:
Taufiq879/Tandrato
:
Destined To Live With You
:
Bab 16
Kenangan Yang Hilang Bagian 2
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Itulah awal mula di mana aku mulai mengenal Hinata, gadis pemalu yang tak banyak bicara. Namun punya ketertarikan yang tinggi pada sesuatu. Hari ini, sepertinya ia tertarik padaku. Tapi ia terlalu malu untuk berusaha mendekatiku. Ditambah dengan aku yang berusaha membuat jarak. Namun setelah perkenalan itu, kami pun menjadi teman. Kami menghabiskan waktu di hari itu dengan menjelajahi perbukitan sekitar vila. Mencari sesuatu yang layak untuk dipotret dan pulang ketika langit telah berubah warna menjadi jingga.
Tanpa kami sadari, kami berdua telah menjadi teman yang benar-benar akrab hanya dalam waktu 1 hari. Di keesokan harinya, aku mengajak Hinata untuk bermain ke desa. Di sana ada perkebunan yang mungkin layak untuk dipotret. Kami pergi ke sana diam-diam tanpa meminta izin terlebih dahulu. Namun ayah kami sepertinya membebaskan kami untuk main di manapun selama tempat itu aman.
Daerah perkebunan di pagi hari memang sangat cocok dan layak untuk diabadikan oleh lensa kamera. Hinata dengan senangnya memotret sana-sini. Tak terhitung lagi seberapa banyak foto yang ia ambil dari tempat kami berdiri. Saat itu kami berada di jalan utama untuk mengakses desa. Perkebunan itu terletak beberapa meter di bawah kami. Di samping jalan itu ada lereng yang tak begitu curam yang memanjang dari jalan ini hingga ke perkebunan tersebut.
"Aku mendapat foto-foto yang menarik loh."
"Benarkah? Boleh kulihat."
"Tentu." Dengan senang hati ia memberikan kamera itu padaku. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil di belakang Hinata mengklakson seekor anjing yang hendak menyeberang. Suara klakson dari mobil itu sangat keras hingga membuat kami kaget. Naas, karena kaget, Hinata melepaskan tangannya dari kamera sebelum benar-benar kupegang. Alhasil, kamera itu jatuh terguling-guling menuruni lereng hingga masuk ke dalam area perkebunan yang dikelilingi kawat duri.
Hinata saat itu benar sedih. Ia berpikir kamera itu rusak. "Bagaimana ini Naruto. Semua foto-foto yang kita ambil masih tersimpan di sana."
"Tenang, Hinata. Aku yakin foto-fotonya masih aman."
Aku mengajak Hinata menuruni lereng itu agar bisa mengambil kameranya. Aku memegang erat tangan Hinata seraya berjalan perlahan-lahan agar tidak terjatuh. Kemungkinan terburuk kalau kami terjatuh adalah kami akan menabrak kawat-kawat berduri yang dijadikan pagar tersebut. Jadi tidak ada salahnya aku berjalan dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.
Pada akhirnya kami tiba dengan selamat. Hanya saja sekarang kami harus memikirkan cara untuk mengambil kamera yang berada cukup jauh di dalam kebun tersebut. Sementara itu, aku telah memastikan bahwa untuk kembali ke jalan utama dengan mendaki lereng akan sangat mustahil. Jadi, "kita harus masuk ke dalam kebun ini dan mencari jalan keluarnya, Hinata."
"Masuk? Tapi kawat-kawat itu terlihat tajam."
"Jika kita masuk dengan hati-hati, kita mungkin tidak akan terluka." Aku mengambil sebuah ranting pohon. Memakainya untuk memperlebar jarak antar kawat agar kami berdua bisa lewat. Aku masuk terlebih dahulu untuk menguji keamanannya. Kepalaku melewati kawat itu terlebih dahulu hingga terakhir adalah kakiku.
"Cukup aman, Hinata. Ayo sekarang giliranmu."
