.
.
.
.
.
Suasana diruang makan ini tiba-tiba saja berubah menjadi senyap setelah Johnny mengatakan jika ia tidak bisa menerima lamaran dari Jaehyun untuk anaknya. Semua orang membelalak kaget dan menatap Johnny dengan pandangan kebingungan.
"Ayah mertua?!" seru Mark tidak percaya. Wajahnya telah merah padam, hidungnya kembang kempis, dan matanya melotot merasa terkhianati.
Jujur saja Donghyuck sedikit terkejut saat Ayahnya itu menolak lamaran dari orang tua Mark, tapi ia sedikit senang juga. Karna, itu artinya dia tidak akan menikah dengan Mark dalam waktu dekat ini.
Donghyuck tersenyum tipis saat melihat ekspresi Mark. Lihat, bocah sok tampan itu wajahnya sangat konyol sekarang, batin Donghyuck tertawa nista.
"Sayang, apa maksudmu?" bisik Ten yang berada di sebelah Johnny.
"Ayah mertua?! jangan begitu kepadaku!" Mark berdiri sambil mencengkram dadanya dengan kuat "Hatiku akan hancur jika tidak menikah dengan Donghyuck paman!" ucap Mark dramatis.
Taeyong yang melihat kelakuan anaknya yang benar-benar sudah kelewat tidak waras itu segera menarik tangannya agar kembali duduk. "Apa-apaan sih kau ini!" bentak Taeyong jengkel, ia penasaran dari mana sifat tidak tahu malu Mark ini menurun, ia dan Jaehyun mana mungkin seperti itu.
Mark mengabaikan perkataan ibunya, ia malah berjalan ke arah Donghyuck dan melingkarkan tangannya di pundak Donghyuck yang sedari tadi hanya diam menyimak. "Aku tidak bisa hidup tanpa anak ini Ayah mertua" ucap Mark dengan nada sedih yang terdengar seperti dibuat-buat sambil mengusap-usap kepala Donghyuck dengan sayang.
"Duduk ditempatmu!" desis Donghyuck kesal sambil berusaha melepaskan tangan Mark yang melingkar erat di bahunya.
"Tidak mau!" Mark malah semakin mengencangkan pelukannya, membuat Donghyuck memekik murka.
"Lepaskan!!!"
Johnny menghela nafas lelah, ia melirik sekilas ke arah Jaehyun yang juga menampilkan ekspresi jengah, sama sepertinya.
"Mark, duduk dulu. Dengarkan paman" ucap Johnny setenang mungkin.
"Tidak!" ucap Mark sambil melotot garang kepada Johnny.
Mark melepaskan pelukannya, kemudian ia menangkup wajah Donghyuck dengan kedua tangannya. "Donghyuck-ah, ayo kita kawin lari saja" ucap Mark sambil menatap Donghyuck dengan pandangan serius.
"Mark Lee!!" Jaehyun yang sudah tidak tahan dengan tingkah anaknya itu tanpa sadar membentak Mark. Mark yang dibentak seperti itu langsung membulatkan matanya tidak percaya.
"Apa Daddy baru saja membentakku?!"
"Mark, tenanglah dulu. Dengarkan apa kata paman Johnny" bujuk Taeyong.
Donghyuck segera berdiri dari kursinya dan menggeret Mark supaya kembali duduk tenang disamping ibunya. "Jika sekali lagi kau bangkit dari tempat dudukmu, kita putus!"
Donghyuck kembali ke tempat duduknya dan duduk dengan tenang setelah memberikan Mark sedikit ancaman yang langsung membuatnya diam mematung dengan wajah ketakutan.
Dasar bucin, batin Ten yang melihat betapa patuhnya Mark terhadap Donghyuck.
"Mark, dengarkan paman dulu oke. Aku tidak bisa mengizinkan dia menikah sekarang, selain dia masih terlalu muda aku juga masih tidak yakin denganmu"
Mark mendelik tidak terima mendengar perkataan Johnny "Kenapa ayah?!"
"Kau mau tahu alasannya?"
Mark menganggukan kepalanya.
