Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated :T

Pair :Sasuhina

"Melelahkan sekali" gumam Sasuke dengan perlahan masuk kedalam kamarnya

"Apa yang kau lakukan disini?" geram Sasuke ketika melihat pria yang sering dia ajak berkelahi saat Junior High School sedang berada di kamarnya, dan sekarang kemarahan Sasuke semakin memuncak ketika melihat Hinata yang sudah tertidur dimeja dengan bertumpu kedua tangannya

"Apa yang sudah kau lakukan Toneri?" ulang Sasuke dengan mencengkran kerah baju sekaligus menatapnya dengan tajam, sedangkan Toneri yang di perlakukan seperti itu hanya menyeringai ke arah Sasuke.

《 PLAN 》

Mendengar suara berisik di sekitarnya membuat Hinata yang tertidur terpaksa membuka matanya kembali. Berhasil membuka matanya yang terasa berat, dengan mengalihkan pandangannya kearah sumber suara seketika membuat mata Hinata membulat, ketika melihat Sasuke yang ingin memukul seorang pria yang sudah menjadi senpai mereka sejak Junior High School.

"Sasuke-kun! A-apa yang kau lakukan pada Toneri-senpai?" khawatir Hinata dengan seketika berjalan menghampiri Sasuke yang sudah ingin memukul Toneri.

"Sa--sasuke-kun lepaskan Toneri Senpai" kata Hinata saat melihat Sasuke masih mencengkram baju Toneri.

"Aku tidak akan pernah melepaskan orang yang berani masuk me kamarku tanpa seizinku." sambung Sasuke dengan menatap Toneri tajam.

"Cih! Ternyata kau tidak tau apa-apa rupanya." Seringai Toneri dengan balas menatap Sasuke tajam.

"KAU!-"

"Sasuke-kun! Toneri-Senpai datang karena keinginan Tousan dan Kaasan." Beritahu Hinata, dengan memotong perkataan Sasuke, disaat Sasuke sudah benar-benar akan meninju Toneri.

"Apa?" Respon Sasuke yang seketika menatap Hinata yang berada disampungnya dengan selidik.

Merasakan cengkraman Sasuke melonggar dari kerah bajunya, dengan satu tarikkan kuat Toneri melepaskan tangan Sasuke.

"Sudah waktunya aku pulang Hinata, aku akan datang besok, jadi persiapkan dirimu." Sekilas menyeringai kearah Sasuke, dan tampa diduga Toneri langsung meletakkan tangannya ke kepala Hinata dengan mengacak lembut pucuk rambut Hinata yang membuat Hinata seketika terkejut.

Sasuke yang melihat kejadian singkat tersebut terjadi tepat dihadapannya langsung berjalan menyusul kepergian Toneri, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika Hinata menggenggan tangannya.

"Sasuke-kun!" Tahan Hinata dengan menggelengkan kepalanya.

"Baiklah! Tapi Jelaskan semuanya padaku!" Tuntut Sasuke dengan menatap Hinata serius.

Kepergian Toneri yang sudah tidak terlihat seketika membuat Hinata menjelaskan semuanya pada Sasuke.

"Sebenarnya Tousan dan Kaasan ingin aku tetap sekolah karena hari kelulusan kita tinggal 3 bulan lagi, tapi dengan keadaanku saat ini itu semua tidak mungkin Sasuke-kun, jadi mereka sepakat untuk mencarikan seorang guru untukku dan gurunya adalah Toneri-senpai." Jelas Hinata panjang lebar.

"Kenapa harus Toneri? Tidak adakah guru lain?" Geram Sasuke yang masih tidak terima dengan keputusan orang tuanya.

"Setelah kelulusan Toneri-senpai dua tahun yang lalu, Toneri-senpai sudah menjadi salah satu guru dengan setifikat terbaik, lagi pula Toneri senpai berjanji tidak akan memberitahu siapapun tentang kehamilanku." lanjut Hinata.

"Jadi dia tau tentang kehamilanmu?" Selidik Sasuke dengan seringainnya dan dijawab Hinata dengan anggukan kepala.

"Itu artinya dia tau jika kau sudah menikah denganku?" lanjut Sasuke memastikan.

"Ha'i" jawab Hinata dengan sedikit menganggukkan kepala.

