"Bagaimana jika aku merebut Donghyuck darimu?"

Rahang Mark seketika langsung mengeras mendengar perkataan kurang ajar dari lelaki asing yang berada di hadapannya ini.

"Kau akan mati jika berani melakukannya. " balas Mark dengan nada dinginnya.

Lelaki itu tertawa, seakan-akan ancaman dari Mark adalah sebuah gretakan tidak berarti. Dia menatap Mark tajam kemudian mendecih pelan, "Aku pernah sekali melihatmu membuat Donghyuck menangis. Kau pikir akan membiarkannya terulang lagi?"

Mark menaikan sebelah alisnya heran. Melihat Donghyuck-nya menangis? Kapan??

Melihat raut kebingungan yang ada di wajah Mark membuat lelaki tidak dikenal itu sontak tersenyum sinis.

"Jika kau tidak benar-benar mencintainya, lebih baik kau lepaskan Donghyuck. "

"Berhenti berbicara omong kosong sebelum ku robek mulutmu!"

"Ahh.. Kau benar-benar tempramental, seperti yang Jaemin katakan padaku. "

"Jaemin?"

Lelaki itu mengangguk meng-iya-kan. Membuat Mark semakin dibuat keheranan.

"Kau pikir aku main-main dengan Donghyuck? Kau bercanda?"

Lelaki itu mengibaskan tangannya pelan lalu mendudukan dirinya di atas meja perpustakaan. "Itu yang aku rasa."

"Lucu. " cibir Mark.

Lelaki itu menghendikan bahunya pelan lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.

"Aahh Donghyuck.. " ucap lelaki itu setelah mendengar sahutan dari sebrang.

Mark melebarkan matanya kaget saat mengetahui jika lelaki itu menelpon Donghyuck-nya.

"Bisa kah kau keperpustakaan yang berada di gedung fakultasmu?... Iya sekarang... Hahaha sampai jumpa sayangku..." Lelaki itu melemparkan tatapan jahil saat mengatakan kalimat terakhirnya itu. Ia tertawa girang di dalam hati saat melihat raut wajah Mark yang terlihat sangat murka.

"Berani-beraninya kau menelpon calon istriku!" Bentar Mark emosi.

"Calon istrimu? Hahaha jangan bercanda. "

"Kau pikir aku bercanda? Dasar pendek. "

Lelaki itu langsung mendelik marah saat mendengar Mark sudah mengungkit-ungkit masalah tinggi badan. Baginya itu adalah topik sensitif yang tidak termaafkan!

"Apa kau bilang?! Pendek! Dasar alis golok!"

Mark memasang raut tidak terima saat alisnya di katai alis golok. Yang benar saja! Alisnya itu alis camar! Bukan golok! Sembarangan!

"Enak saja! Dasar kerdil, pendek, biji kecamb-"

"Mark hyung?"

"Oh Donghyuck, kau sudah datang. Cepat sekali. " lelaki itu dengan senyum ramah menyapa Donghyuck, membuat Mark yang ada di hadapannya semakin menekuk wajahnya.

"Kebetulan aku tadi sedang di toilet yang berada di samping perpustakaan. Memangnya ada apa hyung?" Tanya Donghyuck.

"Kau kenal dia?!" Tanya Mark kepada Donghyuck yang sudah berdiri di sampingnya.

"Tentu saja kenal. Lagipula kenapa kalian berdua berada disini?" Donghyuck balik bertanya dengan ekspresi kebingungan.

"Tidak tahu. Aku mengirimu pesan kemarin agar bertemu denganku jam sepuluh di sini, tapi malah dia yang datang. " balas lelaki itu sambil menunjuk Mark dengan dagunya.

"Memangnya kau siapa sampai berani-beraninya mengajak calon istri orang bertemu! Apalagi aku tidak mengenalmu!" Singut Mark.

"Oh jadi karna ini kau menyentuh ponselku kemarin hyung?" Ucap Donghyuck sambil melemparkan ekspresi 'terciduk kau'

"Iya! Aku membaca pesannya, dan langsung menghapusnya agar kau tidak tahu!" Balas Mark dengan nada yang menggebu-gebu.

"Apa-apaan itu. Kekanakan sekali. " cibir lelaki itu.

Donghyuck tergelak mendengar perkataan Mark. Astaga, kekasihnya ini sangat over protektif sekali.

