:
Taufiq879/Tandrato
:
Destined To Live With You
:
Bab 19
Mulutku Harimauku
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Tuan Naruto."
3 jam telah beralu semenjak Naruto mendatangi kantor. Semua pertemuan dengan klien hari ini telah selesai. Ucapan dari sekretarisnya itu menjadi pertanda bahwa ia sudah bisa pulang dan beristirahat. Namun bukan berarti tugasnya telah selesai. Ia masih memiliki tanggung jawab sebagai pelajar.
Setelah berpamitan dengan sekretarisnya, Naruto langsung menuju mobilnya yang berada di garasi. Tak bisa dipungkiri kalau ia sudah lelah. Apalagi selama 3 jam itu ia selalu membahas mengenai bisnis dan hal-hal yang tak jauh dari itu.
Naruto bertemu dengan Korata di lobi. "Ah, selamat malam, tuan Naruto. Terima kasih atas kerja kerasnya. Jika Anda butuh sopir untuk mengantar Anda pulang, katakan saja pada saya."
"Tidak perlu. Aku masih kuat kok mengemudi sendiri."
"Hati-hati di jalan, tuan."
Begitu tiba di mobil, aku teringat oleh Hinata. "Mungkin sebaiknya kutanya apa dia sudah pulang atau belum," batinnya karena khawatir soal kejadian tadi sore. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Hinata. Namun, setelah beberapa saat kemudian yang menjawab panggilannya itu bukanlah Hinata.
"Hei, Siapa kau?" tanya Naruto sedikit kasar sebab yang menjawab panggilannya adalah orang yang tak dikenalinya.
"Ini aku, Hayate. Maaf karena suaraku sedikit serak karena batuk."
"Hayate? Kenapa kau memegang ponsel Hinata?"
"Begini tuan." Terdengar suara rintihan orang yang menahan sakit dari ponsel itu. Mendengarnya, perasaan Naruto menjadi tidak enak.
"Itu suara Hinata kan? Dia kenapa?"
"Aku baru saja menjemput nyonya Hinata setelah ia mengeluhkan sakit perut di rumah temannya. Nyonya Hinata saat ini tidak bisa berbicara."
"Sakit?"
"Sudah dulu Tuan Naruto. Aku sedang mengebut karena harus segera membawa nyonya Hinata ke rumah."
Setelahnya, Naruto tidak memberi jawaban apa-apa lagi. Namun panggilan itu masih belum berakhir karena Naruto belum menutupnya. Namun karena itu, ia bisa mendengar situasi di sana.
"Hayate-san. Cepatlah! A... Aku sudah t... tidak tahan."
"Ahhh, bertahanlah Nyonya! Kita sudah hampir sampai."
"Huek!" Suara itu adalah suara muntahan seseorang. Suara itu pun sepertinya telah membuat Hayate histeris. "Kyaa! Padahal aku baru mencuci joknya!"
Mendengar itu, Naruto langsung mematikan ponselnya dan melemparnya ke jok di sampingnya. Ia menyalakan mesin mobilnya dan dengan cepat jalan meninggalkan tempat parkir menuju rumahnya.
[]=[]=[]
Karena jarak kantor dengan rumah yang terlampau jauh, Naruto memakan waktu yang sangat lama untuk tiba di rumah. Namun karena gerbang rumahnya belum tertutup, ia bisa meyakini bahwa Hayate telah tiba dan belum meninggalkan kediamannya. Naruto tidak bisa tenang. Bahkan meski sudah memasuki halaman rumah, ia masih saja mengebut hingga tiba di depan teras. Ia keluar dari dalam mobil dan memperhatikan bahwa tak ada mobil Hayate di sini.
Raido berlari menghampiri Naruto. "Tuan Naruto! Anda seharusnya tidak boleh mengebut seperti itu. Sangat berbahaya!"
"Lupakan itu. Di mana Hinata?"
"Nyonya Hinata sudah di dalam. Hayate tadi mengantarnya. Tapi kondisinya seperti sedang tidak baik."
