Warn! Typos!
.
.
Ten sudah bernafas lega, ia pikir dirinya telah berhasil membuat sang suami tidak kembali ke rumah dulu dan mengetahui apa yang sedang putra kesayangan dan calon menantunya itu sedang melakukan 'perbuatan yang diinginkan' dikamarnya. Tapi, semua itu hanya ada di imajinasi Ten saja. Rahang Ten jatuh kebawah seketika saat melihat sang suami sudah berdiri di bawah tangga dengan ponsel yang ada di telinganya serta raut wajah memerah marah.
"Sayang... "
Doyoung yang berada disebelah Ten dengan sigap belari kebawah menuju ke arah sang kakak ipar saat melihatnya akan membuka mulutnya dan berteriak.
"Sssttttt ! Hyung diam dulu!" Doyoung membekap mulut Johnny dengan kedua tangannya.
Johnny memelototkan matanya kemudian melepas bekapan tangan dari adik iparnya dengan kuat.
"Suara apa itu?!"
Ten berlari ke bawah dan menarik Johnny agar menuju ruang tengah.
"Sayang, itu-"
"Apa itu Mark dan Donghyuck?!" Johnny menyela perkataan Ten dengan nada emosi.
Ten dan Doyoung menengguk ludahnya kasar. Mereka berdua benar-benar bingung harus melakukan apa.
"Kalian membiarkan saja Donghyuck dan Mark melakukan hal seperti itu?!" Johnny menatap sepasang kakak-beradik itu dengan tajam.
"Kami-"
"Biarkan saja mereka melakukan hal seperti itu kakak ipar! Seperti tidak pernah muda saja!" sahut Doyoung memotong perkataan kakaknya.
"Tapi mereka belum menikah!!"
"Terus apa masalahnya?!" balas Doyoung sambil memelototkan matanya kepada Johnny, "Bahkan kau dan Ten hyung juga melakukannya sebelum menikah. Jangan kira aku tidak tahu ya!"
Johnny dan Ten sontak langsung membulatkan matanya terkejut mendengar perkataan Doyoung.
"Biarkan saja mereka. Lagipula bukannya mereka berdua akan segera menikah? Apa masalahnya sih?!" Dumal Doyoung sambil mendudukan dirinya di sofa.
"Tapi-"
"Doyoung benar sayang. Mereka berdua akan menikah. Sudahlah jangan dibawa pusing. Nanti kau mati muda bagaimana. " ucap Ten sambil mendudukan dirinya di samping Doyoung.
"Kalian semua yang membuatku mati muda!!" Johnny menarik-narik rambutnya frustasi.
"Sudah hyung biarkan saja! Lebih baik kita pergi, berikan waktu kepada Donghyuck dan Mark. " ucap Doyoung.
"Waktu apa?!" sambar Johnny.
"Ya tentu saja waktu untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan!" balas Doyoung sambil memutar kedua bola matanya jengah.
Mata Johnny berkedut tak suka mendengar perkataan adik iparnya itu. Ia tidak mungkin membiarkan anaknya melakukan hal seperti itu! Ini tidak boleh dibiarkan!!
Johnny baru saja ingin berjalan menuju kamar anaknya untuk menghentikan bunyi-bunyi yang berasal dari sana, tapi Ten segera menahannya.
"Apa yang akan kau lakukan?! Biarkan saja! Rasanya sangat tidak enak jika diganggu tahu!" Ten melirik ke arah Doyoung yang mengalihkan padangannya ke arah lain menghindari tatapan sang kakak.
Johnny menggeram tertahan, ia tahu rasanya tidak enak jika sedang diganggu saat melakukan seks. Ia pernah merasakannya dulu saat dengan tidak sengaja Doyoung menerobos masuk ke kamar Ten hanya untuk memimjam pakaian dan tidak mengetahui jika dirinya dan Ten sedang melakukan seks di dalam kamar itu.
"Biarkan mereka kali ini ya" bujuk Ten dengan nada manis andalannya.
Johnny membuang nafas lalu mendudukan dirinya di sofa. "Ayo kita menginap di hotel malam ini. "
Ten menganggukan kepalanya sambil tersenyum senang, sedangkan Doyoung disampingnya mendengus malas.
