Warn! Kalian bisa terserang rasa bosan saat membacanya!
"Hyung?" Donghyuck menatap tidak percaya kepada sosok di depannya.
"Apa kabar Donghyuck?. Aku kembali."
.
.
.
.
.
.
Ten melangkahkan kakinya menuju kamar putra semata wayangnya dengan sedikit terburu-buru. Ia khawatir karna semenjak pulang dari kampusnya kemarin sore, Donghyuck tidak mau keluar dari kamarnya sampai sekarang. Ten merasa ada yang salah dengan anaknya, karna anaknya itu tidak pernah melewatkan makan malam dan sarapan bersama, mau se-marah apapun dia dengan dirinya dan Johnny, anaknya itu pasti akan keluar menampakkan dirinya sendiri jika waktu makan tiba.
"Hyuck? Boleh ibu masuk?"
Ten membuka kamar anaknya yang memang tidak dikunci itu kemudian menghela nafas pelan. "Donghyuck, kau tak mau cerita pada Ibu?"
Donghyuck menyembulkan sedikit kepalanya dari balik selimut kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
Ten berjalan menghampiri anaknya dan duduk di sisi ranjang "Ceritakan pada Ibu, siapa tahu Ibu bisa membantumu. Jangan seperti ini, kau membuat banyak orang khawatir sayang." Ucap Ten sambil mengelus kepala Donghyuck yang tertutup selimut.
"Aku tidak mau bertemu dengan Mark." Lirih Donghyuck pelan. "Dia tidak benar-benar mencintaiku." Lanjutnya lagi.
Ten mengerutkan dahinya mendengar perkataan putranya itu. Mark tidak mencintainya? Yang benar saja. Bahkan orang gila pun tahu jika Mark sangat mencintai anaknya itu.
"Kenapa kau berfikiran seperti itu?"
Donghyuck mendudukan dirinya, dan menatap Ten dengan air mata yang sudah menggenang di matanya, "Aku melihatnya berciuman dengan wanita."
"A-apa?." Tanya Ten masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Aku tidak mau bertemu dengan Mark lagi! Aku benci padanya!" Donghyuck langsung menghambur kepelukan Ten.
"Dia tidak mencintaiku! dia membiarkan aku dihina seperti itu!, dia-" Donghyuck tidak dapat melanjutkan kalimatnya, ia semakin terisak dan membuat Ten kelimpungan.
"Tenanglah." Ten menepuk-nepuk punggung Anaknya pelan. Sejujurnya ia yakin jika semua ini hanyalah salah paham saja, tapi jika melihat Donghyuck yang menangis dan terlihat sangat terluka tentu saja Ten jadi ikut geram dengan Mark walaupun ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya bu."
"Iya, aku pastikan kau tidak akan bertemu dengannya untuk sementara waktu, Ibu akan bilang pada Renjun dan Jaemin agar menjauhimu dari Mark saat di kampus nanti."
Donghyuck menganggukan kepalanya pelan, "Terimakasih."
"Apapun untukmu."
.
.
.
.
Mark uring-uringan. Sudah terhitung 3 hari sejak kunjungannya bersama orang tuanya ke rumah Donghyuck, kekasih manisnya itu tidak bisa dihubungi sama sekali.
Mark selalu mengirimkan Donghyuck pesan setidaknya 1 kali setiap 2 menit, dan menelpon 2 kali dalam 1 jam, tapi tetap saja tidak ada balasan sekali.
Mark berusaha menemui Donghyuck di Kampus. Tapi entah kenapa setiap ia ingin menghampiri Donghyuck, pemuda bernama Na Jaemin yang tempo hari memukul kepalanya dengan kuat menggunakan mangkok plastik itu langsung membawa Donghyuck pergi menjauh, tidak membiarkan Mark untuk berbicara kepada Donghyuck barang sedetik.
Mark frustasi, tentu saja. Ia tidak mengetahui kenapa Donghyuck tiba-tiba menghindarinya seperti ini.
Mark juga sudah mendatangi rumah Donghyuck, tapi dia tetap saja tidak bisa ditemui. Calon Ibu mertuanya selalu mengatakan jika Donghyuck tidak mau bertemu dengan Mark, dan meminta Mark untuk kembali saja kerumahnya. Mark yang pada dasarnya memang sudah keras kepala, egois, dan tidak tahu malu langsung menerobos masuk ke dalam rumah Donghyuck, dan membuat Johnny -Sang calon Ayah mertua harus memanggul paksa Sang calon menantu agar keluar dari rumahnya.
