:

Taufiq879/Tandrato

:

Destined To Live With You

:

Bab 14

Sebuah Kebenaran

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]


2 Orang yang kebetulan sedang melewati lorong yang menuju ruang guru itu tampak sangat terkejut melihat Naruto dan Sakura. Tingkah mereka saat itu bisa disalah sangka oleh orang lain. 2 orang yang kebetulan lewat ini pun terlihat syok.

"A-Apa yang kalian berdua lakukan di lorong?!" Suara itu tampak sedikit keras namun masih terasa ada kebingungan dalam suara itu.

Suara itu menyadarkan Naruto dan Sakura bahwa ada orang lain di dekat mereka.

"I-Ino," ucap Sakura.

"H-Hinata," ucap Naruto.

Kedua suara itu tampak terkejut. Mereka hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melihat mereka dengan keadaan syok itu sebelum menyadari bahwa posisi mereka saat ini bisa dikatakan pengkhianatan pada Sasuke. Terkhusus Hinata yang melihatnya secara langsung.

[]


Seketika mereka telah menyadari tindakan yang bisa membuat orang salah paham itu, Naruto melepas tangannya membiarkan Sakura mundur beberapa langkah.

Dengan nada yang terkesan panik, "ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" ucap Sakura untuk menjelaskan situasi.

Ino mendekati Naruto dengan memasang senyum jahil. "Jadi, apa kau sudah berniat untuk merebut cinta pertamamu dari tangan sahabatmu, Naruto?"

Jika mendengar itu sambil makan, Naruto pasti akan tersedak hingga tewas. "T-Tidak, k-kami hanya berbicara."

"Heh. Benarkah Cuma itu?"

"Iya, sungguh. Tak lebih dari itu," ucap Sakura.

"L-Lalu kenapa Naruto bisa memegangmu, Sakura," kini tiba-tiba Hinata melemparkan sebuah pertanyaan. Tentu saja itu bisa menjadi pukulan mematikan bagi mental Sakura yang telah berjanji untuk membantu memperjelas hubungan Naruto dan Hinata. Namun karena kejadian tersebut, sebuah kesalahpahaman telah terjadi.

"Ehh. Eng..." Tentu saja Sakura kesulitan menjawab.

"M-Maaf. Saat kami berbicara, Sakura sempat melamun. Karena sulit untuk disadarkan, aku mencoba untuk menggoyang-goyang badannya."

"Alasanmu terasa mengada-ngada. Tapi kalau memang seperti itu kejadiannya, kurasa aku bisa maklumi." Ino melihat ke arah Hinata lalu berkata, "kau setujukan, Hinata?"

Hinata sempat terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Namun ia masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Naruto. Ia merasa ada hal yang disembunyikan oleh Naruto maupun Hinata. Itu terlihat jelas dari sikap mereka saat sadar bahwa ada orang lain di dekat mereka.

"Hey. Kalian juga mau ke ruang guru kan? Ayo sama-sama ke sana!" ajak Sakura yang sepertinya bertujuan mengganti arah pembicaraan. Dan sepertinya ajakan itu disetujui oleh Ino. Pada akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan Naruto.

"Huuft. Benar-benar gawat. Syukur tidak ada Sasuke. Entah apa yang akan terjadi kalau dia melihat kesalahpahaman itu." Naruto pun memungut buku yang sebelumnya ia jatuhkan. Setelah itu, ia mulai melangkah seraya memperhatikan Sakura dari kejauhan. "Aku tidak ingat apa yang terakhir kali kukatakan padanya. Kenapa ya dia sampai terlihat bengong begitu?"

Sementara itu. "Bagaimanapun, k-kami sudah resmi."

Perkataan Naruto sebelumnya itu terus terngiang di kepalanya. Ia tidak bisa mengartikan perkataan itu dengan jelas. "Resmi. Apa maksudnya resmi?" batin Sakura.

Selain itu, Hinata pun terlihat memikirkan sesuatu. "Apa yang mereka bicarakan. Mereka terlihat panik." Ia melirik Sakura. "Sepertinya ada yang mengganggu pikiran Sakura? Apa dia dan Naruto punya rahasia?"

