Warn! Spoiler kemarin sangatlah tidak berguna.

.

.

.

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

.

.

.

Donghyuck hanya mengaduk-aduk makanannya dengan malas sambil memandangi Chenle dan Jisung yang terus saja beradu mulut tidak mau berhenti. Pagi-pagi sekali di hari minggu santainya, Donghyuck harus rela mengawasi dua bocah kelebihan energi yang tiba-tiba saja datang menginvansi rumahnya.

"Hei tampang orang miskin, jangan melotot padaku seperti itu!." Ucap Chenle sambil menunjuk-nunjuk wajah Jisung menggunakan sumpit.

Jisung mendecih dan memicingkan matanya tak suka, "Kau ini suka sekali ya mencari perhatianku?, Siapa yang melototimu huh?! Ah, jangan-jangan kau suka padaku ya?!."

Chenle tertawa sinis mendengar perkataan Jisung yang menurutnya sangat tidak logis dan tidak masuk di akal, "Hahaha, kau bercanda? Kau bahkan tidak ada tampan-tampannya!."

"Matamu sudah tidak berfungsi lagi atau bagaimana?, Kau tidak lihat wajahku yang sangat sempurna ini?." Balas Jisung sambil memajukan wajahnya ke arah Chenle.

"Sempurna pantatmu!, Bahkan Renjun hyung dua puluh kali lebih tampan darimu!." Cibir Chenle.

Jisung mendelik tidak terima mendengar perkataan Chenle yang terdengar sangat meremehkan wajah tampannya itu, "Kau! -"

Tanggg!!

Donghyuck membanting sumpitnya dan menatap garang pada dua orang bocah di depannya, hal itu sontak membuat keduanya langsung terdiam. "Kenapa berhenti?." Tanya Donghyuck kepada Jisung dan Chenle.

Jisung dan Chenle menengguk ludahnya kasar melihat tampang garang Donghyuck. "Lanjutkan saja bertengkarnya, atau mau aku ambilkan samurai dan pedang milik Ayahku? Sekalian saja kalian saling membunuh satu sama lain, daripada berdebat tidak jelas seperti itu."

Chenle tertawa kaku mendengar perkataan Donghyuck, "Maafkan kami hyung."

"Aku tidak salah hyung! Dia saja yang terus mencari perhatian padaku!." Protes Jisung tidak terima.

Mata Chenle berkedut jengkel mendengar ucapan Jisung yang malah menyalahkannya, "Aku? Mencari perhatianmu?! Kenapa aku harus mencari perhatian kepada orang bertampang miskin sepertimu huh?! Dasar halu!."

"Sudahlah jangan mengelak. Tapi maaf ya, aku tidak suka dengan orang yang berbadan gepeng sepertimu!. Seleraku seperti Donghyuck hyung!."

"Woah, lihat manusia bertampang miskin satu ini, berbicara seakan-akan dia itu kembaran Jo Jong Suk saja. Kau pikir orang seperti Donghyuck hyung mau dengan gembel sepertimu?!."

"Gembel kau bilang?!."

"Iya! Dasar gembel!."

Donghyuck memijat sendiri kepalanya yang berdenyut pening mendengar lontaran kata-kata pedas dari Chenle dan Jisung yang tidak mau berhenti.

"Hei, hei, kenapa aku merasakan aura hitam menyelubungi rumah ini?. Yak! Jisung! Jangan sentuh adikku!."

Donghyuck semakin menekuk wajahnya setelah melihat ada 2 mahluk selundupan lagi yang datang menerobos tanpa permisi kerumahnya pagi ini.

"Hei Hyuck, apa kabar?." Jaemin mendudukkan dirinya disamping Donghyuck yang sedang menatap jengkel ke arah Jisung, Chenle dan Renjun.

"Kabarku sangat buruk. Hari minggu-ku yang sakral telah ternodai oleh datangnya para penghuni neraka." Balas Donghyuck sambil memandang jengah ke arah Renjun yang sekarang tengah mencekik Jisung dengan Chenle yang tertawa-tawa bahagia di belakangnya.

