Warn! aku tidak membaca ulang, jadi mohon maklum jika banyak typos bertebaran. Enjoy!!

Donghyuck mengusap-usap telinganya yang berdengung panas sambil meringis. Sudah hampir 1 jam ibunya itu mengomelinya, mengungkapkan betapa jengkel dan kecewa ia kepada Donghyuck karna Donghyuck mempunyai seorang kekasih tampan kaya raya seperti Mark tapi tidak mau membawanya ke rumah untuk mengenalkan kepadanya dan Johnny. Donghyuck sudah berpikir macam-macam tadi, takut ibunya menghajarnya dengan brutal atau memukulinya dengan mangkok plastik seperti kebiasannya jika Donghyuck membalas semua perkataannya jika ia sedang marah. Ternyata semua itu hanya ada di imajinasi Donghyuck saja.

"Kenapa anak sepertimu bisa mendapatkan kekasih seperti dia? Ayo, katakan yang sebenarnya pada Ibu!"

Donghyuck mendelik mendengar perkataan ibunya yang seakan-akan meremehkannya itu "Anak sepertimu? Maksud ibu apa?!"

Ten meneliti penampilan anaknya secara seksama dari atas kepala hingga ujung kaki. Ten akui jika putra satu-satunya itu memang cukup manis, tapi ia masih tetap meragukan jika anaknya itu bisa mendapatkan seorang pacar. Apalagi pacar se-tampan dan se-kaya Mark.

Sujurnya Ten sudah curiga saat melihat Donghyuck diantar oleh seorang lelaki tampan pagi-pagi tadi, tapi Ten diam saja karna ia terlalu malas untuk bicara saat itu.

Donghyuck merasa risih melihat ibunya memperhatikannya dari atas sampai bawah sambil melotot seperti itu.

"Sudahlah, lupakan. Ibu senang kau punya pacar. Ibu kira kau akan hidup bersama ibu selamanya sampai mati."

Donghyuck mendengus sebal "Mana mungkin!! Aku tidak menyangka Ibu mempunyai prasangka buruk kepadaku seperti itu. Cih, jahat sekali kepada anak sendiri." Ucap Donghyuck mendramatisir.

Ten mengabaikan perkataan anaknya itu lalu berjalan menuju dapur, ia harus segera memasak banyak makanan seperti apa yang disuruh suaminya tadi.

"Donghyuck, kau sudah hubungi Jaemin?" Tanya Ten sambil menyiapkan alat-alat untuk memasak.

Donghyuck menganggukan kepalanya meng-iyakan "Sudah, mungkin sebentar lagi ia akan kesini dengan Renjun. "

Ten berjalan menghampiri Donghyuck yang sedang duduk santai di meja makan sambil memakan kue buatannya "Kau beli barang-barang ini di minimarket depan sana" Ten menyodorkan selembar kertas dengan daftar barang-barang yang tertulis diatasnya.

"Ibu menyuruhku?"

"Tentu saja"

"Ibu tidak lihat badanku sakit semua?!" seru Donghyuck kesal

"Salah sendiri tadi malam kelepasan" ucap Ten santai lalu kembali berjalan menuju dapur.

Donghyuck membelalakkan matanya kaget. Ia memasang ekspresi terkejut dan panik saat mendengar ucapan Ibunya yang sangat tiba-tiba seperti itu. "I-ibu?! b-bagaimana-"

Ten mendengus melihat reaksi anaknya "Ibu juga pernah muda! kau pikir ibu langsung dilahirkan menjadi tua seperti sekarang?! jangan kira ibu tidak tahu ya" Ten mengatakan itu sambil menunjuk-nunjuk Donghyuck menggunakan spatula.

"Cara berjalanmu itu tidak seperti orang yang habis terpeleset dikamar mandi tahu. Sekali lihat Ibu bisa tahu kalau kau itu habis di bobol. Cih, dasar anak muda tidak bisa mengontrol hawa nafsu!"

Donghyuck semakin mengaga mendengar coletahan Ibunya itu. Astaga, jadi ibunya sudah tahu?! kalau begitu kenapa ia repot-repot harus ber-akting segala!

"Ibu juga pernah merasakannya tahu, rasanya sakit sekali. Ibu saja sampai mendiami Ayahmu selama seminggu karna kesal. Pantat Ibu ingin Ibu lepas saja rasanya" Ten berbicara dengan wajah kelewat santai tanpa memperhatikan wajah Donghyuck yang sudah memerah hebat.

