut melihat banyaknya hickey di tubuh Donghyuck. Seketika ia bisa membayangkan bagaimana liarnya Mark tadi malam. Astaga Renjun, kau harus segera berhenti membaca Fanfict rated jika tak ingin otakmu terkontaminasi lebih dari ini.

"Jangan buka-buka! " Donghyuck menurunkan kaosnya yang tadi di angkat paksa oleh Renjun.

"Tidak aku sangka ternyata sahabatku adalah seorang lelaki murahan!" Ucap Renjun dramatis sambil menyeka air mata imajiner-nya.

"Hentikan itu atau ku pukul wajahmu!" Ancam Donghyuck sambil mengangkat kepalan tangannya di depan wajah Renjun.

"Okay, maafkan aku. Terus apa lagi yang terjadi?"

"Tidak ada, kami langsung tidur setelah melakukan itu. Kau tahu aku rasanya ingin pingsan saat meladeni Mark"

"Eww, jangan mengatakan hal seperti itu kepada jomblo sepertiku oke. Haram"

Donghyuck hanya memutar bola matanya malas.

"Ponselmu bergetar dari tadi tuh, kau tak ingin memeriksanya?" Ucap Renjun sambil membuka bungkusan kripik kentang yang baru saja ia ambil dari dalam lemari Donghyuck.

Donghyuck melirik ponselnya yang berada di sampingnya sekilas. Sudah bisa ditebak jika Mark-lah yang mengiriminya pesan sedari tadi. Maka dari itu Donghyuck malas membukanya, ia masih kesal dengan Mark yang berubah menjadi buntalan hormon berjalan yang tidak tahu malu dan berperi-kebokongan semalam.

"Malas. Pasti Mark yang menghubungiku. Aku masih kesal padanya. Aku bisa gila, dia makin posesif saja." Ucap Donghyuck sambil ikut memakan kripik kentang bersama Renjun.

"Kau tahu Njun, tadi pagi aku hanya tersenyum kepada Satpam komplek Apartemennya, tapi bocah itu langsung mengamuk dan memgomeliku. Bahkan ia juga melarangku tersenyum kepada lelaki lain selain dirinya dan ayahku!" ucap Donghyuck menggebu-gebu.

"Sangat mengerikan" komentar Renjun

Donghyuck menganggukan kepalanya dengan semangat saat mengetahui Renjun juga mempunyai pikiran yang sama dengannya "Iyakan? sangat mengerikan sekali"

Renjun mangut-mangut saja saat mendengarkan cerita Donghyuck. Jika dipikir-pikir Sunbaenya itu memang sangat posesif dan sedikit berlebihan terhadap Donghyuck.

Dia ingat saat hari pertama Mark mulai mengintili Donghyuck, dia akan melotot dan mendelik tak suka saat ada pria atau wanita yang mencoba berbicara atau tersenyum kepada Donghyuck. Wajah Mark langsung terlihat murka dan menakutkan. Dia akan selalu menempeli Donghyuck kemana pun Donghyuck pergi, bahkan ia selalu menculik Donghyuck darinya jika jam makan siang. Donghyuck tidak bisa protes sama sekali, karna memang pada dasarnya Donghyuck menyukai Mark. Jadi dia menikmati saja, walau kadang Mark akan berubah menjadi sangat cabul, tidak bermoral, dan sangat menjengkelkan.

Dan Renjun sangat ingat sekali saat pertama kali Renjun bertemu dengan Mark ia hampir mati di hajar olehnya, karna Renjun mencubit pipi Donghyuck gemas dan mengusak-ngusak rambutnya. Ayolah itu sudah menjadi kebiasaannya dari kecil, Mark yang tidak tahu jika Renjun adalah sahabat sehidup semati Donghyuck langsung memukul wajahnya dengan kuat saat melihat Renjun melakukan kebiasaannya itu, bahkan Mark mengumpatinya dan memberikannya jari tengah. Jika mengingat kejadian itu Renjun jadi dongkol seketika.

Dan yang lebih mengerikan dari itu semua adalah kadar ke-posesif-an Mark yang terus bertambah setiap harinya. Ia bahkan tidak segan-segan menyusul Donghyuck dikelasnya jika Donghyuck terlambat 5 menit saja membalas pesannya. Heol, lebay sekali bukan?.

