:

Taufiq879/Tandrato

:

Destined To Live With You

:

Bab 15

Kenangan Yang Hilang Bagian 1

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]


"He?"

"Di dalam folder ini, ada foto-foto yang menyimpan kenangan terhadap ingatanmu yang hilang saat kau masih kecil. Dan satu hal yang perlu kau tahu, Folder ini di buat oleh ayahmu."

"Apa? Itu tidak mungkin."

"Itu mungkin. Karena foto-foto yang ada di dalam folder itu di simpan oleh ayahmu sendiri di folder ini." Tsunade memperlihatkan tanggal pembuatan folder. Berdasarkan apa yang tertulis di sana, sudah jelas bahwa folder itu di buat 10 tahun yang lalu.

"Tidak mungkin. Apa maksudnya ini nek?"

[]

"Kau belum paham?"

Naruto menopang dagunya sambil memperhatikan informasi rinci dari folder tersebut. "Aku paham kalau di dalam folder ini terdapat foto-foto saat aku masih kecil. Tapi, kenapa folder ini dinamakan "Naruto&Hinata" Apa nama folder ini di ganti oleh kakek? Soalnya tanggal modifikasi terakhir baru beberapa bulan yang lalu."

"Kakekmu mungkin menambah atau mengedit nama foto-foto di dalam. Namun, nama folder itu tidak berubah sejak 10 tahun lalu."

Masih dalam sikap tidak percaya, Naruto memutuskan untuk membuka folder tersebut. Ia mungkin saja akan menemukan foto memalukan yang diambil oleh kakek atau ayahnya. Dengan dua kali klik yang cepat, folder itu terbuka.

Melihat foto yang terpampang pertama di antara puluhan foto lainnya membuat tangan Naruto bergetar. Keringat dingin mencucur deras dari keningnya. Bagai tak percaya dengan apa yang ia lihat, Naruto melepas tangannya dari Mouse dan mundur beberapa sentimeter belakang. "I-Ini?!" Ia memperhatikan foto itu dengan saksama. Tidak salah lagi, itu adalah foto dirinya yang masih berumur sekitar 5 tahun. Di sebelahnya, ada seorang gadis yang berdiri di sampingnya. Gadis itu terlihat seumuran dengannya namun sedikit lebih pendek dari Naruto. Rambut pendeknya yang berwarna ungu-kebiruan dengan sedikit terlihat berbeda dengan yang sekarang. Namun mata dan wajahnya itu benar-benar tidak asing lagi. Pakaian yang digunakan oleh gadis itu ialah Yukata berwarna biru gelap dengan corak putih. Melihat foto itu, sekilas sebuah ingatan yang tidak pernah ada dikepalanya tiba-tiba saja muncul.

"Ini tidak mungkin. Ternyata gadis itu adalah Hinata." Ingatan tentang gadis yang ia selamatkan saat kecil tiba-tiba muncul lagi. Namun kali ini, gadis dalam ingatannya itu telah memiliki wajah yang tidak lain adalah wajah Hinata. "Arrg!" Ia memegangi kepalanya. Rasanya kepalanya hendak pecah karena sakit yang ia rasakan sebagai efek dari kembalinya sedikit demi sedikit ingatan yang pernah hilang.

"Naruto! Naruto! Kau kenapa," Tsunade yang merasa khawatir segera memegang Naruto dan menenangkannya. Ia tidak menyangka bahwa dengan memperlihatkan foto-foto kenangan itu, Naruto bisa mendapatkan kembali ingatannya. Namun ia tidak tega melihat cucunya itu menderita. Ia pun segera mencabut kabel komputer itu.

Hinata tiba-tiba saja muncul dari balik pintu dan Menghampiri Tsunade yang tampak kebingungan. "Naruto kenapa nek?"

Mata Naruto memandangi wajah Hinata yang sedang panik itu. Sekilas ia tersenyum sebelum akhirnya kehilangan kesadaran karena tidak kuat menahan sakit yang menyerang kepalanya.

"Hinata! Cepat cari bantuan!"