"Ibu!!"

"Apa?!"

"Jangan mengatakan hal seperti itu dengan santai begitu dong bu!!" protes Donghyuck kesal. Bagaimana tidak? Ibunya itu membahas hal sensitif seperti itu seperti membahas cuaca saja.

Ten mengabaikan protesan Donghyuck dan kembali sibuk dengan perkerjaannya "Kau masih mau berdiri disitu? cepat belanja sana!"

Donghyuck mencebikkan bibirnya kesal. Sambil berjalan secara perlahan dia pergi menuju mini market. Walapun jarak rumahnya dan minimarket itu dekat, hanya sekitar 10 menit saja dengan berjalan kaki, tetap saja Donghyuck merasa kesal. Karna pantatnya akan kembali terasa sangat perih setiap ia melangkah. Donghyuck terus mengutuk Mark di sepanjang jalan, dia benar-benar akan memberi Mark perhitungan setelah ia sembuh nanti.

"Donghyuck hyung!" Donghyuck terlonjak kaget saat mendengar ada orang yang tiba-tiba saja memanggil namanya. Ia menolehkan wajahnya kesamping, tepatnya ke arah rumah ber-cat biru tua yang berada tidak jauh dari rumahnya itu. Dia melihat Jisung, bocah SMA yang selalu berkunjung kerumahnya hanya untuk meminta makanan itu sedang melambaikan tangannya heboh kepadanya sambil tertawa-tawa tidak jelas. Entah kenapa jika Donghyuck melihat orang yang sedang tertawa-tawa tidak jelas seperti itu langsung mengingatkannya kepada Mark. Orang gila yang satu bulan ini selalu mengintilinya kemana pun ia pergi.

"Hyung mau kemana?" tanya Jisung sambil berjalan menghampiri Donghyuck.

"Mau ke minimarket, kau sendiri?"

"Tidak kemana-mana sih, tapi sekarang aku ingin ikut denganmu." ucap Jisung sambil tersenyum lebar yang langsung dihadiahi dengan dengusan super keras dari Donghyuck.

Donghyuck mengabaikan perkataan Jisung dan kembali berjalan menuju minimarket. Donghyuck menggerutu sebal, karna minimarket sudah terlihat di matanya, tapi kenapa ia tak kunjung sampai juga! ia ingin segera berbaring atau setidaknya duduk di sofa yang empuk!

Jisung yang berjalan disamping Donghyuck mengernyit heran melihat cara Donghyuck yang berjalan sangat lamban dan terseok-seok seperti itu "Kau kenapa hyung?" tanya Jisung penasaran.

"Aku sedang tidak mau ditanya-tanya, jadi kau diam saja" balas Donghyuck cuek.

"Hoooo aku tahu" Jisung menatap Donghyuck sambil tersenyum aneh.

"Dengan siapa hyung?" tanyanya tidak jelas

"Dengan siapa apanya?" jawab Donghyuck dengan wajah bingung.

Jisung semakin menampilkan raut aneh yang . membuat Donghyuck ingin memukul wajah bocah itu dengan keras "Dengan siapa hyung melakukan seks?"

Donghyuck langsung menghentikan langkahnya dan menatap Jisung dengan pandangan horor. Matanya mendelik dan mulutnya menganga kaget "b-bagaimana-"

Jisung mendecih "Pasti orang itu mempunyai nafsu seperti binatang. Lihat saja kau sampai kesulitan berjalan seperti ini. " komentar Jisung sambil memasang tampang kasihan.

"Lain kali, hyung harus menghajarnya jika dia melakukan itu dengan kasar. Pasti tidak ada nikmat-nikmatnya ya hyung?"

Donghyuck hanya terdiam mematung mendengarkan semua perkataan Jisung sedari tadi. Dia kehabisan kata-kata. Bisa-bisanya Jisung berkata seperti itu kepadanya dengan begitu blak-blakan?! Kenapa semua orang sangat terbuka dengan hal seperti itu?!

"Pastikan dia bertanggung jawab hyung. Aku tidak mau nanti hyung hamil dan dia malah kabur, nanti aku yang malah disuruh menikahi hyung bagaimana? Memangnya hyung mau? Aku sih mau-mau saja, tapi aku belum lulus SMA. Mau dikasih makan apa anak yang ada di kandunganmu nanti"

Donghyuck menatap Jisung dengan pandangan heran sekaligus kesal mendengar segala racauan tidak masuk akal yang Jisung ocehkan sedari tadi. Bagaimana bisa anak tetangganya mempunyai pikiran sampai sejauh itu.