Johnny menarik nafas dalam "Baik, dengarkan paman. Yang pertama, kau belum lulus kuliah. Jadi kau belum bisa menafkahi anakku. Yang ke-dua, kau sangat kekanakan. Yang ke-tiga, tingkahmu itu, astaga sampai sakit kepalaku melihatnya. Maafkan aku Jae, aku tidak bermaksud mengatai anakmu ya" ucap Johnny sambil menatap ke arah Jaehyun sekilas.
"Dan yang terakhir, Donghyuck-ku masih terlalu muda untuk mengurus rumah tangga. Mengurus diri sendiri saja ia tidak becus, kau mau ditelantarkan olehnya setelah menikah nanti? Tidak kan, jadi paman mohon untuk tunggu kalian dewasa. Apalagi Donghyuck masih ber-umur 19 tahun. Paman ingin ia menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang, bukan dengan mengurus rumah tangga. Paman belum bisa melepaskan Donghyuck kepada orang lain. Paman belum sanggup."
Donghyuck terharu mendengar perkataan Ayahnya yang sangat memikirkan dia sampai seperti itu. Tiba-tiba ia merasa bersalah karna selama ini selalu menganggap Ayahnya itu tidak menyayanginya dan lebih mencintai pekerjaannya dibandingkan dia.
"Hiks.." Donghyuck tiba-tiba saja menangis dan membuat seluruh orang yang berada di sana kaget.
"Sayang, kau kenapa?!" Mark baru saja ingin bangkit dari tempat duduknya untuk segera mengahampiri dan memeluk Donghyuck, tapi ia ingat ancaman Donghyuck tadi sehingga ia langsung mengurungkan niatnya.
Ten yang berada di sebelah Donghyuck pun gelagapan. Kenapa anak ini malah menangis? "Hei anak nakal, kenapa kau menangis?" tanya Ten dengan nada panik. Ia segera membawa Donghyuck yang semakin terisak ke dalam pelukannya.
"Ayah mertua! lihat!! Donghyuck-ku menangis karna tidak diizinkan menikah denganku!" ucap Mark sambil menatap Johnny marah.
"Mark!" Taeyong menggeram jengkel. Benar kata Johnny, tingkah anaknya ini benar-benar membuat orang sakit kepala.
"Bukan karna itu bodoh!" Donghyuck melepaskan pelukannya dari Ibunya dan menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.
"Aku tidak menyangka ternyata Ayah sangat perhatian dan menyayangiku"
Johnny terkesiap mendengar perkataan anaknya, ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Donghyuck lalu mendekap putra semata wayangnya itu dengan erat "Tentu saja Ayah sangat mencintaimu. Ayah berkerja keras untuk membahagiakanmu yang banyak mau ini" ucap Johnny sambil mengelus punggung Donghyuck dengan lembut.
Ten ikut menangis dalam diam melihat suami dan anaknya berpelukan dengan penuh haru seperti itu. Ia akui ia memang sedikit keras dan susah menunjukkan kasih sayangnya kepada Donghyuck. Bukan karna ia tak sayang, tapi karna ia terlalu sayang kepada anaknya. Setiap hari ia mengacuhkan Donghyuck karna ia ingin mencoba terbiasa hidup tanpa Donghyuck saat Donghyuck harus pergi dari rumahnya dan membangun rumah tangganya sendiri nanti. Ten tidak menyangka jika perbuatannya itu membuat Donghyuck merasa tidak dicintai, ia kecewa kepada dirinya sendiri yang lebih mementingkan perasaannya sendiri ketimbang perasaan putra satu-satunya itu.
Taeyong merasakan matanya memanas melihat keluarga Donghyuck, ia melirik ke arah suaminya yang ikut terdiam.
"Aku ingin menyempil disana" gumam Mark saat melihat Ayah mertuanya dan Donghyuck saling berpelukan dengan erat.
Johnny melepaskan pelukannya dan menghapus air mata dari putranya itu, "Sudah jangan menangis lagi oke"
Donghyuck menganggukan kepalanya lalu kembali duduk di kursinya.