"Dia ini Xiaojun hyung, kakaknya Chenle. Dia sudah kuanggap hyungku sendiri." Ucap Donghyuck sambil tertawa.

Mark memasang raut wajah tidak percaya mendengar perkataan Donghyuck, dia tidak bisa percaya begitu saja.

"Kau tidak menyimpan nomer ponselnya. " ujar Mark dengan mata memicing tajam.

"Dia tidak penting, kenapa aku harus menyimpan nomer ponselnya. Bahkan nomor ponselmu saja tidak ku simpan. " balas Donghyuck.

Mark dan lelaki yang sudah di ketahui bernama Xiaojun itu sontak mendelik marah mendengar perkataan Donghyuck.

"Bisa-bisanya kau tidak menyimpan nomer ponselku?!"

"Kau benar-benar tidak menyimpan nomer ponselku sayang?!! Kau bercanda?!"

Pekik Xiaojun dan Mark heboh.

"Jangan berlebihan. "

Donghyuck tidak habis pikir, kenapa urusan nomer ponsel saja mereka sangat lebay.

"Oh iya hyung, ngomong-ngomong kenapa kau ingin bertemu denganku?" Tanya Donghyuck kepada Xiaojun.

"Dia bilang ingin merebutmu dariku!" Sahut Mark dengan nada marah.

Donghyuck menolehkan kepalanya ke arah Mark dan menatapnya dengan pandangan malas, "Bisa diam dulu tidak?"

"Aku ingin berpamitan kepadamu, aku akan kembali pergi ke Jerman untuk pertukaran mahasiswa. " ucap Xiaojun.

"Kenapa tiba-tiba?! Kaukan baru kembali dari China! Lalu bagaimana dengan Chenle? Dia akan tinggal dengan siapa nanti di Seoul?!"

"Chenle akan tinggal denganmu. Paman Johnny dan bibi Ten tidak memberitahumu?"

Donghyuck menggelengkan kepalanya, "Tidak. "

"Mungkin belum sempat, lusa dia akan kerumahmu setelah mengantarku ke bandara. "

Mark yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Donghyuck dan Xiaojun sedikit mengerti jika ternyata Xiaojun tidak berpotensi untuk menikungnya, dia sudah berprasangka buruk. Tapi ada satu hal yang membuat Mark masih merasa janggal, untuk apa dia bertemu Donghyuck dengan membawa buket bunga seperti itu?!

"Berhenti menatapku seperti itu. " ujar Xiaojun yang sedari tadi merasa risih karna ditatap dengan pandangan membunuh oleh Mark, "Aku bercanda. Aku tidak akan merebut Donghyuck darimu. Puas kau! " tambahnya.

Mark memicingkan matanya tidak percaya, "Lalu kenapa kau membawa buket bunga huh?!"

Xiaojun menggaruk tengkuknya canggung, "Ini buat Renjun. Aku tidak berani mengatakan padanya jika aku pergi. Dia pasti akan mencakarku nanti. "

Donghyuck tertawa mendengar perkataan Xiaojun, ia tahu dengan pasti jika sebenarnya Xiaojun itu ada rasa dengan Renjun. Tapi dia memilih untuk diam saja.

"Oh begitu. " balas Mark dengan nada ketus.

"Cih dasar. " cibir Xiaojun.

Mark akhirnya bisa bernafas lega, lelaki yang bernama Xiaojun ternyata tidak berpotensi sebagai penggangu hubungannya dengan Donghyuck.

"Lihat itu, dia tersenyum-senyum seperti orang gila. " ucap Xiaojun sambil menunjuk-nujuk wajah Mark.

Mark tidak merespon perkataan Xiaojun, dirinya malah menarik Donghyuck agar menempel padanya.

"Kau sudah tidak ada kepentingan lagi dengan Donghyuck kan? Kalau begitu kami pergi. " ucap Mark sambil menarik tangan Donghyuck agar berjalan pergi meninggalkan Xiaojun.

"Kau apa-apaan sih hyung!" Protes Donghyuck saat tubuhnya sudah di geret begitu saja oleh Mark.

"Sudah diam. Aku sedang tidak mood. " balas Mark ketus tanpa melihat ke arah Donghyuck.

Donghyuck mendengus pelan, kekasihnya satu ini memang benar-benar tempramental dan sangat cemburuan.