"Kalian jadi ingin melakukannya juga ya? " cibir Doyoung dengan muka masam.
Ten tertawa sinis mendengar cibiran dari sang adik, ia tahu sang adik pasti sangat iri karna Taeil kekasihnya itu tidak bisa diajak untuk melakukan seks sebelum menikah.
"Kenapa? Kau iri? Makannya lebih baik kau hubungi Taeil dan merayunya sana. " balas Ten.
"Oh siapa yang iri?! Tidak penting sekali. Aku ini menjaga kesucian sebelum menikah tahu!" ujar Doyoung.
"Ya ya ya terserah saja apa katamu. "
Johnny memijat pangkal hidungnya. Telinganya berdengung karna mendengar istri dan iparnya yang kembali berdebat serta suara-suara laknat lainnya dari dalam kamar anaknya. Kenapa hidupnya dikelilingi oleh orang-orang yang merepotkan. Astaga, sepertinya ia benar-benar akan mati muda karna stress.
.
.
.
Donghyuck membuka matanya perlahan lalu melirik ke arah jam dinding yang berada di kamarnya.
Sedetik kemudian Donghyuck langsung mendudukan dirinya dan membelalakan matanya kaget saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Apakah orang tuanya sudah kembali? Bagaimana ini?!
"Kau sudah bangun sayang?"
Donghyuck langsung menolehkan kepalanya kesamping saat mendengar suara rendah khas orang baru bangun tidur dari seseorang disebelahnya.
"Hyung! Sudah sore! Cepat bangun dan pakai pakaianmu!" Donghyuck memukul-mukul tubuh Mark dengan kuat, membuat Mark langsung mendudukan tubuhnya dan mengaduh kesakitan.
"Aw sakit sayang!" keluh Mark sambil mengusap-usap tubuhnya yang dipukuli oleh Donghyuck.
"Orang tuaku mungkin sudah pulang! Bisa bahaya jika mereka sampai mengetahui hal ini!" Donghyuck mengusap wajahnya panik lalu turun dari ranjangnya.
"Sialan sakit sekali! Apa yang telah kau lakukan padaku Mark Lee?!" Donghyuck memekik marah saat merasa bokongnya kembali terasa sakit. Membuatnya kesulitan untuk berjalan.
Mark yang mendengar pekikan murka dari sang kekasih hanya tertawa gemas lalu berjalan menghampiri kekasihnya itu yang terlihat tengah kesulitan memunguti pakaiannya yang tersebar diseluruh ruangan.
"Lihat ini!! Kenapa bisa robek seperti ini?! "
Donghyuck menunjukkan kemeja yang tadi ia kenakan. Kemeja itu sudah robek seperti dirobek oleh seorang monster.
Mark menghendikkan bahunya. Ia tidak merasa merobek pakaian Donghyuck. Se-ingatnya ia membuka pakaian Donghyuck dengan amat sangat lembut. Se-ingatnya ya. "Tidak tahu, aku tidak merobeknya kok. " jawab Mark.
Donghyuck mendengus lalu melemparkan kemeja itu ke wajah Mark, "Ya ya ya, berarti monster hormon yang merobeknya. "
Donghyuck berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Mark yang melihat itu segara menyusulnya.
"Mau apa kau?" Donghyuck menaikan sebelah alisnya dan memasang raut kesal saat Mark sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Mandi bersama lah. " jawabnya sambil menaik-turunkan kedua alis lintahnya itu.
"Perasaanku selalu tidak enak jika kau ajak mandi bersama. Keluar sana! Bereskan kekacauan dikamarku karna ulahmu itu!" Donghyuck langsung mendorong tubuh Mark agar keluar dari kamar mandi dan langsung menguncinya.
"Sayang!" protes Mark sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Diam!" bentak Donghyuck dari dalam.
Mark mengerucutkan bibirnya kesal, "Apa itu! Diajak mandi bersama saja tidak mau!" dumal Mark.
Selagi Donghyuck mandi, Mark harus membereskan kamar Donghyuck. Ia mengganti sprei yang sudah tidak berbentuk lagi itu dengan yang baru.
