:
Taufiq879/Tandrato
:
Destined To Live With You
:
Bab 22
Tragedi dan Rahasia
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Naruto tiba-tiba teringat sebuah pesan yang tadi pagi masuk di ponselnya. Ia segera mengambil ponselnya itu dari dalam tas. Ia mendapatkan setidaknya 5 pesan dari Korata dan Yuikaze. Sebelumnya ia berpikir itu hanyalah semacam laporan tentang perusahaan. Namun saat Naruto membaca pesan itu, ia menjadi benar-benar terkejut. "I—Ini tidak mungkin terjadi."
"Ada apa, Naruto! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hinata panik.
"Arashi ... Arashi berkhianat," ucap Naruto seraya menjatuhkan ponselnya.
Naruto terduduk lemas. Tangannya bergetar sesaat setelah ponselnya jatuh ke lantai. Ia tak percaya dengan apa yang saat ini sedang terjadi. "Arashi berkhianat? Itu tidak mungkin," pikirnya saat mengingat bahwa Arashi adalah orang yang paling dekat dan setia pada ayahnya.
Namun apa yang saat ini sudah terjadi adalah sebuah bukti konkret. Naruto tidak bisa mengelak lagi kalau Arashi benar-benar berkhianat. Terlebih lagi saat ia mengingat fakta bahwa Arashi adalah mantan anggota Yakuza yang direkrut oleh ayahnya entah atas dasar apa.
Melihat kondisi Naruto yang terlihat terpuruk itu, Hinata langsung mendekati Naruto. "Apa kamu yakin kalau Arashi benar-benar berkhianat pada kita?" tanya Hinata tanpa mengidahkan keberadaan Sakura di dekat mereka.
"Aku tidak tahu. Tapi tidak ada alasan yang jelas untuk menolak fakta bahwa Arashi berkhianat." Naruto mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Padahal keadaan sedang kacau seperti ini, di mana orang-orang ayahku?" Sasuke berbicara seraya mencoba menghubungi ayahnya. Namun, panggilannya itu bahkan tidak bisa tersambung. "Yang benar saja! Aku tidak bisa menghubungi ayahku. Panggilanku tidak terhubung."
"Sasuke, Sakura. Sebaiknya kalian segera pergi. Aku tidak ingin membuat kalian terlibat dengan masalah ini," ucap Naruto.
"Kau gila! Kau menyuruh kami meninggalkanmu saat keadaan sedang seperti ini," ucap Sakura tidak terima.
Sasuke memegang pundak Sakura. "Naruto benar. Ayo kita pergi dari sini." Mendengar perkataan Sasuke, Sakura hanya bisa menurut. Meski ia merasa berat untuk menuruti perintah tersebut.
Sakura menghampiri Hinata yang berada di samping Naruto. "Ayo pergi, Hinata," ajak Sakura seraya memegang tangan Hinata.
"K—kau pergi saja lebih dulu, Sakura. Aku akan menyusul nanti."
Sakura tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Hinata. Ia menjadi kesal lalu berkata "apa kau tidak mengerti situasi yang sedang terjadi, Hinata?! Kau memang pacarnya Naruto, tapi kau tidak harus terlibat dengan apa yang dialami keluarga Naruto."
Hinata terlihat menundukkan kepalanya. Setetes air mata terlihat menetes dari matanya. "Aku tahu itu. Tapi tetap akan terlibat dalam masalah ini karena aku adalah bagian dari keluarga ini. Aku harus membantu Naruto melewati setiap permasalahan. Itu adalah ikrarku," ucapnya tanpa sedikit pun keraguan dan rasa penyesalan.
"A—Apa maksudmu dengan bagian dari keluarga dan ikrar?" Sakura terdengar bingung sekaligus terkejut mendengarnya.
Namun sepertinya bukan hanya Sakura, tapi Naruto dan Sasuke pun terlihat terkejut kala mendengarnya.
"Hi—Hinata, apa yang kau katakan?" tanya Naruto sedikit panik.
