:
Taufiq879/Tandrato
:
Destined To Live With You
:
Bab 17
Nyaris Mendatangkan Petaka
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Kelelahan setelah menandatangani dokumen-dokumen yang belum sempat ia tangani semalam membuat Naruto tertidur di meja kerjanya. Semua dokumen sudah ia tandatangani. Namun masih ada laporan yang baru datang siang tadi untuk dibaca oleh Naruto. Sayangnya karena terlalu lelah, laporan itu masih tersimpan rapat dalam amplopnya.
Namun karena ia sudah tidur cukup lama, ditambah dengan posisi tidur yang tidak nyaman itu, perlahan matanya mulai terbuka. Ia menguap cukup panjang sebelum akhirnya memasang wajah yang mengartikan ia masih belum cukup tidur. Ia memijati pundaknya dan mulai merapikan meja yang terlihat berantakan. Matanya memelototi jam yang menunjukkan pukul 4 dan amplop berisi dokumen yang harus ia baca. "Hmph. Mandi dululah!" Ia berdiri dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
Untuk tiba di kamar mandi, ia harus ke kamarnya terlebih dahulu. Dan untuk menuju kamarnya, ia akan melewati kamar milik Hinata. Pintu kamar itu sedikit terbuka sehingga saat ia melewatinya, ia bisa mendengar suara Hinata yang sedang berbicara dalam telepon.
"Tidak bisa ya. Yasudah. Aku akan minta tolong sama yang lain./ Ahh tidak apa-apa. Ini bukan urusan penting kok."
Naruto sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan itu. Ia hanya lewat dan berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
[]=[]=[]
Setelah mandi, badannya terasa segar. Ia merasa cukup bersemangat untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Namun di satu sisi ia tiba-tiba menjadi penasaran dengan percakapan antara Hinata dan Tsunade di dapur. Suasananya cukup serius dan itulah yang mengundang rasa penasarannya.
"Ada apa, Hinata? Nenek?" Ia bertanya seraya berjalan mendekati mereka.
"Oh. Kau sudah selesai?" tanya Tsunade.
"Sudah. Ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan?"
"Aku mau ke rumah Sakura. Tapi Hayate sedang sibuk. Aku aku minta bantuan nenek untuk meminta ajudan lain mengantarku."
"Kan ada 2 ajudan nganggur di depan. Raido dan Genma."
"Raido sedang pergi menemui Arashi. Genma sendiri sedang ada urusan dengan beberapa satpam. Nenek sudah mencoba menghubungi Korata. Tapi keadaan perusahaan sepertinya sedang sibuk."
"Wah. Keadaannya gawat juga. Apa aku perlu ke sana?"
"Sebaiknya kau turun tangan. Walaupun kau mungkin tidak bisa berbuat banyak karena masih kurang pengalaman. Tapi percayalah. 18 tahun bersama Minato, Arashi sudah memiliki kemampuan yang cakap dalam menggantikan tugas direktur utama perusahaan untuk sementara apabila direktur sedang berhalangan."
"Heh? Arashi?"
"Ya. Dalam perusahaan, Arashi adalah tangan kanan sekaligus wakil direktur. Apa kau tidak mendengar tentang itu sewaktu rapat perdanamu setelah pelantikan?"
"Hmmm..." Naruto mencoba mengingat. Tapi hanya satu ingatan yang ia dapat. "Yang aku ingat, saat itu kepalaku dipukul Arashi karena tertidur."
"Huft. Kau memang sulit diandalkan."
"Itu bukan salahku. Suasana rapatnya benar-benar membosankan. Tidak aneh kan kalau aku mengantuk?"
"Ya jangan tidur juga, Naruto. Kalau begini, di rapat berikutnya, akan kuminta Arashi untuk menjagamu tetap melek."
"Hihi! Aku yakin kalau sudah terbiasa, Naruto juga nanti bisa belajar menjadi pemimpin yang baik," ucap Hinata disertai sebuah tawa kecil di awal.
Genma datang dan menghampiri mereka. "Selamat Sore. Ada tamu untuk tuan," ucap Genma pada Naruto.
