Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated :T
Pair :Sasuhina
"Sebaiknya akan lebih baik jika kuceritakan kepada mereka semua jika yang salah di sini adalah aku, bukan Sasuke-san" dengan memantapakan pemikiranya Hinata melangkahkan kakinya untuk keluar kamar.
"Iya aku harus melakukanya untuk kebikan semuanya" dengan cepat Hinata membuka pintu kamarnya.
《 PLAN 》
"Mikoto-baasan!" Terkejut Hinata ketika membuka pintu kamarnya hal pertama yang dilihatnya adalah seorang wanita paru baya yang kini berada di depan pintunya.
"Jangan memanggilku seperti itu Hinata-chan, sekarang kau menantuku dan sudah seperti putriku sendiri jadi panggil saja aku Kaasan" sambung Mikoto dengan menarik pergelangan tangan Hinata lembut untuk membawa Hinata kembali ke kamar Sasuke.
"Go-gomen Ka-Kaasan" dengan sedikit kecanggungan Hinata menuruti permintaan Mikoto.
"Terdengar lebih baik" sambung Mikoto dengan tersenyum lembut yang ditunjukan pada Hinata ketika sudah didalam kamar.
"Kaa-san!, apa Kaa-san kesini ka-karena ingin tahu kenapa aku malah menikah dengan Sasuke-san bukan Itachi-nii. Se-sebenarnya-"
"Shuuut!" Mikoto dengan segera memutus perkataan Hinata.
"Kaasan sudah tau semuanya, sebenarnya sebelum Kaasan datang kesini Kaasan sempat mendengar Sasuke mengakui kesalahannya. Gomen ne Hinata-chan, sebagai seorang ibu, Kaasan telah gaga-!"
"Apa yang Kaasan lakukan?" Terkejut Hinata dengan spontan menghentikan Mikoto yang hampir membungkuk padanya.
"Kaasan ingin meminta maaf untuk kesalahan yang Sasuke-kun perbuat padamu Hinata-chan." Ungkap Mikoto dengan langsung memeluk Hinata yang memang sudah didepanya.
Perkataan Mikoto sukses membuat Hinata terdiam dipelukan Mikoto. Dan hal itu dikarenakan Hinata tengah merasa terkejut sekligus binggung, pasalnya Mikoto baru mengatakan sudah mengetahui semunya dari Sasuke, tapi kenapa Sasuke yang disalahakan dengan Mikoto yang meminta maaf padanya saat ini, sementara kejadian tersebut Hinata merasa jika dirinya lah yang bersalah untuk semua kejadian yang menimpanya dan Sasuke saat ini.
"Mungkinkah Mikoto Kaasan sedang salah pahan dan malah menyalahkan Sasuke-san" pikir Hinata dengan kebingungannya
"Ti-tidak Kaasan! A-aku lah yang bersalah! Ma-malam itu ak-"
Perkataan Hinata seketika terputus disaat Mikoto dengan tiba-tiba membelai rambut Hinata lembut.
"Tolong Hibur Sasuke malam ini Hinata-chan dan jika memungkinkan obatilah luka di wajahnya" sambung Mikoto dan menghentikan belainnya.
"A-apa maksud Kaasan?" Heran Hinata dengan memandang Mikoto yang sedang berjalan menuju kearah pintu keluar.
"Jika kau butuh sesuatu kau tau dimana Kaasan berada kan" tidak memperdulikan pertanyaan Hinata, Mikoto melemparkan senyumannya dan menutup pintu kamar Sasuke setelah kepargiannya.
"Ternyata Mikoto Kaasan sangat peduli pada Sasuke-san, sampai-sampai Mikoto Kaasan menyuruhku mengobati luka Sasuke-san yang dia dapat sebelum upacara pernikahan tadi" batin Hinata dengan tersenyum dan kemudian dengan perlahan Hinata mengambil kotak obat yang ada di kamar Sasuke
Ceklek!
"Kaasan!-" perkataan Hinata seketika terhenti disaat melihat pintu kamarnya yang kembali terbuka tapi bukan Mikoto yang membukanya, melainkan Uciha Sasuke yang membukaya tidak lama setelah kepergian Mikoto.