"Jangan berbicara lagi! Siapa yang mengajarimu huh?! Kenapa kau sangat tahu tentang hal-hal seperti itu? jangan-jangan-..."

"Aku belum pernah melakukannya hyung!! selain karna aku belum legal aku juga kan tidak punya kekasih. tapi aku sering menonton video seperti itu dengan Yuta hyung, jadi aku tahu"

Donghyuck menepuk dahinya pelan, harusnya ia sudah tahu sejak awal jika Yuta lah dalang dari semua ini. Hyung dari Jepangnya itu memang harus dipukul kepalanya biar berhenti mengajak anak dibawah umur untuk menonton hal cabul seperti itu. "Kau harus jauh-jauh darinya mulai dari sekarang" Ucap Donghyuck sambil kembali berjalan.

Donghyuck memasuki minimarket dengan Jisung yang mengintil seperti anak ayam di belakangnya. Donghyuck langsung mencari seluruh barang-barang yang tertulis di daftar belanjaan yang ibunya berikan tadi dibantu oleh Jisung, mereka memutuskan berpisah agar kegiatan belanja ini lebih cepat selesai.

"Hyung, yang mana?"

"Di daftar tertulis keju, tapi bibi tidak menuliskannya keju cheddar atau melt" tanya Jisung sambil menghampiri Donghyuck yang sedang memilih daging dengan raut kebingungan.

"Ambil saja dua-duanya" jawab Donghyuck tanpa menolehkan kepalanya ke arah Jisung

"Kenapa tidak telpon bibi saja?"

"Aku lupa membawa ponsel"

"Okey"

Donghyuck merutuki ibunya yang tidak menulis barang belanjaan dengan jelas. Disini tertulis daging, tapi tidak disebutkan daging sapi atau daging babi, kan Donghyuck jadi pusing sendiri!

"Sudahlah ambil semua, pakai kartu ibu juga kan." Donghyuck langsung memasukkan daging-daging tersebut kedalam trolli. Semua barang yang tertulis di daftar sudah di dapat, ia menghampiri Jisung yang sedang sibuk memilih snack untuk menggeret anak itu ke kasir.

"Memilih cemilan saja lama sekali!" ucap Donghyuck

"Hyung hanya mengizinkan aku membeli satu macam snack saja, bagaimana aku tidak bingung!" sungut Jisung sambil melanjutkan kegiatannya memilih rasa kripik kentang apa yang harus ia ambil dengan wajah serius.

Donghyuck merasa gemas melihat ekspresi Jisung yang terlihat menggemaskan saat serius seperti itu. Ia reflek mencubit pipi Jisung dengan keras sehingga membuat Jisung memekik kesakitan "Sakit hyung!"

Donghyuck hanya tertawa nista melihat bocah itu berteriak kesakitan. Ia merasa senang membuat orang lain juga merasakan penderitaan yang pipinya alami selama ini.

Donghyuck dan Jisung terlalu asik berdua sampai tidak menyadari bahwa ada 2 pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik rak makanan dengan ekspresi kecewa, terkejut, kaget, dan tidak menyangka.

"Lucas, cepat foto!"

"Sabar Jen! Ya tuhan telunjukku menyangkut di lubang hidung!" Seru orang yang dipanggil Lucas itu dengan panik.

Jeno memandang Lucas dengan jijik kemudian segera mengambil ponselnya sendiri untuk merekam Donghyuck yang sedang asik tertawa-tawa saat menyiksa pria yang bersamanya itu.

"Mark pasti akan terkena serangan jantung saat melihat ini" gumam Jeno sambil terus merekam.

Lucas yang sudah bisa membebaskan jari telunjuknya dari lubang hidungnya sendiri segera mengirim chat kepada Mark.

to: Morklees si bodoh

Mark! kau pasti tidak akan pernah menyangka. Kumohon kau jangan mati setelah melihat video yang Jeno kirim nanti. Tetaplah hidup kawanku!

Lucas memandang Donghyuck dengan pandangan kecewa "Kenapa ia tega melakukan itu kepada Mark!"

"Aku juga tidak menyangka. Padahal Mark sangat mencintainya" Ucap Jeno tidak habis pikir.

"Kau sudah merekamnya belum?"