"Aku takut, Naruto."
"Tidak apa-apa. Kau perempuan yang tangguh. Tadi malam saja kau terkunci di kamar mandi saat lampu mati, kau tidak menangis." Kejadian itu terjadi semalam. Kurasa tidak perlu kujelaskan. Aku benar-benar memotivasi Hinata agar bisa lewat. "Aku sudah mencobanya kok. Aman, aku jamin."
Dengan sedikit keberanian yang ia punya, Hinata mulai merangkak. Pertama yang melewati kawat itu ialah tangan dan kaki kirinya. Ia memakai teknik yang sedikit berbeda dariku. Namun aku tidak mempermasalahkannya. Kemudian kepalanya menyusul. Kaki kanannya kemudian menyusul juga. Namun karena kurang hati-hari, kakinya tersebut menyentuh ranting yang digunakan sebagai penyangga. Alhasil kayu itu lepas dan membuat kawat-kawat itu kembali seperti semula. Namun aku dengan cepat menahan kawat-kawat itu. Tapi sepertinya aku terlambat. Kawat itu sudah terlanjut mengenai pundak depan Hinata. Darah mencucur dari pundak sebelah kanannya itu. Aku dengan cepat mengambil sapu tanganku dan mengelap darah itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.
"Aku tidak apa-apa. Aku memang ceroboh," jawabnya.
"Aku minta maaf ya. Karena aku, kau sampai terluka." Aku melihat luka itu. Lukanya tidak dalam, namun itu tipe jenis luka sayat yang panjang dan cukup lebar di tengah. Namun pendarahannya cukup cepat terhenti karena memang tidak terlalu dalam. Sapu tangan putihku kini dipenuhi darah Hinata. Aku memintanya untuk terus menahan sapu tangan itu di lukanya sementara aku mengambil kameranya.
Saat kutemukan, kamera itu sudah tidak dalam kondisi yang baik. Lensanya retak dan ada banyak bagian yang retak. Aku mengamankan media penyimpanan datanya. "Maaf Hinata. Kameramu rusak. Tapi semua fotonya aman." Aku memberikan memori itu pada Hinata.
Setelahnya, kami pun pulang. Diam-diam kami masuk ke kamar mandi untuk mengobati luka Hinata. Bahkan hingga makan malam, tak ada yang tahu kalau Hinata terluka. Kami berdua memutuskan untuk untuk merahasiakan luka itu karena takut akan dimarahi dan tidak diizinkan bermain lagi. Namun soal masalah kamera, kami memang memberi tahu. Tapi apa yang dikatakan ayah Hinata membuatku kagum. "Tidak apa-apa. Kamera itu bisa di beli lagi. Tapi kenangan dan nyawa tidak bisa dibeli. Jadi kalian berdua harus bersyukur sebab yang jatuh itu kameranya, bukan kalian."
Keesokan harinya, saat kuterbangun tiba-tiba saja ada sebuah kamera baru disampingku. Ada tulisan di sampingnya. "Untuk Naruto. Tolong abadikan banyak momen bersama Hinata dengan kamera yang baru ayah belikan itu. Dari Ayah."
Di hari itu, kedua keluarga kami memutuskan untuk benar-benar menikmati liburan. Di mulai dari berfoto bersama. Kami memakai kamera baru yang dibelikan ayahku untuk berfoto. Mulai dari sendiri hingga beramai-ramai. Penutup dari kegiatan berfoto ria itu adalah aku dan Hinata. Kami berdua dipaksa untuk difoto berdua. Yang mengambil gambar kala itu adalah kakekku. Hinata terlihat malu saat itu. Namun bagiku berfoto seperti ini sudah biasa. Tapi rasanya saat di minta bergandengan tangan, aku jadi merasa malu seperti Hinata.