"Kau tidak menghabiskan sarapanmu?."

"Sudah tidak selera, sekarang aku malah ingin makan sup rumput laut."

Jaemin mengerutkan dahinya bingung, "Sup rumput laut?."

Donghyuck menganggukan kepalanya singkat, "Iya, dan memakan buah jeruk sepertinya segar."

Donghyuck menolehkan wajahnya ke arah Jaemin dan memasang ekspresi semelas mungkin, "Jaemin-ah, buatkan aku sup rumput laut ya?."

"Hah?."

"Iya, buatkan aku sup rumput laut ya, aku sedang ingin makan itu." Ucap Donghyuck sambil mencebikkan bibirnya, membuat Jaemin yang duduk di sebelahnya semakin dibuat keheranan.

"Kenapa tiba-tiba ingin makan itu? Bahkan saat kau ulang tahun saja kau tidak mau memakannya?."

Donghyuck menghendikkan bahunya, "Ntahlah, tiba-tiba aku hanya ingin saja."

Jaemin terdiam sesaat memikirkan perkataan Donghyuck. Tiba-tiba ia membulatkan matanya dan membekap mulutnya sendiri sambil menatap Donghyuck dengan pandangan tidak percaya. "Donghyuck?! Kau hamil?!." Seru Jaemin keras, membuat Renjun, Jisung, dan Chenle yang masih asik menyiksa satu sama lain menghentikan kegiatannya dan menoleh kaget ke arah Jaemin dan Donghyuck.

"Kau hamil Hyuck?!." Renjun langsung berlari menghampiri Donghyuck dan Jaemin yang berada di meja makan.

"Apa, Aku-" Donghyuck bingung harus berkata apa. Ia sudah terlanjur ngeri dengan tatapan tajam yang diarahkan oleh Renjun, Jaemin, Chenle dan Jisung kepadanya.

"Donghyuck hyung kau hamil?." Tanya Chenle dan Jisung bersamaan.

"Siapa yang hamil?." Donghyuck langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu. Disana telah berdiri Ayah dan Ibunya yang baru saja pulang dari kegiatan Jogging minggunya.

"Siapa yang hamil?." Ulang Ten untuk kedua kalinya.

Jaemin, Renjun, Jisung dan Chenle reflek menunjuk ke arah Donghyuck, membuat Johnny dan Ten langsung memasang ekspresi kaget. "Donghyuck?! Kau hamil?!." Pekik Ten histeris.

Johnny hanya berdiri linglung sambil menatap wajah panik Donghyuck. "Ada apa ini sebenarnya?."

"Donghyuck hyung hamil paman!!." Sahut Jisung.

"Kau?-" Johnny menunjuk ke arah Donghyuck dengan telunjuknya, "-hamil?."

"Tidak Ayah!!. Aku tidak hamil!." Sergah Donghyuck. Ada apa sih ini sebenarnya?! Kenapa dia jadi disangka hamil seperti ini.

"Bohong!!." Seru Renjun dan Jaemin bersamaan.

"Kalian berdua apa-apaan sih?!." Donghyuck mendelik marah ke arah dua sahabatnya yang kini malah menuduhnya macam-macam.

"Donghyuck?! Memang waktu itu kau dan Mark tidak pakai pengaman?!." Tanya Ten.

Donghyuck langsung memandang horor ke arah Ibunya yang baru saja membongkar rahasianya di depan Ayahnya. "Ibu!."

"Apa maksudmu Ten?." Tanya Johnny kepada Istrinya raut wajah kebingungan.

"Anak kita itu sudah di bobol!." Ucap Ten sambil menunjuk-nunjuk Donghyuck dengan telunjuknya.

"Sebentar-sebentar." Ucap Chenle membuat semua orang menatapnya dengan raut bertanya-tanya.

"Kalau Donghyuck hyung hamil, siapa Ayahnya?."