"Sudah, bahkan tadi aku merekam saat pria yang bersama Donghyuck itu mengelus-elus perut Donghyuck dengan ekspresi penuh kasih sayang. Memangnya Donghyuck hamil?" Tanya Jeno dengan raut wajah kebingungan.

Sebenarnya tadi Jisung hanya main-main, dia ber-akting seakan-akan Donghyuck itu istrinya yang sedang hamil. Dia mengelus perut Donghyuck sambil mengatakan kata-kata menggelikan seperti 'Baby mau apa?' 'Baby jangan nakal di dalam sana ya kasihan mommy' Tentu saja perbuatan Jisung itu membuat Donghyuck jengkel dan langsung memukul kepala Jisung dengan botol minuman ringan yang ia ambil dari dalam lemari pendingin minimarket.

"Astaga?! Donghyuck benar-benar tega kepada Mark! dasar playboy!! Ayo cepat kita pergi dari sini sebum mereka menyadari keberadaan kita"

Lucas dan Jeno segera mengendap-endap menuju pintu keluar berusaha menghindari Donghyuck yang sedang berjalan menuju kasir. Mereka berdua segera pergi ke minimarket sebelum Donghyuck mengetahui keberadaan mereka.

.

.

Setelah membayar semua belanjaannya menggunakan kartu kredit ibunya, Donghyuck dan Jisung segera kembali kerumah. Tapi saat diperjalanan ia dan Jisung malah dihampiri oleh anak kecil yang menangis sambil mencari-cari ibunya. Jadi mau tidak mau mereka berdua harus mengantar anak itu ke pos satpam di depan komplek perumahan.

Mark meraih ponselnya yang sedari tadi bergetar. Mark membuka ponselnya dan mengernyit heran saat membaca chat aneh yang dikirimkan oleh Lucas, serta 1 video dari Jeno.

Mark tidak membalas pesan dari Lucas, ia langsung memeriksa video yang dikirimkan Jeno.

Saat ia menonton video itu wajahnya langsung mengeras dan memerah marah, hidungnya kembang kempis dan matanya melotot tidak percaya. Ia sangat marah saat melihat dengan lancangnya laki-laki itu menyentuh asetnya seenak jidat. Tidak bisa dibiarkan!!. Tanpa menunggu waktu lama ia segera menyambar jaketnya dan memutuskan untuk menemui Donghyucknya sekarang juga.

Sepanjang perjalanan, Mark terus memikirkan bagaimana cara yang paling sadis untuk menghancurkan tangan lancang itu. Ia tidak bisa terima jika Donghyuck dipegang-pegang seperti itu oleh orang lain. Ia bersumpah akan membuat laki-laki itu menyesal sampai mati.

Mark telah sampai di depan rumah Donghyuck, ia langsung menekan bel dengan brutal membuat penghuni di dalamnya terlonjak kaget.

"Renjun, buka pintunya. Lihat siapa yang datang!" Suruh Ten yang sedang memotong bahan makanan bersama Jaemin yang berada di sampingnya. Renjun yang baru saja tiba bersama Jaemin berjalan menuju pintu, ia mengumpat pelan karna sang tamu begitu tidak sabarnya sampai menekan bel secara bringas seperti itu.

"Mana Donghyuck!" Renjun terlonjak kaget saat Mark langsung berteriak tepat di depan wajahnya dengan wajah yang sangat mengerikan sesaat setelah ia membukakan pintu.

"S-sunbae"

"Siapa yang dat-" Ucapan Ten terputus saat melihat Mark berdiri di depan pintu rumahnya dengan pakaian yang aut-autan serta wajah yang memerah marah.

Johnny yang terbangun karna tidurnya terganggu segera melangkahkan kakinya keluar kamar. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Mark sudah berada di rumahnya "Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Johnny dengan nada kaget.

Mark langsung menolehkan wajahnya ke arah Johnny yang berdiri dengan mata melotot kaget "Ayah mertuaku! dimana Donghyuck!"

Johnny mendelik mendengar perkataan Mark "Mana ku tahu! Ten, mana Donghyuck" tanya Johnny kepada istrinya.

"Satu jam yang lalu aku menyuruh anak itu belanja, tapi sampai sekarang dia belum kembali" jelas Ten kepada Johnny.

"Jelas saja dia belum kembali! dia sedang asik berselingkuh!" Sahut Mark dengan wajah marah.

"Hei, hei, sahabatku bukan playboy ya! Sembarangan saja kau!" balas Renjun tidak terima.

