:

Taufiq879/Tandrato

:

Destined To Live With You

:

Bab 21

Ciuman Dan Pengkhianatan

:

Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto

Karakter : Naruto & Hinata

Genre : Family & Romance

:

Rating : 16+ (T)

Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.

If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It

[]

[]

[]


Burung-burung berkicauan menandakan bahwa pagi itu adalah pagi yang cerah. Terlihat seseorang yang masih memakai piama sedang berdiri memandangi lingkungan sekitarnya dari atas balkon kediaman Uzumaki.

Ia meregangkan tubuhnya seraya mengeluarkan semacam suara yang menandakan bahwa peregangan itu terasa nikmat. Namun proses peregangan itu berakhir saat terdengar suara dari persendian tulang yang berada di lengannya.

"Arg! Sial. Padahal aku masih muda," ucapnya seraya memegangi lengannya. Meski awalnya terasa sakit, namun setelahnya tubuhnya menjadi terasa lebih baik.

Seseorang menghampirinya. "Tuan, Nyonya Tsunade akan segera meninggalkan kediaman." Seorang asisten yang menemuinya itu memberitahukan sebuah informasi.

"Sepagi ini?"

"Iya."

Naruto melihat jam pada ponselnya. Jam saat itu menunjukkan pukul 05.30. "Padahal pesawat yang disiapkan khusus untuk nenek akan berangkat 2 jam lagi." Ia mulai berjalan meninggalkan balkon. "Apa Hinata sudah bangun?"

"Nyonya Hinata sudah menemani Nyonya Tsunade sejak jam 4 pagi."

"Gadis itu ... padahal ada asisten yang bisa membantu nenek. Dia malah memaksakan diri untuk membantu."

Tujuan mereka adalah ruang tamu, tempat Tsunade menunggu mereka. Setibanya di sana, ia dikejutkan dengan barang bawaan neneknya. Setidaknya ada 2 buah koper besar yang akan dibawa oleh Tsunade.

"Apa barang bawaan nenek tidak kebanyakan?" tanya Naruto.

"Tentu saja tidak. Ini untuk keperluan di sana selama 7 hari. Lagi pula ada oleh-oleh juga untuk kerabat di sana."

"Oh. Asal nenek jangan terlalu memaksakan diri untuk membawa 2 koper itu," ucap Naruto lagi.

"Jangan khawatir. Meski sudah tua, nenek masih kuat mengangkat 2 koper ini sekaligus." Tak hanya menjelaskan, Tsunade pun mencoba mengangkat 2 koper itu bersamaan meskipun jarak antara koper dan lantai tak lebih dari 5 cm.

Melihatnya malah membuat Naruto khawatir sebab terlihat jelas kalau Tsunade terlihat tidak kuat mengangkat 2 koper itu.

"Jangan khawatir, Tuan Naruto. Sayalah yang akan membawa koper-koper itu." Seorang ajudan tiba-tiba muncul di hadapan Naruto dari arah dapur.

"Genma. Apa maksudmu?" awalnya Naruto sempat bingung dengan maksud perkataan salah satu ajudan keluarga Uzumaki itu. Namun setelah melihat sebuah koper kecil yang dibawanya, ia yakin Genma akan ikut dalam perjalanan itu sebagai pengawal. "Apa kau akan mengawal nenek selama di sana?" tanya Naruto memastikan.

"Iya, Tuan. Meski Nyonya Hinata tidak menginginkan pengawalan, namun Ini adalah mandat tak tertulis yang di berikan tuan Jiraiya padaku. Jadi mau tidak mau aku harus berada di samping beliau."

"Kalau begitu kuserahkan nenek padamu."

"Baik, akan saya laksanakan," ucap Genma seraya menunduk dengan tangan kanan di dadanya.

Raido memasuki rumah. "Mobil Anda sudah siap di depan, Nyonya."

"Tolong bawakan barang-barangku ke dalam mobil."

"Siap."

"Oh ya nek, di mana Hinata? Aku tidak melihatnya?"

"Hinata sedang mencarikan kacamata hitam nenek. Nenek lupa taruh."

Tak lama setelah dibicarakan, Hinata pun muncul sambil membawa kacamata hitam milik Tsunade. "Maaf nek. Kacamata nenek benar-benar tersembunyi," ucap Hinata seraya menyerahkan kacamata itu.

"Hihi. Maafkan nenek karena sudah merepotkan kalian." Ia memakai kaca mata itu.

"Jaga diri kalian ya selama nenek pergi. Jangan berbuat yang macam-macam," ucap Tsunade dengan nada menggoda.

Sontak Hinata maupun Naruto segera membuang pandangan mereka.

"Ti—tidak. Itu tidak mungkin akan kami lakukan. Benarkan, N—Naruto?" tanya Hinata.

Seketika Naruto panik saat mendengar Hinata bertanya padanya. "Ah, i—iya. Kami tidak mungkin melakukannya. Haha ..."

"Nenek hanya bercanda. Meskipun jika nantinya memang terjadi, nenek bisa apa? Kalian kan sudah resmi."

Naruto dan Hinata hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. "H—hati-hati di jalan, nenek," ucap Naruto.

"Ya. Kalian juga hati-hati di rumah. Sampai jumpa!" Tsunade mengambil langkah pertamanya meninggalkan rumah. Pintu rumah dibuka oleh para asisten seraya memberikan hormat pada Tsunade.

Semua orang yang berada di dalam rumah perlahan mengikuti Tsunade keluar untuk mengantar keberangkatan Tsunade minimal hingga ia memasuki mobil.

Dari dalam mobil, Tsunade melambaikan tangannya hingga mobil itu bergerak. Naruto dan Hinata pun membalas lambaian itu sementara para asisten rumah membungkuk hingga Tsunade meninggalkan gerbang.

[]=[]=[]

Hari ini adalah hari yang berbeda dengan hari yang lain sebab Naruto harus datang ke sekolah lebih awal dari sebelumnya dengan memakai pakaian olahraga. Tentu ada alasannya. Pihak sekolah akan mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekitar sekolah.

Dalam acara ini, setiap siswa diharapkan untuk dapat berpartisipasi dan datang lebih awal dari hari biasanya. Namun saat Naruto tiba di sekolah, hanya kekecewaanlah yang ia dapatkan. Sejauh matanya memandang, ia hanya bisa melihat segelintir siswa yang berada di lingkungan sekolah.

Bagaimanapun juga, sejak awal ia sendiri tidak terlalu minat untuk berpartisipasi. Namun karena Hinata memaksanya untuk datang, mau tidak mau ia terpaksa mengikuti kemauan Hinata. Lalu inilah yang ia dapat. Sebuah lingkungan sekolah yang sepi karena hanya terdapat segelintir siswa di dalamnya.

"Huft. Harusnya aku tidak usah datang. Padahal aku bisa santai di rumah. Lagi pula tidak ikut kegiatan ini pun tidak akan mempengaruhi nilaiku ataupun kehidupanku di sekolah." Naruto terus mengeluh seraya melangkahkan kakinya.

Karena pintu masuk gedung sekolah tertutup, setiap siswa yang sudah datang hanya bisa menunggu di halaman. Meskipun pagi ini siswa yang hadir tidaklah banyak, namun bangku-bangku yang tersedia di halaman sudah penuh ditempati oleh mereka yang datang lebih awal.

"Sial. Aku harus menunggu di mana?" keluhnya saat tidak menemukan tempat kosong maupun teman sekelasnya.

Matanya tertuju pada sebuah pohon dengan rumput yang terlihat bersih di bawahnya. Meski dedaunan dari pohon yang mulai berguguran menutupi bagian bawahnya, namun Naruto merasa tak keberatan untuk duduk di sana. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim pesan pada teman-temannya yang lain untuk mengetahui keberadaan mereka.

"Aku sedang di rumah."

"Hah, kau di sekolah ngapain?"

"Aku lagi dalam perjalanan."

"Kegiatan ini benar-benar merepotkanku. Aku sedang di ruang guru."

"Aku sedang bersama Sakura di gudang alat-alat kebersihan."

"Aku masih sarapan."

Itulah balasan dari sahabat-sahabatnya. Mengetahui sudah ada tiga orang yang berada di sekolah, pikirannya menjadi tenang. Perlahan dan pasti, ia menyaksikan kedatangan teman-teman sekelasnya termasuk si menyebalkan, Hyuuse.