"Ayahnya Donghyuck kan paman Johnny, bagaimana sih?!." Sahut Jisung.

"Maksudku Ayah anak dari bayi yang Donghyuck hyung kandung!." Ucap Chenle sambil memukul kepala Jisung dengan cangkir.

Donghyuck menarik-narik rambutnya frustasi, "Aku tidak hamil!. Astaga!!."

"Tadi kau bilang tiba-tiba ingin makan sup rumput laut, lalu kau juga ingin makan buah jeruk. Sudah jelas! Itu namanya mengidam!!." Seru Jaemin.

"Donghyuck? Benar kau hamil?."

Donghyuck menatap wajah Ayahnya yang terlihat sangat kecewa. Astaga kenapa jadi begini. Ia hamil saja tidak!.

"Tidak Ayah! Aku mana mungkin hamil!." Elak Donghyuck.

"Tapi kau dan Mark pernah melakukannya!." Sahut Ten.

Donghyuck mendelik ke arah Ibunya yang malah semakin memperburuk suasana, "Ibu! Diam dulu!."

"Apa?! Kau menyuruh Ibu diam?!. Renjun, cepat telpon Mark!."

Renjun menganggukan kepalanya lalu merebut ponsel Donghyuck untuk menghubungi Mark.

"Apa-apaan sih kalian?! Aku tidak hamil!." Seru Donghyuck murka.

Jaemin membekap mulut Donghyuck menggunakan tangannya agar Donghyuck berhenti menjerit. "Sssstt diam saja Hyuck!."

Donghyuck langsung menggigit telapak tangan Jaemin yang membekap mulutnya dengan kuat, membuat Jaemin memekik kesakitan, "Sakit Hyuck!."

Donghyuck berjalan ke arah Renjun yang baru saja menelpon Mark, "Halo Mark Sunbae-"

"Apa-apaan sih kau ini?!." Donghyuck merebut ponselnya yang sudah tersambung dengan Mark dari tangan Renjun.

"Aku tidak hamil!." Seru Donghyuck frustasi.

Ten mengibaskan tangannya pelan, mengabaikan teriakan anaknya, "Sudah positif kau itu hamil!."

"Ibu!."

"Apa?!" Ten melotot ke arah Donghyuck yang kini tengah memasang wajah kesal padanya. "Lagipula aku memang sudah menginginkan cucu. " Ucap Ten sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.

"Apa maksudmu Ten?!." Tanya Johnny.

Ten mendengus mendengar suaminya yang sedari tadi tidak paham situasi, "Kau ini dari tadi bertanya apa maksudnya terus! Begitu saja tidak paham. Donghyuck hamil!."

"Apa?!." Pekik Johnny tidak percaya.

"Paman Johnny jangan marah!." Renjun segera beringsut mendekati Johnny dan langsung memeluknya dengan erat.

Johnny yang sedari tadi terus memasang ekspresi bingung entah kenapa membuat Ten menjadi emosi, "Kenapa kau tiba-tiba jadi bodoh seperti ini sih?!."

"Ayah dengarkan aku! Aku tidak hamil Ayah!."

"Kau diam!." Ten menatap Donghyuck dengan garang.

"Ibu!."

Tiba-tiba terdengar suara bel yang di tekan secara membabi buta. Ten menggeram sebal sambil berjalan ke arah pintu, "Iya Sebentar!." Teriak Ten.

Ten membukakan pintu dan langsung terlonjak kaget saat sang tamu langsung berteriak di depan wajahnya, "Ibu mertua! Apa benar Donghyuck hamil?!."

"Mark?!.".

Melihat Ten yang tidak menjawab pertanyaannya dan malah terdiam sambil memasang ekspresi bingung membuat Mark langsung menggeser tubuh Ten yang tengah berdiri menghalangi pintu. Mark langsung menerobos masuk kedalam rumah. Ia berjalan dengan cepat ke arah Donghyuck dan langsung menodongnya dengan pertanyaan, "Sayang?! Kau hamil?!." Tanya Mark sambil menangkup kedua sisi wajah Donghyuck.