"Sebenarnya apa sih salahku?!." Mark berjalan mondar-mandir di dalam apartemennya sambil menarik-narik rambutnya frustasi.
Jeno dan Lucas yang sedari tadi duduk di sofa sambil memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu kenapa kekasih mungil nan manis menggemaskan-ku itu mendiamiku seperti ini! Aku mau gila rasanya!." Mark memukul-mukul dinding sambil meraung-raung tidak jelas membuat Jeno dan Lucas meringis ngeri.
"Hei Jen, Mark dan Donghyuck sudah putus belum sih?." Bisik Lucas kepada Jeno yang berada disampingnya.
"Tidak tahu, sepertinya belum. Tapi firasatku mengatakan mereka akan putus dalam waktu dekat. " Balas Jeno berbisik.
Lucas tersenyum puas mendengar jawaban Jeno yang menurutnya merupakan kabar bagus. "Tuhan mengabulkan permintaan kita lebih cepat Jen!."
Jeno terkekeh pelan mendengar perkataan Lucas. "Tuhan sedang baik kepada kita."
Jeno dan Lucas terlalu asik dengan obrolan mereka sendiri tanpa menyadari jika Mark kini telah duduk di sofa yang berada tepat di depan mereka dan menatap mereka sambil mengernyit keheranan. "Apa yang kalian bicarakan sampai tertawa-tawa seperti itu?."
Jeno dan Lucas terlonjak kaget saat mendengar suara Mark yang tiba-tiba, "Tidak ada, kami hanya sedang membicarakan bisnis rahasia. " balas Jeno cepat.
Mark hanya menganggukan kepalanya, tapi matanya masih memicing curiga.
"Hentikan melihat kami seperti itu. " Lucas melempar bantal sofa ke wajah Mark.
"Tapi Mark, kau yakin Donghyuck tidak menjauhimu tanpa alasan?" Tanya Jeno dengan tampang serius.
Mark mengernyit, alis camarnya menukik tajam tanda ia sedang mencoba menggunakan otaknya. Benar juga apa kata Jeno, Donghyuck-nya itu bukan orang yang kurang kerjaan seperti dirinya, jadi tidak mungkin Donghyuck menjauhinya tanpa alasan. Tapi, alasanya apa?!
Lucas menganggukan kepalanya, "Benar apa kata Jeno. Mungkin kau melakukan kesahalan yang membuat Donghyuck kesal sehingga menjauhimu seperti ini. Jika begini caranya mungkin Donghyuck akan memutuskanmu."
Mark melotot mendengar ucapan Lucas barusan, "Tidak akan kubiarkan!!"
Jeno mengibaskan tangannya pelan, "Tidak ada yang tidak mungkin" kata Jeno santai.
Alis camar Mark semakin menukik tajam, ia berfikir keras dan menerka-nerka kesalahan apa yang mungkin telah ia perbuat dan membuat Donghyuck menghindarinya seperti ini.
"Ah otakku bertahanlah, ayo berfikir lebih keras!" Mark memukul-mukul sendiri kepalanya yang malah berdenyut pening saat dipaksakan untuk berfikir.
"Aku menyerah, kalian berdua-" ucap Mark,
Jeno dan Lucas yang sedang asik mengambil selfie di Apartemen Mark langsung menatap Mark dengan pandangan bertanya-tanya. "Kenapa?"
"Kalian temui Donghyuck, dan tolong cari tahu apa salahku. Oke"
"Tidak oke Mark!" balas Jeno dan Lucas bersamaan.
"Kenapa?!."
"Pokoknya tidak mau!."
"Gratis makan siang selama satu minggu di cafetaria."
"Setuju!."
Mark memutar bola matanya malas, kedua temannya ini hanya bisa disuap dengan makanan. "Besok kalian harus langsung beraksi."
Jeno dan Lucas langsung bangkit berdiri dan memberikan hormat ala Upacara Bendera kepada Mark "Siap komandan!."
Mark hanya berharap, dengan cara ini ia bisa menyelesaikan masalah yang ia sendiripun tidak tahu dengan Donghyuck. Semoga saja.
.
.
.
.
Donghyuck duduk di taman belakang rumahnya sambil menatap sendu bunga-bunga yang Ten rawat dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sudah 3 hari ia menghindari Mark. Entahlah, rasanya ia masih sangat marah jika harus bertemu dengan Mark, ia masih teramat sakit hati dengan pria itu.