"Yo Naruto. Kau sendirian? Di mana gengmu? Haha, aku yakin mereka malas datang."

"Diamlah. Mereka sedang dalam perjalanan." Naruto melirik sedikit ke arah Hyuuse. Ia melihat sebuah kamera terkalung pada lehernya. Naruto pun bertanya, "untuk apa kamera itu? Bukannya hari ini kita akan kerja bakti?"

"Oh. Aku tidak akan ikut kerja bakti. Aku dan klub penggemar Hinata hime akan melakukan perlombaan untuk mendapatkan foto terbaik Hinata hime. Kau jangan berani-beraninya menghalangi kami."

"Yang kalian lakukan itu tidak sopan!" Naruto berbicara dengan nada keras. "Apa kalian pikir Hinata mau di potret secara diam-diam begitu?"

"Huh, kau mau menghalangi kami? Coba saja. Tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk mendapatkan foto Hinata hime."

"Kakashi-sensei!" panggil Naruto pada Kakashi yang kebetulan lewat. Panggilan Naruto itu membuatnya merespons dan berbalik ke arah Naruto.

"Ada apa, Naruto?" tanya Kakashi.

Hyuuse bergidik ngeri melihat kedatangan Kakashi. Ia perlahan mengambil langkah mundur selama mereka berdua tidak menaruh perhatian padanya.

"Apa dalam kegiatan ini boleh membawa kamera?" tanya Naruto pada Kakashi.

"Tentu saja tidak. Dokumentasi akan dilakukan oleh klub fotografi. Para siswa yang harus fokus melakukan kerja bakti," jawab Kakashi.

Naruto melirik ke arah Hyuuse yang sedang melangkah mundur. Menyadari kalau perhatian kedua orang itu sudah tertuju padanya, ia segera menyembunyikan kameranya.

"Kau! Apa yang kau sembunyikan di belakang?" Kakashi melihat Hyuuse sedang menyembunyikan kamera di belakang badannya.

"T—Tidak ada pak! Aku tidak menyembunyikan apa-apa." Karena tak begitu saja percaya dengan perkataan Hyuuse, Kakashi pun melihat dengan paksa apa yang di sembunyikan oleh Hyuuse.

Karena ketahuan membawa Kamera bahkan hingga berusaha untuk menyembunyikannya dari hadapan Kakashi, Hyuuse pun di bawa pergi ke ruang guru. "Ampun pak! Ini kamera milik teman saya. Saya hanya pinjam."

Naruto hanya melambaikan tangannya pada Hyuuse yang sedang di geret oleh Kakashi.

Tiba-tiba Naruto tersentak oleh sebuah sentuhan di pundaknya. "Brengsek kau Sasuke! Kau mengagetkanku. Kupikir teman-teman satu klubnya Hyuuse," ucap Naruto dengan nada kesa pada Sasuke yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.

"Sepertinya kau habis bersenang-senang memberikan pelajaran bagi Hyuuse," ucap Sakura yang berada di dekat Naruto.

"Ya. Dia berencana memotret Hinata diam-diam."

"He, jadi kau benar-benar ingin melindungi Hinata ya," ucap Sakura.

Naruto tersentak mendengarnya. Sebelumnya, ia sempat melupakan kejadian yang menimpanya kemarin. Tapi karena perkataan Sakura barusan, ia jadi teringat kembali kejadian yang memilukan itu.

"Hmph. T—Tidak ada salahnya kan. Kau juga pasti tidak ingin melihat temanmu di potret diam-diam tanpa sepengetahuannya," ucap Naruto dengan sedikit semburat merah di pipinya. Namun perkataannya terkesan lambat.

"Iya. Aku setuju denganmu, Naruto," kata Sakura.

"Lupakan soal Hyuuse. Ayo kita berkumpul. Kepala sekolah sudah mau berpidato,' ucap Sasuke.

"Oh ya, Hinata di mana? Apa kau tidak melihatnya, Naruto?" tanya Sakura.

Mereka berusaha menemukan Hinata dengan melihat-lihat sekitar. Tak lama kemudian, Naruto menemukan keberadaan Hinata yang sedang berdiri kebingungan mencari orang-orang yang dikenalnya. "Hi—" ia berhenti. Naruto memutuskan untuk memberitahu keberadaan Hinata pada Sakura saja.

"Hinata di sana," ucap Naruto pada Sakura seraya menunjuk.

"Hinata!" Sakura berteriak memanggil Hinata seraya melambaikan tangan. Hinata terlihat senang saat menemukan keberadaan orang yang ia kenali. Ia menghampiri Sakura dengan senang hati. Namun, langkah kakinya seketika melambat saat matanya mendapati keberadaan Naruto.

Naruto memahami kenapa Hinata bersikap seperti itu. Kemungkinan ia tidak ingin kejadian saat di kantin terulang kembali. Jadi, ia tidak ingin mendekati Sakura apabila di dekatnya ada Naruto ataupun mendekati Naruto saat ada Naruto di dekatnya. Sebut saja itu adalah trauma.

Lagi pula Hinata tidak mengetahui kejadian yang menimpa Naruto saat berada di tempat parkir. Jadi, ia tidak mengetahui kalau keadaan sudah sedikit lebih terkendali. Meskipun Informasi yang didapatkan Sakura tentang hubungan Naruto dan Hinata sedikit simpang siur dari yang sebenarnya.

"Kau kenapa Hinata, tiba-tiba berhenti. Apa kau kaget karena ada Naruto di dekatku?" tanya Sakura.

"Ehh. Eto ... mungkin." Jawab Hinata.

"Sudah ... sudah ... aku sudah tahu semuanya kok." Sakura mendekati Hinata yang sedang kebingungan karena perkataannya.

"Loh, apa Naruto membocorkannya pada Sakura?" batinnya.

Tangan Sakura merangkul pundak Hinata. "Kamu itu. Kalau sudah pacaran dengan Naruto harusnya bilang-bilang dong. Kalian pacaran diam-diam seperti itu. Apa kau tidak takut kalau hanya di manfaatkan?"

"Pacaran? Ahh, Jadi begitu. Sakura masih belum mengetahui kebenarannya? Syukurlah. Berarti aku hanya perlu mengikuti sandiwara itu," batin Hinata sejenak lalu menanggapi perkataan Sakura. "Itu tidak. Aku percaya dengan Naruto, kok."

"Ohoho! Jadi siapa yang menembak terlebih dahulu?"

Hinata kebingungan untuk menjawab. Sementara itu, Naruto dan Sasuke hanya bisa menatap kedua perempuan yang sedang berbicara itu dengan wajah penasaran. Namun mereka yakin bahwa topik yang diangkat keduanya tidaklah jauh dari kejadian kemarin.

Lalu tiba-tiba, seseorang memanggil mereka dengan pengeras suara. "Siswa yang di belakang sana! Cepat berbaris!" Menyadari kesalahan mereka karena belum berbaris membuat mereka segera mereka berlari menuju barisan untuk mulai mendengar pidato kepala sekolah.

[]=[]=[]

Pidato yang diberikan kepala sekolah terkesan cukup lama. Pembahasannya tidak sekedar rencana kerja bakti yang akan dilakukan hari ini. Melainkan juga menyangkut tentang sedikitnya kehadiran para siswa di hari itu.

Meskipun pidato itu cukup lama, tetapi kegiatan kerja bakti tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Tepat pada pukul 7, para siswa mulai meninggalkan lingkungan sekolah sambil membawa kantung sampah—Untuk menjadi wadah menampung sampah—dan alat-alat kebersihan lainnya.

Para Panitia yang bertanggung jawab terhadap kelancaran kegiatan kerja bakti hari ini membagi para siswa yang hadir menjadi beberapa kelompok dan juga lokasi di mana mereka akan ditempatkan. Entah karena takdir atau ada campur tangan orang lain, Naruto, Hinata, Sasuke, dan Sakura bisa berada dalam satu kelompok.

"Kalian bertugas di sini," ujar seorang panitia pada Sasuke seraya menunjuk sebuah peta.

Sasuke memperhatikan tempat yang ditunjuk itu dengan saksama. "Taman?" tanyanya memastikan.

