His fatal fantasy, I'm drunk with ecstasy

Oh, he wants me

Oh, he got me

Aku menatap siluet tubuhku di kaca besar yang ada di kamar tidur Kris. Menatap tanda yang tiba-tiba muncul. Aku bisa melihat bagaimana lambang naga itu tergambar jelas di tubuhku ini. Memanjang dari area perut hingga ke arah punggung. Lambang yang begitu indah, namun terlihat begitu banyak makna didalamnya. Seolah ada pesan tersembunyi.

Aku menyentuh gambar kepala naga yang ada di daerah perutku, mengelusnya pelan dengan perasaan abstrak. Antara senang dan sedih semua tercampur aduk. Terlalu banyak hal yang masih menjadi tanda tanya bagiku, sangat banyak. Hingga rasanya jika di pikirkan otakku seperti ingin meledak.

Kris dia..

Aku tersentak ketika merasakan tangan besar memelukku dari belakang. Itu Kris, tanpa melihatnya aku sudah tau dari pantulan kaca yang ada didepanku. Memeluk perutku erat dengan dagunya yang ia taruh di bahuku. Juga dengan bibirnya yang sesekali mengecup leher telanjangku. Aku hanya bisa melenguh ketika kecupannya berubah menjadi hisapan dalam.

"Ahhnn.."

"Tandanya sudah keluar.." ucap Kris setelah ia puas menambah koleksi hickey di leherku.

"Hm"

"Naga adalah wujudku saat menjadi iblis"

"Benarkah?"

"Ya.."

Aku membalikkan tubuhku agar bisa berhadapan dengan Kris. Kedua tanganku bertengger di leher Kris.

"Aku ingin melihat wujud aslimu, pasti sangat indah"

"Kau akan melihatnya nanti"

Kris mencium sekilas bibirku,

"Jika kau mau ikut pergi denganku.."

"Kemana?"

"Keduniaku. Menikah disana dan saling mengikat jiwa—

—kau mau?"

Aku sudah terlalu jatuh padamu..

To much, it's you, your love, this is overdose..

Dunia iblis tidaklah seseram seperti kelihatannya, tidaklah seburuk kedengannya. Aku menatap sebuah istana megah yang aku masuki bersama Kris. Ia menuntunku masuk ke sebuah ruangan, dimana aku bisa melihat sang raja yang duduk dengan gagah di singgasananya.

Raja itu menyambut kami dengan bibir mengulas senyum tetapi penuh dengan sorotan mata tajam. Aku bahkan harus menunduk agar tidak saling bertatapan dengan sang raja.

"Ayah.." Kris menyapa sang raja sambil menunduk hormat. Mau tak mau aku juga melakukan hal yang sama seperti Kris.

"Aku pulang...

...bersama pengantinku"

Bisa kurasakan jika tangan besar Kris melingkupi salah satu tanganku. Ia menggenggam erat tanganku seolah takut aku pergi dari sisinya.

Aku membalas genggaman itu tak kalah erat. Untuk sesaat kita saling berpandangan, juga melemparkan senyum manis di bibir masing-masing sebelum Kris kembali menatap sang raja yang ada didepan sana. Aku juga melakukan hal yang sama, menatap sang raja dengan penuh arogansi yang terpancar. Membalas sorotan mata tajam yang ia berikan padaku dan Kris.

"Dia manusia"

"Kau yakin dengan pilihanmu ini?" raja bertanya dengan mata birunya -yang sangat mirip dengan milik Kris itu- yang menatap lekat pada Kris. Lalu ia mengalihkan pandangannya padaku setelah Kris menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Apa kau mencintai anakku ini?"

"Jika kau masih ragu sebaiknya hentikan. Iblis memang makhluk hina, tetapi kami tidak akan main-main jika itu sudah menyangkut dengan perasaan.."

"Prinsip kami hanya terikat dengan satu orang, jika kau tidak mampu bertahan pergilah—

—pergilah sebelum kau dan Kris saling terikat satu sama lain"

Do it, do it, do it, do it...