"Mark, itulah alasanku tidak mengizinkan Donghyuck menikah sekarang"
Mark masih tidak bisa terima, walaupun perkataan Johnny tadi ada benarnya juga.
"Tapi paman-"
"Tidak ada tapi-tapi-an Mark, sudah jangan membantah lagi" potong Jaehyun.
"Aku akan mengizinkan Donghyuck untuk menikah denganmu setelah ia lulus kuliah dan kau bisa mengendalikan sifat kekanakanmu itu" ucap Johnny sambil memandang Mark serius.
"Jadi aku harus menunggu?!"
Johnny mengangguk "Tentu saja"
"Mom!!" Mark menatap ibunya meminta pertolongan.
"Tidak sayang, keputusan di tangan paman Johnny. Kita harus menurutinya" ucap Taeyong santai.
Mark mendengus mendengar perkataan Ibunya yang ternyata sama sekali tidak membantunya.
"Tapi kan yang akan menikah denganku Donghyuck, bukan paman Johnny!" gerutu Mark kesal.
"Sayang, kau tidak keberatan?" Mark masih belum menyerah, ia beralih kepada Donghyuck dan menatapnya dengan pandangan memelas.
"Tidak" balas Donghyuck singkat, jelas, dan padat.
Mark menekuk wajahnya seketika "Yasudah, terserah" ucap Mark ketus.
Johnny hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku calon menantunya itu. Bagaimana mungkin ia ingin membawa pergi anaknya jika sikapnya saja masih seperti bocah tadika mesra seperti ini.
Mereka kembali melanjutkan makan malam dengan tenang. Karna Mark sedari tadi hanya diam saja, memakan makanannya dengan wajah tertekuk dalam. Bahkan ia hanya akan merespon dengan gumaman tidak jelas jika Ten atau Taeyong bertanya padanya.
Selepas makan malam, para orang tua memutuskan untuk berbincang-bincang santai diruang tamu, sedangkan Donghyuck dan Mark pergi entah kemana.
Donghyuck menarik tangan Mark untuk mengikutinya ke taman di dekat rumahnya. Mark hanya diam, ia masih belum mau berbicara sepatah kata pun sedari tadi.
"Hyung, kau kenapa sih?" Donghyuck melepaskan genggaman tangannya pada Mark dan menatap lelaki itu dengan raut bertanya-tanya.
Mark menggeleng pelan, ia lalu menarik tubuh Donghyuck dan langsung memeluknya dengan erat.
"Hyung.. " Donghyuck mencoba melepaskan pelukan dari Mark, tapi Mark malah semakin mempererat pelukannya itu.
"Diam sebentar saja, aku lelah" gumam Mark pelan.
"Lepaskan dulu oke, ayo katakan padaku kau kenapa!" Donghyuck masih terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Mark yang super erat itu, tapi tentu saja Mark tidak membiarkannya.
"Aku suka aromamu" ucap Mark random sambil mengendus-endus leher Donghyuck.
Donghyuck memekik murka karna kemudian dengan lancangnya Mark menciumi lehernya serta menggigit-gigit kecil sehingga membuat Donghyuck berteriak kesakitan. "Hyung! Hentikan! "
"Donghyuck-ah, kau mencintaiku kan?"
Donghyuck yang masih terus meronta berusaha melepaskan diri tiba-tiba saja terdiam setelah mendengar perkataan Mark, ia mengernyitkan dahinya keheranan "Kenapa kau bertanya begitu hyung?"
Mark menggeleng, ia semakin menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Donghyuck "Tidak, aku hanya takut" ucap Mark pelan.
"Takut? kenapa kau takut?"
"Aku hanya takut jika hanya aku pihak yang mencintai di hubungan ini, sedangkan kau tidak" lirih Mark. Pelukannya mengendor, ia menaruh keningnya di pundak Donghyuck "Aku takut kau tidak mencintaiku"
Donghyuck sedikit terkekeh di dalam hati, apakah Mark lupa bahwa ialah yang lebih dulu mencintai Mark, bahkan sejak Mark belum mengetahui keberadaan. Harusnya Mark paham bahwa dirinyalah yang pertama jatuh, bukan Mark.
