Kebenaran yang sesungguhnya

Disclamber : Masashi Kishimoto

Genre : Romanatis

Pair : Sasuhina

Semua di Chapter ini berisi flasback sebelum insiden Sasuhina di bar satu bulan yang lalu.

Selamat membaca

《 PLAN 》

"Ada apa?" Tanya Sasuke ketika mengangkat telponnya.

"Sasuke! Sebenarnya ketika aku mengikuti gadis yang kau perintahkah, aku tidak sengaja melihat temannya yang berambut pirang memberikan sejenis obat padanya." Beritahu seorang pria disebrang telpon dengan nada serius.

"Obat apa yang kau maksud?" Selidik Sasuke.

"Sepertinya itu obat perangsang" jawab Zetsu yang sekarang sedang bersembunyi di belakang pohon menatap Ino dan Hinata tengah berbicara.

"APA!" Terkejut Sasuke dengan menghembuskan nafasnya kasar.

"Suruh Hidan menggantikanmu menjaga Hinata, dan Kau! Awasih wanita yang memberikan obat itu, jika ada sesuatu yang mencurigakan beritahu aku." Setelah menyelesaikan kalimatnya Sasuke langsung menutup telponnya.

"Gadis berambut pirang? Ck Yamanaka Ino. Tapi kenapa dia memberikan obat perangsang pada Hinata" Pikir Sasuke dengan mengetuk mejanya dengan telunjuk.

Akatsuki Club

"Ini kah tempat yang sering Sasuke-kun kunjungi ketika kesal" pikir Ino ketika melihat club di depannya baru saja di buka.

"Sepertinya Sasuke-kun akan datang hari ini, lagi pula tadi dia terlihat sangat kesal ketika satu kelompok denganku." Yakin Ino yang kemudian berjalan kearah meja di bar itu

"Ahhh! Tapi Hinata beruntung sekali karena satu kelompok dengan Sai-kun." Memikirkan tentang Shimura Sai membuat wajah Ino tiba-tiba bersemu.

"Ada yang bisa saya bantu nona?" Ujar Zetsu yang dari tadi mengikuti Ino, kini sudah berpura-pura menjadi pelan Bar.

"A-Ano se-sebernya-!" Perkataan Ino tergantung ketika Ino menatap tajam kearah pria yang baru ditemuinya.

"Jika aku tidak salah liat, sepertinya dia pria yang pernah mengikuti Hinata waktu itu?" Pikir Ino yang mulai mengingat-ingat akan wajah Zetsu.

"Aku Bartender disini nona, tapi aku belum sempat mengganti pakainku." lanjut Zetsu ketika melihat tatapan curiga Ino.

"Aku ingin memesan 1 kamar untuk malam ini." tidak lagi mengingat pikirannya yang tadi, sekarang Ino menatap Zetsu yang ada di depannya

"Ingin menghabiskan malam bersama kekasih mu Nona" sedikit terseyum Zetsu membalas tatapan Ino

"Tidak" jawab Ino singkat

"Benarkah tapi tadi saya tidak sengaja melihat wajah nona yang bersemu" tanya Zetsu agar bisa mengetahui tujun Ino datang kesini.

"Ka-kamar itu untuk temanku" sambung Ino dengan cepat, tidak terima dengan perkataan Zetsu.

"Gadis yang polos, dia sama sekali tidak berbohong" pikir Zetsu ketika melihat wajah tidak terima dari Ino

"Baiklah kalau begitu, jadi kamarnya atas nama siapa?" Lanjut Zetsu memastikan.

"Sakura- ,maksudku..." menggantungkan kalimatnya Ino menganalisis semua kemungkinan yang akan terjadi.

"Jika Sasuke-kun mengetahui kamar itu dipesan atas nama Sakura pasti Sasuke-kun tidak mau bertanggung jawab, karena Sasuke-kun akan mengira jika semua kejadian itu sudah di direncanakan Sakura-chan. Tapi Jika kamar itu atas namaku Sasuke-kun pasti juga curiga.

Hinata! Ya Hinata. Sasuke-kun pasti tidak akan curiga, lagi pula Hinata juga akan datang kesini jadi wajar jika dia memesan kamar. Pikir Ino dengan seringaiannya

"Nona?" Panggil Zetsu yang ketika Ino masih belum melanjutkan kalimatnya

"Hinata, Hyuga Hinata" sambung Ino dengan yakin

"Gomen Hinata-chan namamu harus tertulis di tempat yang tidak baik seperti ini" batin Ino yang sedikit merasa bersalah.