Donghyuck tidak tahu harus bersyukur atau tidak untuk hal ini.

Ah sepertinya dia harus menelpon Xiaojun hyung nanti.

.

.

.

Mark tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat mendengar kabar jika dirinya akan menikah dengan Donghyuck bulan depan.

Sepulang dari kuliah, ia melihat kedua orang tuanya telah duduk di sofa ruang tamu apartemennya sambil memasang raut wajah kesal, marah, jengkel, dan dongkol.

Awalnya Mark pikir jika orangtuanya kesal karna dirinya tidak datang ke bandara untuk menjemput mereka berdua, tapi ternyata dugaannya salah.

"Dasar hormon binatang! Tidak bisa ya ditahan sampai kau resmi menjadi suami sah Donghyuck?!" Kesal Taeyong.

"Tidak bisa Mom, jika diriku dekat dengan Donghyuck, rasanya aku tidak bisa menahan hormon ku ini. Aku jadi ingin menciumnya, memeluknya, dan membawanya ke ran-"

"Hentikan. Kau tidak perlu menjelaskan sampai seperti itu kepada kami!" Potong Jaehyun jengkel.

"Aku hanya mengatakan kebenarannya Dad. Tadi kan Mom bertanya!" ucap Mark sambil mengerucutkan bibirnya.

Taeyong menghela nafas pelan kemudian bangkit dari duduknya.

"Ganti baju mu! Setelah itu ikut mommy!"

Mark mengerutkan dahinya kebingungan, "Kemana mom?"

"Nanti juga tahu sendiri. "

"Mommy jangan sok misterius seperti itu! Jangan-jangan Mommy mau membuangku di tengah hutan ya!" Pekik Mark ngawur.

Jaehyun menepuk kepalanya pelan, ia sekarang merasa sedikit bersalah karna tidak memantau perkembangan otak anakanya itu. Semakin besar kenapa semakin tidak waras? Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu! Astaga.

Taeyong langsung menggeplak kepala Mark dengan kuat, jengkel sekali dia rasanya dengan putra satu-satunya itu.

"Sembarangan saja. Jika Mommy ingin membuangmu, mommy akan memilih untuk membuangmu segera setelah kau lahir jika tahu saat besar kau sangat menjengkelkan seperti ini. "

"Astaga! Jahat sekali!"

"Sudah! Berhenti bicara. Cepat ganti bajumu sekarang!"

Mark mendesah panjang kemudian berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

"Anakmu itu benar-benar. " ucap Taeyong sambil melirik ke arah Jaehyun yang sedang asik menonton televisi.

"Hey! Itu anakmu juga!" Protes Jaehyun tidak terima.

"Ya ya ya" balas Taeyong malas.

Setelah beberapa saat, akhirnya Mark keluar juga dengan pakaian yang lebih rapi.

"Berangkat sekarang Mom?" tanya Mark sambil berjalan menghampiri Taeyong.

"Tahun depan. Menurutmu?!" balas Taeyong ketus.

Mark mendengus melihat sang Ibu yang masih saja kesal kepadanya.

"Ya sudah ayo berangkat." ajak Mark.

Taeyong mendengus kemudian menatap Jaehyun yang masih sibuk menonton televisi dengan tatapan tajam. "Kau jangan pergi keluar! Diam saja disini dan masaklah sesuatu untuk kumakan nanti!"

Jaehyun baru saja ingin melayangkan protes tapi Taeyong sudah lebih dahulu melemparkan death glare andalannya, membuat Jaehyun hanya menganggukkan kepalanya patuh. Dasar istri kejam kepada suami sendiri.

Taeyong dan Mark langsung pergi meninggalkan Apartemennya menggunakan mobil Mark menuju ke sebuah pusat perbelanjaan.

Mark menaikan sebelah alisnya lalu menatap heran ke arah Ibunya yang sedang duduk sambil bersedekap dada di sampingnya.

"Mommy ngin aku temani berbelanja?"

"Sudah tidak usah bicara, Mommy masih tidak ada mood untuk bicara denganmu. " balas Taeyong ketus.

Mark mendengus sebal lalu memarkirkan mobilnya di parkiran Mall.

Taeyong keluar dari mobil kemudian mengisyarakan Mark untuk mengikutinya.

