Warn! Typos!!!
.
.
.
.
.
Ten hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Sepulangnya dari minimarket ia malah melihat anak dan adiknya duduk santai di sofa sambil menonton drama dengan kaki yang dinaikkan di atas meja.
"Enak sekali ya hidup kalian berdua. " Sindir Ten sambil menendang kaki adik dan anaknya yang ada di atas meja dengan kuat. "Mau apa kau kesini?." Tanya Ten kepada adiknya -Doyoung.
"Ibu jangan bersikap seperti itu kepada Doyoung hyung. " Sahut Donghyuck sambil membekap setoples kue kering yang Ten buat kemarin sore di pelukanya.
"Memangnya aku tidak boleh main kesini?." Sungut Doyoung kesal.
"Cepat katakan apa maumu?."
Doyoung melotot jengkel mendengar perkataan kakaknya yang seakan-akan berbicara jika dirinya ini adalah adik tidak tahu diri yang hanya mendatangi saudaranya jika ada maunya saja.
"Lihat, kau selalu saja ber-prasangka buruk kepadaku!."
"Kau kan memang seperti itu. " Balas Ten.
"Aku kesini karna rindu pada ponakanku yang katanya sebentar lagi akan menikah. " Ucap Doyoung sambil melirik ke arah Donghyuck. "Tidak ku sangka bocah ini akan mendahuluiku. " Tambahnya lagi sambil tersenyum masam.
Donghyuck terkekeh geli melihat raut wajah pamannya yang ditekuk seperti itu, "Makannya, pinta Taeil hyung untuk segera melamarmu dong. "
Ten menganggukan kepalanya setuju, "Benar, kapan pria tua itu segera melamarmu?."
Doyoung langsung mendelik tidak terima saat mendengar perkataannya kakaknya yang mengatai kekasihnya sebagai pria tua. Enak saja!. "Taeil hyung tidak tua ya!."
Ten mendecih, "Bahkan kekasihmu dan suamiku lebih tua kekasihmu. "
"Ribut saja terus. " Sahut Donghyuck sambil menatap sepasang kakak beradik itu dengan raut jengah.
Ten mengalihkan pandangannya kepada Donghyuck, "Lalu kau? Kenapa kau ada dirumah?." Tanya Ten dengan raut wajah menyelidik.
"Kenapa? Salah jika aku di rumah?." Balas Donghyuck sambil mendengus.
Ten mendecakkan lidahnya kesal mendengar jawaban dari anak satu-satunya itu, "Dasar anak nakal, maksud Ibu kenapa kau tidak ke kampus huh?!."
"Hari ini aku libur. " Balas Donghyuck seadanya.
"Tidak pergi keluar? Biasanya jika libur kau sudah menghilang entah kemana besama Renjun dan Jaemin. "
Donghyuck memutar bola matanya malas, "Renjun dan Jaemin sedang tidak bisa dihubungi, entahlah kemana mereka berdua. " Balas Donghyuck.
"Temanmu yang lain?." Tanya Doyoung.
"Memangnya kalian pernah melihat diriku mempunyai teman selain mereka berdua?." Ucap Donghyuck sambil mendengus kesal.
Ten dan Doyoung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Nah, itu tahu. "
"Lalu calon suamimu?."
"Aku bosan melihat wajahnya." Balas Donghyuck cuek.
Doyoung mendecih mendengar perkataan Donghyuck, "Kau akan menikah dengannya, setiap hari kau akan selalu melihat wajahnya. Bayangkan saja, saat kau terbangun di pagi hari, wajah pertama yang kau lihat adalah wajahnya!."
"Mengerikan!." Balas Donghyuck sambil bergidik.
"Jangan dengarkan kata pamanmu itu, semua yang dia ocehkan sedari tadi hanya omong kosong saja. " Sahut Ten. "Kau akan merasa bahagia nantinya. "
Doyoung tertawa sinis mendengar perkataan kakaknya itu, "Jangan berbohong. Kau saja sering curhat padaku dan bilang kalau kau muak setiap hari melihat wajah Johnny hyung!."
Ten langsung mendelik kesal kepada Doyoung, "Apa sih?! Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu padamu ya!." Elak Ten.
Donghyuck membekap mulutnya sendiri sambil menatap Ten dengan pandangan tidak percaya, "Astaga Ibu! Aku tidak menyangka!." Ucap Donghyuck dramatis.
"Iyakan, tega sekali Ibumu berkata seperti itu tentang Ayahmu!." Ucap Doyoung semakin mengkompori.
