:
Taufiq879/Tandrato
:
Destined To Live With You
:
Bab 13
Si Terkenal Dadakan
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Sementara itu, Naruto mengintip melalui jendela. Posisi kamar Hinata memang memungkinkannya untuk melihat ke arah gerbang. Benar sekali. Di sana ada seseorang yang sedang menunggu. Dan di bawah lampu jalan, ada sebuah mobil yang tidak asing lagi di matanya.
"Cih! Sasuke! Kenapa kau malah membawa Sakura ke sini. Harusnya kau paham situasinya, kan?" Naruto mengepal tangannya dengan kuat. Ia merasa ingin memukul sahabatnya itu. Ia menutup korden dan melihat ke arah Hinata. Ternyata ia juga sedang melihat Naruto dengan ekspresi yang mengatakan "Aku butuh bantuanmu."
[]
Siang itu, di kantin.
Suara dengusan nafas yang terdengar gelisah terdengar di telinga Hinata. Suara itu dikeluarkan oleh seseorang yang dekat dengannya belakangan ini—Haruno Sakura. Dari suara dengusan yang terdengar berat dan penuh kegelisahan itu, Hinata bisa mengetahui bahwa orang di hadapannya itu sedang memiliki masalah.
"Ada apa, Sakura?"
"Huh! Bukan apa-apa."
"Tapi kau kelihatan gelisah."
"Huuft. Baiklah. Sebagai ketua kelas, hari ini aku memiliki banyak masalah. Dan semua masalah itu berkaitan dengan si pirang yang hari ini tidak masuk."
"Heh? Siapa?"
"Uzumaki Naruto!"
"Heeeee." Setelah cukup panjang, Hinata berhenti dan tak mengatakan apa-apa lagi.
"Masalah reporter yang saat istirahat tiba-tiba meliput kelas kita. Keributan yang terjadi tadi benar-benar membuatku kewalahan mengatasinya. Bahkan kelas kita tidak bisa keluar untuk istirahat. Bisa-bisanya sekolah mengizinkan para wartawan itu masuk area sekolah dan melakukan peliputan untuk membahas si pirang yang sekarang menjadi direktur muda. Mereka bahkan sampai memaksa Sasuke untuk memberikan komentar mengenai si pirang pirang itu. Tapi syukurnya kita dapat jam istirahat ekstra karena guru yang mengajar sekarang tidak ada."
Mendengar itu, Hinata hanya bisa diam sambil memasang wajah tersenyum.
"Bukankah tadi kau juga kena semprot oleh pertanyaan para wartawan itu, Hinata?"
"He! Benar. Tapi karena aku hanya murid pindahan, aku tidak bisa memberikan banyak jawaban."
"Huuft. Sebagai ketua kelas, aku kena porsi pertanyaan sama seperti teman-temannya."
"Sudah-sudah. Dari pada kamu stres bahas Naruto, mending habisin dulu makananmu," ucap Hinata.
"Ahh. Benar. Makanan ini kalo sudah dingin tidak enak."
Setelah makanan mereka habis, Hinata dan Sakura kembali ke kelas. Keadaan sudah menjadi cukup tenang karena para wartawan itu sudah diusir karena sudah kehabisan waktu dan juga siswa yang lain sudah mulai belajar.
Di tengah perjalanan tiba-tiba Sakura bertanya dengan nada yang sedikit ragu.
"Hinata. Menurutmu hadiah apa yang cocok untuk diberikan pada Sasuke?"
"Ehh! Kenapa tanya aku?" Hinata terlihat kaget.
"Apa salah aku tanya kamu?"
"Hmm. Aku kan tidak begitu mengenal Sasuke dengan baik. Jadi aku tidak tahu hadiah apa yang ia suka. Lagi pula hadiah untuk apa?"
"Begini. Minggu depan Sasuke ulang tahun. Aku ingin memberikan sesuatu."
Hinata menopang dagu pada tangannya seperti orang yang sedang berpikir. "Minggu depan, kita sudah memasuki masa-masa persiapan ujian kenaikan kelas. Semua pasti akan belajar mati-matian. Mungkin buku yang berisi kumpulan soal cukup bagus diberikan pada Sasuke."
