:

Taufiq879/Tandrato

:

Destined To Live With You

:

Bab 18

Hari Sial

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]


Naruto menatap wajah Sasuke sambil tersenyum. "Tepat. Kau memang cerdas. Apa kau mau mendengar kisah selengkapnya?"

"Oi... Oi... Jangan buat kisah hidupmu layaknya dongeng." Sasuke diam beberapa saat. "Tapi kalau kau tidak keberatan menceritakannya, aku siap mendengarnya."

"Aku tidak keberatan. Jadi, itu semua terjadi saat aku masih kecil. Musim panas 10 tahun yang lalu, adalah saat pertama kalinya aku bertemu dengannya."


Setelah Naruto mengakhiri kisah masa lalunya yang ia ceritakan pada Sasuke, si raven hitam dengan mata tertutup itu kini melipat tangannya dan mencoba membuat ringkasan serta kesimpulan di dalam kepalanya. Sangat serius sampai-sampai keadaan selama 15 detik terasa sangat hening. Pada akhirnya secara perlahan Sasuke membuka matanya. "Jadi begitu," ucapnya tanpa ekspresi ataupun tanggapan lainnya.

Sekilas saat melihat Sasuke membuka mata, Naruto berpikir bahwa Sasuke akan memberikan kesimpulan yang spektakuler. Jadi setelah Sasuke selesai berkata "Jadi begitu" ia masih menunggu perkataan selanjutnya dari Sasuke. Namun perkataan selanjutnya itu tidak pernah terdengar hingga pada akhirnya mereka tiba di depan apartemen megah tempat Sasuke sekeluarga tinggal.

"Aku akan turun. Terima kasih atas tumpangannya." Sasuke mulai membuka pintu. Namun pergelangan tangannya tiba-tiba digenggam erat oleh Naruto. Secara refleks, Sasuke pun melihat ke arah Naruto. "Ada apa?"

Dengan tangan lain yang dikepal dan mata yang tertutup paksa, Naruto berkata "setelah aku menceritakan kisah masa laluku itu selama perjalanan, kau hanya menanggapinya dengan 'jadi begitu'."

Sasuke hanya menatap tajam Naruto. Perlahan ia melepas paksa tangan Naruto. "Memang apalagi yang harus kukatakan?"

"Ahh lupakan." Tiba-tiba kepalanya terangkat karena mengingat sesuatu. "Aku lupa menanyakannya pada Hinata."

"Menanyakan apa?"

"Bagaimana cara ia pulang. Setelah kejadian tadi, aku tidak mau ke sana lagi untuk sementara."

"Jangan khawatir. Daerah tempat tinggal sakura cukup sering dilewati taksi. Berbeda dengan tempat tinggalku yang harus berjalan sekitar 1 kilometer dahulu baru mendapatkan taksi. Lagi pula keluargamu kan punya ajudan-ajudan multifungsi."

"Hari ini mereka sedang sibuk. Aku tidak yakin kalau nanti ada yang bisa menjemput Hinata."

Seseorang yang membawa tas belanjaan melewati mereka. Mata Naruto langsung tertuju pada orang yang sedang mendekati Sasuke itu. Karena melihat arah pandangan Naruto, Sasuke pun melihat sampingnya.

"Wah, kak Itachi. Selamat sore," ucap Naruto.

"Oh Naruto. Habis mengantar Sasuke ya?"

"Iya. Ngomong-ngomong apa kakak habis belanja?"

"Hn."

"Loh, Kenapa jalan kaki?"

"Supermarket yang baru lokasinya cukup dekat dengan apartemen kami. Jadi aku tidak memerlukan mobil untuk ke sana." Itachi mengambil jeda sejenak. "Aku duluan, barang-barang ini cukup berat."

Naruto mengangguk. Tak lama kemudian Itachi pergi meninggalkan mereka.

"Dia tidak menyapaku." Mungkin itulah yang dipikirkan Sasuke saat menatap kepergian kakaknya dengan sedikit wajah kecewa.

"Oh iya Sasuke. Aku pulang dulu. Masih ada yang harus aku kerjakan."