Ten menggeplak kepala Doyoung dengan majalah yang terdapat di atas meja, "Sembarangan saja kalau bicara!." Delik Ten jengkel.
"Awww sakit!!." Pekik Doyoung marah.
"Siang semuanyaaaaa!!!."
Ten, Doyoung dan Donghyuck sontak langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Renjun?." Donghyuck langsung memasang wajah tegang saat melihat Renjun melenggang masuk seperti biasanya.
Renjun mendudukan dirinya disamping Donghyuck yang tengah menatapnya tanpa berkedip.
"Kenapa kau menatapku seperti itu hah?." Tanya Renjun sambil menarik sebelah pipi Donghyuck dengan kuat.
Donghyuck tidak menjawab pertanyaan Renjun, ia terus saja menatap Renjun.
"Dasar gila. " Ucap Renjun saat melihat wajah bodoh Donghyuck yang sedari tadi terus menatapnya itu.
"Enak saja kau mengatai keponakanku gila!." Doyoung langsung menggeplak kepala Renjun menggunakan majalah yang tadi digunakan oleh Ten untuk menggeplak kepalanya.
Renjun mengurucutkan bibirnya sambil mengusap pelan kepalanya yang di geplak oleh Doyoung, kemudian ia mengalihkan lagi perhatiannya pada Donghyuck.
"Ayo keluar. " Ajak Renjun.
Donghyuck terkesiap kaget mendengar ajakan Renjun yang tiba-tiba.
"K-kemana?." Tanya Donghyuck gugup.
Jujur ia masih merasa canggung bila ada didekat Renjun setelah kejadian kemarin. Ia merasa sangat tidak enak dengan Renjun sekarang ini.
"Kemana saja. Memperbaiki hubungan kita, mungkin. " Balas Renjun.
Ten menyipitkan matanya saat mendengar perkataan Renjun barusan, "Kalian bertengkar?."
"Tidak kok!." Balas Donghyuck.
"Tidak bibi. " Renjun bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Donghyuck agar ikut berdiri.
"Aku pinjam Donghyucknya sebentar ya!." Renjun langsung menarik tangan Donghyuck untuk ikut bersamanya.
Doyoung mengerang jengkel melihat keponakannya yang sedang ia rindukan dibawa kabur begitu saja.
"Dasar bocah sialan!." Teriak Doyoung kepada Renjun yang sudah menghilang dibalik pintu.
Donghyuck dan Renjun mendudukan diri di ayunan yang berada di taman bermain yang suci -Ini kata Renjun.
Suasana terasa sangat canggung. Mulut Donghyuck rasanya gatal sekali ingin berbicara, tapi ia takut.
Begitu juga dengan Renjun, kepalanya langsung berdenyut pening jika berada di situasi awkward seperti ini.
"Hyuck, "
Donghyuck langsung menolehkannya ke samping dan menatap Renjun.
"Tolong jangan pikirkan semua yang aku katakan kemarin. " Ucap Renjun pelan.
Donghyuck tidak merespon perkataan Renjun, ia menatap Renjun lamat. Astaga! Kenapa Renjun tiba-tiba saja terlihat sangat tampan?!.
Renjun mengibaskan tangannya di depan wajah Donghyuck yang tampak melamun sambil menatapnya.
Donghyuck tersadar dari lamunannya dan menatap Renjun dengan canggung, "I-iya. "
"Ahh! Rasanya sangat canggung. Bersikaplah biasa saja!." Sungut Renjun kesal.
"A-aku sudah biasa saja kok!." Elak Donghyuck.
"Itu! Kau bicara saja gagap!. " Ucap Renjun sambil menunjuk-nunjuk Donghyuck.
Donghyuck menampis tangan Renjun lalu mendelik ke arahnya, "Jangan berani-beraninya tangan hinamu ini menunjuk wajahku!."
Renjun mendecih lalu memandang Donghyuck dengan sinis, "Halah, wajah jelek saja. "
"Yak!!." Teriak Donghyuck murka di depan wajah Renjun.
Renjun tertawa puas melihat wajah Donghyuck yang terlihat kesal.
Ia senang karna suasana canggung yang amat mencekik tadi telah menguap entah kemana.
Donghyuck mengerutkan dahinya keheranan melihat Renjun yang tersenyum-senyum aneh. "Hei, kenapa kau tersenyum seperti itu? Membuat takut saja. " Ucap Donghyuck.
"Masalah buatmu?." Balas Renjun ketus.
Donghyuck mengangkat sebelah tangannya, bermaksud untuk memukul kepala Renjun. Tapi Renjun sudah lebih dulu memelototinya, sehingga Donghyuck langsung mengurungkan niatnya.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?."