Seharian ini kami habiskan waktu bersama keluarga kami. Kami mendengarkan cerita dari ayahku dan ayah Hinata tentang keluarga kami. Mendengar juga tentang rencana untuk pergi ke laguna indah milik keluargaku yang ada di bukit ini. Mendengar itu, Hinata merasa senang dan tak sabaran menunggu hari esok. Ia berkata padaku akan mengambil gambar sebanyak-banyaknya dengan kameraku.
Namun hari itu tidak pernah datang. Ayahku tiba-tiba mendapat panggilan mendadak. Ayah Hinata pun diminta ikut dengannya. Mau tidak mau rencana untuk pergi ke laguna itu pun di batalkan. Namun ada yang lebih membuatku sedih ketimbang batalnya rencana pergi ke laguna. Yaitu melihat wajah sedih dan kecewa Hinata. Rasanya saat itu aku ingin menghajar ayahku yang sering tidak konsisten dengan janjinya. Ini bukan pertama kalinya ayah melakukan hal seperti ini. Dulu saat ibu masih ada pun ia sering tidak konsisten dengan janjinya lantaran masalah pekerjaan yang lebih di dahulukan.
Sejak mendengar bahwa rencana untuk ke laguna itu dibatalkan, Hinata murung dan terus mengurung diri di dalam kamar. Bahkan ketika ayah kami pergi, ia tidak menampakkan batang hidungnya untuk sekedar melihat kepergian ayahnya. Melihat Hinata yang murung seperti itu membuat ibunya cemas. Dan Nenekku tidak tahan melihatnya sehingga ia menyuruhku untuk mendatangi Hinata di kamarnya. Karena aku merasakan hal yang sama, hanya aku yang mungkin bisa menghibur Hinata. Jadi aku memutuskan mendatangi kamarnya.
"Hinata. Boleh aku masuk?" ucapku seraya mengetuk pintunya.
Tak ada jawaban. Namun pintu tidak terkunci, jadi "aku buka ya?" Tanpa persetujuan dari Hinata, aku membuka pintu kamarnya. Sungguh terkejut kala aku melihat Hinata yang hanya memakai dalaman sedang duduk di pojokkan ruangan. Karena saat itu aku masih kecil, pikiranku tidak sekotor aku yang sekarang jadi melihat Hinata berpakaian seperti itu tidak mempengaruhiku. Lagi pula ia membelakangiku.
"Kenapa kamu masuk, Hiks!"
"Maaf. Aku tidak tahu kalau kau tidak memakai pakaian. Kalau kau mau aku keluar, aku akan keluar," ucapku seraya berbalik.
"Tidak. Tetap di sini, Naruto!"
"Baiklah." Aku mengambil bangku dan duduk di sana memperhatikan Hinata yang sama sekali tidak bergeming dari posisinya.
"Apa kamu kecewa?" pertanyaan itu tiba-tiba di ucapkan Hinata.
"Hah. Aku sudah sering mengalami hal seperti ini. Jadi aku sudah cukup terbiasa. Hanya saja melihatmu seperti ini membuatku sedih."
Perlahan ia melihat ke arahku. "Maaf kalau aku membuatmu ikut sedih."
"Tidak apa-apa. Kita adalah teman. Apa yang kau rasakan harus aku rasakan juga. Teman itu harus saling membantu dalam keadaan senang ataupun susah. Dan aku rela melakukan apapun untuk temanku yang berharga." Perkataan itu mungkin tidak mungkin diucapkan oleh anak berumur 6 tahun sepertiku. Tapi itulah yang kukatakan pada Hinata saat itu. Meskipun itu kukutip dari dialog sebuah film yang kutonton bersama ayahku di bioskop beberapa minggu yang lalu.
Hinata tersenyum senang. "Kau benar. Kita adalah teman." Perlahan ia berbalik. "Kau mau melakukan apa saja kan demi aku?"
"Iya. Itu pasti."
"Kalau begitu, ayo kita kabur ke laguna itu."