"Tapi kau menikmatinya kan? jadi tidak masalah sih menurutku"

Donghyuck membenarkan perkataan Renjun barusan di dalam hatinya. Ia memang menyukai dan menikmatinya sih, bahkan ia merasa sedikit bahagia jika Mark memang benar-benar akan menikahinya. Okay, jika kalian menganggap Donghyuck labil maka kalian tidak salah. Bahkan Donghyuck saja bingung dengan dirinya sendiri.

"Terus apa yang Mark Sunbae katakan saat kau memintanya untuk menikahimu?"

"Dia langsung menghubungi orang tuanya dan memintanya segera kembali ke Seoul untuk melamarku, gila bukan? dasar sinting. Mark hyung juga bilang bahwa orang tuanya akan tiba hari in- astaga Renjun!!! orang tua Mark akan tiba hari ini!!"

Donghyuck menjerit heboh saat baru menyadari jika orang tua Mark akan kembali hari ini untuk melamarnya. Dia panik jika Mark benar-benar menepati semua ucapannya semalam. Bagaimana reaksi orang tuanya nanti?!

Renjun menganga tidak percaya, matanya melotot kaget setelah mendengar ucapan Donghyuck barusan.

"Kau bercanda?!"

"Tidak bodoh! aku serius! kau harus membantuku Njun, aku harus kabur dari sini! iya, aku harus kabur dan pergi jauh dari seoul!" Donghyuck segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan tertatih-tatih menuju lemarinya, bermaksud untuk menyiapkan pakaian-pakaiannya karna ia benar-benar harus melarikan diri dari sini.

Renjun langsung menarik tubuh Donghyuck dan kembali mendudukannya dengan kasar di atas tempat tidur. Donghyuck yang mendapat perlakuan kasar dari Renjun otomatis memekik marah karna bokongnya kembali terasa sakit bukan main "Sakit sialan!!" Umpat Donghyuck murka.

"Jangan bertindak bodoh seperti itu! Kau pikir kau akan kemana?! kabur kerumah Jaemin?!" Sembur Renjun jengkel

"Terus bagaimana?! apa yang harus aku lakukan?!"

Renjun menggigit jarinya, dia tengah berfikir dengan keras bagaimana caranya menolong Donghyuck, tapi otaknya malah berdenyut sakit saat ia paksaakan untuk berfikir.

"Sudahlah, terima saja" Renjun menyerah untuk menggunakan otaknya, lagipula menikah bukan suatu hal yang buruk. Apalagi menikah dengan seorang Mark Lee.

"Mana bisa begitu?!"

Renjun merangkul pundak Donghyuck "Sahabatku yang bodoh dengarkan aku, menikah itu bukan suatu yang buruk. Tidak akan ada yang berubah dari kehidupanmu yang mengenaskan ini kecuali status pernikahanmu itu. Jadi terima saja, lagi pula Mark itu kaya raya. Kau akan hidup enak Hyuck!" nasihat Renjun sok bijak.

Donghyuck mendecih mendengar segala omong kosong Renjun, tiba-tiba ia merasa Renjun terdengar seperti seorang Germo yang tengah membujuk korbannya untuk mau dijual kepada laki-laki hidung belang.

"Aku masih muda, aku baru 19 tahun Njun! lagipula Mark hyung belum lulus kuliah, bagaimana dia bisa menghidupiku yang banyak mau ini?!"

"Cih, bahkan kau sudah berpikir sampai jauh kesana" sindir Renjun.

Donghyuck mengabaikan ucapan Renjun seakan-akan sindiriannya barusan adalah sebuah fakta yang tidak bisa di bantah. Jelas saja dia memikirkannya sampai sejauh itu. Ini pernikahan man, meskipun ia tahu Mark itu sangat kaya raya bahkan hartanya tidak akan pernah habis, dia tetap saja merasa khawatir jika harus menikah sekarang. Ia itu banyak mau, banyak permintaan, boros dan merepotkan, ia takut Mark bukannya membahagiakannya tapi malah menjadikannya tukang masak dan bersih-bersih serta budak pemuas hormon sialannya itu. Donghyuck mana sudi!.