Dan melihat kedatangan Sasuke seketika Hinata membulatkan matanya saat melihat wajah Sasuke kini dipenuhi luka lebam yang lebih parah dari pada saat di upacara pernikahan mereka.
"Ka-Kau baik-baik saja Sasuke-san?" Terkejut sekaligus khawatir Hinata dengan sedikit berlari untuk mendekat kearah Sasuke.
"Jangan mendekatiku" melewati Hinata begitu saja, Sasuke langsung melangkah kekamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari bekas darah yang menempel.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa luka diwajah Sasuke-san semakin parah" batin Hinata saat melihat punggung Sasuke sudah menghilang dipintu kamar mandi.
"Apa luka itu yang di maksud Kaasan agar aku mengobati Sasuke-san?.
Apa mungkin semua luka yang Sasuke-san dapat karena 'pengakuan' yang dikatakan Kaasan tadi?.
Sebenarnya apa yang sudah Sasuke-san katakan? Sehingga mendapat luka seperti itu!" Khawatir Hinata dengan terus menatap kearah kamar mandi.
Beberepa saat kemudiam
"A-apa terjadi sesuatu Sa--Sasuke-san?" Hinata membuka suara ketika Sasuke baru keluar dari kamar mandi.
Di abaikan Sasuke membuat Hinata kembali berbicara untuk mengeluarkan isi pikiranya.
"Se-sebenarnya apa yang telah terjadi Sasuke-san?, Ke-kenapa tadi Kaasan meminta maaf padaku?, Bukankah kau tau jika semua ini salahku?" Lanjut Hinata dengan menatap Sasuke memunggunginya yang masih setia akan kebungkamannya.
Pertanyaan Hinata sukses membuat Sasuke sejenak memejamkan matanya dan seketika mengalihkan pandangannya kearah Hinata tanpa menjawab satupun pertanyaan dari Hinata barusan.
"Jangan ikut campur urusanku" ketus Sasuke dengan menatap kearah Hinata.
"Baiklah jika Sasuke-san tidak ingin mengatakanya padaku, a-aku akan keluar dan mengatakan semua kebenarannya agar tidak ada lagi kesalahpahaman di rumah ini" tanpa menunggu jawaban Sasuke, Hinata lengsung melangkah dan meninggalkan Sasuke.
"Jangan katakan apapun, jika kau ingin hubungan Itachi dan Konan tetap bertahan" tahan Sasuke dengan menahan Hinata dengan menggenggam pergelangan tangan Hinata yang sudah hampir membuka pintu.
"Ta-tapi Sasuke-san?"
"Cih! bisakah kau tidak membuat kepalaku sakit dengan memanggil namaku seperti itu" dengan gerakan cepat Sasuke mengurung Hinata diantara pintu dan dirinya.
"Apa Sasuke-san marah karena aku memanggil nama depannya, sepertinya aku sudah lancang memanggilnya seperti itu" batin Hinata yang terkejut akan tindakan tiba-tiba Sasuke barusan.
"Go-Gomen Uciha-san a-aku sudah lanca-!" perkataan Hinata seketika terhenti saat melihat Sasuke menatapnya dengan tajam.
"Kau berniat memanggil semua orang di sini dengan sebutan Uciha? Bukankah sekarang kau juga seorang Uciha! Jadi hentikan suffix -san mu dariku" sambung Sasuke dengan memandang wajah Hinata yang tengah menunduk.
"Apa mauksud Sasuke-san? apa dia menyuruhku untuk memanggilnya Sasuke-kun" pikir Hinata dengan kebingungan.
"Kau mendengarku?" Selidik Sasuke, karena Hinata terus diam.
"Ha'i Sasuke-" perkataan Hinata kembali terhenti ketika Hinata merasakan pintu yang dia sandari sekarang sedikir bergetar.
Tok tok tok.