"Tamu?" ia melirik ke arah Tsunade.
Tsunade mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa ia tidak tahu apa-apa. "Ayo ke sana. Nenek akan temani. Kau juga ikut, Hinata."
"Eh. Baik."
Naruto didampingi oleh Tsunade menuju ruang tamu. Sementara itu, Hinata mengikuti dari belakang seraya berjaga-jaga apabila kalau tamu itu tidak tahu apa-apa tentang dirinya, ia bisa dengan segera bersembunyi.
Yang terlihat sedang duduk di sofa ruang tamu ialah seorang pemuda berseragam sekolah. Naruto yang awalnya tegang karena mendengar bahwa ia kedatangan tamu sekarang menjadi sedikit santai. "Kukira tamu penting. Yo Teme. Ada apa?" belum juga sampai ke ruang tamu, ia sudah menyapa Sasuke yang saat itu duduk membelakanginya. Namun karena tindakannya itu, ia mendapat bogem mentah dari Tsunade. "Hampiri dia dulu, bodoh!"
Mendengar dirinya dipanggil dengan nama panggilan pilihan orang yang akrab dengannya, Sasuke berbalik. Orang pertama yang ia liat adalah Naruto. Namun karena di sebelahnya ada Tsunade, secara tata krama yang benar ia harus menyapanya terlebih dahulu. Dengan sedikit menundukkan kepala, Sasuke memberikan salam.
"Tidak perlu terlalu formal seperti itu, nak Sasuke. Ada apa kau berkunjung ke sini bahkan masih memakai seragam."
"Saya ada urusan dengan Naruto."
"Oh. Kalau begitu, nenek akan meninggalkan kalian berdua... Eto bertiga."
Hinata yang sedang bersembunyi dibalik tembok tersentak mendengarnya. Ia perlahan menampakkan diri di hadapan Sasuke.
"Kalau begitu, nenek pergi dulu." Tsunade meninggalkan ruang tamu.
Sambil mengelus kepalanya yang sakit karena dipukul Tsunade, Naruto mendekati sofa dan duduk di hadapannya. Sementara itu, Hinata terlihat ragu dan canggung. Saat ia berjalan mendekati Naruto, tiba-tiba saja ia berhenti. "S-Saya akan ambil minum." Ia berbalik berniat menuju dapur.
"Ahh iya. Terima kasih Hinata!" ucap Naruto.
"Bukankah kalian punya pelayan? Kenapa Hinata harus repot mengambilkan minum?"
"Benar juga. Mungkin itu karena sudah kebiasaannya sejak tinggal di rumah itu." Menyadari bahwa perkataannya tidak segera di respons oleh Sasuke, Naruto langsung melontarkan pertanyaan, "Lalu, ada apa? Tidak biasanya kau berkunjung. Apalagi baru pulang sekolah?"
"Oh. Itu karena," Sasuke terlihat mengambil sesuatu dari kantung bajunya. "Ini." Ia meletakkan sebuah kunci di atas meja.
"Kunci?"
"Milikmu. Aku datang untuk mengantarkan mobilmu."
"Mobilku? Sudah selesai?"
"Sudah. Kalau belum selesai, aku tidak akan membawanya ke sekolah."
"Tunggu dulu. Apa maksudmu membawanya ke sekolah?"
"Seperti yang kubilang. Aku membawa mobilmu ke sekolah terlebih dahulu sebelum mengembalikannya padamu.
Naruto mengambil kunci yang tergeletak di atas meja itu. "Kenapa juga mobilku bisa diberikan padamu?"
"Sebenarnya itu tugas Itachi. Tapi ia menyuruhku yang mengantarkannya. Karena semalam aku sedang malas jalan, maka aku memutuskan untuk mengatarnya di sekolah saja. Tapi tidak aku sangka kalau hari ini kau sakit."
"Jadi karena itu kau langsung mengantarkannya sepulang sekolah. Terima kasih ya. Aku sudah tidak mau menumpang lagi ke sekolah ataupun pulang."