"Ya ... sudah ada 2 tim yang di kerahkan di sana. Tim kalian juga akan ikut membantu."

"Sepertinya akan cepat selesai. Taman kan memiliki petugas kebersihan. Jadi aku yakin sampah-sampahnya tidak akan terlalu banyak," ujar Naruto merasa yakin.

"Sepertinya aku setuju denganmu, Naruto," timbrung Sakura.

"Sepertinya yang dikatakan temanku benar. Lalu kenapa sampai 3 tim termasuk kami yang dikerahkan di sana?" tanya Sasuke pada panitia itu karena merasa ada yang aneh.

"Sebenarnya aku tidak ingin membuat kalian kecewa." Orang panitia itu terlihat lesu sesaat sebelum berkata, "tapi, perlu kukatakan bahwa taman tersebut saat ini tidak akan sebersih yang kalian pikirkan. Tadi pagi terdengar kabar bahwa ada dua ekor anjing yang didapati mengajak-acak sampah di taman. Kalian di sana untuk membantu petugas kebersihan," jelas panitia tersebut.

"Jadi begitu ya. Berarti kami hanya membantu. Aku rasa tugas kita ini akan selesai dengan cepat, ya kan, Sasuke, Hinata, Sakura?" tanya Naruto namun hanya dibalas dengan tatapan yang mengekspresikan 'Aku tidak yakin' dari Sasuke, Sakura, Maupun Hinata.

Benar saja. Begitu mereka tiba di taman, keempat orang itu langsung tersentak melihat keadaan taman yang saat ini cukup buruk. Banyak sampah yang berserakan dimana-mana. Ditambah dengan hembusan angin, sampah-sampah itu menjadi semakin berserakan. Bahkan karena saking berantakannya, taman ini pun ditutup untuk sementara.

Dengan melihat kondisi taman saat ini, Naruto menjadi tidak yakin bahwa pekerjaan ini akan bisa diselesaikan dengan cepat. Apalagi hanya ada 3 petugas kebersihan yang bekerja dengan alat seadanya. Mungkin saja butuh sebuah keajaiban untuk bisa selesai dalam waktu kurang dari 2 jam.

"Aku punya satu pertanyaan untuk kalian. Apakah anjing yang membuat semua kekacauan ini keturunan iblis?" pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Naruto sebagai tanggapan terhadap situasi tersebut.

"Tidak perlu banyak komentar. Ayo kita mulai membantu. Tim yang lain sudah bekerja lebih dulu," ucap Sasuke.

"Semua. Pakai ini dulu," ucap Hinata seraya memberikan sarung tangan plastik. "Kakak Panitia tadi yang memberikannya."

"Yosh! Ayo mulai bekerja!" ucap Naruto bersemangat setelah memakai sarung tangan.

Mereka mulai berkeliling untuk memungut sampah. Hinata bertugas untuk membawa kantung sampah sementara yang lainnya bertugas untuk memungut. Setidaknya sudah 1 jam mereka berkeliling. Sekarang kondisi kantung sampah yang di bawah Hinata sudah sampai pada tahap tidak bisa dibawa seorang diri. Sakura mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata membawa kantung sampah itu. Sementara tugas memungut jatuh pada Naruto dan Sasuke.

Kolam adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi sebelum membuang kantung sampah yang hampir penuh itu. Di sekitarnya terdapat cukup banyak sampah bahkan di atas permukaan air pun terdapat sampah yang menggenang.

Melihat pinggiran kolam yang dipenuhi sampah sementara bagian itu belum di jamah oleh Naruto maupun Sasuke, Hinata pun berkata, " Sakura. Kau bisa menahan kantung sampah ini sendiri kan? Aku mau ikut membantu memungut sampah," pada Sakura.

"Ya tentu. Aku bisa jika hanya menahan," jawab Sakura.

Setelahnya, ia pun menuju pinggiran kolam tersebut untuk memungut sampah. Diambilnya perlahan sampah-sampah dari atas permukaan air hingga memenuhi tangan kirinya. Tak lama kemudian dengan tangan penuh dengan sampah, Naruto mendatangi Sakura untuk membuang sampah.

"Piuh. Rasanya lelah sekali. Jauh sekali sih. Kenapa tidak ikuti kami dari belakang?" keluh Naruto.

"Salah kalian sendiri yang malah berkeliaran jauh dariku."

Naruto menyadari ada sosok yang hilang dari pandangannya. Namun saat ia mau bertanya, malah didahului oleh Sasuke yang baru datang untuk membuang sampahnya.

"Di mana Hinata?"

"Dia di sana," Sakura menunjuk Hinata yang berada di pinggiran kolam. Gadis itu terlihat sedang berjongkok seraya memilih sampah yang bisa diangkat oleh tangannya.

"Kenapa dia malah angkat yang di sana? Padahal itu berbahaya. Dia bisa jatuh," ucap Naruto khawatir.

"Bantu dia sana, Naruto. Sasuke, bantu aku bawa kantung sampah ini ke dekat Hinata."

"Oke," jawab Naruto dan Sasuke bersamaan.

Naruto mendekati Hinata dan berjongkok di sampingnya. "Kenapa kau mengangkat sampah yang di sini. Padahal di tempat yang lebih aman juga masih banyak."

Hinata sedikit terkejut dengan kemunculan Naruto di sampingnya. "Kukira siapa. Aku tidak tahan melihat kolam indah ini di penuhi sampah," jawab Hinata.

"Oh begitu ya. Kalau begitu ayo cepat kita bersihkan."

Naruto mulai membantu Hinata untuk mengangkat sampah dari atas pemukaan air. Karena letak sampah yang dekat dengan pinggiran kolam mayoritasnya sudah diangkat oleh Hinata, Naruto harus memungut sampah yang letaknya agak jauh. Melihat Naruto dan Hinata sedang berusaha, Sakura dan Sasuke memutuskan untuk segera membantu.

"Perlu bantuan?" tanya Sasuke. Sepertinya ada alasan lain mengapa ia sampai bertanya seperti itu. Tentu saja alasannya adalah karena ia tidak ingin mengganggu keduanya.

"Tidak perlu. Sampahnya Cuma sedikit. Aku dan Hinata bisa menyelesaikannya berdua. Benarkan, Hinata," ucap Naruto.

Hinata Cuma mengangguk untuk menanggapi perkataan Naruto.

"Kalau begitu aku mau istirahat sebentar," kata Sasuke. Namun ia tidak duduk. Ia hanya berdiri sambil memperhatikan mereka berdua bersama Sakura.

Tidak berselang lama, kedua tangan Hinata sudah dipenuhi sampah hingga tidak memungkinkannya bisa mengangkat sampah lagi. Ia berniat berdiri untuk membuang sampah yang ada di tangannya.

Namun, karena terlalu lama berjongkok serta kondisi tanah yang basah dan licin membuat Hinata terpeleset dan nyaris terjatuh ke belakang. Syukur saja Naruto bisa dengan cepat memegang tubuh Hinata sebelum gadis itu benar-benar terjatuh ke tanah.

"Hampir saja," ucap Naruto seraya memegang tubuh Hinata.

Meski sampah yang sudah dipungut Hinata kembali jatuh ke air, Sakura dan Sasuke yang memperhatikan dari belakang merasa bersyukur karena Naruto berhasil menyelamatkan Hinata tepat waktu. Jika saja Naruto terlambat, Hinata mungkin tidak hanya sekedar terjatuh ke tanah. Bisa saja ia akan terperosok ke dalam kolam karena kelandaian permukaan tanah di sekitar kolam.

"Terima kasih, Naruto. Syukur ada kamu di sampingku," ujar Hinata.

"Humph, syukur saja dari tadi aku memperhatikanmu."

"A—Apa?"

Naruto menyadari ia baru saja mengucapkan kata yang seharusnya tidak ia ucapkan. "Tidak ... tidak. Lupakan!" Naruto panik, namun pipinya memerah. "Lebih baik kau naik saja. Menjauh dari kolam ini."

Hinata menuruti perkataan Naruto. Namun situasi kini berbalik. Naruto menjadi tidak fokus karena terlalu memikirkan perkataannya tadi. Akibatnya, ia terpeleset saat akan melangkahkan kaki untuk membuang sampah yang dipegangnya. Berbeda dengan Hinata, Naruto justru langsung mengarah ke air.