"Hmm. Kurasa itu ide yang bagus. Tapi itu masih kurang. Sasuke bukan seorang kutu buku. Jadi dia tidak akan menganggap bahwa buku adalah hadiah yang luar biasa."
"Benar. Terlalu sederhana jika diberikan pada Sasuke. Kalau begitu bagaimana jika kau memberikan hadiah yang kau buat sendiri?"
"Heh, itu ide yang bagus. Itu pasti bisa meninggalkan kesan tersendiri. Tapi apa ya." Sakura memasang pose berpikir seraya melihat ke atas. "Apa yang harus kubuat?"
"Bagaimana kalau kau membuatkan sajian makan malam untuk berdua. Bukankah itu bagus. Makanan-makanan itu adalah hadiahnya dan suasananya akan terasa seperti kencan."
"Mustahil!" Sakura dengan cepat membantah. Bantahan Sakura itu jelas membuat Hinata bingung.
"Ehh? Kenapa?"
"A-Aku tidak begitu bisa masak. Makanan yang biasanya aku masak hanya makanan sederhana. Itupun rasanya tidak begitu enak."
"Tapi setidaknya kau bisa memasak. Memasak itu tidak memerlukan keterampilan yang tinggi. Selama kau membuat masakan sesuai resep, pasti hasilnya akan sama. Kalau kau mau, aku bisa meminjamkan buku koleksi resep makanan yang kumiliki."
"Benarkah?"
Hinata mengangguk. Namun tiba-tiba matanya menemukan sosok yang tak asing lewat di sampingnya. Sosok itu ialah pria yang memakai jas hitam lengkap dengan dasi dan kaca mata hitam. Wajahnya terlihat sangar dan sangat serius. Tentu saja orang itu pasti salah satu dari 6 ajudan yang dimiliki keluarga Uzumaki. Ia berpapasan dengan Hinata, namun sama sekali tidak menunjukkan sikap seperti mengenal gadis itu.
Namun di saat yang sama, Sakura kembali bertanya. Ia sepertinya tidak begitu menyadari sikap Hinata. "Lalu kapan aku bisa mengambil buku itu?"
Meskipun perhatiannya sedang terpaku pada Ajudan yang itu, ia masih bisa mendengar dan merespons pertanyaan Sakura. Hanya saja jawaban itu pasti akan keluar dengan spontan sesuai dengan apa yang ia pikirkan. "Dirumahku."
Setelah ajudan itu melewatinya, Hinata menaruh perhatiannya lagi pada Sakura. Hanya saja sepertinya ia tidak begitu ingat dengan apa yang barusan ia katakan pada Sakura.
"Oke. Kalau begitu nanti aku datang."
"Heh! Tadi aku bilang apa ya?" Batin Hinata. Sepertinya ia bingung karena melupakan perkataannya sendiri.
Sekilas Hinata mengingat kejadian tadi siang di sekolah. Karena itu, ia pun langsung menyadari kesalahan yang ia buat. Kesalahan itulah yang kini membuat ia harus duduk di ruang tamu bersama 2 orang teman sekelasnya.
"Silakan diminum tehnya, Sakura, Sasuke." Senyum canggung terlihat di wajah Hinata kala ia menatap Sasuke.
Sasuke menyeruput teh yang di sajikan itu seraya memperhatikan sekeliling. Sementara itu, Sakura terlihat sedang melihat lihat makanan yang tersaji dalam buku resep keluaran setahun yang lalu di hadapannya itu.
"Wah! Semuanya terlihat enak. Apa aku bisa membuatnya ya?"
Hinata hanya tersenyum menanggapi perkataan Sakura. Sejujurnya saat ini ia sedang menyimpan berbagai pertanyaan yang hendak ia ajukan pada Sakura yang datang malam-malam bersama Sasuke untuk meminjam buku resep agar ia bisa memasak makanan yang enak untuk Sasuke di hari ulang tahunnya.