Aku tersentak mendengarnya. Kami berdua memang merasa kecewa, namun tidak kehilangan harapan. Masih ada harapan. Oleh karena itu, aku mengatakan, "Baik. Ayo ke sana."
Hinata berdiri dengan senang. Memelukku tanpa peduli dengan apa yang ia kenakan. Aku pun tak memedulikannya. Yang kupedulikan adalah air mata itu telah sirna. Diganti oleh kebahagiaan. "Terima kasih Naruto. Aku menyayangimu!"
Aku tersenyum mendengar kata itu. Rasanya senang sekali. "Aku juga menyayangimu, Hinata," batinku seraya mengelus kepala Hinata.
Setelah itu, kami pun mulai membuat rencana untuk ke laguna tersebut. Dengan berdasarkan petunjuk tentang letak laguna itu berdasarkan percakapan orang tua kami, kami pun memutuskan untuk pergi berudua. Dan berdasarkan rencana yang telah kami buat itu, setelah makan siang kami pun diam-diam pergi meninggalkan vila tanpa sepengetahuan siapapun.
Kupikir semuanya akan berjalan lancar. Nyatanya menuju ke sebuah tempat yang belum pernah dikunjungi dengan hanya berbekal percakapan mengenai lokasi tempat tersebut ternyata sangat susah. Terlebih bagi anak kecil seperti kami. Tanpa kami sadari, kami sudah salah arah sejak meninggalkan rumah. Dan saat kami sadar, kami sudah tersesat di dalam hutan. Dari sini, kami tidak bisa melihat adanya jalan raya ataupun pemukiman penduduk. Kami benar-benar tersesat di tengah hutan.
"Bagaimana ini, Naruto?"
"Tenang." Aku melihati puncak pohon di dekatku. "Mungkin jika aku memanjat pohon ini, aku bisa melihat dengan lebih baik." Aku mencoba menaiki pohon itu. Cukup sulit sebab kebanyakan pohon di sekitar kami tidak memiliki cabang yang rendah. Aku mencoba menaiki pohon dengan teknik peluk dan panjat. Tapi baru naik sekitar 1 meter, aku melorot dan kembali ke tanah. Ini adalah pertama kalinya aku memanjat pohon. Dan aku langsung mendapat ilham bahwa kau tidak akan langsung berhasil di percobaan pertama. Serta jika kau menaiki pohon dengan teknik seperti tadi dan melorot, maka sesuatu yang di bawah perutmu akan terkesek oleh batang pohon yang keras dan kasar. Aku langsung menyerah di percobaan pertama karena aku tidak ingin merasakan hal serupa lagi untuk kedua kalinya apabila dalam percobaan kedua ini aku gagal lagi.
Hinata cukup mengerti terlebih lagi ia memperhatikan rintihanku. "Kita jalan saja," ucap Hinata.
Aku mengangguk karena itu adalah pilihan terbaik. Kami berjalan mengikuti jalan yang menurut kami adalah jalan kembali. Tapi ternyata kami malah ke tempat yang salam sekali tidak pernah kami lihat.
"Ahh. Naruto. Di sana jalannya!" Hinata melihat jalan raya. Kami begitu bergembira dan berlari ke arah jalan itu tanpa memperhatikan jalan yang kami tapaki. Tanpa kami sadari, kami mendekati sebuah lereng yang sangat landai dengan jurang di dasarnya.
Saat itu aku memegangi tangan Hinata. Namun karena terlalu bersemangat, Hinata berlari mendahuluiku meski kecepatannya terhambat sebab aku menggandengnya. "Jangan buru-buru Hinata. Hati-ha—" Jurang itu tepat di hadapan kami. Tapi kami sama sekali tidak menyadarinya sebab terlalu fokus pada jalan raya. Hinata terjungkir di lereng itu sementara aku berusaha berpegangan pada rumput seraya menahan Hinata. "Bertahanlah, Hinata!"