Segera setelah mendapat perintah, Hinata pun berlari mencari ajudan untuk di minta pertolongan. "Naruto. Jangan-jangan kau, sudah mengingatku." Tersenyum dan sedikit terharu, namun gadis itu tetap berlari dengan cepat melewati setiap ruangan di dalam Vila keluarga Uzumaki demi menemukan ajudan.

[]=[]=[]

Seorang dokter yang jauh-jauh didatangkan Tsunade dari rumah sakit terbaik Konoha saat ini sedang memeriksa keadaan Naruto. Berhubung otak merupakan bidangnya, ia bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto.

Tsunade, Hinata dan seorang ajudan terlihat sedang menunggu kabar tentang Naruto dengan cemas. Tak seperti di rumah sakit. Pemeriksaan di rumah seperti ini bisa mereka lihat secara langsung dari dalam kamar Naruto.

"Tak perlu di cemaskan." Dokter itu mulai berbicara setelah menyimpan peralatannya kembali ke dalam tas. "Dia hanya pingsan. Seperti yang pernah kukatakan pada Anda, nyonya Tsunade. Jika Ingatan Naruto yang hilang sejak lama tiba-tiba muncul di usianya yang sekarang, tidak heran ia akan mengalami hal ini," ucap dokter itu seraya melihat Tsunade. Lalu setelahnya, ia melihat Hinata. "Aku juga benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa ingatan bocah ini bisa kembali dengan hanya melihat fotonya bersama teman masa kecilnya. Benarkan, nona Hyuuga?" Dokter itu berkata seperti mengenalnya. Tak heran jika Hinata merasa bingung.

"Huft. Syukurlah. Terima kasih, Shizune. Aku pikir kondisi Naruto menjadi buruk setelah ia mengingat semua itu."

"Eto. Shizune-san. Apa aku pernah bertemu denganmu?" tanya Hinata.

"Oh. Kau lupa aku? Tak heran sih. Kita hanya bertemu sebentar. Aku adalah dokter yang merawat kalian berdua di hari kejadian."

Hinata benar-benar terkejut. Ia tidak ingat apa-apa tentang perempuan yang mengenakan seragam dokter itu.

"Jelas saja dia tidak ingat, Shizune. Saat kau merawat mereka, keduanya masih belum sadar."

"Hehe. Benar juga."

"Anu. Nenek, Shizune-san. Apa kalian punya hubungan? Sepertinya kalian cukup akrab?"

"Senang kau bertanya, Hinata. Shizune ini ialah salah satu juniorku. Kau tahukan dulunya aku juga seorang dokter."

Shizune terlihat melihat jam. "Sudah malam begini. Sebaiknya aku segera pulang." Shizune menulis sesuatu dalam kertas. "Ini resep obat untuk Naruto. Obat-obat ini bisa mengurangi sakit kepalanya." Ia memberikan secarik kertas itu pada Tsunade. "Kalau begitu, aku pamit dulu."

"Hinata. Tolong antar Shizune sampai depan."

"baik."

Kedua orang itu sudah meninggalkan kamar Naruto. Tsunade memandangi Naruto yang tertidur. "Kurasa setelah kau sadar, kita akan sedikit demi sedikit mengungkapkan rahasia. Tidak ada lagi yang perlu nenek sembunyikan dari kalian berdua."

Setelahnya, ia melihat secarik kertas yang tadi di berikan Shizune. Di sana tertulis dua macam obat. Namun ada satu tulisan yang berisi nomor yang lumayan panjang. Dan dibawahnya tertulis sebuah angka dengan lambang mata uang. Kertas itu digenggam Tsunade seperti ingin meremukkannya. "Kurang ajar! Ini terlalu mahal hanya untuk memeriksa keadaan orang yang pingsan." Tiba-tiba saja Tsunade tersenyum dan mengendurkan genggamannya. "Tidak masalah. Aku juga punya hutang padanya." Ia mengatakan itu seraya melihat dan mendekati Naruto. Duduk di sisi kasur dan mengelus rambut cucu satu-satunya yang mulai menapaki jalan menuju kedewasaan. "Entah akan seperti apa hubunganmu dengan Hinata setelah ingatanmu kembali. Kuharap tidak akan berubah ke arah negatif. Saat ini kau mempunyai wewenang untuk menceraikan Hinata apabila gadis itu tidak ingin bersamamu. Tapi, nenek itu mau itu terjadi. Nenek akan melakukan segala cara untuk mencegahnya."

Mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamar Naruto. Tsunade menjauhkan tangannya dari kepala Naruto. Bersikap layaknya ia hanya duduk dan memandangi cucu semata wayangnya itu. "Dia sudah pulang?" tanya Tsunade.

"Sudah nek. Genma yang mengantarnya."

"Oh. Begitu. Baguslah."

Hinata tiba-tiba menjadi ragu. Ia seperti ingin melakukan sesuatu tapi takut. Namun ia mencoba untuk tetap kuat pada pendirian dan mulai mendekati Tsunade. "Nenek. Boleh aku bertanya?"

"Heh? Ada apa?"

"Aku tadi sempat berbicara dengan Shizune tentang beberapa hal. Ada hal yang membuatku penasaran, tapi Shizune menyuruhku untuk bertanya langsung padamu."

"Oh! Apa itu?"

"Kenapa nenek keluar dari dunia kedokteran?" Pertanyaan itu sepertinya benar-benar membuat Tsunade terkejut. Ekspresi wanita itu seperti baru saja mendengar suara hantu. Terkejutnya bukan main.

"K-Kau tidak serius kan bertanya rahasia terbesar nenek?"

Hinata menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa ia serius. Namun di hatinya, ia sedikit takut bahwa pertanyaannya itu akan membawa masalah bagi hubungannya dengan Tsunade. Mulutnya tertahan. Ada sesuatu yang ingin ia ucapkan lagi. Tapi ia merasa pertanyaan pertamanya itu sudah cukup berat untuk di jawab.

"Ya ampun. Sebenarnya apa yang tadi kalian bicarakan." Ia memegang kepalanya dan sedikit menggeleng. Ekspresinya pun menjadi lebih ringan dari sebelumnya. Tapi, itu tak bertahan lama sebab dengan cepat ekspresi Tsunade berubah menjadi serius dengan tatapan yang begitu mengganggu mental Hinata. "Lalu. Apa itu saja yang ingin kau tanyakan?"

Dengan meneguk cairan yang ada di mulutnya, Hinata berusaha menguatkan dirinya untuk segera mengatakan apa yang ada di pikirannya. "K-Kenapa saat itu nenek tidak segera menyelamatkan kami. P-Padahal nenek adalah seorang dokter yang handal mengobati berbagai luka dan penyakit. Seandainya saja Shizune-san terlambat datang sedikit saja, Naruto bisa mati kehabisan darah."

Tsunade berdiri. Suasana kamar Naruto malam itu cukup berat bagi mental Hinata yang selama ini sudah sangat dekat dengan Tsunade. "Karena trauma yang berat, nenek keluar dari dunia kedokteran. Mungkin karena alasan itu juga nenek hanya bisa terdiam saat melihat tubuh kalian penuh luka. Padahal nenek yang pertama menemukan kalian."

"Trauma?"

"Kejadiannya sekitar 12 tahun yang lalu. Kami kehilangan Istri dari Minato, ibu dari Naruto. Menurut pandangan orang lain, Kushina meninggal dikarenakan penyakit yang semenjak beberapa bulan lalu menjangkitinya. Namun bukan itu yang sebenarnya terjadi. Di dalam tubuhnya, ada racun yang perlahan-lahan menghancurkan tubuhnya dari dalam. Namun karena Janji yang kubuat dengannya. Aku tidak bisa mengatakan kebenaran pada Minato bahkan sampai ia menyusul Ibu Naruto."

Flashback

Hari itu, keluarga Uzumaki mendapatkan undangan makan malam khusus dari seorang pengusaha terkenal yang bermitra dengan perusahaan Uzumaki Enterprise. Dikarenakan Minato sedang sibuk dan berada di luar kota, untuk menghormati undangan itu maka Aku dan Kushina menggantikannya sebagai perwakilan.

