.
.
.
Selangkah demi selangkah Hinata berjalan perlahan diantara bangunan kota yang terbakar dan hancur menjadi puing-puing. Api masih berkobar namun sama sekali tidak terdengar jeritan atau tangisan. Kota ini telah lama ditinggalkan oleh penduduknya.
"Yang Mulia Ratu." Sapa salah satu pengawalnya. "Disini tidak aman."
Hinata tetap berjalan maju. "Aku ingin menyaksikan kehancuran yang ditimbulkan klan Otsutsuki."
Kini Hinata bukan lagi seorang Puteri dari Konoha, ia adalah seorang Ratu di kerajaan Suna.
Sepuluh tahun yang lalu ia meninggalkan Konoha dan mengikuti Pangeran Gaara Sabaku ke Suna untuk menjadi istrinya. Sepuluh tahun yang lalu Konoha adalah kerajaan yang damai dan makmur, keramahan penduduknya dapat dijumpai di manapun. Sepuluh tahun yang lalu ibu kota kerajaan Konoha dipenuhi bangunan yang indah dan kokoh. Sepuluh tahun yang lalu istana Konoha berdiri dengan megah dan memamerkan keagungannya.
Kini semuanya hancur.
Bangunan kota kini hanya tersisa puing dan abu, ditelantarkan oleh para pemiliknya yang telah lama mengungsi. Istana Konoha hancur dan roboh, tak ada sedikitpun jejak kemegahan dan keagungannya dulu.
Sepuluh tahun yang lalu ia meninggalkan Konoha dengan hati yang mantap. Kepergiannya diiringi tatapan kagum dan kecemburuan dari seluruh anggota klan Hyuuga. Meski begitu tidak ada yang menangisi kepergiannya, tidak ada seorangpun yang mencintainya disini.
Diiringi rombongan dari Suna, ia pergi dan tidak menoleh lagi. Ratusan kilometer ia tempuh dalam perjalanannya. Untuk pertama kalinya ia dapat menyaksikan keindahan di luar tembok istana yang selama ini telah mengurungnya. Ia bisa melihat langit biru terbentang luas tanpa batas dan awan-awan yang bergerak bebas. Ia melewati berbagai kota, menyaksikan kehidupan para penduduknya. Ia melintasi sungai dan hutan, mengagumi keindahannya. Ia bisa menyentuh air sungai jernih yang mengalir lembut. Ia merasakan hembusan angin yang membelai rambutnya. Ia menyaksikan bagaimana pemandangan hutan yang hijau dan rindang perlahan berubah semakin tandus dan akhirnya ia menyaksikan hamparan padang pasir yang luas.
Ribuan orang penduduk Suna menyambutnya dengan hangat. Hinata tertegun, seumur hidupnya ia tidak pernah diterima. Untuk pertama kalinya ia merasa kehadirannya diharapkan.
Mulai saat itu ia adalah Hinata Sabaku, Suna adalah rumahnya.
Hinata tidak pernah berhenti bersyukur bisa bertemu dengan Gaara. Suaminya adalah berkah terindah di hidupnya. Gaara selalu memberikan apapun untuknya dengan tulus, terkadang Hinata merasa tidak layak menerima itu semua. Gaara mencintai Hinata dengan segenap jiwa raganya dan Hinata juga merasakan hal yang sama. Suaminya selalu berada di sisinya, mendampinginya dalam segala hal. Ketika ia dinobatkan sebagai Ratu, suaminya memberikan tatapan penuh cinta dan kebanggaan padanya.
Gaara adalah hidupnya.
Mereka dikaruniai sepasang putera kembar yang kini berusia sembilan tahun. Kedua puteranya itu adalah permata hatinya. Hinata dan Gaara mencurahkan semua cinta dan kasih sayang mereka kepada puteranya itu. Selain itu mereka juga mengajarkan banyak hal kepada sepasang pangeran kecil itu. Mereka menanamkan kebaikan dan kebijaksanaan dalam diri puteranya sejak kecil. Mereka mengajarkan makna dari seorang pemimpin, melindungi rakyatnya dan menegakkan keadilan.
Terkadang keluarga kecil itu duduk di halaman istana dan menikmati langit malam yang bertabur bintang. Hinata selalu menceritakan kisah dan hikayat tentang kehidupan manusia. Ia selalu menceritakan jika hati yang jahat, ketamakan, dan amarah adalah sumber dari kehancuran. Di bawah langit malam, keluarga kecil itu selalu bersenda gurau dan tertawa. Mungkin mereka tidak sempurna, tapi mereka saling mencintai.
Hinata terus berjalan.
Ketamakan telah menghancurkan Konoha.
Tiga tahun yang lalu klan Otsutsuki melakukan pemberontakan besar-besaran. Mereka menggulingkan Hiashi dan membantai semua anggota klan Hyuuga di Konoha, kecuali Shion. Mereka lalu mengangkat Kaguya sebagai ratu yang memimpin kerajaan Konoha.
Klan Otsutsuki menguasai semuanya.