"Malas saja. "
Mata Donghyuck berkedut tak suka mendengar jawaban Renjun, "Aku harus sabar. Semakin aku sabar, maka aku akan semakin tampan. " Gumam Donghyuck sambil mengelus dadanya sendiri pelan.
"Hyuck, " Panggil Renjun pelan.
"Hm?."
"Kau dan Mark.. Jadi menikah?."
Donghyuck sedikit terkejut mendengar pertanyaan Renjun. Tiba-tiba suasana terasa kembali tidak enak.
"Aku tidak tahu. Lusa orang tua Mark akan kerumah lagi untuk membicarakannya. " Balas Donghyuck.
Renjun menghela nafas pelan, "Ah.. Begitu. "
Donghyuck meringis tidak enak mendengar nada suara Renjun yang tiba-tiba berubah menjadi sendu seperti itu.
"Njun.. " Donghyuck meraih tangan Renjun yang duduk di ayunan sebelahnya.
"Kau tahu kan aku sangat menyayangimu. " Ucap Donghyuck sambil menatap Renjun.
Renjun menganggukan kepalanya pelan, "Aku tahu. "
"Maafkan aku. " Donghyuck menundukkan wajahnya, "Maafkan aku tidak menyadari perasaanmu lebih awal. "
Renjun sedikit tersentak mendengar perkataan Donghyuck. "Tidak masalah. Itu bukan salahmu. " Balas Renjun sambil tersenyum.
"Kita bisa kembali seperti dulu kan?." Tanya Donghyuck.
Renjun menganggukan kepalanya, "Tentu saja. Kau kan tidak punya teman selain diriku dan Jaemin. "
"Sialan. " Desis Donghyuck kesal.
Renjen yang merasa gemas dengan ekspresi kesal Donghyuck pun langsung mengacak-ngacak rambut Donghyuck sambil tertawa-tawa, sampai tidak menyadari jika ada sesosok pria dengan alis camar yang menukik menatap mereka berdua dengan murka dari sebrang taman bermain.
"Sayang!!!!. "
Donghyuck dan Renjun langsung terlonjak kaget dan reflek bangkit dari ayunan mendengar teriakan dari orang itu.
"Mark hyung?!."
Mark langsung berjalan dengan langkah lebar menghampiri Donghyuck dan Renjun.
"Apa-apaan tadi?!." Tanya Mark marah.
"Apa yang apa-apaan sih hyung?! Kenapa kau ada disini?!." Balas Donghyuck.
"Dia-" Mark menujuk wajah Renjun menggunakan jari telunjuknya, "Tadi dia seperti ini!." Ucap Mark sambil mengacak-ngacak gemas rambut Donghyuck, memperagakan apa yang tadi Renjun lakukan.
"Kenapa memangnya?!." Sahut Renjun kesal.
"Dia ini calon istriku!." Ucap Mark sambil mendelik ke arah Renjun.
Donghyuck memijat pelan pangkal hidungnya. Dia tidak menyangka Mark akan muncul tiba-tiba seperti tadi. "Hyung, berhenti bersikap seperti itu! Renjun itu sahabatku hyung!."
"Tapi dia melakukan seperti itu padamu! Aku tidak suka!." Ucap Mark dengan nada merajuk yang terdengar sangat dibuat-buat. Seketika membuat Donghyuck dan Renjun mual seketika.
"Melakukan apa? Melakukan ini?."
Renjun langsung mencondongkan tubuhnya dan mengecup pipi Donghyuck singkat.
Tubuh Donghyuck seketika langsung mematung kaku. Sedangkan Mark, wajahnya berubah menjadi merah padam, bahkan tangannya sudah terkepal siap menghanjar Renjun.
"YAKKK!! BERANI-BERANINYA KAU!!!."
"Hyung!." Donghyuck segera memegangi Mark yang siap menerjang Renjun. Sedangkan Renjun malah tertawa-tawa bahagia melihat Mark yang mengamuk.
"Jangan ditahan, ayo cepat. Kami menunggu sesi baku hantam. " Celetuk salah seorang anak kecil yang sedang bermain di taman itu.
"Iya nih! Hyung cantik! Lepaskan saja. "
"Iya lepaskan saja. Aku mendukung hyung yang sedang tertawa itu. Sangat pintar memancing emosi. "
"Aku juga. "
Ucap bocah-bocah lainnya.
Telinga Donghyuck berdengung mendengarnya.
"Kalian tidak malu apa?! Banyak anak kecil disini!." Geram Donghyuck.
