Ketika daun yang berguguran mengotori halaman rumah.
Ketika sinar matahari hangat menyusup malu-malu diantara celah gorden.
Ketika angin musim gugur menyambutmu saat keluar rumah.
Di rumah tua dengan ornamen klasik, entah mengapa hanya dengan momen satu kali beradu tatapan dengan mata hitam itu.
Aku merasa sudah tersesat.
Tersesat dalam ketidak warasanku. Sehingga tanpa disadari aku memilih untuk mengikatnya,
dalam hubungan yang abu-abu...
Dengan perasaan yang abu-abu juga...
Kris Wu. Seorang pangeran iblis yang sedang berpetualang. Meninggalkan dunia iblis hanya untuk menikmati bagaimana rasanya hidup di dunia manusia. Entah sudah berapa lama ia berpetualang. Sepuluh tahun, dua puluh tahun atau mungkin ini sudah ke lima puluh tahun Kris menikmati masa-masa hidup menjadi manusia. Bersama dengan Park Chanyeol, sepupu yang tidak pernah ia anggap bahwa mereka adalah bersaudara.
Sepupu iblisnya yang sialan sekali.
"Chanyeol ada Kris, kita pindah saja" samar-samar suara Baekhyun yang menyapa indra pendengarannya. Pria itu berbicara berbisik di telinga sepupunya namun Kris yang tentunya memiliki kemampuan lebih dari seorang manusia bisa mendengarnya.
"Biarkan saja.. Lagipula dia tidak akan peduli" balas Chanyeol dengan berbisik juga. Lalu ia kembali melanjutkan aksinya dalam memberi tanda kepemilikan di leher putih pengantinnya. Juga tak lupa dengan tangan besarnya yang sudah menggerayangi tubuh Baekhyun. Memberikan rangsangan di puting juga penis mungil itu.
Mereka berdua terlarut dengan kenikmatan yang tercipta, hingga mengabaikan Kris yang berada di ruangan yang sama. Memang benar kata pepatah, jika sepasang kekasih sudah berlovey dovey, yang lain dianggap angin. Dunia berasa milik mereka berdua dan yang lain hanya ngontrak. Bahkan Chanyeol dan Baekhyun sudah tak peduli dengan Kris yang akan melihat percintaan mereka, mengingat posisi duduk Kris yang di sofa lurus dengan ranjang yang menjadi tempat peraduan sepupunya.
Kris mendecih.
Ia tidak lagi repot memikirkan suara desahan yang keluar di mulut masing-masing, tidak memikirkan bagaimana suara kecipak tabrakan kulit yang terdengar juga jangan lupakan bau bau precum yang sudah mulai menguar. Kris tidak peduli. Ia sudah terlalu biasa dengan tingkah Chanyeol yang ingin bercinta tanpa mengenal situasi dan kondisi disekitarnya.
Kris sudah terbiasa.
Kembali Kris terlarut di dunianya sendiri. Tangan kanannya memegang gelas yang berisi wine. Ia meminum minuman berwarna merah itu, menyesap menikmati rasa pahit dan manis yang menyatu di dalam fermentasi anggur merah itu.
Ia masih terlarut,
hingga...
Entah ini instingnya atau sesuatu yang lain Kris merasakan aura manusia di sekitar ini. Dekat dengan rumah antik yang ada di kampus dimana ia menyamar menjadi salah satu mahasiswa disana bersama Chanyeol. Tentu mereka lakukan itu karena Baekhyun juga berkuliah disini. Kris menatap Chanyeol, melihat apakah sepupunya juga merasakan apa yang ia rasakan juga. Tapi nihil, Park Chanyeol sudah terlalu mabuk dengan yang namanya sex with Baekhyun.
Aura itu terasa semakin dekat. Kris mengernyitkan dahinya ketika ia samar-samar mencium bau citrus yang bercampur dengan aroma manis yang entah bagaimana ia harus jelaskan. Yang pasti ini cukup memabukkan untuk Kris.
Kepalanya bergerak menghadap pintu coklat dengan ukiran rumit ketika Kris mendengar suara deritan yang menampilkan siluet pemuda yang memasukkan kepalanya. Kris bisa melihat dari tempat duduknya bagaimana wajah memerah malu terjadi ketika pemuda itu melihat kegiatan mesum sepupunya. Kris sedikit menyunggingkan sudut bibirnya, merasa lucu dengan reaksi pemuda itu.
Wajah malu-malu itu seketika berubah saat mata mereka saling bertubrukkan.
Deg~
Mata biru Kris bertemu pandang dengan mata hitam yang juga menatapnya. Untuk pertama kalinya, seseorang membuat Kris Wu terpesona hanya dengan keindahan mata hitam yang bersinar terang. Ia menatap lamat mata yang mampu membuat dunia fana yang dibangun Kris sekarang runtuh dan terhisap kedalam hitamnya lubang fantasi.