"DONGHYUCK!!! LEE DONGHYUCKK KELUAR KAU!!"

Donghyuck dan Renjun berjengit kaget saat mendengar suara seseorang memanggil-manggil Donghyuck dengan kuat dari lantai bawah.

"Hyuck? bukankah itu suara paman Johnny?" Tanya Renjun sambil mengernyitkan dahinya heran.

Donghyuck segera bangkit dari atas tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju lantai bawah, Renjun mengintili Donghyuck dari belakang, takut-takut jika bocah itu tergelincir atau bagaimana, karna cara jalan Donghyuck sama seperti cara berjalannya seorang lansia.

Donghyuck berjalan secara perlahan-lahan sambil meringis, dia menghampiri Ayahnya yang sedang duduk tegap di sofa ruang tamu dengan pandangan lurus kedepan, sedangkan Ten ibunya duduk dengan gelisah disampingnya.

"Ayah kenapa berteriak-teriak seperti itu sih?! terus kenapa Ayah sudah pulang? ini kan masih siang"

Ten mendelik melihat kelakuan anaknya yang sangat tidak sopan dan tidak tahu situasi itu.

"Kenapa kau tidak pernah bilang pada Ayah jika kau mempunyai seorang kekasih?!" sembur Johnny setelah melihat putranya berada di hadapannya.

Donghyuck menengguk ludahnya kasar, ia tahu Ayahnya memang melarangnya untuk berpacaran sebelum lulus kuliah. Dulu ia tidak merasa keberatan sama sekali karna memang ia merasa ia tidak akan pernah bisa memiliki seorang kekasih, tapi berbeda dengan sekarang. Renjun berdiri di belakang Donghyuck dengan takut, ia tidak pernah melihat paman Johnny semurka ini.

"Ayah... itu.. "

"Apa?!" Donghyuck terlonjak kaget saat Johnny langsung bangkit dari duduknya dan memotong ucapan Donghyuck dengan berteriak keras.

Plakk!!

"Aduh! sakit sayang! " Johnny mendelik tidak terima saat lengannya dipukul dengan kuat oleh istrinya.

"Kau jangan berteriak-teriak di dalam rumah! sudah kuperingatkan juga" Ucap Ten garang.

Johnny mengusap lengannya pelan lalu kembali mengalihkan atensinya kepada Donghyuck yang sedang menatapnya dengan gelisah "Jelaskan pada ayah sekarang juga, bagaimana bisa kau mempunyai seorang kekasih?! Apalagi kekasihmu itu adalah anak dari Direktur Rumah sakit tempat Ayah berkerja?!"

Ten melotot tidak percaya mendengat perkataan suaminya "Kau serius sayang?!"

Johnny tidak menanggapi pertanyaan Ten dan terus menatap putranya yang tengah memasang wajah panik dan kebingungan. Sejujurnya Donghyuck tidak tahu jika Orang tua Mark ada pemilih Rumah sakit tempat Ayahnya berkerja selama ini, dia saja baru tahu sekarang.

"Ayah, tenanglah dulu" Donghyuck menuntun Ayahnya agar kembali duduk di sofa.

"Errr ceritanya sangat panjang Ayah... lagipula-"

"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" Potong Johnny cepat

"Hampir 1 bulan Ayah" cicit Donghyuck pelan

"Apa?!" seru Johnny tidak percaya.

"B-bagaimana Ayah bisa tahu jika aku mempunyai pacar?" Tanya Donghyuck takut.

Johnny memijat kepalanya yang terasa pening. Baru 1 bulan katanya?! Oke, Johnny bukannya berlebihan, dia tidak masalah jika putranya menjalin sebuah hubungan, yang ia permasalahkan adalah siapa kekasih Donghyuck dan sudah berapa lama mereka berpacaran.