Renjun mengibaskan tangannya pelan lalu kembali duduk di ayunan, "Aku sih biasa saja. "
Mark menatap Renjun dengan berang lalu menolehkan kepalanya kepada Donghyuck, "Sayang, aku ingin sekali saja memukul wajahnya. Boleh ya?."
Renjun mendengus mendengar perkataan Mark. Ia jadi tidak rela jika sahabatnya menikah dengan orang seperti Mark.
"Enak saja!." Balas Donghyuck sambil mendelik marah, "Lagipula kenapa kau kemari?."
"Kau berkata seolah-olah tidak suka ya aku ada disini?! Kau mau berselingkuh dengannya ya?!." Sembur Mark sambil menunjuk Renjun.
"Bisa tidak jangan berprasangka buruk kepadaku terus?!."
"Kau yang membuatku terus berprasangka buruk! Harusnya kau ku kunci saja di kamar selamanya!." Balas Mark.
"Dasar gila!." Desis Donghyuck jengkel.
"Kau mengataiku gila?!."
"Iya! Dasar gila, sinting, tidak wa-"
"Ayolah, aku berada disini tidak untuk melihat keributan. " Potong Renjun sambil menatap Mark dan Donghyuck dengan pandangan malas.
"Siapa juga yang menyuruhmu untuk berada disini. " Sahut Mark sewot.
Mata Renjun berkedut tak suka, ia ingin sekali menoyor kepala seniornya itu.
"Hei hyung," Tiba-tiba salah satu anak kecil yang sedari tadi mengamati pertikaian tidak jelas antara Renjun dan Mark, "Lempar saja hyung itu dengan ini. " Anak kecil itu menyodorkan batu bata besar kepada Renjun. Renjun seketika langsung tertawa terbahak-bahak, "Hey, tidak boleh seperti itu. " Ucap Renjun sambil mengusap kepala anak kecil itu.
Mark menaikkan sebelah alisnya melihat Renjun bercengkrama dengan anak kecil yang sedari tadi memandang sinis ke arahnya.
"Kalian membicarakanku ya?!." Tanya Mark sambil memelototkan matanya.
Donghyuck reflek memukul belakang kepala Mark dengan kuat saat mendengar perkataan calon suaminya itu. "Bisa diam tidak?!." Sungut Donghyuck jengkel.
Mark mendesis kesal menerima perlakuan kasar dari Donghyuck.
"Kau pulang saja sana!." Usir Donghyuck sambil menatap Mark garang.
"Tidak mau! Aku kan ingin bertemu denganmu!." Balas Mark.
"Kan sudah bertemu! Sekarang pulang sana. Aku muak melihat wajahmu terus. Nanti aku bosan dan mencari selingkuhan bagaimana?!."
Mark langsung melebarkan matanya mendengar ucapan Donghyuck. Tidak boleh! Donghyuck tidak boleh bosan padanya!.
"Baiklah aku pergi! Tapi kau juga harus pulang!."
"Iya, nanti Donghyuck pulang bersamaku. " Sahut Renjun santai.
"Yak-"
"Iya aku pulang!." Potong Donghyuck cepat.
Mark yang awalnya ingin kembali mengamuk langsung memasang senyum congkak sambil menatap sinis ke arah Renjun. Tapi, senyum itu tidak bertahan lama. Senyum itu langsung lenyap entah kemana setelah mendengar perkataan Donghyuck setelahnya.
"Njun, kau mau ikut pulang bersama atau tidak?."
"Boleh. " Balas Renjun setelah berpikir sesaat.
Mark menatap Donghyuck dengan pandangan terluka, seolah-olah Donghyuck baru saja mengkhianatinya, "Sayang?!." Pekik Mark tidak terima.
"Kau mau protes? Yasudah, aku pulang dengan Renjun saja!." Donghyuck langsung menggaet tangan Renjun dan berjalan begitu saja melewati Mark.
Mark menganga tidak percaya melihat kelakuan Donghyuck yang mengabaikannya dan lebih memilih Renjun.
"Sayang!! Tunggu aku!." Teriak Mark sambil berlari mengejar Donghyuck dan Renjun yang sudah berjalan jauh di depannya.
.
.
.
.
.
Donghyuck mendesis kesal melihat seseorang yang kini tengah mengelilingi kamarnya dengan pandangan penuh minat.
"Wah sayang, kamarmu sangat rapi ya. " Mark melihat-lihat kamar Donghyuck dengan antusias.
Sejujurnya ini adalah pertama kali Mark memasuki kamar calon istrinya itu. Dan dia tidak menyangka jika kamar Donghyuck sangat terasa nyaman.