Setelah selesai mengganti sprei, Mark menidurkan tubuhnya yang hanya mengenakan celana boxer saja diatas ranjang Donghyuck.
Ting!
Mark mendengar ada sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel Donghyuck.
Mark mengambil ponsel Donghyuck yang berada di meja nakas kemudian membukanya.
"Siapa ini?" Mark mengernyitkan dahinya keheranan saat melihat nomor tidak dikenal mengirimkan pesan kepada Donghyuck dan mengajak kekasihnya itu untuk bertemu besok di perpustakaan yang berada di falkultas Donghyuck pukul 10 pagi.
Ekspresi Mark seketika mengeras, apa orang ini menyukai Donghyuck dan berencana untuk mendekati kekasihnya itu?
Mark membalas pesan itu lalu segera menghapusnya. Donghyuck tidak boleh tahu, dan dia sendiri yang akan memastikan siapa orang yang berani-beraninya mengajak kekasihnya untuk bertemu seperti itu. Tidakkah seluruh mahasiswa di Universitasnya tahu jika Donghyuck itu miliknya?!
Donghyuck yang baru saja menyelesaikan mandinya mengernyit keheranan saat melihat Mark berdiri dengan ekpresi kaku sambil menatap layar ponsel miliknya.
Donghyuck berjalan mendekati Mark lalu mengambil ponselnya, "Apa yang kau lihat?" tanya Donghyuck.
Mark terlonjak kaget saat Donghyuck tiba-tiba mengambil ponselnya yang berada di genggamannya, ia menolehkan kepalanya ke arah Donghyuck yang menatapnya dengan mata memicing tajam. "Tidak, aku hanya ingin melihat kontakku kau simpan dengan nama apa. " jawab Mark.
"Kontakmu tidak kusimpan. " balas Donghyuck sambil berjalan menuju lemari.
Mark membelalakan matanya kaget mendengar perkataan Donghyuck.
"Kau tidak menyimpan kontakku?!" tanya Mark dengan nada tidak percaya.
Donghyuck yang sedang memilih pakaian hanya menganggukan kepalanya tanpa ada niatan untuk membalas perkataan Mark.
"Tega sekali padaku! Padahal aku menyimpan kontakmu dengan nama yang sangat panjang dan romantis!"
Donghyuck hanya mendengus malas mendengar Mark yang mulai berceloteh tidak jelas.
"Kau tidak mandi?" tanya Donghyuck saat ia melihat Mark malah membaringkan tubuhnya tengkurap di atas kasurnya.
"Tidak! Aku malas! Aku kesal padamu!" jawab Mark dengan nada merajuk.
Donghyuck menganga tidak percaya mendengar perkataan Mark. Apa-apaan itu?!
Donghyuck langsung menarik kaki Mark hingga membuatnya terjatuh dari ranjang dan mengaduh kesakitan.
"Mandi sana! Lalu segera pulang!"
Mark mencebikkan bibirnya kesal lalu segera berjalan sambil menghentakkan kakinya ke kamar mandi.
Donghyuck menghela nafas pelan, "Dengan sikap seperti itu ingin menjadi suamiku? Heol"
.
.
.
Mark mengernyitkan dahinya bingung saat keluar dari kamar mandi ia tidak menemukan Donghyuck berada di kamarnya.
Mark mengambil pakaiannya yang telah Donghyuck siapkan di atas ranjang lalu memakainya.
Setelah selesai berpakaian, Mark melangkahkan kakinya keluar dari kamar Donghyuck dan berjalan menuruni tangga.
Mark dapat mendengar dan mencium bau harum dari arah dapur yang berada di lantai bawah. Apa Donghyuck sedang memasak? Apa Ayah dan Ibu mertuanya sudah kembali?
Mark terus melangkahkan kakinya sampai ke dapur. Ia langsung mengembangkan senyum cerah saat melihat sang pujaan hati tengah memasak dengan wajah serius.
Donghyuck yang menyadari bahwa Mark berjalan mendekat ke arahnya sontak mengalihkan pandangannya, "Kau sudah selesai mandi?" tanya Donghyuck.
Mark menganggukan kepalanya lalu mendudukan dirinya di salah satu kursi meja makan.