Hinata memeluk dirinya sendiri. "Kalian berdua pergilah! Arashi itu sangat berbahaya! Dia adalah mantan Yakuza," teriaknya meski nadanya tidak begitu menggelegar.
Saat Hinata berteriak, samar-samar terdengar suara langkah kaki dari arah dapur. Naruto dan Sasuke yang menyadarinya itu pun langsung bertindak. Naruto menutup paksa mulut Hinata dan menyuruhnya tenang. Sementara Sasuke menganalisa situasi dan mencari tempat untuk bersembunyi. Tanpa berbicara pada Naruto, Sasuke menarik Sakura menuju tangga untuk naik ke lantai 2. Tanpa sedikit pun rasa kekhawatiran, Naruto mengikuti Sasuke bersama dengan Hinata.
Ketika tiba dilantai 2, Sasuke berhenti sejenak dan mengintip ke bawah tangga. Ia melihat seseorang yang sedang berjalan santai ke arah pintu keluar. Wajah pria itu memang tidak bisa dilihat Sasuke karena pengaruh sudut pandang. Namun yang pasti, perasaan Sasuke saat itu tidak enak.
Pria itu terlihat sedang merunduk memungut sesuatu yang ada di tempat mereka berada sebelumnya. Sasuke tidak bisa melihat apa yang dipegang pria itu. Namun, setelahnya tiba-tiba saja pria itu melihat ke arah tangga-tangga. Sasuke pun segera melarikan diri sebelum benar-benar dilihat.
"Kita harus sembunyi. Ikuti aku!" ucapnya pelan lalu membawa Sakura memasuki sebuah ruangan.
"S—Sasuke, jangan di sana!" Peringatan yang diberikan Naruto sepertinya terlambat. Sasuke sudah memasuki sebuah kamar yang seharusnya tidak dikunjungi oleh Sakura maupun Sasuke karena akan membongkar segalanya.
Awalnya Naruto berniat mengajak Sasuke menukar kamar ini dengan kamarnya. Namun, tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki seseorang mulai menaiki tangga. "Sial!" Terpaksa ia harus masuk ke kamar milik Hinata dan mengunci pintu.
Sementara itu, Sasuke menyadari bahwa ia telah salah memasuki kamar. Ia hanya bisa berdiri diam sesaat sambil memikirkan kecerobohannya yang bisa berakibat fatal bagi sahabatnya itu.
"Aku minta maaf, Naruto. Aku tidak memperhatikan. Aku pikir ini kamarmu," kata Sasuke.
"Tidak apa-apa. Sekarang lebih baik kita pikirkan cara untuk kabur. Kita tidak bisa sembunyi di sini."
"Apa kau tidak bisa menghubungi ayahmu, Sasuke?" tanya Sakura.
"Maaf. Sinyal ponselku terganggu. Bagaimana dengan punya kalian?"
"Punyaku tidak ada sinyalnya. Apa sedang gangguan?" tanya Sakura.
"Aku juga sama," kata Hinata.
Naruto mencoba mengambil ponsel dari kantung celananya. Namun tak ia temukan apa-apa di sana. Saat ia mencoba menggeledah tasnya, ia pun tak menemukan ponselnya. "J—Jangan-jangan aku lupa mengambilnya!"
Suara langkah kaki semakin terdengar dekat. Naruto segera menutup mulutnya agar tidak bersuara. Mereka semua perlahan bergeser ke arah jendela.
Namun ada satu hal yang mengganjal di pikiran Sakura saat itu. Meski sedang panik karena situasi yang bisa dikatakan dengan hidup mati ini, tetap saja ada keganjilan yang ia rasakan. Misalnya, "Kamar siapa ini? Jika ini bukan kamar Naruto, kenapa ada meja belajar," batinnya saat melihat sebuah meja yang penuh dengan buku di dekat jendela. Sakura secara diam-diam mengambil sebuah buku. Namun ketika hendak membukanya untuk mengetahui nama si pemilik buku, ia terhenti akibat pembicaraan Sasuke dan Naruto.