Setiap protes dan perlawanan yang timbul langsung dimusnahkan tanpa ampun. Rakyat hanya mampu diam dan pasrah di bawah pemerintahan Ratu Kaguya yang keji.
Kaguya juga menjalin kerja sama dengan Kiri. Kedua kerajaan itu lalu melakukan penyerangan ke Uzushio dan memusnahkannya hingga tidak ada yang tersisa.
Pemerintahan Kaguya menjunjung tinggi ketakutan untuk mengontrol semua rakyatnya.
Hinata memang telah melepaskan statusnya sebagai Puteri Konoha, namun itu bukan berarti ia akan diam saja menyaksikan Konoha yang dipimpin oleh Kaguya yang dipenuhi kebusukan. Konoha adalah tanah kelahirannya, ia dan kedua puteranya mewarisi darah Hyuuga.
Suna lalu melawan.
Meski Konoha telah bekerja sama dengan Kiri, namun itu masih tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekuatan Suna. Terlebih lagi Konoha sudah sejak lama kehilangan separuh kekuatannya karena pemberontakan melawan Kaguya. Para pemberontak itu pergi mencari perlindungan ke Suna dan bergabung bersama pasukan Suna untuk merebut kembali Konoha dari kekuasaan klan Otsutsuki.
Aliansi Konoha dan Kiri pecah.
Kiri memilih mundur karena persekutuannya dengan Konoha dalam melawan Suna justru membuat kondisi internal negara Kiri lemah dan hal ini dimanfaatkan oleh Kumo untuk melakukan penyerangan. Kiri akhirnya menarik mundur semua pasukannya dan kini mereka beralih melawan Kumo di perbatasan untuk melindungi Kiri dari kehancuran.
Pasukan Suna dan pemberontak akhirnya berhasil menerobos hingga ibukota dan melawan sisa-sisa pasukan yang dimiliki Kaguya.
Pertempuran berjalan sengit.
Kota menjadi hancur.
Istana kini luluh lantak.
Pada akhirnya klan Otsutsuki kalah. Ketamakan mereka telah menghancurkan segalanya.
Api masih berkobar dan membakar semuanya menjadi abu. Membakar semua jejak-jejak ketamakan klan Otsutsuki. Membakar semua luka-luka dan penderitaan yang terjadi akibat kekejaman pemerintahan Kaguya. Dan ketika semua telah terbakar habis, era baru akan muncul.
Konoha akan terlahir kembali.
Di tengah terik matahari, sang Ratu berjalan ke alun-alun kota. Mata lavendernya melihat dari kejauhan kehancuran istana Konoha yang dulu menjadi sumber penderitaannya.
Ketika Hinata berjalan, semua orang tunduk dan memberi hormat padanya. Rambut panjangnya tergerai bebas. Ia hanya mengenakan biasa, sama sekali bukanlah pakaian yang dikenakan kaum bangsawan. Tidak ada satupun perhiasan yang melekat di tubuhnya. Meski begitu semua orang bisa merasakan kewibawaannya. Postur tubuhnya yang tegap dan anggun menunjukkan dengan jelas status yang dimilikinya. Seorang ratu yang baik tidak menuntut untuk dihormati, namun ratu yang baik mampu membuat siapapun yang melihatnya menaruh hormat padanya.
Langkah Hinata terhenti, suaminya berjalan menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau menunggu di tenda markas, itu adalah janjimu dulu ketika kau memutuskan untuk ikut ke Konoha." Kata Gaara sambil menyelipkan helaian rambut Hinata di belakang telinganya.
"Aku ingin menyaksikan eksekusi klan Otsutsuki di alun-alun kota."
Tanpa banyak berkata, Gaara menggandeng tangan Hinata dan kini mereka berdua berjalan menuju alun-alun kota.
Tak lama kemudian mereka berdua sampai. Sisa-sisa dari klan Otsutsuki yang masih hidup akan dieksekusi secara massal di hadapan seluruh orang. Semua orang kini berkumpul di alun-alun kota, ingin menyaksikan ajal dari orang-orang yang telah menguasai Konoha dengan kekejamannya.
Tepat di tengah alun-alun, 15 orang anggota klan Otsutsuki berlutut untuk menunggu eksekusi mereka. Diantara mereka tampak sosok Shion, Toneri, dan Kaguya. Shion menangis tersedu-sedu sedangkan Toneri dan Kaguya tetap terlihat tenang.
Hinata mengeratkan tangannya yang berada di gandengan Gaara dan membuat pria berambut merah itu menoleh ke arahnya.
"Apa kau merasa iba pada mereka?" Tanya Gaara.
"Jika aku menjawab tidak apakah kau akan membenciku?"
Gaara tersenyum. "Kau adalah Hinata. Aku tidak akan bisa membencimu."
Kemudian sang eksekutor tiba sambil membawa pedang yang berkilat-kilat tajam. Semua orang bersorak. Ada yang mengeluarkan umpatan dan hinaan, ada yang tertawa, ada yang tersenyum sinis, dan ada pula yang mencibir. Yang jelas tidak satupun dari mereka yang terlihat bersedih. Mereka semua telah menanti ini. Mereka semua telah menantikan akhir dari klan Otsutsuki.