Mark hanya menuruti permintaan Mommy-nya tanpa banyak bicara, karna ia yakin Mommy-nya itu masih sangat kesal padanya.

Mereka berdua berjalan beriringan memasuki sebuah toko perhiasan, membuat Mark kembali memasang raut wajah kebingungan.

"Mommy ingin membeli perhiasan? Bukan tipikal Mommy sekali. " komentar Mark.

Taeyong hanya menolehkan kepalanya dan menatap Mark seakan-akan mengatakan 'Kenapa-kau-tidak-bisa-diam-sedari-tadi-huh?! '

"Halo tuan-tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu pelayan toko perhiasan itu.

"Aku ingin membeli sepasang cincin pengantin yang paling cantik. " ucap Taeyong sambil menyunggingkan senyum manis.

Mark membulatkan matanya kaget mendengar perkataan Ibunya, "Mommy mau menikah lagi?!" seru Mark tidak percaya.

Taeyong mendengus sebal kemudian memukul kepala anaknya, "Dasar bodoh! Cincin ini untuk pernikahanmu dengan Donghyuck!"

Mark langsung membuka mulutnya tidak percaya, "B-buatku dan Donghyuck?!"

Taeyong menganggukan kepalanya malas, ia kembali memilih cincin-cincin yang di rekomendasikan oleh pelayan tadi.

Mark tidak bisa melenyapkan senyuman lebar yang menempel di wajahnya. Sekarang dirinya sedang membeli cincin untuk pernikahannya dengan Donghyuck, astaga semuanya terasa seperti mimpi!

"Menurut Mommy yang ini bagus. " Taeyong menunjukan sebuah cincin emas putih polos dengan sebuah kristal yang sangat cantik di tengahnya.

Mark menganggukan kepalanya antusias melihat cincin yang di tunjukan oleh Taeyong.

"Ukuran jari Donghyuck sama seperti ukuran jari Mommy, sepertinya sih. " gumam Taeyong sambil mencoba memakai cincin itu di jarinya.

Mark juga ikut mencoba cincin itu di jarinya kemudian tersenyum bahagia, jantungnya berdegup kencang hanya karna hal seperti ini. Lemah sekali kau Mark Lee.

"Kau sudah coba?" tanya Taeyong yang langsung diangguki oleh Mark.

"Baiklah, kalau begitu saya ambil yang ini. " ujar Taeyong kepada pelayan toko perhiasan.

Pelayan tersebut tersenyum kemudian segera menyiapkan dan membungkus cincin yang ingin dibeli Taeyong dan Mark.

Setelah urusan bayar membayar selesai, sepasang Ibu dan anak itu melanjutkan langkah mereka menuju sebuah butik yang menjual pakaian pengantin.

"Mom, memangnya kau tahu ukuran badan Donghyuck. " tanya Mark. Ia khawatir jika mereka membeli tuxedo pernikahan tanpa mengajak Donghyuck seperti sekarang, maka tidak akan sesusai dengan badan Donghyuck.

Taeyong mendecih pelan kemudian berkata, "Harusnya kau tahu ukuran badan Donghyuck, bukankah kau sudah sering menyentuh seluruh badannya. "

"Mom!"

"Apa?!" balas Taeyong sambil mendelik kesal.

Mark hanya bisa mendengus sebal melihat Mommy-nya yang masih saja salty kepadanya.

Taeyong mengeluarkan ponselnya kemudian membuka pesan yang Ten kirimkan tadi pagi, yaitu ukuran tubuh Donghyuck yang Ten ukur sendiri.

"Oh Taeyong?!"

Taeyong sedikit berjengit kaget saat mendengar seseorang meneriakkan namanya kemudian memukul bahunya dengan sedikit keras.

"Kenapa kau kemari tidak bilang-bilang?!"

Taeyong membalikkan tubuhnya dan melihat sahabat lamanya berdiri di belakannya dengan senyum lebar.

"Jeonghan? Astaga kau berada disini? Ku kira kau masih di Los angeles! " Taeyong langsung memeluk sahabatnya yang bernama Jeonghan itu dengan erat.

"Kebetulan aku singgah sebentar disini. Aku tidak menyangka jika kau akan kemari. " pekik Jeonghan heboh.

"Aku kesini ingin memesan tuxedo pernikahan buat anakku. " Taeyong menarik tangan Mark agar mendekat kepadanya.