Ponselnya kembali bergetar dengan heboh, ia tahu jika Mark-lah pelakunya. Donghyuck langsung menghapus pesan-pesan itu tanpa membacanya terlebih dahulu.
Donghyuck menghela nafas pelan, pikirannya sangat kalut akhir-akhir ini. Banyak hal buruk yang datang padanya secara bersamaan, membuat ia sangat frustasi dan lelah.
Ponsel Donghyuck kembali bergetar, Donghyuck melirik sekilas ke arah ponselnya, yang menghubunginya bukanlah Mark, Melainkan nomer tidak dikenal. Donghyuck membuka ponselnya dan langsung membelalak kaget saat membaca isi pesan dari nomer itu. "Kenapa dia bisa dapat nomer ponselku?!."
Donghyuck semakin dibuat kelabakan karna tiba-tiba nomer asing itu menelponnya. "Bagaimana ini?!." Seru Donghyuck panik.
"Donghyuck. " Donghyuck terlonjak kaget saat mendengar suara Ten yang sudah berada di belakanganya.
"Ibu?!. Ada apa?." Tanya Donghyuck sambil mengelus dadanya.
"Kau kenapa kaget begitu sih?. Itu didepan ada yang mencarimu."
"Tenang saja, bukan Mark." Ucap Ten lagi saat melihat raut tidak senang dari anaknya. "Kali ini kau akan memekik kesenangan." Ten menyeringai jahil membuat Donghyuck semakin curiga.
"Lagi pula, kau sedang apa di taman belakang sore-sore seperti ini? Tumben sekali."
"Aku hanya ingin duduk tenang sambil memandangi bunga-bunga indah yang ibu rawat seperti anak sendiri." Balas Donghyuck ketus.
"Ohh, pantas saja dari kamar Ibu dapat mendengar Anak-anak Ibu ini menjerit ketakutan. Ternyata sedang kau pandangi."
Donghyuck hanya mendengus keras mendengar ucapan Ibunya, ia langsung berjalan menuju ruang tamu meninggalkan Ten sendiri di taman belakang untuk 'menenangkan' bunga-bunga kesayangannya itu.
Selama berjalan menuju ruang tengah, Donghyuck terus memutar otaknya, menerka-nerka siapakah gerangan orang yang datang menemuinya itu. Dipikirannya hanya ada satu nama, tapi ia tidak siap bertemu lagi dengan orang itu setelah kejadian 3 hari yang lalu. Rasanya hati Donghyuck masih kacau balau.
"Kau siapa? Kenapa kau bisa masuk kesini?!."
"Kau yang siapa?! kenapa kau asal masuk menerobos seperti itu!."
"Heol! ini rumah hyungku!. Jadi aku bebas masuk kesini!."
"Hahaha dasar halu. Donghyuck hyung itu anak tunggal! Kau anak siapa huh?!. Lagi pula tampangmu itu tampang orang miskin, tidak se-level dengan Donghyuck hyung!."
Donghyuck hanya bisa menganga melihat dua orang pemuda saling adu mulut sambil melontarkan tatapan tajam satu sama lain.
"Chenle?!." Donghyuck memanggil seorang pemuda berambut hijau yang sedang memicingkan matanya kepada orang yang ada di depannya sontak menolehkan pandangannya. Sedetik kemudian senyuman yang luar biasa lebar tepatri di wajah manisnya. "Donghyuck hyung!." Seru pemuda yang dipanggil Chenle itu. Chenle segera menghambur ke arah Donghyuck dan langsung memeluk Donghyuck dengan erat.
"Hyung?! kau mengenal orang berkepala brokoli itu?!."
Donghyuck melepaskan pelukannya dari Chenle dan melotot garang pada sosok pemuda lain yang tengah menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Jisung! Tidak baik mengatai orang seperti itu!."
"Cih, dengarkan itu orang bertampang miskin!. Se-enaknya saja kau mengataiku!." Cibir Chenle sambil menatap Jisung remeh.
Mata Jisung berkedut tak suka mendengar ucapan pemuda asing yang kelewat kurang ajar itu, Jisung baru saja ingin membuka mulutnya tapi Donghyuck sudah lebih dulu memotong perkataannya. "Jisung tutup mulutmu!. Aku tahu kau ingin mengeluarkan kata-kata kotor."