Tadi pagi, ia meeting bersama Atasan sekaligus sahabatnya yang baru saja kembali dari Kanada untuk membahas beberapa project dan perkembangan dirumah sakit tempatnya berkerja. Kali ini sahabatnya itu turut serta mengajak putranya, Johnny tentu sangat antusias saat bertemu untuk pertama kali dengan anak sahabatnya itu. Awalnya mereka hanya berbasa-basi dan saling mengobrol seperti biasa. Tiba-tiba saja Johnny teringat bahwa putranya berkuliah di tempat yang sama dengan tempat putra Atasannya itu berkuliah. Karna penasaran, putra Atasannya itu meminta Johnny untuk menunjukkan foto anaknya itu. Johnny dengan senang hati menunjukkan foto Donghyuck yang tengah berpose manis bersama Ten.

Setelah melihat foto putranya, anak Atasannya langsung membelalak kaget dan tiba-tiba saja menundukkan kepalanya hormat kepada Johnny. Sontak hal itu membuat dia dan Atasannya kaget.

"Paman aku akan mengenalkan diriku secara resmi kali ini. Perkenalkan namaku Mark Lee, putra dari Lee Jaehyun dan Lee Taeyong"

"Mark apa yang kau lakukan?!" Jaehyun, Ayah Mark menarik anaknya untuk segera kembali duduk dengan normal.

"Aku sedang memperkenalkan diriku pada calon mertuaku Dad!"

Ketiga pria dewasa yang berada disana melotot kaget mendengar perkataan Mark.

"Ah jadi Johnny itu ayahnya Lee Donghyuck?" Tanya Taeyong memastikan dan langsung diangguki dengan semangat oleh Mark.

"Benarkah?" Tanya Jaehyun dengan dengan mata berbinar.

"Iya Daddy. Aku tidak menyangka paman Johnny adalah calon mertuaku" Mark tersenyum lebar sambil menatap Johnny yang tengah dilanda kebingungan.

"Maaf tapi aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Lee Donghyuck yang kalian sebut-sebut sedari tadi itu-"

"Iya paman, Lee Donghyuck yang kami bicarakan itu anakmu" Mark berjalan mendekati Johnny dan dengan tidak tahu malunya langsung memeluk Johnny dengan erat. "Aku senang paman menjadi Ayah mertuaku"

Jaehyun menepuk dahinya dengan kuat melihat kelakuan anaknya yang tidak jelas, sedangkan di sebelahnya Taeyong hanya bisa meringis menahan malu.

"Err, Tunggu sebentar" Johnny melepas pelukan Mark kemudian memundurkan sedikit tubuhnya. Mark merengut menerima perlakuan Johnny, anak dan Ayah sama saja. Tidak suka jika ia peluk-peluk.

Mark kembali ketempat duduknya kemudian menatap Johnny dengan mata berbinar bahagia. Johnny sedikit risih melihat Mark yang memandanginya seperti itu. Jika Mark adalah anaknya, mungkin Mark sudah ia hajar sedari tadi.

"Maaf John atas kelakuan anak ku yang kurang waras. Sejujurnya aku juga sedikit kaget saat mengetahui jika kau ini ternyata ayahnya Donghyuck yang sering ia ceritakan pada kami selama ini"

Dahi Johnny mengkerut bingung. Bagaimana mungkin anaknya yang biasa-biasa saja itu mengenal dan akrab dengan Mark, sampai-sampai Mark menceritakan tentang Donghyuck kepada orang tuanya.

"Kau bingung ya John? " Tanya Taeyong

Johnny menganggukan kepalanya. Dia sangat bingung sekarang, sampai-sampai kepalanya ingin pecah.

"Jadi begini paman, Lee Donghyuck anak paman itu sebenarnya adalah pacar saya" jelas Mark

Johnny tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perkataan anak dari Atasannya barusan. Lee Donghyuck berpacaran dengan Mark?! Anak Atansannya?.

"Pasti ini ada sebuah kesalah-pahaman, anakku itu tidak mungkin mempunyai pacar, hahaha apalagi menjadi pacarmu Mark" Ucap Johnny sambil tertawa sumbang

Jaehyun mengusap tengkuknya canggung "Err, sejujurnya alasan kenapa kami kembali lebih cepat ke Seoul itu-"

"Apa?!" Potong Johnny cepat sambil menatap Jaehyun dengan tajam

Jaehyun tersenyum masam saat bawahan sekaligus sahabatnya itu memotong perkataannya sambil mendelik kesal.