Tiba-tiba, punggung Hinata dan Sakura di dorong pelan oleh seseorang. "Kalian berdua! Kenapa diam saja. Aku merasa terasingkan loh," ucap Ino yang sebenarnya sejak dari memperhatikan ekspresi Hinata dan Sakura yang sedang memikirkan sesuatu. Ino mempercepat langkahnya hingga beberapa sentimeter di depan kedua temannya itu sebelum berbalik badan untuk berbicara dengan mereka. "Kau tahu Hinata? Sebenarnya aku tahu apa hubunganmu dengan Naruto. Jadi tidak heran kalau kau jadi begini setelah melihat kejadian tadi."

Mendengar itu, tidak heran Hinata terkejut. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Ino penuh kebingungan. "Apaaaa!" Setidaknya hatinya mengekspresikan kata itu. Tapi wajahnya masih saja menatap Ino penuh keheranan. "B-Bagaimana bisa? Bahkan Sakura saja tidak tahu."

"Ehhh! Kenapa kau mengatakannya, Ino?!"

"Tidak perlu ada rahasia lagi kan? Kita bertiga sahabat. Jadi kita harus saling membantu," kata Ino.

"Kalo sudah begini, sebaiknya aku ceritakan hal yang sebenarnya terjadi antara aku dan Naruto tadi. Kuharap kau bisa lebih tenang setelah mendengarnya, Hinata. Sebenarnya tadi aku ingin mengetahui bagaimana perasaannya padamu. Tapi tiba-tiba saja ia mengatakan sesuatu yang aneh. Aku tidak begitu mengerti artinya sih, tapi aku jadi syok dan terdiam karenanya."

"Jadi begitu. Pantas saja. Lalu apa yang Naruto katakan padamu?" tanya Ino.

"Dari jawabannya, aku bisa simpulkan bahwa Naruto sebenarnya tertarik pada Hinata. Tapi, sepertinya ia menghindari kontak dengannya," jawab Sakura.

"Wah. Berarti kau bisa mulai mendekatinya, Hinata. Tenang saja, sebagai sahabat, kami akan membantumu hingga kalian berdua benar-benar resmi pacaran, benarkan Sakura?"

"Hn. Benar."

"Eng... Terima kasih, teman-teman," kata Hinata seraya memasang senyuman. "Ternyata mereka belum tahu apa-apa. Huft. Aku terlalu khawatir," batinnya.

[]=[]=[]

Ketika matahari sudah berada di sisi barat bumi, bel pulang pun berbunyi. Setelah guru yang mengajar di kelas 10-A keluar, para siswanya pun mulai beranjak pulang. Namun masih ada satu orang yang terlihat duduk memikirkan sesuatu.

"Kau tidak pulang, Naruto?"

Naruto segera melihat si pemilik suara itu. "Kita perlu bicara, Sasuke."

Begitu siswa terakhir meninggalkan kelas, Naruto pun berdiri dan menatap Sasuke dengan tajam. "Apa kau menceritakannya pada Sakura?" dengan nada marah, ia bertanya.

"Apa yang kau maksud?"

"Jangan pura-pura tidak tahu. Apalagi kalau bukan hubunganku dengan Hinata."

"Aku tidak pernah menceritakan hal itu pada Sakura. Sebenarnya apa yang membuatmu marah?"

"Benarkah? Kau yakin? Lalu kenapa Sakura sepertinya tahu tentang rahasiaku dengan Hinata?"

"Mana aku tahu. Yang mengetahui rahasiamu di sekolah hanya aku. Dan aku tidak pernah mengungkit hal itu. Apa jangan-jangan kau kurang hati-hati sehingga Sakura menyadarinya?"

"Tidak. Itu seharusnya tidak mungkin. Aku sangat berhati-hati. Tidak mungkin juga Hinata mau menceritakannya pada Sakura."

"Kalau begitu tuduhanmu benar-benar tidak berbukti. Sudah selesaikan? Aku mau pulang."

"Huft." Naruto mengambil tasnya. "Ayo jalan!"

"Apa kau minta diantar?"

"Kalau ajudanku tidak datang, kau harus mengantarku pulang."

"Aku tidak harus repot-repot seperti itu. Kau bisa saja menghubungi ajudan yang tidak bertugas untuk menjemputmu. Lagi pula kau pikir aku tidak ada kegiatan sore ini?"