"Sepertinya kalau kita melompat dari sini, kita akan cedera," bisik Naruto pada Sasuke.
"Bukankah itu sudah jelas. Tentu saja kita tidak bisa melompat. Turun menggunakan tali pun mustahil di lakukan." Sasuke mencoba membuka jendela dan mengeluarkan ponselnya berusaha mendapat sinyal. Namun tetap saja usaha yang dilakukannya sia-sia.
"Kenapa tidak ada sinyal di rumahmu saat situasi seperti ini?" ucap Sasuke kesal.
"Mana aku tahu!"
Suara seseorang mencoba membuka pintu terdengar. Seketika itu juga, kepanikan mereka bertambah.
"Cepat sembunyi di bawah kasur!" perintah Sasuke dengan pelan.
Sakura dan Hinata dengan cepat mendekati ranjang dan bersembunyi di bawahnya tanpa menimbulkan sedikit pun suara.
Sasuke dengan cepat menarik selimut dari atas kasur dan menggulungnya hingga menjadi semacam tali meskipun terlihat sangat tebal. Karena terlihat masih kurang panjang, Naruto segera mengambil seprei kasur milik Hinata dan mengikatnya dengan selimut.
"Kau yakin mau turun dengan memakai ini? Tadi kau bilang mustahil," tanya Naruto keheranan.
"Selimut-selimut ini bukan untuk kabur." Sasuke segera membuang ujung dari selimut tersebut keluar jendela lalu mengikat ujung lainnya pada meja belajar yang terlihat cukup berat.
Seseorang di luar terus mencoba membuka pintu. Namun karena terkunci, ia akhirnya memutuskan untuk mendobraknya. Dalam sekali dobrakkan, terdengar suara retakan.
"Kita juga harus sembunyi."
Sasuke menarik Naruto menuju kamar mandi. Naruto yang merasa bingung dengan tingkah Sasuke terpaksa hanya mengikuti gerak-geriknya saja. Dengan suara yang amat pelan ia berkata, "Semoga itu bisa mengalihkan perhatiannya."
Pintu pun terdobrak dengan paksa hingga terbuka dan menimbulkan suara yang amat keras terutama saat pintu itu menghantam tembok. Mendengar suara tersebut, Naruto maupun Sasuke merapatkan diri mereka di belakang pintu kamar mandi yang sengaja tidak di tutup. Meski keadaan saat itu sedang tegang, mereka berempat bisa bersembunyi dengan baik tanpa mengeluarkan suara. Mereka tidak sekedar bersembunyi sebab di hadapan mata Naruto, jari Sasuke membentuk angka 1.
Keadaan sunyi seperti ini bisa terwujud karena Sakura dan Hinata sama-sama saling menutup mulut satu sama lain. Mereka cukup terkejut saat pintu kamar terdobrak. Namun syukurnya mereka berdua masih bisa menahan ketakutan yang dirasakan keduanya.
Sakura dan Hinata memperhatikan langkah orang yang diduga Arashi itu. Semakin dekat, mereka semakin panik. Namun cara mereka untuk saling menutup mulut satu sama lain sepertinya cukup efektif sebab mereka tidak mengeluarkan sedikit pun suara yang dapat menyebabkan orang tersebut mengarahkan perhatiannya pada kolong ranjang.
Dari langkah kakinya, bisa dilihat oleh Sakura maupun Hinata kalau orang itu melangkah ke arah jendela. Ketika mereka mempertanyakan kemana perginya Naruto dan Sasuke, saat itu pula kedua laki-laki itu keluar dari persembunyiannya sambil berlari dengan amat kencang ke arah Arashi.
Mereka berdua berhasil menyergap Arashi dan membuatnya terjatuh ke lantai. Sasuke dan Naruto berusaha menahan pergerakannya dengan menindis Arashi dalam posisi tiarap. "D—Dasar pengkhianat!"