"Kenapa kau tidak langsung pulang saja sih?!." Gerutu Donghyuck sambil mendudukan dirinya di atas ranjang.
"Ayah dan Ibu mertua sedang tidak ada dirumah, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. " Jawab Mark asal sambil melihat foto-foto semasa kecil Donghyuck yang berada di meja nakas.
Donghyuck memutar bola matanya malas, "Jangan macam-macam ya! Di bawah bantalku ada pisau loh!."
Mark reflek membalikkan tubuhnya dan menatap Donghyuck dengan pandangan tidak percaya, "Kenapa sih selalu ada pisau diantara kita?!."
Donghyuck menghendikkan bahunya singkat, "Berjaga-jaga saja. "
Mark mengurucutkan bibirnya sebal, lalu matanya memicing tajam melihat satu buah poster besar yang tertempel di tembok kamar Donghyuck.
"Siapa mereka?." Tanya Mark sambil menunjuk poster boygroup kesayangan Donghyuck.
"The boyz, Para suamiku. " Balas Donghyuck cuek.
Mata Mark langsung berkedut tak suka mendengar jawaban Donghyuck. Donghyucknya tidak boleh menyukai pria lain selain dirinya!
"Lebih tampan juga diriku!." Sungut Mark sambil menatap benci ke arah poster itu.
Donghyuck hanya merespon perkataan Mark dengan gumamam tak jelas, membuat Mark semakin mencebikkan bibirnya.
"Kau tahu, para arwah biasanya akan bersemayam di dalam poster seperti itu. Kau tidak takut apa?." Ucap Mark sambil memasang raut ngeri.
Donghyuck langsung menatap Mark dengan pandangan ketakutan. "Benarkah?." Tanya Donghyuck.
Mark menganggukan kepalanya singkat lalu mendudukan dirinya disamping Donghyuck. "Saat malam, mata poster itu akan bergerak melototimu. " Ucap Mark dengan gestur berlebihan.
Donghyuck tampak mencerna ucapan Mark sesaat, lalu kemudian dia mengibaskan tangannya pelan, "Hanya mitos, aku tidak perlu takut. " Ucap Donghyuck.
"Aku serius Hyuck! Akan ada arwah yang akan bersemayam di dalam postermu itu!."
"Biarkan saja, lagipula arwahnya pasti bingung. Kan member boygroup-nya banyak. " Balas Donghyuck cuek.
Mark merasa tertohok mendengar balasan dari Donghyuck, benar juga.
"Kau benar-benar tidak ingin pulang? Bukannya hari ini orang tuamu kembali dari Canada?."
Mark tidak menanggapi perkataan Donghyuck, ia malah memeluk Donghyuck yang duduk disampingnya dengan erat.
"Mereka kan sudah tua, tidak perlu di jemput lagi. "
Donghyuck mencubit keras lengan Mark yang melingkar di perutnya, membuat Mark meringis kesakitan, "Sembarangan saja! Kau mau di kutuk jadi ikan pari karna durhaka kepada orang tua ya!."
"Aku tidak durhaka sayang. " Sungut Mark sambil meringis sakit karna cubitan maha dahsyat dari Donghyuck.
Donghyuck mulai menggeram kesal karna Mark sekarang sudah mendusal-dusalkan kepalanya di perpotongan leher Donghyuck.
"Hyung!!." Donghyuck memekik marah saat ia merasa mulut Mark mulai menggigit kecil dan menghisap lehernya.
Mark menghiraukan pekikan marah Donghyuck dan malah menelusupkan sebelah tangannya ke dalam kemeja Donghyuck.
Donghyuck semakin berusaha melepaskan diri dari pelukan Mark. Ia sudah tahu jika Mark akan berubah menjadi liar jika sudah hilang kendali.
"Markkkhh hyunghhh!!." Donghyuck merasakan tangan Mark mulai merambat naik ke dadanya.
Mark mengangkat wajahnya dari leher Donghyuck kemudian menatap wajah sayu Donghyuck dengan lamat.
"Aku tidak bisa menahannya lagi. " Ucap Mark dengan suara rendahnya yang selalu berhasil membuat tubuh Donghyuck membeku seketika.
Tanpa basa-basi Mark langsung mendorong tubuh Donghyuck agar terlentang di atas ranjang. Donghyuck membulatkan matanya terkejut melihat mata Mark yang sudah tertutup nafsu itu.
"Hyung jangan lakukan i-" Belum sempat Donghyuck menyelesaikan kalimatnya, Mark telah lebih dahulu membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman panas yang amat menuntut.