Karena,

'Aku tidak ingin sendiri lagi. Aku sudah lelah selalu ditinggalkan..'

Tuhan kumohon jangan mengutukku..

Jangan hilangkan aku..

Jangan tinggalkan aku..

Aku sudah memilih pilihan takdirku..

Aku ingin dia agar selalu menemani diriku..

Dia—

Kris...

—memang makhlukmu yang hina, tetapi dia menjadi salah satu makhluk ciptaanmu yang mencintai diriku apa adanya..

Aku,

merasakan cinta dari dirinya..

Juga..

Aku,

menginginkan dia menjadi milikku. Selamanya.

Sampai kita menjadi abu yang berterbangan..

"Kau siap?" aku menatap Kris yang terlihat tampan diantara remang-remang cahaya bulan purnama yang menyusup di jendela kamar. Kita saling duduk berhadapan dengan dua cawan kecil berada di tengah-tengah.

"Aku siap"

Kris mengarahkan tangannya yang kini sudah di penuhi darah yang mengalir. Menampung darahnya sendiri di salah satu cawan itu. Aku melakukan hal yang sama. Melukai telapak tanganku, membuat darah segar keluar disana. Aku membiarkan darahku mengalir hingga membuat cawan yang ada di tanganku terisi separuh.

Tiba-tiba Kris menarik tanganku yang terluka. Menjilatnya dengan pelan hingga luka yang tadinya menganga kembali menutup. Luka itu hilang tanpa bekas dan tak terlihat ada sebuah sayatan disana.

"Aku tidak ingin kau mati terlebih dahulu karena kehabisan darah.." ucapnya setelah selesai dengan kegitannya tadi. Ia tersenyum kecil sambil bibirnya mencium punggung tanganku berkali-kali.

"Aku tidak akan mati karena aku tau kau tidak akan membiarkannya"

"Kau benar, Angel"

Kris menukar cawan miliknya dengan milikku. Aku hanya bisa menatap bingung kepada Kris.

"Minumlah" suruh Kris. Tanpa banyak kata lagi aku mengambil cawan kecil yang berisi darah Kris. Meminumnya dengan sekali teguk. Kris juga melakukan hal yang sama, ia meminumnya darahku seolah itu adalah anggur mahal. Disesap sedikit, lalu di teguknya hingga tandas.

"Manis.." katanya sambil terkekeh kecil.

"Jadi kita sudah menikah?"

"Hmm maksudku–"

"Masih ada yang harus kita lakukan"

"Apa?" aku bertanya dengan penuh perasaan ingin tau.

"Melakukan hal yang sama seperti malam kemarin"

Kris dengan tiba-tiba membawaku kedalam gendongan bridal style-nya. Membating tubuhku di atas ranjang yang tersedia disini. Merangkak dan mengurung tubuhku di antara lengan kokohnya.

"Kris.."

"Kita harus melakukannya —

—second night, untuk membuat kita semakin terikat. Tidak hanya tubuh, tapi jiwa dan raga kita juga.."

Suatu hari cahaya menyentuhku

Dalam bisikan yang membangunkan diriku seperti ciuman

Aku dipenuhi dengan mimpi yang indah dengan lembut

Kamu tersenyum saat menungguku, yeah...

날 기다린 듯이 넌 미소 지었지 yeah

Brak..

Suara gebrakan pintu membuat aku dan Kris terlonjak dari mimpi-mimpi indah kami. Aku dengan raga yang baru setengah sadar menatap sang pelaku yang menggebrak pintu itu.

Aku bisa melihat dua pemuda tampan yang berdiri disana. Satu orang dengan kulit putih pucatnya berdiri dengan tangannya yang dimasukkan kedalam saku. Dan seseorang yang lain yang berkulit sedikit gelap itu berdiri sambil bersedekap dada.

Aku hanya bisa tertawa melihat ekspresi kesal yang mereka tampilkan.