"Mark tenanglah, jelaskan dengan pelan-pelan apa yang terjadi" Johnny berusaha menenangkan Mark yang terlihat sangat murka seperti seorang suami yang memergoki istrinya bermain api di belakannya. Padahal mereka menikah saja belum.

Mark menghembuskan nafasnya pelan, ia berusaha mengendalikan emosinya yang siap meledak kapan saja. "Donghyuck berselingkuh paman!"

"Siapa yang berselingkuh?"

Semua orang langsung menengok ke arah pintu saat mendengar suara Donghyuck yang baru saja datang membawa banyak sekali barang belanjaan dengan Jisung yang berdiri di belakangnya, berusaha mengintip dari punggung Donghyuck.

"Kenapa kau ada disini?" Tanya Donghyuck dengan dahi berkerut heran saat melihat Mark berada dirumahnya dengan pakaian seperti itu.

"Kau!" Mark menunjuk Donghyuck dengan telunjuknya sedangkan Donghyuck berjengit kaget karna mendengar teriakan Mark.

"Apa-apaan sih hyung?! jangan berteriak-teriak seperti itu! " Donghyuck berjalan melewati Mark yang masih menunjuknya dengan santai, ia ingin segera mendudukan pantatnya di sofa karna pantatnya sudah terasa sangat nyeri.

Mark berjalan menghampiri Jisung yang masih berdiri di depan pintu, ia langsung mencengkram kerah pakaian Jisung dengan kuat membuat seluruh orang yang berada di rumah itu memekik kaget "Berani-beraninya kau menyentuh Donghyuck-ku!!" Sembur Mark marah

Donghyuck yang baru saja ingin mendaratkan pantatnya di sofa melotot kaget melihat Mark yang sudah siap menghajar Jisung "Mark hyung!!"

Jaemin yang sedari tadi asik menghias kue dan mengabaikan kehebohan yang terjadi pun tidak bisa tinggal diam saat melihat Mark menyentuh adik kesayangannya itu. Ia segera meninggalkan kue yang sedang ia hias kemudian berjalan menghampiri Mark dengan membawa mangkok plastik di tangannya. "Berani-beraninya kau menyentuh adik kesayanganku!" Jaemin memukul kepala belakang Mark dengan mangkok plastik yang ia bawa.

"Sakit sialan!" umpat Mark marah saat merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya akibat pukulan mangkok plastik dari Jaemin.

Jaemin melepaskan cengkraman tangan Mark dan segera membawa Jisung untuk bersembunyi dibelakangnya.

Johnny memijat kepalanya yang kembali berdenyut pening melihat tingkah orang-orang yang berada di hadapannya ini. Ia rasa tidak akan sanggup untuk melanjutkan hidup jika ia tetap tinggal bersama orang-orang ini. Ia berjalan lesu kembali memasuki kamarnya, berusaha mengabaikan semua kejadian yang terjadi. Johnny butuh tidur lebih lama.

Sama halnya dengan Johnny, Ten mendengus keras lalu berbalik kembali ke dapur. Anak-anak muda ini hanya membuatnya sakit kepala dengan segala tingkah mereka.

"Apa-apaan sih kau ini?!" Donghyuck menjerit marah melihat Mark yang masih melotot ke arah Jisung dan Jaemin.

"Dia selingkuhanmu kan?! Kenapa kau tega berselingkuh dibelakangku?! Kau sudah tidak cinta padaku?! Lagi pula anak itu tidak ada bagus-bagusnya sama sekali! Cari selingkuhan yang benar sedikit dong!" Ucap Mark sambil menunjuk-nunjuk Jisung yang balik menatap Mark dengan ekspresi tidak terima.

"Apa kau bilang?! Kau ini bicara apa sih hyung?! "

"Lihat! Katakan padaku yang sebenarnya! Apa kau hamil??!"

Renjun tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perkataan Mark yang tidak masuk akal itu. Ia melirik ke arah Donghyuck yang sedang menatap Mark dengan pandangan dongkol dan tidak percaya.

"Kau bicara apa sih?! Jisung ini tetanggaku! dan aku mana mungkin hamil!" balas Donghyuck dengan muka memerah menahan emosi.

"Terus ini apa?!" Mark menunjukkan video di ponselnya yang memperlihatkan Jisung sedang mengusap-usap perutnya sambil tertawa-tawa di minimarket.

"Oh itu, aku hanya ber-akting tadi, iyakan hyung?" Donghyuck langsung menganggukan kepalanya.