"Tenanglah paman Johnny" Mark mencoba menenangkan Johnny yang sudah terlihat akan meledak.

"Baiklah, aku akan memberitahumu pelan-pelan John" Jaehyun membenarkan posisi duduknya, berdehem lalu menatap Johnny yang sedang memasang raut jengkel, kesal, terkejut itu dengan serius.

"Jadi, anakku dan anakmu adalah sepasang kekasih. Dan tadi malam, bocah ini meminta aku dan Taeyong segera kembali ke Seoul untuk melamar anakmu"

Johnny terkejut bukan main mendengar perkataan Atasan sekaligus sahabatnya itu.

"Aku bisa mati muda rasanya" Johnny memukul-mukul pelan tengkuknya yang entah kenapa terasa kebas. Mungkin karna faktor stress yang mendadak datang berkunjung ke kepalanya.

Johnny melirik sekilas Mark yang masih saja memandanginya dengan binar mata bahagia, Johnny mendengus dengan keras saat Mark tiba-tiba saja mengedipkan sebelah matanya kepada Johnny. Membuat ia semakin ingin menghajar wajah anak sahabatnya itu.

"Jadi bagaimana menurutmu John?"

"Tidak tahu" balas Johnny lemah, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Ayolah paman, aku sangat mencintai Donghyuck melebihi orang tuaku!" Ucap Mark dengan nada memohon.

Taeyong dan Jaehyun mendelik mendengar perkataan anaknya barusan "Apa kata mu?! kau lebih mencintai Donghyuck dibandingkan Daddy dan Mommy?"

Mark gelagapan mendengar protesan tidak terima dari orang tuanya. Dasar mulut busuk, bisa-bisanya kau keceplosan begitu "Maksudku, aku mencintai Donghyuck sama seperti aku mencintai Daddy dan Mommy" Ralat Mark

Johnny tidak menanggapi celotehan sepasang suami istri di depannya serta anak laki-lakinya itu. Pikirannya melayang kemana-mana.

"John, sebaiknya kau pulang sekarang. Nanti malam aku bersama keluargaku akan datang untuk melamar anakmu. Yahh ku harap kau akan menerima lamaranku ini"

Johnny hanya menganggukan kepalanya lemah lalu bangkit dari tempat duduknya, ia langsung berjalan dengan gontai keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Jaehyun, Taeyong dan Mark hanya bisa memandang Johnny dengan prihatin. Pasti dia sangat syok, pikir mereka bertiga.

"Pasti paman Johnny sangat terkejut" Ucap Mark dengan raut sedih yang terlihat dibuat-buat

Taeyong dan Jaehyun hanya menghebuskan nafas jengah melihat kelakuan anaknya yang sangat memalukan itu. Mereka hanya berharap agar Johnny menerima lamaran mereka.

.

Donghyuck menganga tidak percaya mendengar apa yang Ayahnya katakan, Donghyuck semakin yakin jika Mark itu benar-benar sinting.

Johnny membaringkan tubuhnya diatas sofa, ia memandang langit-langit rumahnya dengan ekspresi kosong. Ten dan Renjun yang mendengarkan cerita Johnny sambil memakan kue buatan Ten tadi pagi meringis prihatin. Pasti Johnny sangat stress sekarang.

"Sayang, sudahlah tidak usah dipikirkan" Ten menepuk pelan lengan Johnny.

"Tidak perlu dipikirkan bagaimana?! Donghyuck putraku yang mungil dan merepotkan ini akan segera dilamar! bagaimana mungkin aku bisa tenang" Ten, Donghyuck, dan Renjun terlonjak kaget saat mendengar Johnny yang tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya dan berkata sambil berteriak seperti itu. Bahkan Renjun tidak sengaja menelan satu biskuit utuh sanking kagetnya.

"Err, Memang semua yang kau katakan serius? Donghyuck benar-benar akan dilamar nanti malam?" Ten bertanya kepada suaminya dengan wajah bingung

"Kau pikir dari tadi aku hanya bergurau?!" Sembur Johnny jengkel.

Seakan-akan otaknya baru saja ter-connect Ten langsung melotot dan menampilkan ekspresi terkejutnya "Yang benar saja?!" Ucapnya tidak percaya.