Hinata datang dengan nampan yang berisi 2 gelas minuman. Ia memberikan masing-masing minuman itu.
"Terima kasih, Hinata," ucap Naruto.
"Maaf merepotkanmu," ucap Sasuke.
"Tidak apa-apa." Hinata mengambil posisi duduk di samping Naruto.
Sasuke mengambil segelas minuman itu dan langsung meminumnya. Saat meminumnya, ia menyadari sesuatu saat melihat Naruto dan Hinata yang duduk bersama. Setelah menghabiskan setengah gelas, ia meletakkannya kembali lalu bertanya pada dirinya sendiri. "Apa mereka sudah cukup dekat? Atau hanya berpura-pura karena ada aku? Duduk sedekat itu harusnya membuat Hinata merasa malu, apalagi ada aku di hadapannya. Diakan pemalu."
Berdasarkan apa yang ia pikirkan itu, Sasuke pun bertanya langsung pada mereka berdua. "Sepertinya kalian sudah jadi cukup dekat ya?"
"Dekat?" ucap Naruto bingung. Ia pun melihat ke arah Hinata. Pandangan mereka berdua bertemu dalam kebingungan. Seketika itu juga mereka panik dan berusaha mengambil jarak. Jarak mereka berdua memang cukup dekat. Pakaian mereka nyaris bersentuhan. Hinata tak menyadari kalau ia duduk sedekat itu dengan Naruto.
"Y-Ya. K-Kami memang sudah menjadi lebih dekat," ucap Naruto setelah mengambil jarak. Terlihat dengan jelas rona di wajahnya dan juga Hinata.
"Huft. Kalau kalian berdua mau pamer hubungan, sebaiknya hentikan. Jangan salahkan aku kalau tiba-tiba aku bertemu kalian berdua bersama Sakura."
"Bukan!" bantah Naruto dan Hinata.
"Aku tidak niat pamer. Aku tidak tahu kalau Hinata duduk sedekat itu denganku."
"A-A-Aku tidak sadar," ucap Hinata.
Sasuke kembali meminum minumannya. Kali ini ia menghabiskannya langsung. "Satu hal lagi. Jangan sampai kalian berdua izin bersamaan. Itu bisa mengundang kecurigaan. Pagi ini saja ada gosip-gosip mengatas namakan kalian. Meskipun gosip itu memang karangan mereka, tapi bagiku gosip itu sudah mendekati kebenaran."
"Benarkah?" tanya Hinata memastikan.
"Sepertinya gawat," ucap Naruto.
"Kalian harus hati-hati jika tidak ingin orang lain tahu tentang hubungan kalian yang sebenarnya."
"Padahal aku sudah berusaha untuk mencegah ada yang tahu hubungan kami. Tapi tidak kusangka kalau hal sepele seperti tidak masuk sekolah di saat bersamaan dapat mengundang kecurigaan teman-teman yang lain."
"Makanya kau harus lebih berhati-hati. Atau mungkin memperjelas hubungan kalian?"
"Memperjelas?" Naruto tampak kebingungan. Namun di sisi lain, Hinata menyadari arti dari perkataan Sasuke itu. Ia hanya bisa tersipu sambil menyembunyikan wajahnya.
"Kau memang tidak peka ya? Yang kumaksud—" Seseorang menghubungi Sasuke memaksanya menghentikan perkataannya.
Setelah beberapa detik berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, Sasuke pun berdiri. "Aku harus pulang. Naruto, antar aku."
"Oke. Tapi aku ganti baju dulu."
"Tidak masalah. Tapi cepatlah," ucap Sasuke.
Naruto mulai melangkahkan kakinya menuju kamar. Namun ia teringat sesuatu dan terpaksa berhenti. Ia melihat ke arah Hinata. "Kau jadi ke rumah Sakura, Hinata?"
"Ummm. Iya."
"Kalau begitu siap-siap. Aku akan mengantar kalian berdua."