Anak kembarku yang tidak terlihat ada kesamaan satu sama lain, Sehun dan Kai. Anakku bersama Kris.

"Dad, mom ini sudah siang.." Sehun mengucapkannya dengan nada malasnya. Ia bahkan sampai memutar matanya, terlihat jengah saat melihat tampilan Kris dan diriku yang terlihat berantakan.

Oh, son.. Kalian membangunkan kami dj waktu tidak tepat.

"Mom aku lapar.." kini giliran rengekan dari Kai yang terdengar di telingaku.

"Hei son, kau itu iblis tidak makan makanan manusia" Kris membalas ucapan Kai saat ia sudah mulai sadar dari kantuknya.

God, baru bangun saja suamiku sudah sangat terlihat tampan.

"Well dad kita sekarang ada di dunia manusia jadi kita harus bertingkah seperti manusia juga, benarkan Sehun?" tanya Kai kepada Sehun. Anakku Sehun, yang terlihat mirip dengan Kris ini hanya menganggukkarena kepalanya. Tanda mengiyakan pernyataan dari Kai.

"Baby, kalian keluar dulu mommy dan daddymu turun sebentar lagi" aku mengusir halus kedua anakku yang tampan ini. Hei, aku dan Kris harus berbenah dulu mengingat betapa berantakannya penampilan kami.

Sehun dan Kai, tanpa banyak protes mereka keluar dari kamarku dan Kris. Kai keluar terlebih dahulu lalu Sehun mengikutinya dari belakang.

"Daddy, mommy.." aku dan Kris mengalihkan pandangan kami ke arah Sehun yang berdiri di depan pintu.

"Aku dan Kai ingin adik perempuan.." ucapnya sebelum ia melangkah keluar dari kamar. Aku masih memproses ulang kata-kata yang diucap oleh Sehun.

"Well angel, anak kita sepertinya ingin adik" ujar Kris sambil memeluk pinggang telanjangku di balik selimut yang kami pakai.

Aku menatap horor kearah Kris,

"Apa maksudmu?"

"Mereka ingin adik. Kau tau bayi yang keluar dari perutmu"

"Kris.." aku malu sungguh sangat malu.

"Hey sayang..."

Suara Kris mengalun di dekat telingaku,

"Ayo kita buatkan adik untuk mereka. Seperti yang kau dan aku lakukan tadi malam.."

Tidak ada yang diam-diam

아무도 몰래

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Do it, do it, do it, do it, do it, do it

Berjalan sepanjang malam

밤새 걸어 봐

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Do it, do it, do it, do it, do it, do it

Masih dalam ingatanku

Suara indah dan mata milikmu terlihat seperti fajar

Ciuman kecil yang kulayangkan padamu

Aku ingin memulai perjalanan baru lagi.

Ikuti melodi yang merdu

멀리 선명히 들려오는 선율을 따라

Aku akan membawa keindahan kepadamu malam ini

Mencurahkan bintang yang dipenuhi bintang putih..

Kisah kita berakhir indah,

Happy ending...

Aku tidak menyangka perasaan abu-abu ini membuat kita saling mencinta.

Aku mencintaimu, pengantinku.

Aku mencintaimu...

Jangan pernah hilang, tetap menjadi milikku selamanya...

"Kau menyesal telah menjadi pengantinku?"

"Tidak.."

"Walaupun kau sudah menjadi makhluk yang sama seperti diriku ini?"

"Aku menyukainya—

—menjadi makhluk yang sama dengan orang yang aku cintai. Jika dengan ini aku tidak sendirian lagi, maka akan aku lakukan. Akan aku lakukan walaupun harus menjadi seorang iblis yang sama seperti dirimu.."

"Aku mencintaimu, Kris.."

"Aku jauh lebih mencintaimu, angel"

Jangan lupa, tentang cinta kita. Tentang perasaan kita juga tentang kenangan kita..

Walk on memories

.

.

.

.

.

.

.

It's like you're

Nailed into my heart

My world filled with you

This story, finally

15 feb 2019

22.00