Setelah mendengarnya, Naruto berlari dengan cepat ke dalam. Tanpa pikir panjang, Naruto dengan cepat berlari menaiki tangga hingga nyaris terpeleset. Di lantai dua tepat sebelum mencapai kamar Hinata, seorang pelayan yang membawa nampan kosong keluar dari kamar Hinata. Naruto segera menghampirinya dan bertanya, "Bagaimana kondisi Hinata?"
"Maaf tuan. Saya tidak begitu tahu. Saya hanya mengantarkan air dan obat."
Setelahnya, Naruto kembali berlari menuju kamar Hinata. Tanpa mengetuk pintu atau mengatakan apa-apa, Naruto membuka pintu dengan keras lalu berkata, "Kau kenapa, Hinata?" Tatapan mata penuh kekhawatiran itu sirna kala melihat Hinata yang sedang meminum obat terkejut dan hampir menyemburkan kembali air yang diminumnya.
"Naruto! Apa-apaan kau! Tidak bisakah kau mengetuk pintu dahulu," ucap Tsunade marah lalu kemudian menenangkan Hinata yang terbatuk-batuk karena terkejut saat sedang minum.
Naruto mendekati Hinata. Wajahnya kini menyorotkan tatapan merasa bersalah. "Maaf. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Aku hanya khawatir saja."
"Uhuk! Uhuk! Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Naruto. Perutku hanya sakit, kok."
"Sakit. Kenapa? Kau makan apa?"
"Hinata terlalu banyak makan masakan gagal di rumah temannya. Karena itu perutnya sakit. Jadi biarkan Hinata beristirahat agar obatnya dapat bereaksi dengan baik." Tsunade mengambil gelas kosong yang terletak di atas meja lalu menatap Naruto dengan heran. "Lalu, kenapa kau sekhawatir itu?"
"Eh, ya... ya... hanya khawatir saja." Wajahnya memerah. Namun semakin ia berbicara tak jelas, semakin tajam tatapan Tsunade yang ingin mengetahui alasannnya. "A-Aku hanya khawatir. Nenek sudah menyuruh Hinata menjagaku semalaman kemarin. Jadi kupikir Hinata sakit karena aku."
"Apa hanya itu alasannya?"
"..." Naruto terdiam tak bisa menjawab. Karena tak kunjung ada jawaban, Tsunade mengurungkan niatnya untuk menginterogasi Naruto. Ia mendorong dan memaksa Naruto keluar dari kamar Hinata. "Ini kamar gadis. Seorang laki-laki tidak boleh berlama-lama di sini." Tsunade melihat ke arah Hinata. "Istirahatlah."
[]=[]=[]
Naruto merasa malu. Entah kenapa ia sangat khawatir dengan keadaan Hinata. Sebelumnya memang ia belum pernah mengalami hal seperti ini. Tetapi, perasaannya pada Hinata semakin kuat saat ia telah mengingat masa lalunya. Naruto meyakini bahwa karena itulah ia merasa sangat khawatir.
Ia tak bisa konsentrasi dalam belajar. Bahkan ia juga kesulitan untuk tidur meski sekarang dirinya benar-benar lelah. Ia terus memikirkan Hinata. Ia tiba-tiba ingin mengetahui bagaimana perasaan Hinata padanya. Namun mengingat sebuah obrolan Hinata dengan sakura beberapa bulan yang lalu membuatnya depresi. Sebuah obrolan di mana Hinata menyatakan bahwa ia tidak menyukai Naruto di hadapan Sakura. Saat itu memang hatinya serasa tercabik-cabik sebab ia sendiri yang menyuruh Hinata untuk menjawab sesuai apa yang dirasakannya. Mulai saat itu, ia menyadari bahwa ada sedikit perasaan suka di hatinya. Kini perasaan itu semakin membesar, namun ia serasa belum bisa mendapatkannya meski status mereka adalah pasangan suami istri yang sah.
Semakin ia memikirkannya, semakin dirinya tidak bisa tertidur. Namun tanpa di sadari, ia pun tertidur dengan sendirinya.
Di pagi harinya, suara alarm yang keras membangunkannya dari tidur yang penuh dengan kegelisahan. Namun setelah bangun di pagi hari dan membuka jendela kamarnya, kegelisahannya itu sirna. Ia menjadi merasa lebih baik dan bersemangat untuk memulai hari yang baru ini.