Kala ia akan terjatuh ke air, Naruto merasa ada sebuah tangan yang menyentuh pergelangan tangannya. Naruto menyadari bahwa tangan itu adalah milik Hinata. Namun sepertinya niat menolong Hinata harus kandas karena ia pun turut ikut tertarik karena tidak kuat menahan berat badan Naruto.

Namun saat kedua orang itu berpikir akan jatuh bersamaan ke dalam air, sebuah tangan dengan cepat memegang perut Hinata dan sekuat tenaga menahan kedua orang itu agar tidak terjatuh ke air.

"Bertahanlah!" rintih Sakura yang berusaha sekuat tenaga menahan Naruto dan Hinata.

Namun Sakura tidak menolong mereka berdua sendirian. Sasuke pun ikut membantu. Namun berbeda dengan Sakura yang saat itu memegang Hinata, Sasuke justru langsung berlari ke arah Naruto dan memegang tangannya.

Tetapi sepertinya kondisi Naruto sudah tidak mungkin bisa diselamatkan lagi sebab hampir menyentuh air. Karena berdasarkan para kemiringan tubuh Naruto dan juga pengaruh dari gravitasi, Naruto menjadi semakin berat. Hinata yang bahkan sudah dibantu oleh Sakura pun tidak kuat untuk menahannya. Sementara bantuan Sasuke bisa dikatakan cukup terlambat sehingga saat ia memegang tangan Naruto, ia benar-benar sudah terlambat.

Byur!

Percikan air terasa cukup besar saat keempat orang itu jatuh bersamaan ke dalam kolam. Air kolam yang dingin itu dengan cepat membasahi tubuh keempat orang tersebut. Akan tetapi, mereka cukup beruntung karena pinggiran kolam tidak terlalu dalam. Namun Pakaian mereka basah seketika. Jika di lihat dari posisi jatuh mereka, Naruto dan Sasuke mengalami kebasahan paling parah.

Lalu bagaimana dengan Hinata dan Sakura? Mereka berdua pun basah namun tidak sebasah Naruto dan Sasuke. Hal itu terjadi karena Hinata jatuh tepat di atas Naruto sementara Sakura jatuh di atas Hinata.

Saat terjatuh dengan posisi bertumpukan itu, Naruto merasakan adanya sebuah sensasi lembut di bibirnya. Namun tak sekedar lembut, melainkan juga terasa perih. Matanya memang tertutup dan sedikit terendam oleh permukaan air sehingga ia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Namun dengan mata yang sedikit disipitkan, samar-samar ia melihat sebuah wajah tepat di depan wajahnya.

Seketika itu juga matanya terbuka lebar. Ia terbelalak menyadari apa yang sedang terjadi. Namun bukan hal itu yang harus ia pikirkan. Hinata membuatnya kesulitan bernafas. Ingin segera ia berdiri agar bisa menghirup udara, namun tubuhnya terasa sangat berat sehingga susah untuk diangkat.

Seseorang yang berada di atasnya itu pun membuka mata. Hinata pun merasa terkejut kala mendapati wajahnya dan wajah Naruto berada cukup dekat. Bahkan ia merasakan sesuatu di bibirnya. Menyadari apa yang telah terjadi, Hinata segera menyingkirkan badannya dari atas Naruto. Ia bahkan dengan sekuat tenaga menyingkirkan Sakura yang terjatuh di atasnya.

Merasa badannya tidak berat lagi, Naruto dengan cepat mengangkat kepalanya dan duduk untuk menghirup udara. Ia bahkan terbatuk-batuk beberapa kali sambil mengeluarkan air yang sempat masuk ke dalam mulutnya.

"Aww. Sakit sekali!" keluh Sakura. Ia sepertinya tidak menyadari bahwa sesuatu telah terjadi.

Meskipun pikirannya sedang campur aduk karena kejadian yang baru saja terjadi, Hinata tetap berusaha menolong Naruto. "Kau tidak apa-apa, Naruto?"

Naruto sempat terdiam saat memandangi Hinata. Ia sepertinya sedang memikirkan kejadian yang baru saja terjadi itu. "Naruto ... Naruto!" Karena Naruto tak kunjung merespons, Hinata berusaha memanggil dan menyadarkannya dari lamunan.

"Ahh. Ya, aku tidak apa-apa. Kurasa bibirku hanya berdarah."

Hinata menundukkan kepala. "M—Maafkan aku soal itu," ucapnya seraya menahan rasa malu yang luar biasa.

"Iya. Itu sebuah kecelakaan."

Naruto mencoba melihat sekitarnya. Ia mendapati Sakura sedang mengeluh sakit di belakang Hinata. Saat ia melihat sampingnya, ia mendapati Sasuke. Namun wajah laki-laki dingin itu langsung berpaling. Entah karena marah atau karena ia baru saja melihat dan mengalami kejadian memalukan.

[]=[]=[]

Hari ini cukup buruk bagi keempat orang itu. Tidak hanya sekedar tercebur ke dalam kolam, mereka bahkan ditertawai oleh teman-teman satu sekolah yang juga mendapat tugas di taman. Di antaranya ada Kiba dan Ino.

Tertawa kedua orang itu mungkin akan selalu terbekas dalam benak Naruto, Sasuke, Hinata, dan Sakura. Namun meskipun begitu, kedua orang itu berusaha keras untuk membantu.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Kiba dan Ino untuk menolong keempat orang itu adalah membawa mereka kembali ke sekolah untuk membersihkan diri di kamar mandi. Tentu saja sekolah ini memiliki tempat seperti itu. Biasanya kamar mandi tersebut digunakan siswa untuk membersihkan badan sehabis berenang.

"Kalian mandilah sampai bersih. Badan kalian bau sampah, haha!"

"Diam kau, kiba. Lain kali akan kulempar kau ke kolam itu," ucap Naruto kesal.

Namun, Kiba bersikap seolah tidak mendengarkan perkataan Naruto. "Aku mau pergi bersama Ino untuk meminjam pakaian olahraga cadangan untuk kalian," ucapnya seraya berjalan keluar.

"Tolong ya, Kiba," kata Sasuke.

"Serahkan saja padaku. Aku tidak bisa membiarkan teman sekelasku pulang dalam keadaan telanjang." Nada bicaranya terdengar serius. Namun, ada sebuah senyuman licik yang terpancar sesaat sebelum dia meninggalkan kamar mandi.

"Sial. Apa maksudmu? Hei, Kiba!"

Saat Naruto sibuk meneriaki Kiba meskipun orang itu sudah tidak ada, Sasuke memutuskan untuk segera masuk ke dalam salah satu bilik untuk membersihkan badan. Suara air yang mengalir melalui Shower dan membahasi tubuh Sasuke dan lantai tempatnya berpijak menyadarkan Naruto bahwa teriakannya itu tidak akan terjawab.

Pada akhirnya ia segera memutuskan untuk mandi di bilik lainnya. Air yang dingin itu menenangkan pikiran mereka. Namun, tidak berarti membuat mereka melupakan kejadian memalukan yang terjadi hari ini.

Naruto membersihkan bibirnya yang sebelumnya terluka. Proses itu membuatnya sedikit meringis menahan sakit yang sebenarnya tidak begitu parah. Namun suara ringisan itu dapat didengar oleh Sasuke.

"Jadi, bibirmu terluka saat kalian ciuman?" tanya Sasuke dengan wajah datar meski Naruto tidak bisa melihatnya karena terhalang oleh dinding bilik.

"Ternyata memang benar aku dan Hinata berciuman ya?'

"Hn. Melihat dari posisi kalian, sudah jelas itu adalah ciuman meski tidak disengaja."

"Hmm ... aku tidak bisa melihat dengan jelas. Tadinya aku harap gigi Hinata hanya menusuk bibirku. Tapi sepertinya dari sudut pandang siapapun, itu pasti akan terlihat seperti ciuman. Sial sekali, padahal itu adalah ciuman pertamaku."

"lalu, bagaimana rasanya," Sasuke bertanya dengan nada yang terdengar serius.

"Umm ... Lembut dan perih."