"Baguslah dengan begini aku tidak perlu menggunakan tinjuku lagi untuk mencegahnya mendekati Hinata." Pikir Sasuke dengan menyeringai.

"Hm! Tapi kenapa kau bisa-bisanya tertidur di kamar ini ketika Toneri juga ada di sini?" lanjut Sasuke dengan Hinata menatap serius.

"Ke-ketika Tousan dan Kaasan pergi, kukira Toneri senpai juga sudah pulang, jadi aku memutuskan untuk kembali kekamar dan menunggu Sasuke-kun pulang, tapi aku malah tertidur dan ketika aku terbangun aku sudah melihat Sasuke-kun ingin memukul Toneri senpai." jujur Hinata dengan menundukkan kepalanya.

"Menungguku?" Mengulan perkataan Hinata dengan sekilas menyeringai.

"Merindukanku Hime!" lanjut Sasuke dengan mengangkat wajah menunduk Hinata dengan jarinya untuk menghadapkannya pada wajah tampan Sasuke.

"An-o it-u tadi aku ti-tidak sengaja menemukan beberapa film horor di laci Sasuke-kun." gugub Hinata yang perlahan mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Sasuke.

"Hm?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat mendengar jawaban yang diberikan Hinata.

"A-aku menunggu Sasuke-kun ka-karena aku ingin meminjam DVD Sasuke-kun!" Beritahu Hinata dengan mulai memberanikan diri untuk menatap wajah Sasuke.

"Aku ingin menonton film horor, Sasuke-kun!" lanjut Hinata dengan sedikit ragu.

Mendengar perkataan Hinata, membuat Sasuke menjauhkan jarinya dari wajah Hinata dengan satu tarikkan nafas Sasuke membalikkan tubuhnya dan membelakangi sang istri.

"Tidak boleh!" jawab Sasuke atas pertanyaan yang Hinata lontarkan.

"Kenapa? Ta-tapi aku sangat ingin menon-!"

"Kau akan ketakukan setelahnya." Sasuke seketika memotong perkataan Hinata.

"Aku tidak akan ketakutan Sasuke-kun." Respon Hinata meyakinkan.

"Kau tidak akan bisa tidur setelah menontonnya." Sasuke seketika menatap Hinata serius.

"Jika aku ketakutan, ku berjanji tidak akan mengganggumu Sasuke-kun." mohon Hinata dengan memasang wajah memelasnya.

"Tousan dan Kaasan sedang pergi untuk menghadiri peluncuran produk di suna bukan?" tanya Sasuke dengan menatap wajah memelas Hinata dan langsung dijawab dengan menganggugkan kepala lesu dari Hinata.

"Itu artinya malam ini akan sangat sepi karena Tousan dan Kaasan akan pulang lusa, jadi apa kau masih ingin menonton film horor?" Selidik Sasuke yang tidak tahan melihat wajah memelas Hinata.

"Ha'i" dengan mata yang berbinar Hinata menjawab pertanyaan Sasuke.

"Kau bisa menontonya setelah kita selesai makan malam." lanjut Sasuke kemudian masuk kedalam kamar mandi.

《 SKIP TIME 》

"Kyaaaak Sasuke-kun cepat hentikan filmnya." Triak histeris Hinata untuk kesekian kalinya yang sekarang kepalanya sudah diselipkanya dibelakang Sasuke karena ketakutan.

"Cepat matikan Sasuke-kun!" Hinata tampa berhenti terus menerus mencengram lengan Sasuke yang ada di sampingnya Hinata semakin memejamkan matanya dengan rapat.

"Ini sudah film keempat yang ku ganti Hinata, apa kau akan menyuruhku menggantinya lagi?" kesal Sasuke dan langsung mematikan DVD miliknya.

"Ke-kenapa tiba-tiba kepalanya terputus?" Tanya Hinata pada dirinya sendiri.

"Aku tidak ingin menonton apapun lagi Sasuke-kun." Menatap Sasuke yang terlihat kesal Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Aku ingin tidur saja!" meninggalkan Sasuke sendiri, Hinata langsung menarik selimut dan menutupi sekujur tubuhnya.

"Dia ketakutan?" gumam Sasuke yang kemudian ikut menyusul Hinata dengan mulai merebahkan tubuhnya diranjang mereka.