Sasuke hanya memberikan anggukan kecil dan setelahnya menutup pintu mobil Naruto yang dibukanya. "Aku hampir lupa. Jangan mengebut ataupun berada di jalanan sepi." Saat wajah Naruto menampakkan kebingungan akibat perkataan Sasuke itu, si raven hitam itu langsung memasukkan wajahnya ke jendela mobil. "Ada GPS yang tertanam di mobil ini. Sebenarnya ini rahasia. Tapi mereka memasangnya untuk memantau keberadaanmu. Kau tidak boleh ngebut di tempat sepi sebab mereka akan menganggapmu sedang terancam. Kau tahu sendiri kan, kepolisian sangat membenci alarm palsu. Kalau mereka mengetahui kau ngebut untuk bersenang-senang, aku rasa informasi itu akan diberikan juga pada nenekmu."

"Ehhh!" Ekspresi terkejut itu sangat murni. Keluar begitu Naruto mendengar perkataan itu. "K-kenapa kau baru memberitahuku? Tunggu." Naruto mencoba meralat perkataannya. "Untung kau memberitahuku. Padahal tadi aku sempat berencana menguji kecepatan laju mobil ini."

"Itu saja yang mau kukatakan. Mungkin sisanya akan kuberi tahu di telepon." Sasuke berbalik. "Kau pulanglah. Aku mau beristirahat."

"Oi! Kau mengusirku nih? Di tengah jalan begini."

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Sasuke berjalan meninggalkan Naruto. "Ahh, tidak di jawab." Naruto yang merasa depresi karena diabaikan Sasuke mulai memegang setir mobil. Ia menjalankan mobil itu perlahan. Lalu terbesit sesuatu di pikirannya. "Aku dilarang ngebut di jalanan sepi. Kalau begitu, di sini tidak apa-apa kan?" Ia memasukkan gigi berikutnya. Perlahan kecepatan mobilnya bertambah dan ia pun melaju dengan cepat di hari yang mulai gelap itu.

[]=[]=[]

Melaju sambil meliuk-liuk dengan lincah di jalan, Naruto merasa sangat kegirangan. Tanpa ia sadari, ia sudah berada di jalan yang langsung menuju rumahnya. Jalanan ini cukup sepi kendaraan. Karena itu, ia pun merasa ingin memacu adrenalinnya lagi dengan mengemudikan mobil berkecepatan tinggi di jalan itu.

Namun baru saja ingin menginjak pedal gas lebih dalam, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang mengejar dan menyaingi kecepatannya. Tak hanya itu, mobil tersebut pun mengklaksonnya memaksa Naruto untuk melambat. Perasaan Naruto menjadi sedikit tidak enak saat melihat sosok orang di balik kaca mobil warna merah tersebut. Perlahan kaca mobil merah tersebut terbuka dan menampakkan seseorang yang benar-benar membuat perasaan tidak enak Naruto terjadi.

"Anda mengebut lagi di jalan raya kan, tuan Naruto? Saya sudah mengikuti Anda melewati 3 distrik."

"Cih. Aku terciduk. Hebat juga kau, Arashi. Aku sama sekali tidak menyadari keberadaanmu."

"Saya sengaja mengikuti Anda dari jarak yang sangat jauh agar Anda tak mengetahui keberadaan saya."

Kedua mobil mereka berjalan secara berbanjar di jalan. Namun posisi itu tidak akan bertahan lama sebab terlihat sebuah mobil di hadapan mereka. Mobil tersebut terdengar sedang mengklakson mobil merah yang berjalan tidak pada jalannya.

"Kita akhiri di sini dulu, tuan Naruto. Saya harus segera bertemu nyonya." Setelah mengatakan itu, terlihat dengan jelas bahwa Arashi menambah kecepatannya dan mendahului Naruto. Hanya dalam 4 detik, jarak antar mereka berdua sudah terlampau jauh.

"C-Cepat sekali. Pantas saja ia bisa dengan mudah mengejarku. Sial, aku iri." Ia hanya bisa pasrah. Ia tidak mungkin bisa mengejarnya. Lagi pula kalau ia mencoba mengejarnya, mungkin ia akan mendapat masalah apabila ada orang lain yang melihatnya ngebut. Terkhususnya Tsunade. Bisa-bisa mobilnya akan di sita atas nama keluarga oleh Tsunade. Tentu saja ia tidak bisa berbuat apa-apa sebab kekuasaannya hanya sebatas pada perusahaan dan keluarga kecilnya yang dibangun bersama Hinata. Selama Tsunade masih ada, kekuasaan tertinggi dalam keluarga ada di tangan wanita paruh baya itu.