Kiba membuka pintu dengan penuh semangat. "Kalian berdua beruntung. Ini stok pakaian olahraga cadangan yang tersisa untuk ukuran kalian." Ia berjalan mendekati bilik yang dipakai Sasuke dan Naruto mandi. "Aku juga membawa kantung untuk menyimpan pakaian kalian yang basah."

"Yosh, terima kasih, Kiba."

Setelahnya, Kiba kembali ke taman untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena menolong mereka. Kiba juga menyampaikan pesan bahwa tugas tim Naruto dianggap selesai dan boleh beristirahat lebih dulu.

[]=[]=[]

Sambil menenteng plastik hitam berisi baju keluar dari kamar mandi, Naruto berkata "Ahh! Rasanya lapar sekali. Bagaimana kalau setelah ini kita mencari makanan, Sasuke?"

"Dompet dan uangku ikut basah. Bagaimana kalau kau yang traktir?"

Naruto terlihat panik mendengarnya. Ia segera mengeluarkan pakaian basahnya dari dalam kantung plastik. "Aku lupa kalau ponsel dan dompetku ada di celana!" Ia mengambil ponsel dan dompetnya yang berada di kantung celana. Naruto hanya bisa menepuk dahinya saat mendapati dompet beserta isinya basah. Syukurnya ponselnya anti air sehingga tidak mengalami kerusakan.

"Kalau begini, kita tidak bisa membelikan uang kita sebelum kering."

Saat itu Naruto sedang melihat ponselnya. Ia mendapati beberapa pesan yang belum terbaca. Tidak perlu disebutkan siapa yang mengirim dengan sebab melihat dari ekspresi Naruto saat ini, sudah jelas bahwa itu adalah SMS untuk Naruto sebagai Direktur dan bukannya pelajar. Namun Naruto enggan membuka pesan itu.

"Naruto, sekarang jam berapa?" tanya Sasuke.

"Umm ..." Naruto melihat jam yang ada di ponselnya, lalu menjawab "Pukul 9. Memang ada apa?"

"Perjanjian selesai jam 10. Tapi kita sudah diberi istirahat lebih awal. Aku tidak mau ada yang melihat kita duduk-duduk santai di luar. Aku tidak mau dicap sebagai pemalas meski itu hanya salah paham. Sebaiknya kita tunggu saja sampai semua siswa kembali."

"Baiklah." Namun Naruto merasakan adanya perbedaan dari Sasuke. Terkhususnya setelah kejadian jatuh berjamaah itu.

"Oi! Sasuke! Naruto!" Seseorang berlari di lorong sambil meneriaki nama mereka. Setelah merasa jaraknya dengan mereka sudah cukup dekat, ia berhenti dan berkata, "Kalian laparkan? Bagaimana kalau kita makan sama-sama?"

"Maaf Sakura. Dompet kami dan semua isitnya basah," ucap Naruto.

"Jangan khawatir. Aku membuat bento untuk kita semua?"

"Maksudmu kau membuat bento untuk kami berempat?" tanya Naruto.

"Ya. Tapi bento untuk dimakan ramai-ramai."

"Baiklah. Tapi, di mana Hinata?" tanya Sasuke.

"Ohh, Hinata sedang membeli minuman untuk kita." Sakura mendekati Sasuke. Dengan gaya berbisik, ia mengatakan, "sebenarnya aku tidak memberitahukan Hinata soal bento ini. Aku ingin membuatnya terkejut dengan perkembanganku."

Suaranya itu tidak bisa dikatakan seperti sedang berbisik. Naruto bisa mendengar suara Sakura dengan jelas. Namun entah mengapa mendengar perkataan Sakura itu membuatnya teringat dengan malam di mana Hinata sakit setelah pulang dari rumah Sakura. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.

"Ano, Sakura. Sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku ... aku ... kantor sedang mengadakan rapat. Jadi aku harus segera ikut dalam rapat itu." Naruto sudah bersiap mengambil langkah seribu meninggalkan tempat ini.

Namun.

"Bukannya hari ini kebanyakan kantor libur ya? Ini kan hari Sabtu?" Ucapan Sakura itu membuat Naruto tak bisa berkutik lagi. Langkah seribunya digagalkan bahkan sebelum ia sempat memulainya. Sakura mendekati Naruto dengan tatapan mengancam. "Apa kau tidak mau memakan makananku, Naruto?" Suara seram yang dikeluarkan oleh Sakura itu membuat Naruto meneguk liurnya sendiri.

"Apa kau mau ikut kami?" Sekali lagi suara seram itu dikeluarkan Sakura kepada Naruto. Pria berambut jabrik itu hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai respons setuju karena terpaksa.

"Oke. Kalau begitu akan kutunggu di ruang kelas kita. Aku menaruh bento itu di sana."

"Bukannya pintu kelas terkunci ya?" tanya Sasuke.

"Hehe, Sebagai ketua kelas. Aku wajib memiliki kunci cadangan." Sakura menunjukkan sebuah kunci cadangan yang terlihat masih baru. Dilihat dari manapun, sudah jelas itu adalah kunci yang baru di duplikat. Setelah mengatakan itu, Sakura pun meninggalkan mereka.

"Aku punya firasat buruk," ucap Naruto dengan nada yang amat pelan. Bahkan saat ini wajahnya menampakkan kelesuan yang luar biasa.

"Kau kenapa, sepertinya kurang sehat. Apa kau perlu kubawa ke UKS?" tanya Sasuke.

"Tidak ... tidak perlu. Kita langsung saja ke kelas. Aku baik-baik saja."

[]=[]=[]

Dari depan pintu kelas, Sasuke dan Naruto bisa mencium bau makanan. Namun, bau itu terkesan biasa-biasa saja dan tidak begitu menggugah selera. Namun hal itu malah membuat Naruto menjadi semakin ragu untuk memakan masakan buatan Sakura.

Mengingat kondisi Hinata setelah pulang dari rumah Sakura saat mengajari gadis itu memasak membuat Naruto ingin segera meninggalkan Sasuke. Namun, mata emerald milik gadis berambut pink itu sudah melihat kedatangannya bersama Sasuke.

"Hinata belum kembali ya?" tanya Sasuke pada Sakura.

"Harusnya sebentar lagi dia sampai. Kalian duduklah sini. Aku sudah menyiapkan tempat," ucap Sakura.

Acara makan bersama yang sederhana itu benar-benar disiapkan dengan baik oleh Sakura. Terlihat Sebuah kotak bento ukuran jumbo atau bisa di sebut Koraku Bento yang di dalamnya terisi berbagai makanan. Sebut saja Onigiri, Karaage, Tempura, dan Tamagoyaki. Itu semua disusun dengan rapi dalam sebuah kotak besar di atas 2 meja yang saling dimepetkan dan dikelilingi oleh 4 kursi.

Melihat dari penataannya, tidak ada kesan buruk di mata Naruto maupun Sasuke. Menu bento yang ditawarkan Sakura juga bisa dikatakan tidak buruk. Meski terlihat bahwa bentuk, warna, dan ukurannya tidak sempurna. Namun dari aromanya tidak tercium kegagalan sehingga yang menjadi tanda tanya adalah rasanya.

Sasuke duduk bersampingan dengan Naruto. Sementara itu, Sakura duduk di hadapan kedua laki-laki itu bersampingan dengan sebuah bangku kosong yang nantinya akan diduduki oleh Hinata.

"Silakan di cicipi."

"Kau buat banyak juga, Sakura. Padahal seingatku kau pernah mengatakan padaku kalau kau tidak bisa memasak. Tapi melihat dari hidangan yang kau buat untuk kami hari ini, aku yakin kau berusaha sangat keras untuk menutupi kekuranganmu itu," ucap Sasuke.

Sakura tersipu malu mendengar perkataan dari pacarnya—Sasuke. "Mungkin rasanya tidak begitu enak."

"M—Mungkin?" tanya Naruto sedikit grogi.

"Iya. Aku belum mencicipinya karena setelah selesai, aku langsung berangkat ke sekolah."

Naruto benar-benar menjadi drop dan semakin ragu untuk mencicipi bento itu. Dilihat dari penampilan, aroma, dan juga perkataan si pembuatnya, tidak mengherankan apabila tiba-tiba Sasuke pun menjadi ragu untuk memakan bento buatan pacarnya itu.

"Kenapa kalian diam saja. Silakan dicicipi. Sekalian kasih nilai untuk masakanku. Itu sumpitnya."