Semua orang yang ada disana hanya melongo kaget melihat kedatangan Mark yang tiba-tiba, begitu juga dengan Donghyuck. "Hyung?! Kenapa kau kemari?!."

"Aku sudah mendengar semuanya!. Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau hamil?!." Sembur Mark murka.

Donghyuck memasang ekspresi bingung mendengar perkataan Mark barusan, "Kau mendengar apa hyung?."

Mark menghembuskan nafas kasar lalu merampas ponsel Donghyuck yang sedari tadi Donghyuck genggam, "Lihat ini! Masih tersambung dengan ponselku!." Mark menyodorkan layar ponsel Donghyuck ke depan wajahnya. Ternyata sedari tadi, panggilan Renjun masih tersambung.

"Hyung-" Belum sempat Donghyuck menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah lebih dahulu di tarik kebelakan oleh Jaemin, "Jangan kasar dengan Donghyuck-ku!."

Mark tertawa sinis, "Kau selalu saja cari gara-gara denganku. Kau minta dihajar ya?."

"Aku tidak. " Balas Jaemin.

"Kau iya! Dan apa-apaan itu?! Donghyuck-ku? Jangan mimpi di pagi hari seperti ini!."

Johnny mendudukan dirinya di sofa sambil memijat pelan keningnya, "Aku bisa mati muda. "

Ten ikut mendudukan dirinya di samping Johnny, "Jangan mati dulu, aku tidak mau menjadi janda. " Ucap Ten sambil memijat lengan Johnny.

"Dia siapa hyung?." Chenle mengernyit heran saat melihat ada sosok asing yang tak pernah ia lihat menerobos masuk se-enaknya di rumah Donghyuck.

Mark langsung menolehkan pandangannya ke arah Chenle dan menatapnya dengan tajam, "Kau siapa?."

"Aku? Aku calon adik iparnya Donghyuck hyung. Kau sendiri siapa?."

Mark mengerutkan dahinya kaget, anak itu bukan adiknya, kenapa Donghyuck bisa jadi calon kakak iparnya!. "Apa maksudmu?!."

"Kau bodoh ya?. Donghyuck hyung kan nanti akan menikah dengan hyungku." Balas Chenle sinis.

Donghyuck, Jisung dan Renjun memanatap horor ke arah Mark yang kini tengah memahan emosi, "Apa kau bilang?!" Mark berteriak marah membuat Donghyuck langsung membekap mulut Mark menggunakan tangannya.

"Chenle! Diam dulu!." Jisung menarik Chenle agar mendekat padanya, "Jangan cari gara-gara denga orang itu! Dia itu kekasih Donghyuck hyung!." Bisik Jisung.

Chenle melotot kaget mendengar perkataan Jisung. Ia langsung meneliti penampilan Mark dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Wajahnya tampan, tubuhnya lumayan tinggi, tapi tingkahnya sungguh ew." Komentar Chenle.

Mark melepaskan bekapan tangan Donghyuck dari mulutnya, "Ayah mertua?! Jadi alasanmu menolak lamaranku karna Donghyuck akan menikah dengan orang lain?!." Sembur Mark sambil menatap Johnny yang tengah memijat kepalanya yang terasa pening dengan nyalang.

"Kau apa-apaan sih hyung?!."

"Kau juga! Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau hamil?! Kau sudah tidak mencintaiku lagi?!." Ucap Mark sambil menunjuk-nunjuk Donghyuck.

Donghyuck melotot marah mendengar ucapan Mark. "Aku tidak hamil hyung!."

"Bohong!!!."

Johnny tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya lalu menarik Jaemin, Renjun, Jisung dan Chenle agar keluar dari rumahnya, "Kalian pulanglah dulu, paman harus menyelesaikan bocah gila yang sedang lepas kendali itu." Ucap Johnny yang hanya dibalas anggukan oleh Renjun, Jaemin, Jisung dan Chenle.