"T—Tunggu sebentar, Tuan!" Suara itu terdengar serak. Naruto tidak bisa memastikan suara siapa tersebut. Namun ia merasakan keganjilan. Postur tubuh dan kekuatan yang dikeluarkan orang yang disergapnya ini bukanlah Arashi.
Mendengar kegaduhan yang ditimbulkan kedua laki-laki itu dan melihat keberhasilan keduanya meringkus Arashi, Hinata dan Sakura keluar dari bawah kolong dengan pakaian yang penuh dengan kotoran. Namun Hinata merasa terkejut saat melihat siapa yang diringkus oleh Naruto dan Sasuke.
"Hayate-san?!"
Naruto cukup terkejut saat mendengarnya. Dengan cepat ia melihat baik-baik wajah orang yang mereka tindih. Ternyata memang benar orang yang mereka tindih tersebut adalah Hayate.
"H—Hayate! Apa yang kau lakukan di sini?"
Sasuke dan Naruto segera menyingkir dan membantu Hayate berdiri. "Maaf. Aku mengira kau adalah Arashi."
"Maaf karena tindakanku membuat kalian ketakutan," ucap Hayate dengan suara yang parau.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Tindakan apa yang dia lakukan hingga kalian menyebutnya berkhianat?" tanya Naruto.
"Saya tidak tahu detailnya, Tuan. Saya hanya diminta untuk segera datang ke kediaman untuk menghentikan Arashi. Tapi saat saya tiba, semua orang sudah pingsan," ucap Hayate namun dengan suara yang amat pelan.
"Suaramu tidak begitu jelas? Apa kau sedang sakit?" tanya Naruto sekali lagi.
"Iya, Tuan. Sebenarnya saya sedang terkena flu. Makanya suara saya parau. Tapi kondisiku tidak penting. Keadaan ini harus segera ditangani secepatnya. Banyak pekerja yang kutemukan pingsan. Mereka perlu penanganan medis secepatnya.
"Kita harus menghubungi kepolisian secepatnya. Tapi, kenapa sinyal di rumah Naruto tidak ada?" tanya Sakura.
"Kemungkinan besar, Arashi memasang Sinyal Jammer di kediaman ini. Tadinya saya berniat keluar dan berjalan sejauh mungkin dari kediaman ini untuk menghubungi bantuan. Tapi saat kulihat ponsel Anda tergeletak di lantai, saya berpikir terjadi sesuatu pada Tuan," ucap Hayate.
"Selain panik dan merasa bingung dengan kejadian ini, aku baik-baik saja. Lalu bagaimana keadaan nenek? Apa kau sudah mendapat kabar dari nenek?"
"Masalah ini belum diberitahukan pada Nyonya Tsunade. Beliau saat ini tidak bisa dihubungi."
"Apa!" Naruto menjadi panik. Hinata pun ikut menjadi panik dan mengeluarkan ungkapan terkejut bersamaan dengan Naruto. Sekilas, Sakura yang berada di sampingnya pun ikut terkejut namun karena sikap Hinata.
"Apa terjadi sesuatu dengan nenekku?"
"Untuk saat ini belum ada kabar apa-apa. Tapi mendengar informasi sebelumnya dari Genma setelah tiba di kota tujuan. Ia mengatakan bahwa Nyonya Tsunade akan langsung menghadiri pemakaman temannya tadi siang."
"Lalu apa itu kabar terakhir?" tanya Hinata dengan penasaran dan penuh kekhawatiran.
Sebelum menjawab, Terlihat Hayate memperhatikan Sasuke dan Sakura sekilas kemudian berbalik memandang Hinata. Saat akan menjawab, ia terhenti saat mendengar bisikan Sakura pada Sasuke.
"Hey, Sasuke. Aku sepertnya pernah mendengar nama orang ini dari Hinata? Kalau tidak salah paman Hinata itu bernama Hayate. Apa orang ini paman Hinata? Tapi bukankah dia aju—"
"Sakura. Aku mohon untuk tenang sejenak. Situasi ini sepertinya cukup buruk untuk Naruto," potong Sasuke.