Akhirnya setelah menempuh beberapa meter dari lokasi di mana ia berpisah dengan Arashi, ia pun tiba di kediamannya. Saat ia melewati gerbang, ia mendapat salam hangat dari orang-orang yang berada di pos satpam. Matanya terfokus pada mobil merah yang terparkir tepat di depan teras. "Dia bahkan sudah masuk rumah. Cepat sekali ia ngebut."

Naruto berbelok menuju garasi. Pintu garasi otomatis itu langsung terbuka ketika Naruto membunyikan klaksonnya 3 kali. Mata Naruto memandangi bagian dalam dari garasi itu. Tak ada orang yang terlihat. Cukup luas, namun hanya terlihat beberapa barang dan 2 buah unit mobil. Ia memarkir mobilnya dengan hati-hati karena tidak ingin tergores oleh sesuatu. Meskipun luas dan banyak ruangan tersisa, bukan berarti ia tidak boleh berhati-hati saat memasuki garasi. Ia mematikan mesin mobil setelah merasa sudah memarkir mobilnya itu dengan baik. "Mobil ini memang kencang. Tapi aku tidak bisa melihat potensi sejatinya jika mengebut saja di larang. Aku harus melakukan sesuatu pada GPS itu."

Begitu ia keluar, Naruto segera membuka kap mesin. Ia mencari sesuatu dengan teliti bahkan hingga rela menyentuh mesin yang masih panas. Pada akhirnya tubuhnya tidak kuat jika harus berhadapan dengan mesin yang masih panas itu sehingga ia memutuskan untuk mendinginkannya terlebih dahulu.

Sambil menunggu mesin mobilnya dingin, Naruto mengambil beberapa peralatan. Ia memutuskan untuk memeriksa bagian lain dari mobilnya yang terlihat mencurigakan. Mengintip bagian bawah mobil, memeriksa bagasi, bahkan hingga membongkar jok depan dan belakang. Namun ia tidak menemukan alat yang di sebut dengan GPS itu.

Ia melihat kap mesin. "Ternyata memang di sana. Bersiaplah!" Ia memegang kunci pas di depan wajahnya layaknya hendak bertarung. Naruto melangkahkan kakinya perlahan ke arah depan mobil. Tangannya menyentuh setiap bagian mesin yang tadinya panas. Tampak bahwa mesin mobilnya sudah mulai mendingin sehingga sudah bisa di sentuh. "Di mana kau, GPS!"

Brak!

Pintu yang menghubungkan rumah dengan garasi terbuka dengan paksa. "Apa yang ingin kau lakukan, Naruto!"

Suara itu cukup ia kenali. Suara wanita yang sudah berusia tua berserak dengan nada seperti menangkap basah seseorang itu membuat Naruto merinding seperti sedang melakukan kejahatan. Kunci pas yang ia pegang jatuh ke lantai menimbulkan suara yang cukup keras.

"Ahh," Naruto terlihat bingung. "Haha. Aku Cuma... Aku Cuma..." Ia semakin bingung.

"Anda ingin melepas GPS itu kan?" seseorang muncul dari belakang Tsunade.

Naruto menggaruk kepalanya. Ia sudah tidak bisa berkutik lagi. Kunci dan tindakannya saat ini sudah menyatakan bahwa pernyataan Arashi itu benar. "I-Iya."

Tsunade memandangnya dengan tatapan tajam. Ia melipat tangan dan mengetuk-ketuk jari kanannya di lengan kiri. "Kau tahukan. GPS itu demi keamananmu sendiri? Dengan adanya GPS itu, kepolisian dan nenek sendiri bisa memantau keberadaanmu selama bepergian dengan mobil itu."

"Tunggu." Naruto menghentikan perkataan neneknya. "Nenek juga memantauku?"

"Ya. Nenek tidak mau kepolisian memonopoli lokasi keberadaanmu. Makanya nenek juga meminta mereka memasang alat pemantauan di kamar nenek."

"Alasan kenapa saya membuntuti Anda adalah karena perintah dari nyonya Tsunade. Beliau menyadari kondisi abnormal dari pergerakan mobilmu. Karena itu, beliau segera menghubungi saya untuk melihat kondisi Anda." Ia menunjukkan sebuah rekaman hasil dari pemantauan GPS. "Saya tidak tahu kenapa Anda bisa membawa mobil sampai seperti itu. Tapi syukurlah saat saya menemukan Anda, sepertinya tidak ada kejadian yang membahayakan Anda. Tapi, Anda tidak boleh membawa mobil seperti itu lagi. Itu sangat berbahaya."