Makan malam di sebuah restoran milik salah satu bos Yakuza. Memang terkesan mencurigakan. Namun kami tetap berusaha untuk menghadiri undangan itu tanpa memberitahukan apa-apa pada Minato. Yuougo Tachibana, seorang pengusaha yang bergerak di bidang usaha jasa yang sama seperti Uzumaki Enterprise.

Tempat makan malam itu ada di sebuah lantai eksklusif yang hanya ada kami. Kami dibutakan oleh sambutan ramah si pengundang. Kami menikmati makan malam itu tanpa mencurigai apapun lagi. Entah kebetulan atau memang disengaja, saat itu ada sebuah menu makanan yang menjadi Favorit Kushina dan Minato. Namun makanan itu masuk dalam daftar makanan yang tidak kusukai sehingga tidak kusentuh. Sepertinya makan malam ini memang dipersiapkan untuk pasangan suami istri dari keluarga Uzumaki itu.

Merasa telah kenyang, aku melepas peralatan makan dan meneguk air. Aku terkejut kala melihat Kushina mengeluh sakit di dadanya. Dan semua hal yang mencurigakan benar-benar terbukti saat kulihat senyum licik dari wajah Yougou.

"Hehehe. Kami sepertinya memang gagal mengundang Minato dan Kushina bersamaan. Tapi begini juga tidak buruk. Akan kuhancurkan Minato perlahan bersamaan dengan perusahaan. Dengan begitu, aku tidak akan memiliki saingan lagi." Ia mengungkapkan rencana liciknya sendiri. Menjadi mitra perusahaan Uzumaki Enterprise hanyalah kedok untuk mendapat kepercayaan.

"Kurang ajar kalian! Apa yang kalian lakukan pada menantuku?" Aku memecahkan gelas dan mengancam mereka dengan pecahan gelas tersebut. Aku mencoba melindungi Kushina.

"Tenang saja. Itu hanyalah racun yang akan membunuhnya dalam beberapa minggu. Penawar untuk racun itu tidak pernah dibuat sehingga mustahil kalian bisa mendapatkan penawarnya dariku atau orang lain." Pria pengecut itu membalikkan badan dan memerintahkan seseorang yang bersembunyi di balik korden. "Bawa mereka pulang!"

Merasa kesal, aku berlari dengan menghunuskan pecahan gelas itu ke arah Yougou. Namun, seorang Yakuza yang diperintah Yougou berlari ke arahku dan menendang pecahan gelas itu dari posisi yang aman. "Kau boleh menyiksa mereka dalam perjalanan. Tapi jangan membunuh mereka. Anggap saja ini sebagai balasan terhadap perbuatan Minato berserta para Ajudannya pada kelompok kalian."

Aku diperlakukan kasar dan di lempar ke arah Kushina yang sedang merintih kesakitan. Aku menyadari bahwa bukan hanya orang itu yang menjadi ancaman. Melainkan kelompok Yakuza yang di sewanya pun menjadi ancaman.

"Ikut aku, nenek penyot!"

Gbrak!

Pintu terbuka dengan kasar. Seseorang berpakaian hitam dan mengenakan kacamata serta dasi hitam memasuki ruangan seraya menendang beberapa penjaga pintu. Ia mendekati kami. "Nyonya Kushina, Nyonya Tsunade. Anda baik-baik saja?" dengan ekspresi tenang ia bertanya seperti itu. Seperti sama sekali tidak menganggap bahwa situasi saat itu benar-benar gawat.

"Izinkan saya membalas perbuatan mereka."

"Jangan terlalu berlebihan, Arashi!"

"Tidak. Mereka yang menyakiti Nyonya Kushina sama saja menyakiti Tuan Minato." Arashi terlihat mencoba mengambil sesuatu yang ia sembunyikan. "Hukuman bagi mereka adalah... KEMATIAN!" Ia mengeluarkan 3 buah sangkur. Satu di tangan kiri, satu di tangan kanan, dan satu ia gigit di mulutnya.

Anggota Yakuza yang tadi menyerangku tampak sedikit ketakutan. "A-Arashi Si Penghianat!" Nadanya itu terdengar seperti ketakutan.