Sang eksekutor mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap melaksanakan tugasnya.
"Jangan melihat." Bisik Gaara di tengah-tengah suara keramaian yang semakin menjadi-jadi.
Hinata menutup matanya. Ia memang ingin melihat akhir dari klan Otsutsuki, namun itu bukan berarti ia ingin menyaksikan kepala mereka yang jatuh terpenggal.
Meskipun Hinata menutup matanya, ia bisa mendengar dengan jelas suara kepala terpenggal yang jatuh.
Bluk!
Satu. Hinata menghitung dalam hati.
Kini suara keramaian orang-orang mulai berkurang.
Bluk!
Dua.
Hinata dapat mendengar suara tangisan Shion yang semakin menjadi-jadi.
Bluk!
Tiga.
Suara tangisan Shion berhenti seketika. Hinata sedikit gemetar, membayangkan tubuh Shion yang ambruk tanpa kepala.
Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan.
Hinata masih menghitung dalam hati.
Sembilan. Sepuluh. Sebelas. Dua belas. Tiga belas.
"Kini saatnya Toneri Otsutsuki yang dieksekusi." Bisik Gaara.
Hinata membuka matanya. Toneri tidak terlihat ketakutan sedikitpun. Pria itu tidak menangis atau memohon, ia terlihat tenang menghadapi ajalnya beberapa detik lagi. Hinata menggeretakkan giginya, bahkan ketika maut sudah di depan matanya Toneri sama sekali tidak terlihat menyesal. Kini pria itu tersenyum mencemooh pada setiap orang yang ingin menyaksikan kehancurannya.
"Mengapa kau justru tersenyum!" Teriak salah satu pengunjung alun-alun.
"Ya!"
"Tidakkah kau merasa bersalah!"
"Hati para Otsutsuki memang busuk!"
Suara teriakan kemarahan kini semakin menggema. Toneri justru tertawa terbahak-bahak mendengar itu semua.
"Bunuh saja dia!"
"Dia pantas mati!"
Sang eksekutor kini bersiap memenggal kepala Toneri. Dengan secepat kilat Gaara menutup mata Hinata dengan telapak tangannya, tidak ingin membuat istrinya menyaksikan pemandangan berdarah-darah itu.
Bluk!
Empat belas.
Gaara menurunkan tangannya. Hinata memalingkan wajahnya dari tubuh Toneri yang terjatuh dan bersimbah darah.
Langit berubah mendung. Angin berhembus dan membuat aroma darah segar yang mengalir tercium jelas.
Kini perhatian semua orang tertuju pada anggota Klan Otsutsuki terakhir, si mantan ratu Kaguya.
"Aku tidak menyesal dengan semua yang telah kulakukan!" Teriak Kaguya dengan lantang.
Semua orang berteriak marah. Kini mereka melemparkan batu dan apapun juga di tangan mereka ke arah Kaguya.
"Kau membunuh keluargaku!" Teriak salah satu pengunjung.
"Matilah kau!"
"Penggal! Penggal!"
"Aku menyesal telah menghormatimu dulu!"
"Dasar wanita berhati busuk!"
Hinata kembali menutup matanya. Ia teringat pada sosok ibunya yang penuh kelembutan dan kesabaran.
Klan Otsutsuki dulu telah membuat hidup ibunya menderita, bahkan mereka juga membunuh ibunya dengan keji. Dan kini keadilan telah datang…
Teriakan semua orang kini terhenti.
Bluk!
Lima belas.
Otsutsuki sudah tidak ada lagi di muka bumi.
"Ayo pergi." Bisik Gaara sambil menggandeng tangan Hinata untuk menjauh dari alun-alun yang dipenuhi darah.
"Semua sudah berakhir." Kata Hinata.
"Ya."
"Selanjutnya apa?"
"Mereka menginginkan salah satu putera kita menjadi pemimpin Konoha."
"Mereka baru sembilan tahun."
Gaara tertawa. "Yah, mungkin beberapa tahun lagi. Atau kau yang mengambil alih kepemimpinan Konoha sampai saat itu tiba."
Hinata mematung. "Tidak." Jawabnya dengan serius.
"Mengapa?"
"Aku tidak berbakat menjadi pemimpin."
Gaara tampak berpikir serius. "Mungkin hal ini masih perlu dibicarakan lagi dengan yang lainnya."
Hinata menyetujui itu.
Kini gerimis mulai turun. Hinata mendongakkan wajahnya, membiarkan rintik hujan membasuh wajahnya.
"Kau tidak ingin berteduh?" Tanya Gaara yang masih berada di sisinya.
"Sebentar lagi. Aku masih ingin menikmati hujan."
Rintik hujan turun membasahi bumi, memadamkan kobaran api.
Membasuh semuanya.
Memurnikan semuanya.
Memberikan kehidupan baru.
Memberikan harapan baru.
.
.
The end.
Please review.
Saya memang sengaja tidak memberi nama untuk si kembar, bingung mencari nama yang tepat.
Maaf jika ini terlalu dark, saya telah berusaha menceritakan tentang kekejaman eksekusi seminim mungkin.