[]=[]=[]
Suara mesin mobil menggelegar memenuhi halaman depan rumah keluarga Uzumaki. Perhatian para satpam yang sedang berada di halaman depan hanya terpusat pada mobil warna yang dominan kuning tersebut.
"Hmmm! Kurasa ada yang aneh dari mesin mobilku," ucap Naruto seraya menutup mata untuk merasakan hal-hal aneh yang ada pada mobilnya.
"Itachi menuliskan pesan. Aku sudah membacanya. Akan kukatakan isi pesan itu. Kepolisian mengganti mesinmu dengan yang lebih ramah lingkungan."
"Oh pantas. Suara mobil ini serasa lain. Ternyata mesin baru." Ia mengatakan itu sambil mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba kesal. "Tunggu! Mesin lamaku ke mana?"
"Mesin ilegal itu sudah di musnahkan."
"Apa! Itukan mesin yang kubeli dengan uang yang kudapat susah payah."
"Ralat. Uang yang kau pinjam susah payah dariku."
"Huft. Iya... Iya...!"
Seseorang membuka pintu mobil. "Maaf Naruto aku kelamaan."
"Tidak apa-apa."
"Yang tidak apa-apa itu kau. Aku lain. Aku sudah dihubungi untuk segera pulang."
"Maaf ya Sasuke. Karena baru pindah, masih ada barang-barangku yang belum di simpan dengan baik. Jadi aku sempat kesulitan mencarinya."
"Hn. Kalau begitu tidak apa-apa."
"Yosh! Kita berangkat sekarang."
"Ke rumah Sakura dulu," ucap Sasuke secara mendadak. Terlalu mendadak hingga membuat Naruto yang hendak menginjak gas terkejut dan hampir menginjak gas dengan kuat.
"Oi Sasuke. Jangan mendadak begitu! Lagi pula kenapa ke rumah Sakura dulu. Bukannya rumahmu lebih dekat dan kau juga sedang buru-buru?"
"Rutenya jauh lebih enak dan aman. Kau perlu menghindari jalan-jalan yang rawan kejahatan. Itu kata Itachi."
"Baiklah."
Mereka pun mulai meninggalkan kediaman Uzumaki. Dengan kecepatan di atas rata-rata kendaraan di jalan, mereka melaju ke rumah Sakura. Keadaan di dalam mobil saat itu cukup sunyi. Tak ada yang berbicara. Ketiganya hanya menikmati perjalanan yang terkesan cepat itu saja. Jika pun ada percakapan, palingan hanya keluhan dari Sasuke.
"Naruto. Tambah kecepatan. Kau lambat sekali hari ini."
"Tidak bisa. Ada Hinata. Aku takut dia lapor pada nenekku. Mobilku bisa di sita."
"Ahh banci. Hinata kan istrimu. Sogok saja dia dengan ciuman agar tidak mengatakannya."
Seketika ada sebuah gejolak di dalam kepala Naruto. Tiba-tiba saja wajahnya memerah. "A...Apa sih yang kau katakan," ucap Naruto dengan nada malu.
"Kau belum pernah mencium Hinata?"
"B...Buukan urusanmu," ucap Naruto dengan nada sedikit keras.
Saat itu Hinata sedang bersandar di kaca seraya melihat ramainya jalanan kota. Ia tidak terlalu memperhatikan pembicaraan Naruto dan Sasuke. Namun karena suara keras Naruto, perhatiannya pun tertuju pada mereka berdua. Seketika itu pula, keduanya pun kembali diam setelah menyadari bahwa Hinata menatap mereka dengan penuh rasa penasaran. Namun Hinata sadar bahwa ada hal dalam pembicaraan itu yang tidak boleh sampai didengar olehnya. Oleh karena itu, ia hanya diam hingga akhirnya perlahan ia mengarahkan perhatiannya kembali pada jalan.
Setelah mengemudi cukup lama melewati berbagai jalan dan tikungan, mereka pun tiba di wilayah tempat tinggal Sakura. Distrik ini terlihat cukup ramai. Itu adalah hal yang lumrah mengingat distrik ini dikenal sebagai distrik perdagangan. Rumah bagi para pedagang kelas menengah hingga kelas atas.
