....

Aku mengakuinya, bahwa mata biru itu terlalu sayang

.

.

.

.

.

.

.

.

Untuk dilewatkan...

.

.

.

.

Sepuluh hari berlalu dengan cepat. Lagi-lagi aku hanya berdiam diri diperpustakaan. Salah satu tempat yang tidak pernah aku lewatkan satu hari pun. Aku menyukai tempat ini, karena disini aku bisa merasakan ketenangan.

Kembali aku membuka lembar halaman selanjutnya di novel yang kubaca. Hanya novel roman picisan dimana kisahnya selalu sama. Mereka bertemu lalu jatuh cinta. Memadu kasih bersama hingga mereka memutuskan untuk menikah dan hidup bahagia. Terlalu chessy. Kehidupan fiksi yang bahkan terlalu sulit untuk diwujudkan di dunia nyata.

Setidaknya untuk dirinya.

Terlalu larut dengan kisah cinta yang ada di novel, aku bahkan tak menyadari bahwa perpustakaan kini begitu sepi. Tentu saja sepi ini bahkan sudah jam 5 sore dan itu artinya sudah banyak mahasiswa yang memilih pulang kerumah. Bagi mereka yang terbebas dari deadline tugas tentunya. Tapi ada hal yang tidak pernah aku rasakan, suasana disini jauh lebih hening. Bahkan suara desiran angin yang menyusup masuk dari jendela-jendela bisa ku dengar jelas.

Terang saja ini membuatku sedikit tak nyaman, dan juga takut.

Maka dari itu aku bergegas merapikan semua buku lalu melangkahkan kaki keluar. Baru aku sadari kenapa suasana hari ini begitu hening, ternyata hanya tinggal aku sendiri yang berada di perpustakaan. Bahkan aku sudah tak melihat wanita paruh baya yang menjadi penjaga perpustakaan. Seketika aku panik, jika penjaganya saja sudah tidak ada berarti...

Langsung saja aku berlari, untuk memastikan bahwa aku tidak terkunci didalam perpustakaan. Sial... Kumohon jangan. Sungguh aku tak ingin terkunci di tempat ini sendirian. Tapi belum sampai tangan ini untuk menggapai kenop, pintu tersebut tiba-tiba terbuka dari luar. Menampakkan sang pelaku yang membuka pintu tersebut.

Aku pikir itu adalah wanita penjaga yang mungkin kembali lagi untuk mengecek perpustakaan. Tapi, sosok didepanku berbentuk pria dengan tinggi diatas rata-rata. Wajah tampan dengan rahang tegas. Rambut berwarna pirang yang di beri gel agar terlihat rapi. Juga mata biru yang begitu senantiasa menatapku dengan lekat.

Ahh, mata biru itu...

Seketika aku tersadar, aku menatap pria pemilik mata berwarna biru. Aku mengingatnya, dia adalah pria yang bahkan namanya saja aku tidak tau. Semua hal tentang pria ini tidak ada satu pun yang ku ketahui. Tanpa sadar aku menyentuh cincin yang melingkar di jari manisku. Semua kenangan yang sekuat tenaga ingin ku hapus kembali bermunculan.

Kenapa kau muncul?

Kenapa kau harus kembali hadir?

Kenapa kau menatapku sedalam itu?

Kenapa aku tak bisa untuk tidak membalas tatapanmu?

Dan kenapa aku harus berdetak kencang hanya dengan tatapanmu itu?

Apa aku sudah gila. Sudah tak waras lagi. Atau mungkin sudah tak bernyawa.

Aku menundukkan kepalaku. Tak ingin kembali menatap pria ini. Tak ingin kembali terhanyut dalam tatapan teduh.

"Tao..." suara berat mengalun di antara keheningan. Aku semakin menundukkan kepala ketika merasa bahwa pria ini melangkah mendekatiku.

Bahkan saat jemari besarnya menangkupkan kedua pipiku. Mengarahkan wajahku agar menghadap dirinya aku memilih untuk menutup mata. Terlalu enggan jika harus kembali bertatapan dengan matanya.

"Buka matamu, tatap aku Tao..." pintanya dengan desisan. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, apakah pria ini mulai kesal dengan tingkahnya.

"Buka atau aku akan menciummu.." ucapnya lagi dan seketika aku langsung membuka mataku lebar. Dan kembali lagi mata hitamku bertubrukan dengan mata birunya. Entah mengapa aku merasa bahwa waktu seperti telah berhenti. Aku menatap lamat-lamat pria ini. Ia tampan, indah dan sempurna. Ketika pertama kali bertatapan dengannya, aku merasakan bahwa jantungku seperti melompat keluar karena debaran yang keras. Di tatapan kedua aku bergetar ketakutan karena ia tiba-tiba memaksaku menjadi pengantinnya. Dan di tatapan ke tiga ada perasaan aneh yang menyergap. Perutku terasa mulas dan geli secara bersamaan. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan didalamnya.

Seketika aku penasaran, ditatapan kita yang keempat reaksi apa yang akan terjadi.

"Matamu indah..." ucapnya memuji. Ia semakin merapatkan dirinya padaku. Membuat tubuh kami menempel sempurna tanpa ada celah.

"Sebenarnya kau siapa?"

"Aku jodohmu.."

Aku memejamkan mata setelah mendengar perkataannya. Jodohku, benarkah dia adalah yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi jodohku. Kenapa begitu mendadak...

"Jangan pernah kau sembunyikan mutiara indahmu ini, Tao.."

Aku membuka mata,

"Kau tau aku tapi aku tidak tau siapa dirimu. Bahkan namamu saja aku tak tau"

Pria ini mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan napasnya menyentuh wajahku.

"Namaku Kris Wu. Panggil aku Kris.."

"Kris.." ulangku menyebut namanya. Itu nama yang bagus, cocok sekali untuk pria tampan seperti dia.

"Ya... Terus panggil namaku"

"Kris.."

"Kris.."

"Tao..."

"Kau adalah pengantinku..."

Ucapnya sebelum bibirnya mengecup bibirku. Awalnya dengan kecupan ringan, lalu mulai berlanjut dengan lumatan dalam dan lilitan lidah. Kami berciuman dengan mata yang saling bertatapan. Terus begitu, hingga tanpa sadar aku menutup mataku yang disusul oleh keluarnya lelehan air mata.

Aku tidak tau apa arti air mata ini tapi yang aku ketahui bahwa reaksiku di tatapan keempat kita hanya membuatku semakin kebingungan.

Bingung akan diriku dan perasaanku

Bingung akan keberadaan Kris

Bingung akan nasib dan takdir

Semuanya terlalu kabur untuk dimengerti.

.

.

.

Mengapa sekarang semuanya menjadi membingungkan...

.

.

.

.

.

Aku ingin sebuah kepastian..

.

.

.

.

Kepastian yang nyata...

.

.

.

First kiss~

TBC