"Kalian tidak kubayar untuk takut pada dia! Cepat bunuh dia dan akan kubayar 2 kali lipat!"

2 orang Yakuza bersenjatakan Katana muncul dari balik pintu dan mencoba menyerang Arashi. Namun, hanya dalam beberapa gerakan mereka berhasil ditaklukkan dengan luka-luka yang fatal. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kedua orang itu langsung tewas.

Yakuza yang tadi menyerangku dengan tangan kosong mencoba mendekati Yougou. Kupikir sebelumnya ia mencoba melindunginya. Tapi sepertinya Dialah yang ingin meminta perlindungan. "Cih! Apa yang kau lakukan. Serang dia sekarang!" Dengan sedikit tendangan, Yougou memaksa Anggota Yakuza yang tersisa itu untuk menyerang Arashi. Namun Tentu saja anggota Yakuza yang terlihat masih baru itu bukan tandingannya. Ketika ia hendak menyerang Arashi dengan tangan kosong. Arashi langsung menyerang dan menancapkan 2 buah Sangkurnya pada tubuh Yakuza tersebut.

"Cih! Tidak berguna. Harusnya aku menyewa anggota yang lebih senior." Ia meludah ke lantai. Tangannya mencoba meraih kantong celananya. "Kalau begini akan kuselesaikan sendiri." Ia mengeluarkan sebuah pistol. Ukurannya memang kecil. Tapi kalo ia bisa mengenai kepala ada dada Arashi, pasti dia bisa tewas.

Arashi mengambil sangkur yang sedari tadi ia gigit. Mengelus permukaan samping dengan jarinya lalu menatap Yougou.

"Majulah! Jangan pikir kau bisa menyerangku deng—" Sebuah sangkur tertancap dengan rapi di kepala Yougou tanpa siapapun menyadarinya termasuk Yougou sendiri.

"Simpan saja sangkur itu untuk kenang-kenangan!"

Sekali lagi aku melihat sisi seram dari Arashi, ajudan kepercayaan Minato sekaligus mantan anggota Yakuza yang paling ditakuti. Aku tidak tahu bagaimana bisa Minato mendapat bawahan sepertinya.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku berencana menghubungi Minato dan memberitahukan semua padanya. Namun tangan Kushina merampas ponselku seraya berkata, "tidak perlu. Tolong rahasiakan soal racun ini dari Minato, Ibu. Aku tidak ingin dia tersesat dalam kegelapan hanya karena ingin membalas kematianku."

"Apa maksudmu merahasiakannya, Kushina?"

"Ibukan seorang dokter. Pasti ibu tahu penyakit yang bersangkutan dengan organ dalam yang dapat membunuh seseorang dalam waktu beberapa minggu. Tolong buatlah kebohongan itu demi kebaikan Minato."

Aku dan Arashi dibuat berjanji untuk melakukan keinginannya itu. Setelahnya, Kushina pingsan. Sangat berat untuk membohongi Minato. Ia tidak menyadari bahwa di tubuh istrinya terdapat racun mematikan. Ia percaya pada kebohongan yang kubuat dan berusaha tegar. Keputusan Kushina harus kuakui memang tepat. Meski sedih karena tahu akan kehilangan istri tercintanya, tapi sifatnya tidak berubah karena tidak mengetahui fakta sebenarnya.

Dan di bulan April. Kushina menghembuskan nafas terakhirnya dengan banyak darah yang keluar dari mulutnya. Kematian itu terlalu kejam untuk di lihat oleh kami. Baik Minato maupun Kushina kala itu memasang wajah tersenyum walau air mata cukup deras mengalir. Itu bukanlah senyum yang mengekspresikan senang. Senyum yang terkesan paksa hanya untuk menutupi kesedihan karena diminta langsung oleh Kushina. Minato terlihat memasrahkan kematian istri tercintanya sebab ia tidak mengetahui situasi yang sebenarnya. Namun di sisi lain, wajah sedih takut kehilangan benar-benar terlihat di wajah Naruto.