Setelah mengusir halus Jaemin, Renjun, Jisung dan Chenle, Johnny menatap Mark dan Donghyuck secara bergantian, "Kalian berdua!." Panggil Johnny, "Duduk!."

Mark dan Donghyuck langsung mengikuti perintah Johnny, "Ayah mertua! -"

"Kau diam dulu Mark. " Potong Johnny cepat, membuat Mark mencebikkan bibirnya kesal.

"Jadi jelaskan semuanya padaku dari awal. Ten-" Johnny tiba-tiba menolehkan wajahnya kesamping membuat Ten yang duduk disebelahnya terlonjak kaget. "I-iya sayang?."

"Apa maksudmu dengan Donghyuck sudah melakukannya dengan Mark tadi? Melakukan apa?." Tanya Johnny kepada Istrinya.

Ten melirik sebentar ke arah Donghyuck yang tengah menatapnya sambil memasang ekspresi semelas mungkin, "Masa begitu saja kau tidak paham sih?." Jawab Ten.

Johnny mendengus mendengar jawaban dari Istrinya, "Kalau aku paham aku tidak akan bertanya!." Sungut Johnny kesal.

"Seks." Balas Ten santai.

Donghyuck dan Mark langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Ten yang sangat blak-blak an dan kelewat santai seperti itu. Sedangkan Johnny melotot tidak percaya, "Kau bercanda?." Tanya Johnny.

"Tentu saja tidak!. Maka dari itu aku yakin anak itu hamil. Iya kan Hyuck?! Mengaku sama Ibu!."

"Ibu! Aku tidak hamil!." Elak Donghyuck.

Johnny memegangi tengkuknya yang terasa kebas, "Astaga, kalian sudah-"

"Iya Ayah, maka dari itu izinkan aku menikah dengan Donghyuck ya!." Sahut Mark.

"Apa-apaan sih hyung?!." Donghyuck mendelik marah kepada Mark yang masih bisa-bisanya menegosiasikan tentang pernikahan di saat seperti ini.

Ten menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Mark, "Iya sayang, sudah nikahkan saja Donghyuck dengan Mark. Memangnya kenapa sih? Donghyuck kan akan tetap tinggal di bumi, Mark tidak akan membawanya ke planet lain!."

"Iya Ibu mertua. Meskipun aku kaya, aku akan tetap tinggal di bumi dengan Donghyuck!."

Donghyuck mengusap wajahnya frustasi, ia melirik ke arah Ayahnya yang sedang memukul-mukul tengkuknya sendiri sambil bergumam jika ia akan cepat mati muda.

"Ayah, " Panggil Donghyuck pelan.

Johnny menghembuskan nafas berat lalu menatap Mark dengan tajam, "Baiklah Mark, segera telpon orang tuamu untuk kembali ke korea. Kita akan membicarakan pernikahan. "

Donghyuck melotot tidak percaya mendengar perkataan Ayahnya, "Ayah?!."

Johnny mengabaikan teriakan Donghyuck dan malah mengalihkan perhatiannya ke Mark yang tidak menjawab perkataannya. Johnny menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Mark yang tengah menatapnya dengan ekspresi kaget, senang, haru, dan tidak percaya.

"Mark, kau dengar aku?."

Mark menganggukan kepalanya lalu bangkit dan menghambur ke dalam pelukan Johnny, "Ayah!! Kau yang terbaik!! Astaga aku mencintaimu Ayah mertua!." Ucap Mark sambil memeluk Johnny dengan erat.

"Iya-iya. Sekarang lepaskan." Johnny mendorong tubuh Mark agar menjauh dari tubuhnya.

"Ayah?! Yang benar saja! Aku tidak hamil! " Protes Donghyuck tidak terima.

"Sudahlah, sudah positif kau itu hamil." Sahut Ten sambil mengibaskan tangannya pelan.

"Ibu jangan sok tahu!." Seru Donghyuck kesal.

"Sayang tidak boleh membentak Ibumu seperti itu!." Mark kembali mendudukan dirinya disamping Donghyuck dan mengelus-elus pungguk Donghyuck pelan bermaksud menenangkan.