Setelah membaca sebuah pesan yang masuk di ponselnya, Sasuke segera menghabiskan tehnya dan bertanya, "Hinata. Apa boleh aku meminjam kamar mandimu?"
"T-Tentu."
Ia pun berdiri dan berjalan meninggalkan dua gadis itu membahas hal-hal yang berbau makanan. Namun sepertinya tujuan Sasuke yang sebenarnya bukanlah kamar mandi. Setelah memastikan bahwa kedua gadis itu tidak memperhatikannya, ia segera berbelok menuju kamar—Tempat di mana Naruto menunggunya.
Sementara itu, Hinata mendekati Sakura yang sedang asyik melihat-lihat buku resep.
"Sakura. Kenapa kamu mengajak Sasuke? Bukankah kamu meminjam buku resepku agar kau bisa menghadiahi Sasuke makanan yang enak di hari ulang tahunnya?"
"Karena aku tidak berani ke sini sendirian, makanya aku mengajak Sasuke. Tapi aku jamin ia tidak akan tahu maksud sebenarnya. Aku minta antar ke sini dengan alasan ibuku mau meminjam buku resep milikmu."
"Syukurlah kalau begitu..." Hinata kembali duduk. "Lalu kenapa kamu datang malam-malam begini?"
"Maaf soal itu. Apa kami mengganggu waktu tidurmu?"
"Tidak usah dipikirkan. Aku tadi hanya berbaring saja."
"Maaf ya. Soalnya tadi di tengah perjalanan, Sasuke di telepon ayahnya jadi kami harus kembali dulu."
Sementara itu, Sasuke mendekati kamar tempat Naruto menunggu. Namun, ia menjadi bingung kala mendapati ada 2 pintu di sana. Ia mencoba membuka pintu terdekat. Namun tiba-tiba pintu yang lain terbuka. Seseorang keluar dari sana, mengintip lalu memanggil Sasuke. "Oi! Itu kamar Hinata."
Sasuke dengan segera mengurungkan niat untuk membuka kamar itu. Ia segera mendatangi kamar Naruto. Begitu masuk, sebuah bogem mentah nyaris didapatkannya jika saja tangannya tidak cukup cepat untuk menangkis serangan mendadak Naruto itu.
"Apa yang kau lakukan, Naruto?"
Karena pukulannya ditangkis, Naruto melancarkan serangan berikutnya untuk mencengkeram pakaian Sasuke. "Kampret! Kenapa kau bawa Sakura ke sini? Apa kau mencoba membongkar rahasia kami pada Sakura?"
"Aku tidak bermaksud begitu. Sakura memaksaku untuk mengantarnya ke sini. Aku pikir karena Hinata memperbolehkan dia datang, kalian telah membuat persiapan agar Sakura tidak menemukanmu di sini."
Naruto melepaskan cengkeramannya dan mulai bersikap tenang. "Syukurnya mobilku masih di tahan oleh kepolisian." Rumah ini tidak memiliki garasi tertutup. Hanya tempat memarkir mobil yang berada di teras. Tentu saja akan repot apabila Sakura melihat mobil yang tak asing baginya terpakir di rumah ini.
Setelah cengkeramannya terlepas dan ia telah tenang, Naruto duduk di bangku meja belajarnya. "Maaf menyerangmu tiba-tiba."
Sasuke merapikan pakaiannya. "Baju ini adalah oleh-oleh dari ibuku. Kalau sampai robek tadi, aku tidak akan tinggal diam lo."
"Aku kan sudah minta maaf?" Sekarang ia merasa sangat bersalah.
"Iya-iya. Aku maafkan." Sasuke berjalan dan duduk di kasur milik Naruto dan memandangi sekitar. "Benar-benar kamar yang membosankan. Ke mana konsol game milikmu?"
"Ada di vila. Kakek melarangku untuk membawanya."
Tak berselang lama setelah ia duduk, Sasuke kembali berdiri. "Lalu, kapan kau akan bersekolah? Kau sudah benar-benar merepotkan kami. Para media benar-benar haus akan informasi mengenai dirimu. Selain mewawancarai kami saat istirahat, mereka juga memalang jalan pulang kami. Kuharap kau mau meminta maaf atas ketidaknyamanan yang kami alami karena dirimu."