"Kenapa tiba-tiba hujan." Pikir Hinata dengan semakin mempererat selimutnya.

"Aku bahkan bisa mendengar suara angin yang semakin kencang." Batin Hinata dengan semakin memejamkan matanya.

"Kuharap setelah ini tidak akan mati lampu" sambung Hinata yang semakin merasa takut.

"Kau tidak berniat berbagi selimut denganku Hinata?" suara barintone Sasuke seketika memecahkan semua pemikiran Hinata.

"Sasuke-kun!" Kaget Hinata saat mendengar Sasuke tiba-tiba mengajaknya berbicara.

"Gomen!" Sesal Hinata ketika menyadari jika sekarang dia sedang memonopoli selimut di ranjang mereka.

Setelah mendengarkan semua ucapan Hinata, tanpa mengeluarkan suara Sasuke menarik selimut yang sudah di longgarkan Hinata, untuk menyelimutinya hingga sebatas dada dan langsung memejamkan matanya dengan perlahan.

"Bagaimana mungkin Sasuke-kun bisa tertidur semudah itu?" heran Hinata ketika melihat mata Sasuke sudah terpejam.

"Apa mungkin Sasuke-kun tidak takut sama sekali?" lanjut Hinata dengan masih sibuk dengan pemikirannya.

"Kenapa sekarang hening sekali, aku bahkan bisa mendengar bunyi detikkan jam." menjelajahi kamar mereka dengan mata indahnya, Hinata kembali meneguk air liurnya sendiri karena perasaan takut yang mendera dirinya.

Brakk

"Kyaaaak!" Teriak spontan Hinata ketika melihat jendela kamar mereka yang terbuka dengan paksa.

"Ada apa?" Kaget Sasuke saat mendengar teriakkan Hinata yang berada di sampingnya.

"Je-jendelanya tiba-tiba terbuka Sasuke-kun!" Tunjuk Hinata pada jendela kamar mereka yang terbuka dengan angin kencang mulai masuk

Sasuke yang mengerti dengan maksud Hinata langsung menghampiri jendela tersebut untuk menutupnya dengan rapat.

"Cih! mengganggu saja" maki Sasuke ketika merasakan kekencangan angin dingin yang masuk dari jendela kamar.

"Kenapa tiba-tiba jendelanya terbuka, apa mungkin ada hantu yang buru masuk kekamar ini?" pikir Hinata tanpa memperdulikan Sasuke yang sekarang sudah kembali merebahkan tubuh atletisnya di ranjang mereka.

"Sa--Sasuke-kun a-aku keta-!"

"Jangan katakan jika kau ketakakutan, ingatlah janjimu!" tanpa membuka matanya Sasuke memotong kalimat yang akan diucapkan Hinata.

"Aku menyesal sudah menonton film tadi" gumam Hinata yang terus meruntukki perbuatanya.

"Aku masih mengigat semua adegen di film tadi, terutama saat di kamar! Apa mungkinkah di bawah ranjangku juga ada-" seketika Hinata menggelengkan kepalanya memhapus semua pemikiran yang ada diotaknya.

Dengan memantapkan mentalnya, Hinata mulai menggeser posisi tidurnya dan mendekat pada Sasuke yang masih memejamkan matanya.

"Sasuke-kun." cicit Hinata yang sama sekali tidak mendapat respon dari Sasuke.

"Sasuke-kun!" Panggil Hinata untuk kedua kalinya dan kemudian menyentuh lengan Sasuke dengan jari telunjuknya.

"Hm?" sahut Sasuke dengan memalingkan wajahnya kearah Hinata.

"Sasuke-kun apa malam ini ka-kau tidak ingin memeluk anakmu." lanjut Hinata dengan wajah pucat karena ketakutannya sedari tadi.

"Cih! Ternyata dia benar-benar ketakutan." Batin Sasuke dengan sekilas menyeringai.

"Tidak!" Dengan mengalihkan pandangannya dari Hinata, Sasuke kembali pada posisi awalnya.

"Ta-tapi sepertinya dia sedikit ketakutan karena menonton film horor tadi" lanjut Hinata yang sekarang wajahnya sudah semerah tomat menahan rasa malunya.

"Anakku tidak akan takut hanya karena menonton film" jelas Sasuke dengan kembali menutup matanya.