Sakura memalingkan matanya karena kekecewaan. "Baiklah," ucapnya cemberut.
"Sebaiknya kita keluar. Kita biarkan Naruto berbicara dengan Hayate. Ini sepertinya pembicaraan yang penting."
"Tapi—"
Sasuke menarik tangan Sakura bahkan sebelum perempuan itu menyelesaikan kalimatnya. "Sabarlah, Sasuke!" Sakura merasa tidak senang dengan perlakuan Sasuke padanya saat ini. Namun ia hanya bisa mengikutinya. Namun, ia berusaha meraih tangan Hinata untuk mengajaknya keluar. Namun:
"Maaf Sakura. Tapi aku punya pembicaraan penting dengan mereka berdua," ucap Hinata seraya melepas genggaman tangan Sakura dengan tatapan mata penuh kekhawatiran dan kepasrahan.
"Apa maksudmu, Hinata?" kebingungan jelas semakin terpatri di kepala Sakura. Hipotesis-hipotesis mulai bermunculan di kepala Sakura hingga menimbulkan sebuah pertanyaan. "Hubungan seperti apa yang sebenarnya terjadi di antara Naruto dan Hinata".
Setibanya di luar, Sasuke langsung melepas tangan Sakura. Segera ia mengambil ponsel dari tasnya dan berkata, "Sakura. Tunggu aku di sini. Jangan kemana-mana. Apalagi kembali ke kamar. Aku mau keluar untuk menelepon ayahku agar segera mengirim medis."
Sakura hanya mengangguk setuju. Ia memandangi kepergian Sasuke yang menuruni tangga. Setelah matanya tidak bisa mendapati keberadaan Sasuke lagi, Sakura mendudukkan pantatnya di lantai. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas.
Itu adalah sebuah buku. Namun itu bukan novel ataupun buku miliknya. Itu adalah buku yang ia dapatkan di dalam kamar.
"Sebenarnya. Apa hubungan Naruto dan Hinata? Sudah sejauh apa hubungan mereka? Sejak kapan sebenarnya mereka berpacaran?" pertanyaan-pertanyaan itu terngiang di kepalanya dengan berbagai alasan. "Kenapa sikap Hinata menunjukkan kekhawatiran berlebihan seperti sudah mengenal nenek Naruto dengan sangat dekat? Lalu apa Hayate di dalam adalah paman Hinata? Kalau benar, kenapa dia bisa ada di sini sambil mengenakan jas seperti ajudan keluarga Naruto? Apa hanya kebetulan mereka berdua punya nama yang sama?"
Memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu membuat Sakura meremas kuat buku yang dipegangnya. Ia benar-benar tidak peduli pada buku yang notabenenya adalah milik orang lain.
"Kamar siapa itu? Desain dan suasananya seperti kamar seorang perempuan. Nenek Naruto? Itu mustahil. Aku juga tidak tahu kalau Naruto punya saudara perempuan. Jadi... sebenarnya kamar siapa? Hinata?" memikirkan nama "Hinata" yang muncul di dalam kepalanya langsung membuatnya melirik ke arah buku yang dipegangnya.
Jika ia membukanya, semua jawaban dari pertanyaan yang membuatnya kebingungan sendiri ini akan segera terpecahkan. Namun siapkah dirinya untuk menerima kenyataan itu mungkin perlu dijadikan sebuah pertanyaan.
[]=[]=[]
Sementara itu di dalam kamar, Naruto, Hayate, dan Hinata sedang membahas suatu hal terkait dengan kondisi Tsunade dan situasi yang sedang terjadi.
"Untuk sekarang, kami sudah meminta rekan tuan Jiraiya untuk memastikan keadaan Nyonya Tsunade. Untuk saat ini kita hanya bisa berharap Nyonya Tsunade tidak bisa dihubungi karena sedang menghadiri pemakaman."
