.
.
.
.
.
.
.
Rasa gemetar itu masih ada. Sekalipun aku mencoba untuk menghilangkan rasa tremor yang bersarang di kakiku.
Aku takut.
Takut, jika berakhir aku menyukai wajah rupawannya.
Dia sang demon
.
.
.
.
.
.
.
.
Seminggu setelah kejadian itu aku tak pernah bertemu dengan sosok bermata biru itu. Aku menatap cincin emas putih dengan ukiran rumit yang melingkar di jari manisku. Seketika aku merasa mataku mengembun, ada perasaan sesak setiap kali aku melihat cincin ini. Ingin sekali ku lepas lalu aku buang entah kemana asal cincin ini hilang dari pandanganku.
Tapi, sialnya...
Aku sudah berkali-kali mencoba melepaskannya tapi sia-sia. Cincin itu melekat sempurna seolah telah diberi lem super agar tidak lepas. Aku membenci cincin ini. Sekalipun dia terlihat indah dan menawan tak menutup sebuah fakta bahwa cincin ini sudah menjadi tanda keterikatanku dengan pria itu.
"Dengarkan, setelah aku memakaikan cincin ini kepadamu maka didetik itu juga kau sudah menjadi pengantinku. Tak peduli seberapa kerasnya kau berlari menjauhiku, dengan cincin ini aku bisa menemukanmu"
"Cincin ini sebagai tanda bahwa kita telah terikat"
Sekuat tenaga aku mencoba membendungnya, tetap saja air mata ini mengalir. Hatiku sesak bahkan hanya untuk mengingatnya. Dihari pertama aku mengenyam pendidikan di universitas ini seharusnya aku mendapatkan sebuah pengalaman baru bukan seperti ini. Menjadi pengantin dengan seseorang yang tidak kukenal, bukanlah hal yang terlintas di otakku.
Memikirkannya seketika membuat kepalaku pening. Berdenyut cepat hingga menimbulkan rasa sakit yang berlebih. Aku menelungkupkan kepalaku ke meja yang ada diperpustakaan ini. Mencoba setidaknya untuk mengurangi rasa sakitnya. Terlarut dalam suasana, sampai tanpa kusadar jika kini kesadaranku beralih ke alam mimpi.
-Jika aku memiliki kekuatan pengatur waktu, hal pertama yang kulakukan adalah kembali di masa aku tidak pernah melihat mata biru itu yang begitu menghanyutkan..-
-Kembali di masa aku tidak bertemu denganmu. Karena pertemuan kita adalah sebuah kesalahan-
-Dan aku menyesal akan hal itu-
.
.
.
.
.
.
.
Aku bermimpi. Dipadang rumput aku melihat mereka. Pria tangguh dan wanita penuh kelemah lembutannya yang begitu aku rindukan. Satu tahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun...
Ahhh...
Bahkan aku tak pernah membayangkan jika sudah lima belas tahun mereka meninggalkanku. Aku bahkan tak begitu ingat bagaimana bentuk wajah mereka. Hanya sebuah elusan penuh kasih sayang yang dilakukan oleh tangan kekar itu dan juga sebuah senyuman lembut terpancar di wajah ayu itu.
Ayah... Ibu...
Kalian terlihat bahagia disana. Apakah begitu menyenangkannya kah berada di surga? Mengapa kalian tidak mengajakku juga. Bahkan kalian meninggalkanku hanya berdua saja dengan nenek.
Nenek...
Wanita tua itu aku juga melihatnya. Ia berdiri di tengah-tengah kedua orang tuaku. Merangkul mereka dengan tangan hangatnya. Juga dia tersenyum begitu lebarnya hingga matanya menyipit menyembunyikan mata teduh kesukaanku.
Aku menangis... Ingin sekali rasanya untuk menyusul mereka. Berkumpul dan tertawa bersama. Namun ada satu hal yang membuatku enggan mewujudkannya. Janjiku...
Janjiku pada nenek bahwa aku akan selalu menjadi yang terkuat tak peduli dengan apapun yang menghadang.
'Kuat adalah ketika kau tidak menyerah dalam keadaan, ketika kau bisa menghadapi sebuah rintangan, tidak takut dalam segala situasi dan membuktikan bahwa kau adalah seorang pemenang. Itulah arti kuat yang sebernarnya. Tetap berdiri di medan perang hingga semuanya berakhir, sampai kau menemukan sebuah kebahagiaan'
Dan aku selalu mengingat apa yang dikatakan wanita renta yang selalu tersenyum hangat padanya itu...
.
.
.
.
.
.
.
.
'Ketika sebuah keyakinanku diporak-porandakan oleh sebuah debaran'
"Kau yakin memilihnya sebagai pengantinmu, Kris?"
"Aku meyakininya..."
"Dia manusia"
"Bahkan Baekhyun juga sama. Dia manusia dan ia bisa menjadi pengantinmu"
"Bedanya ia mencintaiku sedangkan orang yang kau pilih mengenalmu saja tidak"
"Chanyeol, kau percaya bahwa aku tak mengenal dengan sebuah perasaan yang membingungkan seperti cinta-
-aku meyakininya sampai mata hitam itu menarikku masuk kedalamnya"
"Aku tidak pernah merasakannya tapi pria itu sudah membuatku merasakan hilang kendali atas diriku sendiri"
"Tapi kau tak bisa memaksakannya pada pria yang bahkan tidak tau apa-apa. Kau seperti memaksanya untuk menyelam di samudera luas disaat ia ketakutan karena tak bisa berenang"
"Kau salah, aku tak akan menyuruhnya melakukan hal bodoh. Aku hanya akan mengikatnya, benar-benar mengikatnya. Memastikan dia selalu berada disampingku hingga akhir. Tak pernah meninggalkanku bahkan untuk satu langkah pun tidak. Aku akan membuatnya menjadi milikku selamanya"
"Kau dan pikiran egoismu. Kris kau telah jatuh terlalu dalam"
"Aku memang egois. Egois adalah nama tengahku. Dan kau benar aku telah jatuh hingga ke relung paling dalam sampai aku tidak sadar menggunakan keegoisanku untuk mengukungnya di dalam kuasaku. Untuk pertama kalinya hasrat untuk memiliki begitu besar. Jangan salahkan aku jika aku bersikap egois"
'Karena dengan egois inilah aku bisa mendapatkanmu...
...pengantinku'
.
.
.
.
.
.
.
.
(Jatuh cintalah padaku hingga kau tak bisa berpaling padaku. Akan kubuat kau berpikir bahwa akulah sang semesta yang pantas kau ikuti. Cintai aku dengan kepolosanmu yang dapat membuatku terbang kelangit tujuh)
.
.
.
When Kris fallin' in love...
TBC