"Bagaimana ini, Sasuke-kun bahkan tidak mau melihatku, jika saja Itachi-nii tidak menginap dirumah Konan-nee, pasti Itachi-nii akan menema-" pemikiran Hinata seketika lenyap ketika tanpa di duga Sasuke langsung membawa Hinata kedalam pelukkannya dengan sebelah tangan Sasuke yang menutupi telinga Hinata.

Cetaaarrrrrrr

"Petirnya keras sekali!" kaget Hinata yang langsung ikut membenamkan dirinya di pelukkan Sasuke.

Dengan tubuh yang masih bergetar akibat mendengar suara petir yang keras, Hinata semakin mencengram baju yang di kenakan Sasuke.

"Kenapa Sasuke-kun tiba-tiba memelukku, apa Sasuke-kun tau jika aku takut dengan petir?" pikir Hinata dengan perlahan mengadahkan kepalanya kearah Saauke.

"Ba-bagaimana Sa-Sasuke-kun tau jika akan ada petir?" Hinata memastikan.

"Aku sempat melihat ada kilat" kata Sasuke menjelaskan.

"Sepertinya Sasuke-kun tau jika aku takut dengan petir" pikir Hinata dengan senyuman plus wajah memerahnya.

"Apa anakku baik-baik saja?" Selidik Sasuke yang seketika membuat senyuman Hinata menghilang.

Dengan sedikit anggukan kepala Hinata menjawab pertanyaan Sasuke

"Jadi Sasuke-kun memelukku karena anak ini, bukan karena dia tau jika aku takut petir.

Bagaimana jika malam itu Sasuke-kun benar-benar tidur bersama Sakura-chan, apa Sasuke-kun juga akan memeluk Sakura-chan seperti sekarang ini?" pikir Hinata dengan menatap Sasuke.

"Kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak saat memikirkan Sasuke-kun memeluk Sakura-chan, bahkan semua ini tidak penah terjadi ketika aku melihat Itachi-nii yang memeluk Konan-nee, bukankah aku menyukai Itachi-nii" batin Hinata yang masih sibuk dengan pemikirannya.

"Sepertinya kau sudah tidak takut padaku!" Sasuke membuka suara dengan menatap wajah Hinata.

"Ke-kenapa aku harus takut pada Sasuke-kun." Heran Hinata dengan seketika menyingkirkan semua pemikirannya.

"Bukankah saat di atap sekolah kau sampai menangis karena takut padaku?" Dengan nada mengejek Sasuke menatap Hinata yang sekarang sedang menyembuyikan wajahnya pada dada bidang Sasuke.

"Itu karena dulu kupikir Sasuke-kun bukanlah pria yang baik, tapi semua itu tidaklah benar ketika aku sudah mengenal Sasuke-kun, dan sepertinya sekarang aku mulai me-" Hinata seketika menghentikan ucapannya dengan menutup mulut sediri, dan mulai meruntukki kebodohan yang hampir dia lakukan.

"Me-? Apa maksudmu Hinata?" mengadahkan kembali wajah Hinata yang bersembunyi pada dada bidangnya, sekilas membuat Sasuke menyeringi.

"Aku me-mengantuk Sasuke-kun" Hinata langsung menutup matanya rapat ketika Sasuke berhasil menghadapkan wajah memerahnya pada wajah tampan Sasuke.

"Meyukaimu, kurasa aku mulai meyukaimu Sasuke-kun" batin Hinata dengan senyum saat merasakan Sasuke kini semakin mempererat pelukkanya padanya.

, sh ,

"Tidak bisakah kau berheti menatap kami Sasuke?" Geram Toneri yang tidak bisa fokus mengajari Hinata karena keberadaan Sasuke.

"Kau liat sudah jam berapa ini, pulanglah!" Ketus Sasuke dengan memperlihatkan pukul 2 di arlogi mahalnya pada Toneri dengan menyeringai.

"Aku tidak akan pulang jika Hinata masih belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang kuajarkan." Menatap Sasuke dengan tajam Toneri sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan tempat duduknya.

"Kau lupa perjanjian yang kau tandatangani? Kau hanya mengajari Hinata selama 3 jam, jika Hinata masih belum mengerti itu bakanlah salahnya! Itu salahmu!" Maki Sasuke dengam menutup buku-buku Hinata.