"Huft. Sasuke, apa kau ingat. Mobilku masih di tahan sama kepolisian. Kau dan kepolisian memiliki hubungan sebab kau adalah anak kepala kepolisian Konoha. Jadi kau harus bertanggung jawab terhadap mobilku."

Sasuke terdiam untuk sesaat. "Baiklah. Ayo."

Ketika di gerbang, Naruto menyadari bahwa tak ada ajudan yang menunggunya. Hanya terlihat sebuah mobil hitam menjemput Hinata di halte. Dipinggir jalan juga terlihat beberapa mobil milik orang tua yang hendak menjemput anaknya. Pada akhirnya Sasuke pun diminta untuk mengantarnya.

"Aku akan bilang Itachi untuk mempercepat pengembalian mobilmu. Jadi lain kali kau bisa pulang sendiri." ucap Sasuke.

"Iya. Makasih. Sekarang cepat ke vila." Ketika keluar dari pagar sekolah, mata Naruto sempat melirik sebuah mobil Ferari warna kuning yang terparkir tak jauh dari gerbang di pinggir jalan.

"Vila? Apa kau mau mengunjungi nenekmu?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu dilempar oleh Sasuke yang memaksanya untuk mengabaikan mobil itu dan menjawab pertanyaan Sasuke.

"Tidak. Sekarang aku tinggal di sana lagi."

"Oh. Kau dan Hinata pisah rumah?"

"Tidak! Dia juga ikut. Nenek kesepian tinggal di vila besar sendirian. Jadi aku dan Hinata memutuskan untuk tinggal di sana. Lagi pula di vila ada fasilitas yang memungkinkan aku kerja di rumah."

Hari semakin sore dan akhirnya langit jingga pun mulai tampak di ufuk barat. Kepadatan lalu lintas memaksa Sasuke untuk tetap pada kecepatan rata-rata. Alhasil diperlukan waktu yang cukup lama untuk sampai di vila keluarga Uzumaki.

"Terima kasih, Sasuke." Naruto mengambil sesuatu dari kantung bajunya. "Ini, untuk beli bensin atau apapun yang kau mau." Naruto memberikan selembar uang yang terlihat bernilai besar.

"Aku tidak menarik tarif, aku bukan sopir taksi online." Ada sedikit rasa kesal di sana.

"Kau tidak mau? Padahal ini ucapan terima kasihku karena sudah mengantarku meski kau sedang buru-buru."

"Nggak butuh. Lagi pula biasanya kau tidak pernah memberiku apa-apa ketika aku mengantarmu pulang."

"Kalau begitu, hari libur mampirlah. Kita main game bersama lagi seperti dulu."

"Aku menolak."

Naruto terlihat terkejut karena Sasuke menolak ajakannya.

"Minggu depan sudah ujian. Aku mau fokus belajar. Sampai jumpa." Segera setelah itu, Sasuke pulang.

"Huft. Ujian sudah dekat toh. Kurasa aku juga perlu belajar."

Baru saja mendekati gerbang, seorang satpam pun membukakan pintu. Di susul seorang ajudan yang muncul dari pos satpam yang berada di kediaman keluarga Uzumaki.

"Selamat datang, tuan," ucap satpam tersebut.

"Tuan Naruto, apa Arashi tidak menjemput Anda?" tanya ajudan yang memiliki jabatan sebagai kepala keamanan vila.

"Tidak. Aku sama sekali tidak melihat ada jemputan untukku."

"Oh. Begitu ya. Mungkin tuan Arashi ada keperluan mendadak. Baiklah, mari saya antar sampai pintu."

"Ahh. Itu tidak perlu, Raido. Aku bisa ke sana sendiri."

"Baiklah."

Naruto berjalan menuju pintu rumah. Namun langkahnya terhenti kala mendengar suara mobil yang melaju. Perhatiannya pun tertuju pada mobil Ferari kuning yang tiba-tiba berhenti di depan pos satpam setelah melakukan tikungan tajam. Seseorang keluar dari mobil itu. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Aura marah begitu terasa meski jarak Naruto dengan pria itu cukup jauh.

"Ehh! Tuan Arashi! Ada apa?"

"Naruto! Kenapa kau pulang deluannnnnnn?"

"Heh! Arashi. Jadi kau yang di dalam mobil itu?" Naruto terlihat sangat terkejut. Terlebih lagi saat ia menyadari bahwa Arashi berlari dengan cepat ke arahnya.