"Di depan belok ke kiri," ucap Sasuke memberi petunjuk arah.
"Oh benar juga. Ini pertama kalinya kau ke rumah Sakura kan, Naruto?" tanya Hinata.
"Iya. Sayang sekali aku tidak bisa mampir, hehe."
"Ahhh, aku tiba-tiba teringat hal penting, Naruto."
"Apa itu?"
"Sore ini aku mengantar Sakura pulang menaiki mobil ini," ucap Sasuke dengan sangat santai. Namun mendengar itu, Naruto langsung menginjak rem dengan kuat. Bersyukur saja bahwa mereka bertiga memakai sabuk pengaman.
"Oi! Hati-hati kalau menginjak rem," ucap Sasuke.
Naruto dengan cepat menyambar baju Sasuke. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Teme! Aku dan Hinata nyaris saja masuk dalam lubang buaya!"
"Tenang-Tenang, Kamar Sakura tidak dapat melihat jalan. Lagi pula tidak mungkin Sakura bakal menunggu Hinata di depan pintu. Kita aman-aman saja selama Hinata turun sebelum Sakura muncul."
Bukannya malah melonggarkan cengkeramannya, Naruto malah semakin menarik kuat pakaian Sasuke. "Hoi! Hoi! Kenapa kau bisa setenang itu. Aku tahu kalau kau memang sifatnya begitu. Tapi setidaknya tunjukan sedikit rasa bersalah karena hampir menggiring kami dalam lubang buaya."
"Kalian berdua! Jangan bertengkar. Aku akan turun di sini. Dengan begitu kalian tidak perlu berhenti di depan rumah Sakura."
"T-Tapi. Rumah Sakura kan masih jauh."
"Tidak jauh-jauh amat kok. Jika kau melewati gang itu, aku bisa langsung tiba di depan rumah Sakura."
"Memang betul itu adalah jalan pintas. Tapi apa kau yakin ingin jalan kaki. Meski itu jalan pintas, namun tidak terlalu memangkas jarak tempuh."
"Hn. Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa jalan kaki."
Seketika itu juga mata Sasuke melihat ke arah Naruto dengan tatapan yang seperti mengatakan "Kau tega sekali."
"Tidak-tidak... Aku tidak pernah membiarkan Hinata ke mana-mana dengan berjalan kaki kok. Kami punya ajudan yang selalu siap sedia mengantarnya selama tidak sibuk," kata Naruto. Lalu ia melihat ke arah Hinata. "Benarkah, Hinata?"
Hinata mengangguk perlahan. Sasuke pun pasrah pada jawaban yang diberikan oleh Hinata. Naruto pun hanya bisa tersenyum masam karena kesalahpahaman yang menimpanya.
Hinata membuka pintu. "Aku akan pergi sekarang. Nanti akan kutelepon kalau Hayate tidak bisa menjemputku." Ia mulai melangkahkan kakinya ke luar.
"Oke. Hati-hati ya. Gang itu terlihat sepi." Ucapan Naruto itu di jawab dengan deheman serta sebuah senyuman manis dari Hinata. Naruto merasakan ada gejolak di dadanya saat Hinata menutup pintu mobilnya. Ia memegangi dadanya seraya berkata pada Sasuke. "Sepertinya aku memang menyukai Hinata."
"He? Bukankah itu memang sudah jelas. Kalian sudah tinggal bersama selama berbulan-bulan. Aneh rasanya kalau kau tidak memiliki perasaan apa-apa pada Hinata." Perlahan Sasuke melihat ke arah kaca spion mobil. Ia melihat Hinata yang sedang melihat sesuatu di layar ponselnya. "Aku yakin Hinata ju—" Tiba-tiba saja muncul sosok yang cukup ia kenal di belakang Hinata. Matanya membesar melihat sosok itu bisa berada di belakang Hinata.
"Kalau bicara di selesaikanlah! Hei. Kenapa kau diam seperti melihat setan begitu." Naruto menyadari kejanggalan pada sikap Sasuke.