"Aku tidak percaya! Kau bohong kan!!" ucap Mark yang masih saja kekeuh menuduh Donghyuck berselingkuh.

Renjun yang sedari tadi hanya diam menyimak sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Mark.

Ia berjalan ke arah Jaemin dan merebut mangkok plastik yang Jaemin bawa lalu memukulkannya dengan keras ke kepala belakang Mark "Heh! Kau ini datang-datang bertingkah seperti orang gila! Kau pikir ini rumahmu?! Sudah mengatai sahabatku itu berselingkuh segala! Pulang sana!!" Sembur Renjun emosi.

Ten menghembuskan nafas jengah mendengar segala ocehan tidak bermutu dari anak-anak itu, ia memanggil Jaemin dan Jisung untuk membantunya di dapur, membiarkan Donghyuck, Mark dan Renjun yang sedang bertengkar "Jaemin, Jisung. Kemari! biarkan mereka bertiga bertengkar sampai mulutnya berbusa" ucap Ten.

"Sakit brengsek!!! jangan pukul kepalaku lagi! nanti aku jadi bodoh bagaimana?!"

Renjun mendelik ke arah Mark sambil mengangkat mangkok plastik yang ia bawa, siap untuk memukul kepala Mark lagi.

"Sayang! lindungi aku!" Mark segera berlari kearah Donghyuck dan bersembunyi dibalik punggung sempitnya.

"Siapa yang baru saja kau panggil sayang huh?! Lepaskan! aku sedang tidak ingin kau pegang-pegang" Donghyuck mengehempaskan tangan Mark yang sudah melingkar di pinggangnya dengan kasar. Ia berjalan ke arah sofa untuk mendudukkan pantatnya yang benar-benar sudah terasa nyeri. Sungguh malang nasib Donghyuck.

"Sayang, kau benar-benar tidak selingkuh kan?" tanya Mark yang sudah menyusul Donghyuck duduk di sofa.

"Menurutmu?!" balas Donghyuck galak.

" Sudah Hyuck, selingkuh saja. Tinggalkan Pria bodoh dan emosian seperti dia. Dia sama sekali tidak berguna." ucap Renjun sarkas, sangking kesalnya.

"Diam kau!." delik Mark ke arah Renjun.

"Kalian bisa diam tidak sih?! Mark hyung pulang!" Donghyuck menatap dua lelaki yang masih terus melemparkan delikan tajam satu sama lain dengan tatapan garang.

"Kau mengusirku?!" Seru Mark tidak percaya.

"Hahahaha mampus kau! " kata Renjun sambil menertawai Mark dengan begitu bahagia.

"Kau juga diam! kau mau ku usir juga?!"

Renjun seketika menghentikan tawanya dan langsung menghambur ke arah dapur.

"Kau masih disini?" ucap Donghyuck saat melihat Mark tak kunjung pergi dari rumahnya.

"Kau benar-benar tidak selingkuh kan sayang?"

Donghyuck menghembuskan nafasnya lelah, ia meraih wajah Mark kemudian mengecup bibir Mark singkat. "Aku tidak selingkuh, jadi cepat pergi dari hadapanku sebelum aku benar-benar selingkuh" geram Donghyuck jengkel.

Senyum Mark yang sempat muncul karna perlakuan manis Donghyuck kepadanya langsung sirna ketika mendengar ancaman Donghyuck yang sangat mengerikan.

"Baiklah sayang, aku percaya padamu. Aku akan kembali nanti malam, sampai jumpa sayangku"

Mark bangkit dari duduknya, mencium bibir Donghyuck tidak lupa sedikit melumatnya.

"Ibu mertua!! aku pulang dulu!!" Ten mendengus mendengar teriakan Mark dari ruang tengah. Anak gila itu akan menjadi menantunya? astaga Ten bisa mati muda jika begini caranya.

"Sudah sana pergi!"

"Eyyy, Jangan rindu padaku ya. Nanti malam kan kita bertemu lagi. Aku usahakan menginap"

"Tidak ada kata menginap! cepat pergi atau aku akan benar-benar berselingkuh dengan Jisung!" Acam Donghyuck galak.

"Iya-iya, ini juga aku mau keluar" Mark berjalan keluar dari rumah Donghyuck.

Mark pulang kerumah dengan perasaan lega saat mengetahui ternyata Donghyuck tidak selingkuh. Ia akan menghajar Jeno karna membuatnya marah-marah tidak jelas kepada Donghyuck kesayangannya.

.

.

.