"Anda membuatku menunggu lama sampai siswa terakhir meninggalkan gerbang sekolah! Saya sempat berpikir Anda masih di dalam."

"Maaf-maaf. Aku tidak tahu kalau kau akan menjemputku dengan mobil itu."

"Padahal saya sudah memakai mobil yang paling mencolok agar keberadaan saya bisa Anda ketahui. Tahu begini, sebaiknya tadi tugas ini kuserahkan pada Korata."

"Aku kan sudah minta maaf!"

"Baik. Akan kumaafkan kali ini." Arashi berbalik. "Raido, ambilkan dokumen-dokumen yang ada di dalam mobil!"

Tak lama kemudian, Raido membawa setumpuk dokumen setebal 30 cm ke hadapan Naruto. "A-Apa ini?" Naruto terkejut.

"Dokumen yang harus Anda tandatangani. Semua berjumlah 328 lembar."

"Sebanyak itu?!"

"Sekarang aku akan kembali. Mintalah bantuan Genma untuk membantu jika diperlukan."

"Huft. Sepertinya malam ini aku tidak akan sempat mengerjakan PR." Setelah jeda cukup lama. "Raido. Tolong bawa dokumen itu ke ruang kerja kakek. Setelah mandi akan kutandatangani."

"Siap!"

[]=[]=[]

Menandatangani dokumen yang sangat banyak untuk pertama kalinya jelas merupakan tugas yang berat bagi Naruto. Setelah setidaknya berhasil menandatangani sekitar 50% dokumen, Naruto mengistirahatkan tangannya dengan membaringkan kepala dan tangannya di atas meja. "Pegal. Rasanya semua badanku benar-benar dibuat kelelahan." Ia melirik tumpukan dokumen yang belum diberi tandatangan. "Cih! Masih banyak. Lelah! Aku ingin beristirahat. Tapi kalau begitu, aku tidak akan punya waktu belajar."

Pintu ruang kerjanya di ketuk oleh seseorang. "Naruto. Bisa aku masuk?"

"Ah. Silakan."

Ketika pintu terbuka, tampaklah Hinata yang sedang membawa secangkir minuman di atas nampan. "Aku membuatkanmu teh. Teh ini bisa membuat tubuhmu rileks sehingga kamu bisa nyaman saat bekerja."

"Terima kasih." Naruto menerima cangkir itu dari tangan Hinata dan meminumnya.

"Kamu menandatangani ini semua sendirian?"

Setelah minum setengah dari teh yang ada di cangkir ia berhenti untuk menjawab pertanyaan Hinata. "Iya. Karena ini adalah tugas yang hanya bisa aku lakukan."

"Aku tadi sempat mendengar keluhanmu. Jika kamu lelah, sebaiknya kamu beristirahat saja sebentar."

"Tapi." Naruto merasa ragu. "Aku tidak bisa belajar dengan maksimal jika kemalaman."

"Kalau kamu terlalu memaksakan diri, nanti kamu bisa sakit. Kau bisa ketinggalan lebih banyak materi lagi. Jangan khawatir. Soal belajar, aku pasti akan membantumu mengejar materi yang tertinggal."

"Baiklah. Mungkin aku akan beristirahat sebentar untuk menghabiskan teh ini."

Tentu Hinata senang mendengarnya. Ia berjalan mendekati Naruto seraya tersenyum. Namun di wajahnya terlihat secercah perasaan malu dan keraguan saat mendekati Naruto. Naruto tidak begitu menyadarinya sebab sedang menutup mata seraya meneguk teh buatan Hinata itu.

"Teh ini memang nikmat. Apa kau yang membelinya, Hinata? Loh?" Naruto bingung ketika mendapati bahwa Hinata sudah tidak ada di hadapannya lagi. Tiba-tiba, sebuah telapak tangan menyentuh pundaknya. Naruto tersontak kaget. Namun tangan itu menahannya agar tidak menjauh. Tangan itu mulai memijati pundak Naruto. "Pijatannya kurang bertenaga. Tapi terasa nyaman," batinnya ketika ia menyadari bahwa saat ini Hinata sedang berada di belakangnya dan mencoba untuk menghilangkan pegal-pegal yang dialaminya.

"B-Bagaimana Naruto, apa kau sudah lebih baik?"