"Aku juga berharap begitu. Namun, sampai aku menerima kabar dari nenek, aku tidak akan bisa tenang. Tolong pantau terus kondisi nenek. Untuk masalah Arashi, izinkan aku untuk ikut bertindak."
"Kami akan bergerak sesuai arahan Anda, tuan Uzumaki."
Tak lama kemudian terdengar suara rombongan mobil memasuki kediaman Uzumaki. Itu adalah mobil kepolisian dan beberapa mobil ambulans. Namun mereka tidak menyalakan sirene seperti keadaan darurat lainnya. Sepertinya ada maksud tersendiri dari tindakkan mereka tersebut. Namun bisa diyakini kalau mereka tidak ingin tragedi ini sampai diketahui publik.
"Sekarang kita fokus terlebih dahulu untuk menangani pekerja yang pingsan dan ajudan yang terluka," ucap Hayate.
"Baik."
Mereka berjalan keluar dari kamar. Tak jauh dari pintu, terlihat Sakura yang sedang duduk beralaskan lantai. Melihat Naruto dan Hinata keluar dari dalam kamar, Sakura segera menyembunyikan buku yang dibawanya.
Naruto melihat hal itu. Ia penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Sakura. Namun ketika hendak bertanya, ia malah ditanya lebih dulu oleh Sakura.
"Kalian sudah selesai? Lalu bagaimana keadaan nenekmu, Naruto?"
"Aku tidak tahu pasti. Namun saat ini, sebaiknya aku fokus untuk menolong pekerja yang pingsan dan mengurus masalah Arashi. Aku yakin nenekku baik-baik saja."
Naruto berbalik ke arah Hinata. "Hinata, kau di sini temani Sakura." Setelahnya ia pun pergi bersama Hayate untuk menyusul Sasuke.
Hinata memperhatikan kepergian Naruto. Dari tatapan mata dan juga posisi tangan yang dikepal di depan dadanya menandakan dia sedang mengharapkan sesuatu.
"Kau baik-baik saja, Hinata? Kau terlihat sedih. Apa situasi di tempat neneknya juga seperti di sini?" tanya Sakura.
"Seperti yang dikatakan Naruto, belum ada kabar pasti. Namun aku berharap neneknya baik-baik saja."
"Dari kesedihanmu. Aku merasa seperti kau punya hubungan khusus dengan nenek Naruto. Apa sebenarnya hubunganmu di keluarga Naruto? Padahal sebelumnya kau bilang belum pernah ke rumah Naruto. Itu artinya seharusnya kau belum mengenal nenek Naruto dengan baik."
Hinata melebarkan kedua matanya. Namun ia tidak terlalu terkejut mengingat hari ini telah terjadi banyak hal yang tentu saja bisa mengundang rasa penasaran dan kecurigaan Sakura. Tentu saja pertanyaan Sakura itu membuatnya sadar bahwa tidak ada alasan lagi yang bisa ia gunakan untuk mengelabui Sakura.
Melihat Hinata terdiam, Sakura menambah pertanyaan. "Lalu siapa Hayate itu. Apa dia Hayate 'pamanmu' atau Hayate 'lain' yang namanya mirip dengan pamanmu."
Hinata masih terdiam. Sakura pun langsung berkata, "Sebenarnya hal apa yang kalian sembunyikan dariku. Aku merasa seperti dicurangi dan dibodohi. Kalian bertiga sama-sama menyembunyikan rahasia dariku."
Melihat Hinata tidak segera membuat pernyataan, Sakura mengeluarkan buku yang sebelumnya ia sembunyikan.
"B... buku itu!" Hinata terkejut saat melihat buku yang dipegang oleh Sakura.
"Kau terkejut? Aku belum membaca nama pemilik buku ini. Tapi buku ini aku dapat dari dalam kamar tadi. Aku punya persepsi sendiri mengenai hubunganmu yang sebenarnya dengan Naruto. Tapi aku tidak ingin membuka buku ini. Aku... aku ingin mendengarnya langsung darimu, Hinata!"