Setelah rutinitas setiap pagi harinya selesai, Naruto yang telah berseragam mendatangi dapur. Seperti biasa, Hinata dan Tsunade telah berada di meja makan menikmati sarapan mereka.
"Kau terlambat seperti biasanya. Cepat makan!" titah Tsunade.
Naruto duduk di sebuah kursi tak jauh dari Hinata. "Kau baik-baik saja, kan?" tanya Naruto pada Hinata.
"Iya. Perutku sudah mendingan. Lagi pula aku tidak bisa sering-sering izin. Banyak hal yang terjadi saat aku tidak masuk. Itulah kata Sakura."
"Makanlah dulu! Ceritanya nanti saja," ucap Tsunade.
[]=[]=[]
Keadaan kelas cukup ramai. Pagi ini sudah banyak murid yang hadir di sekolah. Jam pelajaran pun sudah hampir di mulai. Naruto melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Sesaat, perhatian seluruh murid tertuju padanya. Namun itu tak bertahan lama sebab Naruto tidak mengatakan apa-apa dan hanya fokus untuk berjalan mendekati meja tempatnya belajar.
"Yo Naruto, kupikir hari ini kau tidak masuk lagi," ucap Kiba bersemangat. Namun karena tak di jawab oleh Naruto, semangatnya pun hilang.
"Kau kenapa, masih sakit?" tanya Shikamaru. Naruto pun tak menjawabnya.
Naruto terlihat diam. Bahkan meskipun ia dikelilingi oleh sahabatnya, ia hanya diam memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan, Naruto?" tanya Sasuke.
"Naruto kenapa?" tanya Choji.
"Entahlah. Dia sudah seperti ini sejak keluar dari mobil." Suara itu datang dari Sai yang baru saja bergabung dengan mereka. "Aku mencoba memanggilnya, tapi ia sama sekali tidak mengidahkanku."
"Choji, kau masih menyimpan kupon ramen itu?"
Choji pun memberikan selembar kertas pada Shikamaru. "Tidak mungkin dia mau menolak pesona makan Ramen Ichiraku gratis dengan kupon ini." Shikamaru mengibas-kibaskan kertas itu di hadapan muka Naruto yang sedang menutup matanya. Naruto membuka matanya lebar. Semua teman-temannya gembira karena berpikir pancingan itu berhasil. Namun, "benar juga! Sai!" Ia berdiri lalu memanggil Sai. Semua teman-temannya menjadi drop karena sempat berpikir Naruto terpancing dengan kupon makan gratis itu.
"A-Ada apa?" tanya Sai.
"Tokomu menjual stiker mobil kan?"
"Ya. Kami menjual berbagai jenis stiker dan juga jasa pengecatan dengan Airbrush. Memangnya kenapa?"
"Aku akan mampir sepulang sekolah."
"Ah. Terserah kau saja."
Sasuke mendekati Naruto dan bertanya. "Ada apa sebenarnya?"
Kemudian Naruto berbisik. "Saat perjalanan menuju sekolah, Hinata menceritakan tentang alasan yang dia berikan pada Sakura kemarin. Ia mengatakan bahwa kemarin pamannya yang mengantar. Karena itu, aku harus memodifikasi tampilan mobilku."
"Ide bagus. Kalau begitu akan kubantu."
"Oke."
"Apa sih yang kalian bisikkan?" tanya Kiba penasaran.
"Itu pasti rahasia mereka. Kau tidak berhak mencari tahu, Kiba," ucap Shino.
Lalu, 2 orang perempuan memasuki kelas bersamaan. Seketika itu, perhatian seluruh kelas tertuju pada mereka. Dua orang itu adalah Hinata dan Sakura. Namun pandangan seluruh siswa kelas 10-A lebih tertuju pada Hinata. Tak lama setelahnya mereka pun berbicara satu sama lain. Saat aku melihati mereka dengan ekspresi bingung, mereka terdiam. Sepertinya mereka membahas sesuatu yang benar-benar tidak boleh diketahui olehku maupun Hinata.
"Apakah ini, kecurigaan?" batin Naruto.
"Ahh benar. Aku jadi teringat kalau kau sekarang punya skandal di kelas ini," ucap Shikamaru.