Ketika hendak memberi jawaban kepada Hinata, seorang pelayan muncul sehingga membuat Naruto segera melepas tangan Hinata dari pundaknya.

"Tuan! Nyonya! Nyonya besar memanggil kalian untuk segera makan malam."

"B-Baik. Kami akan segera ke sana. Ayo Hinata." Semburat malu terlihat di wajah Naruto. Namun sepertinya malu yang ia rasakan saat ini tidak sebanding dengan malu yang dirasakan oleh Hinata. Gadis itu bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

[]=[]=[]

"Kalian berdua lama sekali." Baru saja memasuki ruang makan, mereka sudah di sambut keluhan dari Tsunade. Dari sikapnya, sepertinya ia benar-benar lapar. Namun ia ingin makan bersama dengan Naruto dan Hinata.

"Maaf nek. Aku tadi sedang sibuk."

"Aku minta maaf. Aku tadi hampir lupa kalau nenek menyuruhku untuk mengajak Naruto makan setelah memberikan teh pada Naruto," Hinata merunduk karena merasa bersalah.

"Hmph. Tidak apa. Kalian duduklah." Setelah menyuruh Naruto dan Hinata untuk duduk, ia berbicara dengan pelayan di belakangnya.

Pembicaraan neneknya dengan pelayan membuat Naruto penasaran. Tapi setidaknya ia harus memperhatikan Fakta bahwa hanya ada 3 kursi yang ada di meja makan. Dua di antaranya diletakan berdekatan dan menghadap ke Tsunade.

"Huh. Ini pasti ulah nenek," batin Naruto.

Mau tidak mau mereka harus menuruti apa mau Tsunade. Bagaimana pun mereka tidak bisa berpindah tempat sebab akan sangat merepotkan dan akan menimbulkan kesan tidak baik di hadapan wanita tersebut. Bagaimana tidak, selain kursi yang telah diatur, piring, gelas, sendok, dan bahkan menu makanannya pun disesuaikan dengan kursi yang akan mereka duduki.

Ketika Naruto hendak mengambil makan, tiba-tiba saja tangannya di pukul pelan oleh Tsunade yang sepertinya sudah memegang sebuah spatula. "Ahhh! Sakit nek. Apa yang kau lakukan?"

"Mulai hari ini, nenek akan mengajari kalian bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga. Nenek tahu kalau hubungan kalian tidak pernah sampai ke sana meski sudah menikah."

"Apa?" Wajah penuh kebingungan terlihat jelas pada Naruto dan Hinata.

"Di saat makan malam seperti ini, seorang istri harus mengambilkan makanan untuk suaminya. Ini yang dikatakan pelayanan istri kelas ringan."

"Maaf!" Hinata segera berdiri. "Saya lupa akan hal itu." Ia pun segera memenuhi piring Naruto dengan makanan yang tersaji di meja.

"C-Cukup Hinata! Cukup! Aku tidak bisa memakan semua itu!

"Maaf Naruto. Akan kukurangi."

"Ahh. Tidak usah. Lagi pula nasi dan lauknya sudah bercampur."

Setelah selesai melayani Naruto, Hinata berpikir bahwa ia juga harus melayani Tsunade. "Biar saya ambilkan nek,"

"Tidak, tidak. Kau bukan pelayan, jadi yang harus kau layani hanya Naruto. Akan aku ambil sendiri."

"Heh. Padahal aku juga bisa ambil sendiri," ucap Naruto tidak senang.

Dan setelahnya, makan malam biasa pun bisa terlaksana dengan khusyuk.

[]=[]=[]

Setelah makan malam, Naruto kembali melanjutkan kerjanya. Setidaknya setelah menandatangani 20 dokumen, ia melakukan sedikit peregangan badan dan tangan.

"Habis makan, aku malah mengantuk. Tapi harus kutahan." Ia kemudian melihat layar komputer yang ada di hadapannya. "Komputer ini terhubung dengan komputer server di perusahaan kan? Apa bisa kuakses tanpa izin?" Naruto berniat menyalakan komputer itu. "Huft. Siapa juga yang mau memberiku izin. Aku kan direktur. Tentu saja aku pasti boleh menyalakan komputer ini."

Ia memastikan bahwa komputer itu terhubung dengan soket listrik. Setelah itu, jarinya pun mulai meraih tombol power. Beberapa detik kemudian, layar itu pun menyala dan menampakkan logo sejenak sebelum masuk proses booting.