End

"Sejak saat itu, aku mulai takut melihat darah sebab selalu terbayang dengan Kushina dan semua kebohonganku pada Minato. Karena hal itu pula prestasiku dalam dunia medis menurun dan memaksaku mengambil tindakan mengundurkan diri."

Hinata sadar bahwa apa yang dialami keluarga Naruto lebih buruk dari apa yang dialami keluarganya. Meski ia tidak begitu tahu mengenai masa lalu perusahaan dan pendirinya, tapi ia merasa ada perjuangan yang hebat hingga membuat perusahaan ini dapat berdiri dengan megah.

"Maaf telah membuat nenek menceritakannya. Itu memang rahasia yang besar. Sekali lagi aku minta maaf."

Tsunade mendekati Hinata. Dielusnya rambut Indigo Hinata dengan lembut. "Menceritakannya padamu, membuat perasaan nenek menjadi lebih baik. Tapi pastikan kau merahasiakannya. Shizune saja bahkan tidak mengetahui hal ini."

"Baik. Saya akan menjaga rahasia nenek."

"Bagus. Nenek mau istirahat. Malam ini tolong tidurlah bersama Naruto."

"Heh?" Tentu saja Hinata kaget. Kata-kata Tsunade itu mengandung sebuah arti bahwa ia harus tidur berdua dengan Naruto. Tentu saja hal itu harusnya wajar bagi pasangan suami istri meskipun mereka menikah di usia muda. Tapi menurut Hinata itu terlalu cepat. "T-Tapi nek. A-Aku b-belum s-siap."

"Belum siap kenapa? Tolong tidurlah di sini dan pantau kondisi Naruto. Badannya agak panas. Tolong kau kompres."

Hinata terdiam. Ia merasa telah dibodohi oleh pikirannya sendiri. Wajahnya memerah karena malu karena salah mengartikan perkataan Tsunade. Tapi syukurlah wanita itu terlalu lelah untuk mendengar perkataan Hinata. Setelah memberi perintah itu, ia segera meninggalkan kamar Naruto.

[]=[]=[]

Naruto POV

Aku teringat semua hal yang pernah kulupakan. Meski rasa sakit yang kudapat sebagai efeknya benar-benar membebani kepalaku hingga membuatku kehilangan kesadaran.

10 tahun yang lalu tepat di musim panas. Ketika umurku berusia sekitar 5 tahun. Aku bersama keluargaku berlibur ke sebuah vila kecil milik keluarga Uzumaki yang berada di sebuah desa.

Aku bersama ayahku menghabiskan waktu 3 jam mengendarai mobil untuk tiba di vila itu. Melewati jalan yang di sekitarnya hanya terdapat pepohonan membuatku bosan. Namun rasa bosan itu mulai hilang kala kami memasuki area desa. Desa ini memang kecil, namun dari aspek keindahannya, desa ini layaknya surga bagiku yang selama ini hidup di kota. Kumelihat bukit-bukit yang memanjang nyaris mengelilingi desa tersebut. Persawahan dan perkebunan menjadi pemandangan baru yang kulihat secara langsung. Bisa dikatakan bahwa ini adalah liburan pertamaku di tempat seperti ini. Tujuan kami ialah sebuah vila kecil yang dibangun ayahku di perbukitan setahun yang lalu.

Ada sesuatu yang mengganjal. Ayah berkata bahwa ini adalah liburan keluarga sekaligus pertemuan dengan keluarga mitra kerja ayah. Tapi kenapa hanya kami berdua yang saat ini menuju ke sana. "Di mana kakek dan nenek, Ayah?"

"Kakek dan Nenek sudah ke sana terlebih dahulu. Kita berdua sebenarnya telat sehari. Kuharap keluarga Hyuuga tidak ayah buat menunggu."

"Hyuuga?"

"Iya. Mereka adalah kenalan ayah. Ayah dengar mereka punya putri yang cantik. Ayah harap kalian bisa akrab nantinya."

"Aku benci anak perempuan. Anak perempuan itu cengeng."

Ayahku menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya. "Jangan begitu. Dulu kau juga cengeng. Kau harus bisa akrab dengan siapa saja yang menurutmu baik. Bukankah itu permintaan ibumu?"