"T-Tancap gas! Cepat!"
"Ha? Kenapa buru-buru. Kita harus memastikan Hinata melewati gang itu dengan aman dulu."
"Cepat kabur dari sini, bodoh! Ada Sakura!"
"Hah?" Naruto sedikit memutar badannya untuk melihat dari kaca belakang. Meski tertutup kaca film, namun ia bisa melihat bahwa Hinata sedang bicara dengan seseorang. Dan keadaannya pun menjadi lebih panik ketika Sakura menatap mobilnya. Dengan cepat ia membenarkan posisi badannya dan menginjak gas dengan kuat. Dengan kecepatan mobil yang terkesan dipaksa ngebut di awalannya, mereka meninggalkan tempat itu dengan kepanikan yang luar biasa.
[]=[]=[]
Setelah menutup pintu mobil, Hinata mengambil beberapa langkah untuk menjauh dari mobil tersebut. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas berniat untuk memberi tahu Sakura bahwa ia akan segera sampai. Ia juga memperhatikan bahwa Naruto masih belum beranjak pergi. Ia yakin bahwa Naruto dan Sasuke merasa tidak enak untuk meninggalkannya seorang diri di tempat seperti ini. Apalagi ia akan melewati sebuah gang sepi. Jadi mereka pasti sedang menunggu dan memperhatikan dari dalam.
Baru saja hendak mengetik kalimat, tiba-tiba saja sebuah tangan menutupi matanya. Hinata tersentak dan sempat berpikir bahwa itu adalah penjahat. Namun pikiran itu tidak lama bersinggah di pikirannya. Ia menyadari ada aroma yang cukup ia kenal. Aroma Shampo dan parfum yang sudah sangat melekat pada seseorang sehingga menjadi ciri khasnya. Karena hal itu pula, Hinata sadar bahwa tangan yang menutupi matanya itu pasti milik, "Sakura!" Sebutnya.
Perlahan tangan yang menutup matanya itu mulai mengendur dan lepas dari wajahnya. "Hebat! Kau hebat Hinata bisa mengetahui kalau aku yang menutup matamu."
Bukan perasaan senang yang ia rasakan saat itu. Melainkan sebuah perasaan panik yang semakin menjadi setiap detiknya. Setidaknya akan terus meningkat selama mobil kuning itu tidak segera pergi. "Apa yang kalian berdua lakukan. Cepat pergi," ucapnya dalam hati.
"Kau kenapa Hinata? Kau terlihat panik."
"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa kok."
Sakura melihat mobil kuning yang terparkir tak jauh dari tempat Hinata berdiri. Sekarang giliran ia yang keheranan. Namun keheranan Sakura itu justru menjadi bom waktu bagi Hinata. Sakura menatap mobil itu dengan seraya berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Tiba-tiba saja mobil itu pergi dengan sangat cepat. Sangat cepat di awalannya hingga menyebabkan sebuah suara seperti mesin itu akan rusak. Sakura pun di buat kaget dengan mobil yang tiba-tiba pergi dengan kecepatan yang tinggi itu.
"Cepat sekali!" Sakura berbalik ke arah Hinata. "Mobil siapa itu?"
"Ah itu. Itu mobil pamanku."
"Heee. Benarkah? Rasanya mobil itu mirip dengan mobil milik Naruto yang dibawa Sasuke ke sekolah hari ini."
"B-Benarkah? Haha." Tawa itu terkesan di paksakan. "Itu tidak mungkin. Hanya mirip sedikit. Tidak mungkin mobil murah seperti itu sama seperti milik bos perusahaan Uzumaki Enterprise," Hinata berupaya untuk menyanggah fakta yang ada.
"Aku memang tidak terlalu memperhatikan mobil Naruto tadi. Ya mungkin memang hanya sedikit mirip."
Mendengarnya, Hinata sedikit menghembuskan naas lega.