Rumput yang kupegang semakin lama semakin tercabut. Akar-akarnya makin terlihat sementara aku berharap agar akar-akar itu cukup panjang sebelum benar-benar tercabut. Namun apa yang kuharapkan tidak pernah terkabul. Akar rumput itu jauh lebih pendek dari apa yang kukira. Alhasil, aku pun ikut jatuh bersama Hinata. Kami terguling-guling di lereng itu. Namun aku berusaha meraih tubuh Hinata dan memeluk erat tubuhnya untuk melindunginya.
Semua itu berakhir dengan luka berat yang kualami. Bahkan sampai-sampai aku kehilangan ingatan tentang liburan ini, dan terkhusus aku melupakan semua tentang Hinata—Teman berhargaku yang pertama.
[]=[]=[]
Matahari telah terbit. Naruto terbangun setelah cahaya matahari yang masuk dari jendela kamarnya mengenai matanya. Hal pertama yang dilihat oleh Naruto ialah Hinata yang tertidur dengan posisi di mata ia duduk di kursi sementara wajahnya ia benamkan di kasur. Naruto menyingkirkan kain basah yang ada di dahiku dan melihat jam. "Sudah jam 9 ternyata. Huft. Sudah terlambat." Ia meletakan kain basah itu ke dalam sebuah baskom berisi air lalu mengelus rambut Hinata. "Kau pasti kelelahan merawatku semalam. Gara-gara aku kau terlambat ke sekolah."
Semakin Naruto melihati Hinata, rasanya ia semakin menyesal. Bagaimana bisa ia melupakan orang yang sangat berharga baginya saat itu. Ia pun marah pada dirinya sebab tidak bisa melindungi Hinata. Jika ia berhati-hari dan benar-benar melindungi Hinata, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Tanpa ia sadari, air mata mulai menitik dari matanya dan jatuh tepat di wajah Hinata.
Tetesan air mata itu membangunkan Hinata. Ia cukup terkejut kala melihat Naruto menangis di hadapannya. "K-Kau kenapa, Naruto?"
Melesat bagaikan angin. Naruto langsung memeluk Hinata, membuat gadis yang baru bangun itu semakin terkejut. Tangis Naruto pecah setelahnya diikuti kata-kata permintaan maaf dari Naruto.
"Maaf Maaf Maaf Maaf! Maaf aku melupakanmu! Maaf selama ini aku tidak mengingatmu! Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik! Maaf telah membuatmu terluka! Maaf Maaf Maaf!"
Hinata menyadari bahwa perkataan Shizune semalam benar. Kemungkinan ingatan Naruto akan benar-benar pulih. Apa yang ia rasakan saat ini cukup bercampur aduk antara senang, bahagia, dan perasaan sedih Naruto. Tangisnya pun ikut pecah. Namun tidak diketahui apakah itu adalah tangisan sedih atau bahagia atau terpengaruh oleh perasaan Naruto saat ini. Namun ia sendiri tidak peduli sebab tangisannya ini adalah penanda bahwa perasaannya benar-benar terhubung dengan Naruto. Ia tidak tahu ingin mengatakan apa untuk menanggapi permintaan maaf Naruto itu. Jadi yang bisa ia lakukan saat ini adalah menangis dan melampiaskan semua perasaannya di setiap tetes air mata. Mereka berdua benar-benar larut dalam tangis yang memenuhi kamar Naruto.
Dibalik pintu, seseorang yang mengintip pun ternyata tidak bisa menahan air matanya. Dalam senyap, Tsunade juga menitikkan air mata dan perlahan-lahan berjalan meninggalkan mereka.
[]=[]=[]
Ruang makan siang itu dipenuhi suara dentingan piring dan sendok menandakan ada aktivitas makan siang di sana. Tsunade, Naruto, dan Hinata berkumpul di sana untuk makan siang bersama. Tak ada pembicaraan karena ketiganya hanya fokus untuk menghabiskan makanan mereka.