Aku memasang muka cemberut. Melipat tanganku dan membuang pandanganku dari ayah. Percakapan itu pun berakhir.

Beberapa menit kemudian, kami tiba di vila itu. Ukurannya kecil dan tidak sebanding dengan vila yang ada di kota. Bagiku, ini terlihat bagai sebuah pondok. Dibangun di permukaan yang rata pada sebuah bukit. Bahan yang digunakan hanya kayu dari hutan sekitar. Tak dicat sehingga hanya menampilkan warna asli dari kayu yang menjadi bahan utama pembangunan vila ini.

Baru saja kami membuka pintu, seorang laki-laki berpakaian pelayan datang menghampiri kami. Ia mengucapkan salam pada ayahku dan juga aku sendiri lalu membawakan barang-barang kami ke dalam. Bersama ayahku, kami memasuki rumah.

Baru saja mau masuk, ternyata muncul 3 orang dari dalam rumah. Mereka adalah keluarga Hyuuga. Seorang laki-laki yang merupakan kepala keluarga itu terlihat menyeramkan di mataku. Namun, perempuan yang mendampinginya terlihat sangat cantik dan baik. Meskipun pada saat itu aku tidak tahu maksud dari kata "cantik". Ada seorang anak perempuan yang berpakaian Kimono sedang bersembunyi di balik badan ibunya. Jika dilihat baik-baik, ibu dan anak itu memakai pakaian yang sama. Dan jika dilihat dengan lebih teliti lagi, perut ibu dari gadis itu tampak besar. Kurasa anak perempuan itu akan menjadi seorang kakak.

"Akhirnya Anda datang juga. Aku sempat berpikir liburan ini akan ditunda karena kesibukan Anda, tuan Minato," ucap Hiashi.

"Ahh. Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi ada yang memarahiku. Maka dari itu, aku begadang untuk menyelesaikan urusan-urusan itu," kata ayahku.

2 orang lainnya keluar dari dalam rumah dan berkumpul di teras. "Oh! Jadi kau sudah selesai, Minato? Kuharap kali ini kau belajar untuk lebih konsekuen terhadap janji. Syukur Hiasi tidak keberatan menunggu 1 hari 1 malam sampai kau tiba." Baru saja tiba di teras, tanpa ragu kakekku ikut bergabung dalam pembicaraan itu dan menceramahi ayahku lagi.

"Maaf ayah. Aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi." Ayahku terlihat mendekati pria menyeramkan itu. "Maaf telah membuat Anda menunggu, tuan Hiashi." Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat.

"Aku memakluminya. Terlambat sehari bukanlah masalah. Aku tahu Anda orangnya sibuk."

"Anda benar sekali. Mendapat waktu libur bersama keluarga seperti ini cukup sulit. Kuharap di liburan ini kita bisa bersantai sambil membahas hubungan kerja sama perusahaan kita."

"Ya. Aku sangat menantikan hasil dari kerja sama ini."

Setelah berbasa-basi cukup lama, ayahku mengajak keluarga Hyuuga itu untuk makan bersama. Ini pertama kalinya mereka makan bersama. Sebelumnya, makanan itu di sajikan langsung di kamar mereka. Kakek dan nenekku baru datang 7 jam setelah kedatangan keluarga Hyuuga. Itupun mendadak sebab mereka mewakili ayahku untuk menyambut keluarga Hyuuga. Dan di malam itu pun mereka tidak makan malam bersama.

Makan siang kali ini cukup berbeda sebab dilakukan bersama-sama. Chef yang memasak makanan untuk hari ini pun baru datang hari ini langsung dari kediaman Uzumaki. Chef terbaik dari semua chef yang dimiliki keluarga Uzumaki.

Setelah makan siang, ayahku menyuruhku keluar dan bermain bersama Hinata—anak perempuan dari keluarga Hyuuga itu. Aku tidak pernah punya teman perempuan. Jadi aku agak bingung untuk berinteraksi dengannya. Terlebih lagi pada awalnya ia menolak untuk bermain. Namun karena paksaan ayahnya, ia ikut keluar bersamaku dan berusaha menjaga jarak. Jadi sekarang kami bermain dalam jarak 5 meter. Aku bermain Playstastion Portabel sementara ia bermain kamera dan berusaha mencari gambar yang menarik.