"Ngomong-ngomong." Awalnya Hinata cukup tenang. Namun mendengar Sakura berkata 'Ngomong-ngomong' yang biasanya mengarah ke berbagai hal yang ingin dipastikan membuat Hinata kembali panik. "Kenapa pamanmu terlihat buru-buru seperti itu?" tanya Sakura.
Dengan cepat ia mencari alasan. "T-Tadi pamanku sedang ditelepon oleh atasannya. Mungkin saja ia tiba-tiba dipanggil. Makanya ia buru-buru."
"He, berat ya jadi tentara. Para atasannya sepertinya sangat ditakuti bawahannya."
"Ya begitulah. Hehe."
"Lalu, kenapa kau turun di sini?"
"Ahh. Itu karena telepon itu."
"Hmm. Benar juga. Kalau begitu ayo sama-sama ke rumahku."
"Hn."
[]=[]=[]
Mobil kuning yang melaju di tengah jalanan kota menarik perhatian cukup banyak pengemudi di jalan. Bahkan sesekali mata para polisi tertuju pada mobil itu namun mereka tidak bertindak karena kecepatan itu masih dikatakan tidak melanggar hukum. Hanya saja cara mengemudi seperti di kejar setan itulah yang menarik perhatian. Namun setelah melewati sekitar 1 kilometer dari tempat di mana mereka bertemu Sakura, Naruto mulai sedikit lebih tenang.
"Sialan. Hampir saja!" ucap si pengemudi alias Naruto.
"Tidak bisakah kau mengemudi dengan lebih baik. Kau membuatku mual."
"Diamlah. Ini gara-gara kau. Sakura hampir saja melihat kita."
Dengan menutup mulutnya, Sasuke berkata lagi. "Mungkin saja dia sudah curiga. Kita hanya bisa percayakan pada Hinata. Apa dia bisa mengelabui Sakura apa tidak."
"Awas saja kalau sampai Sakura mengetahui kebenaran tentang hubunganku dengan Hinata."
"Tenang saja. Aku akan berusaha agar Sakura bisa menutup mulutnya. Tapi mungkin saja setelahnya kau akan disembur berbagai pertanyaan dari Sakura."
Naruto bergidik ngeri mendengarnya. Ia membayangkan dirinya disembur berbagai pertanyaan dari Sakura dengan mata seperti hendak membunuhnya apabila jawaban yang ia berikan tidak memuaskan. "Ahhh, aku tidak mau itu terjadi."
Tiba-tiba saja. "Naruto! Berhenti!" Teriakan Sasuke itu membuat Naruto terkejut dan segera menginjak remnya.
"Apa? Ada apa?"
Dengan nada yang kembali tenang, Sasuke berkata, "kau hampir melanggar lampu merah. Padahal di depan sana ada polisi."
"Benarkah. Maaf, aku tidak fokus gara-gara kejadian tadi."
Menunggu lampu lalu lintas yang berwarna merah untuk menjadi hijau memang cukup lama dan membosankan. Apalagi dengan keadaan Naruto saat ini yang sedang panik. Tentu saja akan semakin terasa lebih lama. Ia mengetuk-ketukkan jarinya pada setir mobil yang menandakan bahwa ia sedang gelisah.
"Oi. Sasuke. Aku benar-benar tidak bisa tenang. Apa sebaiknya aku kembali dan memata-matai mereka untuk memastikan apakah Sakura curiga atau tidak?"
"Jangan. Nanti kau bisa di bunuh Sakura kalau ketahuan. Sebaiknya kau pasrahkan saja pada kemampuan Hinata dalam membuat alasan."
"Huft. Sepertinya kau benar. Meski alasan yang dia buat tidak begitu benar-benar mengusir kecurigaan, tapi aku yakin ia akan membuat alasan yang logis."
"Oi. Cepat jalan. Sudah hijau."
Tanpa disadari oleh Naruto, lampu merah kini sudah berubah menjadi hijau. Beberapa kendaraan di belakangnya pun sudah mulai mengomel karena Naruto tidak kunjung bergerak. "Sabarlah, aku juga akan jalan." Gerutu Naruto ketika mendengar kendaraan yang tidak sabaran di belakangnya.