Donghyuck kelimpungan sendiri merasakan tubuhnya serasa di permainkan oleh Mark.
Mark menyisipkan lidahnya ke dalam rongga mulut Donghyuck dan mengaduknya dengan ganas, jangan lupakan juga sebelah tangannya yang kini mengelus paha dalam Donghyuck yang hanya dilapisi oleh celana training dengan sensual.
Donghyuck menjambak rambut Mark dengan kuat karna merasa pasokan udaranya telah menipis.
"Aaghh.. " Donghyuck mendesah panjang saat Mark melepaskan tautan bibir mereka, dan Markpun dibuat gila olehnya. Seorang Lee Donghyuck, lelaki yang berhasil mencuri hatinya saat tatapan pertama mereka, mampu membuat seorang Mark Lee kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Mark memandang penampilan Donghyuck yang sangat berantakan di bawah kungkungannya. Tiga kancing teratas kemeja Donghyuck telah terlepas, membuat bahu mulusnya terekspos begitu saja.
Dan tanpa pikir panjang lagi, Mark langsung menyambar leher dan bahu Donghyuck yang tersaji di depannya. Menggigit dan menghisapnya dengan kuat sehingga Donghyuck tidak bisa lagi menahan desahannya.
"Markhh hyunggghh.. " Donghyuck semakin tidak bisa menahan desahannya ketika ia merasakan tangan Mark telah turun kebawah dan meremas lembut bokongnya yang masih tertutupi itu.
Donghyuck merasakan tubuhnya semakin terasa aneh. Ia masih berusaha untuk mendorong Mark agar menjauh dari tubuhnya.
Mark mengerang tak suka saat Donghyuck masih terus saja menolak sentuhannya.
"Aku tidak suka penolakan Sunshine. " Nada rendah nan dingin khas seorang Mark Lee yang Donghyuck dulu ketahui telah keluar. Donghyuck tahu artinya Mark sedang tidak ingin dibantah.
"Ngghh... " Donghyuck melenguh ketika Mark kembali menempelkan bibir mereka dan melumatnya dengan tidak sabar.
Tangan Donghyuck mencengkram erat kedua bahu Mark saat orang itu semakin liar memainkan tangannya di bokong dan paha dalam Donghyuck. Membuat Donghyuck semakin terhanyut kedalam permainan Mark.
"Hyunghhh.. " Donghyuck merasakan jantungnya akan melompat keluar ketika Mark mulai melepas satu persatu kancing kemeja Donghyuck. Ia tidak bisa membayangkan kejadian apa yang akan terjadi setelahnya.
Mark melepaskan ciuman panjangnya lalu menatap Donghyuck dengan pandangan bergairah.
"Kau sangat cantik sayang. " Bisik Mark seduktif.
Mark kembali menyambar bibir merah bengkak Donghyuck yang begitu menggoda itu. Lidahnya dengan kalap langsung mengobrak-abrik isi mulut itu setelah berhasil menyisipkan lidahnya tanpa kesulitan sama sekali.
Donghyuck sendiri semakin meracau tidak karuan karna perlakuan dari Mark. Ia merasa Mark benar-benar akan menumpahkan seluruh hasratnya melebihi waktu pertama mereka.
Tangan Mark semakin liar. Ia dengan kasar meraba permukaan dada Donghyuck dan memilin kedua putingnya secara bergantian.
Donghyuck merasa sangat kewalahan meladeni Mark. Fokusnya terpecah antara kenikmatan ciuman Mark yang sangat memabukkan dan kedua putingnya yang dimanja dengan begitu baiknya oleh tangan Mark.
Donghyuck hanya bisa mendesah sambil menjambaki rambut Mark untuk menyalurkan seluruh gelenyar aneh yang diberikan oleh Mark.
Donghyuck langsung mengambil nafas dengan rakus setelah Mark melepaskan tautan panas mereka.
Donghyuck kira Mark akan menghentikan kegiatan panas mereka, tapi ternyata dugaannya melenceng sangat jauh saat merasakan hawa panas melingkupi putingnya. Badan Donghyuck semakin melemas saat Mark secara bergantian menghisap dalam kedua putingnya. Bahkan tangannya yang semula bermain di bokongnya kini telah lancang menarik celana training Donghyuck.
"Janganhhh.. " Desah Donghyuck saat merasakan tangan Mark mulai menyelusup masuk kedalam celana dalamnya.
Mark tersenyum miring saat melihat ekspresi kenikmatan yang ada di wajah calon istrinya itu. Dengan segera ia meremas pelan penis Donghyuck dengan lembut, membuat Donghyuck semakin mengerang kenikmatan.