Donghyuck mendorong tubuh Mark agar berhadapan dengannya, menangkup wajah kekasihnya itu dengan kedua tangannya dan menatapnya dengan pandangan lembut "Aku mencintaimu hyung" ucap Donghyuck pelan "Harusnya kau sudah tahu"
Mark tersenyum mendengar perkataan pemuda manis didepannya ini, ia mendekatkan wajahnya dan memangut bibir Donghyuck dengan lembut.
Donghyuck merasa jantungnya berkerja dua kali lebih keras dari biasanya saat merasakan Mark melumat bibirnya dengan sangat perlahan dan hati-hati. Menyalurkan semua perasaan yang Mark pendam selama ini. Donghyuck tersenyum di sela-sela ciumannya kali ini, ciuman ini sangat tulus, tidak ada nafsu yang ikut andil didalamnya. Untuk pertama kalinya ia merasa Mark benar-benar mencintainya sangat dalam, dan tentu saja hal itu membuat Donghyuck begitu bahagia.
"Aku bisa gila rasanya" gumam Mark setelah memutuskan pangutannya dengan bibir Donghyuck.
"Kau kan memang sudah gila hyung" balas Donghyuck sambil terkekeh.
"Aku gila karnamu, jangan pernah tinggalkan aku ya"
"Tergantung" balas Donghyuck sambil memasang ekspresi jahil.
Mark menarik pinggang Donghyuck agar semakin menempel padanya, dan mengecup bibir Donghyuck cepat. "Kau akan berada dalam masalah jika berani-beraninya meninggalkanku"
"Kau tidak berkaca ya? kau kan sumber masalahku" dengus Donghyuck.
"Tapi kau sumber bahagiaku" ucap Mark sambil mengecupi seluruh wajah Donghyuck dengan brutal.
"Cih, lihat disana Jaem. Sungguh pasangan tidak bermoral"
Mark dan Donghyuck seketika terlonjak kaget.
"Renjun?!! Jaemin?!!"
Donghyuck dan Mark memandang Renjun dan Jaemin yang sedang berdiri di sebrang jalan sambil membawa kantong plastik yang Donghyuck yakini berisi camilan-camilan tidak sehat dan sepotong popsicle ditangan mereka berdua dengan pandangan terkejut.
"Dasar pasangan kelebihan hormon!. Bisa-bisanya kalian berbuat hal tidak senonoh di taman bermain anak-anak yang sangat suci pada malam-malam seperti ini!" Renjun menggunakan ekspresi tidak percaya dan prihatin saat mengatakannya, sedangkan Jaemin yang berada disebelahnya menganggukan kepalanya setuju.
Mark mengabaikan perkataan Renjun dan malah menarik pinggang Donghyuck agar kembali mendekat padanya. Kemudian Mark langsung melumat bibir Donghyuck tanpa menghiraukan keberadaan Renjun dan Jaemin.
Renjun yang melihat kelakuan Mark langsung membekap mulutnya sendiri dan melotot kaget. "Lihat itu Jaem!" Renjun menunjuk-nunjuk ke arah Mark dan Donghyuck dengan pandangan tidak percaya.
"Mereka berdua sudah dikuasai oleh setan. Kita harus pergi dari sini" Jaemin langsung menarik tangan Renjun yang masih terus memandangi Mark dan Donghyuck yang sedang berciuman panas dengan wajah shock.
Donghyuck memukul-mukul dada Mark pelan, tanda jika ia telah kehabisan oksigen. Mark melepaskan ciumannya dan memandang Donghyuck sambil tersenyum jahil.
"Apa maksud senyumanmu itu?!"
"Tidak, aku hanya senang saja hari ini." ucap Mark sambil menggenggam tangan Donghyuck dan mengecupnya pelan.
Donghyuck mendecih mendengar perkataan Mark "Tadi kau merajuk gara-gara lamaranmu ditolak Ayah. Sekarang hanya dengan berciuman saja kau sudah kembali senang? Kau ini mudah di manipulasi ya"
"Biarkan saja" balas Mark cuek.