"Sasuke, kau lebih dulu, ini kan masakan pacarmu," kata Naruto.

"Bagaimana kalau kau yang lebih dulu. Kuanggap kau adalah orang istimewa di sini. Jadi kau harus mencicipinya lebih dulu, Naruto."

"Kau saja yang lebih dulu, Sasuke."

"Sudah kukatakan. Kau harus mencicipinya dulu, Naruto."

Prak!

Sakura memukul meja dengan telapak tangannya sambil berdiri. Ia menatap Naruto dan Sasuke bergantian dengan tajam. "Ba-gai-ma-na ... kalau kalian mencicipi bento buatanku ... ber-sa-ma-an!"

Naruto tidak bisa berkutik. Ia pernah melihat ekspresi ini sebelumnya. Ya, saat itu ekspresi tersebutlah yang membuatnya datang ke tempat ini. Kedua pemuda itu saling bertatapan dan bersamaan mengambil sumpit.

Dengan tangan gemetaran, Naruto mengambil salah satu Karaage memakai sumpit. Sasuke mengikuti Naruto mengambil satu Karaage. Namun ia tidak gemetaran seperti Naruto karena rasa ragunya tidak sebesar apa yang dirasakan oleh Naruto.

Kedua pemuda itu sempat melihat Sakura yang sedang tersenyum sambil memperhatikan mereka berdua. Dari wajah Sakura, bisa diketahui kalau gadis itu sudah tidak sabar untuk mendengar pendapat Naruto dan Sasuke.

"Ayo dimakan."

Sakura terus saja membujuk kedua pemuda itu. Perlahan mereka mulai mendekatkan Karaage yang mereka ambil ke mulut. Naruto menutup matanya terlebih dahulu sebelum mulai menggigit Karaage itu. Saat gigitan dari Karaage itu sudah berada di mulutnya, ia segera mengunyahnya dan terkejut oleh rasanya. Ia sangat terkejut hingga membuka kedua matanya namun tidak bisa memberikan komentar.

Sakura yang memperhatikan kedua orang itu terlihat senang. Di saat yang bersamaan, Hinata memasuki ruang kelas sambil membawa sekeresek penuh minuman. Ia terkejut mendapati kotak bento di atas meja yang saat ini sedang akan dicicipi oleh Naruto dan Sasuke.

"Hambar!" Komentar itu berasal dari Sasuke. Dengan tenang, si raven hitam itu menilai masakan Sakura dengan pembuka yang cukup kasar. Wajah senang Sakura berubah menjadi sangat terkejut. Naruto pun merasa akan ada masalah yang menimpa dirinya dan Sasuke. "Tapi sebenarnya ini renyah. Daging ayamnya pun lembut. Sepertinya kau lupa memasukkan bumbu ke dalam adonan tepungnya, Sakura," tukas Sasuke.

"Ehh! Benarkah?" Sakura dengan cepat mengambil satu Karaage buatannya. Ia mencicipinya dan benar-benar kecewa.

"M—Maaf Sasuke. Aku memaksamu untuk memakan makanan gagal buatanku." Wajah Sakura benar-benar sedih dan dipenuhi penyesalan.

"Hei. Aku juga dipaksa olehmu untuk memakan makananmu loh, Sakura." Itulah yang ingin dikatakan Naruto saat ini. Namun, ia tidak bisa mengatakannya. Apalagi melihat kondisi Sakura saat ini.

Sasuke mengelus kepala Sakura. "Jangan khawatir. Meski hambar, tetap saja makanan buatanmu itu nikmat. Kau sudah berjuang untuk membuat bento ini meski kau belum bisa memasak. Kau hebat, Sakura."

Sebuah keresek berisi minuman tiba-tiba tergeletak di atas meja. Kemunculan keresek itu membuat Naruto terkejut sebelum akhirnya menyadari kedatangan Hinata. Gadis itu langsung mengambil satu Karaage lagi dan mencicipinya. "Sepertinya kau hanya kurang teliti saja, Sakura. Karaage ini sudah lebih baik dari yang waktu itu kau buat."

Sakura menjadi sedikit lebih senang mendengar perkataan Hinata. Namun bukan berarti kekecewaan Sakura pada dirinya sendiri menghilang. Ia pun masih merasa bersalah karena telah memaksa Sasuke dan Naruto untuk memakan makanan buatannya.

Perut Naruto keroncongan. Satu gigitan Karaage itu malah membuatnya semakin lapar. Ia pun memutuskan untuk mengambil makanan lagi dari kotak bento. Sepertinya yang menjadi incarannya adalah Onigiri.

"Kau mau apa, Naruto?" tanya Sakura.

"Meski Karaage tadi hambar, bukan berarti semuanya tidak enakkan? Lagi pula aku juga lapar. Hambar atau tidak, sepertinya tidak masalah selama makananmu masih bisa dimakan," kata Naruto.

"Hn. Naruto benar." Sasuke meraih satu Onigiri. "Aku juga lapar. Uangku juga basah. Aku sedikit bersyukur karena kau sudah menyiapkan bento untuk kita."

Sakura menitikkan air mata. Ia mencoba menghapus air matanya yang mengalir itu menggunakan tangannya. Tangisan itu mengundang perhatian dan kekhawatiran Naruto, Hinata, dan terutama Sasuke.

"K—Kau kenapa?" tanya Sasuke.

"T—Tidak apa-apa. A—Aku hanya senang. Aku janji, suatu hari akan kubuatkan makanan yang enak untuk kalian."

"Yosh! Kutunggu makananmu itu, Sakura!" seru Naruto.

"Jangan khawatir. Aku akan mengajarimu hingga kau bisa memasak dengan baik, Sakura," ucap Hinata.

"Terima kasih. Aku akan berusaha sekuat tenaga."

"Baiklah. Ayo sekarang kita habiskan makanan buatan Sakura ini sebelum pulang!" Naruto dengan segera mengambi satu Onigiri.

[]=[]=[]

Matahari sudah semakin berada di puncaknya. Kegiatan kerja bakti yang diadakan sekolah pun sudah selesai. Para siswa yang telah beristirahat kini dipanggil berbaris lagi oleh kepala sekolah untuk pidato penutupan.

Pidatonya tidaklah terlalu panjang. Hanya sekedar ucapan terima kasih dan juga penyampaian beberapa informasi penting terkait hari ini. Setelah pidato dari kepala sekolah selesai, para siswa pun mulai meninggalkan sekolah.

Naruto berjalan menuju tempat parkir bersama Sasuke. Sementara itu, Hinata dan Sakura berada jauh di belakang mereka. Entah itu Naruto dan Sasuke atau Hinata dan Sakura sedang asyik mengobrolkan sesuatu.

"Besok kurasa aku bisa bersantai. Sayang sekali di rumah saat ini hanya ada aku dan Hinata," ucap Naruto.

"Memangnya di mana nenekmu dan pekerja yang lain termasuk ajudan keluargamu?" tanya Sasuke.

"Hah? Tentu saja para pekerja dan ajudan akan selalu stanby di rumah. Apa aku perlu menyebut mereka juga?"

"Baik-baik. Aku paham. Lalu di mana nenekmu?"

"Sedang berangkat untuk menghadiri pemakaman temannya." Naruto mengangkat kedua tangan ke belakang kepalanya. "Haah. Aku rindu berkumpul sama teman-teman di rumah. Bermain game bersama, nonton bersama, bahkan ketiduran bersama. Kita belum melakukan itu kan bersama teman-teman SMA kita?"

"Benar. Karena kau sudah menikah dan tidak mau sampai hal itu bocor, kita tidak bisa melakukannya."

"Ugh! Benar juga. Sial. Padahal baru saja aku ingin mengajak teman-teman bermain di rumahku. Aku benar-benar lupa soal hubunganku dengan Hinata."

"Dasar kau ini. Bisa-bisanya melupakan hal itu."

Mereka terlalu larut dalam percakapan hingga tidak menyadari bahkan jauh di belakang mereka, Hinata sepertinya sedang mencegah Sakura untuk mendekati mereka. Namun Hinata tak mampu mencegahnya sehingga Sakura dapat berlari menghampiri Sasuke dan menaruh kedua tangannya di pundak Sasuke.