Jisung menekuk wajahnya dalam, sedangkan Chenle tertawa bahagia melihat raut masam Jisung.
"Chenle, kapan kau datang?. Kau tidak memberitahu hyung."
"Hyung jangan berlagak tidak tahu ya!. Hyung ku bilang dia sudah bertemu denganmu 3 hari yang lalu!."
Donghyuck tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perkataan Chenle. Benar juga, ia sudah bertemu dengan orang itu. Yah, walaupun di waktu yang kurang tepat.
"Hyung tega sekali tidak menanyakan kabarku. Hyungku bilang kau sudah tidak perduli lagi padaku." Ucap Chenle sambil mendusalkan kepalanya ke badan Donghyuck.
"Maafkan Hyung ya, hyung terlalu kaget saat bertemu hyungmu waktu itu. Hehehe" Ucap Donghyuck sambil tertawa canggung.
Jisung menatap tak suka ke arah Chenle yang sangat manja pada Donghyuck. Entah kenapa melihat wajah berbunga-bunga dari Chenle membuat Jisung kesal. "Jangan mendusal-dusal Donghyuck hyung seperti itu. Nanti kau di hajar pawangnya baru tahu rasa."
"Pawang? Donghyuck hyung punya pac-"
"Tidak. Aku tidak punya pacar. Jisung jangan bicara lagi atau ku usir kau!."
Jisung mengernyit heran, kenapa hyungnya ini berbohong. Bukannya orang hula yang hampir menghajarnya karna ia mengelus perut Donghyuck hyung itu kekasihnya? Kenapa Donghyuck hyung sangat tidak suka saat ia menyinggung tentang kekasihnya itu. Jisung memandang Donghyuck dengan pandangan keheranan, sedangkan Donghyuck yang yang ditatap seperti itu oleh Jisung hanya menggaruk tengkuknya canggung lalu mengalihkan perhatiannya kepada Chenle.
"Chenle! Kita mengobrol di kamar hyung saja. Jisung, kau pasti ingin meminta makan kan? Di dapur banyak makanan, kau makanlah sepuasmu." Donghyuck segera menggeret Chenle untuk naik ke lantai atas menuju ke kekamarnya, meninggalkan Jisung yang menatap punggung Donghyuck dengan pandangan bertanya-tanya.
.
.
.
.
Sama seperti Mark, Jeno dan Lucas sama sekali tidak bisa mendekati Donghyuck. Renjun dan Jaemin sekarang telah berubah menjadi bodyguard dadakan yang selalu menempeli Donghyuck kemanapun ia pergi. Membuat Jeno dan Lucas tidak memiliki kesempatan untuk menanyai Donghyuck. Jangankan bertanya, mendekat saja tidak bisa.
"Arrghhh!! Bagaimana ini?!." Mark mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Satu-satunya harapannya ternyata gagal total, Mark bersumpah akan membalas dendam pada Renjun dan Jaemin suatu saat nanti.
"Tidak ada harapan Mark, sudah putus saja." Ucap Lucas sambil menyedot Cappuccino-nya.
Mark mendelik mendengar ucapan Lucas yang sembarangan itu, "Tidak akan pernah!." Balas Mark.
"Aku setuju dengan kata Lucas. Kau sudah tidak ada harapan. Ayolah putus saja." Ucap Jeno ikut mengompori.
"Kalian benar-benar sialan ya." Dumal Mark kesal.
"Oh iya Mark, Mina Mina itu bagaimana kabarnya? Dia masih merecokimu?."
Mark mendengus keras mendengar pertanyaan Jeno, ia benci sekali pada wanita itu. "Jangan membahasnya. Aku benci sekali dengan wanita itu." Balas Mark.
"Kenapa?."
"Kalian tahu kan, 3 hari yang lalu seharusnya hari itu kita libur? tapi aku harus pergi ke kampus karna wanita itu."
"Mina maksudmu?." Tanya Jeno penasaran.
Mark menganggukan kepalanya singkat. "Tentu saja."
Jeno dan Lucas semakin mendekatkan tubuhnya kepada Mark, membuat Mark memekik marah. "Jangan dekat-dekat sialan!."
Jeno dan Lucas langsung memundurkan badannya sambil menggerutu sebal. "Tidak enak bergosip berjauh-jauhan tahu."