"Hinata-chan! Waktunya makan malam, turunlah kebawah dan kau Sasuke ikutlah turun kebawah" dengan sedikit berteriak Mikoto memanggil Sasuke dan Hinata dari balik pintu yang masih tertutup.
"Ha'i Kaasan!" Sambung Hinata dari dalam dengan menatap Sasuke sekan- akan meminta Sasuke untuk melepaskan kurungannya.
"Kau tidak ikut makan malam Sa-su-ke--ku-kun" Hinata memberanikan diri menayai Sasuke dengan kemudiam memejamkan matanya disaat merasa Mokoto sudah pergi.
"Apa sekarang Sasuke-san akan marah lagi ketika aku memanggilnya dengan Sasuke-kun" batin khawatir Hinata dengan masih memejamkan matanya.
merasa tidak adanya tanda-tanda protes dari Sasuke akan penggilannya membuat Hinata dengan perlahan membuka kedua matanya, dan sekarang yang di dapati Hinata adalah Sasuke yang sedang merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Sepertinya Sasuke-san tidak mau ikut makan malam" sekilas menatap Sasuke yang sedang memejamkan matanya dengan perlahan Hinata membuka pintu kamarnya untuk keluar.
Plan
Dimeja makan keluarga Uchiha, sama seperti biasa hening tanpa adanya obrolan ringan, yang terdengar sekarang hanyalah gesekan pisau makan dan beberapa bunyi sumpit.
"Hinata! Bisa kita bicara" suara barinton Fugaku memecahkan keheningan di ruang makan tersebut, perlahan Fugaku berdiri dengan memberi kode pada Hinata agar mengikutinya dan meninggalkan meja makan.
"Mengenai Sasuke, tolang maafkan dia" Fugaku membuka suara ketika sudah berada dalam ruangan bersama Hinata.
"Ano se-sebenarnya aku-" Hinata seketika menghentikan bicaranya saat teringat dengan apa yang Sasuke katakan beberapa menit lalu.
"Sasuke-san menyuruhku untuk tidak mengatakan kebenaran dimana Sasuke-san lah yang sudah dijebak disini, itu artinya jika aku mengatakan semuanya mingkin saja Fugaku-jisan akan marah padaku, meyuruhku pergi dari rumah ini dan kemudian Itachi-nii pasti akan berpisah dengan Konan-nee demi menjadi ayah dari anakku." Batin Hinata yang terlihat resah setelah memeikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Ternyata Sasuke-san sudah berpikir sejauh ini" lanjut Hinata yang masih sibuk dengan memikirannya.
"Hinata!" Panggilan Fugaku memecahkan semua pemikiran diotak Hinata.
"A-aku su-sudah memaafkan Sasuke-san, ma-maksuku Sasuke-kun" tersenyum canggung Hinata mulai mengalihkan pandangannya, mengurangi kegugupnya.
"Apa kau ingin tidur di kamar yang berbeda dari Sasuke?" Lanjut Fugaku memastikan Hinata memang sudah menerima Sasuke.
"Ti-tidak! Maksudku Tidak masalah jika aku harus berbagi kamar dengan Sasuke-kun, lagi pula sekarang a-aku sudah menjadi istri Sasuke-kun" dengan sedikit mengembangkan senyumannya, Hinata mulai berani menatap wajah pria yang sudah menjadi mertuanya.
"Kau benar!" Sedikit tersenyun Fugaku menepuk pundak Hinata.
"Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa langsung menemui Tousan" lanjut Fugaku dan meninggalkan Hinata sendirian
SASUHINA
Srekkkk
Membuka pintu kamarnya dengan perlahan, Hinata memasukkan tubuhnya tanpa mengeluarka bunyi sedikitpun.
"Ternyata memang sudah tidur" batin Hinata saat melihat Sasuke sudah tertidur dikasur, lama menatap Sasuke sekarang perhatian Hinata tertuju pada wajah Sasuke yang terluka.
"Kupikir aku salah menilaimu Sasuke-kun, aku selalu berpikir untuk tidak berurusan denganmu terutama setelah melihat sikapmu terhadap Sakura-chan, tapi sekarang, aku malah melihat kau yang rela melakukan semua ini demi menjaga hubungan Itachi-nii dengan Konan-nee" kagum Hinata dengan masih memperhatikan Sasuke.