"Komputer kerja ini pasti tidak memiliki game. Tapi mungkin setidaknya ada musik untuk hiburan." Begitu komputer berhasil melakukan booting, layar pun mulai menampakkan logo perusahaan Uzumaki Enterprise. Diikuti dengan munculnya ikon-ikon yang biasa terdapat pada komputer. Tangannya pun meraih mouse. "Sekarang, di mana musik-musik itu disimpan."

Ia mencari dari folder ke folder. Tak sulit menemukannya sebab folder yang menyimpan musik itu diberi nama "Music" Namun ketika ia membuka dan melihat judul-judul musik yang ada. "Huft. Jadul semua." Hanya kekecewaan yang ia dapat sebab musik-musik tersebut merupakan musik keluaran lama yang bisa dikatakan jadul oleh anak muda jaman sekarang.

Namun kekecewaaannya itu tidak bertahan lama. Ketika ia melihat sebuah folder bernama "Photo" ia pun menjadi tertarik untuk melihat-lihat foto yang ada di sana. Namun baru saja di klik satu kali, ia menyadari bahwa neneknya sedang memelototinya dari pintu.

"Ehem. Menyalakan komputer yang terhubung dengan perusahaan tanpa izin. Kau memang anak yang nakal, Naruto!"

"N-nek. Ampun nek! Aku hanya ingin memutar musik saja."

Tsunade mendekati Naruto. "Yahh. Setidaknya itulah yang mungkin akan dikatakan kakek atau bahkan ayahmu. Tapi sekarang kau adalah direktur perusahaan. Kau tidak perlu izin untuk menyalakan benda itu."

Naruto bisa bernafas lega saat ini. Ia pikir neneknya akan memarahinya. Tapi lihatlah sekarang, Tsunade malah ikut bergabung dengan mengambil kursi lain dan duduk di samping Naruto.
"Dulu ayahmu dan kakekmu sering duduk di sini dan memperhatikan layar komputer berjam-jam. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bekerja atau melakukan hal lain."

"He?" Naruto sepertinya bingung.

"Coba kau cari folder bernama "Pribadi" melalui kolom pencarian," ucap Tsunade.

"Baik." Naruto pun mengikuti perintah Tsunade. Ia mengetikkan kata 'Pribadi' dan menekan tombol enter di keyboard. Di sana terdapat beberapa folder yang benar-benar menarik.

"Di tempat inilah ayahmu dan Jiraiya menyimpan data-data berharga mereka. Hanya saja saat komputer ini masih dipegang ayahmu, folder ini tidak pernah tersusun rapi."

"Jadi kakek yang merapikannya."

"Hmph. Seperti itulah."

Naruto melihat-lihat dengan saksama. Ia menemukan sebuah folder dengan nama "Koleksi games" "He? Apa kakek main game?"

"Oh. Itu milik ayahmu."

"Benarkah?" Naruto terlihat bersemangat. "Ternyata ayah juga maniak game. Bahkan sampai disimpan di folder seperti ini." Begitu ia buka, hanya kekecewaan yang ia dapat. "Cih! Catur, Monopoli, ular tangga, teka-teki. Game apaan ini. Selera ayah benar-benar buruk." Saking kecewanya, Naruto langsung kembali ke folder sebelumnya.

"Haha! Begitulah Minato. Ia memang bermain game, tapi semua game yang ia main kebanyakan untuk mengasah otaknya. Wajahmu memang mirip dengan ayahmu. Tapi kelakukann dan sifatmu mirip dengan ibumu. Aku yakin selera gamemu juga berasal dari ibumu."

"Ibu?"

"Coba kau buka folder "Keluarga Uzumaki" lalu buka folder "Kushina" kau akan menemukan photo-photo yang menarik di sana."

Dengan cepat, Naruto mengikuti perintah itu. Memang benar, di sana terdapat banyak sekali foto-foto menarik tentang ibunya. Ada foto ketika ibunya bermain game dengan ayahnya. Bahkan ada foto ketika Kushina memenangkan turnamen game FPS, meski hanya mendapat posisi 3.

Foto-foto itu membuat mata Naruto berbinar-binar. "Ibu! Kau benar-benar gamers sejati," batin Naruto seraya menitikkan air mata. "Kurasa aku tidak akan kuat melihat foto-foto ini lebih lama lagi," ucapnya.