Mark mengibaskan tangannya pelan lalu kembali melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda tadi, "Wanita itu mengirimiku pesan, ia bilang kalau ia melihat Donghyuck diganggu oleh anak dari fakultas teknik. Jelas saja aku langsung bergegas ke kampus. Kalian tahu kan aku tidak suka jika Donghyuck-ku disentuh-sentuh sembarangan orang?. Sial sekali, ternyata dia membohongiku. Dia juga berkata hal buruk tentang Donghyuck-ku, mengatainya jelek lah, ini lah, itu lah, dia tidak tahu saja jika Donghyuck itu manusia paling manis sejagad raya. Aku hampir kelepasan memukul wajahnya jika tidak ingat dia itu wanita." Jelas Mark panjang lebar, Jeno dan Lucas hanya mendengarkan dengan hikmat sesekali mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dan kalian mau tahu apa yang lebih sialan dari pada itu semua?." Mark memandang wajah kedua sahabatnya yang langsung berubah penasaran setelah mendengar perkataannya.
"Apa?!." Seru Jeno dan Lucas bersamaan.
"Wanita gila itu menciumku!. Astaga aku ngeri sendiri jika mengingatnya!." Ucap Mark sambil bergidik.
"Wah Mark, kau beruntung sekali ya." Ucap Jeno sambil menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.
"Beruntung pantatmu itu. Untung dia melakukannya di perpustakan, sehingga tidak ada yang lihat." Singut Mark.
"Mark sebentar-" Ucap Jeno tiba-tiba, membuat Mark dan Lucas mengernyitkan dahinya keheranan.
"Kau bilang tidak pada Donghyuck jika kau libur pada hari itu?."
Mark menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Jeno, "Tentu saja, aku kan pacar yang jujur." Jawab Mark.
"Mungkin tidak, jika Donghyuck melihatmu bersama Mina waktu itu?. Lalu Donghyuck menyangka kau telah membohonginya dan malah berselingkuh dengan Mina. Kau di tarik ke perpustakaan mana?"
Mark langsung membekap mulutnya sendiri dan memandang Jeno dengan pandangan terkejut. "Astaga Jeno! Mina menariku ke perpustakaan yang ada di fakultas Donghyuck!." Seru Mark kaget.
Jeno mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku yakin pasti ini masalahnya."
Mark segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung pergi untuk menemui Donghyuck di fakultasnya, mengabaikan teriakan Jeno dan Lucas yang memanggil-manggilnya.
Mark berjalan dengan tergesa-gesa dan menatap garang siapapun yang menghalangi jalannya. Dipikirannya hanya satu, menyelesaikan masalah ini dan menarik Donghyuck kembali ke sisinya. Dia berpikir akan mentraktir Jeno dan Lucas nanti.
.
.
.
.
"Donghyuck!." Donghyuck yang sedang berjalan menuju cafetaria bersama Jaemin dan Renjun terlonjak kaget saat mendengar suara Mark.
"Ayo cepat pergi!." Jaemin langsung menarik tangan Donghyuck dan Renjun supaya segera menjauh dari Mark, Mark yang melihat hal itu menggeratakkan giginya marah, membuat seluruh orang yang melihatnya menjadi ketakutan.
"Lepaskan tanganmu darinya, atau kubunuh kau disini sekarang juga!."
Badan Donghyuck langsung menegang mendengar suara Mark yang terdengar amat marah dan menyeramkan, ia mengehentikan langkahnya dan berbalik ke arah Mark.
Mark berjalan semakin mendekat, Donghyuck tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi pikirannya mengatakan untuk tetap diam dan jangan menghindari lagi jika tidak ingin terlibat masalah.
Jaemin segera menarik Donghyuck untuk berdiri di belakangnya. Mark yang melihat Jaemin bertingkah seolah-olah kekasih Donghyuck pun hanya bisa mendecih. Dia sudah sangat kesal dengan pemuda bernama Na Jaemin itu, yang sudah beberapa hari ini selalu saja merecoki hubungannya dan Donghyuck.
"Apa maumu?" Tanya Jaemin ketika Mark sudah berada tepat di depannya.
"Mauku?. Mauku kau menyingkir dari hadapanku sekarang juga." Balas Mark sambil menatap Jaemin dengan nyalang.
Jaemin tertawa remeh mendengar perkataan Mark, "Kau menyuruhku menyingkir? Tidak salah? Bukannya kau yang seharusnya menyingkir dari hidup Donghyuck?" Ucap Jaemin sambil tersenyum miring.