Tanpa mengatakan apapun Hinata langsung mengambil Kotak obat diatas meja dan mulai mendekati Sasuke.
Perlahan tapi pasti Hinata mulai membersikan luka diwajah Sasuke dengan sangat lembut.
"Apa yang kau lakukan?" Refleks Sasuke yang merasakan dingin disudut bibirnta dan menangkap tangan Hinata menghentika aktivitas yang di lakukan Hinata.
"Lu-luka mu harus segera di obati Sasuke-kun" jelas Hinata dengan menatap tangannya yang di pegang Sasuke.
"Tidak perlu! nanti juga sembuh sendiri" melepaskan pegangannya dari Hinata, Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ta-pi jika tidak diobati, mungkin lukanya akan infeksi" Hinata menatap Sasuke dengan Khawatir. "A-aku akan mengobatinya dengan pelan, jadi tidak kau tidak akan merasa sakit" lanjut Hinata meyakinkan.
"Kau pikir aku menolak karena takut sakit" sambung Sasuke yang tidak terima akan ucapan Hinata.
"Go-gomen Sasuke-kun a-aku tidak bermaksud" menundukan kepalanya Hinata mulai merapikan kembali kotak obat yang dia pakai.
"Aku bahkan tidak bisa membalas kebaikkan Sasuke-kun dengan mengobati lukanya" batin Hinata yang merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
"Cih! Lakukan dengan cepat, sebelum aku berubah pikiran"
perkataan Sasuke sukses mendapat respon terkejut serta tatapan yang berbinar dari wajah Hinata dengan cepat Hinata kembali membuka Kotak obat yang dia pegang
"Kenapa aku selalu tidak berdaya saat melihat wajahnya mulai sedih" pikir Sasuke di saat Hinata sudah mulai mengobati lukanya kembali.
Skip time
"Sudah selesai!" Seyuman mengembang di wajah Hinata ketika sudah berhasil menempelkan plester terakhir di hidung Sasuke.
Setelah meletakkan kotak obat yang tadi dia gunakan keatas meja, dengan perlahan Hinata mengambil satu bantal di tempat tidur Sasuke dan meletakkannya ke atas sofa.
"Apa yang kau lakukan?" Heran Sasuke yang melihat perbuatan Hinata.
"Ano a-aku akan tidur di sofa saja"
"Apa kau berniat membuatku terlihat jahat dirumah ini dengan membiarkan seorang wanita hamil tidur disofa!"
Perkataan Sasuke seketika membuat Hinata terdiam dari aktivitasnya.
"Tidurlah disamping ku, bukankah sekarang kau adalah striku"
Mendengar Sasuke mengatakan kata istriku padanya, membuat Hinata kembali sibuk dengan pemikirannya.
"Ku pikir Sasuke-kun tidak menganggap pernikahan ini ada, tapi tadi dia mengatakan aku istrinya. iya Sasuke-kun memang benar sekarang aku istrinya jadi sudah seharunya aku tidur disampingnya" mengambil kembali bantal yang dia letakkan, dan dengan perlahan Hinata merebahkan tubuhnya di ranjang Sasuke.
Hening! Itulah yang terjadi dikamar di kamar itu. Dimana Hinata tengah sibuk dengan pemikirannya, sementara Sasuke setia dalam kebungkamannya.
"Apa kau pernah berniat menggugurkan anak di kandunganmu?" Sasuke membuka suara menecahkan suasan dan sukses mendapat tatapan terkejut yang ditunjukan dari Hinata.
"Baka! apa yang sudah kau katakan Sasuke" maki Sasuke yang merutukin kebodohan yang baru saja dia lakukan.
"Ti-tidak! Tentu saja tidak, walau bagai manapun juga dia tetaplah anakku" mengelus perutnya sejenak, dengan menatap Sasuke yang ada di sampingnya.