Kupikir putri keluarga Hyuuga ini cuek padaku. Namun ternyata ia Cuma malu. Terbukti ketika aku sedang heboh bermain game karena terbawa suasana, ia melirikku dan memperhatikanku dari lensa kameranya. Begitu aku mengalihkan pandanganku kepadanya, ia dengan cepat melihat ke arah yang lain seraya berpura-pura memotret sesuatu.

Aku merasa kesal dengan sifatnya itu. Namun sifat itu di sisi lain membuat anak itu jadi lebih manis. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas. Aku diam-diam merangkak dan bersembunyi di balik pohon. Diam-diam mengintip anak itu memakai layar PSP-ku. Anak perempuan itu melihat ke tempat yang seharusnya ada aku di sana. Namun sekarang ia tidak menjumpai diriku. Ia terlihat panik dan mulai mencari keberadaanku. Seperti yang kuduga, ia ingin bermain denganku tapi terlalu malu untuk memulainya.

Diam-diam aku merayap dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain bagai seorang tentara yang terlatih. Aku sengaja memutar melewati jalan yang jauh agar suara berisik yang kutimbulkan sewaktu berpindah tempat tidak mudah terlacak oleh Hinata. Tanpa ia sadari, sekarang aku sudah berada di balik pohon tempatnya berteduh.

"Apa dia sudah masuk, ya?" Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari nada bicaranya bisa kupastikan dia sedang kecewa. Sekali lagi aku mengintipnya. Kali ini kumendapatinya terduduk diam dengan kamera yang tergeletak di tanah. Sebuah senyum licik terpatri di wajahku. Diam-diam aku membelakanginya dan

DOR!

Aku mengagetkannya.

"Kyaa!" Teriaknya kaget sekaligus takut. Reaksinya kupikir berlebihan sebab ia tersungkur jatuh ke tanah.

"Hahaha! Kau baik-baik saja?" Aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

Dengan sedikit ragu, ia memegangi tanganku. "Maaf ya kalau sedikit kasar. Namaku Naruto Uzumaki. Kau bisa memanggilku Naruto."

"Eto. Namaku, Hinata Hyuuga. Salam kenal!"

Itulah awal mula di mana aku mulai mengenal Hinata, gadis pemalu yang tak banyak bicara. Namun punya ketertarikan yang tinggi pada sesuatu. Hari ini, sepertinya ia tertarik padaku. Tapi ia terlalu malu untuk berusaha mendekatiku. Ditambah dengan aku yang berusaha membuat jarak. Namun setelah perkenalan itu, kami pun menjadi teman. Kami menghabiskan waktu di hari itu dengan menjelajahi perbukitan sekitar vila. Mencari sesuatu yang layak untuk dipotret dan pulang ketika langit telah berubah warna menjadi jingga.

[]=[Bersambung]=[]

[]

[]


Author Note

Hai semua!

Maaf jika chapter kali ini sangat amat terlambat updatenya. Dikarenakan suatu kondisi yang "sama" seperti 2 bulan yang lalu di mana jaringan Telkomsel di seluruh wilayah tempat tinggal author hilang. Internet mengalami gangguan fatal sebab putusnya kabel optik bawah air untuk yang ketiga kalinya. Oke cukup bahasan masalah keterlambatannya.

=[]=[]=

Mungkin beberapa dari kalian sudah menyadari siapa gadis kecil dibalik ingatan masa lalu Naruto. Atau bahkan kalian semua sudah menyadarinya sebab petunjuk yang sangat besar. Itu memang bukan rahasia yang perlu author sembunyikan.

Kuharap ide ini tidak terlalu pasaran di mata kalian. Tetap semangat menikmati fanfiction milikku ataupun orang lain. Ngak tau mau ngomong apalagi. Sepertinya cukup ini saja dulu. btw, jaringan sekarang sudah baik. Jadi saya langsung update. hitung-hitung syukuran. hehe.