Mark semakin menggeram kesal, ia berusaha mati-matian agar tidak menghajar wajah orang yang ada di depannya. "Cepat pergi dari sini selagi aku masih bisa mengendalikan emosi!."
Jaemin baru saja ingin membalas perkataan Mark tapi Donghyuck sudah lebih dulu memotongnya. "Kita tidak punya urusan lagi Sunbae, berhenti bertingkah seakan-akan kita kenal."
Mark tidak bisa untuk tidak terkejut saat mendengar perkataan Donghyuck. Demi Tuhan, Mark itu kekasihnya!.
"Kau dengar sendiri bukan?." Ucap Jaemin sambil menatap remeh ke arah Mark.
"Hyuck, tolong dengarkan aku dulu."
Donghyuck menggeleng pelan di balik punggung Jaemin, ia tidak mau luluh kali ini.
"Hyuck, kumohon."
Renjun yang sedari tadi hanya menjadi penonton merasa jengah dengan drama yang sedang di tampilkan oleh Mark, Donghyuck dan Jaemin. Semua ini harus diselesaikan, bukannya di perumit seperti ini.
Renjun menarik wajah Donghyuck supaya melihatnya. "Hyuck, dengarkan aku. Aku mohon padamu untuk jangan bersikap lemah seperti ini." Ucap Renjun sambil menatap mata Donghyuck lurus. "Selesaikan urusanmu dengan Mark, aku tidak mau kau terus larut dalam masalah. Aku percaya padamu, aku percaya pada Mark, Aku percaya pada kalian berdua."
"Aku-" Belum sempat Donghyuck mengatakan apa yang ingin ia katakan, Renjun sudah lebih dulu mendorongnya ke arah Mark.
"Sunbae, kau bawa Donghyuck dan selesaikan masalah kalian secepatnya. Kepalaku pusing sekali melihat kalian mendrama seperti itu."
Jaemin menatap Renjun dengan ekspresi kaget dan merasa terkhianati, kenapa sahabatnya itu malah memberikan Donghyuck pada Mark?!.
"Na Jaemin, berhenti memandangiku seperti itu." Ucap Renjun saat melihat Jaemin memandanginya dengan pandangan kecewa.
Mark segera menarik tangan Donghyuck untuk ikut bersamanya, sepertinya ia juga harus mentraktir Renjun setelah ini.
.
.
Mark membawa Donghyuck kedalam mobilnya, mereka berdua duduk dengan canggung. "Hyuck" Panggil Mark pelan.
"Kau tidak benar-benar mencintaiku kan?."
Mark menggeleng, "Sudah kukatakan berkali-kali padamu, aku sangat mencintaimu Hyuck!."
Donghyuck tertawa sumbang mendengar perkataan Mark. "Kau pikir aku masih percaya setelah aku tahu kau membohongiku dan melihatmu dengan wanita berciuman di perpustakaan?!."
"Jika kau tidak benar-benar mencintaiku, lebih baik kita hentikan saja." Ucap Donghyuck tanpa melihat ke arah Mark sama sekali.
Mark menatap Donghyuck tidak percaya, "Hyuck kau salah paham!." Mark mencoba meraih tangan Donghyuck tapi Donghyuck langsung menepisnya.
"Kumohon dengarkan aku dulu."
"Aku dan Mina tidak ada hubungan apa-apa Hyuck!."
"Lalu?."
Mark mengernyit mendengar jawaban Donghyuck, dia itu bertanya atau bagaimana?.
"Apa maksudmu?."
"Lalu aku harus peduli?." Ucap Donghyuck sambil menatap Mark dingin. "Aku tidak suka kau bohongi seperti ini."
Mark mengusap wajahnya dengan keras, "Donghyuck, sayangku, cintaku, matahari-"
"Jangan memanggilku seperti itu!." Potong Donghyuck galak.
Mark mencoba kembali meraih tangan Donghyuck, beruntungnya kali ini Donghyuck tidak menepisnya seperti tadi. "Dengarkan aku dulu sayang. "
"Mina mengirimiku pesan, dia bilang dia melihatmu di ganggu oleh anak dari Fakultas Teknik, jelas saja aku tidak terima. Aku langsung bergegas ke kampus untuk menemuimu!."
"Lihat ini!, dia mengirimiku pesan seperti ini!. " Mark menunjukan pesan yang Mina kirim kepadanya pada Donghyuck.