Sasuke cukup terkejut dengan tindakan Sakura yang tiba-tiba itu. Namun, ia lebih terkejut lagi setelah mendengar apa yang Sakura katakan setelahnya. "Sasuke, ayo kita ke rumah Naruto? Aku penasaran bagaimana rumah pelajar yang menjadi direktur."

Mendengar itu, dengan cepat Sasuke dan Naruto menatap Sakura yang sedang tersenyum sambil menutup kedua matanya. Mereka berdua sangat terkejut mendengar ucapan Sakura itu.

"Hinata juga bilang mau ikut. Katanya dia belum pernah datang ke rumah Naruto. Padahal mereka pacaran loh."

"A—Aku tidak pernah bilang mau ke rumah Naruto, Sakura!" ucap Hinata yang mengejar Sakura.

"Apa kau tidak mau mengunjungi rumah pacarmu, Sakura. Mungkin saja akan ada suatu hal yang menarik yang akan terjadi jika kau pergi ke rumah Naruto loh," ucap Sakura.

"T—Tidak, aku tidak ingin ke rumah Naruto saat ini. Naruto pasti sibuk. Ya kan, Naruto?"

"Ya. Itu benar. Aku sibuk sekali," jawab Naruto untuk merespons pertanyaan Hinata.

"He, bukannya tadi kau bilang sedang santai hari ini," ucap Sakura

"B—Benarkah? Apa aku bilang begitu?"

"Ketahuan. Kau tidak sibuk kan? Kau mau menipu kami ya, Naruto?" Sepertinya pernyataan Sakura sebelumnya tidak berdasar pada bukti yang pasti. Ia sepertinya telah menyiapkan pernyataan itu untuk menjebak Naruto. Pemuda itu kini sudah tidak bisa berkutik lagi.

"Ayolah Naruto. Izinkan kami bermain di rumahmu. Sekali ini saja," lanjut Sakura.

"Sudahlah Sakura. Kita biarkan saja Naruto beristirahat. Mungkin hari ini adalah hari di mana dia bisa santai," timbrung Sasuke.

"Kelihatannya Naruto dan Hinata sedang bersekongkol untuk mencegah kita ke rumah Naruto. Apa kau tidak mau ke rumah Naruto, Sasuke?"

Sasuke tidak bisa menjawab. Ia hanya melirik ke arah Naruto yang sekarang sedang menutup matanya sambil mengepal kuat-kuat kedua tangannya. "Sepertinya akan terjadi keributan seperti kemarin. Aku harus membujuk Sakura untuk membatalkan niatnya mengunjungi rumah Naruto. Bagaimanapun juga aku sudah berjanji untuk mencegah Sakura mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya," batin Sasuke.

"Sakura—" Perkataan Sasuke terhenti oleh Naruto yang sedang berbicara.

"Baiklah. Kau boleh datang ke rumahku." Naruto mengeluarkan jawaban setelah lama berpikir. Jawaban Naruto itu benar-benar di luar dugaan Sasuke hingga menimbulkan keheranan.

"Asyik. Ayo kita ke rumah Naruto, Hinata ... Sasuke!"

"T—Tapi—" Hinata tidak diizinkan berbicara oleh Sakura. Gadis itu menyentuh bibir Hinata untuk mencegahnya berbicara.

"Sudah-sudah. Tidak usah berterima kasih. Sekarang nikmati saja kunjungan pertama ke rumah Naruto."

Hinata hanya bisa pasrah. Ia yakin Naruto sudah menyiapkan sebuah rencana yang matang hingga membuatnya membiarkan Sakura berkunjung.

[]=[]=[]

Saat ini mereka sedang berada di tengah perjalanan menuju rumah Naruto. Hinata yang saat itu berada dalam satu mobil dengan Naruto merasa kecewa karena pemuda itu ternyata memutuskan sesuatu sebelum memikirkan matang-matang rencananya. Rencana yang dibuat Naruto sebelumnya saat menyetujui kedatangan Sakura ke rumahnya terganggu hanya karena Hinata tidak bisa menghubungi orang-orang di rumah.

"Tidak bisa juga, Naruto. Raido dan pelayan-pelayan yang lain tidak bisa dihubungi."

"Sial! Disaat seperti ini!" Naruto sangat kesal karena rencananya saat gagal. Sebelumnya ia ingin menghubungi para pelayan di rumah untuk bersiap menghadapi kunjungan teman sekolahnya. Namun lantaran tidak ada satupun yang bisa dihubungi oleh Hinata, rencana itu pun gagal. "Apa-apaan mereka ini. Apa mereka membolos hanya karena nenek sedang berangkat?"

"Apa ponselku yang gangguan? Atau sinyalnya sedang terganggu."

"Sudahlah. Aku sudah membuat rencana baru. Tapi sebelumnya kita harus bertemu dulu Raido di gerbang rumah."

"Baiklah."

Naruto mulai menambah kecepatan mobilnya. Sasuke yang menyadari bahwa kecepatan Naruto bertambah pun ikut menambah kecepatan mobilnya. Namun yang membuatnya menambah kecepatan bukanlah kemauannya sendiri. Melainkan paksaan Sakura yang tidak ingin tertinggal jauh di belakang.

Karena hari ini banyak kantor dan sekolah yang libur, lalu lintas tidaklah begitu padat. Pergerakan mobil mereka pun tidak terhambat. Sehingga hanya dalam beberapa menit saja mereka sudah tiba di wilayah pemukiman para elite di Konoha.

"Naruto. Apa rencanamu itu bisa berhasil?"

"Kurasa bisa jika kita bertemu satu orang satpam atau bahkan si Raido sendiri. Setelah sampai di rumah, beraktinglah seperti baru pertama kali ke rumah keluargaku. Aku yakin para satpam dan pelayan di rumah akan ikut berakting saat melihatmu dan Sakura."

"Oke. Tapi aku tidak terlalu mahir berakting kalau keadaannya mendesak seperti ini. Aku takut akan over akting yang malah akan membuat Sakura curiga."

Naruto mengepal tangan kanannya lalu menunjukkan tinjunya pada Hinata. Awalnya Hinata kebingungan dengan tindakan Naruto, namun setelah Naruto berkata, "Kita sudah bisa berakting cukup lama. Kau pasti bisa melakukannya," Sakura pun menyadari apa maksud dari tindakan Naruto.

Hinata pun turut mengepal tangannya dan mengadukan tinjunya dengan Naruto. "Kau benar, Naruto."

Setelah beberapa detik kemudian. "Kita sudah dekat. Bersiaplah. Jika ada hal yang mau kau tanyakan, silakan katakan."

"Sebenarnya ada."

"Apa itu, Hinata?"

Hinata terlihat malu untuk berbicara. "S—Sebenarnya, apa yang harus kulakukan saat nanti di rumah. Sikap seperti apa yang harus kutunjukkan. Aku belum pernah berpacaran. Seingatku, aku juga tidak pernah menonton film yang ada adegan berkunjung ke rumah pacar."

Mendengar pertanyaan Hinata, Naruto menggaruk kepalanya sambil berpikir. "Aku pernah beberapa kali menonton film bernuansa romantis. Dari film yang kutonton, itu seperti sedang berkencan." Naruto kembali mengingat detail film yang pernah ia tonton. "Umm, kurasa ada adegan di mana kedua tokoh yang berpacaran mengobrol, makan bersama, dan menghabiskan waktu di kamar—" Naruto terdiam. Ia mengingat sebuah hal tentang film itu.

"Tunggu dulu. Film itu kalau tidak salah adalah film rating 18 plus yang kutonton bersama Sasuke sewaktu SMP kan?" batin Naruto seraya melamun.

"Naruto ... Naruto ..., jangan melamun. Berbahaya." Naruto tersadar dari lamunannya berkat perkataan Hinata.

"M—Maaf. Aku sedang mengingat detail tentang film itu."

"Kalau makna 'berkunjung ke rumah pacar' itu tidaklah terlalu berbeda jauh dengan 'berkunjung ke rumah teman', berarti aku hanya perlu bersikap layaknya berkunjung ke rumah Sakura."

"Hmm ... sepertinya tidak masalah. Mungkin memang maknanya tidak begitu jauh dari 'berkunjung ke rumah teman'."

"Baiklah. Aku sudah benar-benar siap," kata Hinata cukup bersemangat.