Donghyuck membawa makanan yang baru saja ia masak ke atas meja, "Makanlah, setelah itu kau harus pulang. " ucap Donghyuck sambil mengambilkan Mark makanan.
Mark mengambil makanan yang Donghyuck sodorkan di hadapannya, "Ayah dan Ibumu sudah kembali?"
Donghyuck menggelengkan kepalanya, "Tidak, mereka menginap di hotel."
"Menginap di hotel? Kenapa?"
"Mereka memang seperti itu jika ingin menghabiskan waktu berdua saja tanpa diriku. "
Mark mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Tapi sedetik kemudian wajahnya menampilkan seringaian aneh, "Aku meningap ya?!"
"Tidak. " tolak Donghyuck mentah-mentah.
Mark mengerucutkan bibirnya lalu menatap Donghyuck dengan pandangan memelas, "Ayolah... Ya ya ya. Sekali saja, aku tidak pernah menginap dirumahmu!" bujuk Mark.
Donghyuck menggelengkan kepalanya, "Tidak."
"Terserah. Aku akan tetap menginap. "
Donghyuck melempar kepala Mark dengan sendok yang berada di genggamannya sehingga membuat Mark langsung memekik kesakitan, "Kubilang tidak!"
Mark mengusap kepalanya yang terasa sangat sakit, "Aku tidak perduli. " Mark mengibaskan tangannya pelan lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
Mata Donghyuck berkedut jengkel melihat betapa keras kepalanya seorang Mark Lee.
"Orang tuamu akan tiba dari Kanada Mark. Kau harus menyambutnya!"
"Aku sudah sering menyambutnya. Aku yakin mereka berdua tidak perlu aku sambut. " sahut Mark durhaka, "Lagipula aku kan belum pernah menginap dirumahmu!"
"Ohh begitu? Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku tidak mau menikah denganmu!" ancam Donghyuck sambil mengacungkan sumpit di depan wajah Mark.
Mark mendelik mendengar ancaman Donghyuck, "Mana bisa begitu!" protesnya tidak terima.
"Tentu saja bisa?! Apa sih yang tidak bisa aku lakukan?! Membuatmu bertekuk lutut saja aku bisa!" balas Donghyuck ngawur.
Mark memasang ekpresi tersakiti saat mendengar perkataan Donghyuck. Lagi-lagi ia kalah. Ia heran kenapa dirinya sangat lemah jika di ancam seperti itu oleh Donghyuck.
"Iya, iya! Aku akan pulang!"
Donghyuck tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar perkataan Mark. Akhirnya lelaki itu menurut juga.
"Makan yang banyak. Mau kubuatkan kopi tidak?" tawar Donghyuck dengan senyuman manis. Membuat Mark semakin menekuk wajahnya saja.
.
.
.
Taeyong dan Jaehyun berjalan dengan langkah lebar memasuki sebuah restoran yang berada disebuah hotel mewah di Seoul.
Sesaat setelah kepulangan mereka berdua dari Kanada, mereka langsung dikejutkan oleh sebuah pesan dari seseorang yang mengajak mereka berdua bertemu untuk membahas hal yang sangat penting dan mendesak. Jadi tanpa berganti pakaian, Taeyong dan Jaehyun segera meluncur kesana.
"Taeyong! Jaehyun!"
Taeyong dan Jaehyun langsung menghampiri dua orang yang tengah melambaikan tangan ke arah mereka dari sebuah meja direstoran itu.
"Ten! Johnny! Kalian sudah menunggu lama?" tanya Taeyong sesaat setelah ia mendudukan dirinya di hadapan sepasang suami-istri ini.
"Kami baru saja sampai. " jawab Ten sambil tersenyum senang.
Jaehyun melirik ke arah Johnny, terlihat jika sahabatnya itu sedang berada dalam mood yang sangat buruk.
Taeyong mengikuti arah pandang Jaehyun lalu menatap Ten dengan pandangan bertanya-tanya, "Dia kenapa?" tanya Taeyong setengah berbisik kepada Ten.
Ten tidak menjawab pertanyaan Taeyong, ia hanya meringis tidak enak. Suaminya itu masih berada di dalam mood yang buruk.