"Baik-baik. Aku akan minta maaf besok. Mulai besok aku bisa kembali bersekolah." Naruto diam sejenak. "Tapi... Mungkin aku akan menjadi orang yang sedikit berbeda karena posisiku saat ini."
"Aku tahu itu." Sasuke berjalan menuju pintu. "Aku akan pulang sekarang. Tujuan utamaku hanya mengantar Sakura." Ia membuka pintu. Namun sebelum benar-benar keluar dari kamar Naruto, Sasuke memberikan sebuah pesan. "Berhati-hatilah dengan para media. Mereka bisa saja akan membongkar semua alasan dibalik kau menjadi direktur muda. Artinya, hubunganmu dengan Hinata bisa terbongkar." Setelah mengatakan itu, Pintu tertutup dan Sasuke pun hilang dari pandangannya.
"Ya. Aku tahu itu." Ia mengepal erat tangannya.
Dan tak lama kemudian, ia menyaksikan kepergian Sasuke dan Sakura melalui jendela kamar Hinata.
[]=[]=[]
Setelah berseragam rapi, Naruto menuju ke dapur. Di atas meja tersaji sebuah kardus sereal, sebotol susu, dan tak lupa 2 buah mangkuk.
"Selamat pagi, Naruto." Hinata saat itu terlihat sudah rapi dengan seragam musim dinginnya. Namun sepertinya ia masih saja sibuk mengepak barang-barang di dapur untuk di simpan agar aman. Tentu saja barang-barang seperti piring, gelas, dan perlengkapan memasak harus di simpan dengan baik. Namun, mereka tidak memiliki niat untuk membawa barang-barang itu ke vila. Tentu saja karena pastinya barang-barang tersebut tidak mereka perlukan di sana. Cukup barang-barang yang ada di kamar mereka yang harus mereka bawa.
Hinata tak seharusnya repot-repot mengurus barang-barang itu sebelum ditinggalkan. Barang-barang itu seharusnya akan di tangani oleh orang-orang suruhan Tsunade.
"Selamat pagi." Naruto cukup lama membalasnya sebab ia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu. Setelahnya, ia pun menuangkan sereal dan susu ke dalam mangkuk dan menikmatinya sebagai sarapan. Meskipun sarapan hari ini berbeda dengan sarapan hari-hari sebelumnya. Sebab hari ini Hinata tidak bisa memasak karena sudah terlanjur menyimpan barang-barang di dapur.
"Maaf ya, hari ini kita makan sereal lagi."
"Sesekali kembali sarapan sereal juga tidak buruk."
Setelah pekerjaannya selesai, Hinata pun ikut bergabung.
"Siapa nanti yang mengantarmu?" tanya Hinata saat sedang menuang susu di atas serealnya.
Tiba-tiba saja Naruto berhenti makan. "Benar juga. Nenek dan sekretaris itu tidak mengatakan apa-apa. Mobilku juga belum dikembalikan." Awalnya ia memang terdiam. Namun ia tidak kebingungan. "Ya sudahlah. Sekarang ajudanku ada banyak. Tinggal minta salah satu untuk menjemputku." Ia bahkan melanjutkan sarapannya dengan santai.
[]=[]=[]
Naruto terus melangkah dengan perlahan hingga melewati gerbang sekolah. Pagi itu cukup banyak siswa yang berdatangan. Mulai dari mereka yang berjalan kaki ataupun membawa kendaraan masuk melewati gerbang itu. Terkadang suara klakson cukup sering terdengar apabila ada siswa yang menghalangi jalan ketika sedang memasuki gerbang.
"Terasa aneh. Suasana hari ini benar-benar berbeda," batin Naruto kala menyadari cukup banyak orang yang memandanginya. Naruto merasa bulu kuduknya berdiri saat menyadari bahwa dirinya di tatap oleh siswa-siswa yang berada di sekitar gerbang. Bahkan mereka yang memakai mobil memperlambat gerakan mobilnya hanya untuk melihat Naruto.