Jeonghan memandang Mark dengan wajah terkejut, "Anakmu akan menikah?! Astaga beruntung sekali dirimu. "

Taeyong tersenyum manis mendengar ucapan sahabatnya itu, "Tentu saja aku beruntung, meskipun keberuntungan ini datang terlalu cepat karna seseorang yang tidak bisa menahan nafsunya. "

Mark tersedak ludahnya sendiri saat mendengar sang Ibu yang menyindirnya begitu terang-terangan.

Jeonghan awalnya kebingungan dengan maksud dari perkataan Taeyong, tapi dia memutuskan untuk tidak menanggapinya karna ia merasa hanya akan membuat otak kecilnya menjadi kram.

"Ahh begitu, kalau begitu kau bisa melihat berbagai jenis model tuxedo pernikahan di katalog ini. " Jeonghan menyodorkan buku katalog kepada Taeyong.

Taeyong langsung mengambil katalog itu dan membuka halaman demi halaman untuk melihat berbagai model tuxedo.

"Yang ini bagus Mom. " Mark menunjuk sepasang tuxedo berwarna putih dan hitam yang ada di katalog itu.

"Hmm... Kau suka yang ini?" tanya Taeyong.

Mark menganggukan kepalanya meng-iya-kan, "Iya Mom, sangat simple dan elegan. Donghyuck pasti suka. "

"Jeonghan, aku ambil yang ini. " Taeyong menunjukan tuxedo yang Mark sukai tadi kepada Jeonghan.

"Yang ini? Tidak masalah. Mari kita ukur tubuhmu dulu Mark. " Jeonghan memanggil salah satu pegawainya kemudian menyuruhnya untuk mengukur tubuh Mark.

"Lalu dimana calon pengantin satunya?" Jeonghan baru menyadari jika Taeyong hanya berdua saja dengan anaknya, "Bagaimana kita mengukurnya?"

"Ini ukuran calon pengantin satunya lagi " Taeyong mengeluarkan ponselnya dan memberikan ukuran tubuh Donghyuck yang Ten kirim kepada pegawai butik Jeonghan.

"Kapan acaranya?" tanya Jeonghan.

"Bulan depan, tapi usahakan jadi 2 minggu lagi. Bagaimana, bisa?"

"Tentu saja. 2 minggu lagi tuxedo ini akan dikirimkan ke alamatmu. "

Taeyong tersenyum kemudian memeluk Jeonghan, "Terimakasih banyak. Kalau begitu aku harus segera pergi. Maaf tidak bisa mengobrol banyak denganmu. "

"Tidak masalah, kita bisa mengobrol lain waktu. " balas Jeonghan sambil tersenyum.

"Kalau begitu kami permisi. " pamit Taeyong.

Setelah keluar dari butik Taeyong langsung berjalan menuju ke parkiran mobil dengan Mark yang mengintil di belakanganya.

"Kita mau kemana lagi Mom?"

"Pulang. "

"Pulang?"

"Iya, cincin dan baju pernikahan sudah kita dapat. Sisanya urusan Ten. " Taeyong menghembuskan nafas berat kemudian memandang lurus kedepan, "Setidaknya satu urusan sudah selesai. "

.

.

.

Sepulang kuliah, Donghyuck menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk diam di meja makan.

"Ada apa dengan suasana ini? Suram sekali. " ucap Donghyuck sambil mendudukan dirinya di samping Ten.

"Ayah ingin mengatakan hal yang serius kepadamu. "

Donghyuck mengerjabkan matanya beberapa kali saat mendengar perkataan sang Ayah.

"Kau dan Mark akan menikah bulan depan."

Donghyuck yang sedang menengguk air minum langsung menyemburkan air saking kagetnya. Menikah?! Bulan depan?!

"APA?!!!!"

Ten yang duduk di samping Donghyuck seketika langsung menutup telinganya karna suara sang anak sungguh memekakan telinga.

"Bagaimana bisa aku menikah bulan depan!!! Kalian tidak meminta persetujuanku?!!" Protes Donghyuck tidak terima.

"Buat apa persetujuanmu? Kami yakin kalian berdua akan kegirangan. " balas Johnny ketus.

"Aku tidak kegirangan!!"

Ten menepuk-nepuk pelan pundak sang anak kemudian tersenyum tenang, "Sudahlah, kau terima beres nanti, semua persiapan pernikahan akan diurus oleh Ibu dan Mommy-nya Mark."