"John, kau tidak apa?" tanya Jaehyun.
Johnny menggelengkan kepalanya, "Aku kenapa-napa Jae. Gara-gara anakmu!"
Taeyong dan Jaehyun sontak membulatkan matanya terkejut dan memasang raut wajah bingung.
"Mark? Apa lagi yang dilakukan anak itu?!" tanya Taeyong.
Ia tidak habis pikir dengan anaknya itu.
Dua hari yang lalu bocah nakal itu menelponnya, dan mengatakan jika johnny telah memberikan izin untuknya menikahi Donghyuck. Oleh karna itu dia memintanya dan Jaehyun untuk pulang ke Korea.
Taeyong tentu saja kaget mendengar perkataan anaknya di telpon. Ia bertanya kenapa Johnny bisa memberikan izin untuk Mark menikahi anakanya, padahal beberapa hari yang lalu Johnny dengan sangat jelas menolak lamaran anaknya. Dan jawaban Mark sangatlah di luar ekspetasinya. Mark menjawab bahwa Johnny telah mengetahui jika dirinya dan Donghyuck telah melakukan seks dan oleh sebab itu Johnny mengizinkannya menikahi Donghyuck.
Kaget? Tentu saja Taeyong kaget, bahkan ia ingin langsung berteleportasi ke Korea detik itu juga untuk mencekik sang anak.
"Kalian tahu, mereka melakukan 'itu' lagi hari ini. Dirumahku!" pekik Johnny dengan wajah yang terlihat akan menangis.
Taeyong dan Jaehyun langsung menganga tidak percaya mendengar perkataan Johnny. Tanpa dijelaskan pun mereka berdua tahu dengan pasti apa yang anaknya lakukan.
"Astaga anak itu." Jaehyun memijat pelipisnya pening memikirkan tingkah putra satu-satunya.
"Jadi alasan kami berdua berada di hotel karna hal itu. " timpal Ten sambil tersenyum miris.
"Mereka benar-benar harus dinikahkan. " ucap Taeyong.
Johnny menganggukan kepalanya lemah. Bagaimanapun ia masih belum rela jika Donghyuck menikah secepat ini. Tapi mau bagaimana lagi?!
"Kalau begitu biar kami yang urus semua persiapan pernikahan Mark dan Donghyuck. Kalian tidak perlu memikirnya. " ucap Jaehyun dan langsung di angguki setuju oleh Taeyong.
"Tidak! Kami juga akan ikut membantu. Bagaimanapun ini adalah pernikahan putraku juga." protes Ten.
"Baiklah-baiklah. Jadi, kapan tepatnya Donghyuck dan Mark akan menikah?" tanya Jaehyun kepada sepasang suami yang duduk di hadapannya.
Johnny tampak terdiam berpikir sesaat, "Bulan depan. "
Ten langsung menolehkan kepalanya kesamping dan menatap sang suami dengan pandangan tidak percaya. "Bulan depan? Apa tidak terlalu cepat?!"
Johnny menggelengkan kepalanya, "Tidak. Mereka memang harus menikah secepatnya. "
Jaehyun dan Ten menganggukan kepalanya setuju, "Benar, semakin cepat semakin baik. "
"Tapi kita perlu persetujuan dari Mark dan Donghyuck. " ujar Ten.
Johnny mendengus dengan keras mendengar perkataan istrinya, "Persetujuan apa? Mereka bedua pasti akan kegirangan. "
"Benar juga. " balas Ten.
"Jadi kita sudah sepakat untuk menikahkan anak-anak kita bulan depan?" tanya Jaehyun memastikan.
Ten dan Johnny menganggukan kepalanya.
"Bagus, kalau begitu kita bisa mulai membicarakan keperluan-keperluan yang berkaitan dengan pernikahan! Astaga aku senang sekali!" pekik Taeyong kegirangan.
"Kau benar! Awalnya aku merasa sedih karna putraku satu-satunya itu akan menikah dan meninggalkanku. Tapi entah kenapa sekarang aku merasa sangat bahagia!" balas Ten sambil tersenyum lebar.
Jaehyun hanya tertawa renyah melihat ekspresi bahagia di wajah istrinya dan calon besannya itu.