Ten menyusun makanan dengan sedemikian rupa, setelah bekerja keras dibantu dengan Jaemin dan Jisung (Donghyuck dan Renjun sangat tidak membantu.) Ia berhasil menyelesaikan masakannya ini.

Johnny berjalan menghampiri Ten dengan mulut menganga kaget melihat begitu banyak jenis masakan yang berada di meja makan. "Ini hanya makan malam biasa Ten, aku memang menyuruhmu memasak banyak, tapi tidak sebanyak ini juga"

"Kau bilang Donghyuck akan dilamar?!" balas Ten sambil mendelik

"Haiss sudahlah, mana Donghyuck?"

"Apa Ayah?" Sahut Donghyuck yang tiba-tiba sudah berada di samping Johnny, membuat Johnny terlonjak kaget dan reflek memukul kepala anak satu-satunya itu.

"Kaget tahu!" ucap Johnny sambil mendelik.

Ten memperhatikan anaknya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Anaknya itu tampak begitu manis dengan balutan celana skinny jeans hitam dan sweater berwarna baby blue. Rambutnya ia tata dengan model messy hair yang menambah kesan seksi, sangat kontras dengan wajahnya yang begitu manis, menjadikan Donghyuck sangat memikat malam ini.

"Ibu, pakaikan aku eyeliner" Donghyuck dengan tiba-tiba menyodorkan eyeliner yang ia rampok dari Yeri, tetangga belakang rumahnya itu kepada Ibunya.

"Kau ingin mengenakan make-up?" Tanya Johnny dengan alis mengkerut

"Penampilanku sudah seperti ini, sekalian saja" balas Donghyuck santai. Ia langsung mendudukan dirinya di sofa, diikuti Ten yang akan mengenakannya eyeliner.

Ten tersenyum puas melihat hasil karyanya. Donghyuck tampak begitu cantik malam ini.

"Kau memang anakku Lee Donghyuck. Ibu tak menyangka jika sebenarnya kau ini cantik"

Donghyuck mendengus mendengar ucapan Ibunya "Cih, tumben mengakuiku sebagai anak" sarkas Donghyuck.

Ten mengabaikan perkataan anaknya itu dan mendekatkan tubuhnya kepada Donghyuck "Hei, bokongmu masih sakit?" bisik Ten blak-blakan.

Donghyuck yang kaget mendengar pertanyaan Ibunya reflek memukul paha Ibunya itu dengan kuat "Ibu bicara apa sih?!"

"Sakit!! ibu bertanya bokongmu masih sakit atau tidak?! " Ten balas berteriak kepada Donghyuck, hal itu sontak menarik perhatian Johnny yang sedang sibuk menonton televisi "Kenapa bokongnya Donghyuck?" tanya Johnny penasaran.

Ten dan Donghyuck sontak gelapan "Tidak apa-apa, anak nakal ini habis terpeleset di kamar mandi" jawab Ten cepat.

Beruntung, Johnny percaya begitu saja. Ia kembali menfokuskan perhatiannya ke televisi.

Ten dan Donghyuck menghembuskan nafas lega, hampir saja.

"Ibu sih!" Donghyuck menyalahkan Ibunya, sedangkan Ten yang disalahkan oleh putranya mendelik tidak terima.

Tiba-tiba suara bel berbunyi. Johnny yang sedang fokus menonton televisi terlonjak kaget "Mereka sudah datang! Ayo Ten, kita cepat buka pintunya"

Donghyuck merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat mengetahui Mark dengan orang tuanya sudah datang. "Jantung sialan! Tenang lah dulu" Umpat Donghyuck kepada jantungnya sendiri.

Johnny dan Ten membuka pintu untuk menyambut keluarga Mark.

"Hi John!" Sapa Jaehyun dengan senyum tampannya.

"Hi jae-"

"Paman mana Donghyuck?" Ucapan Johnny yang sudah berada di ujung lidah harus kembali ia telan karna Mark memotong perkataannya se-enak jidat. Taeyong langsung mencubit perut Mark dengan keras "Jangan buat malu!" Bisik Taeyong kepada anaknya.

"Err, Silahkan masuk dulu. Lebih enak mengobrol di dalam" ucap Ten sambil tersenyum canggung.

Mark tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Donghyuck yang sedang berdiri di ruang tamu. Donghyuck terlihat sangat luar biasa bersinar malam ini, bahkan lampu jalan kalah terang dengan Donghyuck. Dia terlihat sangat manis sekaligus seksi, Mark tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Donghyuck barang sedetikpun.