Nada terakhir Sakura terdengar keras. Air mata pun menetes dan membasahi wajah Sakura.
"M... Maaf... Maaf... Maaf aku sudah membohongimu... Aku... Aku merahasiakan hal ini darimu demi diriku sendiri dan juga demi Naruto... Masa depan kami mungkin akan hancur jika hal ini sampai diketahui orang lain di luar keluarga Uzumaki." Hinata menundukkan kepalanya.
"Aku... sebenarnya punya hubungan yang lebih dekat dengan Naruto. Hubungan yang sebenarnya dipaksakan pada kami. Tapi, lama kelamaan kami bisa menerimanya," lanjut Hinata.
"Jadi, sebenarnya hubungan apa yang kalian miliki?" tanya Sakura dengan nada intens.
Hinata terlihat ragu untuk menjawab. Namun, ia sudah tidak memiliki niat lagi untuk menyembunyikan rahasia itu dari Sakura.
"K... Kami dijodohkan dan dijadikan pasangan... su... suami... istri."
[]=[]=[]
Cukup banyak mobil yang diparkir di halaman depan kediaman Uzumaki. Ada sekitar 3 mobil ambulans dan beberapa mobil kepolisian. Para polisi dan tenaga medis yang datang segera memberikan pertolongan pada korban terutama 3 ajudan yang ditemukan terluka di dalam rumah. Ada juga sebuah mobil milik perusahaan Uzumaki Enterprise yang ikut dalam rombongan tersebut. Mobil itu dikendarai oleh sekretaris Naruto.
"Kenapa dia juga ke sini?" batin Naruto bingung.
Hayate berjalan mendekati sekretaris itu lalu bertanya, "Apa ada kabar terbaru?"
Naruto mendekati mereka berdua untuk mendengar apa yang ingin dikatakan sekretarisnya itu.
"Nyonya Tsunade dinyatakan menghilang dari pengawasan Genma. Kemungkinan terbesar adalah Nyonya Tsunade diculik setelah berpisah dengan rekan-rekannya setelah menghadiri pemakaman. Genma ditemukan pingsan di dalam mobil sendirian." Sekretaris itu berkata dengan nada amat bersalah.
Seketika mendengarnya, perasaan Naruto menjadi kacau. "Kenapa hal ini sampai terjadi? Sebenarnya ada apa?" Memikirkannya membuat Naruto stres. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan seraya berteriak, "Ahhhh! Yang benar saja!"
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
Apa kabar kalian semua. Masihkah kalian menunggu cerita yang hampir lumutan ini?
Aku minta maaf karena lama update tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Aku sibuk dengan urusan masuk kuliah dan segala ospeknya. Aku benar-benar minta maaf pada kalian yang telah menanti dengan penuh pertanyaan yang selalu terngiang di kepala kalian saat membuka beranda fanfiction, "Kapan author ini update" ya itu pun jika ada yang berpikir demikian, hehe.
Satu kata yang bisa kukatakan untuk chapter ini. Datar!
Insting menulisku menumpul karena lama tidak dilatih. Banyak adegan dan percakapan yang menurutku datar meski aku memikirkannya dengan penuh perasaan. Sepertinya kalian pun berpikir demikian atau bahkan percakapan dari awal memang sudah datar :v
Namun yang pasti ada alasan kenapa aku meng-upload chapter yang hancur ini.
Aku akan membuat chapter depan menjadi lebih baik.
Jadi, nantikan ya. Sebelumnya aku harus minta maaf terlebih dahulu. Mungkin update selanjutnya akan lama karena aku masih belum bisa aktif menulis. tapi, kalau review yang masuk banyak mungkin bisa kupercepat. Karean review itu semacam sebuah katalis. Aku selalu menantikan review kalian. Namun bukan berarti kalau tidak ada review, maka tidak akan ada chapter berikutnya. Aku menulis bukan untuk mengemis review, tapi hanya sebagai hiburan dan juga media untuk menuangkan imajinasiku yang ada kalanya bisa liar.
salam
Tandrato