"Baikalah kamar no 9" kata Zetsu dengan memberikan kunci ke tangan Ino

Mengambil kunci yang diberikan Zetsu, Ino segera pergi ke kamar tersebut dengan memandangi kamera yang dari tadi dia bawa

"Akan kupastikan Sasuke-kun bertanggung jawab atas keadaanmu nanti Sakura-chan" gumam Ino yang terdengar Zatsu

"Ikutin gadis itu!" printah Zetsu pada seorang playan di bar Itu dan kemudian mengambil ponsel yang ada di sakunya

"Hn" jawab Sasuke ketika Zetsu kembali menelponnya.

"Wanita itu memesan kamar di club ku malam ini, dan dia sudah menyiapkan kamera di kamar no 9 untuk temannya. kamar itu di pesan atas nama Hyuga Hinata" Ucap Zetsu ketika telponnya sudah diangkat

"Tapi tadi aku sempat mendengar. Dia mengatakan jika dia akan memastikan pertanggung jawabanmu merhadap keadaan Sakura" lanjut Zetsu dengan menunggu respon Sasuke.

"Keraja bagus" sambung Sasuke dengan nada dinginnya.

"Sepertinya wanita itu merencanakan sesuatu untukmu, apa hari ini kau akan datang kesini" Ujar Zetsu memastika.

"Tentu!" Jawab Sasuke dengan menyeringai dan menutup telpon Zetsu detik itu juga.

"Obat perangsang dari Hinata? Pertanggung jawaban untuk Sakura? Kau tidak cukup pintar untuk menjebakku Yamanaka" sekilas menyeringai Sasuke kembali melanjutkan kalimatnya

"Kita akan buat permainan mu ini semakin menarik" Dengan mengambil ponsel di mejanya Sasuke kembali menelpon seseorang.

"Daidara-"

Akatsuki Club

"Jangan datang" gumam Sasuke dengan terus menenggak minumannya.

"Kau tidak akan tau apa yang bisa terjadi malam ini Hinata jika kau benar benar datang." pikir Sasuke dengan memperhatikan botol minuman yang sudah hampir setengah diminumnya, tapi sekarang perhatian Sasuke tiba-tiba teralihkan ketika nendengar suara wanita yang sedari tadi berada di kepalanya.

"Sa-Sasuke-san bo-boleh aku du-duduk disini?" Gugup Hinata yang takut setengah mati mengekuarkan suaranya.

Saking gugupnya Hinata sampai memegang cangkirnya dengan sedikit bergetar.

"Ck! ternyata dia benar datang ke sini" gumam Sasuke mengabaikan Hinata dengan kembali meminum minumannya.

"Kenapa kau datang Hinata, apa kau sangat ingin aku tidur dengan Sakura" pikir Sasuke yang semakin kesal.

Sasuke melampiaskan semua kekesalannya dengan meminum minumannya tanpa henti, dengan sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Hinata disampingnya, sampai pada tuangan terakhir dibotolnya ketika Sasuke ingin meminum minumannya tanpa di duga Hinata malah mengambil cangkirnya.

"Kembalikan!" Printah Sasuke dengan berdiri menyamakan posisinya dengan Hinata atau mungkin bisa disebut melebihi tinggi Hinata.

"Seharusnya kau pergi ketika aku mengabaikanmu, sekarang jangan pernah menyesal untuk yang akan terjadi nantinya Hinata." Batin Sasuke.

Menggelengkan kepala dengan cepat

"K-kau ti-tidak bo-" seketika perkataan Hinata terhenti ketika tiba tiba Sasuke mengambil cangkir yang ada di sebelah kirinya dan langsung meminumnya tepat di hadapan Hinata.

"Aku akan selalu mendapatkan apa yang ku inginkan." Sambung Sasuke dengan mengeluarkan seringaiannya pada Hinata.

"Ka-kau baik-baik saja?" Khawatir Hinata ketika melihat Sasuke kesulitan untuk duduk ketika selesai meminum cangkir yang dibawa Hinata.

"Selalu menghawatirkan orang lain seperti biasanya." pikir Sasuke ketika melihat raut wajah khawatir dari Hinata.

"Ak! Kepalaku" dengan menutup matanya rapat Sasuke merasakan pusing di kepalanya.

"Sa-Sasuke-san ayo ki-kita pergi da-dari sini?" Pinta Hinata dengan meletakkan cangkir yang sedari tadi dia pegang dan mengaitkan tangan Sasuke ke pundaknya dengan sedikit ragu karena ini pertama kalinya Hinata menyentuh tangan seorang pria.