Tapi berbeda dengan Johnny, dia masih menekuk wajahnya dan menghela nafas berat.
Semoga ini adalah keputusan terbaik, batin Johnny merana.
.
.
.
Ke-esokan paginya, Johnny dan Ten kembali ke rumahnya.
Mereka berdua pikir Mark akan menginap, tapi mereka tidak melihat mobil Mark terpakir di depan rumah mereka.
"Apa Mark pulang subuh buta?" tanya Ten kepada suaminya.
Johnny menghendikkan bahunya, "Tidak tahu. Coba kita ke lihat ke kamar Donghyuck. "
Johnny dan Ten berjalan secara perlahan menaiki tangga menuju kamar sang anak.
Setelah sampai di depan pintu kamar Donghyuck Ten langsung menempelkan telinganya.
"Bagaiamana? Kau mendengar sesuatu?" tanya Johnny.
Ten mengelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak mendengar apa-apa. "
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
Ten dan Johnny terlonjak kaget dan reflek berbalik saat mendengar suara dari arah belakang mereka.
"Donghyuck?! Dari mana kau?!" tanya Ten setengah berteriak.
Donghyuck mengerutkan dahinya keheranan, "Dari kamar mandi bawah. Kamar mandiku krannya rusak." jawab Donghyuck, "Lalu apa yang kalian lakukan di depan kamarku? "
Ten dan Johnny langsung kelabakan mendengar pertanyaan sang anak.
"Tidak, kami hanya ingin membangunkanmu. Kami kira kau belum bangun. " jawab Johnny.
"Dengan cara menempelkan telinga ke pintu?" Donghyuck memicingkan matanya tidak percaya.
"Y-ya kami berdua hanya ingin memastikan dulu. Kau sudah bangun atau belum. " Sahut Ten.
Donghyuck hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tahu tingkah kedua orang tuanya memang sedikit aneh. Jadi ia tidak mau meributkannya.
"Kau pagi-pagi sudah mandi. Mau kemana?" tanya Ten.
"Tentu saja mau kuliah!" jawab Donghyuck sambil menggeser tubuh orang tuanya yang berdiri menghalangi pintu.
Ten dan Johnny hanya diam saja saat tubuhnya digeser oleh sang anak.
"Kalian mau sampai kapan disitu?" Donghyuck yang hendak menutup pintu kamarnya menghernyit heran saat melihat kedua orang tuanya itu masih betah berada di depan kamarnya.
"Kami menunggumu masuk! Ayo sayang kita pergi. " Ten langsung menarik tangan Johnny agar pergi dari depan kamar sang anak.
Johnny hanya pasrah saja ketika tangannya digeret dengan tiba-tiba oleh istrinya.
Donghyuck menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ada-ada saja sih. " ucapnya sambil menutup pintu kamarnya.
.
.
.
Renjun dan Jaemin berjalan memasuki Cafetaria sambil mengobrol dan tertawa-tawa heboh.
"Kau harus melihat wajah Yuta hyung yang melihat Chenle tidak mengenakan pakaian Jaem! Wajahnya sangat lucu!" Cerita Renjun kepada Jaemin.
Jaemin sebenarnya tidak tahu dimana letak kelucuan dari cerita Renjun, tapi melihat Renjun yang tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata seperti itu membuatnya langsung ikut tertawa juga.
Mereka berdua mendudukan diri di salah satu meja yang berada di pojok.
"Aduh perutku sakit. " ujar Renjun sambil menghapus air mata yang keluar akibat terlalu banyak tertawa.
Jaemin terkekeh melihat wajah Renjun, kemudian ia bangkit berdiri, "Aku akan mengambil makanan, kau tunggu disini. "
Renjun tersenyum cerah. "Yang biasa ya! "
Jaemin menganggukan kepalanya singkat lalu berjalan menuju counter.
Sembari menunggu Jaemin, Renjun mengambilkan ponselnya.
"Kau sudah menemukan cara bagaimana membuat Mark dan Donghyuck berpisah?"
"Belum Jen, Tuhan belum menunjukkan jalannya kepadaku. "
Seketika Renjun langsung menghentikan aktivitas mengutak-atik ponselnya dan menolehkan kepalanya ke meja yang hanya berselisih dari satu meja dari mejanya.