Setelah puas melampiaskan semua perasaan sedih, senang, dan bahkan penyesalannya pada Hinata, mereka berdua pun bercerita mengenai liburan musim panas itu. Namun setelah satu jam bercerita, rasa lapar mulai menggerogoti perut keduanya. Di sinilah mereka berakhir sekarang. Di dapur dengan meja yang dipenuhi berbagai makanan mewah buatan chef keluarga Uzumaki.
Satu persatu dari mereka menyudahi makan. Dan ketika gelas yang dipakai minum Naruto diletakkan kembali ke atas meja, Tsunade mulai bertanya. "Bagaimana perasaanmu sekarang, Naruto. Sudah lebih baik?"
"Bisa dikatakan ya dan juga tidak. Kepalaku masih sering sakit. Tapi sekarang aku sudah tidak merasakan adanya kejanggalan lagi di kepalaku. Mungkin karena aku sudah mengingat dengan jelas siapa Hinata sebenarnya."
"Baguslah kalau begitu. Kau hanya perlu meminum obat yang dikasih dokter hingga sakit kepalamu benar-benar hilang. Nenek sudah mengirim surat permohonan izin sakit ke wali kelasmu." Tiba-tiba ia melihat ke arah Hinata. "Dan Hinata. Nenek harus meminta maaf padamu juga sebab karena merawat Naruto, kau sampai kesiangan. Nenek sebenarnya ingin membangunkanmu. Tapi kau terlihat sangat kelelahan. Jadi nenek rasa sebaiknya kau istirahat saja."
"Ahh. Tidak apa-apa." Namun kala itu wajah Hinata menampakkan adanya sebuah kekhawatiran. Melihatnya, Tsunade pun menanyakannya.
"Kau kenapa? Apa kau khawatir tentang absenmu? Jangan khawatir. Nenek sudah menyuruh 'pamanmu' untuk membuat surat. Alasannya kali ini nenek minta untuk lebih variatif. Nenek tidak mau kau dicap sebagai siswi yang sakit-sakitan karena sering izin. Jadi kali ini alasannya karena ada urusan keluarga keluar kota."
"Ehh, benarkah?" Dan tiba-tiba saja wajah Hinata bertambah khawatir.
"Ada apa? Kau terlihat lebih gelisah dari sebelumnya, Hinata?"
"Anu. Eto... Sebenarnya hari ini aku sudah janji dengan Sakura kalau akan mengajarinya memasak sepulang sekolah."
Tsunade tersentak dan segera berdiri. "Serius?" Sejenak ia melihat wajah Hinata yang tidak menunjukkan adanya keraguan dalam perkataannya. "Nenek minta maaf. Kalau tahu begitu, nenek tidak akan meminta Hayate menulis alasan seperti itu." Tsunade berkata seperti itu seraya mendekati Hinata karena merasa sangat bersalah.
"Tidak apa-apa nek. Lagi pula aku juga salah karena tidak memberitahukan hal ini pada nenek."
"Kau sebenarnya tidak perlu mengatakan janjimu itu kepada nenek. Kau terlalu berlebihan. Terima saja kalau nenek benar-benar salah," ucap Naruto yang langsung mendapat perhatian kedua orang di sekitarnya itu.
"Hoho. Kau menantang nenek ya, Naruto?!" Tsunade mengepal tangannya di depan dada seraya membunyikan jari-jemarinya tanda mengancam.
"Ehhh. Bukan. Bukan itu maksudku nek." Naruto berusaha menghentikan langkah kaki Tsunade yang makin mendekatinya dengan melebarkan kedua telapak tangannya dan diarahkan pada Tsunade.
Sambil menundukkan kepalanya, Hinata berkata "aku tidak peduli meski nenek yang salah. Tapi aku sangat ingin menepati janji itu. Apa aku boleh menemui Sakura sepulang sekolah nanti, nek?"