Donghyuck melirik jam tangannya, sudah hampir jam 10 malam. "Mark hyung, ayo kembali. Sudah larut"
Mark mencekal tangan Donghyuck yang baru saja ingin beranjak pergi. "Sebentar lagi ya sayang" ucap Mark dengan nada memelas.
"Apa sih?! Sudah, ayo pulang" Donghyuck langsung melepaskan pegangan tangan dari Mark dan berjalan meninggalkan Mark yang memberengut kesal.
"Ayo tunggu apa lagi?!"
"Iya-iya!" ucap Mark sambil berlari menyusul Donghyuck yang sudah berjalan jauh di depannya.
...
...
...
Donghyuck berjalan dengan gontai menuju cafetaria. Ia lupa jika hari ini dia ada jam kuliah pagi, dan dengan bodohnya ia mau saja meladeni Mark yang masih terus meracau di telpon setelah ia kembali kerumahnya bersama orang tuanya. Omong-omong Jaehyun dan Taeyong, orang tua Mark, langsung kembali ke kanada pada malam itu juga, sehingga membuat Mark melimpahkan kekesalannya itu kepada Donghyuck, dengan mengoceh tanpa henti dan membuat ia baru bisa tidur pada pukul 3 dini hari.
Renjun dan Jaemin yang baru saja tiba mengernyitkan dahinya heran melihat sahabatnya yang baru saja dilamar itu terlihat seperti seorang gelandangan. Dengan muka lesu, mata merah seperti tidak tidur selama seminggu, rambut acak-acakan seperti baru saja terkena angin puting beliung, dan pakaian yang dipakai dengan asal-asalan.
"Hei manusia tidak bermoral! ada apa dengan wajah jelekmu itu? Kau tampak begitu mengerikan hari ini" Donghyuck tidak merespon ejekan yang Renjun lontarkan kepadanya, ia sedang malas bertengkar, tenaganya tidak cukup.
Tiba-tiba Jaemin menarik pipi Donghyuck dengan kuat sehingga membuat Donghyuck langsung berteriak kesakitan "Apa masalahmu Na Jaemin?!" bentak Donghyuck garang.
Seakan-akan tidak terjadi apa-apa Jaemin langsung mengusak kepala Donghyuck dengan sayang "Kau kenapa?" tanyanya dengan nada yang begitu lembut, membuat Donghyuck dan Renjun langsung memasang wajah kaget dan kebingungan.
"Aku-"
Belum sempat Donghyuck melanjutkan kalimatnya Jaemin sudah terlebih dahulu memeluknya dengan erat. "Tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak jadi menikah, bibi memberitahuku tadi pagi. Tapi kau jangan membuat dirimu terlihat menyedihkan seperti ini Hyuck. Jika Mark hyung tidak jadi menikah denganmu, maka aku siap menggantikannya" ucap Jaemin sambil mengusap-usap punggung Donghyuck.
Jaemin melepaskan pelukannya dan memandang Donghyuck dengan tatapan yang menyiratkan keseriusan "Aku sungguh-sungguh siap menggantikan lelaki tidak bermoral dan bernafsu seperti binatang itu Hyuck. Kau mau kan?"
Donghyuck dan Renjun semakin dibuat keheranan dengan racauan tidak jelas yang sedari tadi Jaemin lontarkan. Donghyuck menoleh ke arah Renjun yang sedang memasang ekspresi kosong sambil menatap Jaemin "Kau apakan dia semalam? kenapa dia jadi tidak waras?"
Renjun menggelengkan kepalanya "Tidak tahu, kami hanya memakan cemilan dan bermain game, setelah itu kami langsung tertidur. Hey Na Jaemin! kau kenapa?!" Renjun mencengkram kedua lengan Jaemin dan menggoyang-goyangkannya dengan heboh.
"Aku tidak apa-apa." ucap Jaemin sambil melepaskan tangan Renjun dari lengannya.
"Terus apa maksud perkataanmu padaku tadi huh?!" tanya Donghyuck tidak habis pikir.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku serius itu." balas Jaemin santai.