"Lepaskan aku!." Donghyuck mendelik marah kepada Mark dan langsung membuat Mark menggeser duduknya sedikit menjauh. "Aku bersumpah Ayah aku tidak hamil. "

"Lalu apakah itu mengubah fakta tentang kau dan Mark yang telah melakukan seks? Tidak kan?." Balas Johnny.

Donghyuck terdiam seketika mendengar balasan dari Ayahnya. Ayahnya benar, meskipun dia tidak hamil, tapi ia dan Mark pernah melakukan itu.

"Tapi Ayah-"

"Sudah sayang, terima saja. Kau dan aku akan menikah!." Seru Mark antusias.

Johnny menggelengkan kepalanya pelan lalu beranjak dari tempat duduknya. "Aku harus tidur, kepalaku sakit." Gumam Johnny sambil berjalan menuju kamarnya.

Ten yang melihat suaminya pergi langsung ikut bangkit mengikutinya, meninggalkan Mark dan Donghyuck berdua saja.

"Kenapa kau masih disini? Pulang sana! Kau terlihat seperti gembel." Ucap Donghyuck ketus.

Donghyuck serius saat mengatakan Mark terlihat seperti gembel. Ayolah, penampilan Mark saat ini sangatlah mengenaskan. Ia hanya memakan kaos putih polos dengan celana tidur warna hitam bermotif polkadot. Jangan lupakan juga rambutnya yang mencuat kesana kemari.

"Tentu saja aku terlihat seperti gembel! Aku masih tidur saat kau menelponku tadi!." Sungut Mark.

"Bukan aku yang menelpon! Tapi Renjun!." Balas Donghyuck. "Bahkan aku berani bertaruh kau belum cuci muka!."

Mark mendusalkan wajahnya ke leher Donghyuck dan bergelayut manja, "Tidak masalah, kau kan suka aku apa adanya. " Ucap Mark narsis.

Donghyuck menatap tak suka ke arah Mark lalu mendorong tubuh Mark sekuat tenaga. "Pulang sana!. " Usir Donghyuck.

"Hiss kau ini! Aku rindu tahu!."

"Rindu kepalamu! Aku malah muak melihat wajahmu terus!."

Mark mengerucutkan bibirnya kesal mendengar perkataan Donghyuck. "Yasudah! Aku pulang!." Mark berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya, membuat Donghyuck yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.

Mark berhenti di depan pintu lalu berbalik menghadap Donghyuck, "Apalagi?." Tanya Donghyuck keheranan saat melihat Mark tidak jadi pergi dari rumahnya dan malah berdiri di depan pintu sambil memasang raut sebal.

"Kau tidak mau menciumku?."

Donghyuck memutar bola matanya malas lalu berjalan menghampiri Mark.

"Cepat pulang sana!." Ucap Donghyuck sambil mengecup bibir Mark singkat.

"Kurang!."

Donghyuck langsung menarik wajah Mark dan mengecupinya berkali-kali, membuat Mark tersenyum lebar. "Masih kurang?."

"Kan aku bilang cium, bukan kecup!." Jawab Mark.

Donghyuck tertawa hambar dan langsung mendorong tubuh Mark keluar dari rumahnya. "Sayang! Kenapa aku di usir!."

Donghyuck langsung mengunci pintu rumahnya dan berbalik masuk dalam rumah meninggalkan Mark yang masih berteriak-teriak di depan rumahnya.

"Sayang!!!." Teriak Mark heboh.

"Berisik!!!." Sembur Yuta -tetangga Donghyuck.

"Kalian semua jahat kepadaku!!!." Teriak Mark sambil berjalan ke arah mobilnya sambil memberengut sebal.

.

.

.

.

.

.

Mark benar-benar melakukan apa yang diperintahkan oleh Johnny dengan cepat. Kemarin, sepulang dari rumah Donghyuck, ia langsung menelpon orang tuanya agar kembali lagi ke Seoul.