"Yang kemarin kuceritakan di rumahmu," kata Sasuke.
"Karena kalian sering tidak masuk di saat yang bersamaan, banyak siswa yang mulai menyebarkan gosip-gosip aneh tentang kalian," ucap Shino.
"Seperti misalnya kalian berdua saling bertemu dan pergi ke hotel cinta untuk—" sebuah bogem mentah mendarat di kepala Kiba. Namun itu tidak berasal dari teman-teman dekatnya.
"Kau dan fantasi mesummu tidak pantas untuk sang dewi kami, Hinata-sama."
Semua mata tertuju pada laki-laki yang tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan itu setelah memukul kepala Kiba. Naruto kala itu yang paling merasa bingung. "Siapa dia?" tanyanya yang semakin mengundang keheranan teman-temannya.
"Kau tidak mengenaliku, Uzumaki Naruto!" Ia menyombongkan dirinya di hadapan Naruto. "Aku adalah Hyuuse Kiriyaga, ketua klub penggemar Hyuuga Hinata."
"Aku belum pernah mendengarnya. Sebenarnya klub apa itu?"
"Sebuah klub Ilegal yang berisi orang-orang bodoh yang 'menikmati keindahan Hinata' dari kejauhan. Mudahnya, klub stalker." Ucapan Sasuke yang blak-blakkan itu membuat hati Hyuuse seraya tertusuk.
"Uchiha Sasuke. Kata-kata orang populer memang setajam pedang!" ucap Hyuuse.
"Hyuuse...? Hyuuse...? Ah! Si penjahat kelamin yang dulu mengincar Sakura!" ucapan Naruto itu membuat Hyuuse terkapar di lantai dalam kondisi sekarat. Ya, kira-kira seperti itu.
"Aku bukan penjahat kelamin. Aku penggemar fanatik!"
"Sama saja! Dulu kau mengincar Sakura. Tapi karena Sasuke sudah mendapatkannya, sekarang kau mengincar Hinata. Maaf saja, aku tidak akan mengizinkannya. Karena Hinata adalah milikku! HAHAhahaha...!" Tertawanya yang keras itu mendadak hilang setelah ia menyadari keanehan yang ia katakan. Karenanya, perhatian setiap murid tertuju padanya. Sasuke yang kala itu sedang memegang ponselnya mendadak terdiam dan membiarkan ponselnya itu jatuh ke lantai. Saking sunyinya, suara ponsel jatuh itu terdengar cukup jelas.
"Apa maksudnya itu?"
"Hei, Serius. Apa itu benar?"
"Kau bercanda?"
"Wah, ini berita bagus."
"Kebenaran terkuak."
"Naruto, serius itu?"
"Dugaanku ternyata benar?"
"Apa itu benar, Hinata?"
"He, serius! Sejak kapan kau dan Naruto berpacaran, Hinata."
"Tidak aku sangka gosip itu benar."
"I-Itu tidak benar!"
"Heh?"
Seperti itulah reaksi teman-teman sekelasnya. Bahkan teman-teman seperkumpulannya pun di buat heran. Sementara Sasuke dibuat tak percaya karena telah menyaksikan Naruto yang hampir saja membocorkan rahasianya sendiri di hadapan seluruh kelas. Naruto hanya bisa memandangi teman-teman kelasnya dengan perasaan sesal karena telah mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan. Reaksi teman-temannya kala itu tampak sangat terkejut. Mata mereka memandangi wajah Naruto dengan penuh rasa penasaran. Tak aneh jika Naruto merasa ketakutan karenanya.
"Eh! Serius! Kau ternyata berpacaran dengan Hinata?" tanya Kiba.
"Tidak. Bukan seperti itu," ucap Naruto membela diri.
"Oi. Kurang ajar! Apa maksudmu mengatakan kalau Hinata itu milikmu?" Hyuuse tidak terima dengan perkataan Naruto. Sebagai pendiri klub penggemar Hinata, ia tidak bisa begitu saja membiarkan dewi yang menjadi lambang klub mereka menjadi milik orang lain.
"Tunggu. Tunggu dulu." Ia melihat Hyuuse mendekat dengan pergerakan tubuh yang siap bertarung. "Aku tadi hanya bercanda. Tidak mungkin kan kau percaya begitu saja?"