Donghyuck baru saja ingin memprotes perkataan Jaemin tapi Renjun sudah lebih dulu memotongnya "Okay, Jaemin hentikan semua omong kosongmu itu, dan kau Hyuck! " Donghyuck berjengit kaget saat Renjun dengan tiba-tiba mengarahkan telunjuknya padanya dan menatapnya dengan tajam. "Story time! Apa yang terjadi semalam?"
Donghyuck mendengus, sudah ia duga jika sahabat-sahabatnya (read: Renjun) pasti akan bertanya tentang kejadian semalam.
"Tidak terjadi apa-apa. Seperti kata Jaemin, Ayahku menolak lamaran Mark"
"Kenapa?!"
"Yah kau tau sendiri, aku masih terlalu muda untuk menikah. Lagipula Mark dan aku sama-sama belum lulus kuliah" balas Donghyuck malas.
"Apa sih masalah paman Johnny?! Mark kan kaya! tidak masalah jika ia belum berkerja!" sungut Renjun.
Donghyuck menggeplak kepala Renjun dengan jurnal yang ia bawa "Heh bodoh, mau sekaya apapun kalau belum bekerja ya percuma!, Iyakan Jaem?" Jaemin hanya menganggukan kepalanya mengiyakan.
"Tapi kalau aku yang sudah bekerja paman Johnny mau menerimaku tidak?"
Renjun yang sedari tadi mencoba menahan emosi mendengar segala ocehan ngawur yang Jaemin lontarkan sudah tidak dapat menahannya lagi. Ia langsung merebut jurnal dari tangan Donghyuck dan memukuli Jaemin dengan membabi buta sehingga menarik seluruh pengunjung cafetaria.
"Sadarlah Na Jaemin!!! Kau kerasukan atau bagaimana?!! hentikan semua ocehan tidak bermutu-mu itu atau aku akan benar-benar membunuhmu!"
"Yak!! kenapa memukuliku sih?!" protes Jaemin tidak terima.
Donghyuck bangkit dari tempat duduknya, ia memutuskan untuk meninggalkan kedua sahabatnya itu. "Heh mau kemana?" Jaemin mencekal tangan Donghyuck dan menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya
"Aku malas melihat kalian bertengkar, Aku mau ke perpustakaan saja" balas Donghyuck malas. Ia melepaskan cekalan Jaemin dan berjalan pergi menuju perpustakaan meninggalkan kedua sahabatnya yang sepertinya masih ingin melanjutkan pertengkaran yang sangat tidak penting itu.
.
.
.
.
Donghyuck memasuki perpustakaan yang terbilang masih lumayan sepi dan memilih mendudukan dirinya di sudut ruangan agar ia bisa tidur sejenak.
Tapi, saat ia ingin menutup mata ia melihat sileut seseorang yang terlihat sangat familiar dimatanya. Donghyuck langsung menegakkan duduknya dan menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas siapakah orang itu.
"Seperti Mark hyung, kenapa dia ke kampus? dia bilang dia libur hari ini"
Donghyuck semakin yakin jika itu adalah kekasihnya setelah melihat ia berdiri di balik lemari dan mengobrol serius dengan seseorang.
"Kenapa Mark hyung berbohong padaku?"
Donghyuck bangkit dari duduknya dan berjalan secara perlahan ke arah kekasihnya itu.
"Kau tahu aku mencintaimu kan Mark?"
Langkah Donghyuck terhenti saat mendengar suara perempuan yang tengah mengobrol dengan Mark dari balik lemari buku. Apa katanya tadi? mencintai Mark?
"Aku tahu" balas Mark pelan.
Donghyuck tercekat mendengat jawaban dari Mark. Apa-apaan ini?!
Donghyuck kembali melangkahkan kakinya agar bisa melihat dengan jelas siapakah perempuan yang saat ini tengah mengobrol dengan Mark.
"Mark Lee, kumohon tinggalkan pria jelek itu! dia tidak pantas denganmu! kau sadar tidak sih?!" ucap perempuan itu dengan nada yang terdengar teramat kesal.