Tatapan yang menunjukkan berbagai ekspresi itu entah mengapa membuat Naruto merinding. Sebelum menjadi direktur, ia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Ia bukan sosok yang istimewa kala itu. Namun sekarang, mata setiap orang di sekitarnya pasti tertuju padanya dengan membawa perasaan kagum, bangga, bahkan iri. Terlihat juga beberapa dari mereka sedang berbisik seraya melihatinya.
Selain itu, Naruto juga mendapat ucapan selamat pagi dari beberapa orang yang berpapasan dengannya. Meskipun kebanyakan yang memberi ucapan itu adalah perempuan. Dan itu bukanlah hal yang biasa.
"Kalau di luar saja keadaannya seperti ini, bagaimana ya nanti kalau aku sudah sampai di kelas. Huft!"
Dengan langkah kaki yang terkesan buru-buru, Naruto dengan cepat tiba di kelas. Perasaan lega belum bisa ia dapatkan. Ia kembali mendapat tatapan dari teman-teman sekelasnya. Namun tak seperti tatapan orang-orang di luar, tatapan orang-orang di sini terasa hangat dan menenangkan. Tak butuh waktu lama bagi siswa perempuan untuk langsung mendekati Naruto dan menanyakan berbagai macam hal yang berkaitan dengan dirinya sebagai direktur perusahaan besar di usia muda.
"Dia terkenal sekarang," ucap Kiba pada Shino.
"Pasti berat untuknya," jawab Shino.
"Pastinya dia menikmatinya. Dia tidak pernah dikerubungi gadis sebanyak itu selama ini," kata Choji.
Sementara itu, tak jauh dari mereka. Sekelompok perempuan sedang bergosip.
"Enak ya kalau pacaran dengannya. Kau akan langsung jadi orang terkenal hanya dengan berpacaran dengan Naruto."
"Bukankah itu hanya akan membuatmu terlihat seperti wanita yang mengincar uang?"
"Benar-benar. Kalau kau tiba-tiba pacaran, pasti akan ada gosip yang negatif tentang hubungan kalian."
"Apa menurut kalian, ada orang yang menyukai Naruto yang sekarang?"
"Pastinya ada. Para pengincar harta. Mungkin saja di kerumunan itu, ada satu atau lebih orang yang mendekatinya dengan tujuan untuk mendapatkan hatinya."
"Kesampingkan masalah itu. Apa menurut kalian tidak aneh?"
"Aneh? Apa yang aneh?"
"Bagaimana bisa Naruto menjadi direktur di usia muda?"
"Bukankah karena kakeknya meninggal?"
"Kalau begitu, seharusnya neneknya bisa melanjutkan untuk sementara atau menunjuk orang lain sampai usia Naruto cukup."
"Dengar-dengar sih perusahaan itu adalah perusahaan keluarga yang mana kepemimpinannya harus dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan darah."
"Heh! Memang ada ya perusahaan kayak begitu."
"Kalau itu alasannya sih masuk akal. Tapi itu tidak adil bagi Naruto. Ia harusnya lebih fokus pada pendidikannya terlebih dahulu."
"Sepertinya tidak aneh kalau banyak sekali wartawan yang ingin menyelidiki si direktur muda itu."
Percakapan itu terdengar oleh Hinata. Namun karena di luar rumah ia harus bersikap seperti hanya mengenal Naruto, ia tidak bisa apa-apa selain mendengar percakapan itu. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia luruskan dari percakapan itu. Namun karena status dan kerahasiaan informasi itulah yang membuat ia tetap diam.
"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati dalam mendekati Naruto di luar lingkungan rumah. Selain kemungkinan akan membahayakan kerahasiaan hubungan kami, nantinya bisa-bisa aku di cap sebagai perempuan yang mendekatinya karena uang," Seraya membatin, ia memperhatikan Naruto yang saat itu masih dikerumuni dan dilontarkan berbagai pertanyaan.