Taeyong sempat bingung pada awalnya, tapi setelah Mark mengatakan jika Johnny bersedia mengizinkan Donghyuck menikah dengannya membuat Taeyong langsung memekik girang dan memutuskan akan pulang ke Seoul ke-esokan harinya.

Mark tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya hari ini. Ia menyapa seluruh orang yang berpapasan dengannya di jalan menuju ke kelasnya, membuat Lucas dan Jeno yang berada di samping kanan dan kirinya mengernyit heran.

"Hei Jen, kenapa dia?." Tanya Lucas kepada Jeno sambil menunjuk Mark.

"Tidak tahu. Mungkin sekarang ia sudah benar-benar kehilangan kewarasannya. " Balas Jeno sambil memasang tampang prihatin.

Mark hanya tertawa mendengar perkataan sahabat-sahabatnya itu, Ia merangkul Lucas dan Jeno yang berada disamping kiri dan kanannya, "Aku sangat senang hari ini!." Ucap Mark.

"Ah, aku tidak tahan dengan aura berbunga-bunga seperti ini. " Lucas melepaskan rangkulan Mark lalu berjalan mendahului Mark dan Jeno.

"Cih, jelas saja kau bahagia. Kau kan sudah baikan dengan Donghyuck kemarin." Ucap Jeno.

Mark menggeleng, "Ada hal lain yang membuatku lebih bahagia Jen."

"Apa?."

"Aku dan Donghyuck akan segera menikah!." Seru Mark antusias.

"Oh kau dan Donghyuck akan meni- Apa?!!!!!." Jeno reflek melepaskan rangkulan Mark dari pundaknya dengan keras sehingga membuat Mark jatuh terjerembab.

"Kenapa mendorongku sialan?!." Pekik Mark marah.

Jeno membekap mulutnya sendiri sambil menatap Mark dengan pandangan tidak percaya. "Kau bercanda kan?!. Tidak mungkin kau dan Donghyuck akan menikah!."

"Aku serius sialan! Lagipula kenapa reaksimu seperti itu?." Tanya Mark sambil memicingkan matanya curiga.

Jeno tidak menjawab pertanyaan Mark, ia langsung berlari mengejar Lucas. Meninggalkan Mark yang kebingungan sambil memanggil-manggil namanya. "Lee Jeno!! Kenapa kau meninggalkanku hah?!."

.

.

.

.

.

.

Donghyuck menciut karna di tatap sedemikian tajam oleh oknum bernama Huang Renjun. Setelah kelasnya selesai, Renjun langsung menariknya menuju bangku yang berada di taman belakang gedung fakultasnya. "Jadi?." Tanya Renjun tidak jelas.

"Jadi apanya?!." Balas Donghyuck dengan nada kesal.

"Jadi kau hamil atau tidak?!."

Donghyuck mendelik mendengar pekikan Renjun. Kalau ada yang dengar bagaimana?!

"Mulutmu itu bisa kau kondisikan tidak sih?!." Desis Donghyuck jengkel.

Renjun mengibaskan tangannya pelan lalu semakin merapatkan tubuhnya dengan Donghyuck, "Jadi kau benar tidak hamil?."

"Tentu saja tidak!." Jawab Donghyuck cepat, "Jaemin saja yang berlebihan, dia pikir aku mengidam karna ingin makan sup rumput laut. Cih, tidak masuk akal!."

"Kau mengidam ingin makan sup rumput laut?. " Ucap Renjun sambil memasang raut bingung.

Donghyuck reflek memukul kepala Renjun dengan kuat, membuat Renjun memekik kesakitan, "Aku tidak mengidam sialan!."

Renjun mendecih pelan, "Dasar Na Jaemin! Dia membuat ku hampir membuatku terkena serangan jantung saja kemarin."

"Ngomong-ngomong kemana Jaemin?." Tanya Donghyuck.

"Dia pergi menemenani Xiaojun hyung. Tidak tahu pergi kemana. " Balas Renjun.