Mata Donghyuck berkedut tak suka mendengar perkataan ibunya.

Dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya. Beberapa hari yang lalu jelas-jelas jika mereka menolak lamaran Mark, dan sekarang dengan tiba-tibanya mereka mengatakan bahwa ia dan Mark akan menikah bulan depan. Kenapa mereka sangat labil?!

"Yang akan menikah itu aku! Kenapa kalian tidak minta persetujuanku dulu!" Pekik Donghyuck marah, "Lagipula kenapa kalian tiba-tiba berubah pikiran seperti itu sih?!"

"Kau dan Mark sudah melakukan seks. Alasan itu sudah cukup untuk kami menikahkan kalian segera. " balas Johnny.

Donghyuck semakin dibuat menganga tidak percaya karena perkataan sang ayah.

"T-tapi aku kan tidak hamil Ayah!"

"Tapi kau sudah dibobol!" Sahut Ten.

"Ayah! Ibu! Aku tidak mau menikah secepat ini!!!"

Ten dan Johnny tidak menanggapi segala protesan tidak terima dari Donghyuck, membuat Donghyuck semakin menggeram kesal.

"AAAAH AKU BISA STRESS LAMA-LAMA!!" Donghyuck menggebrak meja makan kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan pergi sambil menghentak-hentakan kakinya.

"Lihat dia, ber-akting seperti tidak suka menikah saja. " ucap Ten sambil memandang punggung sang Anak yang sudah menaiki tangga ke lantar dua.

"Sepertinya dia memang tidak suka. "

Ten memutar bola matanya malas kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Johnny, "Anak itu hanya jual mahal. "

"Seperti kau dulu. " balas Johnny.

Ten tertawa mendengar perkataan suaminya, "Aku? Aku tidak pernah jual mahal. "

"Kau dulu pernah menangis karna aku mengajak Doyoung pergi ke perpustakaan. Padahal kau sendiri yang menolak ajakanku. Aku masih ingat kau bahkan berkata padaku untuk berhenti mengikutimu. "

Ten mendelik kesal saat sang suami kembali mengungkit-ungkit tentang jaman mereka belum menikah.

"I-itu... "

"Padahal kau yang sangat menyukaiku, tapi jual mahal. " cibir Johnny.

Ten yang sudah kesal mendengar perkataan suaminya langsung melemparkan kotak tisu yang ada dihadapannya dan tepat mengenai kepala Johnny.

"Jangan ungkit-ungkit jaman dulu!"

Johnny mengelus-elus kepalanya yang berdenyut nyeri kemudian menghembuskan nafas berat.

Ten yang melihat suaminya kembali memasang wajah galau mengerutkan dahinya heran, "Kenapa lagi?" Tanya Ten.

"Aku masih tidak rela melepaskan Donghyuck, apalagi kepada Mark. " lirih Johnny.

"Sejujurnya aku juga tak rela. Tapi mau bagaimana lagi? "

Johnny menggelengkan kepalanya lemah, "Tidak tahu. Bisakah kita pindah rumah ke Chicago saja. Menjauhkan Mark dan Donghyuck. " ucap Johnny ngawur.

"Jangan berkata sembarangan seperti itu! Kita berdo'a saja semoga Mark bisa lebih dewasa nanti setelah menikah. "

"Ya, semoga saja. "

.

.

.

Ke-esokan harinya, Donghyuck berjalan dengan langkah gontai menuju Cafearia dimana dua sahabat sehidup matinya telah menunggu.

"Kenapa wajahmu di tekuk jelek seperti itu? " tanya Renjun ketika melihat Donghyuck sudah mendudukan dirinya dikursi yang berada di sampingnya.

Jaemin yang duduk dihadapan Renjun ikut keheran melihat wajah Donghyuck yang sangat masam.

"Aku sedang kesal. " balas Donghyuck lemah.

"Kesal? Jika kau kesal kau akan menggebu-gebu. Tidak kuyu seperti ini. " komentar Renjun.

"Apa kau sakit?" Jaemin menjulurkan tangannya agar bisa menyentuh kening Donghyuck, "Wajahmu sedikit panas. "

"Aku akan menikah bulan depan. "

Jaemin dan Renjun seketika langsung terdiam dan menatap ke arah Donghyuck dengan mata membelalak dan mulut menganga lebar.