Sebuah tangan menyentuh pundak Hinata dan menyadarkannya dari lamunannya kala memperhatikan Naruto. "Masih pagi lo. Kenapa kau melamun?"
"Sakura, selamat pagi. Tumben hari ini kau datangnya agak siang?"
"Menghindari pertanyaanku ya?"
"Bukan begitu. Kita harusnya saling menyapa dulu sebelum mulai berbicara."
"Benar juga. Kalo begitu, selamat pagi, Hinata. Hari ini memandangi Naruto lagi?"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Hinata. Setelah mendengar ucapan Sakura itu, bisa di katakan pipinya merona dan segera membuang pandangannya ke tempat lain. "T-Tidak. Aku hanya penasaran dengan apa yang mereka bicarakan."
"Heh! Benarkah?" Sakura menaruh tasnya di meja dan duduk di bangku sebelah Hinata. "Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku lagi Hinata. Aku kan sudah tahu tentang perasaan terpendammu pada Naruto. Jika kau butuh bantuan, kau bisa bilang padaku. Aku akan membantumu sebisa mungkin agar bisa dekat dengan dia."
Hinata tidak bisa berekspresi lebih lanjut. Mungkin seharusnya pada kondisi seperti ini pipinya akan memerah dan ia akan membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya di atas meja. Tetapi, karena sudah cukup lama tinggal bersama Naruto, ekspresi itu entah mengapa tidak bisa ia tunjukan. Jauh dari lubuk hatinya, ia mulai menyukai Naruto. Mungkin saja karena efek tinggal bersama. Namun karena hal itu, ia tidak bisa mengekspresikan perasaannya secara normal layaknya remaja lainnya.
Lalu tiba-tiba saja ia kepikiran suatu pertanyaan yang tidak mungkin dia tanyakan langsung pada Naruto.
"Sakura. Apa sebelum aku pindah ke sini, Naruto punya pacar? Atau menyukai seseorang?"
"Hmm. Pertanyaan yang agak sulit. Tapi setahuku, sama sekali tidak ada. Lagi pula sebelum kau masuk sekolah ini pun kami baru bersekolah beberapa bulan. Tapi kalau kau mau jawaban yang jelas, aku akan tanya Sasuke. Mereka sudah bersama sejak SD."
"Tidak. Tidak usah, terima kasih."
Bel telah berbunyi. Jam pelajaran pertama pun dimulai ketika seorang guru melangkahkan kakinya ke dalam kelas.
[]=[]=[]
Bel istirahat telah berbunyi. Melepaskan kegelisahan siswa yang sedang belajar di kelas.
"Jadi itu pekerjaan rumah kalian untuk minggu ini. Usahakan untuk mengerjakannya jika tidak mau dihukum." Guru tersebut merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Sakura. Bisa bantu bapak membawa buku-buku ini ke meja bapak?" ia menunjuk sebuah tumbukan buku yang sepertinya cukup berat.
"Baik."
"Oh, Naruto! Wali kelasmu menyuruhmu datang menemuinya istirahat ini. Karena tujuanmu sama dengan Sakura, bapak mau kau membantunya membawa buku-buku itu."
Naruto sempat di buat bingung dengan panggilan itu. Namun ia tidak akan bingung untuk menolong Sakura. "Baik, pak!"
Bersamaan dengan keluarnya guru itu dari kelas, Naruto dan Sakura pun menjalankan perintah tersebut.
Sementara itu.
"Ahh! Padahal kita sudah berencana makan bersama. Tapi dia malah dipanggil wali kelas," kekecewaan itu datang dari mulut kiba.
"Kita dibuat repot kemarin. Jadi setidaknya ia harus minta maaf pada kita," ucap Shikamaru.
"Padahal aku sudah merasa akan ditraktir oleh Naruto," ucap Choji.
Sasuke sepertinya tidak begitu merespons pembicaraan teman-temannya itu. Ia terlihat mengambil dompet dari dalam tasnya dan berdiri untuk berjalan menuju kantin.
"Kau mau ke mana, Sasuke?" tanya Shino.