Tsunade mendekatinya dengan sikap marah. Semakin Tsunade mendekatinya, semakin berusaha ia untuk menjaga jarak. Namun adanya mobil di belakangnya, membuatnya tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. "N-Nek... A-Aku minta maaf." Tsunade semakin mendekatinya dan semakin membuatnya marah. Namun tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh Tsunade. "Kau membuat nenek khawatir. Jangan mengemudi seperti itu lagi. Nenek kira kau sedang di bermasalah dengan orang-orang yang mengincarmu. Makanya nenek cepat-cepat menghubungi Arashi yang jaraknya lebih dekat ketimbang kantor kepolisian."

"Maaf kalau aku sudah membuat nenek khawatir. Aku juga punya alasan kenapa sampai mengemudi seperti itu. Ada situasi yang membuatku panik. Ini menyangkut rahasia aku dan Hinata."

Tsunade melepaskan pelukannya. "ada apa?"

"Eto... Bisa dikatakan kami hampir kepergok teman sekelas kami saat aku sedang mengantar Hinata ke rumahnya. Kami memang berhenti cukup jauh dari rumahnya. Tapi tidak disangka ternyata dia muncul dari belakang kami. Makanya kami segera kabur sebelum dia melihat wajahku dan Sasuke. Pada akhirnya kami menyerahkan situasi pada Hinata. Aku harap Hinata bisa membuat alasan yang bagus."

"Kalau begitu alasannya sih nenek bisa memakluminya. Melindungi rahasia kalian berdua memang penting. Rahasia itu harus tetap terjaga setidaknya sampai kalian dewasa dan menikah ulang secara resmi."

"Menikah ulang?"

"Tentu saja agar kalian bisa memberitahukan semua orang bahwa kalian adalah pasangan suami istri. Tapi agar lancar dan tidak menimbulkan banyak pertanyaan di mata orang, kau harus bisa mendekati Hinata di kehidupan luar rumah sebagai pasangan kekasih."

Naruto teringat akan sesuatu. Sasuke sebelumnya telah menyinggung hal itu. Ia pun juga sudah berpikir demikian. Ia pun sadar kalau menikah lagi saat mereka dewasa itu penting karena secara logika, hubungan pernikahan mereka saat ini tidak diketahui banyak orang. Akan aneh kalau tiba-tiba saat dewasa nanti ia berkata bahwa mereka sudah melangsungkan pernikahan tanpa adanya pemberitahuan apa-apa kepada seluruh orang yang ia kenal. "Aku akan memikirkannya nek.

"Sebaiknya kau segera mandi dan bersiap ke kantor." Titah Tsunade.

"Kantor? Ada apa?"

"Karena kami sedang berusaha beradaptasi dengan kondisi Anda yang tidak bisa hadir di perusahaan pada saat siang hari, maka kami membuat jadwal pertemuan dengan klien di malam hari. Malam ini sebenarnya Anda cukup sibuk karena akan bertemu dengan beberapa klien dengan bahasan yang berbeda," jawab Arashi.

Cukup terkejut Naruto mendengarnya. "Ini memang hari sialku. Baik, aku akan siap-siap. Jadi kapan aku akan bertemu dengan klien pertama?" tanya Naruto.

"Untuk informasi yang lebih jelas, silakan hubungi sekretaris Anda. Saya hanya datang untuk memenuhi panggilan nyonya Tsunade dan juga memberitahukan hal itu."

"Oh, jadi kau tidak ke kantor bersama Naruto, Arashi?" tanya Tsunade.

"Saya mohon maaf. Saya ada keperluan sore ini. Mungkin saya tidak akan menemani Anda malam ini, tuan Naruto."

"Kau tidak harus kembali malam ini. Pulang dan istirahatlah. Aku yakin seharian ini kau sudah bekerja keras," kata Tsunade.

"Aku tidak tahu kalau kau adalah wakil direktur hingga hari ini, Arashi. Terima kasih sudah mengerjakan pekerjaan yang harusnya kulakukan," ucap Naruto.

"Saya hanya mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan. Sisanya haruslah dikerjakan oleh Anda sendiri. Saya izin pamit tuan Naruto, Nyonya Tsunade."