Mark bangkit dari atas tubuh Donghyuck dan langsung melepas seluruh pakaiannya. Donghyuck yang melihat tubuh polos Mark seketika langsung mengalihkan pandangannya kesamping sambil merona. Walaupun ini bukan yang pertama, tapi tetap saja ia merasa malu.
Setelah melepas seluruh pakaiannya Mark langsung menarik celana dalam Donghyuck dan membuangnya asal. Kemudian ia membalik tubuh Donghyuck agar menungging di hadapannya.
Donghyuck tidak tahu setan apa yang telah merasukinya, tapi ia hanya diam menuruti Mark saat orang itu menarik pinggulnya supaya menungging di depan wajahnya.
"Oughh hyungghhh... Yaampun.. " Donghyuck kembali meracau tidak jelas saat merasakan lidah panas Mark tengah menjilati hole-nya tanpa jijik. Bahkan tangannya ikut mempermainkan penis kecilnya yang menggantung dengan cara di remas dengan sedikit kasar.
Donghyuck mendesah dengan kuat saat pelepasan pertamanya.
"Kau sudah keluar sayang?." Tanya Mark.
Kemudian Mark membalik lagi tubuh Donghyuck agar kembali berbaring terlentang di atas ranjang. Mark menatap mata sayu Donghyuck dengan tajam.
"Bagus karna kau tidak menolaku. Aku akan bermain lembut jika kau menurut seperti ini. "
Setelah mengucapkan kalimat itu, Mark kembali mencium Donghyuck sambil memasukan dua jarinya langsung kedalam hole Donghyuck.
"Ahhhh hyunghhh.. " Desah Donghyuck langsung setelah Mark melepaskan ciumnya.
Donghyuck merasakan gelenyar aneh ketika hole-nya ditumbuk dengan kuat oleh jari-jari panjang Mark.
Mark dibuat senang saat mendengar desahan hebat yang keluar dari mulut sexy calon istrinya itu. Ia jadi semakin bersemangat untuk menumbuk titik sensitif di dalam hole Donghyuck dengan brutal.
Setelah dirasa cukup, Mark pun langsung mengganti kerja jarinya itu dengan penisnya yang sudah sangat keras. Donghyuck langsung merintih kenikmatan saat merasa ada benda tumpul yang sedang berusaha menerobos ke dalam hole-nya.
"Ngghh... "
Mark berusaha menahan diri agar tidak langsung memaksakan penis besarnya untuk langsung masuk ke dalam hole Donghyuck. Bagaimanapun ia telah berjanji untuk tidak bermain kasar.
Donghyuck kembali meracau kesakitan bercampur nikmat ketika penis Mark telah berhasil menerobos kedalam hole-nya.
Mark langsung bergerak maju dan mundur, menyodokkan penisnya dalam ke hole Donghyuck. Ia juga kembali mencium bibir Donghyuck dengan begitu bernafu serta meremas penis Donghyuck pelan.
Mark memindahkan kerja mulutnya ke atas permukaan dada Donghyuck, memberi gigitan dan hisapan dengan kuat. Membuat banyak sekali bercak kemerahan tertinggal di atasnya.
"Ngghhh.. " Donghyuck kembali mendesah hebat saat merasa Mark telah menemukan titik nikmatnya dan menumbuknya dengan kuat.
Sesaat kemudian Donghyuck langsung mengalami pelepasannya yang kedua. Badannya lansung terasa lemas seperti jelly. Tenagannya sudah habis bahkan hanya untuk membuka matanya saja. Tapi sepertinya berbeda dengan Mark. Pria itu semakin gencar menumbuk hole-nya mengerjar pelepasannya sendiri. Membuat Donghyuck mau tidak mau harus kembali mendesah dengan kuat karnanya. Ditambah dengan Mark yang kini tengah menghisap putingnya dengan sangat kuat, membuatnya merasa diterbangkan ke awang-awang.
Mark segera menyambar penis Donghyuck yang masih menegang setelah pelepasannya. Tangannya mengurut dan meremas denga pelan penis itu. Membuat Donghyuck terus menerus meracau nikmat.
Mark kembali membalik tubuh Donghyuck menjadi menungging dan langsung menyodokkan penisnya dengan keras di dalam hole Donghyuck, bahkan pingglnya ikut bergerak brutal mengejar pelepasannya sendiri.
"Arrghhh hyung... " Donghyuck semakin dibuat gila dengan tusukan-tusukan yang Mark berikan di lubangnya. Terasa sangat keras dan dalam tepat menumbuk prostatnya. Ditambah dengan tangan Mark yang dengan kurang ajarnya memilin dan dan mencubit puting Donghyuck dengan keras.