Mark sedikit tersenyum lega saat melihat ekspresi wajah Donghyuck yang sudah sedikit melunak, tidak segarang tadi.
"Lalu kenapa?-" Donghyuck menjeda kalimatnya sejenak dan menatap Mark dengan air mata yang sudang menggenang di pelupuk matanya, "Kenapa kau diam saja saat wanita itu mengataiku?."
Mark tersentak saat mendengar perkataan Donghyuck, apalagi saat ia melihat Donghyuck menatapnya dengan pandangan terluka seperti itu. "Bukan seperti itu Donghyuck-"
"Kau membiarkan wanita itu berkata hal buruk tentangku." Air mata Donghyuck telah jatuh membasahi pipinya, membuat Mark semakin gelagapan.
"Tidak!. Bukannya aku menerima saja dia mengataimu Hyuck!." Sanggah Mark. "Aku berusaha mati-matian agar tidak menghajarnya karna dia wanita."
"Kau selalu bilang padaku bukan untuk belajar mengendalikan emosi, dan membiarkan hal-hal tidak penting?. Mina itu tidak penting, jadi aku membiarkannya saja mengoceh semaunya sendiri. Maafkan aku, aku tidak tahu hal itu membuatmu terluka. Kumohon maafkan aku."
Donghyuck semakin terisak, lalu ia menghambur kedalam pelukan Mark. Mark menghela nafas lega, teman-temannya sering berkata padanya, yang namanya salah paham pasti akan selalu terjadi di setiap hubungan. Tapi Mark tidak menyangka jika salah paham ternyata sangatlah melelahkan dan menguras emosi seperti ini.
"Maafkan aku ya." Mark mengecup puncak kepala Donghyuck dengan sayang. Donghyuck menggeleng pelan dalam pelukan Mark, "Tidak, aku yang harusnya meminta maaf." Lirih Donghyuck.
Donghyuck tiba-tiba merasa tidak enak karna telah mendiami Mark dan tidak memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan. Donghyuck merasa ia sangat egois.
Mark melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Donghyuck dengan kedua tangannya. "Aku mana bisa berpaling dari mu." Ucap Mark sambil mendekatkan wajahnya pada Donghyuck.
Mark mencium bibir Donghyuck dengan lembut, "Aku akan menjadi orang bodoh sejati jika melakukannya."
Donghyuck hanya memejamkan matanya menerima perlakuan lembut dari Mark. Sekarang ia benar-benar merasa sangat bodoh dan berpikiran dangkal.
"Baiklah, sekarang kita absen saja. " Mark menyalakan mobilnya lalu mengendarainya ke luar kampus.
"Mau kemana kita?."
"Apartemenku. "
"Hah?!."
"Aku akan meminta konpensasi karna kau sudah mendiamiku beberapa hari ini, dan selalu menempel pada sahabatmu itu. Cih, membuat kesal saja"
Donghyuck membulatkan matanya saat mendengar perkataan Mark, "Astaga hyung! Kau cemburu pada Renjun?." Tanya Donghyuck dengan nada tidak percaya.
"Bukan Renjun, tapi pada sahabatmu yang satu lagi. Yang memukul kepalaku dengan kuat sekali menggunakan mangkok plastik."
Donghyuck menatap Mark dengan pandangan tidak percaya. Bisa-bisanya dia cemburu pada sahabatnya sendiri. Ia saja tidak pernah cemburu pada Jeno dan Lucas.
"Cih, berlebihan sekali." Cibir Donghyuck.
"Biarkan saja."
"Tapi hyung, memangnya kau ingin konpensasi apa? Kau ingin aku masakkan?."
"Tidak. "
"Lalu?."
"Kau lihat saja nanti."
Donghyuck memicingkan matanya curiga saat melihat seringaian aneh yang ada di wajah Mark.
"Entah kenapa perasaanku tidak enak." Gumam Donghyuck pelan.
.
.
.
.
.
.
Omake:
"Hyung?" Donghyuck menatap tidak percaya pada sosok didepannya.
"Apa kabar Donghyuck?. Aku kembali."
Donghyuck langsung memukuli sosok di depannya dengan membabi buta.
"Kau kembali ke korea tidak bilang padaku?!."
Sosok itu hanya mengaduh kesakitan dan pasrah saja saat Donghyuck memukulinya sambil menangis.
"Xiaojun hyung kau jahat sekali padaku!."