"Lalu, gosip tentang kalian berdua yang pergi ke hotel saat tidak masuk bersamaan itu tidak benar?" tanya Kiba.
"Kiba. Bukankah kau sendiri yang menyebarkan gosip itu?" tanya Shino.
"Hmph Benar. Aku lupa," jawab Kiba.
"Oi! Kiba! Kenapa kau menyebarkan gosip seperti itu?" tanya Naruto pada Kiba dengan wajah yang amat marah.
"Maaf Naruto. Gosip itu menyebar dengan sendirinya!" Melihat wajah penuh kemarahan dari Naruto, Kiba pun bersembunyi di balik badan Choji.
"Jangan seenaknya memalingkan wajahmu, Naruto! Urusan kita belum selesai!"
"A-Aku kan sudah bilang itu Cuma candaan! Itu tidak benar."
Melihat Hyuuse tidak segera mundur juga, Naruto menaikkan lengan bajunya. "Baiklah. Kalau itu maumu. Ayo kita selesaikan secara jantan!"
Ketika Naruto dan Hyuuse telah bersiap adu jotos, 2 buah pena mengarah ke Naruto dan Hyuuse. "Dua laki-laki di sana! Jangan berkelahi. Bel sudah berbunyi. Sebentar lagi guru kita datang."
Naruto mengambil pena yang mengenainya dan melihat ke arah orang yang berbicara sekaligus yang melemparnya. Ternyata pelakunya adalah Sakura. Terlihat jelas dari tangan kanannya yang sedang memegang pena dengan posisi siap dilempar. Namun bukanlah Sakura yang benar-benar ia perhatikan, melainkan Hinata. Tatapan mata mereka saling bertemu saat itu. Namun, tatapan itu tidak berlangsung lama sebab Hinata langsung memalingkan wajahnya.
Sepertinya Hinata marah. Mungkin saja akibat perkataan Naruto, ia jadi diserang dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan tentang hubungan mereka. Terlebih lagi dengan adanya gosip yang disebarkan oleh Kiba. Ia benar-benar dibuat kewalahan. Tentu saja itulah yang membuat gadis itu marah sebab Naruto telah menarik pelatuk lewat perkataannya yang pada akhirnya menciptakan kondisi seperti saat ini.
Dengan melihat Naruto, Sasuke bisa merasakan adanya keresahan. Terlebih lagi kelas saat ini belum benar-benar tenang. Sakura pun dibuat kewalahan untuk menenangkan situasi kelas. Terlebih lagi dengan hampir adanya perkelahian antara Naruto dan Hyuuse. "Hyuuse, sebaiknya kau duduk. Kau juga Naruto. Guru kita sudah mau datang."
"Ingat Naruto. Entah perkataanmu itu benar atau hanya candaan, tetap saja kami tidak akan membiarkanmu mengambil dewi kami." Sambil berjalan menuju mejanya, Hyuuse mengatakan itu.
"Sudahlah! Duduk sana, dasar maniak!" ucap Naruto tidak senang dengan perkataan Hyuuse.
Guru jam pertama pun memasuki kelas. Ia adalah Kurenai, salah satu guru senior yang mengajar bahasa di sekolah ini. Ketika berada di dalam dan memandangi para siswanya, ia merasakan kejanggalan pada suasana kelas saat itu. Ia yakin sebelumnya ada masalah yang terjadi. Tapi ia merasa tidak perlu untuk mengungkit masalah itu sebab ia yakin masalah itu sudah diatasi sehingga tidak akan menganggu proses belajar mengajar pagi ini.
"Buka buku paket kalian. Kita akan latihan soal." Perkataan itu adalah awal dari pelajaran di pagi hari ini.
[]=[]=[]
Pelajaran pertama dan kedua telah selesai. Saat ini sudah waktunya untuk istirahat siang. Begitu bel berbunyi, siswa mulai berbondong-bondong keluar menuju kantin. Naruto yang saat itu masih duduk memegang ponselnya melihat Hinata sedang keluar bersama Sakura.