"Salahku kau bilang! Bagaimana mungkin aku bisa mengajari Hinata dengan benar ketika kau selalu meyuruhku menjaga jarak dari Hinata, menatap kami tanpa henti, menurutmu itu tidak mengganggu" balas Toneri yang tidak terima dengan tuduhan Sasuke.

"Cih menyalahkan orang lain atas kesalannya! jika Hinata masih tidak mengerti dengan penjelasanmu aku akan menggantikanmu menjelaskannnya, jadi cepatlah pulang" usir Sasuke.

"KAU-!"

"Toneri-senpai sebaiknya kau pulang, lagi pula sebentar lagi aku harus ke dokter kandungan, Mikoto Kaasan sudah membuat janji untuk hari ini!" potong Hinata yang sudah tidak sanggup mendengar pertengkaran antara Sasuke dan Toneri didepanya.

"Baiklah jika begitu, aku pulang Hinata." ucap Toneri dengan membereskan semua alat mengajarnya.

"cih! Selalu saja mengganggu? Sebenarnya apa yg di pikirkan Sasuke, apa dia masih beranggapan aku menyukai Hinata, apa dia tidak tau jika aku sudah memilikki tunangan." gumam Toneri dengan menatap tajam kearah Sasuke yang sedari tadi terus menatapnya.

"Dokter kandungan? Kenapa tidak memberi tahuku?" Tuntut Sasuke yang menap Hinata dengan serius saat Toneri sudah pergi.

"Gomen! Aku tidak ingin merepotkanmu Sasuke-kun, Aku akan pergi sendiri saja." Hinata berbicara dengan menundukkan wajahnya.

"Kau seorang Uchiha sekarang, apa yang akan di katakan orang jika melihat seorang gadis remaja pergi kedokter kandungan sendirian, aku tidak akan membiarkan siapapun mengatakan hal buruk tentang anakku." jelas Sasuke dan mengambil kunci mobil di lacinya.

《Skip time 》

"Anakmu seorang perempuan" kata Suzune yang sekarang sedang memegang hasil USG dari pasiennya.

"Arigatou" ucap Kurenai pada Suzune yang telah memeriksanya.

"Wah ternyata keponakkanku nanti seorang perempunan" senang Ino ketika sudah sepenuhnya keluar dari ruangan pemeriksaan bersama Kurenai.

"Haa sukurlah Sekolahku libur hari ini, jadi aku bisa menemani Baasan memeriksa kandungan." lanjut Ino dengan membatu Kurenai berjalan ke arah mobil mereka.

"Kau terlihat sangat sanang Ino-chan ketika mengetahui calon keponakkanmu nanti seorang perempuan." sambung Kurenai dengan terseyum.

"Tentu saja! kerana kami pasti bisa saling akrab nantinya" Ino membatu Kurenai memasukki mobilnya, sekilas terdiam Ino mulai teringat dengan sesuatu.

"Astaga! Tas ku" kaget Ino yang mulai meraba tubuhnya.

"Ada apa?" Selidik Kurenai Heran.

"Tasku tertunggal di ruangan tadi, aku harus mengambilnya, tunggulah sebentar Baasan." Tanpa menunggu jawaban dari Kurenai Ino langsung berlari menuju ruangan pemeriksaan tadi.

"Sumimasen!" Perlahan membuka pintu pemeriksaan tadi, Ino melangkahkan kakinya masuk dengan pasti tapi tanpa di sangka langkah Ino tiba-tiba terhenti ketika melihat Sepasang manusia yang sangat dia kenal sedang duduk di hadapan Shizune yang sedang menyerahkan sebuah kertas.

"Anak dalam kandunganmu terlihat sangat sehat" ucap Shizune pada sepasang manusia di depannya.

"Sasuke-kun! Hinata-chan!" Panggil Ino yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan lihat saat ini.

TBC

Arigathou buat para readers yang udah ngasih plus membalas komentar saya, semua komentar kalian membuat inspirasi saya semakin berwarna semoga inspirasinya bisa bertahan sampai the end

Mohon maaf jika ada ketidak sengajaan typo bertebaran

Arigatou yang sudah nyempatin membaca

10-10-2018

See You Next Chapter