"Hyungjh.. " Donghyuck merasa semakin kesulitan untuk berbicara sekarang, dan sepertinya Mark juga tidak terlalu memperdulikan hal itu. Lelaki itu masih sibuk menumbuk hole Donghyuck dengan keras berusaha mengejar pelepasannya sendiri.
Donghyuck merasa penis Mark sudah semakin membesar di dalam sana.
"Kau sudah mau keluar lagi sayang?. " Tanya Mark dengan nada tidak percaya. Ayolah, ini pelepasan ke-tiga Donghyuck bahkan dirinya sendiri belum sama sekali.
"Tahan, kita keluarkan bersama. "
Setelah itu Mark langsung menumbuk dengan keras dan kuat ke dalam hole Donghyuck tepat di prostatnya. Tangannya semakin liar memilin dan mencubiti puting Donghyuck, dan mulutnya kini menghisap dalam leher belakang Donghyuck.
Donghyuck terus mendesah dengan gila karna Mark benar-benar menumbuk prostatnya dengan begitu nikmat.
"Hyunghhh aku ingin keluarrhhh.. "
"Argggghh... "
Mark dan Donghyuck melakukan pelepasan mereka bersama. Mark membalik tubuh Donghyuck dan segera mengecup bibir Donghyuck dengan sangat lembut.
Donghyuck sudah benar-benar kehilangan tenaganya. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk meladeni Mark.
Mark melepaskan penisknya dari dalam hole Donghyuck. Ia tersenyum senang karna akhirnya hasratnya yang selama ini telah terpuaskan.
Mark menatap Donghyuck yang mulai menutup matanya dan memasuki dunia mimpi dengan penuh cinta.
Demi Tuhan ia sangat mencintai Donghyuck, ia tidak rela jika Donghyuck berdekatan dengan orang lain selain dirinya. Ia hanya ingin Donghyuck hanya untuk dirinya seorang.
Mark menarik selimut dan menyilimuti Donghyuck berserta dirinya sendiri. Kemudian ikut menyusul Donghyuck ke dalam dunia mimpi.
.
.
.
.
Omake:
"Astaga hyung! Kau dengar itu?!." Pekik Doyoung pelan saat mendengar suara desahan dari dalam kamar Donghyuck.
"Astaga mereka benar-benar. " Ucap Ten tidak habis pikir.
Ia dan Doyoung baru saja kembali dari salon harus merasakan pening mendadak karna desahan hebat yang berasal dari kamar Donghyuck.
"Bisa-bisanya mereka melakukan hal itu lagi. " Ten segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Sayang, kau jangan pulang kerumah ya. Langsung datang ke restoran biasa. Aku ingin kencan denganmu. "
Yah, yang terpenting Johnny tidak mengetahui hal itu. Ia tidak ingin Mark mati karna di hajar oleh Johnny sebelum dia dan putranya menikah.
.
.
.
.
.
Omake II:
"Butuh bantuan?."
"Mina?!."
Gadis yang dipanggil Mina itu tersenyum manis, "Aku bersedia membantu kalian membuat Mark dan Donghyuck berpisah. "
Jeno dan Lucas langsung mendecih setelah mendengar perkataan gadis yang berada di depannya.
"Maaf, tapi kami lebih memilih meminta bantuan Tuhan dari pada iblis. " Ucap Lucas sambil menatap Mina remeh.
Jeno menganggukan kepalanya menyetujui perkataan Lucas, "Benar sekali. Besok kita berdua akan pergi ke Gereja. Maaf maaf saja nih ya. "
Mina menganga tidak percaya mendengar perkataan Lucas dan Jeno.
"Kalau begitu kami pergi dulu yaa, Iblis. " Ucap Lucas sambil merangkul Jeno lalu berbalik pergi meninggalakan Mina yang tengah mematung seperti orang bodoh.
.
.
.
.
.
Tbc
Halooooooowwwwww
Adakah yang nungguin diriku di book ini???
Wkwkwkw asli chapter ini tuh pertamannya sampai 5k words tau, astaga panjang banget kan, ini aja udah aku kurangin banyakk wkwk
Dan gaesss maafkan aku menaruh adegan nc tidak jelas dan sangat memalukan itu. Astaga ini pertama kalinya aku buat adegan nc ajxgsjxhsidgdudhdhdy
As always aku mau ngucapin terimakasih kepada kalian yang mau review di book ini ahsgahs terimakasih banyak aku cinta kaliann!!!