"Jangan berteriak bibi" tegur Renjun

"Kepalaku sakit sekali" Johnny kembali memijat kepalanya yang terasa semakin pening.

"Ten, kau harus memasak banyak hari ini. Donghyuck kau harus membantu ibumu, hubungi Jaemin untuk datang membantu juga" Suruh Johnny.

"Lalu aku paman?" Tanya Renjun sambil menunjuk dirinya sendiri

"Kau diam saja, aku tahu kau sangat payah dalam urusan dapur" Johnny beranjak dari sofa dan berjalan seperti mayat hidup menuju kamarnya. Johnny butuh tidur untuk meredakan stressnya.

Donghyuck memandang Ayahnya dengan prihatin, sungguh dia merasa sangat bersalah sekarang.

"Hei anak nakal, kau harus menjelaskan semuanya kepada ibu" Ten menatap Donghyuck dengan tatapan garang andalannya, membuat Donghyuck merinding seketika.

Donghyuck melirik ke arah Renjun meminta bantuan.

"Err, sepertinya aku harus pulang. Aku akan datang kesini nanti sore bersama Jaemin. Sampai jumpa Donghyuck! Bibi!" Renjun segera beranjak dari tempat duduknya dan secepat kilat berjalan keluar dari rumah Donghyuck. Sialan, Renjun selalu membuatnya berada di dalam masalah.

"Lee Donghyuck, kau tidak dengar apa yang ibu katakan tadi?"

Donghyuck menengguk ludahnya dengan kasar. Iya yakin ibunya pasti sangat marah sekarang, terlihat dari raut wajahnya yang dibuat segarang mungkin dengan wajah memerah dan hidung yang kembang kempis. Membuat Donghyuck menangis dalam hati seketika.

Ya Tuhan, tolonglah aku satu kali ini saja, batin Donghyuck merana.

.

.

.

.

.

.

.

Omake~

Mark membaringkan tubuhnya di ranjang dengan senyum lebar yang tak kunjung luntur dari wajahnya sedari tadi.

Ia sangat bersemangat jika mengingat nanti malam ia dan orang tuanya akan pergi kerumah Donghyuck untuk melamarnya.

Mark mengguling-gulingkan tubuhnya di atas ranjang sambil tertawa-tawa dan berceloteh random. Mark merasa semenjak mengenal Donghyuck dia sering bertingkah gila dan tidak waras, sebegitu besarnya efek Lee Donghyuck bagi kehidupan Mark Lee.

Tiba-tiba saja bayangan kejadian tadi malam saat ia menggempur Donghyuck habis-habisan melintas dipikirannya. Wajahnya seketika merona saat mengingat bagaimana ia dan Donghyuck bercinta semalam. Ia bisa gila rasanya.

"Haiss, tiba-tiba aku jadi rindu padanya"

"Masih ada sekitar 5 jam lagi sebelum aku bertemu dengannya" Mark melirik sekilas jam dinding yang berada di kamarnya.

"Yatuhan, jantungku rasanya mau meledak. Aku gugup sekali"

Mark kembali menggeliat tidak karuan diatas ranjang, membuat ranjangnya berantakan seperti habis terhantam angin puting beliung.

"Ah aku jadi ingin melakukan itu dengan Donghyuck lagi" Ucap Mark sambil tertawa-tawa tidak jelas. Tiba-tiba saja ia ingin memeluk Donghyuck dan mencium anak itu sampai lemas.

"Bagaimana ya rasanya melakukan itu di kamar Donghyuck?"

Mari tinggalkan buntalan hormon satu ini yang tengah berandai-andai. Kita Do'akan saja semoga semua yang ia sudah bayangkan tadi menjadi kenyataan. Yah, setidaknya mendapatkan restu dari Johnny dan Ten itu lebih penting.

.

.

.

.

.

tbc

Halooo..

jujur aku seneng banget karna ada yang suka sama ff tidak jelasku ini :( Thank u so much!!

Special thanks untuk ai selai strawberry, 57kg, Fleur choi, fa0107,sydlla131, klystwal, GYUSATAN, doyoung.nim.

Terimakasih kasih karna kalian udah mau review ceriya tidak bermutu ini hikss.

see you next chap~~