Renjun memicingkan matanya tajam saat mendapati dua lelaki yang duduk di meja itu. Ternyata mereka tadi sedang membicarakan sahabatnya.
"Ahh bagaimana sih Cas, kita sudah tidak ada waktu lagi!" sungut salah satu lelaki yang duduk di meja itu sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Yahh bagaimana lagi Jen, mereka berdua semakin lengket saja. " balas lelaki satunya lagi dengan nada lesu.
Renjun membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia pikir hanya Kang Mina yang menjadi setan pengganggu dihubungan Sunbae dengan sahabatnya, tetapi ternyata ada dua setan lainnya.
Jaemin yang baru datang dengan dua buah tray makanan di tangannya memasang wajah bingung saat melihat Renjun memperhatikan dua orang yang duduk di meja sebrang dengan tatapan tajam.
"Kenapa kau memperhatikan dua orang itu sampai sebegitunya?" Jaemin mendudukan dirinya di hadapan Renjun.
Renjun mengabaikan pertanyaan Jaemin dan membuat isyarat tangan agar Jaemin ikut memperhatikan apa yang ia perhatikan.
"Apa kita harus menerima tawaran dari Kang Mina?" tanya salah satu lelaki yang mempunyai kulit lebih gelap dan tubuh tinggi menjulang.
"Kau gila! " Potong lelaki satu nya lagi yang memiliki mata sipit dengan kulit putih pucat.
"Ada apa dengan mereka?" Jaemin tidak mengerti apa yang salah dengan dua lelaki yang duduk di sebrang mejanya.
"Dengarkan saja dulu. " balas Renjun tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua lelaki itu.
Jaemin hanya menurut, ia memakan makannya sambil terus menatap kedua lelaki itu seperti yang Renjun lakukan.
"Ahh ayolah otakku yang hanya tinggal seperempat! Berpikirlah lebih keras! Bagaimana caranya memisahkan Mark dan Donghyuck dengan cara yang baik dan benar!"
"Hahaha Lucas, Lucas, seperti kau punya otak saja. "
Lelaki yang dipanggil Lucas itu memicingkan matanya tajam, "Setidaknya aku berusaha Lee Jeno. "
"Ah Lucas dan Jeno. Bukannya mereka berdua itu sahabatnya Mark?" Jaemin menendang pelan kaki Renjun dari bawah meja.
Renjun menaikkan sebelah alisnya keheranan, "Benarkah? Tapi kenapa dia setan itu mau merusak hubungan sahabatnya sendiri?"
Jaemin menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak tahu. "
"Ahh! Bagaimana jika kita menculik Donghyuck saja?!" usul lelaki yang bernama Jeno.
Lucas membelalakan matanya kaget mendengar perkataan Jeno. Begitu juga dengan Renjun dan Jaemin yang sedari tadi menyimak.
"Kau gila Jen?! Itu namanya kriminal! Kita bisa ditangkap polisi bodoh!" Lucas memukul kepala Jeno dengan sendok yang ada di tangannya.
Jeno mengusap pelan kepalnya pelan, "Ya memangnya kau ada cara lain?" tanya Jeno sambil memberengut kesal.
Lucas menggeleng.
"Nah! Sudah ikuti saja saranku! "
"Menculik ya?" ucap Lucas sambil berpikir sejenak, "Boleh sih... Tapi-"
Brak!!
Lucas dan Jeno langsung terlonjak kaget saat mejanya di gebrak oleh seseorang dengan kuat.
"Apa yang baru saja kalian bicarakan?! Kalian ingin menculik sahabatku?!" sembur sang pelaku penggrebakkan yang Lucas dan Jeno tidak ketahui namanya.
"Siapa kalian?" tanya Lucas sambil memicingkan matanya.
"Kami sahabatnya Donghyuck!" sahut orang satunya lagi.
"Ahh aku ingat! Kalian yang menempeli Donghyuck sewaktu Mark dan Donghyuck bertengkar kan?! Aku ingat- ahh siapa nama kalian, Renjun dan Jaemin ya?" ujar Jeno setelah beberapa saat berusaha mengingat-ingat.