"Cih! aku masih ingin minum jika kau memang ingin pergi, pergilah sendiri?" Tolak Sasuke dengan menarik tangannya dari pundak Hinata dan kembali mengisi cangkirnya dengan minuman

"Pergilah Hinata! Ini peringatan terakhir untukmu" batin Sasuke untuk kesekian kalinya.

"Ka-kau sudah mabuk Sasuke-san, kau ti-tidak boleh mi-minum lagi" pinta Hinata yang benar-benar khawatir akan keadaan Sasuke.

"Urusai" tanpa menoleh ke arah Hinata, Sasuke kembali ingin meminun minumannya tapi seketika terhenti karena dengan tiba-tiba Hinata kembali mengambil cangkir yang ada di tangannya.

"KAU!" Belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Hinata sudah meminum habis minuman yang ada di cangkir tersebut.

"Kenapa kau malah meminumnya Hinata! Dengan begini kau tidak akan bisa menolak apa yang akan kulakukan nanti"

"Khuk! khuk! minuman apa ini?" Batuk Hinata setelah habis meminum isi dari cangkir tersebut

"Cih! kenapa kepalaku semakin sakit" maki Sasuke yang merasa kepalanya bertambah pusing dan tidak lagi memperdulikan dengan apa yang baru saja Hinata lakukan.

"Efek obat itu mulai bereaksi, sekarang aku bahkan tidak bisa berpikir dengan normal" resah Sasuke yang sekarang sudah mulai berani menjelajahi tubuh Hinata dengan tatapan liarnya.

Tidak membutuhkan waktu lama setelah Sasuke merasakan sakit di kepalanya, sekarang bahkan untuk berdiripun terasa sulit bagi Sasuke,

Hinata yang melihat Sasuke menatapnya dengan mata sayu tanpa memperlihatkan raut wajah kesalnya. Hinata jadi yakin jika efek obat itu benar-benar berhasil.

Tanpa adanya penolakkan lagi dari Sasuke, Hinata memapah Sasuke menuju kamar yang sudah di siapkan Ino, tentunya di bar itu juga.

, sh ,

"Dia sudah datang." Daidara membuka suara saat melihat seorang wanita berambut pirang sedang mengemudi melewati mobil Daidara yang terparkir.

"Kau yakin dia orangnya" Ujar pria berambut merah maron yang juga berada di dalam mobil yang Daidara.

"Aku sangat yakin! Semua ciri-ciri yang Sasuke katakan sama persis" dengan menjalankan mobilnya mencapai kecepatan tinggi, Daidara membalap mobil yang Ino kendarai bersama Sakura yang sekarang terlihat mabuk.

"Aku akan menghubungi Tobi dan Kakuzu kita buat semuanya lebih menarik" Seringai Sasori dengan memperhatikan banyaknya mobil yang ada di belakang mobil mereka

"Baiklah, saatnya bersenang-senang" Seringai Daidara langsung seketika memberhentikan mobilnya melintang di tengah- tengah jalan. Dan akibat dari apa yang baru saja dilakukannya sekarang semua mobil yang berada tepat di belakangnya seketika terhenti.

Thin...

Thin...

Thin...

Bunyi klapson kini terdengar meraja lela akibat ulah brutal Daidara yang dengan tiba-tiba memberhatikan mobil tampa aturan.

Kamar no 9

Merasa Hinata yang sama sekali tidak menolak akan perlakukannya membuat Sasuke semakin kehilangan kendalinya, terlebih melihat keadaan Hinata yang tengah mabuk dengan bajunya yang sedikit barantakkan akibat ulah Sasuke membuat Sasuke tidak bisa lagi berpikir jernih. Dengan nafas memburu Sasuke yang sudah kehilangan akal sehatnya langsung melepas baju yang dia kenakan dengan kasar tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.

, sh ,

"SANPAI!" Panggil Tobi yang baru saja datang disusul Kangkuzu yang juga ikut memarkirkan mobilnya di tengah jalan.

"Kenapa meminta berkumpul disini?" dengan wajah kesal, Kakuzu menatap tajam kearah Sasori.

"Kau akan mendapatkan uang yang banyak, jika bisa menahan kemacetan ini selama mungkin." Sambung Daidara dengan santai tanpa peduli dengan bunyi klapson berisik di sekitarnya.