Mereka pun tiba di depan gerbang kediaman Uzumaki. Namun, tak seperti biasanya. Gerbang saat itu sedang terbuka lebar. Ada sebuah mobil yang terparkir di depan teras. Namun keadaan rumah begitu sepi bahkan tak terlihat satpam yang sedang berpatroli.

"Apa yang sebenarnya terjadi. Kok sepi begini. Terus mobil siapa itu? Apa kita kedatangan tamu?"

Melihat keadaan saat ini, tidak bisa dipungkiri lagi kalau Hinata maupun Naruto merasa cemas. Perlahan mobilnya mulai memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pos satpam.

Mata Naruto berkeliling untuk menjumpai seseorang. Namun ia tidak menemukan siapa-siapa. Keadaan rumah terlihat cukup sepi. Karena penasaran, ia pun segera keluar dari mobil dan mengecek ke dalam pos satpam.

"Kau tetaplah di dalam mobil, Hinata."

Sasuke pun menyadari kejanggalan itu. Ia mengambil ponselnya dan turut mengikuti Naruto turun dari mobil. Namun ia tidak memberitahu Sakura untuk tetap diam di mobil sehingga gadis itu diam-diam mengikuti Sasuke dari belakang.

"Apa yang sedang terjadi?" tanya Sasuke.

"Aku tidak tahu. Dari tadi kucoba menghubungi mereka untuk mengatakan kalau kita akan berkunjung. Tapi tak ada satupun yang mengangkat panggilanku," jawab Naruto.

Sementara itu, Sakura sendiri menyadari bahwa sepertinya kondisi saat ini tidak biasa. Ia memutuskan untuk berhenti mengikuti Sasuke dan menghampiri Hinata.

Kedua pemuda itu berjalan perlahan mendekati pintu masuk pos satpam. Samar-samar tercium bau yang cukup asing dihidung mereka. Namun, dari bau ini Sasuke bisa mengetahui kalau sebelumnya ada semacam gas di sini. "Tapi gas apa ini?" batin Sasuke.

Mata Naruto memandang jauh ke dalam bangunan. Samar-samar terlihat sebuah tangan yang tergeletak di depan pintu. Naruto pun segera berlari menuju pintu masuk pos satpam untuk melihat tangan siapa itu.

Sasuke terbelalak saat melihat tangan itu. Sekarang ia sudah tahu jenis gas apa ini. Meskipun itu hanya sekedar spekulasi yang ia dapat dari mencium aroma gas ini dan juga seseorang yang pingsan di depan pintu, tapi ia yakin bahwa gas ini adalah gas tidur. Sisa-sisa gas yang menyebar keluar ini sepertinya tidak akan membuat mereka pingsan. Sasuke yakin pusat dari gas ini ada di dalam ruangan itu. "Gawat." Sasuke menyadari sesuatu yang memaksanya mengejar Naruto untuk menghentikan langkah kaki si pirang itu.

"Jangan masuk tanpa menutup hidungmu, Naruto!"

"Ha? Kenapa?"

"Ini sepertinya gas yang dapat menyebabkan orang yang menghirupnya tertidur. Di luar gasnya tidak begitu pekat sehingga kita tidak terpengaruh. Tapi, di dalam aku yakin masih banyak gasnya. Kita tidak tahu sejak kapan gas itu ada. Tapi kita harus berhati-hati."

"Aku mengerti." Naruto mengangkat leher pakaiannya dan menggunakannya sebagai penutup hidung. Sasuke pun mengikutinya karena itu adalah cara terbaik untuk mencegah gas memasuki hidung mereka dalam jumlah yang besar.

Benar saja, banyak satpam yang tergeletak di dalam ruangan itu. Namun mereka berdua tidak berani memasuki lebih dalam lagi. Cukup dari depan pintu saja mereka sudah bisa melihat bahwa ada kejadian yang mengerikan terjadi di ruangan ini.

"Jangan-jangan ada yang menyerang rumahku." Sontak Naruto langsung melihat ke arah rumah.

Dengan cepat ia berlari meninggalkan pos satpam menuju rumah tanpa berpikir untuk melakukan persiapan terhadap situasi yang akan ia hadapi.

"Naruto! Jangan gegabah!" Naruto tidak menganggapi perkataannya. Hal itu memaksanya untuk mengejar Naruto.

Sakura keheranan melihat Naruto dan Sasuke yang tiba-tiba berlari menuju rumah. "Apa sesuatu terjadi? Ayo kejar mereka, Hinata!" Kedua gadis itu pun turut mengejar Naruto.

Apa yang mereka dapat di dalam rumah benar-benar mengejutkan Sakura dan Hinata. Namun, Naruto dan Sasuke tampak tidak begitu terkejut karena sudah mengetahui situasi. Yang mereka temukan di dalam rumah tak jauh dari pintu masuk adalah Raido yang sedang terbaring penuh luka.

"Raido! Hey, sadarlah!" kata Naruto seraya mengguncang tubuh Raido namun itu tak menyadarkannya.

Sasuke menyentuh nadi Raido. "Masih ada denyut nadi. Dia masih hidup." Sasuke melepas tangan Raido dan berdiri. "Sebenarnya apa yang terjadi."

"Lihatlah, di sana juga ada!" ucap Sakura. Sepertinya tidak hanya Raido yang mereka temukan di dalam rumah. Tak jauh dari tangga-tangga menuju lantai 2, mereka melihat tubuh 2 ajudan lainya. Mereka adalah Korata dan Yuikaze, ajudan yang seharusnya bertugas di perusahaan.

Naruto tiba-tiba teringat sebuah pesan yang tadi pagi masuk di ponselnya. Ia segera mengambil ponselnya itu dari dalam tas. Ia mendapatkan setidaknya 5 pesan dari Korata dan Yuikaze. Sebelumnya ia berpikir itu hanyalah semacam laporan tentang perusahaan. Namun saat Naruto membaca pesan itu, ia menjadi benar-benar terkejut. "I—Ini tidak mungkin terjadi."

"Ada apa, Naruto! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hinata panik.

"Arashi ... Arashi berkhianat," ucap Naruto seraya menjatuhkan ponselnya.

[]=[Bersambung]=[]

[]

[]

[]


Author Note

Huuh, benar-benar di luar ekspetasiku saat mulai mengetik chapter ini. Entah itu alur dan jumlah kata benar-benar berada di luar ekspetasi. Kuharap kalian tetap menyukainya.

Balas Review.

Lolita (Guest) = Aku nggak tahu apa arti Gedek. Yang kutahu gudek :v Sahabat yang baik memang seperti itu. Mereka perhatian dan tidak ingin sahabatnya mendapat masalah. Hanya saja mungkin mereka akan dianggap overprotektif.

Sandek NA = Makasih ya sudah nungguin. Dan makasih juga atas pendapatnya.

Crezix = Kurasa aku sudah membalas reviewmu.

Tandrato = Ehh, ini gua ya :v. Oke catatan. Bagi kalian yang belum melihat pesanku di Review cerita ini, silakan di liat.

Adam muhammad 980 (Sorry nggak pakai titik. Takut ngilang) = Sudah terjawabkan pertanyaanmu di chapter ini?

Shiba Tatsuya = Ini juga sudah kubalas. Ya kan, bro?

Oke, kurasa review yang dapat di balas sudah kujawab.

Kurasa chapter ini adalah chapter beta. Terutama di bagian akhirnya. Kalau ada perubahan, maafkan aku ya. Tapi semoga saja nggak ada.

Sekedar Informasi. Saya memang hari ini entah kenapa pengen koreksi dulu sebelum di publish. Ini bukan hal biasa yang saya lakukan. Hal ini saya lakukan hari ini, namun sayangnya saya hanya mampu membaca dan mengoreksi hingga pertengahan chapter saja. Bukan hanya karena malas, tetapi jika saya tidak ingin membuat kalian menunggu lebih lama lagi.

Pokoknya, aku trauma nulis 7000 kata lebih. Tersiksa saat bagian suntingnya.

Oh satu lagi. Kuharap kalian tidak berharap yang tidak-tidak sesaat sebelum membaca bagian akhir :v.

Oke sepertinya cukup sekian. Jumlah kata-katanya sudah terlalu banyak.