"Apa kau membenciku? Karena telah melakukan semua ini padamu" selidik Sasuke dengan nada serius.
"Tidak! Seharusnya Sasuke-kun lah yang membenciku, karena kesalahanku Sasuke-kun jadi telibat dalam pernikahan ini" jujur Hinata dengan segera mengalihkan pandangannya dari Sasuke.
"Cih! Ternyata dia masih belum tau yang sebenarnya terjadi, apa belum ada yang memberitahunya?" gumam Sasuke dengan menyeringai.
"Kau mengatakan sesuatu Sasuke-kun" kata Hinata yang merasa seperti mendengar sesuatu.
"Boleh aku menyentuhnya? Walau bagai manapun dia tetap anakku" menatap wajah Hinata yang ada disampingnya, Sasuke menunggu jawaban yang akan diberikan Hinata.
"Ano u-usianya masih satu bulan, ja-jadi kemungkinan kau belum bisa merasakanya" gugup Hinata yang masih terkejut dengan pernyataan Sasuke.
"Tidak masalah, aku akan mencoba merasakannya" dengan menyeringai Sasuke menatap Hinata yang ada di sampingnya.
"Be-berikan tangan mu Sasuke-kun" pinta Hinata dengan mendekatkan dirinya pada Sasuke agar Sasuke bisa menyentuh perutnya.
"Di-sini, di-a ada disini Sasuke-kun" lanjut Hinata ketika tangan Sasuke sudah sukses mendarat diperut ratanya.
Merasakan tangan Sasuke tengah mengelus perutnya, membuat wajah Hinata memanas dan bisa di pastika sekarang wajah Hinata sudah semerah tomat, Dan ketika menyadari ketika Sasuke sedang fokus mengelus perutnya membut Hinata sedikit merasa senang
"Aku ingin memeluknya!" Dengan gerakan cepat Sasuke langsung menenggelamkan Hinata kedalam pelukkannya, menutup matanya merasakan kenyamanan yang baru saja dia dapatkan.
"Apa Sasuke-kun tengah memelukku atau atau Sasuke-kun hanya ingin memeluk anakku, tapi kenapa aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku, semoga saja Sasuke-kun tidak merasakan detak jantungku saat ini?" Batin Hinata dengan menyentuh dadanya yang sekarang sedang berdetak tidak karuan.
Pagi di Konoha
Eeemmm!
Suara erangan pelan Hinata yang sekarang sedang berusaha keras membuka matanya yang terasa berat, dan dengan pelahan akhirnya Hinata berhasil membuka matanya, tapi hal pertama yang baru saja dia lihat seketika membuat Hinata mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang sekarang dia lihat.
"Sa--sasuke-kun?, Ternyata semalam bukanlah mimpi, aku memang benar- benar sudah menikah dengan Sasuke-kun.
Tunggu dulu ada apa dengan posisi ini?Ke-kenapa aku bisa tidur dengan berbagi bantal dengannya" pikir heran Hinata dengan melihat wajahnya hanya berjarak lima senti dari wajah Sasuke yang tertidur pulas.
Dengan perlahan Hinata mengangkat kepalanya mencoba memperlebar jarang antara dirinya dan Sasuke, tapi usahanya gagal karena rambutnya sudah tidak bisa ditarik lagi akibat ditindis kepala Sasuke.
"Apa yang harus kulakukan" gumam Hinata yang sekarang malah menatap wajah Sasuke yang ada di bawahnya.
"Menikmati pemandangan nona Uciha" perlahan membuka matanya, Sasuke balas menatap wajah Hinata yang berjarak beberapa senti diatasnya.
"Ka-kau menindis rambatku Sa-Sasuke-kun, bi-bisa kau angkat kepalamu?" Gugup Hinata yang ketahuan memandangi wajah Sasuke.
Sekilas menyeringai Sasuke seketika mengangkat kepalanya tanpa suara dan tidak disangka-sangka Sasuke malah menempelkan bibirnya tepat pada bibir ramun Hinata.
"Kau ingin aku mengangkat kepalaku seberapa tinggil lagi" ucap Sasuke ketika sudah melepaskan ciuman pada Hinata yang sudah terdiam bak patung di atasnya.