"Ayo ke kantin, Naruto. Sebagai permintaan maaf karena menyebarkan gosip itu, aku akan mentraktirmu," ajak Kiba.
"Nanti aku menyusul. Belikan saja aku makanan seperti biasa," ucap Naruto.
"Kenapa tidak sama-sama?" tanya Sasuke.
"Aku ada urusan. Ada email yang dikirim sekretarisku."
"Kalau begitu kami tunggu di sana," ucap Kiba kemudian pergi bersama yang lain.
Setelah Sasuke dan yang lainnya hilang dari pandangannya, ia kembali melihat layar ponselnya. Sebuah aplikasi terlihat terbuka. Di aplikasi itu, tersusun kalimat-kalimat yang menyerupai sebuah laporan. "Huff. Meski aku sedang di sekolah, tapi tetap saja tak bisa lepas dari pekerjaan kantor," keluh Naruto dalam hati.
5 menit Naruto habiskan untuk membacanya. Setelah selesai, ia pun berdiri hendak pergi menuju kantin mendatangi teman-temannya yang sedang menunggu. Baru selangkah menjauh dari mejanya, ia teringat kejadian di mana Hinata berpaling darinya kala mata mereka bertatapan. "Aku harus minta maaf." Akhirnya sebelum menuju kantin, Naruto mengeluarkan kembali ponselnya dan mengetik sebuah pesan. Setelah mengirimnya, ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kantin.
Tak ada balasan hingga ia tiba di kantin. Ada beberapa kemungkinan kenapa pesan Naruto yang berisi permintaan maaf itu belum di balas. Ia sedang mengobrol dengan teman-temannya, ia sedang tidak membawa ponselnya, kondisinya tidak memungkinkannya untuk membaca pesan dari Naruto, atau bahkan ia masih marah. Namun itu hanyalah sebuah kemungkinan yang dipikirkan oleh Naruto.
Setibanya di kantin semi terbuka yang ada di sekolah ini, ia mendapati keberadaan Hinata di meja yang tak jauh dari jalan masuk. Posisi duduknya membelakangi jalan masuk sehingga Naruto bisa lewat tanpa diketahui oleh Hinata. Tak jauh darinya, Naruto melihat teman-temannya sedang duduk beramai-ramai menikmati makan siang bersama. Ketika berjalan untuk menghampiri mereka, ia sempat melirik ke arah Hinata dan Sakura yang sedang makan berdua. Kala itu, terlihat Hinata sedang melihat layar ponselnya sementara Sakura sedang makan. Naruto menyadari bahwa kemungkinan Hinata sedang membaca pesannya.
Sementara itu.
"Hinata, makan dulu. Nanti makananmu keburu dingin," ucap Sakura mengingatkan Hinata.
"Hump, sebentar lagi. Aku sedang membalas pesan," jawab Hinata.
"Dari siapa?" tanya Sakura penasaran.
"Eh, eto... pamanku." Saat mendengar jawaban Hinata, Sakura kala itu sedang melihat seorang laki-laki yang tak asing di matanya sedang memasuki area kantin. Namun karena laki-laki itu tidak melihat ke arahnya, Sakura mengabaikannya. Tentu saja laki-laki itu adalah Naruto.
"Cepatlah. Setelah dari kantin, kita kan harus ke perpustakaan."
"Iya. Aku tinggal mengirimkannya saja." Jari Hinata pun mulai menekan tombol untuk mengirim. Setelah muncul notifikasi bahwa pesan telah terkirim, ia meletakkan ponselnya di atas meja. Namun baru saja ponsel itu di letakkan, ia terkejut mendengar suara pesan masuk. Suara pesan masuk itu bukanlah dari ponselnya, melainkan dari ponsel milik seseorang yang ada di belakangnya. Terlebih lagi, suara ponsel itu cukup dikenalnya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Sakura. Wajah gadis di hadapannya itu terlihat terkejut. Ia melihat ponsel Hinata yang berada di atas meja lalu melihat ke arah Naruto dengan tatapan intens.