"Apa kau mau mengejar Naruto dan Sakura karena mereka jalan berdua?" tanya Sai.
Sasuke berhenti dan melihat teman-temannya tanpa memutar badannya. "Semakin lama kita di sini, semakin banyak waktu yang terbuang yang pada akhirnya akan membuat semakin ramai orang yang tiba di kantin terlebih dahulu."
"Sasuke benar. Semakin ramai orang, kita akan semakin sulit mendapat meja. Sebaiknya kita pergi sekarang," ucap Shikamaru.
"Kalau kita tunggu, nantinya dia akan datang juga," ucap Kiba.
"Ia mungkin akan mentraktir kita," kata Choji.
Sasuke melanjutkan langkahnya seraya berkata, "Tidak. Kita akan membuatnya mentraktir kita."
Kata yang keluar dari mulut Sasuke itu direspons positif oleh mereka. Sebuah senyum jahil nampak di wajah Kiba dan Choji. Mereka sangat yakin bahwa perkataan yang keluar dari mulut Sasuke itu akan menjadi nyata.
[]=[]=[]
Ha...Hac...Hachi!
Suara bersin itu terdengar menggema di lorong sekolah. Hampir saja Naruto menjatuhkan semua buku yang dipegangnya karena bersin itu. Naruto mengosok-gosok hidungnya dengan salah satu tangannya seraya berusaha memegang tumpukan buku yang dibawanya dengan tangan lainnya. "Ghh! Rasanya kok merinding ya?" ucap Naruto.
"Kau pasti cuman kedinginan. Ngomong-ngomong kau bersin saat suhu dingin seperti ini. Apa kau sakit?"
"Sakit? Tidak. Aku tidak merasa begitu. Setidaknya untuk sekarang."
"Mungkin baru memasuki gejala. Kekebalanmu mungkin sedang menurun. Jangan memaksakan diri saat bekerja, bisa saja saat ini sistem imunmu sedang menurun. Ditambah lagi dengan suhu yang dingin seperti ini, kau bisa sakit kapan saja."
"Kau tidak perlu khawatir. Aku baru bekerja sebagai direktur selama 1 hari. Aku tidak akan sakit Cuma karena pekerjaan-pekerjaan membosankan itu."
"Tetap saja. Kau harus menjaga kesehatanmu. Kalau kau sakit, Hinata bisa cemas."
"H-Hinata?"
Dengan cepat Sakura menutup mulutnya membiarkan buku yang dipegangnya jatuh. Seketika itu pula, Naruto merasakan kekhawatiran yang berlebihan.
"Apa. Apa Sakura sudah tahu hubungan kami? Apa Sasuke yang memberi tahu?" batin Naruto.
"Gawat. Aku harusnya tidak berkata seperti itu. Maaf Hinata, aku tidak sengaja membongkar perasaanmu pada Naruto," batin Sakura.
Bisa dipastikan bahwa keduanya sedang bertatapan dengan perasaan cemas karena suatu masalah yang berbeda.
"Eng—" Suara itu dikeluarkan keduanya karena hendak mengatakan sesuatu. Namun karena mengetahui lawan bicara juga ingin mengatakan sesuatu, mereka berdua berhenti bersama-sama.
"Silakan katakan, Naruto."
"Tidak. Kau dulu."
"Eng! Begini Naruto." Sakura kebingungan. Ia tidak tahu harus menyusun kalimat seperti apa. Namun di sisi lain, Naruto malah ketakutan terhadap kalimat yang akan dikeluarkan oleh Sakura. Ia takut, ia akan menanyakan masalah hubungannya dengan Hinata.
"Ayolah Sakura. Tidak ada pilihan lain. Kau harus mengatakan itu pada Naruto. Itu mungkin bisa membantu hubungan Hinata," Sakura membatin untuk memberi semangat pada dirinya. Ia mendekatkan jaraknya dengan Naruto. Namun, Naruto merasa bahwa dirinya sedang diintimidasi. Melihat ekspresi Sakura yang serius, Naruto berpikir bahwa Sakura akan mengorek semua informasi darinya untuk memuaskan rasa penasarannya.