Beberapa detik setelah meninggalkan lampu lalu lintas, Sasuke kembali berbicara. "Ngomong-ngomong, kenapa hari ini kau sakit apa?"
"Jangan pikir aku mau menceritakan semua privasiku."
"Huh? Kenapa kau berkata begitu. Aku kan tanya kau sakit apa? Ah, tunggu dulu. Jangan-jangan Cuma sakit alasan saja, ya?"
"T-Tidak. Aku memang sakit. Eto... mungkin tidak tepat di sebut sakit. Hanya saja kemarin malam aku mengalami hal yang membuatku tidak bisa masuk hari ini."
"He, lalu kenapa juga Hinata tidak masuk. Alasannya tidak masuk bagiku terdengar dibuat-buat."
"Oh. Dia kelelahan. Ia menemaniku sepanjang malam hingga tidak tidur."
"Hei. Aku tidak paham. Apa maksudmu kelelahan dan tidak tidur sepanjang malam karena menemanimu."
Mendengarnya dari mulut Sasuke malah membuat pikirannya salah paham. "Tidak... Tidak... Bukan begitu. Dia hanya menemaniku karena aku pingsan semalam," ucap Naruto panik karena perkataan Sasuke membuatnya berpikir bahwa apa yang ia katakan tadi itu terdengar seperti mereka melakukan hal aneh semalam.
"Pingsan ya. Apa kau kurang istirahat?" Awalnya ia bertanya seperti itu. Namun melihat tingkah laku Naruto yang sedang panik, ia pun mengubah pertanyaannya. "Kau kenapa? Panik begitu,"
"Ha. Tidak. Aku tidak apa-apa. Hehe." Naruto tertawa kecil untuk mengelabui Sasuke. Ia membuang matanya ke samping lalu membatin, "Heh? Ternyata Cuma aku yang berpikir kalau penjelasanku tadi aneh."
"Kalau begitu akan kutanyakan lagi. Kenapa kau bisa pingsan? Apa kurang istirahat?"
"Humph. Kau memang mau menggali semua privasiku."
"Sudah. Jawab saja!"
"Mungkin karena ingatan lamaku kembali secara tiba-tiba. Karena hal itu aku pingsan sebab merasa sangat sakit di bagian kepala." Tiba-tiba saja nada bicara Naruto menjadi serius. "Sekarang aku tahu siapa gadis yang pernah kuselamatkan hingga membuatku cedera. Tidak kusangka kalau gadis itu ternyata ada di dekatku saat ini."
Sasuke berusaha mengingat cerita yang pernah di katakan Naruto saat mereka di serang oleh kelompok penjahat tidak dikenal waktu itu. "Jangan-jangan. Gadis yang kau maksud itu adalah Hinata?"
Naruto menatap wajah Sasuke sambil tersenyum. "Tepat. Kau memang cerdas. Apa kau mau mendengar kisah selengkapnya?"
"Oi... Oi... Jangan buat kisah hidupmu layaknya dongeng." Sasuke diam beberapa saat. "Tapi kalau kau tidak keberatan menceritakannya, aku siap mendengarnya."
"Aku tidak keberatan. Jadi, itu semua terjadi saat aku masih kecil. Musim panas 10 tahun yang lalu, adalah saat pertama kalinya aku bertemu dengannya."
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
Author Note
Chapter ke-17 dari seri cerita Destined To Live With You ini kubuat dalam kebingungan. Jika kalian merasa ada bagian yang aneh, itu pasti di ketik sewaktu author dilanda kebingungan alur. Maklum saja, tahap awal dari chapter ini di tulis saat masih puasa. Dan baru saya lanjut belakangan ini. Jadi sempat bingung mau di lanjut seperti apa. Tapi saya merasa lega karena bisa membuat sebuah konflik ringan seperti di atas meski di awalannya sempat kebingungan harus dituntaskan seperti apa.
Oke, sepertinya tidak ada yang ingin saya ucapkan lagi. Semoga kalian cukup terhibur. Sampai jumpa di chapter berikutnya.