"Aw, kau cemburu pada Xiaojun hyung ya?." Goda Donghyuck saat melihat Renjun menekuk wajahnya.

"Tidak! Siapa yang cemburu!. Aku hanya tidak suka saja kau menyebut nama Jaemin." Elak Renjun sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.

Donghyuck tertawa melihat tingkah Renjun yang sangat menggemaskan itu. Dasar tsundere, "Kau menyukai Jaemin kan?." Tuduh Donghyuck.

"Tidak!." Balas Renjun ketus.

"Kau bohong. Sudahlah, mengaku saja. Kita ini sudah bersahabat sedari jaman dahulu kala. "

Renjun mendengus mendengar perkataan Donghyuck. "Bersahabat sedari jaman dahulu kala pantatmu! Jika seperti itu seharusnya kau mengetahui isi hatiku yang sebenarnya! Kita kan sudah bersama dari dulu. "

Donghyuck langsung terdiam setelah mendengar perkataan Renjun, "Apa maksudmu?. "

Renjun menghela nafas berat, lalu menatap Donghyuck dengan tajam. "Yang aku sukai itu dirimu Lee Donghyuck! Bukan Na Jaemin!."

.

.

.

.

.

.

Omake I:

"Apa??!." Jerit Lucas menggelegar. Ia melotot tidak percaya saat Jeno mengatakan jika Donghyuck dan Mark akan segera menikah.

"Kita harus bergerak cepat!." Ucap Jeno sambil memasang wajah panik.

Lucas menganggukan kepalanya setuju dengan perkataan Jeno, "Tapi bagaimana caranya memisahkan Mark dan Donghyuck?."

"Tidak tahu juga." Balas Jeno sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Butuh bantuan?."

Lucas dan Jeno reflek menoleh ke belakang setelah mendengar ada suara asing yang ikut bergabung dengan obrolan mereka "Mina??!."

.

.

.

.

.

Omake II:

"Jadi akhirnya kau mengungkapkan perasaanmu Njun?." Renjun berjengit kaget saat Jaemin tiba-tiba saja duduk disampingnya.

"Kau tahu dari mana?." Balas Renjun.

"Sebenarnya aku sudah disana saat kau dan Donghyuck berdua di taman belakang. Waktu aku akan menghampiri kalian ternyata kau sedang menyatakan perasaanmu padany, jadi aku memutuskan untuk mendengarkan dan mengamati dari jauh saja."

Renjun sedikit meringis mendengar perkataan Jaemin, "Yah, pada akhirnya aku hanya menjadi pengecut. Berani mengungkapkan perasaanku setelah ada banyak orang yang mengatakan suka padanya. Bahkan saat dia akan segera dimiliki orang lain. Menyedihkan. "

Jaemin menepuk pelan pundak Renjun, "Tidak masalah, setidaknya kita sudah bersama Donghyuck sudah dari jaman dahulu kala. " Ucap Jaemin sambil sedikit terkekeh, "Kita sudah terlalu lama bersamanya."

"Kau benar. Masalahnya aku tidak berani bertemu dengannya lagi. "

"Kenapa tidak? Kau kan sahabatnya. " Balas Jaemin, "Dia pasti mengerti."

"Lagipula, aku sangat salut padamu. Kau bisa menahan rasa cemburu sampai seperti itu. Pasti sangat sakit ya melihat Donghyuck dengan Mark?." Puji Jaemin.

Renjun tertawa pelan, "Tidak masalah, aku sudah kebal. Selama dia bahagia aku juga akan ikut bahagia. Kau juga sama kan?."

Jaemin menganggukan kepalanya, "Tentu saja."

'Karna Donghyuck adalah kecintaan semua orang. '

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Jadi, bagaimana? Kalian semakin pusing dengan lingkaran percintaan mereka atau tidak? Wkwkw maaf jika tidak sesuai ekspetasi :((

Special thanks buat kalian semua yang sudah berkenan meninggalkan jejak /muacch/

See you next chaps! have a nice day!.