Setelah mendapat izin, Arashi pun meninggalkan kediaman Uzumaki. Ia berjalan dengan santai hingga ke teras. Membuka pintu mobil dengan perlahan dan mulai menjalankan mobil itu keluar gerbang. Satpam dan ajudan yang berada di pos satpam memberinya hormat. Ketika ia hendak berbelok setelah keluar dari gerbang kediaman Uzumaki, matanya melihat ke arah sosok pria yang memakai jas dan bertopi sedang bersandar di mobil jip berwarna hijau gelap.. Tangannya memegang sepuntung rokok dan matanya memandangi dirinya

Arashi memperhatikan orang itu sejenak sebelum akhirnya melajukan mobilnya di jalan yang terlihat sepi itu. Ketika Arashi hilang di telan jarak, pria misterius itu pun meninggalkan tempatnya.

[]=[]=[]

Naruto berjalan dengan malas ke kamarnya. Hari ini ia telah melalui hari yang berat. Setibanya di kamar, ia membanting dirinya di atas kasur. Lengannya menutupi kedua matanya secara horizontal. Ia benar-benar lelah karena semua kejadian yang ia hadapi hari ini. Dimulai dari ketika ia mendapati keberadaan Hinata di kamarnya sewaktu bangun, hingga mengira akan di marahi habis-habisan oleh neneknya karena ketahuan mengebut di jalan. Rasanya ia tidak percaya bahwa pelukan dari neneknya menjadi penutup siang yang melelahkan batin dan fisiknya itu.

Nyaris saja ia tertidur dan melupakan pertemuan malam ini jika saja ponselnya tidak berbunyi. Dengan cepat ia membuka matanya dan mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Ia melihat nama si penelepon. "Yo, ada apa, Sasuke?"

"Naruto. Ternyata nenekmu juga mempunyai alat untuk memantaumu. Aku baru mendapatkan info ini dari Itachi."

"Aku sudah tahu." Ia menjawab dengan nada datar.

"Tahu?"

"Iya. Aku sudah tertangkap basah. Informasi penting memang datangnya terlambat ya?"

"Maaf. Lalu bagaimana?"

"Hmm, bagaimana ya? Kurasa aku di marahi karena sudah membuatnya khawatir." Lalu Naruto melanjutkan lagi dalam pikirannya. "Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku di peluk oleh nenekku. Bisa-bisa ia mengejekku anak manja."

"Oh. Kupikir terjadi sesuatu yang gawat. Kalau begitu bisa di katakan kau tidak bermasalah."

"Hn. Sepertinya memang begitu. Lalu apa kau menghubungiku Cuma untuk mengatakan itu?"

"Tidak. Sebenarnya tadi aku menelepon Sakura. Aku sempat berbicara dengannya sebentar. Sepertinya ia dan Hinata sedang memasak sesuatu. Dari obrolan kami, aku bisa memastikan bahwa Hinata berhasil mengamankan situasi."

"Benarkah?" nada Naruto terdengar kembali semangat. "Aku akan menanyakan detailnya nanti saat Hinata pulang. Terima kasih sudah memberitahukannya." Naruto melihat jam yang terpajang di kamarnya. "Oh, maaf aku tidak bisa mengobrol lebih lama lagi. Aku sedang sibuk. Aku harus segera bersiap untuk pergi menemui klien."

"Cih, dasar orang penting sok sibuk. Oke, aku juga tidak berniat mengobrol. Sampai jumpa besok di sekolah."

Panggilan itu berakhir. Naruto tidak membuang-buang waktu lagi. Entah karena apa, tapi suasana hatinya sudah menjadi lebih baik. Ia pun memutuskan untuk segera mandi dan segera menuju kantor.

[]=[]=[]

Sebuah mobil berwarna merah terparkir di depan sebuah bar. Terlihat si pemilik mobil memakai jas dan kacamata hitam itu bersandar pada pintu mobilnya seraya berbicara dengan seseorang melalui telepon. Di tangan kirinya ia memegang sebilah sangkur. Di bawah sorotan lampu jalan yang menerangi tempat parkir di malam hari itu, ia memainkan pisau tersebut dengan cara melempar ke atas dan membuat sangkur tersebut tanpa khawatir akan melukai tangannya sendiri. Percakapannya dengan seseorang yang menghubunginya itu pun tak membuatnya terlihat sulit untuk mengendalikan sangkur yang dimainkannya. Ekspresinya benar-benar tenang.