Ucapan Sasuke seketikan membuat Hinata kembali bisa berpikir normal dan dengan gerakkan cepat Hinata bangkit dari tidurnya dengan langsung menuju arah kamar mandi.
"Selalu menyenangkan melihat wajah manismu Hime" dengan sedikit tersenyum melihat Hinata sudah sepenuhnya masuk dalam kamar mandi, Sasuke segera kembali merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
"A-apa yang baru saja Sasuke-kun lakukan! ia sudah mengambil ciuman pertamaku, tunggu! Apakah ini memang ciuman pertamaku? Apa mungkin malam itu kami juga sudah melakannya" membayankan semua pemikiran di kepalanya seketika membuat wajah Hinata tiba-tiba memerah.
"Apa yang sudah kau pikirkan Hinata" Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kembali memandang dirinya yang terpantul di cermin kamar mandi.
"Sebaiknya aku segera mandi" lanjut Hinata dengan menyalakan shower.
PLAN
"Apa kau lelah Hinata-chan?" Mikota membuka suara karena sedari tadi menemani Hinata berkeliling di sekitar Mansion Uchiha.
"Tidak juga Kaasan" senyum lembut Hinata.
"Tiga bulan lagi hari kelulusanmu, apa kau serius ingin berhenti sekolah Hinata-chan?" Selidik Mikoto memastikan dan langsung mendapat anggukan kepala dari Hinata.
"Tapi jika kau masih ingin sekolah, Kaasan akan pastikan tidak akan ada yang tahu tentang kehamilanmu Hinata, lagi pula Konan mengatakan jika kehamilanmu masih dirahasiakan" lanjut Mikoto dengan menatap Hinata serius.
"Ini sudah sore Kaasan, sebentar lagi Sasuke-kun pasti akan pulang" menatap Mikoto yang ada di sampingnya Hinata kembali tersenyum lembut.
"Gomenne Kaasan! Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku tidak bisa jika harus bertemu dengan Ino dan Sakura-chan" batin yang menatap Mikoto dengan senyumannya.
"Kaasan! Hinata-chan kalian dari mana?" Selidik Itachi ketika bertemu Mikoto dan Hinata di ruang tamu.
"Kaasan sedang menujukan seluk beluk kediaman kita pada Hinata-chan. Tapi! Kapan kau pulang Itachi-kun? Bukankah biasanya kau pulang sebelum jam makan malam" heran Mikoto yang sedikit terkejut melihat Itachi sudah berada di rumah
"Sudah tidak ada pekerjaan di kantor Kaasan, lagipula bukankah tadi pagi Kaasan mengatakan jika Hinata ingin makan takoyaki, jadi kuputuskan untuk pulang dan memberikan ini pada Hinata" mengangkat pelastik yang berisi takoyaki, Itachi menatap wajah Hinata yang sudah terlihat sangat senang.
"I--Itachi-nii! Sebenarnya semalam apa yang Sasuke-kun katakan, sehingga luka di wajahnya bertambah?" Tanya Hinata ketika sudah di kamarnya ditemani Itachi yang membawakan takoyakinya.
"Dia pantas mendapatkannya, jadi jangan khawatir" sambung Itachi dengan memberikan takoyakinya pada Hinata.
"Itachi-nii tidak tau kebenarannya, sebenarnya Sasuke-kun tidak pantas mendapatkan perakuan it-"
"Kau lah yang tidak tau kebenarannya Hinata, bahkan sudah sangat jelas jika Sasuke yang merencanakan semua ini" sambung Itachi yang menatap heran kearah Hinata.
"Maksud Itachi-nii?, apa yang Sasuke-kun rencanakan? aku tidak mengerti!" Heran Hinata.
"Sebenarnya-"
BRAKK!
TBC
Mohon maaf jika ada ketidak sengajaan typo bertebaran
Vote dan komentar kalian semangat menulisku
Arigatou yang sudah nyempatin membaca
1-10-2018
See You Next Chapter