Donghyuck mencengkram ujung jaketnya berusaha menahan emosi saat mendengar perkataan perempuan yang tidak ia kenal itu. Tapi, ada hal lain yang membuat Donghyuck lebih merasa marah, yaitu diamnya Mark. Mark hanya diam menatap perempuan di depannya itu mengoceh menjelek-jelekannya tanpa berkata satu patah katapun. Donghyuck merasa Mark tidak masalah jika ia dihina seperti itu, ia merasakan hatinya sangat sakit, bahkan tanpa ia sadari air mata telah menggenang di pelupuk matanya sehingga pandangannya semakin membuyar.
"Sudah selesai Mina? kalau sudah aku pergi" Mark hendak berbalik meninggalkan perempuan yang di panggil Mina itu, tapi perempuan itu segera menyambar bibir Mark dan mengalungkan tangannya di leher kekasihnya.
Donghyuck membulatkan matanya tidak percaya, tiba-tiba saja kakinya terasa lemas, kepalanya terasa pening, dan hatinya sangat sesak.
Tiba-tiba saja ada seseorang lelaki datang dan membalik tubuh Donghyuck dengan cepat kemudian menarik Donghyuck kedalam pelukannya.
"Jangan dilihat" ucap lelaki itu.
Donghyuck yang sedang tidak bisa memproses dengan benar apa yang sedang terjadi padanya hanya menganggukan kepalanya dan semakin menguatkan cengkraman tangannya pada punggung laki-laki itu. Badannya bergetar hebat, membuat lelaki itu segera menpererat dekapannya.
"Kau sudah lihat bukan? kau harus meninggalkannya"
.
.
.
.
.
Omake:
"Kau! apa-apaan sih?! kenapa kau berbicara seperti itu kepada Donghyuck hah?!" sembur Renjun kepada Jaemin.
"Aku-"
"Apa?!"
Jaemin membuang nafas lelah, sahabatnya satu ini sangat tempramental. "Aku menyukai Donghyuck"
Renjun langsung memasang ekspresi kosong setelah mendengar ucapan Jaemin barusan.
"Apa katamu?"
"Aku menyukai Donghyuck" ulang Jaemin.
"KAU GILA YA NA JAEMIN?!"
Jaemin segera menarik Renjun untuk kembali duduk dan membekap mulut sahabatnya itu dengan kedua tangannya. "Jangan berteriak seperti itu bodoh! kita sedang di cafetaria!" gerutu Jaemin kesal.
Renjun mehempaskan tangan Jaemin yang membekap mulutnya kemudian menunjuk Jaemin dengan ekspresi tidak percaya. "Kau, kau, kau-"
"Sudah tidak usah berbicara" potong Jaemin.
"Kau?! Sejak kapan?!"
Jaemin tanpak berfikir sejenak, kemudian ia menggelengkan kepalanya "Lupa, tapi entah kenapa aku makin menyukainya akhir-akhir ini" ucap Jaemin sambil tersenyum.
Renjun memijat kepalanya yang sedikit pening saat mengetahui jika sahabatnya itu menyukai sahabatnya yang lain.
"Kau mau kemana?" Tanya Renjun saat melihat Jaemin beranjak dari tempat duduknya.
"Aku mau ke ruang asdos sebentar"
Renjun memandang punggung Jaemin yang telah berjalan pergi meninggalkannya sendiri di cafetaria. "Ahh, kenapa rasanya sakit sekali" ucap Renjun sambil memegang dadanya.
.
.
.
.
.
.
.
tbc
Semakin complicated ga sih? hahaha XD
Seperti biasa aku mau ngucapin terimakasih sama semua orang yang telah ngereview dan meninggalkan jejak, terimaaaa kassihhhh sekaliii
Dan buat yang nungguin Rotation(kalo ada) mungkin aku mau nge-unpub work itu, soalnya bahasanya hancur sekali yatuhan :( jadi yaa... begitu... :(
And special thanks buat Special thanks untuk ai selai strawberry, 57kg, Fleur choi, fa0107,sydlla131, klystwal, GYUSATAN, doyoung.nim, Tzn, chenhighnotes, mii-chan97, haemark12, heolgyu, yeyerimm. Terimakasih kalian sudah mau review.
see you next chapt!!!