"Tutup mulut kalian. "

Renjun yang baru saja tersadar dari keterkejutannya langsung memukul keras lengan Donghyuck sambil memekik heboh. "KAU SERIUS?!! KAU MENIKAH BULAN DEPAN?!"

Pekikan heboh dari Renjun langsung membuat seluruh penghuni Cafetaria memandang ke arah mereka ber-tiga.

"Kau bisa diam tidak sih?!" Ucap Donghyuck sambil mencubit keras pinggang Renjun.

"Kau serius akan menikah bulan depan Hyuck? Kau bercanda?" Tanya Jaemin.

Donghyuck menganggukan kepalanya lemah, "Iya, dan aku tidak bercanda bodoh."

"Lalu apa pendapat Mark tentang itu?"

"Tentu saja bocah gila itu pasti kesenangan. " sahut Renjun sambil mendengus kesal.

"Iya, dia sangat senang. Bahkan terus mengirimiku emoji love se-layar. "

"Mengerikan. " komentar Jaemin sambil bergidik ngeri.

"Lalu bagaimana denganmu? Kau senang?"

Donghyuck terdiam mendengar pertanyaan Renjun. Ia tidak tahu apa yang tengah ia rasakan sekarang. Disatu sisi ia merasa senang, di sisi yang lain ia merasa tidak senang.

Dia senang karna akan menikah dengan orang yang ia cintai sedari dulu, tapi ia juga merasa tidak senang karna menikah secepat ini. Donghyuck merasa dirinya sangat labil sekarang. Seperti remaja Smp yang tengah dilanda dilema cinta monyet.

"Aku tidak mau menikah secepat itu. "

Jaemin menganggukan kepalanya mengerti kemudian tersenyum manis ke arah Donghyuck, "Kami juga tidak mau kau menikah secepat itu. Tapi kau harus yakin jika keputusan ke-dua orang tuamu itu merupakan keputusan yang paling baik. "

"Hiks.. "

Jaemin dan Donghyuck langsung menolehkan kepalanya ke arah Renjun saat mendengar bocah itu tiba-tiba terisak.

"Kenapa kau menangis? Harusnya aku yang menangis bodoh. " ujar Donghyuck sambil merangkul tubuh Renjun dan memeluknya.

Renjun semakin terisak, membuat Jaemin dan Donghyuck menjadi panik.

"Hey Njun, kau kenapa?!"

Renjun melepaskan pelukan Donghyuck kemudian menghapus air mata yang mengalir di pipi-nya menggunakan sapu tangan yang Jaemin sodorkan kepadanya.

"Aku.. Hiks.. Donghyuck akan segera menikah... "

Jaemin dan Donghyuck saling melempar pandang keheranan.

"Memang apa masalahnya?" Tanya Jaemin.

"Tidak ada masalah.. Hikss... Hanya saja, aku merasa merinding dan tidak percaya... Hiks... Huaaaaa aku tidak tahu cara menjelaskannya..."

Donghyuck ingin tertawa sebenarnya melihat Renjun menangis seperti itu, ia jarang sekali melihat Renjun menangis. Bahkan saat Ayahnya meninggalpun Renjun berhasil menahan tangisnya mati-matian.

Donghyuck kembali menarik Renjun ke dalam pelukannya dan mendekap bocah itu dengan erat. "Terimakasih, kau pasti khawatir padaku kan? Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. "

Renjun menganggukan kepalanya lemah didalam dekapan Donghyuck dan kembali terisak kecil.

Renjun tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Sedih, kecewa, bahagia, khawatir telah mencampur menjadi satu.

Ia tidak munafik jika memang ia merasa sedih dan kecewa saat mendengar bahwa orang yang ia sukai akan segera menikah.

Tapi dirinya sadar posisi.

Renjun tidak mau kalah dari ego nya, ia sudah memutuskan untuk mengikhlaskan Donghyuck.

Dia tidak mau menjadi egois, meskipun dirinya harus merasakan sakit hati nantinya.

Begitu juga dengan Jaemin. Lelaki itu tahu dengan pasti apa yang tengah Renjun rasakan, karna ia juga turut merasakan hal yang sama.

"Tidak apa-apa. Aku menikah dengan Mark hyung, bukan dengan lelaki hidung belang. " ucap Donghyuck mencoba menenangkan kedua sahabatnya yang tengah memasang raut khawatir.