Sosok yang yang dipanggil Xiaojun hanya terkekeh pelan lalu menarik Donghyuck ke dalam pelukannya. "Jika kau ingin menangis, menangis saja." Ucapnya sambil mengelus punggung Donghyuck pelan.
"Bagaimana hyung bisa tahu aku berada disini?. " Tanya Donghyuck.
"Tadi aku bertemu dengan Renjun di cafetaria, lalu aku bertanya padanya dimana kau. Dia bilang kau ada di perpustakaan, jadi aku langsung kemari.
Donghyuck menganggukan kepalanya sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.
"Lalu bagaimana hyung bisa tahu kalau orang tadi kekasihku?."
"Tentu saja dari Renjun, dia bilang sekarang kau sudah mempunyai kekasih tampan beralis camar dengan tingkah yang memalukan. Dia juga memperingatkanku agar tidak dekat-dekat denganmu jika tidak ingin kekasihmu itu mengamuk padaku." Ucap Xiaojun sambil terkekeh.
"Hyuck dengarkan aku." Xiaojun menyentuh pundak Donghyuck dan menatapnya dengan serius. "Kau sudah lihat bukan tadi? Seharusnya kau langsung meninggalkannya saja."
"Tapi, aku yakin Donghyuck yang sekarang adalah Donghyuck yang dewasa. Kau harus memikirkannya matang-matang, jangan sampai salah dalam mengambil keputusan. Aku tidak mau kau merasa menyesal nantinya." Xiaojun mengusap lembut kepala Donghyuck.
"Nah, sekarang berikan aku nomer ponselmu. Chenle pasti akan sangat senang."
Donghyuck mendecih mendengar perkataan Xiaojun, "Tidak akan, aku tahu kebiasaan lama kalian berdua. Pasti kalian bertaruh kan? Hayo mengaku!."
"Iss kau ini! Kau masih sangat galak ya setelah menangis heboh seperti tadi." Sungut Xiaojun.
"Hyung, antar aku pulang." Ucap Donghyuck pelan.
"Kau tidak ingin menemui dulu kekasihmu itu? Setidaknya memberikan dia satu buah tamparan atau-"
"Hyung, antar aku pulang." Ulang Donghyuck, ia mulai menangis lagi.
Xiaojun menghembuskan nafas pelan lalu segera menarik Donghyuck menuju ke mobilnya. "Jangan menangis disini. Menangislah jika sudah sampai rumah."
.
.
.
.
.
.
Omake II:
"Jeno bodoh!." Lucas memukul kepala Jeno menggunakan jurnal yang ia bawa.
"Kenapa kau memukulku sialan?!." Pekik Jeno tidak terima.
"Kau baru saja membuat Mark dan Donghyuck tidak jadi putus!." Sembur Lucas murka.
Jeno memasang ekspresi bingung saat mendengar perkataan Lucas, "Benarkah?."
"Tentu saja!." Dengus Lucas jengkel. "Sepertinya Tuhan tidak ingin mengabulkan do'a kita dengan mudah." Lanjutnya.
"Bagaimana kalau besok kita ke gereja."
Lucas mengernyitkan dahinya heran, "Untuk?."
Jeno mendencih, "Jelas untuk beribadahlah bodoh! Sekalian kau bertobat. Auramu sangat busuk."
Lucas kembali memukul kepala Jeno dengan jurnalnya. "Terserah apa katamu!."
Lucas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Jeno yang menggerutu kesal.
"Cas!! Honey!! Jangan tinggalkan akuuuuuu! " Teriak Jeno sambil berlari menyusul Lucas yang sudah berjalan jauh di depannya.
.
.
.
.
.
.
Spoiler Chapter 6:
"Donghyuck hamil?"
"Aku ayah dari bayi yang di kandung Donghyuck."
"Jaemin... Kau bersedia?"
"Mark!! Sadarlah!"
"Jisung kau masih SMA, sedangkan Donghyuck... "
"Lucas, kau sadar tidak aku ini kekasih sahabatmu?"
"Renjun, maafkan aku... "
.
.
.
.
Tbc.
Huaaaaaaa!! Aku cuma mau ngasih tahu, kalau book ini mungkin hanya sampai 10 Chapter, dan insyaallah sebelum februari udah tamat :)
Seperti biasa, aku ingin ngucapin terimakasih untuk kalian semua yang udah mau review! Huhuhu kalian adalah penyemangatku dalam menulis! Maaf kalo semakin ga jelas ya cerita TT
See you next chap! lupyu guys!