"Kau benar. Sebaiknya kembali."

Begitu ia mengembalikan tampilan ke folder sebelumnya, matanya mendapati sebuah folder yang benar-benar menarik perhatiannya. Matanya tertuju pada folder bernama "Naruto." Ia pun mencoba mengkliknya seraya berkata "Pasti folder ini berisi foto tentangku."

Tiba-tiba saja ia mendengar deruan nafas panik dari neneknya. "Ada apa nek?" Perhatiannya pun hanya difokuskan pada Tsunade.

"Tidak. Tidak apa-apa. Kalau kau mau membukanya."

Naruto merasakan adanya keraguan saat neneknya mengatakan itu. "Apa isi dari folder ini."

"Hanya foto-foto yang di simpan ayah dan kakekmu."

Mendengar itu, Naruto tentu saja ingin melihatnya. "Aku akan melihatnya nek. Tidak apa-apakah?" Setelah melihat anggukan Tsunade, Naruto pun membuka folder itu.

Isinya ternyata hanya foto terbarunya. "Sebenarnya apa yang nenek khawatirkan. Bukankah ini hanya berisi foto-fotoku dan folder bernama "Naruto&Hinata" yang di buat kakek," Batinnya. "Lalu nek. Apa foto pernikahanku dengan Hinata itu di simpan di folder ini?" tanya Naruto seraya menunjukkan folder bernama "Naruto&Hinata"

"Tidak. Foto tentang pernikahanmu hanya satu. Dan itu di simpan di sebuah folder bernama 'Pernikahan' yang berisi foto-foto pernikahan keluarga Uzumaki." Ucap Tsunade dengan datar. Ia seperti pasrah akan suatu hal.

"Lalu, folder ini?" Naruto memasang wajah terkejut. "Apa jangan-jangan ini berisi foto-foto aku dan Hinata yang kakek ambil diam-diam?" Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Naruto sedang marah saat ini.

"Tidak bodoh. Apa kau pikir kakekmu itu orang yang kurang kerjaan? Minggir!" Ia menggeser paksa Naruto dan mengambil alih Mouse. "Kurasa sudah saatnya aku menunjukkan kebenaran."

"He?"

"Di dalam folder ini, ada foto-foto yang menyimpan kenangan terhadap ingatanmu yang hilang saat kau masih kecil. Dan satu hal yang perlu kau tahu, Folder ini di buat oleh ayahmu."

"Apa? Itu tidak mungkin."

"Itu mungkin. Karena foto-foto yang ada di dalam folder itu di simpan oleh ayahmu sendiri di folder ini." Tsunade memperlihatkan tanggal pembuatan folder. Berdasarkan apa yang tertulis di sana, sudah jelas bahwa folder itu di buat 10 tahun yang lalu.

"Tidak mungkin. Apa maksudnya ini nek?"

[]=[Bersambung]=[]

[]

[]


Hai. Akhirnya ketemu lagi. Saya merasa senang karena bisa menyelesaikan chapter 14 tak lama setelah chapter 13 keluar. Meski sempat kebingungan mau dilarikan bagaimana alur cerita ini, tapi saya bisa menemukan solusinya.

Kalo boleh saya mau beritahu bahwa alur yang sekarang benar-benar jauh berbeda dengan apa yang saya rencanakan. Kuharap itu tidak membuat fic ini menjadi hancur.

Saya mungkin pernah menceritakan bahwa saat kecil Naruto pernah mengalami kecelakaan yang mana akibatnya membuatnya cedera dan kehilangan ingatan di hari itu dan hari-hari sebelumnya. Ada satu masalah, saya lupa itu berapa tahun yang lalu. Jadi sekarang saya mencantumin 10 tahun yang lalu. Mohon maaf atas kesalahan yang besar ini.

Terus dukung saya ya dalam membuat kemajuan dalam cerita ini. Jika tidak mau mereview ya tolong di dukung dengan cara lain misalnya melakukan Fav&Follow agar kalian tidak tertinggal karena pengupdetan yang tidak memiliki jadwal. Kuharap bagi kalian yang tidak memfollow tidak kebingungan karena username author yang berbeda.

Sampai jumpa di chapter berikutnya, sekian. Tandrato/Taufiq879.