Langkah kaki Tsunade yang hendak mendekati Naruto tiba-tiba berhenti. Perhatiannya tertuju pada Hinata yang bertanya padanya. "Ah. Boleh. Tentu saja boleh. Janji itu sudah seharusnya ditepati. Kau bisa minta Hayate untuk mengantarmu nanti. Siang ini sebaiknya kau istirahat."
"Baik. Terima kasih, nek."
"Benar juga. Aku juga akan beristirahat setelah meminum obat," ucap Naruto.
"Aha! Kenapa kalian berdua tidak beristirahat bersama saja?"
"He?"
"Ha?"
Kedua orang itu terkejut setengah mati. Tidak heran juga jika samar-samar wajah mereka berdua memerah. Kedua hampir tak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi perkataan Tsunade dengan senyuman yang entah kenapa terasa ada unsur licik tersebut.
"Eto..." Hinata melihat ke arah Naruto karena tak mampu hendak menjawab seperti apa.
Dilain sisi, Naruto pun melihat ke arah Hinata. Dan ketika sadar bahwa mereka berdua saling bertatapan, dengan cepat keduanya membuang muka. Semakin merahlah wajah keduanya.
"Ayolah. Bukankah itu juga tugas kalian untuk saling menemani?"
"Tugas?" Dari nada yang dikeluarkan Naruto, ia seperti bingung namun di saat bersamaan memikirkan hal yang lain. "Benar. Ya tugas. Haha,"
"Heeee!" Suara Hinata itu terdengar seperti orang yang ketakutan.
"Aku harus menyelesaikan tugasku semalam yang sempat tertunda. Jadi aku belum bisa beristirahat." Perlahan Naruto melangkah mundur. Ketika merasa jaraknya dengan Tsunade dan Hinata sudah cukup jauh, ia berbalik dan berlari keluar ruang makan. Hanya saja ketika berbelok ia salah mengambil jalan sehingga ia harus kembali dan mengambil jalan yang lain.
Di satu sisi, Hinata merasa lega. Namun perasaan leganya itu tidak bertahan lama sebab ia merasa seperti ada sebuah kesempatan yang tersia-siakan. Ketika ia berbalik, ia mendapati senyum licik Tsunade yang membuatnya kaget.
"Oh. Ternyata gagal. Ya sudahlah. Tapi lain kali, nenek berjanji akan membuat kalian tidur bersama."
Ketakutan mulai menjulur di sekujur tubuh Hinata. Ia merasa merinding mendengarnya. "N-Nek. Aku pamit ke-ke ke kamarku dulu." Ia berjalan dengan canggung keluar ruang makan.
"Hihihi!" suara yang ia dengar dari arah Tsunade itu pun membuat bulu kuduknya berdiri. Suaranya terdengar seperti ia akan melakukan apa saja agar tujuannya bisa direalisasikan. Namun perlahan dan pasti Hinata telah meninggalkan dapur.
"Oh, ngomong-ngomong sial janji. Sepertinya sudah 2 janji telah kami tepati, Minato. Memang cukup berat. Bahkan aku dan Jiraiya sampai harus menempuh cara yang mungkin saja kau dan Kushina tidak inginkan. Tapi kami tetap menetapi janji. Semoga kau tidak mempermasalahkannya," batin Tsunade.
[]=[Bersambung[]=[]
[]
[]
Author Note
Hmmm...? Saya tidak tahu harus bicara apa.
Mungkin aku akan mengatakan ini saja.
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Minal 'Aidin wal Faizin
Jika saya punya salah entah itu tanpa sengaja menyakiti hati kalian melewati tulisan ini, atau menyakiti mata kalian atau entah itu karena review kalian tidak saya balas atau bahkan apabila saya salah dalam menulis nama atau kata, saya mohon maaf lahir dan batin.
Tetap dukung fanfiction ini. Jangan sungkan dan ragu untuk menuliskan kritik, saran, atau pendapat. Sesungguhnya hal-hal itulah yang bisa membuat saya semakin berkembang.