Karena memandangi Sakura, Hinata pun ikut berbalik melihat orang di belakangnya. Ia mendapati Naruto sedang berhenti di belakangnya. Wajah Naruto kala itu mengekspresikan keterkejutan luar biasa yang tak berbeda dari Sakura. Saat itu, Hinata sedang membalas pesan Naruto. Tapi siapa sangka tepat saat itu, Naruto sedang berada di belakangnya. Tentu saja melihat kejadian ini, Sakura merasa curiga. Melihat ponsel Hinata yang masih belum mati ataupun terkunci, Sakura dengan cepat menyambarnya. Tindakan Sakura itu mengundang kepanikan Hinata maupun Naruto.
"Sakura! Kembalikan!" Namun Hinata terlambat mengatakannya. Sakura telah melihat kotak pesan Hinata. Tidak perlu melihat isi pesan, dengan hanya melihat ada nama 'Naruto' di kotak masuk dan kotak keluar saja sudah membuat Sakura percaya bahwa ada interaksi antar kedua orang itu melalui ponsel.
"Tidak mungkin!" Ponsel Hinata jatuh dengan bebas ke atas meja. "Apa gosip itu ternyata benar? Apa kau punya hubungan seperti itu dengan Naruto?"
"Itu tidak benar. Aku akan menjelaskannya, tapi tolong jangan melakukan sesuatu yang dapat mengundang perhatian."
Sakura menatap Naruto dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. "Tidak. Tidak seperti yang kau pikirkan, Sakura. Hubungan kami tidak seperti itu." Melihat tatapan Sakura saja sudah cukup membuat Naruto ketakutan.
"Naruto, pergilah!" Hinata mengusir Naruto agar keadaan tidak menjadi heboh. Tak hanya itu, Hinata pun segera menarik tangan Sakura dan pergi menghilang dari kantin. Siswa lain sepertinya tidak terlalu menyadari kejadian itu. Akan tetapi, perhatian Sasuke dan teman-teman yang lain terfokus pada mereka.
"Naruto. Apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba mereka pergi saat melihatmu?" tanya Shikamaru.
"Hinata menarik tangan Sakura setelah ia melihat ponsel milik Hinata. Apa kau tahu apa yang mereka bicarakan?" tanya Choji.
"Jika tidak salah, kalian bertiga terlihat sangat terkejut tadi. Apa terjadi sesuatu yang besar?" tanya Kiba.
Sasuke hanya menatap Naruto dengan sedikit kekhawatiran. Sepertinya ia berhasil menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"T-tidak ada yang terjadi, kok. Aku hanya kebetulan sedang lewat saat mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Mungkin saja mereka terkejut karena aku ada di dekat mereka dan mendengar pembicaraan mereka." Sebuah kebohongan pun diucapkan oleh Naruto untuk melindungi kejadian yang sebenarnya. Meskipun itu tak menjelaskan alasan kenapa Sakura terlihat sangat terkejut saat melihat ponsel Hinata, tapi sepertinya teman-temannya sudah merasa terpuaskan dengan jawaban yang diberikan Naruto.
"Oh begitu. Kupikir ada apa?" ucap Shikamaru.
"Hooh, Lalu apa yang dua perempuan itu bicarakan? Kau pasti dengar banyak hal kan?" tanya Kiba
"Tidak. Aku hanya mendengar sedikit. L-Lagi pula itu adalah rahasia mereka," jawab Naruto.
"Naruto. Sebaiknya kau segera makan makanan yang dibelikan Kiba. Sudah mulai mendingin," ucap Sasuke dengan tujuan untuk menghentikan pembicaraan mengenai kejadian itu.
Naruto pun mengambil tempat duduk yang berada di samping Sasuke. "Terima kasih, Sasuke," ucapnya pelan.
Saat sedang makan, seorang siswa yang lain menghampiri Naruto.
"Permisi." Setelah mendapatkan respons dari Naruto. "Kau teman 2 gadis yang tadi pergi itu kan? Yang tadi duduk di meja sana." Orang itu menunjuk meja yang sebelumnya di pakai Hinata dan Sakura.
"Iya. Ada apa?" tanya Naruto.
Orang itu mengulurkan sebuah ponsel. "Ini milik salah satu dari mereka. Aku temukan di meja."