"Senpai! Ada polisi yang datang." khawatir Tobi yang melihat kedatangan polisi mendekat kearah mereka semua.

"Kenapa kalian memarkir mobil di tengah jalan seperti ini?" Selidik seorang polisi dengan nada suara yang ditinggilan.

"Kenapa? Apa kami tidak boleh memarkir mobil disini, bukankah disini tempatnya luas." ucap Kangkuzu yang sekarang tengah berpura-pura mabuk.

"Ck ck ck Mendengar kata uang dia sudah mulai berakting." Sasori tanpa mengalihkan pandangannya dari Kakuzu.

"Kenapa kau menerima pekerjaan seperti ini Daidara, merepotkan sekali" gumam Sasori yang sekarang memperhatikan Tobi yang juga ikut pura-pura mabuk.

"Kau harusnya bersyukur aku menerima pekerjaan ini dapada Zetsu malah menerima pekerjaan dari Sasuke sebagai seorang penguntit." Kesal Daidara yang sedikit terganggu dengan buyi klapson di sekitarnya.

"Ternyata Sasuke benar-benar seorang maniak." Sambung Sasori kemudian.

"Berpura-puralah mabuk seperti mereka, aku akan mengempeskan mobilku dulu" meninggal kan Sasori diantara Khangkuzu dan Tobi, Daidara mulai mengempeskan mobilnya.

"AYO KITA BERPESTA!" triak Kakuzu yang dengan memgambil beberapa botol minuman di mobilnya, sementara Tobi lebih memilih membesarkan suara musik di mobilnya.

"Sumimasen! ada apa di depan sana? apa terjadi kecelakaan?" tanya Ino dengan nada khawatir.

"Tidak hanya, hanya saja ada beberapa anak muda yang memarkirkan mobinya melintang menghalangi beberapa pengendara lainnya" sambung si pejalan kaki.

"Apa mungkin masih lama?" Tanya Ino lagi.

"Sepertinya, karena mereka sama sekali tidak bergeming ketika kepolisian mendatangi mereka semua, bahkan di antara mereka ada yang sengaja membocorkan ban mobil mereka agar mobil derek yang akan memindahkan mobil mereka" setelah menjelaskan panjang lebar sang pejalan kakipun pergi meninggalkan Ino.

"Baiklah setelah kemacetan ini selesai kita pulang saja Sakura-chan dan sepertinya Hinata juga tidak sanggup memberi tahuku akan kegagalannya, oleh karena itu dia tidak menghubungiku sama sakali" setelah mengatakan itu Ino kembali menutup kaca mobilnya dan menunggu kemacetan berhenti.

, sh ,

Mengeratkan pelukkannya pada seorang wanita di sampingnya membuat Sasuke semakin enggan membuka kelopak matanya, tapi setelah mengingat jika di kamar yang sedang dia tempati terdapat kamera yang di sembuyikan Ino membuat Sasuke dengan berat hari membuka matanya.

"Seharusnya aku tidak melakukan ini" memandangi Hinata yang tertidur dengan membelakanginya membuat Sasuke tersenyum pahit.

"Aku akan bertanggung jawab apapun yang terjadi" lanjut Sasuke dengan sekilas mencium kening Hinata.

"Apa ini! Kau masih memakainya?" Kesal Sasuke yang melihat kalung berliontin H dengan indah terpasang di leher jenjang Hinata.

"Kalung itu tidak pantas menghiasi lehermu Hime" perlahan namun pasti Sasuke melepas kalung yang Hinata pakai, dan seketika Sasuke kembali teringat dengan kamera yang Ino simpan di kamar tersebut untuk sebagai bukti.

Dengan setengah hati Sasuke bangkit dari tidurnya untuk mengambil kamera yang Ino simpan dan meletakkannya kedalam bawah ranjang mereka.

"Tidak akan ku biarkan kau bagun tanpa melihat wajahku, Hime" sekilas menyeringai Sasuke kembali berbaring di samping Hinata dan memeluk Hinata dari belakang dengan sesekali menghiup aroma lavender dari tubuh Hinata yang sangat menyegarkan bagi Sasuke.

TBC

Chapter Khusus buat para readers yang penasaran sama kejadian sebanarnya diantara pasangan Sasuhina. kaya ada yang penasaran aja

Update akan di percepat jika para Readers memberikan komentar sebagai penyemangat saya menulis.

Mohon maaf jika ada ketidak sengajaan typo bertebaran

Arigatou yang sudah memberikan vote dan komentar

4-10-2018

See You Next Chapter