"Apa kau menyukai Hinata?" pertanyaan itu keluar dari mulut Sakura.
"Sial. Ternyata benar!" Naruto semakin panik. Ia mulai berkeringat. Pertanyaan Sakura itu hampir persis dengan apa yang mengelilingi kepalanya. Ia berpikir bahwa Sakura telah mengetahui hubungan rahasia antara dirinya dan Hinata. Dan pertanyaan barusan itu membuatnya kembali berpikir bahwa Sakura hendak mengetahui apakah ia menyayangi Hinata sebagai istrinya. Setidaknya itulah yang membebani pikiran Naruto. "Sialan kau, Sasuke!"
"Kenapa kau terlihat panik?" tanya Sakura. Karena hal itu, ia mencoba lebih dekat seraya menatap mata Naruto. Tetapi, reaksi Sakura itu diartikan sebagai tindakan mengintimidasi oleh Naruto.
"I-I-I-Iya. Aku menyayanginya." Meski sempat kesulitan, Naruto akhirnya mengucapkannya juga.
"Benarkah?!" Ekspresi serius Sakura berubah menjadi senang. Namun karena senang itu, ia semakin mendekat pada Naruto dan tanpa sadar wajah mereka sudah tinggal beberapa sentimeter lagi. Naruto sudah tidak bisa mundur lagi untuk menjaga jarak sebab ia sudah terjebak di antara tembok dan Sakura.
Naruto mengangguk menanggapi pernyataan penuh semangat dari Sakura itu lalu berkata, "B-Bagaimanapun, k-kami sudah resmi."
Seketika, Sakura terdiam dan melongo setelah mendengar perkataan Naruto yang terasa ambigu itu. Tatapannya pun terasa kosong seperti tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Melihat Sakura tidak bergerak, Naruto pun mencoba menyentuh wajah Sakura. Tapi tidak ada respons. "Sa-Sakura. Kau baik-baik saja?" Ia mencoba memegang kedua bahu Sakura dan menggoyang-goyang badannya. "Oi. Sakura. Sakura, apa kau dengar? Kau kenapa?"
2 Orang yang kebetulan sedang melewati lorong yang menuju ruang guru itu tampak sangat terkejut melihat Naruto dan Sakura. Tingkah mereka saat itu bisa disalah sangka oleh orang lain. 2 orang yang kebetulan lewat ini pun terlihat syok.
"A-Apa yang kalian berdua lakukan di lorong?!" Suara itu tampak sedikit keras namun masih terasa ada kebingungan dalam suara itu.
Suara itu menyadarkan Naruto dan Sakura bahwa ada orang lain di dekat mereka.
"I-Ino," ucap Sakura.
"H-Hinata," ucap Naruto.
Kedua suara itu tampak terkejut. Mereka hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melihat mereka dengan keadaan syok itu sebelum menyadari bahwa posisi mereka saat ini bisa dikatakan pengkhianatan pada Sasuke. Terkhusus Hinata yang melihatnya secara langsung.
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
Hei semua!
Maaf ya atas keterlambatan yang sangat parah ini. Meskipun begitu kurasa ini bukan pertama kalinya saya membuat kalian menunggu lama hanya untuk mengetahui chapter terbaru.
Maafkan saya karena belum bisa melakukan update terjadwal.
Terima kasih untuk yang memberikan review-review penyemangat. Dan maaf saya tidak bisa memenuhi harapan kalian.
Mari kita mulai fokus membahas cerita.
Sepertinya keadaan untuk sekarang akan menjadi santai. Maaf ya kalau ada yang kecewa. Dan juga semoga ada yang menyukainya. Setidaknya selain author yang butuh penyegaran, cerita ini dan pembaca sekalian pun memerlukan penyegaran. Ya meskipun konflik sebelumnya ngak berat-berat amat.
Kurasa sekian. Sebenarnya ada pertanyaan yang ingin saya ajukan. Tapi ya saya takutnya pada ngak ada yang mau balas.
Sampai jumpa di chapter berikutnya.