"Aku kan sudah bilang kalau aku ada urusan malam ini," ucapnya.

"Kau memang sudah mengatakannya padaku. Tapi kau tidak mengatakan kalau pertemuan dengan klien malam ini untuk membahas hal-hal yang sangat penting."

"Sudah kukatakan kan untuk menghubungi sekretarismu agar mendapatkan informasi mengenai pertemuan malam ini? Aku hanya bertugas untuk memberitahukanmu soal pertemuan dengan klien untuk malam ini."

"Aku tidak menyangka kalau salah satu klienku malam ini adalah Walikota. Tahu kalau bakal seperti ini, sebaiknya tadi kuajak nenek."

"Ternyata kondisinya cukup gawat. Tapi, jangan repotkan nenekmu lagi. Kau harus bisa mengatasinya. Lagi pula nyonya Tsunade sudah tidak punya kekuasaan lagi di perusahaan."

"Hei, tidak bisakan kau ke sini dulu membantuku?"

"Kutolak! Urusanku jauh lebih penting. Lagi pula aku sudah memakai 1 dari sekian banyak surat permohonan cutiku untuk bisa menyelesaikan urusanku malam ini tanpa diganggu urusan pekerjaan."

"Sepertinya urusanmu malam ini memang sangat penting. Kalau begitulah baiklah. Akan kulakukan sendiri."

"Semoga beruntung. Dan satu lagi. Usahakan jangan sampai keputusanmu bisa membuat perusahaan kita merugi, tuan Naruto!"

"Cih! Tenang saja. Akan kupastikan pertemuan malam ini tidak akan membuat kerugian bagi perusahaan." Setelah mengambil jeda sesaat. "Oh ya, ngomong-ngomong malam ini sikapmu berbeda, Arashi. Aku jauh lebih mengenal sosok Arashi yang seperti ini?"

"Karena ini di luar jam dinasku, aku tidak perlu bersikap terlalu sopan padamu kan?"

"Iya. Aku lebih menyukai sifatmu yang seperti ini. Mungkin karena kau yang seperti inilah yang kukenal. Terasa lebih jujur ketimbang sifatmu saat kau berada di dekatku sebagai ajudan Direktur."

"Penilaian yang bagus, tuan Naruto. Tapi mari akhiri obrolan ini. Aku cukup sibuk. Aku yakin Anda juga harus segera memulai pertemuan."

Tanpa menunggu balasan Naruto, Arashi menutup telepon itu. Ia melempar sangkurnya cukup tinggi di udara. Begitu jatuh kembali ke tangannya, ia dengan cepat tanpa memberi jeda sedikitku langsung melesat kan sangkur itu ke arah belakangnya. Sangkur yang dilesatkan olehnya itu mengikis rambut seseorang yang mencoba mendekatinya dengan perlahan. Bersamaan dengan bunyi sangkur yang menancap pada pagar kayu, pria itu langsung ketakutan.

"Hei kurang ajar. Jika kau ingin menemuiku, pastikan menghadapku dengan benar. Kalau seperti itu, akan kuanggap kau sebagai musuh."

Pria itu berusaha menenangkan diri. Detak jantungnya memang tidak terkendali saat ini. "S-Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Arashi-dono."

"Cih! Ada apa?"

"Anda sudah ditunggu di dalam. M-Mari ikut saya."

Pria itu memimpin jalan menuju dalam bar melewati pintu belakang. Arashi mengikutinya setelah mengambil kembali sangkur yang tertancap cukup dalam di pagar yang terbuat dari kayu.

[]=[Bersambung]=[]

[]

[]


Author Note

Untuk episode kali ini, author sedikit kebingungan sehingga waktu pengerjaannya lama. Kuharap tidak menimbulkan ketidakpuasaan.

Mungkin di chapter ini kalian sudah mulai merasakan akan adanya konflik besar yang menanti. Saya memang tidak membuat rancangannya secara mendetail sebab saya langsung menulis apa yang saya pikirkan. Kuharap hal itu tidak akan mengacaukan jalan cerita.

Jika kalian ada melihat keanehan atau kejanggalan dalam cerita, bisa segera memberitahukan pada saya.

Sekian dari saya, Tandrato.