"Ohh, jadi ini yang bernama Donghyuck? hm pantas saja anakku sampai tergila-gila denganmu" Taeyong menghampiri Donghyuck dan langsung mencubit pipi gembilnya dengan gemas. "Kau sangat manis dan menggemaskan"

Donghyuck hanya tersenyum canggung menerima perlakuan dari Ibu kekasihnya itu. Sejujurnya ia masih belum terbiasa dengan pujian-pujian yang di lontarkan kepadanya akhir-akhir ini. Rasanya sangat aneh.

"Ibu! jangan main pegang-pegang asetku ya?!" protes Mark

Donghyuck memutar bola matanya malas, Mark si gila ini bahkan dengan ibunya saja cemburu. Luar biasa.

Mereka memutuskan untuk mengobrol sambil menyantap makan malam.

Mereka ber-6 duduk secara berhadap-hadapan. Johnny menghadap Jaehyun, Ten menghadap Taeyong, dan Donghyuck menghadap Mark.

"Wahh, kau membuat ini sendiri Ten?" Tanya Taeyong dengan mata berbinar melihat banyaknya makanan yang berada di atas meja makan.

"Tentu saja tidak, teman-teman Donghyuck ikut membantuku. Yah, meskipun ada pengganggu juga" ucap Ten dengan tersenyum, ia melirik ke arah Mark yang tersedak karna merasa tersindir.

"Jadi John langsung saja, kedatangan kami kesini sudah jelas untuk melamar anakmu"

Suasana tiba-tiba berubah menjadi serius saat Jaehyun mengatakan hal itu. Johnny menghembuskan nafas pelan, menaruh sendoknya kemudian menatap Mark dengan pandangan tajam. Mark yang ditatap seperti itu seketika menegakkan tubuhnya.

"Maafkan aku Jae, tapi aku tidak bisa menerimanya"

.

.

.

.

.

.

.

Omake~

Jeno dan Lucas memasuki mobil dengan nafas terengah-engah.

"Tadi nyaris saja" ucap Lucas sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil.

"Tapi Cas, aku masih tidak menyangka Donghyuck berselingkuh dari Mark" Jeno menampilkan raut kecewa saat mengatakan itu.

Lucas menganggukkan kepalanya "Kau benar. Tapi, apa kau lihat? Donghyuck ternyata sangat manis jika diperhatikan. Apalagi saat ia tertawa tadi."

Jeno menolehkan kepalanya ke arah Lucas dengan cepat, matanya melotot kaget "Cas, jangan bilang... "

"Yah... aku tidak bisa mengendalikan perasaanku Jen" Lucas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat ekspresi Jeno yang menatapnya dengan tajam.

"Hah. Kita sama" ucap Jeno sambil menghela nafas berat. "Aku rasa aku juga menyukainya"

Lucas membelalakan matanya tidak percaya mendengar perkataan Jeno barusan "Are you fucking kidding me?!"

"Nah, i'm not"

Lucas menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat "Tidak boleh Jen, kita tidak boleh menjadi pelakor!"

"Siapa juga yang ingin menjadi pelakor. Aku hanya akan mendo'akan mereka berdua cepat putus" ucap Jeno jahat.

"Oh begitu, baiklah aku akan ikut mendo'akannya juga"

Jeno memeluk Lucas dengan perasaan haru. "Kau memang sahabatku big bro" ucap Jeno sambil menghapus air mata imajiner-nya.

Lucas mengangguk-anggukan kepalanya "Ayo kita berdo'a, agar Mark dan Donghyuck lekas putus" ucap Lucas dengan nada menggebu-gebu.

"Ayo!!" balas Jeno tak kalah heboh.

Sepertinya Mark harus segera mencari sahabat baru.

.

.

.

.

.

.

.

.

tbc

Halo guys, mau curhat dikit. Hehehe

Sebenernya aku agak bingung, mau bawa book ini sampai mana, mau sampai Markhyuck menikah atau kehidupan setelah mereka menikah dan punya anak. jadi aku mohon masukan dan kritiknya yaaaaa

Special thanks untuk ai selai strawberry, 57kg, Fleur choi, fa0107,sydlla131, klystwal, GYUSATAN, doyoung.nim, Tzn, chenhighnotes, mii-chan97.Terimakasih kalian sudah mau review.

Oh iya, Happy newyear!! semangat walau hari ini Mark Graduate :(