"Tapi apa bedanya Mark sunbae dengan lelaki hidung belang? Hormonnya sama saja. " balas Jaemin.

Donghyuck mendelik kesal ke arah Jaemin. Perkataan Jaemin tidak salah sih, hanya saja jangan diperjelas seperti itu juga!

"Kalian harus segera cari pacar." Ucap Donghyuck sambil memandang ke-dua sahabatnya.

"Atau... Kalian berdua saja pacaran. "

"Ingin kupukul ya?" Jaemin mengangkat kepalan tangannya ke depan wajah Donghyuck, membuat Donghyuck semakin tergelak.

"Kalian menyangka tidak sih aku akan menikah? Rasanya seperti mimpi. " kata Donghyuck sambil menyedot minuman Renjun.

"Rasanya baru kemarin kau masuk kuliah dan menyeretku kemana-mana untuk mematai-matai Mark. " balas Jaemin.

"Iya, rasanya baru kemarin melihat Donghyuck mempunyai perasaan kalau dirinya itu jelek. Lihat sekarang dia sudah percaya diri sampai tidak pernah berkaca. " timpal Renjun.

Donghyuck hanya mendengus saja mendengar perkataan dua sahabatnya yang masih sempat-sempatnya menyisipkan hinaan disaat seperti ini.

"Tidak apa, yang penting kau bahagia. " tambah Jaemin lagi.

"Iya, tidak apa kau jadi tidak tahu diri. Asal kau bahagia kami berdua sudah senang. " ucap Renjun.

Mereka berdua tidak masalah jika Donghyuck tidak berakhir dengan mereka. Melihat Donghyuck sudah berhasil meraih cintanya dan menjadi bahagia seperti sekarang sudahlah cukup bagi Renjun dan Jaemin.

Donghyuck merasa senang mendengar perkataan dari dua sahabatnya yang men-supportnya.

Donghyuck memandang kedua sahabatnya itu dengan perasaan haru, "Terimakasih. " ucapnya sambil tersenyum.

.

.

.

Omake:

Lucas dan Jeno duduk berdua di kursi taman Universitasnya dengan wajah di tekuk dalam.

Semalam Mark mengatakan di grub chat mereka jika dirinya dan Donghyuck akan menikah bulan depan.

Hal itu sontak membuat kedua pemuda tampan tapi jomblo itu langsung merasa sakit hati, bahkan Lucas mengatakan kepada Jeno jika ia langsung menitikan air mata saat membaca pesan Mark.

"Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang sangat keterlaluan seperti ini. " lirih Lucas sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jeno.

Jeno menepuk pelan kepala Lucas yang ada di bahunya, "Tuhan marah kepada kita, karna kita ke gereja hanya untuk misuh-misuh saja."

Lucas menganggukan kepalanya, "Kenapa nasib cintaku harus seperti ini. "

"Nasib cinta kita sangat ironi. " timpal Jeno.

Lucas menghela nafas pelan, "Entah ini cobaan atau azab. "

"Sepertinya azab. "

"Menyedihkan. "

"Kau benar. "

"Tapi Cas, "

Lucas menaikan sebelah alisnya kemudian menatap Jeno dengan raut bertanya-tanya.

"Sepertinya aku mulai menyukai salah satu dari teman Donghyuck. " cicit Jeno pelan.

Mendengar perkataan Jeno membuat Lucas reflek mengangkat kepalanya dari bahu Jeno. "Apa?!"

"Sepertinya Tuhan tidak ingin melihatku menggalau terlalu lama." ucap Jeno sambil tersenyum senang.

.

.

.

.

Tbc

Helooww guys!! I'm back!!

Maaf banget kalo kurang ngefeel di chap ini :"""""""

Bener-bener aku ngelawan wb pas ngetik chap ini :') jadi maaafffff banget kalo tidak sesuai dengan ekspetasi.

As always aku mau ngucapin terimakasih banyak buat kalian yang udah support book ini sampai sekarang. Thank u so much

Jangan lupa mampir ke work aku yang lain ya guys! aku memang lebih banyak pub ff di wp, nama wpku Brillantefullsun_

See you next chap! Have a nice day!!

Donghyuck sama mommy tiway dan paman doyoung wkwkwk