[]=[Tambahan]=[]
Di sebuah ruangan dengan cahaya yang remang-remang dan terdapat sebuah meja yang lebar, duduk beberapa orang yang sedang mendiskusikan sesuatu yang amat sangat rahasia. Cahaya remang-remang inilah yang menjadi bukti bahwa ada beberapa orang yang wajahnya tidak ingin dilihat dengan baik oleh seluruh peserta rapat di tempat itu.
"Rencanaku telah siap diluncurkan, bos. Kartu 'as' kita sudah mulai bosan dengan keadaan saat ini. Ia ingin segera beraksi. Aku hanya perlu persetujuan Anda."
"Tahan sebentar lagi. Kita masih belum tahu apa yang direncanakan para polisi. Selain itu kau harus mewaspadai ajudan lainnya. Mereka mungkin terlihat hanya mengerjakan hal-hal sepele yang berkaitan dengan Perusahaan Uzumaki Enterprise. Mereka terlihat seperti ajudan biasa. Tapi hampir dari mereka semua adalah mantan berandalan yang begitu setia pada kepala keluarga Uzumaki. Salah langkah saja, kartu 'as' itu tidak akan bisa bergerak dan akan terancam."
"Aku berbicara pada bos. Kenapa kau yang menjawab?"
"Itu benar. Apa yang ia katakan itu sangat tepat. Kita perlu mempelajari situasi lebih dalam lagi. Susupkan mata-mata kita ke kepolisian. Minta kartu 'as' kita untuk lebih bersabar dan berhati-hati dalam bertindak. Masih belum terlambat untuk merebut paksa perusahaan itu. Selama surat perjanjian itu masih ada di pemerintahan, maka perusahaan tersebut akan sangat mudah kita ambil dengan hanya mengorbankan satu atau dua orang anggota keluarga Uzumaki."
"Baik. Akan saya laksanakan."
Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruang rapat itu. "Tempat ini suram seperti biasanya," ucap orang itu.
"W-Walikota!" beberapa orang yang duduk di ruang rapat itu langsung berdiri. Namun seorang dari peserta rapat yang dipanggil bos itu hanya duduk sambil memangku kaki. "Tidak biasanya Anda mengunjungi kami, pak Walikota."
"Aku hanya ingin melihat kemajuan kalian karena sampai sekarang, tak ada kabar dari kalian. Apa kalian benar-benar melakukan tugas itu dengan baik?"
"Rencana kami memang memerlukan waktu. Tapi tingkat keberhasilannya sangat tinggi jika tidak ada kendala."
"Baguslah. Saya harap kalian bisa menyelesaikan tugas itu sebelum aku turun jabatan."
"Tentu saja. Kalau Anda turun jabatan sebelum kami membuat perusahaan itu jatuh ke tangan pemerintahan, Anda tidak akan bisa menjadikanku direktur yang memimpin perusahaan itu atas nama pemerintahan Konoha."
"Pastikan kalian berhasil menjatuhkan perusahaan itu ke tangan pemerintah. Ketika turun jabatan nanti, saya bisa pensiun dan mulai menikmati kehidupan tanpa perlu takut kehabisan uang." Walikota itu berbalik. "Jatahku adalah 30%. Ingat itu." Ia pun meninggalkan ruangan itu.
"Aku akan ingat, pak walikota." Senyum yang tampak dari wajah si bos itu tampak seperti merendahkan. "Demi mewujudkan rencana organisasi kami yang memerlukan banyak uang, akan kulakukan segala cara. Perusahaan Uzumaki Enterprise dan pemerintahan memang batu loncatan yang sangat bagus." Ia melihat sebuah foto yang terpajang di dinding. Itu adalah foto Naruto di hari pelantikannya. Tiba-tiba saja sebuah pisau menancap di foto tersebut. "Sayangnya ada sebuah penghalang yang menghalangi kami mencapai batu loncatan itu. Harus segera kusingkirkan."