Cukup lama mereka berpandangan, sampai Kris memberikan senyumannya -ahh tidak lebih tepatnya seringaian jahatnya- seolah mengejek sang pemuda karena telah tertangkap basah mengintip olehnya.
Kris berdecih didalam hati ketika mata hitam itu telah hilang di balik pintu. Entah mengapa ia merasa tidak rela untuk kehilangan keindahan yang begitu nyata. Jadi tanpa menunggu lama, dengan kaki-kaki panjangnya ia menyusul pemuda itu. Menahaannya diantara kukungan tubuh besar Kris dan tembok di belakangnya. Menatap nyalang ke pemuda yang kini sudah berdiri ketakutan. Kepalanya menunduk dan matanya bergerak kekanan dan kekiri mencoba menghidari tatapan tajam Kris.
"Kau sudah melihatnya.."
Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Kris setelah beberapa detik terjadi keheningan. Nafas beraroma mint milik Kris menguar ketika bibir tebalnya berbicara membuat pemuda yang berada di kukungannya mendongak, menatap mata biru Kris.
"Kau melihat apa yang terjadi" ucap Kris mempertegas kalimatnya yang pertama. Wajahnya ia dekatkan ke arah pemuda bermata hitam. Melihat lebih dekat sosok yang terlihat menawan di matanya. Pemuda pertama yang membuat dirinya merasa getaran aneh.
Kris tidak tau mengapa harus ada gelenyar aneh di bagian dadanya ketika mata mereka saling bertaut. Ketika nafas mereka saling bersautan. Ketika keheningan membuat dirinya sedikit merasakan gugup. Untuk pertama kalinya ada perasaan memiliki yang menguar hebat di hati sanubari. Ingin memiliki pemuda berparas manis yang ada dikukukangannya. Ingin mengklaim bahwa pemuda ini hanya milik dirinya.
Hanya dirinya.
Satu-satunya.
Maka dari itu, dengan segala keegoisannya ia mengikat pemuda itu kedalam sebuah hubungan abu-abu yang ia ciptakan. Dengan perasaan yang abu-abu juga dan hati yang masih tak terdefinisi. Yang Kris tau sekarang hanya ingin memiliki dan semua keinginannya harus terjadi.
"Jadi sudah kuputuskan —
Suara berat Kris mengalun.
— bahwa kau akan menjadi pengantinku... "
Dan inilah hasil dari keegoisanmu..
Mengikat seseorang dengan cinta abu-abu...
Keyakinan abu-abu...
Juga keindahan yang abu-abu...
Semuanya masih tidak jelas. Terlalu abstrak dan tak bisa dibaca. Perlu waktu untuk menjelaskannya. Waktu yang panjang, dan setelah tiba waktu itu kisah mereka yang bergulir akan dipenuhi cerita-cerita yang bahkan mereka sendiri tidak pernah menyangkanya.
Ini masih abu-abu.
Warna yang tidak bisa dibilang hitam atau putih..
Sama dengan kisah mereka, tidak tau apakah ini salah atau benar..
Tetapi, jika kita ingin mengetahuinya bukankah kita harus mejalani alur cerita itu bukan?
Untuk melihat akhir cerita..
Happy Ending or Sad Ending
We will find out later...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau lihat cincin ini?" Kris memperlihatkan cincin emas putih yang memiliki ukiran rumit namun indah kepada pemuda itu.
"Dengarkan, setelah aku memakaikan cincin ini kepadamu maka didetik itu juga kau sudah menjadi pengantinku. Tak peduli seberapa kerasnya kau berlari menjauhiku, dengan cincin ini aku bisa menemukanmu"
Lalu pemuda blasteran itu memakaikan paksa cincin nan indah itu ke jari manis sang pemuda. Kris benar - benar memaksakan kehendaknya kepada pemuda itu.
"Cincin ini sebagai tanda bahwa kita telah terikat"
Ia juga memakai pasangan dari cincin itu di jarinya sendiri. Lalu setelah itu ia berlutut, mengambil tangan sang pemuda yang kini sudah terikat dengannya. Mengecup jemari-jemari yang kini terdapat cincin yang baru ia sematkan. Mengecupnya pelan namun penuh hasrat yang mendalam. Kecupan yang diiringi dengan isakan lirih dari sang pemuda.
Kris mendadak tuli, ia tidak menghiraukan suara-suara yang dikeluarkan oleh pemuda itu.
Ia telah terlalu larut dengan perasaanya.
Perasaan yang ia ciptakan sendiri...
.
.
.
.
.
.
Kris side...
The selfish side fills the heart
2 Feb 2019
19:37
TBC..
I have overdosed on the love that was given by you
My good feelings...
I fell back into the same hole. I still love you, no matter the insults of people. I think you're still the best.
EXO, can we always be together until we age
(EXOL always love you)
Halohaaa.. Sudah di update...
What do you think about this part? Please give me a criticism. I realy need it.
I feel very moved.
Ketika melihat komentar kalian. Sekali lagi terima kasih.
Mari kita bertemu lagi di chapter berikutnya