"Iya! Itu kami berdua!" sambar Renjun garang.
"Eyy calm down. " ucap Lucas mencoba menenangkan Renjun.
"Bagaimana kita bisa tenang jika kalian ingin melakukan tindak kriminal kepada sahabat kami?!!" timpal Jaemin sambil memelototkan matanya.
"I-itu baru saja rencana!" sanggah Lucas.
Renjun tertawa sinis, "Bagaimana bisa kalian ingin memisahkan Donghyuck dengan sahabat kalian sendiri?!"
"Urusan perasaan itu berbeda! " sahut Jeno.
"Apa maksudmu?! Jangan bilang kalian berdua juga-"
"Kenapa kalian kepo sekali sih?!" singut Lucas kesal.
"Tentu saja kami kepo! Itu menyangkut sahabat kami tercinta!" balas Renjun.
Jaemin memegang tangan Renjun kemudian memberikan isyarat mata agar Renjun berhenti dan tenang.
"Baiklah, itu urusan kalian. Tapi jika kalian sampai melakukan macam-macam kepada Donghyuck, kami berdua tidak akan tinggal diam. Ingat itu!" ancam Jaemin lalu menarik tangan Renjun agar pergi meninggalkan Lucas dan Jeno yang melongo mendengar perkataan Jaemin.
Sepeninggalan Renjun dan Jaemin, Jeno langsung menghela nafas panjang.
"Semakin sulit Cas. "
Lucas tersenyum masam, "Benar. Tuhan sepertinya senang sekali mempermainkan perasaan kita. "
"Ah sepertinya setelah pulang kuliah kita harus pergi ke gereja. "
"Kau benar. Aku ingin merajuk pada Tuhan kali ini. "
Jeno menganggukan kepalanya, ia yakin mereka berdua hanya kurang berdoa saja kepada Tuhan.
.
.
.
Omake:
Mark datang ke perpustakaan yang berada di falkultas Donghyuck tepat pukul 10 pagi, sesuai dengan pesan dari nomer misterius yang mengirimi Donghyuck pesan kemarin.
Mark berjalan masuk kedalam perpustakaan lalu mengernyitkan dahinya keheranan.
"Kenapa tidak ada orang? " gumam Mark sambil memandang kesekeliling.
Mark terus berjalan menelusuri masuk kedalam perpustakan yang benar-benar sepi.
Tiba-tiba matanya menangkap punggung sosok seorang pria yang duduk dengan gelisah di salah satu bangku didalam perpustakaan.
Mark yakin jika pria itulah yang mengirimi Donghyuck pesan setelah melihat ada sebuket bunga mawar merah disampingnya.
Mark dengan langkah yang berhati-hati berjalan mendekati sosok pria misterius itu.
Mark menepuk punggung orang itu pelan, membuat pria itu langsung berdiri dan menolehkan kepalanya kebelakang. "Lee Donghyuck, akhirnya kau dat- Siapa kau?"
Pria itu memasang wajah terkejut dan bertanya-tanya saat melihat jika orang yang berada di hadapannya bukanlah Lee Donghyuck seperti yang ia kira.
"Siapa kau? Ada urusan apa kau dengan kekasihku?!" tanya Mark dengan nada dingin yang menusuk.
Pria itu tersenyum saat mendengar bahwa lelaki di hadapannya itu mengatakan jika Donghyuck itu adalah kekasihnya.
"Ah jadi kau kekasih Donghyuck?"
Mark mengepalkan tangannya menahan emosi saat melihat pria di hadapannya malah menampilkan ekspresi tenang.
"Bagaimana jika aku merebut Donghyuck darimu?" ucap pria itu sambil tersenyum miring.
.
.
.
tbc
Btw karna banyak yang dm di wattpad minta accidentally married jangan di tamatin cepet-cepet, diriku memutuskan untuk menyelipkan satu konflik lagi di akhir cerita.
As always aku mau ngucapin banyak terimakasih kepada kalian semua ya yang udah support book ini yaampun TT teruhuraaaa
Maaf kalo chaps ini mengecewakan :'(
See you next chaps! Have a nice day!