"Oh! Ponsel Hinata. Aku jadi penasaran. Apa isinya sampai-sampai Sakura menjadi terkejut saat melihat ponsel itu." Kiba berusaha mengambil ponsel yang masih berada di tangan orang itu. Namun gerakannya di halangi oleh Shikamaru dan Sasuke.
"Bukankah Naruto sudah bilang itu rahasia mereka. Kenapa kau masih bersikeras, hah?" kata Shikamaru.
"Agh! Lepaskan! Shikamaru. Lepaskan. Aku tidak bisa nafas." Lengan Shikamaru mengunci pergerakan Kiba dengan menjepit lehernya di antara lengan dan bahunya.
"Terima kasih. Mereka berdua benar-benar ceroboh," ucap Naruto.
"Aku permisi!" orang itu pun pergi setelah ponsel Hinata telah diterima oleh Naruto.
Naruto memandangi ponsel itu sejenak sambil tersenyum sebelum akhirnya memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya, Namun senyumannya itu malah mengundang perhatian teman-temannya.
"Kenapa kau tersenyum, Naruto? Apa kau mendapatkan cara untuk mendapatkan hati Hinata?" pertanyaan itu datang dari mulut Sai.
"Geek! Hah? Kenapa kau berpikir begitu?" Naruto terlihat terkejut mendengarnya. Meskipun bukan itu yang ia pikirkan saat melihat ponsel Hinata.
"Menurut perkiraanku, kau menyukai Hinata. Perkataanmu sebelumnya. Jika itu memang hanya candaan, tidak mungkin kau akan mengatakan hal seperti itu. Kecuali jika kau memang ada rasa dengan Hinata." Sai, mulutnya ini benar-benar mengutarakan semua yang ia pikirkan. Perkataannya kali ini bisa dikatakan tepat.
"Hooh, benar juga. Apa memang kau menyukai Hinata, Naruto?" tanya Kiba.
"Dengan mengembalikan ponsel itu, mungkin saja minat Hinata padamu akan bertambah. Semoga berhasil, Naruto," ucap Choji.
"Bukan seperti itu!" Teriakan Naruto membisukan suasana. "Aku sama sekali tidak berniat begitu. Aku tersenyum karena hal lain. Tapi, aku jujur. Aku memang menyukai Hinata. Puas kalian?"
Perkataan Naruto itu sama sekali tidak membuat mereka terkejut. Malahan, dengan seketika mereka mendukung Naruto.
"Tapi perlu kau ingat, Naruto. Hyuuse dan anggota klubnya mungkin akan menyusahkan," ucap Sasuke secara tiba-tiba ketika teman-temannya yang lain sedang memberikan dukungan penyemangat untuk Naruto.
"Ya. Aku tahu. Tapi tidak akan kubiarkan mereka menggangguku. Aku tidak mau kalah darimu. Kalau kau bisa mengambil Sakura dari mereka, aku juga bisa."
[]=[Bersambung]=[]
Yo Minna. Maaf membuat kalian menunggu. Kali ini aku telah mengeluarkan Chapter 19 setelah 2 kali di revisi. Oleh karena itu, waktu pengerjaannya memakan banyak waktu. Terlebih lagi selama 3 hari aku memfokuskan diri untuk membuat Fic Oneshot untuk sebuah Event.
Aku harap kalian terhibur dengan chapter ini. Semoga saja ceritanya tidak membosankan. Maaf kalau unsur romantisnya sedikit kurang.
Oh ya, waktu itu ada yang minta buat saingan kan? Maaf karena model saingannya seperti itu. Kuharap kau menerimanya dengan lapang dada.
Thanks buat Shiba Tatsuya, .980, Ryuuzack, dan .161 yang telah memberikan review untuk chapter kemarin. Dan tak lupa juga bagi kalian yang sudah memfav dan memollow cerita ini. Tanpa dukungan kalian, aku mungkin tidak akan mendapatkan pembaca yang banyak. Tanpa pembaca, aku tidaklah berarti. Sepenting itulah jumlah Fav&Foll dalam mempengaruhi cerita. Dan bagiku, Review pun tak kalah penting.
Maaf jika chapter berikutnya akan lama. Tapi akan saya usahakan percepat. Cerita ini juga kemungkinan bakal tamat sebelum menyentuh chapter 30. Terima kasih sudah membaca.
